loading...

“Lis.. ada yang mau aku omongin.”

“Ngomong saja .”

“Tapi gak enak lewat telepon.”

“Oke kita ketemu entar siang. Aku masih nunggu Alisha pulang dari PAUD nih.”

Telepon dari bang Roy tadi membuat aku tidak sabar lagi menemui dia. Aku yakin pasti dia akan membahas soal acara aku dan suamiku di hotel. Aku yakin dia pasti sudah mengetahui kejadian itu.

Jam pulang Alisha sudah tiba. Aku bergegas mengantar anakku itu ke rumah neneknya. Setelah itu aku segera menuju ke tempat di mana aku akan bertemu dengan bang Roy. Aku mengendarai motor matic untuk menemui selingkuhanku itu.

“Bang mau bicara soal apa sih?” kataku membuka obrolan saat sudah bertemu dia.

“Aku gak habis pikir dengan suami kamu.” Katanya dengan nada seperti kesal.

“Emang kenapa dia bang?”

“Apa dia gila? Kenapa dia mau-maunya mengajak anak buahku untuk niduri kamu? Apa itu bukan gila?”

Aku hanya terdiam. Memang kalau dipikir itu memang sebuah perbuatan yang tidak akan dilakukan oleh suami manapun di dunia ini.

“Aku jadi berpikir untuk menyelamatkanmu dari laki-laki sinting kayak gitu.”

Aku makin terdiam mendengar kata demi kata bang Roy.

“Aku lebih kecewa lagi karena kamu malah tidak bisa menolak keinginan suami kamu?”

“Aku minta maaf bang.”

“Kamu gak perlu minta maaf. Apalah aku ini. Tapi setidaknya kita berdua punya hubungan. Kita saling mencintai kan?”

Aku menunduk. Aku mengakui bahwa kami berdua memang menjalin hubungan. Dan aku juga mengakui kami saling mencintai. Hubungan sex dengan bang Roy sangat aku nikmati karena ada cinta juga di dalamnya. Tak jarang dalam orgasme yang kudapatkan aku menjeritkan teriakan I Love you kepada bang Roy. Bahkan ketika hendak mencapainya racauanku adalah nama bang Roy yang kutambahkan dengan kata-kata cinta. Betapa nikmatnya sex bersatu dengan cinta bagiku. Karena sekian tahun kehidupan rumah tanggaku semata karena cinta saja dan kini aku mendapatkan kepuasan sex dan aku menyertakan rasa cinta juga di sana. Hasilnya luar biasa dahsyat.

“Kamu jujur saja. Apa kamu menikmati pesta sex itu?”

“Tidak bang?”

“Aku tidak percaya.”

“Terserah bang. Aku lebih menikmati hubungan dengan bang Roy seorang. Hubungan sex berlandaskan saling cinta.”

“Aku tidak yakin.”

“Aku hanya bisa minta maaf bang.”

“Aku tidak tahu harus bagaimana Lis. Aku ingin merebutmu dari suami kamu yang gila itu. Tapi aku ragu denganmu yang bisa demikian pasrah menerima ditiduri sekian lelaki. Okelah kalau kejadian yang pertama kali saat kita bertemu. Mungkin kamu terpaksa karena situasi dan keadaan yang mengancam kamu. Tapi yang di hotel itu aku jadi ragu.”

“Maafkan aku bang.”

“Kamu tau gak aku pertama dengar mereka ngomong. Aku langsung emosi dan aku gak sadar menghajar mereka. Tentu saja mereka bingung tapi lambat laun mereka jadi tau. Aku gak ngerti juga kenapa sih aku sampai gak bisa menahan emosi.”

“Aku janji bang aku gak akan mau lagi melakukan itu.”

Obrolan kami berakhir menggantung. Intinya bang Roy sangat kecewa aku yang menjalin hubungan dengan dia mau-maunya melakukan pesta sex. Bermain bersama sekian lelaki sekaligus yang itu adalah teman-temannya. Aku hanya bisa minta maaf tapi tak bisa menghapus kekecewaan dia.

 

***

Sebulan sudah aku tidak lagi saling kontak dengan bang Roy. Aku juga tidak punya keberanian untuk lebih dulu mengontak dia. Tapi sejujurnya aku merasa sangat kehilangan. Sebaliknya di rumah aku semakin bosan dengan suamiku yang terus saja dengan keinginannya melanjutkan kegiatan semacam pesta sex itu lagi. Tapi Armin suamiku belum menemukan cara untuk mendapatkan lelaki lain yang mau melakukan keinginan dia. Sebab Tony dan kawan-kawan menolak untuk itu. Aku tahu pasti mereka takut melakukan itu lagi karena bang Roy.

Jatuh cinta kepada orang yang bisa memuaskanku dan orang itu malah menjauh membuat aku benar-benar galau. Tidak ada hal menarik yang bisa membuat aku melupakan bang Roy. Sampai aku mengambil keputusan untuk mengalah dan menghubungi saja bang Roy. Untuk mencari kepastian. Kalau dia memang sudah tidak mau melanjutkan hubungan aku akan pasrah. Daripada tidak ada kejelasan.

Saat sedang menunggu Alisha di sekolah PAUD segera aku mengambil ponselku. Aku kuatkan tekad untuk berani bicara dengan bang Roy. Nomor ponselnya aktif. Setelah terdengar bahwa panggilanku diterima aku langsung menyapanya.

“Hallo bang Roy…”

“ini siapa ya?” aku kaget terdengar suara perempuan.

“Ini nomornya bang Roy kan?” aku balik bertanya.

“Iya terus ini siapa?”balas perempuan itu.

“Aku temannya, maaf kalau ini siapa?”

“Aku isterinya. Ada perlu apa sama bang Roy?”

Aku kembali terkejut mendengar jawaban perempuan itu. Astaga kenapa aku sangat sial hari ini. Setelah sekian lama berhubungan belum pernah aku nelpon ke bang Roy dan yang angkat isterinya. Baru kali ini disaat aku sangat perlu menghubungi dia malah isterinya yang angkat. Apa aku harus menutup saja panggilan ini.

“Oh maaf hanya ada urusan kerjaan. Nanti aku hubungi lagi.” Kataku kemudian sambil langsung menutup ponselku.

Aku benar-benar kesal kenapa disaat seperti ini malah sulit untuk menghubungi bang Roy. Hari yang sial. Sudah berani membuang gengsi untuk menghubungi lebih dulu bang Roy malah isterinya yang angkat.

Tiba berapa lama ponselku berdering. Aku lihat layar ponsel tertera nomor bang Roy disana. Apa aku harus angkat atau tidak. Atau mnungkin isterinya sudah menyerahkan ponselnya kepada bang Roy. Tapi apa perlu mengangkat panggilan telpon itu disaat bang Roy bersama isterinya. Tapi aku putuskan saja untuk menerima panggilan telepon itu.

“Halo..?”

“Kamu sebenarnya siapa?”

“Aku teman bang Roy.”

“Iya tapi siapa? karena aku lihat banyak percakapan telepon dengan nomor kamu ini sejak beberapa waktu lalu. Tapi nomor ini tidak tersimpan namanya. Aku gak tanya suamiku karena aku pikir pasti temannya. Tapi ketika tadi kuangkat suara perempuan aku jadi heran urusan apa perempuan selalu teleponan dengan suamiku.”

“Oh itu…urusan kerjaan.”

“Kerjaan apa? Emang dia kerja apa sama kamu?”

“Oh maaf tanya aja sendiri sama suami kamu. Oke!”

Aku segera putuskan sambungan telepon itu. Tapi kembali telepon itu berdering. Tampaknya isteri bang Roy mau nelpon lagi. Aku jadi kesal dan tdiak menerima panggilan itu. Tapi dia tidak kapok dan terus melakukan panggilan. Karena itu segera saja aku nonaktifkan ponselku. Ya mapun kenapa jadi begini.

Jam pulang kegiatan PAUD Alisha sudah tiba. Kamipun segera kembali ke rumah. Sebelum sampai rumah kami singgah di pasar untuk beli bahan-bahan untuk masak. Tiba dirumah aku kembali mengaktifkan ponselku. Alangkah kagetnya ketika mendapat sejumlah SMS masuk dari nomor ponsel bang Roy. Astaga isterinya itu begitu ngotot mencari tahu siapa aku. Sial benar aku hari ini.

-“Hey kamu angkat dong telponku.”

-“ Hey wanita murahan Kenapa matiin telpon. Pasti kamu sengaja karena kamu itu ada apa-apanya dengan suami aku kan?”

-”kamu pasti perempuan gatal yang ngejar-ngejar suami aku kan?”

-“Atau kamu mantan pacarnya suami aku yang kegatelan pingin ngerayu suami aku ya?”

Bunyi pesan-pesan SMS itu benar-benar membuat aku kesal dan malu. Gila benar isteri bang Roy. Membuat aku jadi naik darah juga disebut wanita murahan. Aku memilih untuk tidak menanggapi semua itu. Hanya membuat masalah bertambah saja. Tapi gimana kalau dia terus meneror aku. Apa aku harus blokir saja nomor ponsel bang Roy. Tapi gimana kalau bang Roy suatu saat ingin menghubungiku. Bisa benar-benar putus kontak kalau ini aku lakukan. Ah aku lupakan sejenak dulu masalah ini dan fokus memasak untuk makan siang saja.

Setelah selesai masak dan duduk menemani Alisha yang sedang bermain aku kembali mendengar ponselku berdering. Agak berdebar-debar juga aku mendengar bunyi ponsel sejak kejadian tadi. Kulihat nomor yang tidak dikenal yang melakukan panggilan. Aku malas mengangkat panggilan itu. Siapa tau itu isteri bang Roy melakukan panggilan dengan nomornya sendiri. Ponselku terus berbunyi. Tentu dia melakukan panggilan berulang-ulang. Sampai kemudian dering ponselku berhenti.

Ada pesan SMS masuk. Aku cemas juga apalagi kalimat menyakitkan yang akan aku baca dalam SMS itu.

-“Lisna angkat dong ini aku bang Roy pake nomor lain. Tadi itu isteriku yang angkat. Ponsel aku disita isteriku sudah hampir sebulan ini gara-gara mantan aku nelpon saat aku sedang dirumah dan isteriku yang angkat.”

Aku kemudian menghubungi nomor itu dengan hati berdebar. Apa benar bang Roy yang mau bicara denganku. Apa dia telah memaafkan aku.

“Hai Lis ini aku. Maaf ya aku gak pernah lagi kontak kamu. Aku lagi ada masalah dengan isteri. Untung saja tadi itu isteriku sempat nanya kalau ini nomer siapa. Jadi aku tahu kamu mau nelpon aku”

“Oh kirain bang Roy sudah malas denganku hingga gak pernah nelpon.”

“Oh enggak. Aku memang sempat kesal tempo hari tapi aku sudah maafkan kamu koq. Tapi itu tadi ponsel aku disita. Terus ini aku beli diam-doam ponsel baru yang murah meriah khusus buat nelpon kamu. Hehehehhe.”

“Wah makasih kalau gitu. Eh tapi isteri kamu itu galak benar. Bisa-bisa dia ganggu aku terus.”

“Udah biarin aja gak usah ditanggapi.”

“Tapi kalau dia nelpon pas ada suamiku gimana?”

“Bilang aja wanita itu isteri salah satu dari lelaki yang main dengan kamu di hotel.”

“Oke juga pikiran bang Roy.”

“heheheh…aku kangen!”

“Sama aku juga kangen. Ketemuan yuk!”

“Kapan…?”

“Sekarang…”

“Ayo…siapa takut.”

Part 12

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika Aku dan bang Roy sampai di rumah yang sedang kosong itu. Aku begitu kangen dengan kegantengan dan badannya yang kekar, aku sudah suka sejak dia memperlakukanku tempo hari dengan tidak kasar walaupun pada hakekatnya dia memperkosaku waktu itu. Setelah menutup pagar depan, segera dia mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian dia memeluk tubuhku dan dengan bernafsu segera disosornya pipiku dengan bibirnya, aku sangat antusias dengan apa yang dilakukan bang Roy sehingga akupun memberi respon yang tidak kalah hangat.

“Bang Aku kesal sekali isterimu maki-maki aku.”

“Gak usah dihiraukan sayang. Maklumin aja. Kamu juga pasti gitu kalau laki kamu kedapatan sering telponan dengan perempuan.”

“Abang Kok payah banget. Preman masak takut sama isteri. HP disita nyerah begitu saja.”

“Ah itu memang HP aku diambilnya saat sedang dicars. Saat aku minta dia gak mau. Gara-gara aku nerima telpon dari teman perempuan.”

“Teman apa mantan..?” godaku.

“Ah ngapain bahas itu.” Elak bang Roy.

Iya juga sekarang waktunya memadu kasih setelah hampir sebulan kita gak pernah kontak-kontakan. Sesaat kemudian bibir kami bersentuhan lembut, aku yang sudah sekian lama merindukan ini tentu sangat bernafsu untuk menikmati cumbuannya. Dia mengulum bibir bawahku, disedot sedikit. Lima detik kemudian, dia melepaskan kecupan bibirnya dari bibirku.

Beberapa saat kemudian jemari tangan kanan bang Roy bergerak semakin menggila, menelusup ke pangkal pahaku, dan mulai mengelus gundukan bukit memekku. Diusapnya perlahan dari balik celanaku yang amat ketat, dua detik kemudian dia memaksa masuk jemari tangannya di selangkanganku dan bukit memekku itu telah berada dalam genggaman tangannya. Aku menggelinjang kecil, saat jemari tangannya mulai meremas perlahan. Dia mendekatkan mulutnya kembali ke bibirku hendak mencium.

“eeehh bang.. Aku kangen bang”, bisikku di antara desahan nafasku yang mulai sedikit memburu.

“Oooh Lisna sayang, aku juga kangen”, ucapnya.

Sementara jemari tangannya yang sedang berada di sela-sela selangkangan pahaku itu meremas gundukan memekku lagi dengan buas.

Bibir kami terus saling mengulum. Dengus nafasku terdengar memburu saat dia mengecup dan mengulum bibirku cukup lama. Dia mempermainkan lidahnya di dalam mulutku, aku membalas cumbuannya dengan menggigit lembut dan mengulum lidahnya dengan bibirku. Lidah kami bersentuhan, lalu dia mengecup dan mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibir kami saling mengecup.

Jemari tangan bang Roy yang masih berada di selangkanganku mulai bergerak menekan ke gundukan memekku yang sudah sekian lama merindukan sentuhan lelaki perkasa ini. Aku memekik kecil dan mengeluh lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, sementara wajahku nampak sedikit berkeringat. Dia meraih kepalaku dalam pelukannya dengan tangan kiri dan dia mencium rambutku.

“Ooouuggh bang”, bisikku lirih.

“Enaak sayang….. ?”, tanyanya.

“Hhh… iiyyaa bang”, bisikku.

Puas mengusap-usap bukit memekku, kini jemari tangan kanannya bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas menelusuri pinggang sampai ujung jemarinya berada di bagian bawah payudaraku yang sebelah kiri. Dia mengelus perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan, akhirnya jemari tangannya seketika meremas kuat payudaraku dengan gemasnya. Mungkin dia melakukan itu karena kangen juga padaku.

Secara bergantian jemari tangannya meremas kedua payudaraku dengan lebih lembut. Aku menatapnya dan membiarkan tangannya menjamah dan meremas-remas kedua payudaraku.

Kamipun dengan tergesa-gesa saling melucuti pakain kami masing-masing hingga tak bersisa sehelai benangpun. Kontol bang Roy yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun .

Batang kontolnya bentuknya besar, berurat, dan panjang. Aku kemudian berjongkok didepan sofa. Jemari kedua tanganku mulai menyentuh kepala kontol bang roy yang duduk di sofa. Kemudian bibirku mengecup ujung kontol itu. Selanjutnya aku mulian mengoral montol yang aku rindukan.

“Aah… terus sayang arghhhhh hisap yang kuat sayang”, rayunya penuh nafsu.

Aku semakin cepat memaju mundurkan mulutku mengulum kontolnya. Bang Roy melenguh nikmat. Aku semakin bersemangat melihatnya merasakan kenikmatan, kedua tanganku bergerak makin cepat maju mundur mengocok kontolnya. Dia semakin tak terkendali.

“SSsshh… Lis… terusss sayang, yaahh… ohh… nikmatthh ssshh”, lenguhnya keenakan.

“Lis… aahhgghh… sshh… stop dulu” teriaknya keras.

Rupanya bang Roy merasa hampir ngecret karena aku oral. Dia meraih tubuhku dan dipeluknya dengan gemas, aku menggelinjang saat dia merapatkan badannya ke tubuhku sehingga payudaraku yang bundar montok menekan dadanya yang bidang.

Aku merangkulkan kedua lenganku ke lehernya, dan tiba-tiba ia pun mengecup bibirku dengan mesra, kemudian dilumatnya bibirku sampai aku megap-megap kehabisan napas. Terasa kontolnya yang masih full ngaceng itu menekan kuat bagian pusarku, karena memang tubuhnya lebih tinggi dariku. Sementara bibir kami bertautan mesra, jemari tangannya mulai menggerayangi bagian bawah tubuhku, dua detik kemudian jemari kedua tangannya telah berada di atas bulatan kedua belah bokongku. Diremasnya dengan gemas, jemarinya bergerak memutar di bokongku.

Brak… Sebuah bunyi keras mengagetkan aku dan bang Roy yang sedang asyik bercumbu. Sesaat kemudian masuklah beberapa orang yang salah satunya perempuan berteriak-teriak.

“Bajingan sekarang kamu mau ngelak apalagi hah?” Perempuan itu membentak dengan sangat emosi.

Aku yang sangat kaget dan ketakutan segera menyambar pakaianku dan memeluknya untuk melindungi bagian payudara dan memekku dari tatapan orang-orang yang baru saja mendobrak masuk. Ada sekitar tiga lelaki dan satu perempuan.

“Kamu wanita gatal ngapain kamu tutupin memek murahan kamu hah?” lagi-lagi wanita itu membentak dengan keras.

Kulihat bang Roy hanya bisa diam. Aku makin ketakutan melihat bang Roy yang sudah tidak berdaya. Kelihatannnya perempuan itu isteri bang Roy.

“Nekad banget kamu Roy berani berhanat sama anakku. Di rumah ini lagi. Keparat kamu memang harus diberi pelajaran.” Bentak seorang pria yang terlihat paling berwibawa diantara ketiga lelaki itu.

Astaga berarti dia itu ayah mertua bang Roy. Dengan penuh emosi lelaki itu kemudian melayangkan pukulan ke arah bang Roy yang masih bertelanjang bulat. Kekasih gelapku itu hanya bisa menghindar tapi kemudian dua orang lelaki lain menerjangnya dan bang Roy mulai melakukan perlawanan terhadap serangan dua orang lelaki itu. Tapi dia tentu saja menghindari melawan ayah mertuanya.

Aku yang masih terkaget-kaget dengan kejadian ini makin panik dengan perkelahian yang terjadi. Lebih kaget lagi ketika wanita yang pasti adalah isteri bang Roy dengan beringas menyerang aku yang sedang memeluk pakaian sambil berdiri gemetaran. Beberapa tamparan dan cakaran menimpaku yang dengan serampangan aku tangkis. Kemudian wanita itu menjambak aku. Parah sekali apa yang kualami.

“Wanita lonte…bajingan murahan..rasakan ini…” Dengan kesetanan perempuan itu menyerangku.

Kemudian kulihat sayup-sayup lelaki yang merupakan mertua bang Roy ikut menyerangku dan membuat aku pingsan tak sadarkan diri.

 

***

Kepalaku pusing banget, sakit, dan rasanya berputar. Badanku lemes, terasa tidak enak dan sangat tidak nyaman. Samar kudengar suara pelan di sekitarku, hanya berbisik tapi cukup jelas didengar telingaku yang setengah sadar ini. Tapi aku tak berani membuka mata.

Armin sama Alisha mana, ya?

“Ma, maaf ya tadi aku agak terlambat menolong Lisna.”

Itu suara Armin ngobrol sama Mama, kah? Sepertinya mama kandungku berada di sini juga. Tempat apa ini?

“Gak papa, Armin, kalau kamu tadi gak datang entah gimana nasib Lisna.”

Oke bener, itu suara Mama.

Perlahan kilasan kejadian di rumah kosong menghampiri otakku. Hhh … sesak banget, rasanya napasku hilang. Apa yang dikatakan wanita itu masih terngiang di kepalaku. Gimana keadaan Bang Roy?

Air mata hampir tak bisa kutahan.

Kenapa aku mengalami kejadian memalukan dan menyakitkan ini.

“Kasian Lisna, ya, Mam, kenapa juga dia harus mengalami ini.”

Oohh Armin andai kau tau….

Pelan kudengar suara berdetak ubin oleh langkah sepatu. Siapa pun dia, kedatangannya menghentikan obrolan Mama dan Armin.

“Gimana, Niet?”

“Hasil pemeriksaan dan tes darahnya udah ke- luar, Mam.”

Itu Mbak Arnieta, kah? Mbak Arnieta kakak kandungku. Sepertinya suara Mbak Arnieta sedih. Kenapa, Mbak? Pemeriksaan siapa? Siapa yang dites darah?

“Armin yang kuat, ya, yang sabar. Kita hadapi ini bareng-bareng dan saling menguatkan aja, ya.” Suara Mbak Arnieta hampir pecah. Kenapa sih, Mbak? Aku mau denger juga, kan?

”Kenapa, Nieta? Kenapa dengan Lisna?” Suara Mama tak sabar.

“Menurut hasil lab Lisna….” mbak Arnieta menghentikan kata-katanya.

”Kenapa, Mbak, kenapa dengan Lisna?” ”Lisna hamil, Mam. Tapi dia keguguran.”

Hamil? Keguguran?

APAAAA!!!!

Kepalaku berdenyut, makin lama makin parah. Kemudian semuanya terasa ringan. Dan aku tak ingat apa pun lagi.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Article Name
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Description
cerita dewasa yg mengisahkan perselingkuhan seorang muslimah jilbaber yg suainya tidak bisa memberikan kenikmatan seksual. seru dan mendebarkan!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo