catatan admin:

loading...

Bab 1-A Dream Within A Dream (1)

“Ryan jangan” ujar lilis berbisik sambil melihatku melihat foto dia dan suaminya yg terpajang di atas rumah itu, aku berdiri melihat foto itu sambil meremas tonjolan di selangkanganku .

“kenapa..”?…

aku tetap mengusap batangku yg keras ini melihat foto itu. ia tengah berfoto berdampingan dengan suaminya. Ia memakai Jilbabnya yg lusuh terlihat sangat seksi karena tonjolan tubuhnya yg montok . Berbeda dengan pose suaminya yg terlihat tua .

“nanti suamiku ngeliat”

ucap lilis yg memakai kaos coklat tangan pendek dan jilbab kecil yg masih menempel dikepalanya itu., leher yg rendah di kaos itu membuat dia harus menampakkan belahan payudaranya yg sangat dalam dan gelap. Menandakan betapa besar gunungannya.

“biarin” kataku sambil meremas batangku.. , “Dia keliatan tua”… kataku mengomentari foto suaminya yg berdiri disamping dirinya.

Lilis menggigit bibirnya karena keberanianku. Ia menggigit bibirnya seksi dengan tudung kecilnya. melihatku yg meremas remas batang sendiri melihat foto dirinya dengan sang suami.

“tetehnya seksi.. Tapi suami tetehnya tua” ucapku melihat pose suaminya.

” Gila..” kata lilis sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

Lengannya yg sekarang terlihat berotot karena memakai kaos pendek terlihat kencang dan montok. Jarang jarang aku melihat wanita dengan lengan yg berotot seperti itu.

“ini pulang kondangan ya teh..”? Kataku pelan sambil melihat nya.

Lilis menghampiriku, ia tersenyum sambil memperhatikan suaminya yg sekarang sedang menonton tivi dibawah,

“kamu ga boleh megang megang benda ini sambil melihat foto Aku lagi sama suami”

ia angkat telapak tangannya yg mungil itu. Ia arahkan telapak tangan itu meraba batang kemaluanku searah panjangnya , Ahhhhhhh

“ada suamiku itu” bisik lilis sambil menunjuk foto suaminya dan meremas tonjolan kontolku dibalik celana, dengan mata sayu ia remas seksi.

“shhhh Gedee ..” desahnya

“hmmm… kamu ga boleh ngocok ngocok benda ini didepan foto suami aku”

keras ia meremas Kontolku

“sopan dikit lah ke suamiku .. Jangan ngocokin foto bininya pake kontol ini .. ”

“Ah ahhh shhhh ”

Ia membuka celana pendekku, ia keluarkan batangku , ia genggam kontol itu dan mengocoknya perlahan..

“ngocokin pake kontol panjang…… ge de.. iniih..” ucapnya terputus putus

te.. Tehh shhhhhh

Desahan terdengar dari dalam tenggorokannya. lengannya yg berotot itu menambah seksi kocokan nakalnya.

“ya udah.. Ryan mau berbuat sopan buat suami teteh ..” ucapku sambil melihat kerudung coklatnya.

“kaya apa..” ucapnya pelan

“kaya ngeliat ketiak teteh.. Terus ryan jilat jilatin” ucapku pelan

Lilis menghukumku dengan meremas batangku lebih kencang

AAAAHH shhh”

“itu sih bukan sopan , ngelunjak …! ucapnya tegas

” te… teehhhh”

“mangkanya jangan ngelunjak” ucapnya masih mengocok ngocok kontolku

Pelan pelan lilis malah mengangkat lengan kirinya ke atas, ia angkat lengan itu

“ngeliat kaya gini..” katanya pelan

“yah.. Kaya gitu..” ucapku menahan nafsu

Helai bulu ketiaknya yg lebat terlihat membuatku nafsu, mataku sayu melihat ketiak itu, kontolku makin keras dalam genggaman nya..

“kamu tau.. suamiku itu bukan pecundang ryan .. Ga seharusnya kamu nyuruh nyuruh aku nunjukin ketiaknya kaya gini ”

Ohh ohh, ohh, shhhh ahhh shhhhh”

Sambil melihat ketiaknya, lilis masih mengocok ngocok kontolku, jilbab kecilnya terlihat eksotis bergoyang karena perbuatan nakalnya

Kujilati ketiak itu bertubi tubi.. Wanginya membuat nafsuku memuncak ..

Ahhhh asshhhhhhhhhh

 

===

One Week ago

Seminggu itu aku memang merasa senang, karena Sudah jalan dua tahun ini semenjak aku menikah dengan intan aku meresmikan pembangunan pertokoan ruko yg tak jauh dari lokasi clusterku.

Mungkin letaknya tepat di warung bedeng milik mang kardi yg sudah hampir puluhan tahun dibangun disitu. Dia dan keluarganya memang tinggal disitu. Dan Ketika aku melakukan pembebasan tanah itu untuk membangun ruko, mang kardi dan istrinya pindah rumah dipinggiran kota bogor yg tak jauh dari clusterku.

Mang kardi memang sudah menjadi juragan besar dari Hasil pembebasan tanah itu. Ia membeli rumah baru dan membuka bengkel motor tak jauh di depan rumahnya.

Luar biasa, mungkin itu kata yg tempat. Bengkelnya langsung berkembang dirumah itu. Ia berbahagia bersama teh lilis dan putrinya.

Tepat ketika kelahiran anakku yg pertama , Aku mulai membangun ditanah pembebasan itu. Istriku Intan memang sudah mendorongku agar bisa mengembangkan proyek yg lain. Setelah anak laki laki kami lahir., Sudah hampir dua tahun ini aku dibimbing bapak mertuaku untuk bisa membangun ruko yg bisa disewakan.

Well.. Round round round we go..

Untuk menjaga keseimbangan, kita memang harus terus tetap berjalan. Tidak boleh berhenti ditengah nanti takut jatuh. Kebetulan bapak mertuaku memang mempunyai belasan ruko yg bisa disewakan (baca Unthinking).

Dari pembangunan inilah mang kardi sekarang menjadi juragan besar. Karena disamping kupromosikan menjadi kontraktor diruko ini, ia pun mengembangkan bengkel motor yg sekarang dijalankan oleh teh lilis . Hal inilah yg membuat aku yg hampir satu tahun lebih tak pernah bertemu teh lilis. Karena pindah rumah itu. Dari semua orang yg pernah ku kenal, mungkin hanya teh lilis lah yg aku tidak tahu kabarnya seperti apa.

Setelah Hampir dua tahun aku berumah tangga dengan intan, Kami sudah dikarunai azka. Anak laki laki kami. Ketika dia lahir, aku kira aku melihat malaikat. Dia betul betul sumber kebahagiaan buat kami.

Things going well..

Semua berjalan normal sebagaimana waktu yg terus berputar. Ada beban hidup yg mesti ditanggung. Urusan yg mesti diselesaikan. Kedewasaan ketika menghadapi masalah, dan senyum ketika sudah mencapai “reaching something”.

suka duka tanpa terkecuali. Bahwa setiap menitnya memang harus dihitung. aku menyibukkan diri dengan pembangunan ruko ini.

Aku tetap menjalin berhubungan baik dengan orang yg sekitar ku. Tibyan bahkan sekarang sudah merencanakan menuju jenjang pernikahan. Ia berniat untuk berbulan madu dilombok, tempat aku dan intan berbulan madu dulu. Lebih tepatnya ditempat yg disebut pantai senggigi. Garis pantai yg panjang dipantai itu mengeluarkan jutaan kebahagiaan untuk kami.

Kami berencana kesana kembali bulan depan. Karena tempat itu menyimpan banyak kenangan untuk kami. Sepulang dari situlah, azka hadir ditengah tengah kami.

Namun… aku akan menceritakan kejadian yg luar biasa seminggu ini, tepatnya ketika istriku dan keluarganya pergi jalan kegarut dalam waktu seminggu. pengalaman ini membuat aku merasa seperti bermimpi dalam mimpi.

Dream within a dream..

 

===

Selalu menjadi tempat yg tak terduga duga.

Begitulah hidup..

Kita hanya menjalani apa yg mesti dijalani.

Hal inilah yg membuat kebanyakan orang bijak mengambil jalan tengah. Artinya ia tidak pesimis, tapi ia juga menjauhi jumawa.

Karena kejadian yg tak disangka sangka kerap kali sering terjadi. kadang ia berada diatas,kadang pula ia berada dibawah.

Kejadian ini bermula ketika sore itu aku kedatangan client yg hendak menyewa ruko yg sudah 85 persen dibangun itu.

Ia datang dengan kardi datang sore itu. Karena memang ia sudah ku promosikan menjadi kontraktor. Ia datang hendak melihat perkembangan pertokoan yg sedang dibangun di bekas tanah yg dulu dibangun bedengnya.

Kami bercanda, tertawa, suasananya terasa hangat sore itu.

Sore itu aku bertemu dengan salah satu clientku dikantor. Ia adalah client pertamaku yg berminat di hunian ruko yg sedang dibangun itu. Sore itu ia datang sendiri. Belakangan ku kenal dengan nama ci friska. Seorang bos farmasi dan alat kesehatan dari kota, ia hendak menyewa ruko kami dari sebulan yg lalu. Biasanya aku hanya bertemu dengan suaminya yg dari sebulan yg lalu sudah mondar mandir di kantor pemasaran kami. Namun baru pertama kali ini aku bertemu istrinya.

“ehh ini ownernya.. Aduh masih muda amat, ”

Ujar ci friska sambil tersenyum hangat kepadaku.

“hahaha.. bisa aja ci.. Jiwa saya mah udah tua ci.. Keliatannya aja muda… Jiwanya mah old soul.. ..” Jawabku sambil menyerahkan price list kepadanya, ia tertawa mendengar jawabanku.

Diprice list itu sudah tertera rules n policy bila ia berminat menyewa ruko kami.

Kacamatanya ber-frame warna hitam, ia terlihat cantik dengan guratan garis wajah yg menegaskan ia wanita matang. Umurnya menginjak akhir 30an atau awal 40an I’m not sure. Attitudenya supel dan menarik. Blouse putih yg dia kenakan membuat ia terlihat sangat cantik.

“tapi umur kamu masih muda kan” ujar cici..

“yaa.. Seumuran adenya cici lah”.

“Hahahahaa”

“Risk makes us stay young darling .. Kita harus penuh resiko biar terus muda” ucap ku sambil memberikan price list ku.

“baguuss” ujar cici mengacungkan jempolnya..

“kamu Udah merit? ..”

“udah..”

“mau nambah “?

“emang kenapa ci..?”

“aku mau lah jadi istri kedua kamu.. ”

“Hahahahaha…”

“bahaya ci.. Kalo ditawarin kaya gitu.. Bisa beneran.. ” ucapku.

“biarin biar aku ga usah kerja lagi..” ucap cici

“wah.. hajatan lagi nih bos kayanya hahaaa,” ucap ari salah staffku yg tertawa.

“berisik lu” ucapku sambil tertawa

“seruuuu..” balasnya lagi

Kurang asem itu staffku yg satu, selalu iseng kalo becanda.

Cicih tersenyum manis sambil melemparkan candaan ke kami dan terus membicarakan keadaan ruko disini. Ia terlihat sangat cerdas dan apik serta terlihat sangat teliti dalam menanyakan prospek investasi yg sangat menjanjikan bila ia menyewa ruko disini.

“nanti aku datang ya sama suamiku buat deal pastinya,”

“oke ci, makasih banget ya.. ditunggu kabar baiknya ,”

Cici akhirnya pamit sambil memberikan kartu namanya dan membawa price list yg kuberi.

 

===

Mang kardi langsung masuk ke kantor sambil memesan air jahe hangat untuk kami berdua.

“Demandnya pasti tinggi bos…”

Ujar Mang kardi sambil meminum jahe sepulang ci friska tadi. Ia memberi ku semangat tentang Demand ruko ini. Kertas wara wiri birokrasi terlihat menumpuk di atas meja kantor pemasaran ini membuat aku harus kerja ekstra keras sore ini. Menjelang peluncuran nanti, Ada beberapa notice yg harus aku tanda tangani mengenai proyek ini.

“udah saya lakuin penelitian loh sama pak lurah tahun lalu, Demandnya memang bagus… Mangkanya join kita disini .. Buka cabang nya disini ..” . Ajakku

“walah boss, nanti lah kalo udah banyak pelanggannya pasti kesini.,..”

“iya deh.. Mudah²an mamang banyak pelanggannya..”

“heheee..”

“Ngomong ngomong Kabar teh lilis gimana mang..?’ kataku sambil menandatangani paper menanyakan istrinya yg hampir satu tahun tak bertemu.

“Masih kaya dulu boss.. ” ucap mang kardi yg duduk disebrang mejaku.

“masih kaya dulu kaya gimana..”? Tanyaku.

“biasaa.. masih kaya dulu, cuman sekarang rajin olahraga .. , ..”

“yg bener mang..?” tanyaku.

“iya.. olahraga di gym deket rumah , kalo pulang jaga bengkel aja..”

“Mentang mentang udah jadi juragan euy.. Ga maen maen kesini.. ” ucapku sambil becanda

“hehee.. Bisa aja si bos.. Nanti pasti main lah boss..”

“selain jagain bengkel, ama olahraga kegiatannya ngapain aja..”,

“paling sekarang mah suka ikut ikut pengajian gitu.. Biasalah bos, ibu ibu..”

“bener kan jadi istri juragan” ucapku

“hehee.. Ya gitu lah bos, paling paginya jaga bengkel, terus aktip ikut kegiatan pengajian, terus olah raga, buat jaga penampilan, soalnya ada gym baru buka deket rumah, jadi latihan terus..”

“boleh tuh mang..” tanyaku penasaran ..

“Sekarang mah beda loh bos, Lengannya berotot, kenceng…. ” ucap mang kardi, ia memperagakan gerakan ala binaragawan berpose

Entah kenapa muncul penasaran dalam benakku Mendengar istrinya sekarang berotot itu. Meski hanya mendengar, aku malah meremas selangkanganku dibalik meja yg mendengar kalo istrinya sekarang berotot dan dan merubah penampilan. Ia bahkan rajin dengan kegiatan pengajiannya. Nampaknya sudah banyak berubah dari dia setelah setahun tak bertemu.

“saya maen lah mang pengen tau” ucapku

“hehee.. maen aja bos besok.. Lagi ada acara ulang taun si neng besok ..”

“bener mang..?..”

“iya .”

“oke deh main besok.. Pengen tau bengkel mamang juga” kataku

 

===

“pah.. Mamah udah sampai garut nih..”

ujar intan istriku yg menelepon dari sana. minggu ini Ia memang sedang berada di garut bersama anakku dan juga keluarga mertuaku kesana. Mamahnya memang mengajak intan dan anakku untuk mengunjungi sanak familinya disana sambil berlibur.

“ya udah.. Mamah hati hati yah disana, salam sama mamang yg disana..”

“oh iya pah.., azka nanyain papahnya aja nih..”

“hehee.. senang senang yah disana dd.. Main yg puas sama kakek nenek ”

“kayanya aku seminggu disini pah, soalnya mamah pengen lama disini”

“ya udah nanti kabarin aja kalo mau pulang..”

“oke..”

“besok papah mau ngehadirin acaranya si dian putrinya mang kardi ulang tahun” kataku

“oh yaa.. Salamin pah sama semuanya”

“ya.. Hati hati ya mah”

Seharusnya aku ikut bersama intan dan azka tadi, namun karena clientku tadi ingin sekali bertemu , aku batalkan kegiatan keluargaku. Intan yg sudah merencanakan acara ini jauh jauh hari tak mau membatalkannya. Terpaksa aku membiarkannya pergi bersama kakek neneknya. Aku hendak memikirkan apa yg kulakukan disini selama keluargaku disana.

 

===

Besok Paginya aku berolahraga.Seperti biasa. aku memulai hariku setiap lima subuh untuk berlari mengelilingi sekitar komplek rumah. Aku berolahraga sambil berniat hendak datang kerumah mang kardi hari itu. Sebagaimana ia mengundangku kemarin.

Setelah lari pagi aku pulang kerumah meminum kopi sambil melihat hapeku. Ada beberapa pesan yg masuk dari istriku. Foto azka yg dikirim istriku yg sedang main membuat aku tertawa melihatnya.

Sedang seru serunya aku melihat azka, ada satu pesan yg cukup membuatku kaget . Cukup menyita perhatianku pagi itu.. .

“Ada konspirasi loh diproyek bapak ..” bunyi pesan itu

Aku kaget..

Langsung aku telepon ke nomor itu ternyata tidak aktif. Aku kirim pesan dengan menanyakan “siapa dan maksud?”

Namun sampai aku hendak berangkat kerumah mang kardi tak ada balasan dari dia. Aku telepon kembali masih tidak aktif.

Meskipun hanya pesan yg terbaca iseng, tetap membuatku khawatir. Aku minum kopiku sambil menghubungi stakeholders proyekku yg menanyakan keadaan. Namun tak ada komplain apa pun yg terjadi.

Akhirnya.. Aku hanya menganggap bahwa itu hanya orang iseng yg mengirim pesan tidak jelas. Namun tetap aku simpan pesan ini sambil berangkat ke rumah mang kardi.

 

===

Sampai Disana terlihat orang sudah berkumpul merayakan ulang tahun dian yg terlihat sudah besar itu. Aku masuk kedalam menyalami mereka yg kenal, banyak orang yg aku kenal datang, sampai kewalahan aku menyalaminya. akhirnya aku masuk kedalam dan melihat mang kardi yg begitu rapih pagi itu..

“wah datengg juga boss.. si nengnya mana bos?”

“ke garut mang sama azka dari kemaren”

“wah padahal pasti seru kalo dateng..”

“coba mamang ngasih taunya dua hari yg lalu pasti datang..”

“heheee.. Sorry bos.. saya panggil lilis dulu bos .. Duduk dulu…”

Aku melihat sekeliling rumah itu, mang kardi memang memanjakan dirinya dengan rumah ini. Rumah baru ini Terlihat sangat luas dan terdiri dari dua tingkat. Ia menyatu dengan bengkel didepan. Tamu pun terlihat senang dengan rumah ini. yg kebanyakan anak anak sedang berlari kesana kemari. Aku mengobrol dan menyapa orang yg kukenal diruangan itu.

Ketika sedang asik aku keliling dirumah ini, tak lama terdengar suara wanita

“ehh.. A ryaaann gimana kabaarr”

Aku tahu itu teh lilis. Aku berbalik dan kaget karena Dia terlihat makin anggun, gaun hitam dan jilbab hitam yg dipakainya. bodynya tidak seperti dulu. Entah karena memang ditutupi jilbab itu, Namun kulihat penampilannya terlihat semakin kencang. Bibirnya yg dilipstik merah agak gelap itu menambah kesan eksotis penampilannya. Ia memakai kalung woody yg di atas jilbab hitamnya..

“iihh Tetehhh…. kaget euy makin cakep aja ..” ucapku

“hahahaa.. Bisa aja si aa.. duduk a..”

Curve tubuhnya terlihat makin proporsional . Tonjolan tubuhnya terlihat semakin montok dan kencang. Ciri kalo dia menjaga penampilannya dengan olahraga. Payudaranya semakin membusung kedepan dan tertutup jilbab hitam itu. Aku merasakan ada yg beda dengannya. Bahkan pantatnya semakin montok kebelakang.

What one hot Milf.. Kataku dalam hati.

ia benar² sudah menjadi Istri juragan yg menggairahkan. Setahun tak bertemu aku sekarang aku melihatnya berbeda.

“teteh sih jarang maen.. sombong pisan euy”

“hahaaa.. nanti lanjut ngobrol a, acara tiup lilinnya mau dimulai.”

“ok teh..”

Aku duduk sambil melihatnya pergi membelakangiku . Lekukan pantatnya yg montok kekanan dan ke kiri membuat mata mesumku terus mengintip kesana.

What a “meaty ass”.. Kataku dalam hati.

Aku terpana sambil merasakan agak gelisah diselangkanganku hahaa. Aku duduk sambil melihat resepsi acara. Sejenak aku agak keras tadi karena mengingat goyangan pantat istri kardi tadi.

Setelah mendengar nyanyian yg banyak.. meniup lilinnya serta membagi kuehnya.

Aku mengobrol dengan mang kardi. Sangat ramai rumah ini bersama bapak bapak disitu membicarakan berbagai macam hal topik,

Tak terasa sambil menceritakan pengalaman hidupnya, mereka pun memberi solusi, pepatah bijak dan nasihat nasihat yg penting.

Kami membicarakan banyak hal, sampai akhirnya satu persatu mereka pun pergi.

Menjelang siang aku tetap mengobrol dengan mang kardi disini. Kami membicarakan tentang progress ruko yg kebanyakan tentang material bangunannya, serta membandingkan dengan bangunan bangunan yg lain. Ruko tiga lantai itu nampaknya tidak akan dijual, namun cukup kami sewakan.

“kalo dijual rugi bos, soalnya harga tanah disitu, pasti makin tahun makin naik.” ucap mang kardi.

“betul banget mang, emang niatnya kita sewakan. Kalo per meternya udah 25 juta baru kita jual, hahahaha” kataku tertawa

” bener bos..”

lilis datang menghampiri meja kami sambil membawa kue kemeja.

Ia masih tetap memakai pakaian tadi, namun ia terlihat lelah.

“di makan aa.. kueh sisa nih hehee..”

“habis teh sama saya mah..” ucapku

“Perasaan aa kayanya makin kesini makin keren aja ”

” Kelingkingnya keren teh” ucapku yg dibalas tertawaan .

“maen atuh teh kesono, liat azka..” ucapku

“suka kangen sih kesana, nanti lah pasti main..”

“sibuk di bengkel terus sih ?”

“kan biar duitnya banyak a hehee” ucapnya

“udah jadi istri juragan mah beda..” ucapku melihatnya.

Aku sadar ternyata lilis memakai cardigan yg menutupi gaun hitamnya. Aku yakin gaun itu tak berlengan, sehingga ia tutup dengan cardigan hitam itu.

“beda gimana ” ucapnya

“beda banget lah,” ucapku melihatnya.

“dihhh lebay si aa mah” kata teh lilis

“hahaaa”

Entah kenapa aku melihatnya berbeda sekarang .Terlihat tadi teman teman pengajiannya pamit pulang. Aku sadar ia sudah tidak seperti dulu lagi. Dengan penampilan jilbab hitamnya .

Ketika asik mengobrol dengannya. Aku melihat Cardigannya agak terbuka kesamping. Sekilas aku bisa melihat bahu telanjangnya dibalik cardigan itu.

Damn.. Ku lihat bahu telanjangnya itu terlihat begitu putih dan mulus walau sedikit.

Sekarang aku yakin kalo ia memang memakai gaun yg tak berlengan dibalik cardigan hitam itu.

Mungkin Karena kesibukan acara tadi membuat jilbabnya menyusut kedepan sehingga memperlihatkan cardigannya yg agak kesamping .

Aku penasaran.. apakah dibalik cardigan itu ada lengan yg ber otot sebagaimana yg diceritakan suaminya.

Uhh..

“mau kebelakang dulu teh, mau ngasih sesuatu ke dian nih..” ucapku ke teh Lilis

Lilis berdiri menemaniku kebelakang sambil memanggil anaknya.

“Diiann.. Sini sayang, ada sesuatu nih dari om..” ucap ibunya..

Ketika dian datang, aku usap pipinya sambil beri selamat dan aku berikan amplop putih itu. Amplop yg kusiapkan dari rumah.

“makasih yah om..” ucap dian kepadaku aku usap rambutnya.

“semoga jadi anak pinter ya sayang”

“makasih yh om ryann” ucap ibunya senyum

“sama sama mamah” ucapku

“teh anterin kebelakang dulu yuk.. Mau nganu” lanjutku

Lilis tersenyum sambil bilang ” disini a” ia berjalan ke arah kamar mandi belakang, tepat melewati lorong panjang rumahnya. aku mengikutinya dibelakang.

Sambil Melewati lorong rumah, Dari belakang aku memperhatikan dia dari belakang, oh gila pantatnya benar benar montok. Pantat Istri mang kardi ini Berayun ke kanan ke kiri dibalik gaun hitam ketatnya.

“enak loh kalo ngeliat dari belakang” ujar lilis mengagetkanku, aku alihkan pandangan mataku ke yg lain.

“ehmm.. Ap.. Apa teh..” ucapku terbata bata

“Rumah ini, enak banget loh kalo diliat dari belakang soalnya keliatan asri banget” ucapnya sambil tersenyum.

Aku mengusap dadaku karena ternyata aku tak ketahuan.

“emang bisaan si mamang milih rumahnya” ucapku

“itu toiletnya a..” ucapnya

Aku bergegas kebelakang untuk buang air. Saat melewatinya, tercium Parfumnya yg seksi. crdigannya sudah kebuka kembali kesamping, garis bahu putih itu mulus terlihat kembali.

Lilis melihatku yang memperhatikannya, ia tutupi bahu telanjang itu dengan cardigannya.

“apa? ” katanya

“ga apa apa” ucapku

Ia tersenyum sambil melihat aku masuk kamar mandi.

Ia menanyakan tentang keadaan proyek disana. Didalam kamar mandi aku menjawab pertanyaannya.

Setelah aku keluar, ternyata lilis masih berdiri didekat pintu kamar mandi.

Ia melihat lihat taman belakang.

Aku melihatnya, dan mengomentari rumahnya yg besar. Dia bilang kalo disini tempat yg nyaman untuk tinggal, lilis berjalan dan berdiri di pintu kamar mandi ,

“teteh Mau cuci muka dulu..” ujarnya

“acaranya udah selesai teh”

“paling nanti si neng katanya mau ke pemandian air panas.. ” katanya

“kapan?..,”

“besok, kan tanggal merah ..”

“oh iya”

Kami sama sama diam sejenak, lilis membiarkan cardigannya terbuka kesamping lagi, dan kali ini membiarkanku melihat bahu mulus itu lagi.

” teh lama amat yah ga ketemu” ucapku

“emang kenapa.?”

“kangen aja” ucapku

Lilis tersenyum tanpa menutup lagi cardigan itu..

“udah.. Kalo kamu kangen.. ikut aja ke pemandian air panas besok .. Daripada sendirian dirumah.. Sekalian main aja.. Kan lama ga pernah maen sama mang kardi” ajak teh lilis

Betul juga ucapan teh lilis. Seminggu ini aku sendirian dirumah.

“ngeliat jadwal dulu teh” ucapku

lilis terdiam sambil pelan menuju kamar mandi, ia buka cardigannya pelan pelan di depan pintu kamar mandi itu sambil bilang berbisik.

“Gerah..” ucapnya sambil membuka cardigan itu.

Entah ketika mendengar dia berbisik “gerah” sambil membuka cardigan itu membuat selangkanganku mulai bangkit. Ia seperti tidak ingin terdengar oleh yg lain kalo ingin membuka cardigannya didepanku.

Ohh God.. bahu putih telanjangnya mulus terlihat ketika ia membuka cardigan itu,

otot lengannya terbuka. terlihat Sangat kencang,… mulus… Dan montok lengan itu

Ternyata benar ucapan suaminya, istrinya sudah berotot sekarang

Seketika batangku bangkit melihat lengan yg menggairahkan itu. Dipadu jilbab yg masih dipasang. Lengan berkeringat itu terlihat sangat kencang.

Lilis melihatku berdiri di depan pintu yg fokus melihat lengan kencang berototnya,

dia diam saja ketika aku memperhatikan lengan telanjangnya. aku tanya

“teteh latihan yah..” tanyaku pelan

“emang kenapa?”..

“kenceng” kataku pelan

Lilis tersenyum memegang lengan berototnya..

“hihihi.. Aku latihan terus” ucapnya berbisik

Entah kenapa aku malah Refleks menyentuh selangkanganku dibalik kantong yg mulai menggunung mendengar bisikannya

“hmmm selain ikut pengajian.. Latihan otot juga” ucapku sambil memplototi jilbab hitam yg menempel dikepalanya dan lengan telanjangnya.

“iyaa” pelannya

“Latihannya apa teh” tanyaku

” begini..” ucapnya menekuk lengannya keatas, sehingga otot nya semakin terlihat, bulu ketiaknya yg lebat itu mulai mengintip di pangkal lengannya yg mulus.

ohh fuck..

Seketika kontolku ngacung keras melihat ketiak lebat itu,

“terus Ngapain lagi”

Tahu kalo aku menikmati lengan hot itu. Lilis berbisik.. “nanti keterusan” bisiknya pelan sambil menutup pintu kamar mandi

Damn.. Kataku dalam hati..

Aku meremas kontolku ketika pintu kamar mandi itu ditutup.

“jadi ikut ga?” tanyanya tiba tiba dari dalam kamar mandi

” ikut” jawabku spontan

Terdengar suara lilis dari dalam kamar mandi seperti tertawa kecil

Pergi keruang depan. Terpaksa aku harus mengalihkan pikiranku ke hal yg lain sebelum aku bergabung mengobrol lagi dengan suaminya.

Tentu aku tak ingin suaminya tahu kalo aku ngaceng melihat lengan dan ketiak istrinya.

Damn..

Aku bilang ke mang kardi tentang acara ketempat pemandian air panas itu. Mang kardi senang bila aku ikut, karena memang ia tak tau jalan. Aku akan kabari ketersediaan ku dengan mengiriminya pesan nanti malam.

 

===

Membayangkan ketiak lebatnya  teh Lilis malam itu membuat aku kehilangan konsentrasi. Lilis membuat ku penasaran dengan kejadian dirumahnya tadi. Bayangan otot lengannya yg terlihat montok itu membuat aku mengocok ngocok selangkanganku sendiri. Tak sia sia memang dia rajin berolah raga. Apa bisa aku menempelinya lagi seperti dulu ?, aku tidak yakin, mengingat keseharian nya yg sudah aktif dipengajian dengan teman temannya .

aku tertidur malam itu sambil menunggu esok hari.

Pagi paginya sambil minum kopi sambil menghubungi azka terlebih dahulu. Aku ingin menanyakan kabar mereka yg terdengar bersenang senang disana.

“kita lagi di derajat pas lo pah”

Ujar istriku yg menyebutkan salah satu wisata pemandian air panas disana.

“ihh kebetulan, papah juga mau ke pemandian air panas Sama putrinya mang kardi”

“oh ya..”

“iya, katanya ia ga tau jalan, mangkanya papa anterin”

“hihiii.. Sayang ya beda tempat, tapi Samaan juga yah akhirnya. Sama sama air panas,.. ya udah deh, papah hati hati disana.. Mamah mau terusin ngerendem nih sama dd..”

” yaa.. Si dd jangan terlalu lama yg renangnya” ucapku sambil menutup telepon. Tak sadar ternyata dilayar sudah ada pesan dari mang kardi. Dia menanyakan kepastianku untuk ikut atau tidak.

Karena hari ini tanggal merah, ku kesampingkan kegiatan proyekku untuk berekreasi kesana. Suasana begitu sepi dijalan sampai ketika sudah dirumah mang kardi, kulihat mobilnya sudah penuh diisi barang barang.

“emang mau nginep mang” tanyaku

“siapa tau kita kecapean terus nginep bos”

“ohh iya.. Tapi aku ga bawa salin banyak loh mang”

“gampang bos, beli aja tar dijalan”

Awalnya kami ingin berangkat dengan dua mobil, tapi karena mang kardi ingin rame dalam satu mobil, aku disuruh ikut mereka.

“ada yg ikut lagi engga mang”

“paling tommy, pamannya dian biar rame”

“Teh lilisnya mana?” ucapku

“dibengkel bos lagi rapih rapih.. Masuk aja dulu bos biar sarapan”

“mau liat bengkelnya dulu mang” ucapku

Aku pergi ke depan garasinya, disana ada bengkel motor yg lumayan besar, terlihat pelanggannya yg banyak berdatangan membawa motornya, namun kelihatannya mereka harus balik lagi mencari bengkel yg lain karena berangkatnya teh lilis. Kulihat dua montir yg memakai seragam abu abu sekedar merapihkan bengkel. Teh lilis ada di ruang tunggu sedang menulis sesuatu.

“masih aja rapih²” ucapku sambil memasuki ruang tunggu

“eh.. si aa” ucapnya tersenyum melihat ku. Pagi itu ia memakai gamis berwarna biru laut, jilbab cream dengan renda kuning menutupi payudaranya, sangat ketat terlihat gamis itu mencetak tubuh kencangnya.

“lagi ngapain teh”

“lagi nyatet data barang dulu nih sebelum berangkat” senyumnya

ia begitu cekatan menulis daftar aksesori itu.

“dulu aku juga jagain bengkel mobil loh teh”

“masa.. Bengkel apa?”

“bengkel mobil.. Waktu masih dikampung sana ”

“ooohhh.. Seru amaat, rame ga?”

“lumayan teh, dijamin bertahan teh bengkel mah, dia itu kaya restoran, banyak orang dateng, kalo manajemen nya konsisten pasti bertahan lama”

“”bener banget , mangkanya teteh disini terus hihii

Aku memperhatikan lengannya yg dihalangi gamis biru laut itu, terlihat sangat ketat , terlihat sangat kencang dan begitu monto.

“ajarin donk a, gimana caranya supaya rame..”

Aku berjalan menuju meja kasir

“teteh ngatur keuangannya pake sistem apa?” tanyanya

“sistem manual , ga pake program apa apa”

“kalo manual harus teliti data keuangannya,tanggalnya, output, inputnya, data pelanggannya, programnya juga mau” ucapku

“boleh a, pengeeeen….”

“oke nanti dibawa kesini buat instalasi..”

“sip sip sip

“Montirnya ada berapa teh?”

“tiga..”

“montir juga aspek penting loh, kalo montirnya ramah, pelanggannya pasti dateng lagi dan lagi. pake sistem raih pelanggan, semakin banyak montirnya dapet pelanggan semakin besar nanti uang tambahannya,

“boleh tuh a.. Caranya gmna?”

“bilang aja kalo sehari mereka nyampe target, nanti dapet uang tambahannya berapa, mereka pasti semanget, teteh tinggal duduk aja disini, ucang ucang kaki. Mereka yg cari pelanggan ” ucapku.

“trus program keuangan itu bagus ga?”

“dijamin teh,.. supaya rapih datanya disave diprogram itu, tinggal ngambil komputer teh..”

“oke deh, nanti minggu ini ngambil

“kalo bisa tiga teh” ucapku

“hemat bebeb..” ucapnya pelan

Mendengar kata bebeb itu membuat aku tersenyum . Aku memberanikan diri untuk memanggilnya bebeb dengan nada becanda.

“begini loh beb, sebenernya sistem manual juga bisa dengan cukup satu komputer, cuma jangan sampai data pelanggannya ga punya back up loh beb, nanti ketuker.”

“iya bebebb ” ucapnya tersenyum

“muah..” aku blowing kiss kepadanya sambil becanda

“sttt.. pelan pelan kalo manggil bebebnya” ucapnya pelan sambil liat kanan kiri

Aku melihat suaminya yg sedang rapih rapih disana. Istrinya dengan berani disini kupanggil bebeb.

“ngomong ngomong gamisnya cakep banget beb” ucapku melihatnya

“dapet dari ibu ibu pengajian ” ucapnya

“cakep beb” ucapku melihat kerudung besarnya

Lilis merapihkan kerudungnya

“kenapa?”

“ngga apa apa,.., penampilan juga ngaruh, kalo yg punyanya cantik gitu pasti pelanggan pada dateng kesini..”

“masa sih beb” ucapnya playing innocent sambil membiarkan ku melihat toketnya.

“beneran beb.. Coba angkat jilbabnya”

“begini” ucapnya sambil mengangkat jilbab lebarnya itu, bongkahan toket besarnya jelas kulihat dibalik gamis ketat itu.

“nahh gitu beb, seneng ngeliat nya” ucapku sambil mengusap selangkanganku.

“nanti suamiku cemburu kalo ngeliat aku gini”

suaranya terdengar manja sambil tetap mengangkat jilbabnya. Bongkahan Susu montoknya terlihat. gamis biru itu terlihat sangat enak..

“Suaminya masih beres beres dimobil, gpp ngasih bonus buat mentornya”

Lilis menurunkan kembali jilbabnya, ia tertawa sambil melemparkan kertas bon ke arahku.

“mentor kurang ajar”

“tapi ga sia sia beb kamu ikut pengajian”

“kenapa”

“bisa milihin gamis yg disenengin brownies,..” ucapku

Lilis mengangkat bahunya ke depan, dengan suara manja dia bilang

“hmm.. Mau doong sama yg brownies mahh”

Aku tersenyum mendengarnya sambil mendengar suara manjanya membuat kontolku makin keras disini

“angkat lagi jilbabnya beb” ucapku

Lagi lagi teh lilis melemparkan kertas bonnya kepadaku

“seneng banget sihh ngeliat ibu ibu pengajian kaya aku”

Ucapnya merapihkan jilbabnya

“kan brownies bebb” ucapku pelan

Lagi seru serunya mengobrol tiba tiba mang kardi datang memasuki bengkel

“hayu berangkat”

Aku kaget dengar suara suaminya datang. Lilis merapihkan hijabnya kebawah.

“oke pah” ucapnya

“bos sarapan dulu ngga” tanya mang kardi

Merasa tanggung dengan cetakan susu istrinya tadi, aku bilang ” engga mang”

“okeh kita berangkat”

Mang kardi pergi meninggalkan bengkel. Lilis menyusul melewatiku sambil membawa bukunya

“beb” panggilku pelan

Teh lilis memencet hidungku sambil berjalan dan bilang pelan

“Brownies ……… ” ucapnya sambil berjalan keluar

 

===

Kami berangkat satu mobil dengan tommy Sepupu mang kardi. Ia tipe orang yg bisa meramaikan suasana dijalan. Ia menyupir, aku yg duduk didepan. Teh lilis dan mang kardi bersama putrinya duduk dibelakang.

Berkali kali aku melihat teh lilis lewat kaca spion, ia masih memakai gamis yg sama. sempat ia melihatku lewat kaca itu. namun ia menghindariku dengan mengalihkan pandangan.

Berkali kali kami berhenti bila ingin membeli jajanan atau makanan. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam bila lancar. Namun karena keadaannya pasti macet bila liburan ditanggal merah maka bisa berjam jam kami ke sana. Sambil dijalan aku membicarakan perihal pemasaran ruko yg membuatku membatalkan rekreasiku dengan intan. Namun aku senang bisa ikut mang kardi sekarang.

Akhirnya Sampai direst area kami makan dan istirahat terlebih dahulu.

Teh lilis tidak membawa bekal untuk makanan. kami memutuskan untuk istirahat di salah satu restoran padang direst area ini.

“ada bos, makan pasti dibayarin”

“Hahahahaa.. Mang kardi bisa aja” ucapku

Kami asik makan direstoran itu sambil membicarakan tempat rekreasi, ketika sedang asik mengobrol dengan mang kardi, teh lilis beserta tommy berjalan setelah makan mengelilingi rest area. Putrinya dian ikut bersama mereka karena ingin membeli jajanan. Setelah mereka pergi Mang kardi bilang kepadaku.

“bos ada yg mengirim pesan aneh loh kemarin sore ” ucap mang kardi

“pesan apa mang”

” nih.. katanya ada konspirasi diproyek kita”

“sama mang Ke saya juga .. Tapi kalo ditlp balik ga aktif”

Mang kardi dan aku sama sama terdiam, ia melihat situasi ini dengan mata curiga

“harus diselidiki bos,”

“apa kira² yg ga beres mang dilapangan?.. Soalnya aku kan dikantor terus”

“ada sih bos gosip katanya pak hendra”

Aku kaget mendengar nama pak hendra, ia merupakan kepala gudang proyek yg menyimpan bahan material. Ia merupakan orang yg kupercayai menjadi kepala gudang itu selama dua tahun ini.

“kenapa si hendra?” tanyaku

“rumornya sih dia main main digudang itu”

“koq saya baru denger mang” tanyaku

“kan baru rumor bos, mudah²an aja ga bener, tapi tetep nanti saya mau menyelidiki”

“mending kita nanti nyelidikinya diem diem mang, jangan kasih tau siapa siapa dulu”

“ya.. Bener bos”

“cctv ga rusak kan”

“bagus boss, kalo ada yg main main pasti ketauan. Nih bos pegang hape saya dulu saya mau kebelakang, ada no pak hendra disitu” ucapnya buru buru berdiri menyerahkan hape itu kepadaku

Ku ambil hape itu dari tangan mang kardi sambil melihat pesan itu. Mang kardi sudah pergi kebelakang. Aku baca pesan yg tadi, aku tulis nomornya.

Nampaknya ia memakai nomor yg berbeda dengan pesan yg sama.

Buru buru aku mencari nomor pak hendra, terlihat wallpaper teh lilis beserta mang kardi dihape itu. Sempat kaget melihat wallpaper itu karena teh lilis terlihat cantik dengan jilbab hijaunya di wallpaper itu.

Aku cari nomor pak hendra, setelah ketemu aku catat di hapeku. Langsung aku telepon pak hendra waktu itu juga namun hanya nada tidak aktif yg kudengar,

Kutaruh hape itu. Aku meminum kopiku sambil meregangkan suasana. Rest area disini sangat ramai. Karena bertepatan dengan jam siang makan. Dan Terasa dingin disini karena cuaca mulai hujan. Aku berniat menyelidiki ini setelah rekreasi nanti. Namun kali ini aku ingin santai terlebih dahulu.

Sambil meregangkan suasana, aku teringat wallpaper cantik milik teh lilis tadi. ambil lagi hape mang kardi untuk melihatnya.

Sambil melihat ke arah pintu restoran Kubuka aplikasi album karena ingin melihat fotonya yg lain. Iseng iseng aku scroll kebawah melihat album itu,

Uh terlihat ada foto teh lilis hanya memakai tanktop hitam.

Ku zoom foto itu ternyata dia sedang berpose dikamar. Otot kencangnya yg mulus, susu montoknya yg besar membuat aku meremas selangkanganku disini.

Kulihat foto itu sambil melihat ke kiri dan ke kanan takut suaminya pulang.

Kukirim foto istrinya yg berotot itu ke hapeku. Lama kemudian terlihat teh lilis datang bersama sepupu dan anaknya dipintu restoran. Buru buru kusimpan hape itu.

“mang kardi kemana a” ucap teh lilis

“tadi kebelakang,” ucapku

Lilis duduk dikursi sambil melihat hape suaminya dipegang olehku. Kuberi hape itu kepadanya.

“kita duluan ke mobil yuk, soalnya mau ujan” ucapnya kepada ku.

“ya udah yuk..” ucapku

Kita akhirnya pergi ke tempat parkir sambil membawa belanjaan. Aku langsung ke meja kasir untuk membayar bill sebelum akhirnya menyusul didalam mobil.

Dimobil ada mereka disana. Mang kardi belum datang. Ingin aku telepon tapi ternyata hapenya di pegang teh lilis tadi terpaksa kami menunggunya.

“mah neng, pengen pancake durian tadi”

“tadi bukannya sekalian neng. Ya udah beli aja sama a tommy kesana gih” ucap ibunya

“hayu a..”

pamannya turun dari Mobil dengan dian untuk menemaninya membeli pancake durian itu. Meninggalkan aku dan teh lilis berdua dimobil.

Teh lilis merapihkan jilbabnya dalam mobil, aku melihatnya kebelakang. Lilis terdiam sambil melihatku

“apa”? Ucapnya

“ngga apa apa beb..” ucapku becanda

Lilis hanya diam ketika kupanggil beb, ia angkat kali kirinya ke atas kaki kananya, gamis biru itu membesar dibagian pahanya.

“jangan keceplosan manggil aku beb di depan suami aku”

kontolku keras ketika dia tidak masalah kupanggil beb

“iya beb” ucapku melihat gamis di bagian paha itu

“brownies.”ucapnya pelan

“awas brownies nya ntar suka ..” ucapku

“brownies seharusnya ngga suka sama ibu ibu pengajian kaya aku..”

“brownies emang sukanya kaya teteh” ucapku

“iya.. Tapi bukan ibu ibu pengajian kaya aku.. Apalagi sama ibu ibu yg udah bersuami.. Ga boleh”

Aku malah membetulkan letak kontol mendengarnya,

lagi lagi mang kardi datang ketika lagi seru serunya aku ngobrol dengan hot milf ini

suaminya datang. Ia menaiki mobil sambil melihatku yg sedang tersenyum. “kenapa boss..?”

“ini teh lilis katanya mau brownies tapi ga jadi..” ucapku

Kenapa mah” tanyaang kardi

“nanti aja beli browniesnya, ngga sekarang” ucap teh llis sopan”

“wah, kueh enak tuh brownies”

“bener mang” Aku tersenyum melihat lilis yg menghindari pandanganku.

Tak lama tommy dan dian pun naik mobil, kita lanjut perjalanan.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Kisah Liar Petualangan Asmara dengan MILF Jilbaber! (Part 2)
Article Name
Kisah Liar Petualangan Asmara dengan MILF Jilbaber! (Part 2)
Description
Cerbung dewasa ini adalah part 2 atau kelanjutan dari cerbung berjudul “Kisah Liar Petualangan Asmara dengan MILF Jilbaber” karya agan Zhalyoh (Forum Semprot). seorang juragan properti kecil-kecilan di Bogor. agan Zhaliyoh mengatakan jika cerbung ini adalah pengalaman nyata dirinya ngentot dengan banyak istri orang & MILF Indonesia yg berjilbab! selamat membaca!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo