loading...

“Accchhh Hendra…. aku mohon jaaaannngggaaaannn…. aku nggak mau menghianati suamiku….!” untuk kesekian kalinya aku memelas sambil berusaha menahan tangannya agar menghentikan remasannya pada payudaraku. Tapi itu hanyalah kepura-puraan saja. Sejujurnya aku sangat menharapkapkan hal yang lebih liar dari ini.

Hendra tidak menjawab permohonanku. Seolah tuli dia semakin intens meremas payudara serta memilin putingku. Seluruh bulu kudukku berdiri. Putingku mengeras…. Aku benar-benar terangsang hebat… Akhirnya aku bersikap seolah pasrah dan membiarkan tangannya yang terus meremas payudaraku . Lumatan bibirnya bergeser keleher dan kupingku. Terus dan akhirnya bibir kami bertemu.

Aku yang sudah terbuai dengan kenikmatan dan rangsangan, tidak menyadari kalau usapan Hendra semakin naik menuju selangkanganku. Tanpa bisa kucegah tangannya sekarang sudah berada dibalik celana dalamku yang sudah basah oleh lendirku. Aku tidak lagi berusaha menolak atau mencegah ketika jarinya secara perlahan mulai mengusap memekku yang sudah banjir cairan. Aku sudah smakin terangsang hebat. Tubuhku makin menggelinjang liar saat jari jarinya memainkan clitorisku dan mengorek liang memekku. Sementara bibirnya tetap menghisap puting susuku.

Aku terus menikmati beragam rangsangan. Hendra merebahkan tubuhku diatas sofa. Bibirnya dengan leluasa menghisap puting dan kemudian berpindah memainkan klitorisku. Tanganku memeluk kepalanya yang masih asyik menghisap kadang kadang mengigit pelan klitorisku. Aku kembali tidak berusaha mencegah ketika jari tangannya membuka kaitan BHku serta melepaskannya dari tubuhku, BH ku sekarang sudah terlepas entah kemana. Bahkan Ketika Hendra berusaha melepaskan celana pendekku, aku terdiam. Bahkan tanpa disadari aku ikut membantu dengan mengangkat pantatku agar memudahkan Hendra melepas celana pendekku. Kini yang tersisa hanya celana dalamku saja. Hendra semakin leluasa menyusuri dadaku.

Tangannya masih tetap memainkan memekku yang sudah basah, dan sekarang gerakannya sudah semakin berani. Dia berusaha menarik celana dalamku yang tersisa. Aku masih menjaga gengsiku agar tidak dianggap murahan dengan mencoba menolak Hendra yang berusaha mencopot pertahanan terakhir tubuhku. Gawat ini sudah terlalu jauh…

“Jangan Hendra…Aku takuttt…” sambil kutahan tangannya yang mulai menurunkan celana dalamku.

“Nggak apa apa sayang… aku akan bertanggung jawab…Aku sayang dan cinta padamu…”

Hendra berusaha meyakinkan ku. Dia kembali melumat mulutku. Akupun yang sebenarnya sudah sangat menginginkan hal yang lebih liar akhirnya pasrah . Karena dorongan kenikmatan akibat rangsangan hebat yang aku alami semakin sulit dibendung.

Akhirnya dia berhasil menarik celana dalamku. Hendra menatap dengan nanar gundukan memekku yang ditumbuhi bulu bulu halus yang selalu kucukur rapih, Tubuhnya mulai menindih tubuhku. Setelah sebelumnya dia membuka kaos yang dipakainya.

Kami berpagutan dengan panasnya. Aku sudah lupa segala galanya. Sofa yang kami tiduri bergerak gerak. Aku agak khawatir sofa tersebut rubuh tak mampu menopang tubuh kami berdua. Entah mendapat keberanian dari mana, aku menahan tubuhnya sambil berkata

Kemudian Hendra dan aku saling bercumbu. Lidah kami saling membelit dan memilin. Tubuhku digerayangi dengan penuh nafsu oleh Hendra. Segera diremas dan dicumbuinya kedua payudaraku. Betapa nikmatnya setuhan pria lain di payudaraku. Aku membalas dengan melucuti celana panjang sekaligus celana dalam yang dikenakan oleh Hendra. Kontol besar itu terlihat menggantung diselangkangan Hendra. Belum keras karena terlihat masih tertutup kulup. Kontol Hendra memang tidak dirsunat. Karena dia pria keturunan dan keyakinan yang dipeluknya tidak mewajibkannya untuk disunat. Aku meremas kontol itu dan mengocoknya. Perlahan kontol itu mengeras dan kepala kontol itu keluar dari kulupnya. Sangat besar melebihi kontol suamiku. Kontol yang dulu pernah merengut keperawananku. Bahkan saat masih belum ereksi saja kontol Hendra tetap lebih besar dari kontol suamiku saat ereksi.

“Shhhhhhh owh Hen…” rintihku saat Hendra mengisap puting susuku.

“Lisna kamu cantik sekali… ..” Kata Hendra saat memindahkan cumbuan dari puting payudara ke bagian perut.

Kami kemudian mengambil posisi saling berlawanan. Aku tidak pernah membayangkan akan ada diposisi seperti sekarang ini di saat aku telah bersuami. Kepalaku ada diselangkangan lelaki lain yang bukan suamiku dan sebaliknya kepala Hendra ada di selangkanganku. Memek milik suamiku sebentar lagi akan merasakan kontol pria lain. Kontol Hendra yang sudah sangat keras dengan aroma khasnya telah ada tepat dihadapanku. Kujilati dari buah pelirnya terus kebatang dan kumainkan lidahku dikepala kontol itu. Sementara Hendra telah dengan rakus menjilati memekku. Kami saling mengisap kemaluan pasangan masing-masing. Kontol besar Hendra hanya bisa kumasukan sepetiga saja saja karena begitu besar dan panjang. Sebagian lain aku kocok dengan tanganku. Aku mengoral kontol Hendra dengan segenap nafsu.

“Ohwwhhhh arrggggg…” jeritku saat telah melepas kulumanku pada kontol Hendra. Aku telah mencapai puncak kenikmatan walau hanya dengan oral saja.. Memekku memancarkan cairannya dengan deras. Sebagian cairan itu tertelan dan sebagian menerpa wajah Hendra.

Ketika Lelaki itu hendak melakukan hal yang lebih jauh dengan segera aku menghentikannya.

“Stop Hen… Jangan disini….” Aku nggak meneruskan kata kataku

Hendra menghentikan aktivitasnya pada tubuhku. Dia memandangku dan kemudian beringsut dari tubuhku dia memandangku.

“Pindah ke kamarmu ya sayang?” tanyanya nakal.

Aku nggak menjawab. Aku berjalan dengan tubuh bugil didepan Hendra menuju kamarku. Sesampai dikamar, tangan Hendra memelukku dari belakang sambil meremas payudaraku. Kami berpagutan lagi sambil berdiri. Lalu dia mendorong perlahan tubuh polosku sehingga terlentang diatas tempat tidurku.

Hendra lalu berbaring disamping tubuhku dan memandang wajahku.

“Kamu cantik dan sexy sayang….” Rayunya sebelum menciumku. Kami kembali berpagutan dengan mesra dan semakin panas, sementara tangannya menggerayangi seluruh tubuhku.

Tubuh telanjang Hendra mulai menindih tubuhku yang polos sambil tetap berpagutan.

Kami kembali saling remas, saling jilat, saling hisap, saling melumat. Kami lakukan hal tersebut dengan panas dan ganas serta birahi yang semakin naik. Hendra tak henti hentinya menghisap putingku. Sekarang posisiku dibalik sehingga aku tengkurap. Aku ditindih tubuh telanjang Hendra dari belakang. Terasa kontol besarnya menekan pantatku. Dia mulai mencium dan menjilat lagi tengkuk serta kupingku sambil tangan yang satu meremas payudaraku sementara tangan yang lain meremas remas pantatku. Aku yang sudah terangsang hebat, makin terangsang. Tubuhku bergerak liar. Pantatku kudesak desak kearah kontol Hendra. Saat aku mendongak, Hendra langsung memagut bibirku. Aku membalas pagutannya dengan lebih liar, panas dan menggelora.

Ciuman Hendra sekarang menyusuri punggungku… terus turun sampai kepantatku. Sambil terus meremas pantat, lidah Hendra mulai menjilat anusku tanpa rasa jijik. Aku yang tidak pernah mengalami ini dan bahkan suamiku menjilat memek saja tidak pernah tentu merasa sangat terkejut. Sesuatu yang lain yang terasa beda. Aku yang merasa telah terlanjur basah melakukan dosa membiarkan lidah Hendra menjilat jilat anusku. Kadang kadang turun kearah memekku. Tak lupa jari jarinya ikut bermain dilobang memek serta clitorisku. Aku makin menggila. Gerakanku menuntut penuntasan. Aku meracau gak karuan….

“Sssshhhhh Accchhhhh … Hendraaaa udahhhhh…. aku nggak kuattttt…. Sssshhhhh”

Hendra menghentikan ciuman dan jilatannya. Dia lalu berdiri diatas lututnya. Pantatku diraih dan didekatkan kearah kontolnya. Secara reflek aku mengangkat pantatku lebih tinggi. Kurasakan ujung kontol Hendra mulai menekan nekan memekku. Akupun melebarkan kakiku untuk memudahkan penetrasi. Kembali setelah sekian lama aku akan merasakan kontol besar Hendra memasuki memekku. Hendra melebarkan kakiku. Dia mulai lagi menekan kontolnya kememekku.

“Ohhh….” tubuhku bergetar sesuatu yang keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku. Perlahan lahan kontolnya mulai memasuki memekku. Aku mendongak, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya. Kontol Hendra terus memasuki lebih dalam ke memekku. Aku merintih keenakan…

“Oooohhhhh… ahkkkkkkk…” rintihku

Dan diakhiri dengan satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh kontol Hendra kedalam liang memekku

Ya Tuhan….memekku terasa sesak… Kontol Hendra memenuhi memekku.

Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap tepat di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhir kesucian rumah tanggaku. Tanganku mencengkram erat seprei tempat tidurku yang acak-acakan.

Ketika kontolnya mentok kerahimku, Hendra mendiamkan kontolnya didalam memekku. Dinding memekku secara reflek menghisap hisap kontol Hendra. Sesuatu yang jarang terjadi saat aku berhubungan intim dengan suamiku. Aku mendongak keenakan. Hendra lalu menyambar kembali mulutku. Dan memagut dengan ganas. Kami kembali berpagutan dengan liar dan panas, lidah kami saling membelit dengan ganas. Kontol Hendra tetap tertancap di memekku. Sementara tangannya meremas meremas payudaraku sambil memilin putingnya.

Perlahan Hendra mulai menarik kontolnya, lalu memasukan kembali kontolnya ke memekku. Lama lama makin kencang kontolnya memompaku dari belakang. Aku makin liar dan hilang kendali. Pantatku bergoyang kiri kanan. Kadang menekan lebih keras saat Hendra mendorong kontolnya ke memekku. Erang erangan kami berdua semakin kencang tanpa takut kedengaran tetangga sebelah.

“aaaaahhhhkkk…. Accchhh…acccchhh… accchhh… ooohhhh….sssshhhh…” Erangku dengan liar

“Sayang…… kamu hebbbbaaattttt…. Akuuu saaaayyyaaangggg kammmuu… oooohhh” Hendra balas mengerang sambil memompa memekku sementara tangannya meremas payudaraku.

Tiba tiba Hendra mengentikan gerakannya. Dia membalik tubuhku dan membaringkannya ditempat tidur tanpa melepas kontolnya yang masih tertancap di memek ku. Kembali dia mencium bibirku dengan ganas. Dan akupun membalas ciumannya dengan ganas pula. Aku tekan pantat Hendra dengan kedua tanganku. Sementara putingku dipilin pilin oleh Hendra.

Tak lama Hendra mulai memompa kembali kontolnya kedalam memekku. Aku ikut menggoyang pantatku. Kadang kadang memutar. Kulihat ekspresi wajah Hendra yang keenakan dengan goyanganku. Kulingkarkan kakiku ke pinggang Hendra. Kutekan kembali dengan kuat pantatnya saat dia menarik kontolnya. Agar supaya tetap tertancap di memekku. Hilang sudah bayang bayang suamiku… Yang kurasakan sekarang adalah nikmatnya persetubuhan yang tidak pernah kurasakan seperti ini….

Aku yang biasanya bersetubuh dengan suami hanya cukup sekali dalam waktu sekitar 3menit, kali ini hampir 30 menit sejak orgasme yang pertama. Bahkan dibanding dulu saat masa remaja hendra juga hanya mampu bertahan 15 menitan. Dan hebatnya Hendra belum ada tanda tanda orgasme. Hendra terus memompa kontolnya. Aku membalas dengan menggelora. Aku kerahkan kemampuanku unutk memuaskan diri dan memuaskan Hendra dalam persetubuhan ini.

Keringat kami berdua mengucur dengan deras dan menyatu di tubuh polos kami. Hendra mendekapku lebih erat sambil menjilat jilat lidahku. Lidah kami saling membelit… saling menghisap…saling mengulum. Sementara kontolnya tetap dengan ganas memompa memekku.

Aku merasa orgasme akan tiba. Aku ingin posisiku diatas psosisi yang dulu sering aku lakukan aat masa pacaran dengan Hendra. Posisi favorit saat bersetubuh. Tapi tak pernah sempat aku lakukan saat bersama Armin suamiku karena belum sempat ke titik itu dia sudah loyo. Kini aku akan melakukan posisi kesukaanku karena lebih bisa maksimal orgasmenya.

Aku berbalik keatas tanpa melepaskan kontolnya dari memekku. Sekarang posisiku berada diatas tubuhnya. Aku menduduki kontol Hendra…Wuihhh teras penuh… terasa ada benda besar yang mengganjal memekku… Aku rasakan kedutan dinding memekku yang menghisap kontol Hendra. Hendra terlihat meringis keenakan akibat hisapan memekku di kontolnya. Tangannya tetap meremas remas payudaraku.

Perlahan lahan aku mulai naik turun diatas kontolnya. Makin lama makin cepat. Memekku benar benar menjepit erat kontol Hendra. Gesekan gesekan dinding memek dan batang kontolnya benar benar menghasilkan kenikmatan yang tidak ada duanya dibandingkan saat bersetubuh dengan suamiku.

Kadang aku memutar mutar memekku. Sehingga kontol Hendra terasa seperti dipelintir. Hendra menarik tubuhku untuk didekapnya. Kembali kami saling berpagutan dengan mesra, tapi panas. Klitorisku terasa menekan batang kontol Hendra sementara payudaraku tertekan dadanya yang berbulu. Menimbulkan rasa geli di putingku.

Aku lepaskan pelukan Hendra, dan kembali ku naik turunkan memekku kedalam kontol Hendra untuk menuntaskan aktivitasku yang tadi terhenti. Ku hentakkan tubuhku diatas tubuhku. Orgasmeku semakin dekat.

“Owhhhh…owhhhhh sayang aku kangen kontolmu….kontol besar nikmat….ahrhhhhhhh…ehkkkkk.”

Tiba tiba Hendra bangun dan memelukku. Tangannya mengangkat pantatku dan menaik dan turunkan memekku diatas kontolnya. Posisiku duduk dipangkuan kontol Hendra. Sambil memegang lehernya… aku mendongakkan kepalaku. Tubuhku melengkung. Kesempatan itu diambil Hendra menghisap payudaraku dengan lebih ganas…

Kurasakan kontol Hendra menghujam telak keliang senggamaku yang mendudukinya. Kocokan demi kocokan yang semakin gencar kurasakan menggesek kulit memekku sebelah dalam, erangan dan cengkraman menghiasi gerakannya. Kali ini aku benar-benar melepaskan seluruh hasratku, aku tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yang menyetubuhiku, yang jelas aku ingin terpuaskan.

Gerakan kami berdua semakin liar…Teriakan dan erangan kami semakin kencang. Sermentara hujan diluar semakin lebat.

“Aaaassshhhh…. Ahhhhh… ahhhhh… ssshhhh…. Teruuuussss Hen … aku mau keluar……teruuuuussssshhh…” Erangku dengan liar

“SSsssshhhh……. Ooohhhhh… hggggg…Sebentarrrr lagiiiii sayanggggg…. Akuuuu jugggaa maaaauuu keeelllluuuaarr…. Sssshhhh….. oooooh..” Erang Hendra menjawab eranganku.

Akhirnya orgasmeku datang… Aku kembali menekan nekan klitorisku kebatang kontol Hendra. Aku goyang sekuat tenaga menjemput orgasmeku yang dasyat…. Aku menggoyang dengan sangat liar dan ganas.. Hendra meremas pantat dan payudaraku dengan keras tapi nikmat…

Tiba tiba kurasakan kenikmatan yang tiada tara menjalari tubuhku… dari mulai ujung kaki… sampai berkumpul disatu titik… di memekku…

“Ssssshhhh ….. ahhhhh…. Kakkkkkk…. Aku keluaaaaaaarrrrr………Ohhhhhhhh…..aaaahhhhh ggggggghhhhhhh…. Aku berteriak kencang. Bukan lagi mengerang.

Kutekan dengan keras klitorisku ke batang memek Hendra. Aku mendongak kebelakang…. Mataku mendelik keenakan…. Kutekan lebih erat kepala Hendra yang sedang menghisap puting payudaraku dengan kuat… Aku bergerak sangat liar. Belum pernah aku seliar ini. Orgasmeku berlangsung lama. Orgasme terdasyat yang aku rasakan selama aku bersetubuh… Dan itu kudapatkan bukan dari suamiku… tapi dari orang lain… Oooohhh

Tiba tiba Hendra membalikan tubuhku dengan kasar sehingga aku sekarang terlentang tanpa melepaskan kontolnya dari memekku. Aku tahu dia akan orgasme. Dia maju mundurkan pantatnya dengan lebih keras kedalam memekku. Aku masih merasakan sisa sisa orgasmeku tadi yang belum selesai. Kulingkarkan kakiku ke pinggang Hendra dengan lebih keras. Dia merasa kesulitan bergerak akibat jepitan kakiku. Hendra berusaha memberontak dari jepitanku.

Aku membiarkan hal ini. Aku ingin merasakan kekuatan Hendra yang gerakannya tertahan. Ada rasa yang sulit dilukiskan saat melihat usaha Hendra yang berusaha memberontak dari jepitan kakiku. Tenaganya lebih dikeluarkan lagi agar pompaan kontolnya ke memekku tetap bergerak liar. Akibatnya ranjang tempat tidurku bergoyang dengan hebat. Bunyi derit tempat tidurku sangat kencang.

Hendra menggeram sangat kencang saat orgasme. Akupun yang masih menyisakan sisa orgasme tadi, sambil menekan pantatnya lebih kencang dengan kakiku agar kontol Hendra tidak terlepas dari memekku. Aku goyangkan pula pantatku. Sehingga klitorisku makin tertekan dan melepaskan sisa sisa orgasmeku

“Lisna…..ooooohhhhhhhh……….sssssshhhhh ………achhhhhhhh……. Heegggggggggrrrrrrrhhhhhhhhhh…” Teriak Hendra di dekat kupingku

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhh……. Hendraaaaaaaaaaaaa….. …” Teriakku sambil memeluk…

Lama dan banyak sekali air mani Hendra menyemprot kedalam memek ku bercampur dengan cairanku yang masih keluar. Akhirnya Hendra ambruk diatas tubuhku…. Keringat kami mengalir deras dan menyatu ditubuh masing masing. Kedutan demi kedutan masih kurasakan, baik dari memekku maupun dari kontol Hendra. Kurasakan cairan air mani Hendra membanjiri memekku banyak sekali dan menetes keluar. Biasanya jika bersetubuh dengan suamiku, aku akan buru buru kekamar mandi. Alasannya takut air maninya membasahi tempat tidur.

Tapi kali ini, aku biarkan kontol Hendra tetap tertancap di memekku. Aku nggak peduli apakah cairan kami membasahi seprei atau tidak. Aku masih ingin menikmati persetubuhan yang dahsyat ini.

Part 4

jilbaber selingkuh

Baca juga: Menikmati Akhir Pekan yg Menggairahkan Bersama Para Jilbaber! – cerita dewasa ini adalah orgy dan pelakunya adalah para wanita berhijab yg telanjang bulat dengan jilbab masih menempel di kepala masing-masing (klik di gambar ini)

Malam yang cerah, dengan bulan yang bersinar terang kontras dengan suasana siang tadi hingga sore yang diguyur hujan. Aku sedang menyiapkan makan malam untuk suamiku. Apa yang terjadi tadi siang hingga sore terus terbayang dalam benakku, meski aku menyibukan diriku dengan tugas-tugas rutin rumah tangga. Suamiku sudah siap di meja makan. Alisha belum akan pulang dari rumah kakek neneknya hingga minggu malam.

Hendra yang hanya datang ke kota ini karena dia sudah bekerja di kota lain telah pergi. Dia pulang ke Kota tempat dia bekerja. Aku bersukur bahwa dengan begitu aku tidak akan terjebak dengan perselingkuhan panjang. Cukup sekali itu saja meski sangat berarti.

Usai makan malam kami langsung pergi ke kamar tidur. Sesampainya di kamar aku berkaca didepan cermin..Aku merasa Armin mengawasi diriku yang sedang melihat ke cermin, secara reflek aku menoleh kepadanya yang baru saja berguling di atas ranjang sambil menyalakan TV dengan remote control. Aku tersenyum menatapnya. Aku beranjak dari tempatku berdiri di depan meja rias, kemudian aku menghampiri dirinya.

“Selamat malam, sayangku! I love you” ucapku mesra seraya mengecup pipi Armin. Suamiku itu tersenyum. Armin kemudian bangkit dari ranjang mendekatiku, dia berdiri dibelakangku sambil mendekapku dari belakang.

“Lisna, kau masih muda dan cantik! Sayang sekali bila kecantikan kamu tidak mendapat pimbalan yang semestinya. Aku kasihan padamu, Sayangku!” ujar suamiku.

Aku tidak menjawab. Selalu saja Armin memulai dengan kata-kata itu kalau melihat suasana yang dirasa mendukung. Seperti saat ini ketika dia merasa saatnya sedang tepat. Sambil berkata seperti itu dia mendekapku erat. Aku menggeliat berusaha melepaskan dekapannya karena aku kesulitan untuk bergerak, Armin melepaskan dekapannya.

“Aku tidak menyerah dengan ideku sayang.” ujarnya kemudian.

Aku tahu Armin lagi-lagi akan membahas ide konyol yang sering kali malah membuat kami ribut. Aku membalikkan badan dan kini berhadap-hadapan dengannya.

“Hmmmm! Kenapa sih papah gak nyerah dengan keinginan gila itu!” ujarku ketus. Aku meninggalkannya untuk kemudian berguling diranjang.

“Aku sangat merasa bersalah melihat tubuh sexy dan wajah cantik kamu tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya bisa kamu dapatkan.”

“Waduh..pah capek deh! Terus harusnya aku gimana?” tanyaku memotong pembicaraannya.

Sementara muncul perasaan aneh dalam diriku. Bukankah siang tadi apa yang disarankan dan bahkan diinginkan suamiku telah aku lakukan. Tapi aku masih saja merasa tidak enak untuk bilang setuju dengan ide-idenya. Harga diriku sebagai wanita tentu tidak bisa segampang itu langsung bilang bahwa aku setuju dengan seluruh idenya dan bahkan aku telah melakukannya. Malah terpikir dibenakku untuk merahasiakan saja apa yang telah terjadi. .

“Coba dengarkan dulu penjelasanku! Aku berpikir begini bukan karena tidak cinta lagi. Tapi demi karena aku cinta padamu maka aku sangat ingin melihat kamu bisa meraih kebahagiaan dalam segala hal termasuk sex. Jadi merelakan kamu untuk meraihnya dari orang yang mampu melakukannya tentu saja yang kamu sukai.” ujar Armin tenang.

“Itu tetap saja ide gila pah! Aku bukan pelacur, aku perempuan baik-baik” ujarku tersinggung

Mau tidak mau aku tersinggung dan marah. Sama saja Armin telah meremehkan aku. Dikiranya aku wanita yang tipis iman sampai mau menyerahkan tubuhku untuk kepuasan sesaat. Muncul juga rasa bersalah. Jiwaku letih, bertahun-tahun aku bisa mempertahankannya, aku berusaha membunuh segala keinginan yang selalu bergelora dalam tubuhku. Tapi siang tadi semua runtuh. Kuakui aku kalah oleh nafsu. Aku beralasan pada diriku sendiri bahw itu terjadi karena aku masih muda baru 27 tahun. Usia segitu sedang gairah-gairahnya untuk memadu kasih.

Malam semakin larut, hujanpun kembali turun dengan derasnya membuat suasana menjadi dingin menggigil sehingga membuatku enggan untuk beranjak dari tempat tidur, paling nyaman bergelung di balik selimut. Namun, mata ini tak mampu terpejam. Kulihat Armin tertidur dengan pulas dibalik selimut dengan dengkurannya yang halus. Betapa enaknya suamiku itu, bisa tidur sepulas ini, iri aku dibuatnya. Badanku penat tapi mata ini tak bisa memicingkan mata sekejap pun. Bayangan percintaan yang begitu dahsyat dengan Hendra terus berkecamuk.

Aku tak bisa tidur, berkali-kali aku membalikkan badan, aku berusaha menelusupkan tanganku di bawah bantal agar bisa terpejam, percuma saja, aku tetap tak bisa tidur. Aku meraih majalah, kunyalakan lampu kamar, aku mencoba membaca dengan harapan segera mengantuk. Armin terjaga dari tidurnya karena lampu kamar aku nyalakan. Aku lupa Armin tidak bisa tidur dalam keadaan terang benderang.

“Belum tidur?” tegur suamiku.

“Belum ngantuk. Maaf pah aku bikin kamu bangun ya? Kalau begitu aku pindah ruang tamu saja!” ujarku seraya bersiap turun dari tempat tidur. Armin menarik tanganku lembut.

“Tidak usah pindah. Di sini saja!”ujarnya seraya memelukku. Ada rasa bersalah yang bergelora dan meletup-letup dari dalam tubuhku saat Armin memelukku seperti ini. Aku pun menarik nafas panjang. Kucoba untuk menepiskan perasaan itu. Aku berusaha menutupi perasaan bersalahku dengan tetap membaca majalah, namun tak membantuku sama sekali. Armin semakin erat memelukku dan aku semakin didera perasaan bersalah.

“Lisna, seandainya kamu mau menerima usulku, coba dengar sebentar…..” ujar Armin sendu.

“Maksudku, kita ini tetap sebagai suami istri tapi aku ikhlas bila kau mau berkencan dengan orang yang kau suka. Aku merasa kasihan kepadamu. Aku tak ingin kau menderita, sayang.” ujarnya lagi seraya membelai-belai pundakku. Aku diam tak bergeming, aku tak ingin meladeni omongannya.

“Iya deh pah aku akan pikirkan.!” ujarku.

“Wah aku senang kamu sudah mau memikirkannya.”

“Sekarang mending kita tidur ……..!” Kataku sebelum suamiku semakin bersemangat karena kalimatku yang memberi harapan baginya.

Hanya satu saja masalah dari ide suamiku itu bagi diriku. Aku merasa direndahkan, merasa bahwa suamiku menganggapku seorang wanita yang harus dipuaskan nafsu birahinya. Aku tidak mau dianggap seperti itu meski hati kecilku tidak bisa berbohong bahwa aku butuh kepuasan birahi.

 

***

Hari-hari selanjutnya aku dilanda kebingungan sendiri karena tidak memiliki cara yang elegan untuk bilang bahwa aku menyetujui ide suamiku. Aku terlalu gengsi untuk itu. Terpikir berbagai susunan kalimat yang semua terasa konyol dalam bayanganku kalau terucap dari mulutku. Seperti apa raut wajahku saat mengucapkan kalimat persetujuanku tentang hal gila itu. Ah mungkin aku terlalu bertele-tele dan mempersulit sesuatu yang sebenarnya sudah aku lakukan dan aku benar menikmatinya.

Aku merasa bersalah kalau merahasiakan sesuatu yang sebenarnya dianjurkan dan diizinkan oleh suamiku. Tapi perasaaan gengsi dan beragam hal lain membuat aku menjadi tidak bisa semudah itu untuk bicara dengan suamiku. Dan ketika kembali malam tiba saat sebelum tidur suamiku sudah tidak takut lagi membahas hal itu. Aku menanggapi dengan sekedarnya tapi tidak dengan penolakan yang keras sehingga Armin sampai pada kesimpulannya sendiri bahwa aku sudah mulai lunak dan tidak lagi dalam posisi menolak keras. Maka dia berani memberi ide untuk mengenalkan aku dengan temannya.

“Begini lo mah, aku akan mengenalkanmu pada seseorang, dia dulu sahabatku, masih bujangan, karena patah hati dia tidak mau menikah.” ujar Mas Armin tenang.

“Kau gila, pah! Aku pasti dianggap perempuan murahan oleh temanmu itu. ” ujarku agak kesal. Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa aku bisa mencari sendiri laki-laki yang aku sukai. Tapi lagi-lagi aku tak sanggup dan merasa tidak berharga bila mengucapkan itu.

“Coba dulu mah… anggap saja kenalan biasa.” Bujuk Armin.

“Papah benar-benar gila …” ujarku kesal.

Esok harinya saat suamiku di kantor dan anakku sedang menonton TV aku tak bisa konsentrasi memasak dan mengerjakan pekerjaan rutin di rumah. apa yang kukerjakan selalu salah. Mau tidak mau aku jadi kepikiran dengan ide gilanya itu. Aku benar-benar tersinggung dan marah. Armin telah merendahkan aku dengan menyerahkan kepada temannya. Seolah aku wanita tidak berharga yang seenaknya diberikan kepada pria lain. Dikiranya aku wanita yang tipis iman sampai mau menyerahkan tubuhku untuk kepuasan sesaat. Aku menjadi sangat kesal dengan suamiku.

Saat jam satu siang ponselku berdering, Tertera nama suamiku dilayar ponselku.. Ternyata dia menghubungiku, aku enggan menerimanya, ku biarkan saja panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Armin masih tak putus asa, dia mengirimku sms .

“Lis, kamu masih marah ya? Pulang kantor aku harap kamu sudah gak marah lagi”. sms-nya pun kuabaikan.

Baru kali ini ada rasa enggan untuk menantikan suamiku pulang kerumah dari kantor, padahal biasanya, setiap hari selalu ada kerinduan yang tersirat untuk ingin terus bersama dan berada dekat dengan Armin suamiku. Aku merasa sangat tak nyaman kalau kembali terus membahas ide dia.

Malam ini kembali tiba. Saat Alisha telah tidur Armin kembali mengajakku membahas ide dia.

“Lisna, gimana apa kamu masih kesal padaku sayang? tanya Armin sendu.

“Gak pah … aku tahu kamu lakukan itu karena kamu sayang aku.”

“Syukurlah kalau kamu mulai mengerti. kita ini tetap sebagai suami istri yang saling mencintai sayang. tapi aku ikhlas bila kau mau berkencan dengan sahabatku. Aku merasa kasihan kepadamu. Aku tak ingin kau sebagai wanita tidak pernah mendapatkan kepuasan seperti layaknya seorang isteri sayang.” ujarnya lagi seraya membelai-belai pundakku. Aku hanya diam tak bergeming.

“Hari minggu depan ini, akan kuajak dia kemari! Namanya Firman. Aku harap kamu bisa menerimanya. Sekedar teman kencan, say! Kamu boleh bercinta dengan dia tapi kamu jangan jatuh cinta padanya” ucap Armin sambil mematikan lampu.

Suamiku itu kemudian mendekapku dengan erat. Aku pun balas mendekapnya erat seraya membelai-belai rambutnya, tak terasa ada butiran hangat meleleh dari pelupuk mataku. Maafkan aku suamiku……..!

 

***

Armin nampak berusaha mewujudkan idenya. Firman sahabat Armin datang ke rumah, orangnya ternyata sangat ramah dan pandai bercanda. Dia juga bisa akrab dengan anakku Alisha. Hanya aku yang agak kaku menyambutnya. Tentu saja aku merasa sangat malu pada Firman. Karena pasti dikepalanya terbersit pikiran bahwa wanita ini sebentar lagi akan menjadi teman kencannya. Seorang wanita isteri temannya bersedia berkencan dengan orang yang bukan suaminya.

Firman laki-laki pilihan suamiku. Seolah-olah aku seperti perempuan lacur yang sedang dijual seorang germo. Aku hanya menunduk sambil makan. Hanya sesekali aku menimpali omongan mereka.

Setelah makan malam bersama itu tidak langsung berlanjut dengan kencan. Tentu harus melalui proses perkenalan. Untuk itu Firman menjadi sering datang ke rumah, kadang kami pergi bertiga tanpa membawa Alisha. Hal itu dilakukan agar aku dan Firman bisa saling berinteraksi. Ah…sungguh rencana yang gila. Apa bedanya aku ini dengan pelacur, melayani laki-laki lain yang bukan suamiku hanya demi mempertahanankan rumah tanggaku.

Armin nampaknya senang melakukan ini. Yang penting rumah tangga tetap utuh katanya, Dan aku juga akan memperoleh kepuasan batin dari laki-laki lain. Sudah hampir tiga minggu kami selalu jalan bertiga, namun, aku belum berani untuk berkencan dengan Firman berdua saja. Baru setelah sebulan aku mulai berani jalan berdua dengan Firman.. Aah….Suatu pengorbanan yang besar dari seorang suami yang rela istrinya berduaan dengan laki-laki lain demi cintanya pada sang istri.

Keramahan Firman membuat aku menjadi tidak kikuk lagi kepadanya. Aku mulai lancar berkomunikasi dengannya. Seringkali saat sore hari kami berjalan-jalan menyusuri kota kami yang sejuk. Sebenarnya Firman cukup tampan, rambutnya ikal dibelah pinggir, hidungnya mancung, dan tubuhnya tinggi atletis. Aku juga heran, mengapa orang sekeren Firman tidak menikah hanya karena menyesali masa lalunya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Article Name
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Description
cerita dewasa yg mengisahkan perselingkuhan seorang muslimah jilbaber yg suainya tidak bisa memberikan kenikmatan seksual. seru dan mendebarkan!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo