Catatan admin:

loading...

Setelah beberapa saat berkutat dengan masakan aku memindahkan makanan yang sudah siap keatas meja makan. Menunggu suami dan putriku selesai bersiap diri. Setelah aku rasa semua sudah sesuai. Armin suamiku, seperti biasa, selalu tampak memukau dan terlihat tampan dengan cara berpakaiannya yang elegan. Sementara Alisha, putri kecil kami, sudah siap dengan seragam sekolahnya. Meski baru berusia empat tahun, tapi, karena kecerdasannya ia sudah direkomendasikan untuk memasuki Taman Kanak-kanak. Gadis cilik itu segera menaiki kursi, bahkan sebelum aku sang ibu sempat membantunya. Bocah itu selalu ingin melakukan segala hal sendiri, berbanding dengan aku yang selalu mengkhawatirkan putriku ini. Hal itu, membuat aku sedikit lebih protectif terhadap Alisha.

jilbaber selingkuh

Baca juga: kisah mbak Ida Suryani, wanita berhijab istri orang yg jatuh dalam pelukan birahi seorang polisi muda nan tampan. khusus 18 tahun ke atas! (klik digambar ini)

“Sudahlah, dia sudah besar, sayang.” Armin berkata pelan saat melihat Aku berdecak kesal, karena Alisha yang tidak ingin menerima bantuanku. Ia tersenyum saat melihat wajah datar Alisha menanggapi kekesalanku.

“Dia masih kecil Pah, dan sudah seharusnya dia belum boleh melakukan hal-hal yang…”

“Aku sudah besar Mah, disekolahku bahkan aku yang paling tinggi diantara yang lain. Aku bukan bayi lagi,” mulut kecil Alisha memprotes cepat ucapanku. Selalu, situasi seperti ini memang sudah menjadi bumbu dalam semarak pagi di kediaman mungil keluarga kami.

“Lihat tuh mah? Kupikir hanya dia bocah empat tahun yang bersikap layaknya orang dewasa.” Aku terus menggerutu sambil menyendok makanan ke piring Armin dan Alisha.

Untuk beberapa saat, kami sibuk dengan makanan masing-masing, diselingi protesan Alisha karena Aku yang menambahkan sayuran dipiringnya.

“Pah, apa aku sudah bisa melepaskan dua roda belakang sepedaku minggu ini?” tanya Alisha tiba-tiba.

“Tidak,” belum sempat Armin menjawab, aku segera menyanggahnya. Alisha segera mengerut tak suka.

Armin melirik kearah dua wanita super dihadapannya. Aku tidak menoleh sedikitpun pura-pura sibuk dengan makananku sendiri. Tidak peduli dengan tatapan memohon Armin dan juga pandangan protes dari Alisha.

“Kenapa? Sekarang aku sudah lebih ahli, Mah. Ayolah, roda itu sangat mengganggu?” Alisha mencoba memberi alasan yang menurutnya harus dipertimbangkan. Ia menoleh kearah Armin ayahnya, meminta bantuan.

“Sayang…”

“Menjadi ahli, setelah minggu lalu kau terjatuh, begitu?” selaku lugas, tanda ia tidak menerima kompromi. Aku mengangkat pandanganku, menunggu protesan anak semata wayangku itu. Alisha menunduk, memberengut kesal karena ia tidak mempunyai jawaban. Ia tidak suka menggunakan sepeda dengan bantuan dua roda dibagian belakangnya. Karena itu membuatnya terlihat seperti anak kecil. Dan ia benci dianggap anak kecil, meski kenyataannya dia memang masih kecil. Ada saat-saat dimana ia tidak ingin dianggap anak kecil, tapi ada juga saat dimana ia ingin selalu dimanja.

Armin menggerakan tangannya di bawah meja, memberi kode kepada Alisha, jika semuanya akan baik-baiknya, serahkan padanya. Tapi ternyata hal itu tak juga membantu.

“Aku tahu apa yang kau lakukan, Pah.” Kataku

Hufh. Terdengar tarikan nafas pasrah dari dua orang lintas generasi dihadapanku.

Oh iya usiaku sekarang 27 tahun, sedang Armin Taufiqurrahman suamiku 43 tahun, jadi selisih usia kami lebih dari 15 tahun. Kami baru menikah 5 tahun lalu. dan Alisha buah hati kami sampai kini belum mendapatkan adik. Kata orang dan tentu saja kata suamiku aku adalah wanita yang sangat cantik dengan tubuh yang padat berisi, rambut yang hitam lurus sampai punggung dan payudara yang bisa dibilang besar

sebenarnya lingkar dadaku hanya 32. tapi ukuran cup-nya D. sekedar pengetahuan untuk para lelaki, jangan tertipu dengan ukuran bra. pemakai bra ukuran 36 belum tentu buah dadanya lebih besar daripada ukuran 32. kok bisa? iya.. karena yg menentukan besar tidaknya payudara bukan lingkar dada melainkan cup! pemakai bra ukuran 36 B mempunyai payudara yg lebih kecil dibandingkan pemakai bra ukuran 32 D atau 34 C misalnya

Aku sehari-hari memakai jilbab kalau sedang keluar rumah. Di rumahpun kalau ada tamu yang bukan muhrim aku akan mengenakan jilbab. Maklum aku berasal dari keluarga yang agamis. Aku juga lulus dari pesantren sejak dini. Aku sempat kuliah juga sih tapi tidak sampai selesai karena aku langsung dilamar oleh Armin dan setelah itu jadi malas melanjutkan kuliah padahal sudah tinggal nyusun skripsi.

Seperti inilah keharmonisan keluarga kami, tapi sebenarnya menyimpan sebuah masalah yang coba untuk kami anggap sebagai bukan sebuah masalah. Armin menyayangi Aku, tapi ia tidak bisa memberiku sesuatu yang lain yang didambakan wanita-wanita dewasa. Suamiku Armin memang bisa melakukan kewajibannya. Bahkan bisa memberiku seorang putri yang cerdas. Tapi masalah utamanya adalah suamiku melakukan kewajibannya tanpa bisa membuatku sampai pada titik yang bisa memberiku kepuasan maksimal. Tapi aku selalu bisa melupakan itu karena toh pernikahan bukan melulu soal hubungan sex.

Suamiku adalah sosok yang sederhana dan juga pengertian. Armin suamiku itu juga orangnya sangat penyabar. Aku selalu ingat saat malam pertama kami. Ketika itu dia tidak mendapati bercak darah sedikitpun dari kemaluanku saat setelah malakukan hubungan intim pertama kalinya. Aku yang begitu cemas akan reaksinya malah mendapati kenyataan bahwa Armin suamiku seperti tidak mempermasalahkannya. Bahkan ketika dia bilang bahwa meski aku sudah tidak perawan karena hal apapun dia tetap akan menerimaku apa adanya. Tapi aku tetap saja tidak mau jujur kepadanya. Kukatakan saja bahwa aku pernah jatuh dari sepeda saat SMP dan itu mebuat selaput daraku pecah.

Aku cukup terkejut juga dengan tanggapan suamiku soal keperawananku..Sama terkejutnya dengan kenyataan malam pertama kami yang hanya bisa berlangsung sekali saja malam itu. Padahal aku ingin lebih, tapi Armin sudah kepayahan. Aku maklum mungkin itu akibat kelelahan menjalani prosesi pernikahan. Walau selanjutnya kemampuan sex suamiku hanya seperti itu aku mencoba untuk tidak mempermasalahkan. Yang penting suamiku sayang padaku, memberiku buah hati yang cantik dan kehidupan rumahtanggaku berkecukupan aku sangat merasa bahagia.

Sejujurnya Armin pria yang lumayan tampan, seorang PNS dengan karir yang bagus. Wajah rupawan, ditopang tubuh yang terbentuk sempurna dengan lekukan-lekukan otot yang membentuk kesatuan indah. Membuat aku sebagai isterinya bangga. Kesempurnaan itu menutupi dengan sangat baik, kekurangan yang ada di baliknya. Terlebih setelah kehadiran Alisha ditengah-tengah kami. Armin merasakan kebahagian tak terkira. Aku sempat berpikir dengan kemampuan sex suamiku yang seperti itu apa aku akan mendapatkan keturunan. Ternyata suamiku menjawabnya dengan kehadiran Alisha.

Aku memejamkan matanya yang sudah lelah. Tapi, tiba-tiba kenangan lain merangsek masuk menari-nari dibenaknya. Selalu, pada saat-saat tertentu bayang-bayang masalalu itu kembali muncul, semakin ia berusaha melupakannya, semakin bayangan itu mendesak. Kenangan erotis keindahan masa remaja yang aku lewati bersama sosok tampan seorang pria yang kemudian hingga saat ini begitu kubenci sekaligus kurindukan. Pria yang sudah merenggut kegadisanku. Penipu ulung dengan pesona mematikan, senyum pria itu bahkan mampu mencairkan puncak gunung es, itulah yang ku ingat. Aku masih polos kala pria itu menerobos masuk dalam kehidupanku dan membuat masa remajaku saat itu begitu berwarna.

Aku semakin memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menghalau kenangan apapun yang berisikan pria itu merajai benaknya. Tak ada tempat yang tersisa bagi penipu seperti dia. Tidak ada. Tidak…

Dengkuran halus terdengar saat kelelahan berhasil menarikku kealam mimpi.

 

***

Kehidupan sehari-hari kami biasa-biasa saja layaknya keluarga yang normal, setiap hari suamiku pergi ke kantor dan aku di rumah saja mengurus anak kami dan tentu saja urusan rumah tangga lainnya. Akan tetapi masalah yang sebelum-sebelumnya aku anggap tidak begitu penting ternyata akhir-akhir ini malah terasa makin mengganggu. Terutama sejak munculnya kembali kenangan lama yang entah kenapa bisa datang lagi.

Setelah empat tahun pernikahan aku makin merasa bahwa hubungan sex dengan suamiku semakin membosankan. Tapi sebagai isteri yang baik aku tentu saja tidak ingin mengecewakan suamiku dan tetap melayaninya meski aku sendiri merasa kurang puas dengan aktifitas sex kami.

Bahkan akhir-akhir ini Armin semakin tidak mampu mengimbangiku setiap berhubungan intim. Bahkan seringkali dia tidak mengajakku untuk memadu kasih sampai berhari-hari. Mungkin dia capek dengan pekerjaannya. Frekwensi kami melakukan hubungan suami isteri makin berkurang. Yang dulunya dia masih mampu sekali dalam seminggu bahkan kadang kala dua minggu sekali. Sekarang bahkan sebulan cuma dua atau tiga kali. Mungkin karena perbedaan usia antara kami yang selisih 10 tahun. Aku terkadang merasa tersiksa dengan kondisi ini. Sebab di usiaku yang masih 27 tahun aku sedang dalam masa-masa yang penuh gairah. Libidoku sangat tinggi.

Tapi aku tidak pernah mengeluh kepada suamiku untuk urusan ini. Aku takut dia akan merasa sangat berdosa karena tidak mampu memberi kepuasan pada isterinya di ranjang. Aku kasihan juga karena aku sangat mencintai suamiku, dia sangat baik dan tidak pernah menyakitiku. Apalagi dia sudah memberiku seorang anak yang cantik.

Part 2

jilbaber selingkuh

“Owh mas…tahan mas…owhh…aku baru enak …akhhhh….jangan dulu mas…..!” Aku mulai merasa nikmat tapi aku juga merasa bahwa Armin suamiku sudah kepayahan menahan ejakulasinya.

Akhirnya crot crot crot… lagi-lagi aku harus mengalami hal ini. Tapi selalu aku bisa menerima itu dengan ikhlas.

“Enak banget mah…!” Ujar suamiku. “Tapi kasihan kamu gak dapat ya?”

“Gapapa sayang…”

“Gak… aku yakin kamu merasa kecewa.”

“Bener sayang aku gak masalah.”

“Aku gak enak kalau gini terus sayang. Aku pengen lihat kamu bisa mencapai kepuasan.”

“Udah deh pah gak usah lagi bahas itu.”

“Gak bisa mah itu gak adil deh buat kamu.”

“Jadi aku harus gimana Pah?”

Sebenarnya aku tahu pasti apa yang dikehendaki oleh Armin. Sudah sering kami membahas itu sejak jauh-jauh hari. Kadang aku marah dengan apa yang diinginkan suamiku itu. Sehingga dia sampai beberapa lama melupakan idenya itu. Tapi selalu saja dia kembali mencoba mengutarakan pikirannya itu. Aku sampai capek membahas itu hingga mengancam dia kalau sampai berani ngomongin soal itu lagi aku akan marah dan aku akan tinggalkan dia dengan mengajak anak kami pergi ke rumah orang tuaku. Tapi setelah reda sekian lama dia selalu saja kembali membahas masalah itu dan aku gak pernah berani mewujudkan ancaman untuk meninggalkan dia.

Inilah masalah rumah tangga kami yang selalu kami tutupi dan menganggapnya bukan masalah besar. Aku menganggap hal itu hanya ungkapan kekecewaan Armin suamiku karena dia tidak mampu memberiku kepuasan. Maka aku akhir-akhir ini tidak akan berlaku keras mendebat pendapatnya dan angan-angannya. Aku hanya mencoba untuk memberi dia keyakinan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemampuan dia dalam sex.

“Aku hanya ingin melihat kamu puas sayang. Aku selalu berharap bisa membuat kamu puas. Tapi setelah sekian lama kemampuanku malah makin menurun sayang.”

“Itu hal yang wajar pah. Lagipula hubungan suami isteri itu bukan melulu soal itu sayang.”

“Tapi jeritan kamu saat sedang gituan gak bisa bohong sayang.”

“Hmmmm…Itu cuma jeritan yang gak terlalu penting sayang. Bumbu percintaan dan aku teriakan karena aku merasa terangsang dan itu cukup kok. Aku cuman ingin papah bisa tahan sedikit aja tapi kalau gak bisa ya gak apa apa. Gak penting banget sih pah.”

“Ok deh sayang. Kamu memang isteri yang penuh pengertian.”

“Makasih pah kamu selalu berpikir tentang kepuasanku. Padahal aku tidak menganggap itu sesuatu yang utama dalm hubungan kita.”

Seperti itulah perdebatan kami setiap habis berhubungan intim. Tidak selalu sih tapi sering terjadi bila aku keceplosan meracau saat aku merasa mulai terangsang dan mulai merasa menikmati kontol suamiku menggesek memekku dan tiba-tiba kontol itu menyemburkan cairannya dan langsung loyo.

 

***

Kota kami akhir-akhri ini selalu turun hujan mungkin sudah masuk musim penghujan. Seperti siang ini saat hujan turun dengan deras, aku nonton TV disofa. Alisha sepulang dari Tknya dijemput oleh kakek dan neneknya yaitu orang tua kandungku. Biasa sebulan sekali mereka menjemputnya untuk tinggal dirumah mereka sehari dua hari di akhir pekan. Seperti saat ini kan Jumat besok para pegawai teruatam PNS libur jadi Kakek nenek Alisha yang PNS itu ingin sabtu pagi ditemani cucu mereka yang sedang lucu-lucunya.

Saat asyik nonton tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Aku pikir tamu siapa yang datang saat hujan begini. Aku kaget ketika pintu dibuka .Aku merasa bumi tempatnya berpinjak berguncang hebat. Paru-parunya kosong seperti udara didalamnya disedot paksa, membuatku seperti berada didalam ruang hampa. Aku tidak mampu bergerak, bahkan sekedar menarik nafas. Aku terlalu terkejut melihat tamu itu. Bagai terhimpit gunung es, saat dingin mulai menjalari tubuhnya.

Tanganku mencengkram erat gagang pintu yang baru setengah terbuka. Buku-buku jariku terasa memutih, dan menjalar menyusuri seluruh tubuhnya, hingga wajahku memucat seolah darah tak lagi mengaliri bagian itu. Aku terasa kaku saat membuka pintu rumahku. Jantungku berdentam dengan debaran yang mengkhawatirkan. Aku bahkan takut jika kencangnya debaran itu akan terdengar ketelinga pria dihadapanku.

“Bisa aku masuk?” Pria itu meminta izin.

“Hendra… Kok bisa kamu tiba-tiba muncul?”

Lelaki yang datang adalah Hendra seseorang yang pernah mengisi hatiku saat SMA dulu. Aku mencoba untuk tenang.

“Aku bisa jelaskan, tapi kan kamu belum menyilahkan aku masuk.” Katanya dengan senyum.

“Oh iya ..masuk Hen.” Aku persilahkan Hendra masuk. “Kamu duduk dulu. Aku buatkan Teh ya. Kamu basah kuyup.”

“Ah gak usah repot-repot.”

“Gak repot kok tunggu bentar ya.”

Aku buatkan dia teh manis hangat dan memberi handuk kecil untuk melap rambutnya yang basah kehujanan.

Kami kemudian duduk di sofa ruang TV. Akhirnya kami mengobrol panjang lebar. Dia menceritakan semua kehidupan dia. Termasuk kenapa dia meninggalkanku. Ternyata Hendra harus ikut kemauan orangtuanya yang tidak meninginkan dia berpacaran denganku. Orang tua Hendra tidak mau anaknya berhubungan dengan wanita dari kalangan yang berbeda dengan mereka. Oh iya Hendra adalah lelaki keturuan non pribumi. Kemudian Hendra dikrim keluar negeri untuk kuliah. Sampai akhirnya dia menikah dengan wanita yang dijodohkan orang tuanya. Kini Hendar mengaku bahwa dia telah bercerai dari isterinya. Karena isterinya menghianati dengan berselingkuh dengan kekasih hatinya saat sebelum dijodohkan oleh kedua ortunya.

“Oh terus kamu bisa tahu rumahku disini dari siapa.” Tanyaku.

“Namanya juga usaha menemukan jejak kekasih hati yang begitu berkesan dihati…heheheh..” jawab Hendra dengan gombal.

“Huh lebay…” sahutku.

Setelah ngobrol ngalor ngidul sampai juga akhirnya ia mengajakku berbicara yang menyerempet-nyerempat tentang hungan orang dewasa. Aku sebenarnya segan meladeninya. Tapi Hendra memang tipe orang yang selalu bisa mencairkan suasanan. Apalagi obrolan itu diselingi dengan suasana bercanda. Kadang obrolannya menjurus ke hubungan antara pria dan wanita yang paling dalam, Hingga tiba tiba tanpa disadari tangannya telah menggenggam tanganku dan berusaha menciumnya. Aku tentu saja tidak bisa membiarkannya.

“ Hendra jangan… aku sudah bersuami.” Tolakku.

“ Tapi Lis aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku aja. Nggak lebih dari itu. Sebagai penyesalan kenapa aku nggak melanjutkan hubunganku denganmu dulu.”

Aku hanya terdiam mendengarnya.

“Kamu masih cantik seperti dulu.” Hendra menyanjungku. “ bahkan lebih cantik dari yang dulu.

Mukaku bersemu merah mendengar sanjungan itu. Perlahan lahan dia kembali mencoba menggenggam tanganku dengan lembut sambil berkata…

”Lis… kalau sekarang aku masih mencintai dan menyayangi kamu, … perasaan kamu gimana..?” Tanyanya dengan nekad.

Aku berusaha menghindar sambil berusaha menyadarkannya.

“Maaf Hen, Aku sekarang sudah punya suami…” Jawabku

“Tapi Lis, apa salah kalau aku tetap mencintai kamu walau kamu sudah bersuami…?” sambil memaksa menggenggam tanganku dan sekali lagi mencoba mencium tanganku.

Aku diam beribu bahasa sambil meronta, tapi disisi lain aku merasakan susuatu hal yang membuat perasaanku gak karuan. Ada perasaan aneh yang menjalari tubuhku. Tapi aku nggak tau perasaan tersebut.

Kami berdua akhirnya terdiam. Karena penolakanku Hendra melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku bernafas lega. Seakan terlepas dari beban berat yang menghimpit dadaku. Tapi tiba tiba Hendra memeluk pinggangku dari belakang. Aku kaget setengah mati. Aku berusaha melepaskan pelukan tangannya.

“Hendra jangan…tolong lepasin tangannya….” kataku setengah memohon.

Hendra gak bergeming. Bahkan makin mempererat pelukannya dipinggangku. Aku terus berusaha melepaskan tangannya. Bahkan aku berusaha bangkit untuk menghindarinya. Tapi Hendra bukannya melepaskan, malah menarik pinggangku, sehingga aku terjerembab kepangkuannya. Kesempatan ini dipergunakan Hendra untuk lebih erat memelukku. Bibirnya tepat di samping leherku dan langsung mencium leherku. Aku merasa geli namun tetap berusaha menghindar. Dia kembali memelukku sambil terus merayu. mengucapkan kata kata mesra. Aku merasa tersanjung dengan kata kata mesranya. Aku akhirnya terdiam seiring dengan makin eratnya pelukan dipinggangku. Hendra makin berani, dia langsung mencium tengkukku, bahkan sekarang berpindah mencium belakang kupingku.

“Oh astaga.” teriakku dalam hati.

Seluruh bulu kudukku terasa berdiri… Perasaan geli dan nikmat menelusuri seluruh tubuhku. Degup jantung terasa berdetak cepat… Hendra terus mengusap ngusap bibirnya dibelakang kupingku, kadang berpindah ketengkuk. Aku mulai gelisah ketika rangsangan itu datang secara perlahan. Tangannya meremas erat tanganku. Aku mulai tersadar. Ini nggak boleh terjadi, aku sudah berkeluarga. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

“Hendra tolong…jangan… aku udah punya suami… aku nggak mau menghianatinya…”

“Nggak apa apa sayang… aku hanya ingin mengulang dan mengingat kembali masa masa indah dulu. Nggak akan ada yang hilang dari diri kamu. Sampai sekarang aku masih sayang dan mencintai kamu. …” rayunya

Aku terdiam mendengarnya. Hendra terus mengucapkan kata kata mesranya kembali sambil memeluk dengan lebih erat. Aku menjadi terdiam dan mulai menikmati rangsangan yang menjalari tubuhku.

Hendra melepaskan tangannya yang satu dari pinggangku. Sambil tersenyum wajahnya mendekat ke wajahku. Aku gemetar dan menutup mata. Tiba tiba kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Aku kaget dan berusaha menghindar. Tanganku menahan tubuhnya. Hendra dengan sabar berbisik ditelingaku…

“Kenapa Lis… nggak salah kan kalau aku masih mencintai dan menyayangi kamu.”

Dengan lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia mencium telingaku membuat gairah dalam tubuhku lebih berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri. Saat bibirnya kembali menempel ke bibirku… Aku terdiam… detak jantungku berdegup kencang. Bibirnya mulai melumat pelan dan mesra bibirku. Perasaanku tidak karuan. Antara takut dan senang bercampur dengan rangsangan yang mulai menjalari tubuhku kembali

“Kamu cantik Lis…..” itu yang terdengar sebelum ia melumat lagi bibirku, kali ini dibarengi dengan deru nafasnya yang memburu.

Aku berusaha menghindar tapi nikmat sekali rasanya. Lidahnya berusaha masuk menembus rapatnya bibirku. Ujung lidahnya yang basah dan panas menyentuh nyentuh bibirku. Sampai akhirnya tanpa disadari, mulutku mulai terbuka. Mulutku membiarkan lidah Hendra menyeruak masuk kedalam mulutku. Lidahnya menari nari dalam mulutku dan berusaha mencari lidahku. Ketika lidahnya bertemu dengan lidahku….Tubuhku bergetar dan perasaanku melambung tinggi. Secara perlahan aku mulai membalas lumatan bibir dan lidahnya. Kami mulai berpagutan lembut dan mesra. Bayangan suami perlahan lahan hilang dari pikiranku seiring dengan datangnya rangsangan yang datang lebih cepat dan hebat…

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Article Name
Maafkan Aku Suamiku... Aku Selingkuh & Menikmatinya!
Description
cerita dewasa yg mengisahkan perselingkuhan seorang muslimah jilbaber yg suainya tidak bisa memberikan kenikmatan seksual. seru dan mendebarkan!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo