loading...

Mula-mula tentu saja aku merasa malu, merasa cemas, dan merasa direndahkan, namun, karena Firman memperlakukanku dengan lembut dan mesra, seakan-akan memanggilku untuk menyambutnya, apalagi sejak persetubuhan dahsyat dengan Hendra aku jadi ketagihan untuk mendapatkan hal sedasyat itu lagi. Hal itu membuatku tak bisa berpikir jernih.

Semakin lama gairahku semakin sulit dikekang. Keberanian Firman menjelajahi semakin membara. Dan kepasrahanku semakin mutlak. Aku tak mampu mencegahnya lagi, semuanya terjadi begitu saja. Selesai dalam hitungan menit. Aku merasa kehangatan menyelinap di dalam tubuhku. Rasanya tubuhku segar bukan main. Seperti ada sesuatu yang terlepas dari dalam diri.

Wajah Firman kini merambat turun hingga ke leher mulusku. Jilbabku sudah terlepas entah kemana, kemudian dengan bibir serta lidahnya dia mencium dan menjilat dengan penuh nafsu. Sambil terus menciumi leherku, tangan Firman meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus pakaian lengkap.

“Eeeemmmhhh.” desahku sangat pelan.

Tidak puas dengan hanya memegang payudaraku dari luar saja, tangan Firman mulai menarik ujung kerah bajuku ke atas hingga akhirnya terlepas seluruhnya. Kini bra milikku yang berwarna pink dan perutku yang mulus jadi terlihat. Dengan cepat kedua tangan Firman meraih tali bra tersebut, kemudian dia membuka kaitannya hingga kini payudaraku sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

Memang payudaraku tidak besar bentuknya, namun tetap saja menantang untuk diraba dan diremas oleh siapapun yang melihatnya. Sementara kedua putingku yang berwarna kecoklatan nampak nikmat untuk dikulum.

Kedua tangan Firman kini memegang masing-masing buah dadaku. Kemudian aku pun mulai memejamkan mata karena ingin lebih menghayati dan menikmati rabaan dan remasan Firman sehingga dia pun juga semakin bernafsu.

Kini Firman meremas-remas kedua payudaraku sambil memilin kedua putingnya dengan jari-jarinya yang panjang hingga membuatnya semakin tegang. Tampak putingku yang kecoklatan sudah sangat mengeras akibat ulah Firman.

“Oooooooh. Ooooohhhh. Aaaaaaaaaah.” aku merintih tidak karuan.

Aku tidak tahu persis berapa lama buah dadaku menjadi bulan-bulanan Firman. Namun yang aku sadari hanya darahku semakin berdesir ketika Firman kini mulai menyedot-nyedot puting payudaraku. Aku yang merasa semakin terangsang hanya dapat menggunakan kedua tanganku untuk mengelus-elus kepala Firman yang sedang menghisap payudaraku. Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dihisap habis oleh lelaki lain selain suamiku dan Hendra. Lelaki yang baru saja kukenal.

“Aaaaaghhh. Mannn. Teeruuuuus.” aku melenguh ketika dengan semakin rakus Firman melumat payudaraku.

Tangan Firman ternyata tidak tinggal diam, sambil terus melumat payudaraku tangannya memainkan memekku yang masih tertutup dengan rok panjang.

Kemudian lelaki itu membuka rok panjangku dan sekaligus menurunkan celana dalamku yang juga berwarna pink. Sehingga sekarang terlihatlah memekku yang dihiasi bulu halus. Firman memperhatikan sejenak kemaluanku sambil mengelus pelan bibir bagian luarnya.

“Memek kamu sungguh indah Lisna.” Firman terkagum-kagum.

Lalu dengan tidak sabar jari-jari tangannya membelai kemaluanku yang memang tampak menggoda. Dua jarinya kemudian masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding

memekku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, Firman semakin gencar memainkan benda tersebut sehingga tubuhku semakin tidak terkendali dan terus menggeliat-geliat.

“Aaaaaaaaaahh.” aku mendesah-desah karena jari Firman terus menyentuh bagian tersebut.

Walaupun AC di dalam mobil menyala cukup dingin, namun butir-butir keringat seperti embun semakin membanjiri wajah dan tubuhku yang menandakan betapa terangsangnya aku. Supaya lebih memudahkan Firmanr, aku kemudian mengangkat paha sebelah kananku hingga berada di bangku yang sedang diduduki Firman hingga kini aku berada dalam posisi mengangkang.

Dengan kedua jarinya, Firman membuka bibir memekku sehingga udara dingin dari AC menerpanya dan membuatku semakin merinding. Tubuhku semakin bergetar ketika dengan penuh nafsu Firman mulai membenamkan wajahnya dan menjilat-jilat memekku.

“Oooohhh. Teruuuuushhh Maaar!! Enaaaaak.” Aku berteriak-teriak menikmati jilatan Firman.

Firman yang sekarang sudah jauh lebih berpengalaman, memainkan lidahnya dengan jitu pada klitorisku, sedangkan jari tengahnya menerobos lubang memekku. Jendela mobil yang dalam keadaan tertutup rapat membuat aroma khas dari memekku segera menyebar di dalam mobil yang justru membuat Firman semakin bernafsu memainkan lidahnya.

“Eenngghh. Teruuuuus Maan.!!” aku menggeliat merasakan lidah Firman bergerak liar merangsang setiap titik peka pada memekku.

Aku sungguh menikmati permainan jilatan dari Firman hingga otot memekku semakin menegang. Birahiku pun semakin memuncak yang berakibat tubuhku menggelinjang hebat.

“Aaaaaaaaaaah. Maaaaan.!! Aku keluaaaaaaar.!!”

aku mengerang panjang karena merasakan nikmat yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Permainan lidah dan tangan Firman akhirnya membuatku mencapai orgasme yang pertama. Tubuhku mengejang luar biasa hebat! Dengan tangan kiri aku meremas-remas payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepala Firman agar lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan memekku dihisap kuat oleh Firman dan dengan rakusnya dia melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaah.!! U-udaaaah Maaan.! Akuuuh udaah nggaak kuaaat lagiiii.!!” aku memohon agar Firman menghentikan jilatan dan hisapannya pada memekku.

Tanpa memperdulikan permintaanku, Firman terus melumat kemaluanku dengan rakusnya. Lidahnya

menyapu seluruh pelosok memekku dari bibirnya, klitorisnya hingga ke dinding bagian dalamnya. Namun perbuatannya itu memang memberikan sensasi yang luar biasa. Aku benar-benar telah lepas kontrol dan mataku menjadi merem-melek dibuatnya. Setelah menyantap cairan cintaku hingga benar-benar habis barulah Firman menghentikan hisapannya.

Aku yang lemas karena orgasme oleh permainan oral menatap nanar kearah Firman yang entah kapan melepas pakaiannya hingga sekarang telah bugil. Kontolnya tampak berdiri tegak dan lumayan besar. Meski masih sedikit lebih besar milik Hendra. Sebentar lagi kontol itu akan masuk kedalam memekku. Kontol pria lain yang diberi izin oleh suamiku Armin untuk memuaskan memek isterinya.

Firman melebarkan kedua pahaku lalu mengarahkan kontol panjangnya di antara memekku. Bibir memekku jadi ikut terbuka siap untuk menyambut kontol yang akan memasukinya. Namun di luar dugaan Firman tidak langsung mencoblosku, melainkan sengaja dia gesek-gesekkan terlebih dahulu kepala kontolnya pada bibir luar memekku agar semakin memancing birahiku.

“Masukiiiin sekaraaaaang Maaan.!!” Rintihku karena sudah tidak sabar ingin segera dicoblos aku pun meraih batang kontol milik Firman yang sudah tegang dan keras sekali.

Belum sempat kontol itu masuk kedalam memekku kaca mobil diketuk orang dengan kasar. Sambil terdengar teriakan. Aku benar-benar kaget laksana mendengar ledakan petir di siang bolong.

“Cepat buka pintunya…kalau tidak kami bakar mobil ini dasar manusia-manusia mesum.” Kata orang yang menggedor kaca mobil.

Aku sangat panik dan dengan terburu-buru mencari pakaianku yang entah kenapa malah tidak dengan cepat aku dapatkan. Kalah dengan kepanikan Firman yang tanpa berpakaian langsung membuka pintu mobil. Di luar mobil napak beberapa pria yang berteriak-teriak marah-marah. Ada yang langsung menyalakan ponselnya untuk merekam. Aku yang masih belum sempat menutupi tubuhku karena baru mendapati pakaianku yang terletak dibawah kursi mobil langsung tersorot kamera. Buru-buru aku tutupi saja tubuhku dengan pakaianku tanpa mengenakannya. Aku menangis ketakutan.

“Ampun pak….. ampun..” Hanya itu yang bisa aku ucapkan sambil mendekap erat pakaianku yang belum sempat kupakai untuk menutupi payudara dan memekku.

“Dasar mesum…kalian gak punya duit ya mesum di kampung orang. Kenapa gak nyewa hotel.” Bentak seorang pria yang tampak galak.

“Ayo giring keluar mereka kita arak keliling kampung.” Ujar yang lainnya.

“Tenang gak usah main hakim sendiri. Eh kamu gak usah main rekam. Yang lain jangan jangan coba-coba. Toni periksa ponsel yang coba ngerekam. Hapusin. “ seru seorang lelaki yang tampaknya cukup disegani oleh yang lain.

“baik bang Roy…”kata laki-laki yang disapa Toni.

Sementara orang semakin banyak berkerumun. Aku semakin panik dan hanya bisa menangis mendengar berbagai umpatan yang keluar dari orang-orang itu.

“Ampun pak… maafin kami …huuuuuuu…” tangisku makin kencang.

“Udah mereka aku akan bawa ke kantor polisi. Bubar bubar. “ kata si lelaki bernama Roy yang tadi melarang orang merekam kami.

Kemudian lelaki itu minta kunci mobil ke Firman yang pucat pasi ketakutan. Lelaki itu kemudian menyalakan mobil dan mengajak temannya toni dan tiga lelaki lain naik ke mobil Firman. Mobilpun melaju meninggalkan kerumunan orang-orang yang masih terus teriak-teriak gak jelas.

Part 6

Dalam mobil yang melaju kencang aku hanya bisa duduk sambil mendekap pakaianku dalam keadaan masih telanjang. Demikian juga Firman dia belum berani memakai bajunya. Aku duduk berdempetan dengan Firman dibangku belakang. Sementara dibangku depannya tiga orang pria mengawasi kami.

“Kalian beruntung bang Roy menyelamatkan kalian. Sekarang kalian apa siap kami bawa ke kantor polisi?” tanya pria bernama Tony.

“Tolong pak …maafin kami… jangan bawa ke kantor polisi pak….tolong.”

“Jadi kalian maunya lepas begitu saja?” tanya lelaki yang lain.

Aku langsung tersadar bahwa para lelaki ini pasti ada maunya meyelamatkan kami dari amukan warga. Nyaliku langsung ciut lima orang lelaki asing sekarang sedang menyandera aku dan Firman yang masih dalam keadaan telanjang.

“Tolong kami pak…kami akan bayar berapa yang kalian minta asal jangan dibawa ke kantor polisi.” Kata Firman dengan ketakutan

“Tenang kami bukan orang jahat. Kamu bukan pemerkosa…hehehehheh.”

Kata-kata terakhir itu malah mebuat aku makin yakin bahwa para pria ini akan memperkosaku.

“Tolong lepasin kami pak…kami akan bayar bapak-bapak…yang penting jangan laporkan kami ke polisi.” Aku kembali memohon dengan memelas.

“Bang Roy gimana nih?”tanya Tony ke orang yang dipanggil dengan sebutan bang Roy.

“Udah gak usah berbelit-belit. Gini deh. Aku memang menyelamatkan kalian dari orang-orang itu karena kasian juga. Masak cuman karena mau enak-enak suka sama suka orang-orang itu pada rese. Tapi karena lihat kamu yang cewek cantik bugil gitu akunya jadi sange makanya aku jadi pengen juga. Maaf ya.” Kata Roy dari depan kemudi mobil.

“Ampun pak jangan…tolong.” aku makin panik.

“Gak usah takut aku gak akan maksa dan aku juga gak akan kasar kalau kamu mau.” Sahut Roy.

“Tolong…aku akan bayar kalian ..please ….!” tangisku kembali pecah.

“Jangan nangis cantik. Justru kalian harus bersyukur. Kalau kami biarkan kalian tadi direkam terus diarak keliling kampung tentu lebih mengerikan dari pada yang akan aku minta ke kamu.”

“Iya bang Roy ini cewek gak tau terima kasih apa.” Kata Tony.

“Bang Roy cuma pengen senang-senang gak bakalan kasar deh. Daripada kalian kami bawa ke polisi. Nih aku punya rekaman kalian yang masih aku simpan. Karena cuma aku yang diizinin bang Roy buat ngerekam. Kalau kamu mau rekaman ini dihapus. Silahkan hapus sendiri setelah kita selesai senang-senang. Kamu ambil Hp aku ini terus periksa dari cari filenya hapus sendiri beres… hehehhehe.” Kata pria yang lainnya.

Aku masih kalut. Aku tidak yakin apa mereka akan melepas kami setelah ini. Apa benar rekaman ini bisa dihapus dan tidak beredar. Apa benar mereka tidak akan kasar. Hatiku makin bertambah kalut. Tapi pada akhrinya aku hanya bisa pasrah. Biarlah toh aku telah lolos dari fase paling kritis dari kejadian tadi. Setelah rekaman itu dihapus dan selesai maka aku akan lewati hari yang mengerikan ini.

“Kamu diam berarti setuju cantik? Karena aku gak suka merkosa orang. Aku maunya tuh cewek yang mau melayani aku. Kalau gak, apa bedanya dengan niduri gedebog pisang. Percayalah aku bakalan lembut.” Roy kembali berkata.

Kemudian mobil berhenti disebuah tempat. Kami turun disebuah halaman rumah berpagar tinggi. Aku dan firman masih dalam keadaan telanjang. Mereka membawa kami masuk ke rumah itu. Nampaknya sebuah rumah yang sedang tidak ditinggali pemiliknya. Aku berjalan dengan terus mendekap pakaianku menutupi payudara dan selangkanganku. Tapi punggung dan pantat mulusku tersaji dengan jelas. Sebenarnya untuk apa juga ditutupi toh sebentar lagi aku akan diperkosa oleh kelima pria itu.

Sampai di dalam rumah salah satu lelaki itu mengambil kursi kayu. Kemudian Firman yang masih bugil diminta untuk duduk disitu kemudian mereka mengikatnya. Aku semakin ketakutan dengan apa yang akan terjadi.

Kelima lelaki itu mulai melepas pakaiannya satu persatu. Aku yang telah pasrah tak berdaya hanya bisa diam sambil memeluk erat pakaian yang masih saja belum bisa kembali kupakai.

Bang Roy mulai mendekapku. Dia mulai menggerayangi buah dadaku.

“Dadamu ini sangat indah sekali, aku telah bermain dengan banyak wanita, tetapi tidak ada yang sesempurna dirimu,.” Katanya sambil tersenyum.

“Tolong, jangan perkosa aku ..…. ” Kataku dengan memelas.

“Tenang saja sayang. kamu tidak akan diperkosa sayang. Kamu akan merasakan enaknya.. Kamu harus menikmatinya supaya kamu merasa enak , Ok ?”

Di antara para lelaki itu Bang Roy yang terlihat paling tampan. Meski demikian aku mulai menangis membayangkan bahwa aku akan diperkosa. Tetapi dengan gentle Bang Roy menghapus air mataku. Kemudian dia sudah mulai mengulum putingku yang berwarna kecoklatan itu. Dia melakukannya dengan lahap namun tidak kasar. Puting susu itu begitu menarik bagi bang Roy. kadang dia juga menggigit kecil puting susuku. Aku mulai merasa nikmat. Bang Roy menghisap puting kananku sambil jarinya memilin puting kiri. aku seakan sedang berada di awang awang. Dengan kondisi yang masih trauma dengan pengepungan warga terhadap mobil Firman tadi aku sudah mulai menikmati cumbuan pria yang asing ini. Dengan sangat lembut, dia memindahkan cumbuan terhadap puting susu ku yang dijilat dan dihisapnya. Masih ada penolakan dalam diriku. Namun anehnya penolakan itu tidaklah kuat.

Ketika bang Roy melepaskan celana dalamnya mau tidak mau aku melirik kearah kontolnya. Astaga Kontol itu demikian besar. Bahkan lebih besar dari milih Hendra yang aku kira merupakan kemaluan pria terbesar.

Lelaki lain juga sudah bugil dengan kontol masing-masing yang mengacung hebat. Aku tidak merasa perlu malu-malu lagi untuk melihat kontol-kontol itu. Mataku dengan nanar menatap kearah kontol mereka satu persatu. Kalau milik bang Roy tegak lurus kedepan. Milik Tony juga tidak kalah besar. Masing-masing ada yang terlihat melengkung ke atas. Milik yang lain ada yang bengkok ke kiri atau ke kanan. Dan yang seorang terlihat memiliki kontol yang paling pendek dari semua mereka. Tapi demikian gemuk dengan lingakaran yang besar. Tapi meski pendek dari para pria itu tetap saja lebih besar dan panjang dari milik Firman.

Mereka mengocok kontol masing-masing sambil melotot menatap tubuh telanjangku. Tadinya meski telanjang tapi tubuh bagian depan masih tertutup baju yang aku peluk. Kini tidak tetutup bajuku lagi yang telah terlepas akibat cumbuan bang Roy. Tak terasa memekku bereaksi melihat dahsyatnya kontol-kontol itu. Cairan kemaluanku merembes deras dari memekku.

“Cantik.., badanmu sungguh sexy,” lagi lagi bang Roy ngomong gombal sambil bibirnya mencium memekku dan tangannya meremas pantatku yang montok dan mulus.

“Ahh.. jangaann..” kataku ketika lidah itu bermain di bibir memekku, tetapi meski mulutku berkata seperti itu tapi tubuhku membiarkan dia terus melakukannya dan aku sangat menikmatinya.

“Mmhh..” Bang Roy nampak sangat terangsang dengan memekku. Akupun lupa diri, ketika akhirnya jari-jari tangan lelaki itu makin ganas menggelitik bibir kemaluanku yang sudah basah dan rasanya menebal itu, dan dengan liar akhirnya Tony dan tiga lelaki lain temannya mulai ikut mengerubuti tubuhku. Bang Roy yang lebih dahulu menusukkan batang kejantanannya ke liang kewanitaanku. Setelah dia dengan lembut membuat aku tertunduk dalam posisi nungging.

“Owhhhhh ahkkkkk…hek..”

Betapa perihnya ketika kontol besar itu berhasil menerobos memekku. Akan tetap meski perih tapi nikmat. Karena didudkung oleh memekku yang sudah sangat basah. Sehingga kontol itu bisa memompa dengan intens. Sementara para lelaki yang lain tidak mau ketinggalan. Mereka mulai menggerayangi tubuhku. Ada yang meremas payudaraku. Yang seorang meremas pinggulku. Lainnya mengelus pahaku dan seluruh badanku yang lain. Mereka melakukannya dengan lembut. Kemudian Tony berdiri didepan wajahku sambil berusaha memasukkan batang kejantanannya ke mulutku. Aku menyambutnya dan segera mengulum kontol besar itu. Pria yang satunya bernama Memed mengisap puting kiri susuku dan Eman mengisap puting susu kananku, sedangkan Ucup menggosok-gosokkan batang kejantanannya di wajahku.

“hhhhhchh..” aku mendapat orgasme pertama ketika bang Roy sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya dengan posisi nungging, sedangkan batang kejantanan Tony yang hangat itu dengan serunya bermain di mulutku.

“Argggghhhhh.” Bang Roy menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam liang kemaluanku, hangat dan terasa kental memenuhi liang kewanitaanku. Tony tambah semangat mengocok batang kejantanannya di mulutku. Setelah bang Roy selesai, aku langsung berguling mengambil posisi terlentang di atas sofa karena kecapean dalam posisi nungging. Ucup yang sejak tadi hanya menggosok-gosokkan batang kejantanannya yang panjang besar di wajahku, langsung ditancapkan ke liang kewanitaanku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan air mani bang Roy.

“plok.. plok.. plok..” bunyi pertemuan selangkangan Ucup dengan memekku. Lelaki itu begitu semangatnya menyetubuhiku.

“Mmmphh, aghh..” tubuhku bergetar menggeliat, bayangkan buah dadaku dihisap putingnya oleh Memed dan Eman seperti dua bayi besar kembar, dan di liang memekku menghujam dengan keras batang kejantanan Ucup. Sementara di mulutku Tony akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat.

“Aarrggggghh..,” terasa hangat asin cairan kental yang masuk di tenggorokanku. Bersamaan dengan itu, Ucup juga menyemprotkan air maninya di liang senggamaku. Puncak kenikmatan yang datang beruntun. Aku sudah dapat tiga atau empat kali entahlan aku tidak bisa memastikan saking terbuainya. Sementara masih ada Memed dan Eman yang belum kebagian menyemprotkan cairan maninya.

Tubuh Tony dan Ucup berkelonjotan dan akhirnya terhempas. Memed mengganti posisi Tony, batang kejantanannya yang besar terasa penuh di mulutku, Eman menepis Ucup dari belakang tubuhku dan untuk yang ketiga kalinya liang kemaluanku dimasuki orang ketiga dan ternyata milik Eman yang paling pendek tapi gemuk dan besar, terasa masuknya tidak mudah meski liang kemaluanku telah penuh mani kedua orang terdahulu, tetapi terasa mantap dan nikmat batang kejantanan Eman menggesek liang kemaluanku yang sudah terasa panas dan makin tebal rasanya.

“Crok.. crok.. crok mmhh..” bunyi genjotan batang kejantanan Eman seperti bunyi kocokan menjadi bunyi yang dominan di ruangan ini.

“Sayang. iseepp yang kuaatt..” ternyata Memed tidak kuat dengan hisapan mulutku, batang kejantanannya memuncratkan maninya di mulutku, terasa mani Memed lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental dan lebih banyak memenuhi mulut dan tenggorokanku.

“Arrghhhhh..” Eman juga menggeliat menyemburkan maninya di liang kewanitaanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya air mani Eman, Kontolnya terlepas bersamaan dengan semburan cairan memekku yang deras laksana kencing. Aku berkelojotan dengan pinggulku terasa bekedut-kedut. Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eman tergelepar di samping tubuhku.

Aku mengira bahwa selesailah pertempuran besar aku lawan lima pria asing di rumah ini. Aku lihat Firman yang terikat pasrah dalam keadaan telanjang. Kontolnya ternyata masih bisa berdiri dalam keadaan seperti ini melihat adegan kami. Bang Roy yang selesai duluan dan duduk santai di sofa kini bangkit.

“Kasian pacar kamu tuh sudah ngaceng.” Katanya.

Aku yang sedang menikmati orgasmeku ditariknya mendekati Firman. Kemudian dia memposisikanku untuk menduduki tubuh teman suamiku itu.

Blesk… kontol Firman yang sejujurnya kalah besar dari kontol yang sudah menghujam memekku sebelumnya dengan mudah amblas dalam memekku. Aku kemudian bergerak turun naik mengenjot kontol Firman. Bang Roy mengelus rambutku dengan lembut kemudian membuat kepalaku menunduk dan bertemu dengan kontolnya yang segera kukulum.

“ hhhhhhh….hhhhhhh …shhhhhhh..” Aku hanya bisa melenguh karena mulutku tersumbat kontol bang Roy.

Lumayan lama juga kontol Firman kupompa hingga akhirnya muncrat karena goyanganku.

Akhirnya kontol teman suamiku itu bisa juga merasakan memekku setelah peristiwa tadi. Maafkan aku suamiku…ini tidak sesuai dengan keinginan kamu.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Article Name
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Description
cerita dewasa yg mengisahkan perselingkuhan seorang muslimah jilbaber yg suainya tidak bisa memberikan kenikmatan seksual. seru dan mendebarkan!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo