loading...

“aarrgggghhh bangg..”

Setelah masuk setengahnya lelaki itu langsung menghentakkan pinggulnya .

*blesss*

“aaaaww…..”

Batang kontol itu mengisi seluruh relung memekku. Benda yang panjang memberi rasa nikmat yang sulit diungkapkan.

Aku meracau dengan tanpa malu-malu lagi.

Bang Roy terus memompa kontolnya dalam memekku. Terasa penuh dan panas.

Beberapa saat kemudian dia mencabut kontolnya dan memosisikan tubuhku miring dan bang Roy menghujamkan kontolnya dalam posisi bagai gunting..

“ahhh aww ohh…”

Dia terus menggerakkan pinggulnya. Posisi ini memberiku perasaan aneh dak nikmat. Erangan

kenikmatanku semakin menjadi-jadi.

“ahh ahh hahh.”

dia terus menggenjotku dan berusaha menciumi bibirku dan ku sambut dengan membalas ciuman.

“huhh hehhhh ahkkk”

Beberapa saat kemudian bang Roy mengajak ganti gaya dengan doggy style.

“plokk plokk plookk.” suara hentakan pahanya dengan pantatku.

Dan semakin terasa nikmat.

dia menciumi leherku, Meremas dadaku dari belakang.

“ahhh bang ayo bang truss ahhh…”

Aku semakin menikmati genjotan bang Roy, hingga tanpa sadar aku menguarkan kata kata yg memalukan. Aku terus menggoyangkan pinggulku seirama dengan gerakannya

“assshh bang hh aaahhh..” aku sekali lagi keluar dengan hebatnya.

“aaaaahhh ahh aku juga sayaang”

Memekku terasa penuh dan hangat aku merasa preman itu menyemprot maninya berkali-kali hingga lemas. Walaupun aku awalnya di perkosa entah kenapa aku menikmati kejadian tersebut dan memekku terus berkedut setelah orgaseme yang sangat nikmat.

Aku dan bang Roy tidur sambil berpelukan laksana sepasang kekasih yg kasmaran

 

***

Matahari telah lumayan tinggi ketika aku terbangun dan mendapati tubuhku telanjang dalam pelukan lelaki lain yang bukan suamiku. Perlahan kesadaranku pulih. Aku ingat bahwa semalam aku terlibat percintaan hebat dengan berberap pria. Aku segera bangun dan mencari pakaianku. Setelah aku menemukan pakaianku aku kemudian mencari kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah sangat kotor.

Aku mandi hanya dengan air saja. Karena di kamar mandi tidak kutemukan sabun. Maka aku mandinya lumayan lama. Selesai mandi dan memakai kembali bajuku segera aku kembali ke ruang tamu. Para pria itu sudah bangun. Masing-masing masih dalam keadaan bugil. Aku berpikir mereka akan memaksa aku melanjutkan persetubuhan setelah yang semalam.

Benar saja Tony mendekatiku. Kontolnya perlahan membesar dan mengeras. Dia menyentuhkan tangannya ke wajahku.

“Tony biarkan dia. Kasihan semalaman cepek digilir.” Tiba-tiba bang Roy ngomong.

“Oh oke bang.” Tony mengurungkan niatnya.

Kemudian satu persatu mereka masuk kekamar mandi. Ada yang mandi ada yang hanay cuci muka saja.

“Makasih ya kamu mau ngasih kami kenikmatan. Maaf kalau kami kasar.” Ujar bang Roy.

Aku hanya terdiam. Sebenarnya aku sangat cemas dan dihantui ketakutan bahwa mereka akan terus memanfaatkanku dan menjadikanku budak sex mereka.

“Oh iya lepaskan teman lelakinya. Tapi awasi kalau dia macam-macam.” Seru bang Roy kepada naka buahnya.

“Oke bos…”

Setelah melepas Firman dan mengembalikan pakaiannya kami kemudian keluar rumahitu.

“Oke kami akan melepaskan kalian tapi aku harap kita tidak memperpanjang ini. Kami khilaf semalam karena nafsu. Jadi maafkan kekhilafan kami. Dan jangan diperpanjang. Gimana oke?” tanya bang Roy kepada aku dan Firman.

Aku mengangguk dan berharap secepatnya semua ini berakhir. Firman juga hanya bisa ikutan mengangguk.

“Oh iya mana Ponsel kalian. Pinjamkan ke mereka biar mereka periksa kalau ada rekaman kejadian semalam biar mereka yang hapus.” Kembali bang Roy memerintah anak buahnya.

Aku yang mengalami rentetan kejadian dari semalam sebenarnya sudah pasrah. Makanya dengan malas-malasan aku memeriksa ponsel mereka. Firman juga ikut memeriksa. Setelah semua ini aku hanya ingin lebih berhati-hati dan kapok berbuat hal-hal yang beresiko.

Ternyata semua berjalan dengan baik. Awalnya bang Roy masih membawa mobil dan dengan meminta maaf dia minta kami untuk ditutup matanya oleh anakbuahnya. Setelah diajak mutar-mutar menghilangkan jejak, mobil Firman akhirnya berhenti disebuah tempat yang sepi. Waktu sudah masuk sore hari. Bang Roy dan anak buahnya turun dari mobil dan tidak berapa lama kemudian datanglah mobil entah angkutan online atau mobil pribadi aku tidak jelas. Yang pasti mereka pun pergi meninggalkan kami.

Aku dan Firman kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan pulang. Kami terdiam dan merasa kikuk untuk saling bercakap setelah kejadian ini. Tidak memakan waktu lama Firman sudah mulai mengenali jalan yang dia lalui. Akhirnya kamipun sudah mulai memasuki kota tempat tinggal kami.

Aku periksa ponsel yangs sejak semalam aku nonaktifkan. Begitu banyak pesan masuk dari pesan sms sampai pesan melalui bebapa aplikasi chatting sosmed.

Aku balas saja pesan-pesan penting yang dari suamiku. Intinya aku bilang bahwa semalaman aku bersama dengan Firman.

“Mas Firman maaf ya, aku gak nyangka akan begini jadinya.” Kataku membuka obrolan.

“Aku yang seharusnya minta maaf. Gara-gara kesalahanku Karena aku begitu gak sabaran melakukannya di mobil. Kamu jadi korban harus melayani pria bejad itu.”

Aku kembali terdiam. Menurutku mereka sebenarnya tidak bejad. Cuma mereka mungkin tergoda melihat aku dan ingin mencicipi kemolekan tubuhku dengan memanfaatkan kejadian itu.

Sampailah aku di rumah. Firman tidak mau turun dia terlihat terburu-buru pamit pulang. Mungkin lelaki itu tidak berani bertemu suamiku setelah kejadian semalam.

“Gimana mah? Kamu jadikan ehem-ehem dengan Firman.”

“Ya gitulah pah.

“Kok kamu kayak gak semangat gitu.”

“Aku capek pah.

“Oke deh aku ngerti. Tapi Firman kok langsung pergi aja gitu. Gak di ajak mampir?”

“gak tahu pak kayaknya dia juga kecapean. Mungkin karena susah payah bikin aku orgasme kali pah.” Jawabku asal.

Aku jelas capek dan lebih dari itu. Aku dilanda rasa cemas yang begitu mengganggu. Aku selalu berpikiran buruk sejak saat itu. Aku was-was dan selalu merasa cemas bahwa tetap saja ada yang merekam kejadian di mobil itu dan bahkan kejadian di rumah kosong itu. Aku takut video-video itu kemudian beredar di dunia maya dan viral. Tapi sampai sekian hari, sekian mingggu dan bahkan sekarang sudah hampir dua bulan ketakutanku tidak terbukti.

Sementara Firman hilang bak ditelan bumi. Dia tidak pernah bertemu aku lagi sejak kejadian itu. Suamiku awalnya bertanya-tanya tapi lama kelamaan dia bosan sendri membahsa soal Firman. Sepertinya suamiku cukup puas ketika kuceritakan bahwa aku bisa mendapatkan orgasme dari Firman.

Akan tetapi diluar masalah firman dan rasa cemasku tentang hal-hal terkait kejadian malam itu ternyata ada perasaan lain yang muncul dihatiku. Perasaan yang dengan susah payah berusah kutolak. Aku sangat malu memiliki rasa itu. Bagaimana tidak malu jika timbul keinginan dihatiku untuk merasakan lagi kejadian malam itu di rumah kosong. Aku seakan kehilangan harga diriku karena memiliki hasrat itu.

Setelah perasaan itu makin hari makin menguat aku kemudian mulai mencoba mencari tahu keberadaan bang Roy dan kawan-kawan. Setiap habis menemani Alisha di sekolah PAUD, aku dengan motor matic dan masih membonceng anakku itu selalu saja menyempatkan diri untuk pergi ketempat dimana aku dan Firman ketangkap basah. Dengan menghilangkan segala gengsi aku akan menemui mereka. Tapi sampai kini aku belum bisa bertemu dengan bang Roy atau kawan-kawannya yang lain.

Memang aku belum berani bertanya-tanya kepada orang dikompleks itu. Cuma sekedar berputar-putar siapa tau melihat sosok mereka atay salah satu dari mereka. Tapi sampai kini tidak kelihatan. Aku masih gengsi bertanya ke orang disekitar situ

Part 8

Bang Roy!!

Beneran kan itu bang Roy? Tanyaku dalam hati untuk meyakinkan, Iya memang benar. Gak nyangka banget bisa ketemu dia di sini. Setelah berapa lama? dua? tiga, ya tiga bulan aku mencari dia. Rasanya bagai berabad-abad. Ah, bang Roy, lelaki yang memberiku kepuasan batin, dan lebih dari itu akupun diam-diam menyukainya.

Melihat lagi sosok dia membuatku terpesona. Sosok yang ditakuti anak buahnya. Lelaki yang begitu menarik. Setidaknya menurut aku. Tubuhnya lebih tinggi dari Armin suamiku. Badannya juga padat berisi, lumayan ganteng. keliatan dewasa. Walaupun tingkat kedewasaan bang Roy masih kalah dengan Armin. Untuk hal itu masih menang Armin ke mana-mana. Apalagi kalo ngeliat Armin pake baju dinas keren banget keliatannya.

Lahh … lah …lah … kok aku jadi bandingin Armin sama bang Roy, sih? Dasar aku sudah gila .

Dan di sinilah aku bertemu dia. Di tempat yang jauh dari kompleks aku kepergok massa tempo hari. Aku bertemu dengan lelaki ini di sebuah restoran yang menyajikan masakan sop buntut. Aku yang jalan sendiri habis mengantarkan Alisha kerumah kakeknya mampir dirumah makan dan ketemu bang Roy. Akhirnya setelah saling sapa kami berdua makan bersama satu meja. Hanya dengan bang Roy. Dia masih menatapku dari tadi, agak risih juga, sih, diliatin kayak gitu.

“Gak nyangka kita ketemu lagi, bahkan nama kamu saja aku belum sempat tahu.” Kata bang Roy.

“Sejujurnya aku malu mengatakan ini bang. Beberapa hari setelah kejadian itu aku nyari-nyari kamu.”

“Nyari aku? Kamu mau nuntut aku ya? Atau mau ngelaporin ke polisi?”

“Bukan mau menuntut apa-apa sih. Tapi aku hanya mau bilang terima kasih buat kamu.”

“Terima kasih….?”

“Iya Terima kasih.. karena menyelamatkan aku dari amukan orang-orang kampung tempo hari.”kataku sambil menunduk menatap makanan di meja.

“Gak perlu sampe segitunya juga sih. Eh kamu masih belum nyebuutin nama.” Kata bang Roy sambil tersenyum.

”Oh iya ya.nama aku Lisna.”

“Aku Roy…”

Ujar bang Roy sambil menyalami aku. Kemudian kami berdua tertawa.

“Oh iya aku juga mau minta maaf sama kamu karena memanfaatkan kesempatan untuk memperdaya kamu.”ujar bang Roy. Matanya masih menatapku lekat.

“Aku memaafkan bang Roy.” Kataku dengan cepat. Bahkan aku ingin sekali bilang bahwa aku malah ingin lagi mengalami kejadian malam itu. Tapi hanya dengan bang Roy seorang bukan keroyokan bareng teman-teman premannya. Tapi sungguh aku tak tahu dengan cara apa menyatakankan hal memalukan itu. Kejadian yang bisa dibilang pemerkosaan itu sungguh sangat memalukan bila aku malah mengingingkannya terjadi lagi.

“Oh ya di mana kamu tinggal?” tanya bang Roy sambil mengaduk jus alpukatnya pelan.

Aku menyebutkan alamat tempat tinggalku kepada lelaki itu. Menyebut tempat tinggalku mau tak mau pula aku jadi inget sama keluargaku. Ingat sama Armin dan anakku Alisha. Sekali lagi aku hanya bisa bilang dalam hati “maafkan aku suamiku.”

“Hellooo … Lisna…. “ Bang Roy melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Upss, aku melamun, ya, tadi?

“Eh … eh … enggak, kok. Sorry. Mmhhh …” Kataku sambil memakan sop yang kupesanan.

“Mikirin apa, sih, Lis, koq serius amat?” tanya bang Roy sambil matanya tetap tertuju padaku. Dan ini sangat mengganggu.

Aku hanya tersenyum, tiba-tiba gugup kembali mendatangiku. Kok aneh, ya, rasanya?

“Sebenarnya aku kangen kamu, bang Roy,” tiba-tiba saja kata itu tercetus dari mulutku. Bang Roy segera meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Rasanya aneh banget jauh beda dengan perasaanku saat Armin menggenggam tanganku.

Aku gugup, pasti. Tentu saja karena kok mau-maunya aku bilang kangen ke orang yang kukenal dengan cara yang bahkan bisa dibilang ekstrim. Pura-pura kuraih gelas jus dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku masih memegang sendok. Menghindari tangan Bang Roy maksudku.

Tapi sepertinya Bang Roy tak mau melepaskan momen itu, diraihnya kedua tanganku dan digenggamnya erat- erat.

“Aku juga kangen denganmu. Sebenarnya aneh juga hanya sekali ketemu aku jadi kangen sama kamu.”

“Eh, emm … bang Roy gak enak, ah, diliatin banyak orang.”Kembali kutarik tanganku dari genggaman bang Roy. Kenapa aku malah keingetan Armin, ya? Ah masa bodohlah.

Bang Roy membiarkan tangan kananku terlepas, tapi tidak tangan kiriku. Dibawanya tangan kiriku ke mulutnya dan dikecupnya ringan.

Jantungku berdetak keras, memburu. Ada titik keringat kurasakan di tengkukku. Rasa ini begitu menggoda, rasa yang lebih dari nafsu. Jangan-jangan aku jatuh cinta kepada lelaki ini. Takut!! Tapi aku mencoba membantah. Ini Cuma sekedar nafsu, lagian ini terlalu cepat untuk dibilang jatuh cinta. Perlahan kutarik tanganku. Perutku mual.

Kulihat Bang Roy terpaksa melepaskan tanganku. Kuraih kembali gelas jusku, kupegang dengan dua tangan. Membawanya ke depan dadaku dan pura- pura mengisap sedotan. Aku panik.

Kemudian aku teringat malam itu. persetubuhanku dengan bang Roy. Iya hanya dengan bang Roy seorang hingga kami tertidur sambil berpelukan.

Kuletakkan gelasku lagi. Rasa malu dan gengsiku perlahan menyingkir. Tak kupedulikan kehadiran orang-orang disekeliling kami. Aku dan bang Roy kembali saling menggenggam erat tangan kami. Kemudian kami sibuk dalam lamunan masing-masing. Sebelum akhirnya bang Roy menggumamkan pertanyaannya lagi.

“Apa kamu … apa kamu sekarang masih sama lelaki itu, Lis??” tanya bang Roy

“Oh enggak..”

Andai bang Roy tahu bahwa Firman hanya lelaki yang dipilih suamiku untuk memberi kepuasan sex. Tapi itu gak penting untuk diomongin sekarang atau bahkan tidak perlu diomongin kepada bang Roy sampai kapanpun. Yang penting aku bisa memenuhi rasa kangenku untuk bertemu pemuas nafsuku yang sebenarnya. Yang kutemukan dengan tidak sengaja.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Article Name
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Description
cerita dewasa yg mengisahkan perselingkuhan seorang muslimah jilbaber yg suainya tidak bisa memberikan kenikmatan seksual. seru dan mendebarkan!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo