catatan admin

loading...

Galeri Anik (ilustrasi)

Siapa sangka Anik adalah wanita pertama yang menjadikan bingkai-bingkai kehidupanku begitu indah. Gambaran anaknya secara fisik ia itu cantiiiiik. Dia pakai kacamata minus. Kacamata yang selalu menyertainya kemana pun dia pergi. Aku suka ketika dia membetulkan kacamatanya itu, seandainya aku jadi kacamatanya aduuuhh….aku kenapa jadi malu-malu sendiri ya?

Tapi begitulah sayang sekali aku harus bersaing dengan banyak cowok. Aku tak pernah berharap kepadanya. Tak pernah berharap lebih. Tetapi kalau cuma menunggu saja rasanya aku seperti orang yang kena PHP. Ingin sih aku bilang, “Nik, aku suka kamu.” Tapi apa tanggapannya nanti? Sampai sekarang ia hanya menganggapku sebagai sahabat, sebagai teman di kala sedih dan duka.

Dia punya kakak, namanya Rahma Savitri (Rahma). Sama-sama berjilbabnya hanya saja beda sekolah. Keduanya punya sifat yang bertolak belakang. Sifat Rahma dia itu tegas dan perfeksionis. Dia nggak mau kalah sama siapapun, kalau kalah ia bakal nangis seharian. Itulah Rahma. Kalau Anik dia cenderung nerima apa adanya, walaupun kadang-kadang perfeksionis. Rahma selalu dimanja oleh orang tuanya, beda dengan Anik dia tidak dimanja oleh orang tuanya.

Kami bertiga teman main sejak kecil. Dari pada Rahma, aku lebih dekat dengan Anik. Selain karena dia teman sekelasku, mungkin karena Mbak Rahma 2 tahun dariku. Selain itu aku lebih merasa nyaman dengan Anik. Orang bilang rasa nyaman itu membahayakan. Dan sepertinya memang demikian.

Hmm…sebaiknya aku mulai kisah ini.

 

===

BAB I: Pagi Sendu

Pagi itu aku malas sebenarnya untuk bangun, karena aku masih ngantuk habis begadang tadi malam mengerjakan semua pekerjaan rumahku. Liburan semester memang menjengkelkan. PR banyak, tapi waktu sedikit. Sebenarnya sih nggak. Aku yang terlalu malas untuk mengerjakan. Baru ketika hari-hari terakhir saja aku ngerjainnya padahal bisa aku kerjakan sebelum-sebelumnya. Hihihihi.

Dengan langkah gontai aku mengambil handuk yang tersampir di hanger. Setelah itu aku menuju ke kamar mandi. Kamar mandi kami cuma satu dan dipakai bergantian. Saat aku mau masuk ternyata dikunci dari dalam.

“Hoi siapa ini? Cepetan keburu telat nih!” kataku.

“Salah sendiri bangun telat, bodo’ ah!” kata suara di dalam. Dia kakakku namanya Yogi Prasetyo (Yogi). Wong edan. Udah jam segini kenapa dia masih mandi juga sih?

“Woi, kalo coli lain kali aja, cepetan!” kataku sambil gedor-gedor pintu kamar mandi.

“Ah, rese’ lu. Iya iya bentar!”

Setelah menunggu satu menit kemudian dia muncul dari kamar mandi. Rambutnya basah.

“Naah, kan coli. Dasar Mas Yogi, cari istri napa mas?” sindirku.

“Kampret lu!” dia menepuk pantatku.

Aku tersenyum saja dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi cepat, aku segera kembali keluar dan ganti baju. Mas Yogi sudah rapi dengan kemeja dan dasinya. Ia sudah siap pergi ke kantor. Aku juga sudah siap untuk pergi ke sekolah.

“Bareng nggak, kowe(kamu)?” tanya Mas Yogi.

“Nggak mas, bisa sendiri,” kataku.

“Yo wis, bu’ saya berangkat dulu,” katanya.

Ibu yang ada di dapur menjawab, “Lho, nggak sarapan dulu?”

“Nggak bu, udah telat,” kata Mas Yogi.

“Yee, yang telat mah aku,” kataku.

“Cerewet,” Mas Yogi kemudian segera keluar rumah. Dia menyelempangkan tasnya ke pundak, lalu menstater motor Yamaha Vixionnya. Tak berapa lama kemudian motornya sudah melaju pergi meninggalkan rumah.

Aku pergi ke dapur sebentar. Kuambil kotak bekal. Kutata nasi, sayur dan lauk ke dalamnya. Setelah itu aku pun pamit kepada ibuku.

“Bu, pamit dulu,” aku cium tangannya.

“Lho, ini juga nggak sarapan?” tanya ibuku. Ia selalu berprinsip anak-anaknya harus dan wajib sarapan pagi.

“Nggk deh bu? Saya bawa bekal aja,” kataku.

“Ya udah, sana, hati-hati!” katanya.

Aku pun berangkat sekolah.

 

***

Sekolah, tempat semua anak abege menggantungkan cita-citanya di sini. Tempat di mana orang-orang seperti aku belajar ilmu-ilmu yang terkadang nggak ngerti kegunaannya apa. Coba aku tanya kegunaan integral itu apa sih? Kegunaan diagram ven untuk apa sih? Kegunaan mempelajari besaran gaya buat apa sih? Kita semua belum tahu kegunaan itu. Bahkan ada yang kepengen banget kuliah ngambil jurusan matematika. Emangnya kalau sudah lulus kerja di mana?

Itulah pemikiran polos anak abege, mau gimana lagi. Di otak mereka hanya ada senang-senang, gembira dan akhirnya setelah itu ketika mereka sudah menghadapi kejamnya dunia mereka hanya berkata, “Seperti ini ya dunia itu, kejam sekali” Sambil menangis karena sudah berbulan-bulan ijazah sarjana mereka tidak diterima di mana-mana.

Aku orangnya easy going. Kemana aja suka. Nggak peduli apakah aku terkena angin ini, atau angin itu. Aku tak pernah merasa di ping pong juga oleh issu-issu perpolitikan yang berkembang dewasa ini. Pejabat korupsi, pejabat selingkuh, skandal di mana-mana. Anak-anak saja yang sangat demen kisah-kisah seperti itu, atau mungkin para selebritis yang memanjakan diri mereka di spa, atau kawin cerai. Rasanya juga terlalu eneg ketika harus membahas hal-hal seperti itu.

Namun itu serasa indah kalau misalnya Anik yang membahas. Hari itu dia datang dengan tampang kuyu. Sama seperti aku.

“Welahdalah, kowe kenopo Nik(waduh, kamu kenapa Nik)?” tanya Elok.

“Aku baru ngerjain tugas tadi malem, ngantuk jes,” jawabnya.

“Sama, podo karo aku(sama seperti saya),” celetukku.

“Halah, kowe(kamu) emang dari dulu suka begadang!” kata Elok.

Pagi itu tak ada yang istimewa selain aku menjadi semangat lagi setelah melihat wajah Anik. Bidadariku itu kembali masuk pagi dan kami sama-sama loyo karena tugas. Apa boleh buat. Secara ajaib dia telah memberikan semangat yang tidak terduga. Andai dia tahu itu.

Setelah jam pelajaran akhirnya jam istirahat pun datang.

“Eh, Rian!?” panggil Anik.

“Apaan?” tanyaku.

“Ikut bentar yuk,” jawabnya.

“Ada apa?”

“Mau curhat.”

Iya, biasalah anak cewek. Ia curhat. Aku pun diajaknya ke perpustakaan di mana biasanya kami saling curhat. Iya, kami. Aku kadang juga curhat soal kelakuan Mas Yogi. Dan dia curhat tentang dirinya yang diajak taruhan ama Elok buat agar si Zain, cowok idaman kelas sebelah jadi pacaranya selama sebulan trus mutusin begitu aja. Dan taruhannya cukup gedhe kalau bisa bikin Zain jadi pacarnya, maka Elok akan ngasih dia makan gratis di sebuah restoran plus ditraktir nonton bioskop. Kalau tidak bisa ya sebaliknya.

“Kamu trus jabanin aja gitu?” tanyaku.

“Yahh, kamu tahu kan aku ini terkenal dengan sebutan miss rempong,” jawabnya.

“Trus? Sekarang?”

“Yah, terpaksa deh. Aku bakal ngerayu si Zain, kali aja dia suka ama aku,” katanya.

“Yah…salahmu sendiri itu.”

“Trus, gimana tanggapan Zain?”

“Belumlah, aku belum bertindak koq. Aku minta tolong kamu boleh nggak nih?”

“Minta tolong apaan?”

“Kasih surat cinta ini ke dia.”

“Weleh, cowok ngasih surat cinta ke cowok, ntar aku dikira gay lagi.”

“Yaelah, kan di dalemnya ada namaku, lagian kamu tinggal bilang dari aku.”

Anik, Anik, kalau seandainya kamu tahu aku suka ama kamu. Apa kamu tetap akan berbuat seperti ini? Tapi tatapan mengibamu itu tak bisa aku tolak. Demi cinta aku rela melakukan ini.

Aku menghela nafas, “Ya udah deh, sini.”

Aku menerima amplop warna pink pemberiannya.

“Makasih ya, aku tahu koq kamu baik banget. Kamu sahabatku yang paling baik deh. Makasih ya Rian,” katanya.

“Anytime,” kataku.

Kemudian Anik meninggalkanku seorang diri. Aku menggenggam surat itu erat-erat. Aku yakinkan dulu ia telah pergi sebelum rasa penasaranku terlalu tinggi dan ingin rasanya membuka amplop ini. Akhirnya aku buka juga amplop ini.

DEAR ZAIN,

Maaf ya, surat ini kecil. Tidak wangi. Dan juga mungkin tidak menarik perhatian. Aku sadar bahwa selama ini aku punya perasaan ama kamu. Kamunya saja yang cuek. Aku ingin sekali kamu menggandeng tanganku dan menghiasi hari-hariku bersamamu. Itu kalau kamu tak keberatan sih.

Dari

Anik Kelas XI-7

Aku marah sekali, emosi. Pagi itu menjadi pagiku yang sendu. Aku masukkan kembali surat itu ke dalam amplopnya. Setelah itu keluar dari perpustakaan. Aku menghampiri kelas XI-3, di mana si Zain ada di sana.

“Zain ada?” tanyaku.

“Tuh!” kata temannya menunjuk ke seorang anak yang sedang menulis di sebuah bukku.

Aku menghampiri cowok yang rambutnya tertata rapi itu. Ia memang terkenal kutu buku di kelas ini. Bahkan dia juga ikut lomba karya ilmiah remaja dan mendapatkan peringkat kedua. Pihak sekolah pun sangat senang dengan prestasinya itu.

“Zain,” sapaku.

“Hai, ada apa ya?” tanyanya.

Aku berikan sebuah amplop kepadanya. “Dari Anik.”

Ia mengerutkan dahi.

“Beneran ini dari Anik, bukan dari aku. Emange aku jeruk makan jeruk? Udah ya itu aja,” kataku. Setelah itu aku pun pergi meninggalkan kelasnya.

Aku kembali ke kelas. Si Anik bertanya, “Gimana?”

Aku hanya memberi isyarat pakai jempol.

“Siip, makasih ya,” katanya.

Aku pun ambruk lagi di bangkuku. Rasanya semangatku hari itu hilang. Anik ….

loading...
¬†Klik “‚Üí” untuk melanjutkan cerita

Summary
Kisah Cinta Segitiga Hijaber yg Mengharu Biru! (Cinta Sayur Asem) - Khusus DEWASA!
Article Name
Kisah Cinta Segitiga Hijaber yg Mengharu Biru! (Cinta Sayur Asem) - Khusus DEWASA!
Description
cerbung dewasa yg beredar di forum semprot ini adalah masterpiece karya suhu arczre (archi). temanya tentang persahabatan, cinta, persaudaraan serta pengkhianatan. seru, menggoda, manis dan menggemaskan! menurut suhu Archi, tulisan ini ditulis dari kisah nyata temannya! semua nama disamarkan untuk privasi. karena panjang, sebaiknya agan-agan bookmark dulu ya
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo