loading...

Diary…. Sejak kejadian di kamar hotel itu, kami belum lagi melakukan nya karena disamping waktu nya tidak lah memungkinkan, mas rustam juga fokus ke ujian EBTA/EBTANAS karena ia akan lulus tahun ini.

Diary….. Surprise saat papa kembali ke rumah, rasa kangen ku pada papa bisa ku ungkapkan secara langsung. Papa bilang akan seperti awal-awal pernikahan mereka yang mesra, dan bahagia. Aku sebagai anak angkat nya tentu sangat gembira mendengar nya bahkan aku tidak malu-malu memeluk dan bergelendotan di bahu papa, entah apa mas rustam cemburu apa tidak aku nggak merasa bersalah saat itu.

Diary….. Tapi setelah melihat mas rustam murung dan banyak diam aku langsung melepaskan pelukan ku dan duduk seperti biasa, “mungkinkah mas rustam cemburu pada ku”, gumam hati kecil ku.

Diary….. Hal yang membuat ku kaget dan terkejut saat aku melihat mama mendatangi mas rustam, mereka berdua sedang ngobrolin sesuatu, tetapi tidak begitu jelas apa yang mereka berdua omongin, “apakah mereka berdua punya hubungan khusus selain hubungan mama dan anak?”, tanya batin ku. Ah sudahlah buat apa aku mikir yang tidak-tidak aku percaya mas rustam cinta dan sayang pada ku.

Diary….. Suatu malam tepat nya tanggal 22 April 1998, sekitar jam 2 dini hari, aku terbangun dari tidur ku, malam itu aku kebelet pipis dan buru-buru mau ke kamar mandi, saat aku hendak ke kamar mandi melewati kamar mama dan papa terdengar suara desahan orang sedang bersetubuh, aku yang mendengar nya jadi ikut bergetar tapi berhubung sudah kebelet aku langsung ke kamar mandi dan segera menuntaskan hasrat buang air kecil ku. Setelah keluar dari kamar mandi suara erangan mama semakin kuat, aku penasaran apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar mereka.

Diary….. Melotot mata ku saat aku dengan jelas melihat mama sedang di genjot papa dari posisi belakang, mereka melakukan doggy style, kontol papa yang ukuran nya sama persis dengan punya mas rustam keluar masuk merojok memek mama dengan kecepatan penuh…. Mama terus mengerang dan mendesah setiap papa menyodok kontol nya dengan cepat, aku yang melihat kejadian itu jadi ikutan horny, terbayang juga saat aku di sodok-sodok mas rustam saat beberapa waktu lalu. Aku yang aneh nya justru membayangkan kontol papa yang mengobok memek ku yang mulai basah,”Kok jadi bayangin kontol papa sich….Nggak…Nggak boleh mending aku minta jatah saja sama mas rustam”, gumam ku membatin.

Diary…. Segera aku melangkah menuju kamar mas rustam, tetapi sebelum nya aku ambil dulu kondom yang biasa ku simpan di dalam lemari pakaian ku, saat aku memasuki kamar mas ku yang remang-remang, ternyata mas ku sudah tertidur pulas. “Mesti minta jatah nih sama mas rustam kalo nggak bisa nggak bisa tidur aku malam ini”, batin ku berkats. Perlahan-lahan aku kunci kamar mas ku dan membuka selimut nya, ku dapati mas ku hanya memakai boxer tanpa daleman, secepat mungkin ku lucuti pakaian ku hingga aku bugil saat itu.

Diary….. Aku berdiri memandang mas rustam, nafsu ku sudah sangat tinggi dengan perlahan aku mendekati mas rustam yang tertidur pulas, ku tarik celana boxer nya hingga lepas dari tubuh nya, seketika tubuh mas rustam bugil sama seperti ku.

Diary…. Ketika aku mengoral kontol nya yang perlahan-lahan bangun dari tidur nya, yang punya juga kaget mendapati diri nya sedang bugil dan menyadari kalo aku sedang mengerjai kemaluan nya.

“Dik…. Apa yang sedang kamu lakukan?”. ucap nya kaget mendapati diri nya bugil dan sekarang kontol nya sedang ku mainkan dalam mulut ku.

“Mas….. Adik lagi nafsu mas, boleh ya mas…. Adik kangen sama kontol mas”.

Diary….. Mas rustam akhirnya terbawa nafsu, ia bisa menerima apa yang kulakukan, malah tangan nya mulai memegang kepala ku yang sudah mulai naik turun diatas kontol nya, aaaahhhh….Dik enak sepongan kamu”, desah mas rustam.

Diary…… Setelah merasa kontol nya sangat tegang aku kemudian membuka dan memakai kan kondom sutrxx pada kontol mas rustam, kemudian aku bangkit dan berada diatas tubuh nya, memek ku sudah basah sejak tadi, ku gesek-gesekkan dulu ke bibir memek ku ke atas dan ke bawah, membuat aku merinding kegelian karena ulah ku sendiri, dan setelah ku rasakan pas pada posisi nya, ku turunkan pantat ku sambil tetap ku tahan kontol nya di genggaman ku supaya tidak selip dari jalur nya, sehingga begitu ku turunkan pinggul ku sehingga BLEESSS….. kontol mas rustam membelah dan menghujam memek ku yang sesat lalu berada diatas kontol nya.

Galeri Tini

Diary…… “Aaarrrggghhhh”. Aku dan mas rustam menjerit bersamaan saat kedua kelamin kami berdua bersatu dalam tubuh ku. Aku mendiamkan sebentar kontol nya di dalam tubuh ku, kurasakan denyutan nya membuat badan ku merinding, membangkitkan libido di dalam tubuh ku, lalu aku mulai berpacu bak cowboy di film-film barat bergaya meliukkan badan sambil memacu genjotan tubuh ku di kontol nya mas rustam.

“Aaaahhhh….Uuuuuhhhhhh….Ooooohhhhh… desah ku, disahuti oleh erangan mas rustam, “Oooohhhh….Enak sayang goyangan pinggul mu bikin kontol mas diremas-remas dan di empot-empot….Terus dik….Aaahhhhh….

Diary…… Setelah beberapa menit melakukan gerakan liar diatas tubuh nya, tubuh ku tiba-tiba kejang, mulut ku terus mengumamkan rasa nikmat dari persetubuhan ini hingga orgasme itupun tidak sanggup lagi untuk ku tahan.. Aaaahhhh….Mas rustam…. Adik keluaaaaarrrr….

SEEERRRR…. SEEEERRR…. SEEEERRRR….Oooohhhh….Mas Nikmatnya.

Diary….. Aku lemas tak bertenaga setelah mendapatkan orgasme pertama ku, sementara mas rustam masih belum mendapatkan orgasme nya, beberapa saat kemudian. “Dik…. Kamu nungging ya mas pengen doggy stye”. Ucap nya saat aku sudah mulai ada tenaga kembali.

Diary…. Aku kemudian mencabut kontol mas rustam, kemudian aku memposisikan diri ku menungging menunggu mas rustam memasukkan kontol nya dalam memek ku yang kembali basah. “AAAAGGGRRRHHHH”, teriak kami berdua saat kontol mas rustam sudah masuk seutuh nya ke dalam tubuh ku, ia lalu mengayun pinggul nya dengan memegang pantat ku, kocokan kontol nya cepat dan kuat hingga aku terdorong maju ke depan, untung saja aku menahan tubuh ku di pagar ranjang nya, buah dada ku berguncang indah mengikuti alur pompaan dan kocokan nya. PLAKKKK…. “Aaawwww…”, jerit ku saat pantat ku ia tampar. “Maaf dik, mas gemes lihatin pantat dan pinggul mu yang montok, sakit ya dik?”. “Iya mas….Tapi bikin adik juga makin horny mas, pukul lagi mas pantat adik tapi pelan-pelan ya”.

Diary… Mas rustam memukul pantat ku sambil menyodok-yodok memek ku dengan kencang dan kuat sehingga membuat aku pun keluar, “Mas rustam…. Adik dapet lagi….Aaahhhhh…Mas…. SEEERRRR….SEEERRR….SEEERRR….

Diary….. Aku minta mas rustam berhenti sebentar, ia lalu mencabut kontol nya, lalu ia membuka kondom nya dan menyodorkan kembali kemaluan nya minta di oral kembali,”Dik sepongin lagi!”, ucap nya memohon pada ku. Aku melakukan apa yang ia minta segera ku kulum kontol nya yang sudah lembab karena peluh nya, sambil ku elus biji zakar nya, setelah beberapa menit mengulum dan mengoral nya ia merebahkan tubuh ku di ranjang.

“Dik mas masukin lagi ya”, ucap nya tegas.

“Tapi mas…. Kondom nya kok di lepas tadi, adik takut nanti hamil mas”. Ucap ku ragu dan khawatir.

“Tenang dik, mas akan cabut dan keluarin sperma nya di luar percaya sama mas, lebih enak kok tanpa pake kondom”, jawab nya yakin.

Diary….. Aku mengangguk kepala mengijinkan mas rustam memasukkan kontol nya tanpa kondom, jujur ini pengalaman pertama ku ngentot sama mas rustam tanpa kondom, “semoga aja tidak sampai hamil”, batin ku was-was.

Mas rustam kemudian mengarahkan kontol nya yang sudah basah oleh liur ku tadi ke bibir memek ku, setelah itu ia mendorong kontol nya sehingga BLESSSS….. seluruh kontol nya masuk ke dalam tubuh ku hingga membentur rahim ku yang terdalam…. “Aaaaaarrrrgggghhhh”, teriak kami kompak saat penetrasi itu sukses dan kelamin kami bersatu dalam tubuh ku.

“Dik…. Kamu siap untuk mas pompa!”, ucap nya menanyakan kesiapan ku.

“Iya mas….Bikin adik orgasme yang ketiga mas….Mulai pompa mas!”, ucap ku meminta nya memulai genjotan nya.

Plok….Plok…Plok…

Plok…Plok….Plok…

Plok…Plok…Plok…

Plok…Plok…Plok…

Diary…. Emang ternyata lebih nikmat tanpa pake kondom, aku semakin merinding, seluruh badan ku bergetar dan nafas ku ngos-ngosan mengimbangi pompaan mas rustam yang kencang dan kuat, tanpa bisa ku bendung klimaks ku datang dengan cepat setelah beberapa kali ia memompa dengan kecepatan tinggi dan SEEEEERRR…..SEEEERRRRR…..SEEEERRRR…. “Aaaaarrrggghhhh…. Mas rustam adik….sampeeeeeeeee……

Mas rustam yang mendengarku sudah dapet, ia makin mempercepat pompaan nya, cairan kewanitaan ku ikut membantu proses pompaan nya yang makin lancar dan licin di dalam memek ku…. Dik mas mau keluaaaaaarrrrr….. jangan kamu jepit pinggul nya nanti mas nembak ke dalam….”.

Aku yang mendengar perintah nya melonggarkan jepitan pinggul ku hingga mas rustam berhasil mencabut kontol nya dan ia meminta ku membantu mengocok kontol nya, setelah beberapa kali kocokan ia mengerang dan menyemprotkan sperma nya diatas tubuh ku…. “Dik, mas keluaaaaaaaarrrrr……Aaaarrrrgggghhhh…. CROOOTTTT…..CROOOTTTT….CROOOTTTT…..CROOOTTTT…..CROOOTTTT….CROOOOTTTT….

Diary….. Ternyata benar apa yang mas rustam bilang lebih nikmat rasanya tanpa pake kondom, lebih kerasa gesekan kulit kontol nya di dalam tubuh ku, ia kemudian mengambil tisu basah lalu membersihkan tubuh ku dari sperma nya yang ia keluarkan di atas tubuh ku tadi.

“Dik, kamu mau tidur sini, atau mau balik ke kamar?”, tanya mas rustam setelah melihat ku lemas tak bertenaga.

“Balik ke kamar saja mas, nanti takut ketauan papa dan mama kalo adik tidur di kamar mas rustam”, ucap ku menjawab pertanyaan nya.

“Yaudah, sini dik peluk mas! Mas sayang kamu dik, jaga hati kamu buat mas ya, semoga kelak kita berjodoh sebagai suami istri yang sah”, ucap nya.

Diary….. Aku berkaca-kaca saat memeluk nya,”aku juga cinta mas, semoga ya mas kita kelak berjodoh, adik nggak bisa bayangin hidup tanpa mas rustam”, jawab ku.

Diary…. Sudah dulu ya, nanti ku tulis lagi kisah ku dengan mas rustam, diary… awas ya kamu jangan sampe kasih tau kalo aku ini nulis kisah ku di buku mu, semoga kelak aku dan mas rustam jadi suami istri amiiinnnn….dah ya ngantuk tini nya muaaachhh…diary ku sohib ku.

 

===

Palembang, minggu, 6 Desember 1998…. di rumah dinas papa di silaberanti plaju…..
Pov Rustam

Aku sudah lulus dari STM dengan nilai yang sangat baik bahkan menjadi peringkat pertama di sekolah, setelah acara kelulusan aku memutuskan untuk bekerja di STANVAC dan kebetulan sekarang di perusahaan tersebut sedang membutuhkan teknisi mesin untuk operator pengilangan minyak berlokasi di pendopo.

Sebelum aku berangkat ke pendopo, tini kembali mengajak ku ngentot di malam sebelum aku berangkat kami melakukan nya tanpa pelindung (no kondom), ia ternyata minum pil kb yang ternyata ia beli di apotek yang berada di kota palembang. Malam itu kami ngeseks sepuas nya, 5x orgasme yang tini dapatin sementara aku 2x dan salah satu nya keluar di dalam.

Aku pernah berpesan pada adik ku tini, untuk menahan libido nya yang tinggi, memang sejak kami pacaran hingga ml tini punya hasrat dan libido yang tinggi, ia gampang terangsang apalagi saat masa subur nya, tetapi ia berani sumpah hanya cinta dan mau melakukan nya dengan ku saja sebagai kekasih nya sekaligus kakak nya yang ia sayangi.

Mengenai hubungan papa dan mama, mereka sudah baikan seperti saat-saat mereka menikah, walaupun kadang ku perhatikan mama seperti menutupi sesuatu di balik kemesraan mereka, senyum yang berikan seakan menutupi sesuatu di balik hubungan suami istri mereka yang terlihat romantis.

Pagi itu aku rencana nya akan berangkat ke pendopo mengikuti serangkaian tes masuk di STANVAC, kebetulan hari itu juga hari libur (minggu), papa, mama dan adik ku sudah menunggu ku di meja makan untuk sarapan pagi dan sekaligus mengantarkan ku ke terminal yang nanti nya akan berangkat sendiri ke pendopo.

“Mas…. Kalo saja tini libur sekolah nya besok tini mau nganter dan nemenin mas di sana”, ucap tini adik ku saat di meja makan setelah kami berempat duduk di sana.

“Nggak apa-apa dik, minta doa nya saja semoga mas lulus tes nya dan diterima sebagai karyawan STANVAC, gaji nya itu dek gede banget”, ucap ku menjawab omongan nya barusan.

“Nak, nanti kamu nginep saja di rumah pak Dodit, tetangga kita disana, inget nggak sama beliau, itu bapak nya lia”, ucap mama ikut menimpali omongan ku barusan.

“Iya ma, rustam inget kok, pakde dodit biasa nya rustam manggil beliau, lia kan sahabat kamu ya dik, apa dia lebih cantik dari kamu ya dik?”. ucap ku menjawab omongan mama dan bertanya ke tini adik ku sambil menggoda nya.

“Awas kamu mas, jangan macem2 sama lia, dan jangan lupa salam ya buat lia dari tini”, sahut tini melanjutkan omongan mama.

“Nak, ini bekal buat kamu disana, tolong uang nya di hemat selama disana ya nak”, ucap mama sambil menyerahkan uang 500.000 rupiah.

“Iya ma, rustam pasti menghemat kebutuhan rustam disana, minta doa restu nya mama dan papa, doain rustam lulus tes nya, pa, ma, dik”, ucap ku meminta dukungan dan doa mereka semua.

“Iya nak”, jawab papa singkat.

“Tentu sayang”, sahut mama.

“Pasti mas”, ujar tini adik ku.

“Makasih ini jadi semangat rustam untuk serius menjalani tes nya disana”. ucap ku yakin dan mantap.

“Yuk kita anter rustam ke terminal!”, ajak papa dengan senang.

“Asyik kirain cuma nganterin depan pintu saja, pa aku mau duduk dekat mas ya”, ucap tini manja pada papa.

Mobil dinas yang kebetulan sering papa bawa pulang saat ini berjalan menembus jalanan dari rumah dinas papa di daerah silaberanti menunju ke terminal, terminal yang berada persis dibawah jembatan ampera kalo orang palembang manggil nya proyek. Entah kenapa di sebut proyek sampai saat ini aku juga nggak tau hehehehe….. Adik ku yang duduk di samping ku di kursi belakang menempel erat bahkan memeluk erat tubuh ku, ia bisikkan pada ku, “mas yang semalam itu baru kejutan awal saja, kalo mas sampai lulus dan ke terima di STANVAC adik kasih kejutan special lebih dari semalam, maka nya mas mesti lulus ya”. Aku tersenyum dan mencolek hidung nya lalu balik bisiki dia,”emang nya kejutan nya apa? Bikin mas penasaran aja”. Heheheheh…. tawa kecil tini melihat ku kebingungan.

“Dah sayang, mas fokus saja sama tes nya jangan pikirin dulu kejutan adik, kalo dikasih tau bukan kejutan lagi nama nya”, goda nya membikin aku hanya garuk-garuk kepala.

Papa dan mama terlihat serius memandang jalanan kota Palembang yang terlihat lengang dan sepi karena hari minggu, pas perempatan jakabaring (stopan lampu merah) arah depan (lurus) mengarah ke kertapati, stasion kertapati di jalan ki merogan belok kiri jl. jakabaring yang masih terlihat rawa-rawa (belum serame sekarang yang telah jadi kota mandiri di wilayah tersebut. Belok kanan menuju jembatan ampera kalo lurus tapi mobil kami akan ambil jalan kiri masuk ke bawah jembatan ampera di mana di situ lah terminal bus antar kota dalam provinsi berada, mengantri menunggu penumpang untuk diangkut ke tempat tujuan.

Mama selama perjalanan dari rumah dinas sampai ke terminal lebih banyak diam nya, entah apa yang sedang ia pikirkan tetapi ada raut wajah sedih nya saat melihat an menoleh ke belakang, tetapi begitu ia melihat keakraban aku dan tini tiba-tiba wajah nya kembali tersenyum.

Akhir nya sampai juga kami di bawah jembatan ampera (proyek), mobil dinas papa segera mencari mobil minibus yang melayani trayek Palembang-Pendopo, saat ini ku lirik jam tangan ku baru jam 10.00 wib.

“Sudah sampe kita, rus coba tanya dulu jurusan Pendopo sudah penuh nggak”?, ucap papa menyuruh ku turun menanyakan mobil yang akan mengantarkan ku ke pendopo.

“Iya pa”, jawab ku singkat lalu keluar dari mobil menuju kerumunan orang-orang yang berada di antara mobil-mobil yang sedang berjejer antri menunggu giliran.

“Kak, nak nanyo mobel jurusan pendopo yang mano yo” (kak, mau nanya mobil jurusan pendopo yang mana ya), tanya ku ke salah seorang di sana dengan bahasa lokal palembang.

“Iyo dek, mobel ini ke Pendopo galo, tapi kalu yang depan sudah penuh, kau naik mobel antrian keduo bae, berapo uwong nak berangkat dek?”(ia dek, mobil ini ke Pendopo semua, tapi kalau yang depan sudah penuh, kau naik mobil antrian kedua aja, berapa orang mau berangkat dek), jawab orang itu menjawab pertanyaan ku.

“Dewean kak” (Sendirian kak), jawab ku singkat dan tegas.

“Oh, kalu cak itu pacak lah melok mobel di depan, kebeneran masih sikok lagi tempat duduk nyo”(oh, kalau begitu bisa lah ikut mobil di depan, kebenaran masih satu lagi tempat duduk nya), ucap orang itu yang ternyata calo dan sekaligus preman yang pegang trayek itu.

“Ehem”, suara papa berdehem dari mobil yang memantau ku.

“Oh, anak nyo komandan yo, siap ndan gek ku urus tau nyo beres deh”(Oh, anak nya komandan ya, siap ndan nanti ku urus tau nya beres deh, sahut orang itu setelah ia melihat dan mendengar suara deheman papa barusan.

Akhir nya aku pun dapat duduk di depan setelah di pindahkan oleh orang itu yang ternyata kenal sama papa, sebelum berangkat aku berpelukan terlebih dahulu dengan papa, lalu dengan tini adik ku yang sempat-sempat nya membisiki, “mas mesti pulang ya dengan hasil lulus sebagai karyawan, nanti nyusul kejutan nya jika mas sudah pulang, selamat berjuang kekasih ku, i love you mas”. Suara adik ku di telinga ku sungguh seksi dan menggoda.

Andai saja saat itu sepi dan hanya kami berdua sudah pasti ku cium dan ku tubruk tubuh seksi nya yang makin hari makin semok dan bahenol cuma aku sadar ini di tempat umum, aku hanya mencium kening nya sambil balik membisiki, “kalo bukan di tempat rame mas cium kamu dik, bikin mas sange aja, mas akan tagih janji kamu, siap-siapa aja sayang”.

“Siapa takut? adik tunggu ya! Cium aja mas sengaja adik goda mas biar inget terus sam adik, eh iya mas adik mau beli hp tapi nanti nunggu mas pulang ya”. Bisik nya di telinga ku.

“Udah ah, nggak enak di lihat papa dan mama”, sahut ku seketika menyadari keadaan kami yang terlihat mesra.

Tini mengangguk lalu memeluk tubuh ku, aku kecup kening nya sekali lagi dengan kecupan yang lama dan penuh penghayatan. Lalu aku menghampiri mama yang sedari tadi banyak diam dan hanya memandang ke kerumunan orang-orang yang hilir mudik, kemudian ku cium buku tangan nya, mama yang menyadari saat ini aku berada di dekat nya langsung memeluk erat tubuh ku.

“Ma, mas rustam pamit ya, minta doa nya ma biar rustam disana lancar jalanin tes dan di terima sebagai karyawan STANVAC”, ucap ku berbisik ke telinga nya.

“Rus….Rustam mama pasti kangen sama kamu, itu dalam amplop uang ada surat kamu baca ya semua akan terjawab apa yang ingin kamu tanyakan selama ini? Mama sayang kamu melebihi sayang mama pada papa kamu jujur mama masih berat karena terikat pernikahan dengan nya”. Ucap nya berbisik ditelinga ku.

“Iya ma, rus berusaha memberikan yang terbaik buat kalian berdua”, ucap ku membisiki nya.

“Nak, mama cinta kamu buktikan pada mama supaya mama yakin menetapkan pilihan mama pada mu, salah satu nya kamu mesti lulus sebagai karyawan STANVAC, kamu siap dengan tantangan mama sayang?”. Bisik nya membuat aku kaget dan menatap mata nya untuk meyakinkan diri ku.

Mama mengangguk kepala mengiyakan semua omongan nya barusan.

“Siap ma, biar mas rustam semangat kasih ciuman dong”, goda ku pada nya dengan berbisik dan posisi saling berpelukan.

“Jangan disini nak! Mama ke wc duluan kamu susul mama disana setelah mama pergi beberapa langkah”, bisik nya menggoda ku lalu melepaskan pelukan nya.

Mama berjalan mencari wc terdekat setelah sebelum nya sempat berbicara sama papa dengan pakaian syar’i wanita berhijab ia berjalan dengan anggun nya, baju gamis nya yang lebar tidak membuat orang-orang di sekitar nya tergoda.

“Pa, tolong minta tunggu 10 menit saja pa, rustam mau beli bekal buat di jalan sekalian mau ke wc kebelet pipis pa”. ucap ku mencari alasan supaya papa dan tini tidak curiga.

“Yaudah kamu sekarang buruan gih, nanti papa bilangin nunggu kamu sebentar”, jawab papa tegas.

“Makasih pa”, ucap ku singkat.

Aku segera menyusul mama, tetapi aku sengaja ambil jalan memutar biar papa tidak curiga, belum jauh aku melangkah papa berteriak kencang, “rus arah sana kalo mau ke wc”. Aku tersentak dan sedikit kaget, lalu berusaha tersenyum pada nya lalu ku acungin jempol pada papa, hahahaha…. Tawa ku dalam hati melihat kejadian itu.

Kulihat ada wc di hadapan ku, kulirik kiri dan kanan memastikan terlebih dulu keadaan di sekitar ku, lalu ku ketuk pintu tersebut.

Tok…Tok….Tok…

“Ma… Mama di dalam?”, ucap ku dengan memelankan suara.

Ceklek…..Krieek….

“Aman sayang”, tanya nya khawatir.

“Iya”, jawab ku singkat.

Ditarik nya aku dengan cepat ke dalam wc tersebut, kami sempat diam hanya saling menatap dan tanpa ingin membuang waktu kami berdua berciuman melepaskan semua kerinduan yang mendera di hati kami berdua, ciuman mama begitu ganas dan liar seketika membangkitkan hasrat seksual ku, tapi aku maklum dan tau situasi kami tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke percumbuan yang lebih panas lagi.

“Rus….Itu bukti kalo yatmi masih mengharapkan cinta mu, perjuangkan rus, buktikan pada yatmi kamu lah yang layak yatmi perjuangkan juga, yatmi tunggu bukti nyata kamu sayang”. Ucap nya penuh harap saat kami menyudahi ciuman yang liar dan panas barusan.

“Iya yatmi sayang, akan rustam buktikan keseriusan rustam, kalo rustam berhasil di terima kamu mesti tepati omongan mu barusan, akan memperjuangkan cinta kita bersama”. ucap ku yakin dan mantap.

“Iya rus, pegang janji yatmi ini, dan kalo kamu ingin lebih yakin dan mantap baca surat yatmi sayang”. jawab nya tegas.

“Rus percaya yatmi sayang, sekarang rus mohon doa dan restu mu untuk mewujudkan cita-cita kita bersama, setelah aku di terima rus mohon kamu ikut rus sementara gimana cara nya, hanya kamu yang tau jawaban nya”.

“Udah sayang, mama mesti buru-buru keluar biar papa mu nggak berpikiran macam-macam”, ucap nya menyudahi pertemuan singkat yang penuh makna.

“Inget rus, yatmi tumpahkan harapan yatmi sepenuh nya pada mu, kamu lelaki dewasa sekarang harus berjuang demi mendapatkan cinta dan cita-cita kamu sendiri.

“Iya makasih sudah bikin rustam bersemangat mengejar impian dan cinta”.

Mama membuka pintu wc tersebut, sambil clingak-clinguk ia melihat sekitar nya terlebih dahulu, baru setelah aman ia keluar. Aku baru menyadari bau pesing dan sebagai nya di wc umum ini, tetapi semua itu terbayarkan dengan mengetahui kebenaran perasaan mama pada ku, “ma, mulai hari ini rustam bertekad mesti lulus dan di terima sebagai karyawan STARVAC supaya aku bisa memperistri yatmi dan tini”, aku membatin.

Aku melihat arloji di tangan ku, 10 menit lebih ternyata aku berada di wc ini, segera aku keluar dengan santai nya seolah tidak terjadi apa-apa, sebelum ke mobil yang akan membawa ku ke pendopo aku sempat beli air mineral dan beberapa cemilan buat bekal ku sekalian bukti buat papa bahwa aku memang sedang membeli bekal tersebut.

“Pa, ma, dik…..dahhhhh…..”, ucap ku sambil melambaikan tangan perpisahan

saat mobil yang ku tumpangi mulai meninggalkan tempat ini.

Mereka bertiga pun membalas nya dengan melambaikan tangan nya pada ku.

 

===

Pendopo, Minggu, 6 Desember 1998, di rumah dinas pakde Dodit….
Pov Rustam

Saat ini aku telah sampai di rumah pakde Dodit, teman sejawat papa, tetangga kami di pendopo, beliau sudah ku anggap orang tua ku juga karena keakraban kami selama masih remaja dulu. Oiya lia nama lengkap nya Amelia Ratna Wahyudi usia 16 tahun adalah anak tunggal dari Dodit Wahyudi dan Ratna Sari.

Aku di terima dan disambut dengan ramah oleh pakde dodit dan bukde ratna, beliau dengan senang hati menerima kedatangan ku yang sudah hampir 3 tahun lalu kami sekeluarga berpisah keluarga beliau, walaupun hubungan persahabatan papa dengan pakde dodit sampe hari ini tetaplah terjalin baik.

Beliau dengan antusias bercerita kondisi di sini sejak kami sekeluarga pindah ke Palembang, main catur adalah salah satu hobby beliau, aku yang tidak terlalu bisa main catur babak belur dihajar nya, dari 4x main 4x juga KO dalam waktu yang singkat.

“Kamu memang tidak hobby catur ya, kalo papa kamu lawan seimbang pakde, setiap kami main selalu ketat bahkan dalam 1x main bisa lebih dari 1jam”, ucap beliau bercerita soal main catur dengan papa.

“Iya pakde, rustam cuma bisa langkah-langkah yang simpel ndak faham langkah yang rumit”, jawab ku jujur dan polos.

“Yaudah rus, nih sambil di minum kopi nya, tau nggak kopi pendopo mantap rasa nya”, ucap nya bangga dengan cita rasa kopi nya.

“Iya pakde, mana harum lagi bau nya, ini bukan nya kopi dari kebun punya pakde sendiri”. ucap ku menimpali omongan beliau.

“Iya, kamu masih inget ya”, sahut nya singkat.

“Tentu inget pakde, kan sering aku, tini main ke kebun diajak lia”. jawab ku.

“Oiya gimana kabar adik kamu tini, sekarang sudah besar ya seumuran lia dia, kelas 2 juga kah tini sekarang”, tanya pakde kemudian.

“Iya pakde, tini kan teman sekelas lia waktu SMP, lia sendiri sekarang sekolah dimana pakde, kok nggak kelihatan lia sejak rus datang tadi”.

“Di muara enim sekolah nya, ia sekolah perawat kesehatan negeri di muara enim rus, kamu pangling pas lihat dia nanti, ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum, cantik loh anak pakde masih jomblo ia”. ucap nya tersenyum saat aku nanya lia.

“Wah pakde bisa aja, belum kepikiran kesitu pakde, mau kerja dulu cari uang yang banyak”. Jawab ku berbohong.

“Kalo pakde jodohin kamu sama anak pakde kamu mau nggak, lihat aja nanti anak nya gimana? Cantik kayak bukde mu itu”, ucap nya mau menjodohkan anak nya lia pada ku sambil menunjuk istri nya yang sibuk di dapur.

“Yuk makan dulu mas, ajak rustam nya mas”, ucap bukde ratna menemui kami berdua di teras sambil ngopi dan main catur.

Pendopo, 7 Desember 1998…… lokasi STANVAC

Surat lamaran kerja aku kirimkan melalui surat ke alamat STANVAC di Pendopo dengan mencantumkan posisi yang di butuhkan sesuai kualifikasi pendidikan yang ku miliki, beserta fotocopy STTB dan NEM yang sudah di legalisir, pas photo hitam putih ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar, fotocopy identitas diri yang waktu itu aku sudah membuat KTP saat aku sudah berusia 17 tahun, dan aku masukkan semua berkas lamaran dalam amplop coklat bertali, dan ku kirim melalui kantor pos dan bercap pos tanggal 1 November 1998.

Dan tanggal 3 Desember 1998 kemaren aku mendapat surat panggilan untuk mengikuti testing tertulis yang akan diadakan hari senin dan selasa, 7 dan 8 Desember 1998, apabila dalam test tersebut aku dinyatakan lulus maka akan kembali diadakan testing lanjutan psikotest dan kesehatan tanggal 14 Desember 1998, jika lulus lagi dilanjutkan test interview/wawancara tanggal 21 Desember 1998. Ketiga testing itu jika aku lulus semua maka aku disebut karyawan training STANVAC dengan masa training 6 bulan setelah itu lulus training 6 bulan aku berhak dinyatakan sebagai karyawan tetap STANVAC.

Menurut informasi dari senior ku di STM dan para guru ku, selama ini belum ada satu orang pun dari sekolahan ku yang di terima di perusahaan ini, selain testing nya yang sulit karena setiap tahapan nya memakai sistem gugur. Sistem perekrutan nya super ketat membuat perusahaan asing yang bergerak di bidang eksplorasi minyak bumi dan gas alam.

Sekarang waktu yang menentukan masa depan ku, hampir sebulan sejak aku mengirimkan surat lamaran kerja aku selalu belajar secara akademik, pelajaran sekolah aku ulang kembali, seperti matematika, kimia, geografi, fisika yang menurut yang pernah ikut soal2 itu yang di ujikan.

Setelah ibadah sholat subuh, aku mulai bersiap diri, dan setelah sarapan pagi, pakde dodit yang mengantarkan ku ke lokasi testing di STANVAC. Jarak rumah dinas pakde dodit ke lokasi memakan waktu 1 jam lebih tergantung dengan cuaca dan lokasi medan disana.

“Nak Rustam, pakde tinggal dulu ke kantor mau absensi dan apel pagi, 4 jam lagi pakde jemput kamu lagi, semoga lulus ya nak, pakde dan bukde ikut mendoakan supaya kamu sukses menjalani testing ini”. Ucap pakde rustam lalu setelah aku mencium buku tangan beliau ia pergi ke polsek pendopo.

Aku melangkah dengan penuh keyakinan menatap masa depan yang ada dihadapan ku, tekad ku sudah bulat kalo tidak sekarang mesti nunggu kapan lagi, berusaha semaksimal yang aku bisa sambil terus berdoa.

Ruang ujian sudah berada di depan mata, mulai mencari tempat duduk sesuai dengan no. peserta ujian 241,ternyata kursi ku ada di pojok dua dari belakang, jumlah peserta ujian saat itu mencapai 267 orang dengan nilai STTB dan NEM rata-rata 7 keatas sesuai persyaratan administrasi penerimaan karyawan baru.

20 menit kemudian testing dimulai…..ujian dimulai jam 9.00 wib – 12.00 wib…..

Hening dan penuh konsentrasi, semua peserta aku yakin sama-sama ingin menjawab dengan benar soal-soal yang sudah di bagikan satu persatu, ku lihat soal-soal yang kebanyakan sudah pernah ku fahami, dengan penuh keyakinan, ku jawab soal-soal ujian itu tentu nya dengan cepat dan teliti, aku bisa tersenyum lebar saat mendapatkan soal-soal ini sudah biasa ku kerjakan hingga soal-soal Matematika, dan kimia dapat dengan mulus ku jawab.

“Bagi yang sudah selesai di periksa kembali no. peserta dan nama nya, dan silahkan tinggalkan soal beserta jawaban nya di kursi kalian masing-masing”, ucap seorang pengawas berhijab yang saat itu sedang mengawasi ujian.

Aku melangkah ke luar dengan penuh keyakinan dengan semua jawaban ku, untuk session testing besok akan di laksanakan hari selasa, 8 Desember 1998, materi yang di ujikan geografi dan fisika, di tempat yang sama.

Selasa, 8 Desember 1998…..lokasi Aula Stanvac pendopo……

Jam 9.00-12.00 wib, ujian hari kedua di tempat yang sama saat ujian hari pertama, materi ujian hari kedu geografi dan fisika, soal-soal ujian beserta lembar jawaban di bagikan satu persatu oleh panitia penerimaan seleksi karyawan baru begitu aku baca di badge panitia yang membagikan soal dan jawaban.

“Silahkan isi terlebih dahulu nama peserta beserta no. peserta nya, baru silahkan kerjakan soal-soal nya, bagi yang belum mengerti silahkan bertanya pada kami” ucap seorang lelaki yang menjadi panitia seleksi tersebut.

Aku mulai mengerjakan soal-soal geografi itu satu persatu nomor soal itu kujawab dengan penuh keyakinan dengan hanya melingkari a,b,c,d, atau e di lembar jawaban, akhir nya semua soal sudah terisi dengan jawaban, aku cukup pede dengan jawaban ku dari 100 soal keyakinan ku mencapai 90% jawaban ku benar.

Session kedua ujian di lanjutkan dengan materi soal fisika, dengan waktu ujian 1,5 jam soal-soal ujian 100 dengan pilihan ganda a,b,c,d dan e. Lembar jawaban dengan teliti aku lingkari setelah terlebih dahulu mencoret-coret jawaban nya di sebuah kertas buram yang di sediakan panitia, untuk materi fisika aku malah makin pede karena 100 soal itu sudah sering ku kerjakan bahkan rumus-rumus nya pun aku hafal luar kepala, 98% yakin jawaban ku benar.

Akhir nya aku keluar dari ruangan aula tersebut dengan tersenyum, setelah mengikuti testing selama 2 hari aku merasa kemungkinan aku bisa lulus dari testing tahaf pertama, dan pengumuman hasil ujian itu akan disampaikan ke alamat masing-masing peserta, atau langsung di lihat di papan pengumuman di depan aula tempat ku mengikuti testing.

Yang di terima di testing tahap pertama hanya 100 orang di urutkan sesuai dengan nilai peserta itu sendiri dan waktu pengumuman hari jum’at, tanggal 11 Desember 1998.

Malam itu sekitar jam 19.00 setelah menyelesaikan ibadah sholat magrib sambil tiduran aku teringat pesan mama, ia menitipkan surat di dalam amplop uang 500.000 rupiah yang sampai hari kedua belum kugunakan sama sekali, lalu aku bangkit membuka koper baju ku, dan setelah membuka amplop tersebut aku menemukan secarik kertas, ku buka surat itu kemudian ku baca.

Untuk : Rustam Anwar

Assalamualaikum wr.wb,

Rustam, sebenar nya yatmi malu untuk menulis surat ini.

Rustam, kamu inget apa yang yatmi pernah katakan saat papa mu datang kembali? Ya kalimat yang yatmi katakan bahwa mulai sekarang lupakan perasaan kamu pada mama, sejujur nya kalimat itu sulit yatmi lakukan dimana semakin yatmi menjauhi kamu semakin besar rasa di hati yatmi. Rustam, sejak kita melakukan perbuatan dosa itu yatmi memang merasa kotor karena mengkhianati papa mu, dan malu pada sang khalik, tapi yatmi juga wanita yang butuh kasih sayang, perhatian dan dimanja, semua itu yatmi dapatin dari kamu rustam anak angkat ku sendiri, mungkin cerita orang diluar kamu dan tini itu anak-anak mentimun mama dan papa tapi entah mengapa semua itu mengarah ke arah sana. Yatmi minta keseriusan kamu untuk memperjuangkan yatmi, salah satunya buktikan kalo kamu bisa jadi pilihan tepat buat yatmi, masa depan yatmi, suami bahkan bapak dari anak-anak yatmi kelak, satu bukti nyata terbentang di hadapan mu, berusaha lah rus untuk kerja di stanvac sesuai cita-cita kamu, kalo itu udah bisa kamu buktikan yatmi dengan senang hati menyerahkan hati yatmi seutuh nya hanya untuk kamu. Selamat berjuang my love, harapan yatmi ku gantungkan sepenuh nya pada mu, jika benar takdir kita, yatmi dengan ikhlas bersedia menjadi istri dan ibu dari anak mu, yatmi buktikan pada papa mu bahwa yatmi bukan wanita mandul.

Salam sayang selalu dari yatmi yang selalu menunggu mu dengan penuh cinta.

Kucium surat yang yatmi tulis barusan, betapa ia sangat berharap pada ku, berharap untuk dijadikan istri ku.

Saat aku sedang melamun ada suara ketukan pintu, ternyata pakde dodit yang mengetuk pintu.

Tok….Tok….Tok…..

“Ini pakde, nak rustam”, suara orang di luar kamar meneriakkan nama nya.

Ceklek….. kriieekk….

“Oh pakde, ada apa pakde?”, tanya ku setelah melihat nya mengetuk pintu.

“Gini nak rustam? Pakde sekadar ingin tanya gimana dengan testing kamu nak?”, ucap pakde dodit.

“Alhamdulillah pakde untuk testing 2 dari kemaren rustam yakin bisa lulus “.Jawab ku yakin.

“Syukurlah nak, pakde ikut senang dengar nya”, ucap nya.

“Yaudah yuk kita makan malam dulu, sudah disiapin tadi oleh bukde”, ajak beliau pada ku.

“Ok pakde, jadi nggak enak bikin repot pakde sekeluarga”.

“Eh iya, sabtu sore nanti kata nya lia mau pulang, nanti kalian jalan-jalan saja biar kamu rus nggak bosen nungguin hari senin nya”.

“Gimana ya pakde, lihat aja nanti pakde, rustam nggak begitu suka jalan-jalan”. Ucap ku beralasan.

“Rustam, rustam kamu ya masih malu-malu, kalian biar akrab dulu siapa tau kalo jodoh pakde nggak keberatan kok”. Ucap nya senang.

Pendopo, jum’at 11 Desember 1998, di lokasi STANVAC……

Aku diantar pakde kembali ke lokasi STANVAC, melihat langsung hasil testing ujian ku beberapa hari lalu, setelah berada di lokasi kulihat banyak juga peserta yang ingin melihat langsung hasil testing 3 dan 4 hari lalu, kebanyakan mereka seperti ku yang penasaran ingin lihat langsung hasil test nya.

Aku berdesakan dengan lebih dari 100 orang yang juga bersamaan melihat hasil pengumuman lulus tidak nya kita masing-masing. Walau berdesak-desakan aku beserta peserta lain nya antusias melihat hasil testing kamii kemaren karena ini adalah langkah awal ke tahapan testing selanjut nya.

 

PENGUMUMAN

Hasil Testing Tahap I yang diadakan 2 hari mulai dari tanggal 7-8 Desember 1998, adalah sebagai berikut :

  1. Rahmat Hidayat, no. peserta 21.
  2. Rustam Anwar, no. peserta 241.
  3. Felix Chandra Wijaya, no. peserta 73.

 

Nama-Nama diatas dinyatakan lulus dan wajib untuk mengikuti testing tahap II, psikotes dan kesehatan yang akan diadakan tanggal 14 Desember 1998. Apabila saudara/i tidak mengikuti testing tersebut kami anggap saudara/i mengundurkan diri dan keputusan ini tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun.

Pendopo, 11 Desember 1998
Tim Panitia Seleksi Penerimaan Karyawan Baru

 

===

Pendopo, jum’at, 11 Desember 1998, rumah dinas pakde Dodit………

“Assalamualaikum wr.wb”, ucap seseorang wanita dari luar pintu rumah dinas pakde.

Waalaikum salam wrwb”, sahut ku menjawab salam dari dalam rumah.

Seketika masuk seorang gadis muda menggunakan jilbab se-usia tini adik ku masih berpakaian seragam sekolah perawat kesehatan, aku kagum dan terpesona sesaat melihat siapa yang barusan masuk.

“Mas….Rus….Rustam…..ya……”, ucap gadis itu dengan gugup dan kaget melihat ku saat itu.

“I……Iya…..Aku rustam! Lia ya….. Mas beneran pangling lihat kamu lia, kamu memakai jilbab sekarang makin cantik dik”, Sahut ku grogi, seketika bayangan mama yatmi muncul, kok wajah nya mirip yatmi apa cuma khayalan ku saja sama mama yatmi” batin berkata.

“Ehem….”, suara pakde dodit berdehem saat melhat kami berdua sama-sama grogi dan salah tingkah.

“Pak…de…. Aayyyah….”, sahut aku dan lia kaget mendengar suara deheman barusan.

“Kalian berdua sadar nggak kalo sejak tadi pegangan tangan, hehehe, gimana rus cantik kan anak pakde, sampe bikin kamu gugup dan grogi”, goda pakde dodit pada ku.

“Ay….Ayah….. Apaan sich jadi malu lia?”. Rengek manja lia pada ayah nya lalu melepaskan tangan nya pada ku.

“Wah rus, kamu beruntung nak, anak pakde suka tuh pada kamu, udah kalian cocok kok, pakde restuin kalian, rustam kamu jagain anak pakde ya, jangan kamu sakiti dia”.

“Bu…Bukan seperti itu pakde…. Rus….Rustam cuma pangling sama lia, duh pakde gimana ya mau ngomong nya ?”. Ucap ku gugup setengah mati menyadari situasi yang jadi salah faham ini.

“Yaudah pakde masuk kamar aja, biar kalian berdua bisa kangen-kangenan tapi ingat nak, jangan kamu apa-apain anak pakde kecuali kamu siap memperistri anak pakde”. Sahut pakde tegas.

Pakde dodit meninggalkan kami berdua di ruang tamu dan melangkah ke kamar nya.

“Ayahhh……”, teriak kesal manja lia.

“Apa yang mesti ku lakukan biar salah faham ini tidak berlarut-larut?”, gumam ku dalam hati.

Kami berdua lalu duduk di ruang tamu sama-sama diam, ku perhatikan lia sesekali melirik ku dan saat terpergok ia memalingkan muka, “aduh kok tingkah lia sama kayak tini saat itu, saat tini suka pada ku, gimana cara nya biar dia tidak ku sakiti? Aku hanya menganggap lia itu adik tidak lebih”, aku membatin dan berpikir.

“Mas rustam, gimana kabar papa mama dan tini di palembang? Lia kangen sama tini”. ucap lia membuka obrolan kami dengan menanyakan kabar keluarga ku di palembang.

“Alhamdulillah mereka semua sehat dik? Oiya tini titip salam buat kamu, dia sekarang sekolah di SMEA kelas 2 sama kayak kamu dik”. Jawab ku.

Kami berdua sore itu terlihat sudah akrab seperti dulu, tidak ada kecanggungan lagi, tetapi aku tetap menjaga jarak dari ucapan dan perbuatan karena aku tidak ingin merusak hubungan kekeluargaan ini menjadi rusak dan renggang jika aku salah dan berucap dan bertindak.

Keesokan hari nya……..

“Pagi mas”, sapa lia ramah.

“Pagi dik”, sahut ku singkat.

“Mas, ayah bilang nanti mas sama adik ke rumah bukde Nani, biar mas bisa tanya-tanya soal-soal psikotest, bukde Nani kan psikiater di RSJ di muara enim”, ucap lia menjelaskan rencana hari ini pada ku.

“Serius dik, mas mau kapan kita kesana dik”, ucap ku bersemangat mendengar perintah ayah nya untuk membantu ku dalam mengikuti testing psikotest.

“Gimana kalo jam 8.00 aja mas, kita sarapan dulu lumayan kesana perlu waktu 3 jam ke kota muara enim, sekalian aja nginep di sana kata ayah”. Ucap lia selanjut nya.

“Ok tuan putri, mas ngikut aja deh, memang kesana kita naik apa dik?”.

“Naik motor dinas ayah aja, kata ayah lebih praktis daripada naik bis kesana nya”.

“Ok dik, yuk kita sarapan dulu, mas jadi pengen cepat-cepat kesana”.

“Siap mas, tapi nanti di sana mampir ke kost-an lia ya mas”.

“Ok”. Jawab ku singkat sambil mengacungkan ibu jari ku.

Kami berdua sedang menembus jalanan dari pendopo ke muara enim, lia tidak ragu duduk di belakang boncengan dengan memeluk punggung ku, buah dada nya terasa empuk menempel dan bahkan menggesek punggung ku, membuat adik ku di bawah jad tegang berdiri, “aduh gawat nih bikin konak nih anak, rus sadar ada yatmi dan tini yang sedang mengharapkan mu di sana”, batin ku menyadarkan ku sesaat.

Akhir nya setelah menempuh perjalanan 3 jam sampai juga kami di rumah bukde Nani, walau aku mesti berjuang melawan birahi dan konsentrasi menjalankan motor Yamaha RX-King yang ku bawa dengan kecepatan sedang.

“Assalamualaikum wr.wb”, ucap salam kami berdua saat di depan pintu sebuah rumah mewah.

“Waalaikum salam wr.wb”, sahut suara dari dalam rumah.

“Eh non lia, masuk aja non, nyonya kebetulan sedang santai di ruang keluarga”, ucap seorang pembantu rumah tangga berusia 45 tahun mempersilahkan kami masuk.

Kami berdua masuk ke dalam mengikuti PRT tersebut hingga sampai di ruang keluarga seperti yang PRT tersebut bilang.

“Eh kamu lia, ini siapa nduk? Pacar kamu ya?”. Ucap bukde Nani.

“Eh… Bukde bikin malu lia aja, ini mas rustam, anak teman ayah yang dulu pernah tugas di pendopo 3 tahun lalu, mas rustam lia ajak ke sini karena senin nanti ikut testing tahap II, Psikotest dan kesehatan, dia lulus testing tahap I kemaren bukde test penerimaan karyawan STANVAC”, jawab lia menjelaskan kedatangan kami.

“Wah hebat kamu nak, bisa lulus testing tahap I di STANVAC, padahal sangat sulit yang lulus testing tahap I, oiya kemaren kamu lulus no. urut berapa nak”. Ucap bukde Nani senang mendengar berita baik ku.

“No. 2 bukde, cuma 100 orang yang lulus dari 267 orang peserta yang semua nya laki-laki. Menurut info cuma 10 orang yang akan di terima sebagai karyawan STANVAC untuk tahun ini”, jawab ku menjawab pertanyaan bukde nani.

“Kamu cerdas nak, itu bukti bahwa kamu selangkah dibandingkan saingan kamu, untuk testing tahap II, kesehatan itu yang ngetest adalah suami dr. Hendro Setiawan, sebentar lagi pulang suami ku tadi kata nya sedang di jalan menuju ke rumah”. Ucap bukde nani.

“Beruntung kali mas kamu, semoga testing nya sukses ya, eh iya bukde lia mau ajak main devi aja ya, bukde bantu lah mas rustam, sengaja ayah minta lia nganterin mas rustam untuk belajar psikotest sama bukde” ucap lia sambil mencium buku tangan bukde nya dan pergi meninggalkan kami berdua di sini.

“Sebelum kita mulai, ada yang ingin bukde sampaikan, kamu suka sama lia ponakan bukde? Nggak usah kamu jawab akan terjawab sendiri nanti nya, jalani saja nak, aku yakin kamu orang yang bertanggung jawab, yuk kita mulai sekarang!”. Ucap bukde nani.

Aku hanya diam, “ah sudahlah takdir siapa yang tau sebelum kita menjalani nya”, batin ku mengiyakan pertanyaan bukde.

Bukde nani tersenyum melihat ku diam dan merenung, “kalo kamu ingin lulus nak, buang dulu pikiran mengenai mereka, gapai dulu cita-cita kamu, nah untuk sekarang fokus dan kosentrasi, karena psikotest itu adalah test uji mental, uji kejiwaan peserta, selain dibutuhkan fokus dan kosentrasi juga di butuhkan ketenangan, dalam ketenangan maka psikologi orang itu tinggi, bisa berbagai cara orang mencari ketenangan salah satu nya dengan ibadah sholat, apa kamu mengerti nak dalam tahap ini?”.

“Iya mengerti bukde”. Jawab ku yakin.

Proses belajar psikotest dengan bukde nani sangat santai tetapi hal-hal yang di uji kan dalam testing sudah aku kuasai berkat bimbingan beliau, bahkan sedikit demi sedikit aku belajar dasar-dasar ilmu psikologi.

Tak berapa lama suami bukde nani, dr.Hendro Setiawan sudah pulang dan segera menemui istri nya bukde nani. Saat aku di kenalkan dengan beliau suami nya langsung tersenyum dan senang karena aku ikut testing di perusahaan STANVAC, ternyata beliau juga dokter di RS. milik STANVAC pendopo. Beliau berpesan supaya aku menjaga kesehatan selama mengikuti testing dan jangan sampai sampai sakit.

Setelah makan malam kami pamit dari rumah bukde nani, mereka berdua minta kami nginep di rumah mereka tapi lia beralasan ingin pulang malam itu ke pendopo, akhir nya bukde nani dan om hendro mengijinkan kami pulang dan berpesan pada ku untuk hati-hati bawa kendaraan nya.

“Mas, kita kost-an adik ya, ada yang ingin adik ambil di sana”.

“Yaudah bentar saja ya nanti kemalaman pulang ke pendopo”, jawab ku mengiyakan permintaan nya.

15 menit kemudian……..

Kami sudah berada di kamar kost lia yang malam itu ternyata sepi karena seluruh penghuni sedang mudik karena libur semester, lia meminta ku duduk dulu kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan disaat keluar ia hanya mengenakan gaun tidur yang sangat tipis tanpa daleman, lalu ia mendorong ku hingga tubuh ku rebah di ranjang tidur nya.

“Adik tau mas rustam tidak cinta pada lia, tapi lia minta malam ini mas rustam kasihi dan cintai lia seperti mas cinta pada tini, jujur mas lia sampai hari ini selalu menugnggu mas rustam untuk ke pendopo, lia sampai detik ini cinta dan sayang sama mas”.

 

===

Muara Enim, sabtu 12 Desember 1998… di kamar kost lia…..
Pov Rustam

Aku terperanjat dan kaget melihat lia membuka gaun tidur nya dan hanya menyisakan jilbab putih yang ia pakai. Pakaian ku ia lucuti sehingga aku kini telajang bulat sama seperti diri nya.

“Mas rustam, miliki lah hati dan tubuh lia, akan lia berikan sepenuh nya untuk mas rustam, kamu jangan khawatir lia tidak akan menuntut tanggung jawab mu mas, lia hanya berharap mas bisa mengingat malam ini sebagai bentuk rasa cinta lia selama ini pada mas rustam”.

Aku hanya diam walau jujur aku pun mengangumi kecantikan dan tubuh nya yang bugil di hadapan ku tetapi hati ku belum bisa mencintai nya, mau nolak apa yang dilakukan nya rasa nya sudah terlambat, ia tau aku ragu untuk melakukan ini.

Lia mencium pipi ku sambil melingkarkan tangan nya di leher ku, membuat aku terbawa dan memejamkan mata, aku seketika lupa tujuan ku untuk ikut testing ini mengejar impian ku untuk bisa menikahi yatmi dan tini, kini malah aku terangsang hebat.

Aku segera mencium bibir nya yang ranum, lia dengan tersenyum membalas cumbuan ku, ciuman yang penuh nafsu pun tak terelakkan lagi, kami berdua sama-sama meradakan nikmat dan indah nya percumbuan ini hingga setelah ciuman yang panas itu terhenti aku malah meminta lia membuka jilbab putih nya lalu kurebahkan tubuh nya di ranjang nya yang bersprey putih tersebut.

Lia tergolek pasrah, tubuh nya bergeliat, ia meremas sprei dan muka nya malu untuk menatap ku yang saat itu memandang penuh nafsu tubuh polos nya.

“Dik kamu yakin untuk melakukan nya, mas nggak mau kamu menyesal nanti nya”. Ucap ku menanyakan keputusan nya kali ini.

“Lakukan lah mas, tapi pelan-pelan ya, ini pertama kali nya buat lia, lia ingin ini jadi kenangan terindah seumur hidup lia”. ucap nya yakin.

“Kamu tahan ya, bakalan sakit saat kontol mas merobek selaput darah kamu”. ucap ku.

Kontol ku sudah berada persis di depan pintu gerbang kemaluan nya, sempit, rapat dan hanya segaris belahan memek lia, sempat ku gesek-gesekkan terlebih dahulu kepala kontol ku di bibir memek lia yang mulai mengeluarkan cairan kewanitaan nya, “dik tahan, mas masukin sekarang”, ucap ku seketika saat kepala kontol ku sudah membelah bibir memek nya dan sudah mulai memasuki lubang nya yang hanya sebesar pentil korek api.

“Aaawwww…. Sakit mas…….”. Teriak lia saat kontol ku sudah masuk dan merobek selaput darah nya.

Aku melihat ia merintih pasrah di sudut mata nya yang indah mengalir air mata, entah air mata bahagia atau sebalik nya, ia baru berhenti menangis saat aku mengecup kening dan menyeka air mata nya.

“Lia sayang, makasih kamu telah memberikan kesucian mu, jujur mas saat ini belum bisa mencintai kamu sepenuh hati mas, karena ada 2 orang wanita yang sudah mengisi hati mas, tapi mas janji nggak akan menyia-nyiakan pengorbanan kamu, kita jalani saja hidup ini, jika kamu itu jodoh mas, kita pasti menikah”.

“Iya mas, adik akan menunggu kamu, adik janji akan menjaga hati dan tubuh ini hanya untuk mas seorang”.

Ku tarik keluar kontol ku sesaat untuk melihat darah perawan yang menempel di batang kontol dan bibir memek nya, kudiamkan sejenak karena terasa sakit pasti nya saat selaput darah nya robek oleh kontol ku barusan.

“Dik mas masukin lagi ya, kali ini sudah berkurang sakit nya, di buat rileks saja dik jangan tegang biar nggak sakit”, ucap ku.

Lia hanya mengangguk dan memejamkan mata nya, menunggu saat kontol ku memasuki tubuh nya, terlihat ia sudah memasrahkan diri nya.

“Tahan dik sakit nya”, ucap ku saat mulai ku dorong kontol ku.

BLEEEESSSS……

“Aaaaarrrrgggghhhh….. Perih mas”, erang nya sambil ia menggigit bibir dan mengeryitkan mata nya.

Ku diamkan sejenak kontol ku yang sudah tertanam utuh di dalam tubuh nya, aku merasakan begitu ketat dan rapat nya memek lia yang sesaat lalu kehilangan keperawanan nya.

Ku belai rambut hitam nya yang indah walau sekarang nampak acak-acakan, sesaat mata indah nya terbuka dan menyadari ini bukan mimpi, ia tersenyum setelah mata nya terbuka, kami hanya diam dan merasakan sensasi penyatuan kedua alat kelamin kami yang bersatu.

Beberapa saat kemudian aku mulai memompa perlahan kontol ku yang tadi hanya diam terpaku di dalam kemaluan nya, cairan kewanitaan lia membantu ku sedikit demi sedikit laju pompaan ku semakin lancar di tengah ketat nya memek lia yang mencengkram rapat.

“Aaaahhhh…..Uuuhhhh…..Oooohhh…. Enak mas terus adik merasa seperti terbang mas”, lenguh lia yang sudah bisa menikmati persetubuhan ini.

Mendengar ia sudah bisa menikmati nya, aku semakin semangat untuk memberikan nya kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelum nya, pompaan ku semakin cepat dan kencang menusuk dan menghujam ke dalam hingga membentur rahim nya.

Sudah tak terhitung erangan dan terikan lia mendesah, melenguh dan mengerang kenikmatan dalam pompaan kontol ku, hingga tubuh nya kejang-kejang dan bergetar seperti orang kena penyakit ayan, suara erangan nya seperti suara lolongan srigala dan ia mendapatkan klimaks nya saat itu.

“Mas rustam….. Lia mau pipiiiiiiissssss mas, awas mas…. Aaaaarrrrgggghhhh…. Mas rustam…… SEEEEERRRR……SEEEEEERRRR……SEEEEERRRRRR…….

Aku mendiamkan lia sebentar menikmati sisa-sisa orgasme nya, dan setelah ia berhenti berkedut dan bergeliat ku cabut kontol ku, aku tidak ingin sampai keluar di dalam karena bisa jadi ini masa subur nya.

Ku kocok dengan kencang sambil memperhatikan memek nya yang berdarah karena ulah kontol ku dengan cepat dan kencang ku kocok terus hingga aku pun mengerang dan mendapatkan klimaks ku.

“Dik lia…… Mas keluaaaaaaaaaarrrr”, erang ku sambil memejamkan mata menikmati sensasi keluar nya sperma dari kontol ku.

CROOOOTTTTT……..CROOOTTTTT……CROOOOTTTTT……CROOOOTTTT…..CROOOOTTTT……

Sperma ku tumpahkan ke tubuh nya yang tergolek lemah, dia tersenyum saat aku membaringkan tubuh disamping nya kemudian, ia memiringkan tubuh nya mengajak ku bercanda, ada sensasi lain kurasakan bila dekat dengan lia, ia tidak semanja tini, tetapi lebih seperti mama yatmi yang rela berkorban demi kebahagiaan ku.

“Mas puas kah?”, tanya nya malu-malu.

“Iya lia sayang mas puas, kamu puas dik?”, ucap ku balik bertanya.

Ia mengangguk dan mendekatkan bibir nya pada ku, kami berciuman dengan lembut dan penuh perasaan hal seperti ini membawa sedikit rasa cinta setelah kami melakukn persetubuhan.

“Dik kamu nyesel nggak sekarang kamu bukan perawan lagi?”, ucap ku dengan hati-hati takut menyakiti perasaan nya.

“Nggak mas, justru lia senang dan bahagia bisa memberikan kesucian lia buat lelaki yang sejak 3 tahun lalu lia cintai, ini bukti nyata kalo lia benar-benar sayang dan cinta sama mas rustam”.Ucap nya dengan penuh keyakinan.

“Mas percaya lia sayang, kamu yang sabar ya, kelak kalo memang kita jodoh mas akan menikahi mu, mas harap kamu selesaikan sekolah mu dulu, biar orang tua mu senang sayang, mas akan berusaha mencintai mu mulai hari ini”, jawab ku.

Lia tertidur pulas dalam keadaan bugil, kurasakan dengkuran halus lia membuat ku bahagia sesaat sekaligus bingung apa yang akan terjadi selanjutnya, “kenapa aku sulit menolak, kenapa aku mengikuti nafsu ku, kenapa aku jadi lelaki yang berengsek”, batin ku berkata lalu seketika air mata ku turun menyadari kesalahan ku sendiri.

Aku membelai wajah nya yang cantik, lalu ku cium kening nya sambil menaruh kepala di dada ku, “lia, mas merasa berdosa dan bersalah pada mu, seharus nya kamu bisa dapat kebahagiaan dari orang lain bukan dari ku yang banyak melakukan dosa zinah, semoga saja engkau dapat menemukan kebahagiaan kelak, mas akan bahagia jika melihat mu bahagia lia”.

“Mas rustam sayang, bangun mas”, lia membisiki ku.

Suara bisikan lia yang terdengan merdu di telinga ku, seketika membangunkan tidur pulas ku, mata ku perlahan membuka dan dihadapan ku tersenyum seorang gadis cantik dengan tatapan penuh kebahagiaan saat ini.

“Eh dik lia, sudah pagi ya”, jawab ku membalas senyum nya.

“Baru jam 4.00 dini hari mas”, jawab lia lalu memencet hidung ku.

Aku elus pipi nya dan sesaat kami diam hanya mata yang menatap tak lama kemudian bibir kami berdua bak magnet yang saling menarik, mendekat dan cuuupppp, bibir kami berdua sudah saling bersatu, ciuman yang kami lakukan kali ini lebih mirip ciuman sebagai kekasih, ciuman yang berasal dari hati, karena perasaan untuk saling membahagiakan membuat ciuman itu terasa nikmat.

“Dik lia, masih sakit kah di kemaluan kamu?”, ucap ku menanyakan kejadian semalam.

“Iya mas, tapi nggak apa-apa mas, itu wajar kok setiap gadis perawan pasti akan mengalami nya, lia mau nanya kok semalam mas tidak keluarin di dalam saja, padahal adik sudah aman semalam sudah minum pil kb dan lagi sekarang lia tidak subur mas, kemaren baru beres mens”.

“Mas nggak sempat nanya semalam, mas kira kamu sedang subur dik, kalo gitu sekarang aja yuk kita lanjutin yang semalam!”, goda ku dengan mengedipkan mata.

“Nanti telat mas sholat subuh nya”, jawab lia beralasan.

“Sekalian mandi besar aja, yuk kita mandi bareng sayang!”.

Lia mengangguk ia tidak pernah mau mengecewakan ku, tetapi saat ia bangun dan ingin melangkah ke kamar mandi, “aaawww”, jerit nya seketika.

“Kenapa dik, masih sakit di kemaluan kamu ya, mas gendong mau nggak?”, ucap ku.

Lia mengangguk dan tersenyum gigi nya yang putih bersih terlihat saat ia tertawa kecil, aku mengendong nya ia melingkarkan tangan nya di leher ku dan begitu sampai di kamar mandi kami mulai saling membersihkan tubuh masing-masing.

Akibat sentuhan-sentuhan di tubuh kami masing-masing membuat gairah birahi kami berdua naik kembali, di kamar mandi itu kami melakukan nya kembali, penuh gairah, desahan dan erangan menaungi ruang kamar mandi hingga akhir nya aku dan lia mendapatkan orgasme dalam waktu bersamaan dan semua cairan dari kedua kelamin kami berdua bersatu menjadi satu dalam rahim nya, acara mandi yang begitu berkesan dan menjadi kenangan tersendiri buat ku dan lia.

 

===

Pendopo, senin 14 Desember 1998…. Lokasi STANVAC…..

Setelah dinyatakan lulus testing tahap pertama kami 100 orang akan kembali berjuang memperebutkan 10 kuota sebagai karyawan baru STANVAC, testing kedua ini adalah psikotest dan kesehatan yang akan diadakan hari senin 14 Desember 1998, jam 9.00 sd puku 11.00 wib dan dilanjutkan dengan test kesehatan mulai jam 14.00 sd jam 16.00 wib.

Aku melangkah dengan penuh keyakinan menghadapi testing ini selain karena kemaren aku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari lia juga tadi pagi keluarga ku di palembang memberi support nya melalui telpon. Tadi pagi lia dengan senyum yang mulai menggetarkan perasaan ku membisiki ku bahwa ia akan memberikan hadiah jika aku bisa lulus testing tahaf kedua ini, entah apa hadiah nya yang jelas aku merasa semangat untuk menjalani tahaf demi tahaf testing ini.

Saat ini kami yang dinyatakan lulus testing tahaf pertama semua sudah berada di kursi sesuai no. urut peserta, 100 orang laki-laki akan memperebutkan 10 kuota karyawan baru untuk tahun ini.

Satu persatu soal dan lembar jawaban sudah di bagikan ke masing-masing peserta ujian, lalu sebelum di mulai panitia memberi arahan untuk mengisi terlebih dahulu nama peserta dan no. urut peserta, lalu baru dipersilahkan untuk mengerjakan soal yang diberi waktu durasi 3 jam untuk mengerjakan nya.

Aku beruntung sekali karena kemaren aku diajak lia ke rumah bukde nani yang merupakan psikiater dari beliau aku bisa menjawab dengan yakin soal-soal yang sedang aku kerjakan saat ini. Apa yang diajarkan oleh bukde nani semua keluar di ujian hari ini, aku dengan mudah bisa menjawab semua soal yang di ujikan hari ini, dan setelah semua terisi aku mengecek kembali jawaban ku dan setelah yakin dengan jawaban yang ku isi, kemudian aku melangkah keluar ruangan test yang masih menyisakan 40 menit lagi waktu ujian habis, ada yang tersenyum puas saat melangkah ke luar ruangan dan ada yang tertunduk lemas semua ku perhatikan tanpa ku sengaja.

Jam 14.00 wib…. Lokasi : Rumah Sakit STANVAC……

100 orang peserta ujian testing tahap kedua sudah berkumpul di sebuah ruangan di rumah sakit STANVAC, session II saat ini sedang memasuki medical test (tes kesehatan), sebelum memulai session II ini ketua panitia panitia penerimaan karyawan baru memberikan arahan terlebih dahulu pada kami semua.

“Selamat siang saudara-saudara semua, sebelum saya mulai medical test (tes kesehatan) untuk session 2, saya selaku ketua panitia penerimaan karyawan baru akan memberikan beberapa arahan untuk kelancaran proses medical test antara lain sbb:

  1. 100 orang peserta akan kami bagi menjadi 10 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang peserta di urutkan sesuai dengan no. urut peserta, untuk infoemasi nya dapat saudara lihat di papan penguman itu.
  2. Catat nama peserta, no.urut peserta dan no. kelompok nya di kertas medical chek up dan di serahkan nanti nya saat saudara di panggil masuk ke dalam untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan.
  3. Masing-masing peserta akan diberlakukan waktu yang sama, pemeriksaan yang sama, tanpa ada perbedaan (diskriminasi) semua akan mendapatkan fasilitas yang sama selama mengikuti medical test ini.
  4. Dokter yang akan menilai dan melakukan medical test ini adalah dr.Hendro Setiawan sebagai ketua di bantu oleh 4 orang dokter lain nya yang bisa saudara lihat di daftar pengumuman.
  5. Hasil dari medical test baru akan kami umumkan bersamaan dengan psikotest pada hari jum’at, tanggal 18 Desember 1998, diumumkan melalui papan pengumuman dan juga surat ke peserta yang bersangkutan yang dinyatakan lulus untuk testing tahaf kedua.

Demikian beberapa arahan dari saya selaku ketua panitia penerimaan karyawan baru, selamat mengikuti medical test, dan akhir kata saya ucapkan terima kasih atas atensi dari suadara sekalian”.

Aku dan ke-99 peserta lain nya kemudian melangkah menuju ke tempat pengumuman untuk melihat aku di kelompok berapa, dan setelah di buat per kelompok kami semua dibagi kertas medical chek up yang sudah ada point-point apa yang akan dilakukan pemeriksaan.

Karena no.urut peserta 241, aku tergabung di kelompok 10, atau di 10 orang terakhir dari 100 orang peserta. Dari ke-10 orang di kelompok ku, aku mendapat urutan ke 2 dari kelompok ku. Masing-masing kelompok di bagi 2 grup lagi dimulai 1-5 orang di grup pertama di susul 6-10 orang di grup kedua kelompok pertama begitu seterus nya hingga kelompok kami mendapat giliran sekitar jam 15.30 wib.

Akhir nya medical test (tes kesehatan) untuk ku selesai, aku pulang ke rumah dinas pakde dodit dan disambut dengan ramah oleh mereka. Setelah ibadah sholat magrib dan sholat isya’ kami makan malam, di meja makan sudah ada pakde dodit, bukde ratna, lia dan aku sendiri.

“Rus, besok kamu temenin lia ya, dia pengen ajak kamu ke air terjun bedengung di muara enim”, ucap pakde dodit mengawali obrolan di sela makan malam.

“Iya pakde, kebetulan juga rustam belum pernah main ke sana”, ucap ku menjawab omongan pakde dodit.

“Nah kebetulan kalo gitu, kalian bawa bekal aja kesana, tapi jangan pulang nya kemalaman ya”, ucap bukde ratna ikut menimpali omongan kami barusan.

“Gimana mas, tes kemaren lancar kan?”, tanya lia kemudian.

“Iya dik, alhamdulillah berkat kamu, pakde dan bukde yang support rustam, apa yang di ajarkan bukde nani kemaren semua ada di soal psikotest dan yang bikin surprise kebetulan yang jadi dokter medical test adalah dr.hendro setiawan suami bukde nani, jadi beruntung banget kemaren”. Jawab ku senang.

“Semoga lulus ya”, sahut bukde ratna ikut senang mendengar nya.

“Amiin bukde”, sahut ku mengaminkan doa nya.

“Nah kalo begitu kalian berdua buruan tidur nanti besok pergi nya agak pagian dari sini”, ucap pakde dodit.

“Iya pakde senang deh diajakin jalan-jalan”, jawab ku sumringah.

“Apalagi ditemenin lia kan rus, hehehehe”, celetuk pak dodit menggoda.

“Ih ayah…..”, rengek lia manyun.

“Bu, lihatin anak mu pura-pura aja dia padahal ia suka sama rustam”, goda pakde dodit.

“Ayah udah deh biarin urusan anak muda, tapi ingat kalian jangan macam-macam ya, ingat rus bukde minta tolong jagain putri bukde satu-satu nya ini”, sahut bukde ratna.

“Iya bukde pasti kok, akan dijagain lia nya”, jawab ku yakin.

 

===

Selasa, 15 Desember 1998….Lokasi wisata air terjun bedegung muara enim…..

Aku dan lia sampai di lokasi wisata air terjun bedegung sekitar jam 10.00 wib, suasana pagi dan bukan hari minggu sedikit sepi pengunjung tempat wisata ini.

Ku perhatikan lia yang begitu senang dan bahagia, aku ikut tersenyum melihat keceriaan dan kebahagian nya, “semoga kamu terus seperti ini lia, aku nggak mau melihat mu sedih dan menangis”. batin ku berkata.

“Eh…Mas rustam, kok lihatin lia ampe melotot gitu!”, sindir lia saat aku membatin barusan.

Aku tersenyum dan mendekati nya, lalu ke genggam tangan nya, suara hati ku berkata, “seandai nya kamu itu lebih dulu hadir di kehidupan ku mungkin kamu yang jadi pendamping ku”.

“Mas aneh kamu ya, senyum-senyum mulu, awas nanti kesambet mas”, oceh lia saat aku hanya tersenyum dan tidak menjawab omongan nya.

“Habis nya bibir mas jadi gagap dik, bidadari cantik ada dihadapan mas”, goda ku yang membuat merah merona pipi nya seketika.

“Ih… Gombal kamu mas…. Bilang saja kamu sudah jatuh cinta kan sama adik jangan boong”, balas lia tersenyum.

“Dik, kamu nanti ikut mas ke palembang ya, kita rayain malam tahun baru bareng tini di sana, mau nggak dik?”, ucap ku.

“Mau-mau mas, nanti lia ngomong dulu sama ayah dan ibu, minta ijin sama mereka”, jawab lia kemudian.

“Eh iya mas rustam, jika mas lulus, testing terakhir nya test apaan mas?”, tanya lia penasaran pengen tau.

“Interview (wawancara) dik, kamu tau test interview dik?”.

“Wawancara itu bukan nya tanya jawab ya mas, apa nanti mas rustam di tanya-tanya oleh mereka? Ahh…Bingung mas adik!”.

“Bener dik yang kamu bilang barusan bahasa sederhana nya seperti itu”, jawab ku mengiyakan omongan nya barusan.

“Nanti kemungkinan bisa saja wawancara nya pake bahasa inggris, kan STANVAC perusahaan asing asal amerika dik”.

“Wah berat juga mas kalo wawancara pake bahasa inggris, kalo lia lemah di bahasa inggris beda kalo tini yang dari kelas 1 kemaren saja besar terus nilai bahasa inggris nya”. Ucap lia memuji tini adik ku.

“Iya sih, tini saja milih di SMEA jurusan pariwisata katanya pengen jadi guide dik”, ucap ku mengiyakan omongan lia.

“Betul kan, tapi mas juga pasti bisa kan bahasa inggris?”.

“Insya allah bisa lah kan yang sering ngajarin tini mas juga, tapi nanti nggak tau gimana dengan tes wawancara nya, doain aja ya dik”, ucap ku.

“Pasti dong, buat orang yang ku sayangin apapun akan lia lakukan demi keberhasilan mas, tapi….”, ucap lia menghela nafas nya.

Kalimat nya yang terakhir sengaja ia gantung bikin aku penasaran, aku garuk-garuk kepala dibuat nya.

“Kenapa mas? penasaran ya!”, ucap lia malah menggoda ku.

Aku gemes lihat lia yang sengaja menggoda ku, lalu kubisiki ia,”godain mas nih, kalo saja bukan tempat umum tak cium kamu dik”.

Dia malah tertawa kecil sambil balas membisiki ku, “Berani nggak kalo cium adik sekarang di sini”.

Aku geleng-geleng kepala, disambut tawa nya yang meledak.

Pendopo, jum’at 18 desember 1998, lokasi STANVAC……

Hari ini pengumuman testing tahap II, rencana nya aku dan lia akan melihat penguman itu, dengan mengendarai sepeda motor RX-King, motor dinas itu saat ini sedang meluncur ke lokasi pengumuman, terasa gundukan buah dada lia menempel dan menggesek-gesek punggung ku.

Jalanan yang becek dan tergenang air membuat aku mesti berhati-hati membawa kendaraan, sesekali motor ku hampir selip dan masuk lubang untung keseimbangan dan laju kendaraan yang sedang pelan tidak sampai membuat kamk terjatuh, akhirnya dengan waktu yang sedikit lebih lama sampai juga kami di lokasi tersebut.

“Yuk dik ikut mas ke papan pengumuman, nanti kamu ya yang lihatin pengumuman nya!”, ajak ku pada lia.

“Ayo mas…. Adik juga penasaran pengen lihat nama mas di pengumuman tersebut” sahut nya sambil melingkarkan tangan nya di lengan ku.

Setelah sampai di tempat papan pengumuman banyak juga yang saat itu hadir untuk melihat hasil pengumuman, dengan berbekal no.peserta lia dan aku menerobos kerumunan orang-orang yang sedang berbaris melihat pengumuman itu.

“Mas rustam, lihat mas kamu LULUS itu nama kamu di urutan pertama mas”, ucap lia loncat-loncat kegirangan.

Aku yang melihat lia meloncat-loncat kegirangan jadi ikut melihat papan pengumuman tersebut, disana benar nama dan no.urut peserta ku berada di urutan pertama.

 

PENGUMUMAN

Dibawah ini nama-nama yang dinyatakan LULUS dalam testing tahap II yang telab diadakan hari senin, 11 Desember 1998 adalah sebagai berikut:

  1. Rustam Anwar No. peserta : 241.
  2. Guntur Heriadi No. peserta : 54.
  3. Yudi Erlangga No. peserta : 18.

  1. Rahmat hidayat No. peserta : 21.

Nama-nama yang telah dinyatakan lulus diatas selanjutnya diharapkan kembali mengikuti testing terakhir tes interview yang akan diadakan pada hari senin, 21 desember 1998, apabila tidak hadir dalam test tersebut maka saudara dianggap mengundurkan diri dan dinyatakan gugur dalam test penerimaan karyawan baru.

Lia menarik tangan ku dari kerumunan orang-orang, lalu kami segera meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumah dinas pakde dodit.

“Dik, mas mesti ucapin terima kasih ke bukde nani dan om hendro yang telah membantu mas waktu testing kemaren, adik punya no. telpon rumah bukde nggak, mas mau ucapin terima kasih”, ucap ku

“Mending ucapin terima kasih nya secara langsung aja mas, sekalian anterin adik pulang ke muara enim, senin besok sudah masuk sekolah”, ucap lia menjawab omongan ku.

“Iya juga ya, apa mas nunggu pakde dodit pulang ya, minta ijin nganterin kamu”.

“Nanti kemalaman mas, mending kita mampir bentar ke polsek minta ijin nya disana aja, sekarang mas rustam minta ijin sama ibu saja dulu”, jawab lia.

“Ok dik, mas minta ijin sama bukde ratna dulu kalo gitu”.

Setelah ngomong dengan bukde ratna, akhir nya aku dan lia berangkat ke muara enim untuk nganterin lia ke kost nya, soalnya ia besok sudah masuk sekolah, kami melanjutkan perjalanan ke polsek pendopo menemui pakde dodit ayah nya lia sekalian pamit mengantarkan anak nya karena besok senin lia sudah masuk sekolah.

“Ayah…. Lia pamit balik lagi ke kost-an minta diantar sama mas rustam, nanti mas rustam mau mampir juga ke rumah bukde nani yah, apa kami tidur disana saja yah kasihan nanti mas rustam pulang ke pendopo pasti kemalaman, boleh ya yah!”, ucap lia merayu ayah nya.

“Boleh nak, nak rustam sini bentar!”, panggil pakde dodit pada ku.

“Iya pakde”, sahut ku singkat.

“Nak rustam, sejak kamu berada di pendopo lia tampak semangat, ceria dan bahagia, pakde sangat yakin selama ini anak pakde sangat mengharapkan mu, pakde cuma berharap jika kamu menyukai anak pakde, pakde restui kalian, tolong jaga kepercayaan pakde ya nak”, ucap pakde dodit.

Aku sesaat terdiam, ada rasa berdosa karena telah menodai anak nya, walaupun sepenuh nya bukan lah salah ku, tapi karena kehendak lia sendiri, “apa yang mesti ku jawab ya allah? Mau bilang aku suka lia rasa nya aku membohongi diri ku sendiri karena sampai detik ini hati ku hanya ada dua sosok wanita yang mengisi hati ku, mau bilang tidak suka tapi nyata nya anak nya telah ku perawani, apa yang mesti ku katakan?”, aku membatin.

“Iya pakde, mungkin saat ini rustam belum bisa menjawab nya, rustam ingin menggapai impian rustam untuk kerja di STANVAC, semoga saja harapan pakde dan lia bisa di kabulkan allah kita nggak tau takdir dan jodoh”.

“Pakde hargai itu nak, semoga kalian masing-masing menemukan pasangan yang cocok, syukur-syukur kalian berjodoh, pakde sejak dulu sudah sayang sama kamu dan tini seperti anak kami sendiri”, ucap pakde bijaksana menjawab omongan ku barusan.

“Makasih pakde atas pengertian nya, rustam ingin lia terus mengejar cita-cita nya dulu, kemaren ia bilang ingin jadi bidan dan buka praktek bidan supaya bisa menolong orang banyak, bukan kah hal itu perlu di dukung pakde, rustam tidak ingin cita-cita dan impian lia jadi terhalang gara-gara terkekang dengan sebuah perjodohan, biarkan seperti ir mengalir saja pakde, kemana akan bermuara hanya allah yang mengetahui nya”, ucap ku menambahi omongan pakde dodit.

“Betul nak, pakde setuju, kalian masih muda mending kejar dulu impian dan cita-cita kalian masalah jodoh kita serahin kepada-Nya”, jawab pakde dodit sependapat dengan ku.

Kami berdua berangkat ke kota muara enim, pendopo-muara enim bisa di tempuh dalam waktu 2,5 s.d 3 jam, dengan menggunakan motor dinas RX-King, kami sampai di muara enim di rumah bukde nani jam 16.00 wib.

Bukde nani menyambut hangat kami berdua, saat kami menemui beliau dan om hendro di dalam ruang keluarga.

“Gimana hasil test nya kemaren nak rustam?”, tanya bukde nani setelah kami berdua duduk santai di ruang keluarga tersebut.

“Alhamdulillah bukde rustam lulus tes tahap kedua kemaren, kedatangan rustam kesini mau ucapin terima kasih pada bukde dan om, atas bantuan nya, sehingga rustam lulus dengan memuaskan test kemaren”, jawab ku sumringah.

“Sama-sama nak, sebenar nya kamu LULUS itu karena usaha keras kamu sendiri, ingat nggak saat kamu kesini kemaren, bukde cuma memberikan beberapa masukan dan soal-soal yang berkaitan dengan psikotest dan kamu dengan cepat bisa menyerap ilmu nya tanpa kamu sadari nak, itu kelebihan kamu nak, peka dengan hal sensitif, peka dengan lingkungan dan peka dengan perasaan wanita hingga banyak membuat wanita suka sama kamu tanpa kamu sadari”, ucap bukde nani menjelaskan semua dengan gamblang dan jelas.

“Tapi tetap yang berjasa itu bukde dan om, yang sudah membimbing rustam dan om hendro pun ikut berjasa karena yang melakukan medical chek up itu langsung dari dr. Hendro Setiawan, D.Spd.”

“Iya nak rustam, lia kamar kamu di sebelah kamar rustam di atas lantai 2, mandi dulu kalian setelah itu bukde dan om tunggu di meja makan”. Ucap bukde nani tegas.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo