loading...

“Tapi yang terjadi itu begitu memalukan.”

“Sudah sayang gak usah mamah ingat-ingat itu. Semua baik-baik saja.”

Setelah diizinkan dokter maka hari ini aku akan keluar dari rumah sakit. Aku meminta kepada Armin suamiku agar untuk sementara aku tinggal dulu di rumah orang tuaku. Tentu saja bersama Armin dan anakku Alisha.

Armin mengabulkan keinginanku itu. Karena untuk memulihkan diri aku butuh istirahat cukup dan orangtuaku tentu akan ikut merawatku yang belum sepenuhnya pulih. Mereka juga akan mengurus Alisha selama aku di rumah orangtuaku.

Aku mencoba sedapat mungkin untuk melupakan semuanya saat berada dirumah orangtukau. Sementara Armin terus meyakinkan diriku bahwa semua baik-baik saja. Walau demikian segala tanya tetap terlintas dikepalaku. Aku terus saja bertanya dalam hati apa yang terjadi setelah aku pingsan di rumah kosong itu. Sebab aku mengalami itu dalam keadaan sangat hina. Aku sedang melakukan zinah. Bertanya ke Armin tentu saja dia belum mau menjawabnya karena kondisi kesehatanku.

Sebenarnya aku tidak sanggup kalau terus-terusan begini. Aku sangat takut kalau orangtuaku dan keluarga besarku telah tahu apa yang terjadi. Tapi bila kulihat sikap Mama dan Papa padaku yang tetap menyayangiku malah membuat aku makin bingung. Apa orang tuaku tidak tahu menahu dengan kejadian itu.

Aku mencoba mengingat-ingat lagi rentetan kejadian sebelum aku pingsan. Aku yang masih telanjang diserang isteri bang Roy dengan membabibuta kemudian mertua bang Roy ikut menyerangku hingga aku pingsan. Aku sadar saat saat sudah terbaring dirumah sakit.

Sampai sejauh ini orangtuaku itu masih belum mengatakan apa pun padaku terkait kejadian sebelum aku masuk rumah sakit. Tapi mereka terus merawatku dengan penuh kasih sayang sejak saat masih d rumah sakit hingga sekarang berada dirumah mereka.

Aku juga hingga saat ini belum diizinkan oleh Armin untuk memegang ponselku. Ingin rasanya menelpon seseorang untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya. Satu hal lagi yang sangat membuat aku penasaran adalah bagaimana bang Roy saat peristiwa itu dan saat sekarang.

“Mama nanti sore Lisna jalan-jalan, ya, Mam.” Sesantai mungkin kuminta izin pada Mama saat Mama sedang menyisir rambutku di kamar.

”Ke mana, sayang, Mama temenin ya?” Mama berbisik pelan setelah agak lama seperti menimbang-nimbang sesuatu.

”Cuma pengen jalan sendiri aja, deh, Ma gak usah ngerepotin mama segala.” Kuyakinkan Mama.

”Kamu boleh ke mana aja, sayang, tapi harus ada yang nemenin ya, biar gak kenapa-kenapa.” Mama mengelus-elus rambutku dengan kasih sayang.

“Oke, deh, Mam, makasih, ya.” Kurebahkan kepalaku ke pangkuan Mama, merasakan kasih sa- yangnya yang begitu besar, yang mungkin tak akan pernah bisa kubalas. Dan aku tak tahu apa perasaannya masih seperti itu kalau dia tahu sebenarnya apa yang terjadi. Atau sebenarnya dia tahu? Entahlah.

Sore itu akhirnya aku benar jalan-jalan ditemani Alisha, mamah dan sopirnya. Kami jalan sampai jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

“Pulang yuk, mah, udah cukup buat aku.”

“Yakin, udah puas jalannya?” Tanya mama.

Aku mengangguk dan kamipun segera pulang.

Saat diperjalanan pulang kami melewati kompleks tempat nongkrong bang Roy dan anak buahnya. Aku coba melihat apakah ada sosok yang kukenali. Timbul keinginan untuk segera turun dan bertanya kemereka. Aku segera meminta sopir mampir di tempat itu.

“Mam aku mau mampir dulu ke sini, kalian tunggu aja ya. Aku cuma bentar, kok,” kataku pada Mama yang masih bengong.

“Siapa yang mau kamu temui di sini? Kamu punya temen di sini? Mau ngapain, sih, Lis, mama temenin, ya?” Mama menatapku penuh tanda tanya.

“Gak perlu mam… cuman mau nanya teman doang.”

“Siapa yang tinggal di sini mah?” Alisha ikut bertanya. Bagaimana aku memberitahu mereka? Bagaimana kalau mereka jadi bertanya-tanya? Tapi sepertinya mama mengizinkanku untuk singgah ditempat itu.

“Ok, gak pake lama dan kami tunggu, ya.” Kata mamaku.

Aku mengangguk pasrah. Setelah berhasil meyakinkan mereka segera aku menuju ke tempat nongkrong bang Roy. Disana langsung terlihat sosok Tony. Teman Tony yang kukenal tidak ada disini. Yang lainnya tidak kukenal.

“Hai mbak Lisna apa kabar?” Tony menyapaku .

“Baik…btw yang lain mana?”

“Lagi ada kerjaan…heheheh!”

“ Eh ada yang mau aku tanya nih?”

“Tentang apa mbak?”

“Kamu gak dengar kejadian yang aku alami?”tanyaku perlahan.

“Oh aku dengar tapi suami mbak minta ini dirahasiakan.” jawab Tony.

“Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi.”

“Suami mbak gak cerita ya?”

“Enggak…”

“Yuk kesana dulu!” ajak Tony sambil menjauh dari teman-teman dia.

“Suami kamu minta ini dirahasiakan ke orang-orang tapi aku rasa apa salahnya cerita ke mbak..”

“terus gimana ceritanya setela aku pingsan?”

“Suami kamu dan pamannya sudah ngeberesin semuanya.”

“Pamannya?”

“Iya paman suamimu itu preman nomor satu dikota ini. Bang Jul. Masak mbak gak tahu.”

Aku mengelengkan kepala. Aku kenal om Jul tapi kalau dia preman aku benar-benar tidak tahu. Berapa kali pertemuan keluarga aku melihat sosok dia cukup seram juga tampangnya. Selama aku di rumah sakit dua kali dia datang nengok.

“Mertua bang Roy dan Isterinya langsung ciut nyalinya lihat Bang Jul. Mereka gak nyangka bahwa suami mbak ponakan dari Bang Jul”

“Terus bagaimana kabar bang Roy.”

“Entahlah dia kabur keluar kota.”

“Isterinya..?”

“Kalau itu aku gak tahu…”

“Oke bang Tony makasih infonya.”

“Sama-sama mbak.”

Aku masih belum puas dengan jawaban yang kudapat. Tapi setidaknya aku mulai mendapat sedikit info.

Aku kembali ke mobil. Mama dan Alisha tidak banyak bertanya apa yang aku lakukan. Kamipun pulang ke rumah.

 

 

***

Setelah dua minggu lebih aku tinggal di rumah orangtuaku akhirnya kami kembali ker umah kami sendiri. Aku merasa kesehatanku sudah membaik. Walau papa dan mamaku masih ingin menahan kami aku tetap memilih untuk kembali ke rumah. Kasihan Armin dia walaupun tidak memiliki masalah dengan orangtuaku tapi dia tetap kurang nyaman harus tinggal dengan mertua.

“Pah gimana? Papah masih belum mau menjelaskan kejadian itu?”tanyaku.

“Sudahlah mah. Yang penting mamah lihat sendiri semua baik-baik saja. Jadi gak usah ingat lagi yang itu.”

“Tapi aku harus tahu pah.”

“Apa yang ingin kamu ketahui?”

“Aku ingin tahu bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit. Bagaimana aku bisa lolos dari kejadian itu.”

“Oke deh kalau kamu perlu tahu. Aku dapat info dari Tony bahwa isteri dan mertua si Roy itu mau menangkap basah kalian berdua. “

Aku tertunduk mendengar penjelasan suamiku. Walau bagaimanapun aku malu dan merasa bersalah telah ketahuan selingkuh dibelakang dia.

“Terus aku hubungi pamanku. Om Jul, kamu kenalkan om yang satu itu? Dia adik dari mami aku. Paman dan mami aku adalah anak dari sesepuh preman kota ini. Jadi sebenarnya aku ini masih keturunan preman. Kakek aku dari mamiku preman.”

Aku tidak terlalu kaget mendengar penjelasan soal itu karena aku sudah dengar dari Tony. Tapi aku tetap mendengar penjelasan Armin dengan serius.

“Karena agak lama menghubungi pamanku makanya aku jadi terlambat menolong mamah. Kami datang saat mamah sudah pingsan. Saat kami muncul tidak ada perlawanan karena mertua bang Roy takut sama om Jul. Mereka minta ampun dan meminta masalah ini gak diperpanjang. Aku setuju aja dan minta mereka gak membongkar aib ini. Itulah kejadiannya. Terus aku cerita ke ortu dan keluarga kamu bahwa kamu kecelakan saat naik motor.”

“Benar papah ngomong gitu ke keluarga aku? Papa dan mamaku gak tahu? Keluargaku gak tahu?”

“Gak ada yang tahu. Kalau sampai bocor tentu aku dan pamanku akan cari siapa yang berani membocorkan.”

Aku sedikit bersyukur karena setidaknya sampai saat ini kejadian aku tertangkap basah oleh isteri dan mertua bang Roy belum diketahui oleh orang lain selain yang terlibat dikejadian itu termasuk Tony. Aku bersyukur sekaligus heran dengan sikap suamiku yang sampai kini belum mempermasalahkan aku yang diam-diam berselingkuh dengan bang Roy. Demikian juga aku bertanya-tanya kenapa dia belum membahas aku yang sempat hamil meski keguguran. Aku merasa takut juga bila dia bertanya benih siapa yang membuat aku hamil.

Apa yang telah diperbuat oleh suamiku dan sikapnya dalam menanggapi kejadian yang aku alami membuat aku memutuskan untuk patuh dengan semua kemauan suami aku. Aku tidak akan lagi keberatan dengan apa yaang dia inginkan.

Hari berlalu, berganti minggu, minggu berganti bulan tak terasa sudah tiga bulan aku melewati kejadian memalukan yang menjadi aib bagiku. Suamiku tidak pernah mau membahas itu lagi sejak penjelasan dia yang terakhir. Akupun menjalani kehidupan rumahtanggaku seperti semula.

Seperti rumah tangga lainnya sebagai suami Armin masih melakukan kewajibannya denganku walau dia lagi-lagi tidak sanggup memberiku orgasme. Seperti malam ini dia dengan susah payah menahan agar tidak ejakulasi tapi apalah daya hanya sampai 2 menit saja dia bisa bertahan.

 

***

Sejak aku kembali ke rumah kami beberapakali om Jul datang bertamu. Hal yang wajar seorang paman mengunjungi ponakannya. Tapi agak aneh saja karena sebelum ini hampir tidak pernah beliau berkunjung ke rumah kami.

Suatu hari , Selasa siang, saat Armin suamiku di kantor. Setelah pulang menemani Alisha dari PAUD dan selesai masak aku hendak mandi lagi. Emang tadi pagi sudah mandi tapi karena hari gerah aku kepengen mandi lagi.Tapi baru saja selesai mandi dan memakai daster pintu rumahku diketuk. Ternyata Om Jul yang datang.

Dia emang sering datang ke rumah akhir-akhir ini. Paman dari Armin itu sendiri sudah menikah. Sudah punya anak remaja pula. Aku agak terkejut melihat kedatangan om Jul, apalagi aku hanya memakai daster tanpa bra.

“Oh om Jul mari masuk om.” Ujarku berbasa-basi.

“Eh iya Om hanya mampir di sini nengokin kamu, bagaimana keadaan kamu?”

“Alhamdulillah baik om…”

“Lagi sibuk apa nih?”

“Baru abis masak. Oh iya om dari mana nih? “

“Om baru saja ada urusan dekat sini, jadi om sempatkan mampir.”

Aku kemudian ke dapur , buatin kopi. Ketika menyajikan kopi aku membungkuk di depannya, dengan daster tanpa bra tentu saja dia bisa melihat payudaraku. Tapi aku tidak ingin berpikir negatif.

Selesai meminum kopi, tiba-tiba om Jul dengan berani mengecup keningku,

“Terima kasih cantik”. Aku kaget juga karena kecupan itu. Mukaku memerah.

“Kok mukanya merah Lis, malu ya? masak gitu aja malu”.

“Gak kok om, kaget aja”.

“Kenapa kaget ?”.

Jelas saja aku kaget. Dia kan pamannya suami aku kok berani melakukan kecupan. Tapi aku mencoba tetap tenang dan santai. Aku menanggapinya dengan bercanda.

“Ih om genit deh. Tuh ada Alisha lagi nonton. Entar dia lihat loh om.” Kataku.

“Jadi kalau dia gak lihat gapapa dong hehehehhe ” sahut om Jul dengan semangat.

“Dasar om.. Eh makan dulu yuk om”, Kataku mencoba mengalihkan topik. Dia bangkit dari duduknya dan mendadak dia memeluk aku dan mencium bibirku.

aku kaget, secara reflex aku memberontak tapi dia mengunci aku dalam pelukannya sehingga aku terdiam merasakan bagaimana bibirnya dengan lapar mengulum-ngulum bibirku. Pelan-pelan timbul gairah pada diriku. Tapi aku teringat ada Alisha yang sedang nonton TV.

“Ih udah deh Om Jul genit ada Alisha tuh.”bisikku.

“Tapi kamu suka kan?”

“Ih om.. Yuk makan dulu om.” Aku tidak menjawab pertanyaan om Jul.

Aku panggil Alisha.

“Alisha nih ada kakek Jul. Salaman dulu sama kakek.”

Alisha yang asik nonton TV mendatangi kami dan segera menyalami Om Jul yang terhitung sebagai kakeknya juga.

“Wah cucu kakek tambah cantik aja.” Ucap om Jul saat menerima salaman dari anakku.

“Kan mamah cantik jadi aku juga pasti cantik akayak mamah.” Sahut Alisha.

Om Jul tertawa mendengar jawaban polos Alisha. Kemudian kami menuju ke meja makan. Aku , Alisha dan om Jul makan siang bersama.

Setelah makan, om Jul membantu aku beresin meja makan meski aku tolak. Saat aku mencuci bekas makan, dia juga bantu aku. Romantis juga nih preman mau nyuci piring. Selesai cuci piring kita kembali keruang keluarga. Saat itu kulihat Alisha sudah tertidur. Melihat itu om Jul kembali bernafsu. Sambil berdiri kembali dia memelukku dan mencium bibirku. Aku diam saja tapi aku tak menolak ciuman dia. Untuk sesaat aku bersifat fasif saja. Tapi lama kelamaan aku mulai bereaksi. Aku mulai merespon apa yang dilakukan om Jul. kami masih berdiri dan saling berpelukan, sementara bibir kami telah saling mengemut, lidah kami saling berbelit didalem mulutku. Tangannya mengelus-ngelus punggung dan meremas pantatku, dia menekan badanku ke badannya.

Terasa ada yang menonjol diselangkangannya. Sesaat kemudian om Jul menghentikan cumbuan kami.

“Sudah lama aku berharap bisa berduaan ama kamu Lis.” Ujar om Jul.

Aku tidak menjawab, aku hanya menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang, dia mengelus-elus rambutku. Entah kenapa aku langsung takluk padanya. Demikian mudahnya dia membuat aku tak berdaya.

Kemudian om Jul kembali memeluk dan menciumku, dengan lembut sekali. Aku sudah terlena karena aksinya ini.

“Aku pengen Lis… boleh ya?”

Aku menurut aja ketika dia mulai melepaskan dasterku, dia terpana ketika melihat aku cuma pake celana dalam saja dibalik dasterku. Payudaraku kini tersaji didepan matanya.

“Lisna kamu sungguh sexy . Toket kamu besar dan kencang, pinggang kamu ramping dan pinggul kamu besar, sungguh merangsang”, katanya memuji.

Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. Dia melepaskan bajunya. dadanya bidang dan sedikit berbulu, menambah kegantengannya, walaupun kulitnya gelap.

“Om suka prempuan yang kaya apa?”tanyaku.

“Yang kaya kamu gini Lis, muda, cantik, seksi, dada dan pinggul besar”.

Aku sudah hanyut terbawa suasana, aku sudah tidak peduli bahwa dia adalah paman suamiku. Aku yang sudah berapa bulan tidak mendapatkan kepuasan sex tentu sangat haus akan dahaga birahi. Kembali om Jul memeluk dan mencium bibirku.

Aku dengan tidak sabar melepas celana panjangnya sekalian dengan celanan dalamnya.

Kontolnya kelihatannya besar tapi dalam keadaan belum ereksi.

Aku masih terpaku melihat kontolnya. Dia langsung mencium mencium bibirku dengan perlahan. Aku membalas ciuman itu dengan membuka bibirku, serta merta dia melumat bibirku dan memasukkan lidahnya.Kemudian tangan kiriku diarahkan untuk memegang kontolnya. Walaupun belum keras tapi sudah mulai berdiri. Kontol itu berikut biji pelernya ditumbuhi jembut lebat. Aku mulai memegang kontolnya dan ternyata walaupun masih belum keras maksimal jari telunjuk dan ibu jariku tidak dapat bersentuhan ketika menggenggamnya. Hal ini membuat aku penasaran apakah akan lebih besar lagi setelah ereksi sempurna.

“Aakkhh gedee bangeet..” desahku dengan suara parau. Kemudian dia sambil mencium telingaku berbisik,

“Kamu kocokin terus kamu isep dong..” desahnya.

Aku menuruti permintaannya dan perlahan jariku mulai mengurut ke atas dan ke bawah, dan dalam relatif singkat kontolnya tersebut ngaceng dengan kerasnya di tangan aku. Panjang dan besar. Kemudian aku berjongkok didepan kontolnya dan mulai mengoral kontol itu.

“Emmhh.. akhh..” desahnya.

Sementara aku terus mengocok kontolnya dengan mulutku, dia pun dengan nafsunya memompa kontolnya dalam mulutku seolah mulutku adalah memek. Setelah puas aku oral

Giliran dia memainkan memekku.

“Ahh om..” aku tersenyum keenakan.

Aku hanya mendesah dan menggelinjangkan pinggulku sambil merenggangkan pahaku ketika jari-jarinya itu mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas memekku yang ditumbuhi jembut dan menyebarkan aroma yang khas.

“Emmhh..” desahku sambil mengerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan.

Jarinya mulai menyentuh belahan memekku dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan memekku sudah terlihat basah dan menjadi licin dan makin menyebarkan aroma yang membuat om Jul dan aku menjadi makin terangsang.

Om Jul terus membelai belahan memekku sementara aku telah dalam posisi setengah rebahan dengan kaki terbuka mengangkang. Dia melihat aku sudah pasrah dan seluruh badanku bergetar menahan napsuku yang berkobar-kobar. Segera dia merubah posisi badannya menghadap ke aku. Dia berlutut di depanku yang telah mengangkangkan kakiku sehingga posisi badannya sekarang telah berada di antara kedua kakiku yang mengangkang lebar dan memekku yang telah terlihat jelas telah basah.

kontolnya yang benar-benar luar biasa besarnya telah berada di depan permukaan memekku.

“Pelan-pelan ya om”, bisikku.

“Ya, sayang”, desahnya.

Om Jul mulai mengarahkan kontolnya ke memekku.

Aku yang keenakan terus menantikan aksinya. Aku menjepit pinggangnya dengan kedua kakiku, kulihat kontolnya yang besar itu ditempelkan tepat di belahan memekku yang telah basah. Aku merasa kontolnya mulai secara perlahan melesak di belahan memekku.

“Oohh..om.. enaakk.. ” erangku.

Posisi kakiku telah mengangkang dengan lebar membuat dia lebih leluasa memompa memekku dengan kontol besarnya.

“Aahh.. aduuhh..ennaakk”, desahku sementara tanganku telah berada di belakang punggungnya dan sambil menekan pantatnya.

“Arghhhhh.. ” erangnya penuh nafsu.

Kepalaku sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak , sementara mulutku terbuka mengerang,

“Ahh ouwh..akhh”, desahku ketika kontolnya terus bergerak maju mundur dalam memekku.

“Akhh.. engg.. aakhh” aku mencengkeram pantatnya kuat-kuat dan akibat pompaan kontolnya.

“Oohh..Lisna..nyampe om.. uuff..aah.. enaak..” erangku kelonjotan dan bergetar seluruh badanku di dalam pelukannya.

Memekku menyemburkan siraman cairan hangat yang menerpa kontolnya sehingga mengalir membasahi batang dan kepala kontolnya, membuat kontol itu menjadi mengkilap dan basah.

“Kamuu..nyampe ya Lis.. ” desah om Jul dengan nafas memburu, nafasnya terdengar keras.

“Eeennakk.. oohh Lisna puaass ommmm”, aku terus mengerang karena om Jul tidak menghentikan pompaan kontolnya dalam memekku yang sudah basah oleh cairan kenikmatanku.

“Teruss.. om..tekan teruuss.. oohh.. benar enak.. ahh..” aku meracau melihat dia masih terus memompa kontolnya dalam memekku.

“Aakkhh.. eennak. teruuss..tekan..om… Lisna mau kon tol gedee.. ahh enaaknya kontol om..” aku kelojotan dihujami kontolnya .

Setelah puas dengan posisi itu om Jul mencabut kontolnya dan aku mengambil posisi menungging. Bibir memekku dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggirannya. Dia segera mengambil posisi tepat di belakang pantatku. Setelah meremas bongkahan pantatku dengan penuh nafsu, dia mulai menempelkan kepala kontolnya dibelahan memekku dan blesk kontol itu menerobos masuk kedalam memekku..

“Aahh.. ennaak.. om..” desahku terpejam.

“Nikmatnya kon tol om.. enak..om..”

Gerakan maju mundur kontol itu makin lama semakin cepat.

“Ahhk.. uuff..enaak.. oohhkk.. yaa..!” dia mengeram dengan nafas yang memburu, begitu juga aku.

Dia memegang pinggulku sambil mendorong kontolnya yang menghujam semakin dalam memekku.

“Hee.. aakhh.. okh..” nafasnya memburu dengan cepat sementara gerakan kontolnya di dalam memekku terus menggesek dinding kemaluanku

dan kadang berputar seperti mengebor memekku.

“Akhh..eennak..giila..aduh….kontol om mentook.. mmffhh.. yaa terus..” erangku.

“Lis.. enak.. gilaa.. masuk.. semuaa..mmffhh..puas.. aakh..” Dia terus menghujamkan kontolnya dalam-dalam ke memekku.

Sementara aku hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala kontolnya mentok di dinding rahimku.

“Lisna keluarr lagi.. om.. aahk enak..” erangku terpejam.

Entah sudah berapa menit lamanya dia memainkan kontolnya di dalam memekku, keringatnya telah menetes ke punggungku. Sungguh buas om Jul ini kalau sedang ngentot, kadang-kadang tangannya meremas toketku dan menariknya ke bawah untuk memberikan memperkeras dorongan kontolnya. Aku telah lemas dan tidak bertenaga lagi.

“Lisna udah mau keluar lagi ahh om”.

“Gila..aahh.. aku juga..keluaar.. arghhhh.. enak..” Kami berdua mencapai puncak kenikmatan bersama, terasa sekali semburan keras pejunya yang hangat dimemekku. Sementara aku kelojotan menyambut orgasmeku untuk kesekian kalinya.

Part 14

Aku benar-benar kaget mendengar pengakuan Armin suamiku malam ini. Dia bercerita panjang lebar tentang perasaannya. Ada perasaan bersalah dan juga ada perasaan bingung. Aku menjadi semakin bingung dengan cerita dia. Bagaimana tidak bingung ternyata dia memiliki kelainan. Aku tidak bisa tidur mengingat semua cerita dia. Untuk lebih memahami aku kembali mengingat apa yang diceritakan dan mencoba melihat dari sudut pandang Armin suamiku. Sampai aku terbuai mimpi.

 

***

Tragedi yang memilukan dan menyakitkan hati saat isteriku kepergok berzinah dengan lelaki yang aku tidak kenal sudah beberapa bulan berlalu. Sebenarnya aku mengizinkan isteriku melakukan hubungan sex dengan lelaki lain tapi dengan seizinku dan lelaki itu aku kenal. Tapi ternyata isteriku memilih untuk mencari sendiri lelaki itu dan berhubungan tanpa sepengetahuanku. Sikap isteriku itu berujung pada kejadian yang membuatnya terluka akibat penganiayaan dan bahkan dia keguguran membuat aku kasihan kepada isteriku dan memaafkan kejadian itu.

Apa sebenarnya yang dicari oleh isteriku. Toh aku bahkan sudah memberi kesempatan dia menikmati empat lelaki sekaligus. Yah aku menghadiahi dia empat lelaki karena mendengar cerita dari Firman bahwa isteriku digilir lima lelaki. Awalnya seperti sebuah pemerkosaan akan tetapi ternyata Lisna menikmatinya.

Aku sebenarnya kesal juga mendengar itu tapi aku malah penasaran dan timbul keinginan untuk melihat seperti apa isteriku bila dientot beberapa pria sekaligus. Sehingga muncullah ide memberi hadiah ulang tahun dengan menghubungi para lelaki itu. Aku hanya mendapatkan empat dari lima lelaki itu. Ternyata lelaki yang satunya itu malah diam-diam menjalin hubungan dengan isteriku. Bangsat memang.

Isteriku benar-benar memiliki nafsu sex yang sangat tinggi dan dia mampu terus bercinta meski telah berkali-kali orgasme. Aku bahkan sampai bisa konak lagi meski kontolku sudah ngecrot sebelumnya karena melihat isteriku yang begitu liar. Apalagi aku lihat isteriku sampai terkencing-kencing nikmat. Aku ingin pengalaman itu bisa terulang lagi tapi kejadian yang menimpa isteriku membuat aku menunda keinginan itu sampai isteriku benar-benar pulih.

Akan tetapi ketika aku menghubungi para preman itu ternyata mereka sudah tidak berani lagi melakukan itu karena takut dengan om Jul. Bahkan ketika aku memberi jaminan bahwa pamanku itu tidak akan marah mereka tetap tidak mau.

Siang itu aku yang baru saja mengikuti kegiatan diluar kantor melewati kompleks tempat tinggalku. Aku putuskan untuk istirahat di rumah saja biar nanti sore aku balik ke kantor untuk sekedar mengisi absen finger print. Saat mendekati rumahku dan hendak memarkirkan mobil di halaman rumah aku lihat motor milik om Jul. Aku parkirkan saja mobil di pinggir jalan depan pagar rumahku.

Ketika sudah diteras rumah aku heran kok pintu rumah tertutup padahal ada motor om Jul berarti ada om Jul di dalam rumah. Tetapi mengapa pintu rumah di tutup kalau ada keluarga bertamu seperti ini. Saat hendak memegang gagang pintu depan rumah kudengar suara dari dalam rumah. Suara isteriku tapi kok terdengar aneh. Maka aku urungkan membuka pintu depan. Aku langsung berpikir aneh mendengar suara seperti itu. Aku segera menuju samping rumah. Di samping rumah ada pintu yang terhubung dengan dapur. Ku coba untuk membuka pintu, ternyata dikunci. Aku segera mengambil kunci dari kantong celanaku dan membuka pintu itu. Dengan beringsut-ingsut aku menuju ruang tengah di mana terletak kamar tidur rumahku. Tapi disana pintu kamar tertutup. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar. Tdiak terkunci tapi hanya Alisha yang terlihat sedang tidur di sana.

Aku kemudian menuju ruang tamu dari sana terlihat pintu kamar tidur tamu terbuka sedikit. Dari arah kamar kudengar suara orang yang tengah bercumbu, dadaku benar-benar berdebar sekarang. Perlahan ku intip ke dalam kamar, dari pantulan cermin lemari pakaianku aku bisa ngeliat dua orang yang telanjang bulat tengah bergumul di atas ranjang. Seperti dugaanku sesaat tadi om Jul dan Lisna sedang bergumul penuh nafsu di ranjang kamar tidur tamu itu.

Aku benar-benar suami yang aneh. Bukannya marah dan cemburu aku malah sangat bernafsu melihat itu. Memang aku punya kelainan suka membayangkan istri aku tengah dicumbu orang lain dan sudah pernah mewujudkannya. Gairah sex ku sangat menggebu-gebu kalau dihadapkan dalam situasi seperti ini..

Aku mengambil posisi yang aman untuk bisa mengintip mereka. Terlihat Om Jul memang bertubuh kekar, meski sudah berusia lebih dari 50 tahun tapi dia memilik tubuh atletis dan cukup tinggi. Saat ini terlihat om Jul berdiri dan mengambil posisi di belakang istri aku yang lagi nungging. Dari cermin dapat kulihat kontol om Jul yang besar dan panjang , jauh lebih besar dari kontolku.

Nekad benar isteriku berani berselingkuh dengannya. Perlahan om Jul menusukan kontol nya ke lobang memek istriku, kudengar erangan istriku ketika kepala kontol om Jul mulai memasuki lobang memek nya.

Om Jul mulai memaju-mundurkan pantatnya, semakin lama semakin cepat, batang kontol nya keluar-masuk menghujam memek Lisna. Bunyi paha Om Jul yang beradu dengan pantat Lisna membuatku terangsang, tanpa terasa kontol ku pun udh menegang.

Kali ini Om Jul merubah posisi, Om Jul menindih tubuh Lisna, posisi mereka membelakangi cermin. Sehingga aku bisa ngintip dengan jelas ketika batang kontol Om Jul menghujam lobang memek Lisna. Gerakan Om Jul sangat liar dan kasar seakan-akan kontol nya hendak merobek-robek memek istri aku.

Gerakan Om Jul memompa naik turun lama sekali. Kemudian Om Jul menghentikan kocokannya dan akhirnya kaki kiri istriku diangkat tegak lurus dan ditekan-tekannya kontolnya sekencang-kencangnya.

“Teruuss.. teruuss.. Om Jul.. teruuss.. dinding rahimku terasa tersundul-sundul.. wuennaakk om.. teruuss ahhh..”

Om Jul mengganti kaki kanan istriku yang sekarang diangkat dan tekanan demi tekanan semakin membuat keringat mereka berdua bercucuran.

Dalam hatiku, aku kagum dengan om Jul. Di satu sisi dia sebagai .pamanku dan disisi lain ternyata dia menjadi lawan tanding birahi sex istriku yang aku tahu sendiri begitu haus sex.. Aku mangaku kalah dalam urusan sex dengan om Jul dan lelaki lain yang sudah pernah memuaskan isteriku termasuk preman bernama Roy.. Aku hanya bisa meremas-remas kontolku yang basah karena lendir akibat terangsang hebat. Badanku terasa kelu dan kaku karena tegang, cemburu , nafsu dan amarah yang menjadi satu.

Kulihat lagi permainan mereka, dan ternyata kini kedua kaki istriku diangkat dengan cara tangan kiri Om Jul memegang pergelangan kaki kanan istriku dan sebaliknya tangan kanan Om Jul memegang pergelangan kaki kiri istriku. Yang menjadi iri dan aku tertegun, selain Om Jul masih mengocok kontolnya, kedua kaki istriku dimainkan dengan cara dirapatkan tegak lurus dan kemudian dikangkangkan, begitu terus berulang dan terlihat dari mimik wajah istriku, dia menikmati semua gerakan yang dilakukan oleh Om Jul.

Sesekali Om Jul menciumi bibir Lisna dan buah dada nya dihisap bergantian. gak berapa lama isteriku mengerang, rupanya Lisna isterku sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya. Om Jul mencabut kontolnya dari lobang memek Lisna.

Crot. crot, crot memek Lisna menyemburkan cairan kenikmatannya. Dia terlihat berkelojotan meresapi orgasmenya. Om Jul yang masih belum orgasme mengocok-ngocok batang kontolnya Sambil menatap isteriku yang terlihat seperti menggigil saking nikmatnya.

Tak menunggu lama om Jul kembali melesakkan kontolnya kedalam memek isteriku.

“jleb jleb jleb jleb…..!!!!!” istriku kembali mendesah

“ ah aha ah ah ah ah oh oho ohhhh….. om Jul….. terussssss….. akkkhhhh….”

Om Jul semakin gencar mempercepat tempo sodokkannya, sampai-sampai ranjang yang mereka tumpangi berderit keras. Kulihat ekspresi muka om Jul yang sangat menikmati nikmatnya memek istriku, sampai merem melek dan gemerutuk gigi-giginya, sambil terus memeluk istriku dengan kuatnya.

Kulihat batang penis yang besar itu keluar masuk di lubang memek istriku, aku jadi terkagum-kagum sampai menelan air ludah melihat betapa kuatnya isteriku melayani lelaki.

Rintihan istriku makin tak beraturan, apalagi om Jul dengan tehnik bercintannya membuat tempo sodokan yang kadang lambat dan tiba-tiba cepat juga kadang berputar-putar, membuat istriku kembali meraih orgasmenya lagi, namun kali ini om Jul tetap menyodok dengan gagahnya.

Begitu kontras pemandangan yang kulihat, tubuh om Jul yang hitam dan kekar berotot menindih tubuh istrku yang putih mulus seksy, keringat-keringat mereka saling bercucuran begitu manisnya, aku benar-benar dibuat terkagum-kagum.

Om Jul terus menggenjot dan menggenjot dan nampaknya ia ingin membuat istriku orgasme berkali-kali.

Lalu oleh istriku mengambil posisi diatas. Mulailah dia bergoyang naik turun. Gerakan pantatnya kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat. isteriku mendongak keatas sambil mengerang ngerang. Digigitnya bibirnya menahan nikmat yang didapatnya. Dengan posisi ini ternyata isteriku tidak bisa tahan lama, baru 5 menit istriku kembali orgasme dan dia ambruk diatas tubuh om Jul.

istriku istirahat sejenak, Setelah merasa fit lagi akhirnya istriku menarik tangan om Jul untuk duduk dan istriku tetap duduk di penisnya dan kakinya diselonjorkan lurus di antara tubuh om Jul. Lalu om Jul yang ganti menggoyangkan pantat istriku maju mundur sambil kadang-kadang istriku ditidurkan ke belakang dan dia tetap mendekapnya dari depan. Pantat istriku terus bergoyang.

“achhhhhh.. .ooohhhhhhhh…ssshhhhh.”

“goyang yang kerassss …om Jul……” racau isteriku dengan nada suara yang bergetar.

Ahirnya kulihat om Jul mendekap erat isteriku sambil bibirnya melumat habis bibir isteriku.

“achhhhhhh…..aku kluarrrr…aku kluarrrrrrr”

erang om Jul. Isterikupun menanggapi dengan makin menggencarkan goyangan pantatnya.

“Argggghhhhhhhhhh om Juuuuuulllll….aku juga sampai……akhhhhh!”

Mereka berpelukan erat sekali setelah menuntaskan hasrat mereka. Gila mereka melakukan itu dengan tidak menghiraukan bahwa ada Alisha yang bisa saja tiba-tiba bangun. Tapi mereka seolah tidak peduli lebih memikirkan kenikmatan.

Aku yang hanya melihat mereka bisa juga orgasme hingga dua. Orgasme pertama aat melihat isteriku terkencing nikmat hingga spermaku menyemprot dalam celanaku. Yang kedua ketika melihat isteriku orgasme saat nungging. Aku sangat lemas tapi aku putuskan untuk pergi diam-diam dan kembali ke kantor saja.

Sepanjang jalan aku terus memikirkan sikapku yang aku sendiri merasa aneh. Kenapa diriku ini? Kini justru aku ingin terus menyaksikan ulah Lisna dan Om Jul. Aku ingin menyaksikan bagaimana wajah Lisna istriku ini menerima gelinjang syahwat birahi dari lelaki lain. Aku ingin menyaksikan saat-sat nanti Lisna dilanda orgasmenya. Aku ingin mendengarkan desahnya, atau racaunya, atau rintihannya. Aku ingin menyaksikan gelinjang tubuhnya saat menerima tusukkan erotis dari lelaki lain. Saat dia mesti bergoyang-goyang mengimbangi ayunan pompaan kontol lelaki lain pada lubang kemaluannya.

Aku juga ingin menyaksikan bagaimana Om Jul yang pamanku ini memberi dan menerima ritual nikmat untuk dan dari Lisna istriku. Aku juga ingin menyaksikan saat-saat kontolnya melepaskan spermanya pada kemaluan istriku. Aku jadi sangat bergairah membayangkan semua itu.

 

****

Aku terbangun dari tidur. Keringat dingin terasa membasahi tubuhku. Saat ini baru pukul tiga dini hari. Aku tak menyangka cerita suamiku terbawa dalam tidurku. Sungguh aneh apa yang diceritakan suamiku kembali muncul dalam mimpiku dan lebih aneh lagi dalam mimpiku itu aku seolah berada dalam posisi sebagai Armin.

=== masih menunggu update dari agan Dur0v ==

Mari berlangganan Cerita Dewasa!!

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

cara membesarkan penis

5 Cerita Dewasa Terakhir

loading...
 Klik “<–” untuk kembali
Summary
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Article Name
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Description
cerita dewasa yg mengisahkan perselingkuhan seorang muslimah jilbaber yg suainya tidak bisa memberikan kenikmatan seksual. seru dan mendebarkan!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo