loading...

Anak-anak angkat ku sekarang sudah mulai beranjak remaja, rustam anwar saat ini sudah kelas 3 SMP dan Hartini saat ini sudah masuk SMP kelas 1 bersekolah di SMP yang sama dengan mas nya yakni di SMP Negeri 1 Pendopo.

Malam itu seperti biasa suami ku tidak pulang dari tugas patroli nya, ia mendapat piket malam dan karena sudah terbiasa tidur bertiga sejak tiga tahun lalu, kini di kamar ku sudah terbaring tini di sisi kiri dan rustam di sisi kanan ku.

Aku melamun memikirkan badai rumah tangga ku yang mulai hadir akhir-akhir ini, komunikasi antara aku dan suami ku sekarang kaku dan tidak sama seperti tiga tahun lalu, entah apa penyebab nya aku pun tidak tau? aku terkadang menangis sendiri saat mengalami hari-hari yang sepi ini tanpa ada kehadiran suami di sisi ku, yang bisa membuat ku tersenyum dan kuat menghadapi ini semua di karenakan kehadiran tini dan rustam, mereka berdua bisa menjadi teman, menjadi adik bahkan anak yang membuat hati ku sedikit tentram dan damai.

Baca juga: Nafsu liar si hijaber alim (klik di gambar ini)

“Ma….! Kok mama nangis, ada apa ma?”, bisik rustam di telinga ku saat melihat dan mengetahui aku menangis.

Aku hanya menggelengkan kepala dan mendekatkan kepala nya hingga nafas dan bau mulut nya yang wangi sehabis sikat gigi tercium di indera penciuman ku.

CUUUP…..” di kecup nya kening ku dengan penuh kelembutan.

Setelah mencium kening ku, rustam membisikan kata perkata yang membuat ku mulai tersenyum pada nya.

“Ma…..! Mama jangan bersedih kami berdua akan selalu ada buat mama, menjaga mama, hingga akhir hayat kami ma”.

Aku menatap mata rustam, ada keseriusan dan kedewasaan di mata nya di usia nya yang masih hijau, usia 15 tahun adalah usia seorang anak yang ingin mencari jati diri dan kebebasan mengekspresikan diri nya, tetapi rustam tidak ia selalu patuh dan bahagia jika melihat aku dan adik nya bisa tersenyum, bahkan pernah sewaktu di sekolah adik nya (tini) di ganggu dan dijahili oleh teman nya sesama kelas 3 SMP, ia dengan marah nya menghajar cowok tersebut hingga babak belur, sejak itu ia makin over protektif pada tini dan tini pun sangat senang jika rustam menjaga nya, memanjakan nya bahkan menjahili nya entah apa ada perasaan cinta diantara mereka berdua aku pun tidak tau karena mereka ku anggap anak-anak kecil walaupun sekarang usia mereka memasuki pubersitas, masa remaja.

Tini bahkan saat ini sudah mendapatkan menstruasi, ia sudah datang bulan menandakan ia akan menjadi gadis remaja yang memasuki masa pertumbuhan, waktu sangatlah cepat berlalu hari, berganti bulan dan tahun hingga kini usia ku memasuki 23 tahun dan suami ku berusia 26 tahun.

“Rus, tatapan mata mu melihat mama bukan seperti tatapan seorang anak pada ibu nya, jangan-jangan kamu masih berharap dan mencintai mama ya”, ucap ku memperhatikan tatapan penuh cinta dan sayang seperti yang sering dulu mas tono suami ku perlihatkan.

“Maafin rustam ma, jujur ma, rustam makin lama semakin menyayangi mama seperti lelaki menyayangi wanita yang di kagumi nya, mama itu bidadari rustam dan tini, mama selalu baik, perhatian dan sayang itu rustam rasakan sejak mama dan papa mengadopsi kami sebagai anak kalian”.

“Tidak boleh nak, biar bsgaimana pun aku adalah mama angkat nya mesti nya ada batasan antara anak dan mama nya, bukan sebalik nya”.

“Tapi ma…..! Rustam benar-benar kagum dan sayang sama mama, rustam tidak ada perasaan tertarik sama lawan jenis seusia rustam walaupun di sekolah rustam banyak cewek yang mengajak rustam pacaran, bahkan ada yang terang-terangan teman cewek di sekolah menyatakan perasaan nya pada rustam”.

“Kalo kamu dengan tini apa ada perasaan sayang seperti perasaan kamu ke mama?”.

Rustam mengangguk kepala lalu ia menjawab,”Tini sama berharga nya dengan mama, kalo lihat dia di ganggu, di jahili atau pun di jahati, rustam tidak segan-segan menghajar orang itu ma”.

“Nak, mama sedih karena papa mu sudah berubah tidak sepeeti papa yang mama kenal, yang perhatian, yang selalu memanjakan mama, sekarang semua itu sirna, sifat nya yang mulai tempermen. Pemarah dan tidak jarang tatapan kosong penuh kemarahan membuat aku menjalani hari-hari penuh derita batin nak”.

“Ma….!Boleh rustam cium bibir mama”.

Cuuuupppp….

Belum sempat aku menjawab iya dan tidak, ternyata bibir nya sudah menempel di bibir ku yang kemaren menjadi tempat buat suamiku saja.

Entah karena kurang nya perhatian dan belaian suami ku, atau karena nafsu ku yang malam ini bergejolak naik aku malah menyambut ciuman rustam, aku malah mengajari cara melakukan ciumana yang penuh nafsu dan gairah, ku pancing lidah ku agar ia menghisap nya, ternyata rustam anak yang pintar bukan hanya pintar secara akademik tapi cepat belajar apa yang barusan ku contohkan.

Lidah kami saling bertautan, saling memilin dan sesekali saling menghisap dan menjulur membuat aku makin terlena oleh bisikan-bisikan setan yang menyuruh ku untuk menikmati bersama anak mentimun ku.

“Nak…..! Cukup….!”, cegah ku saat ia mulai membuka gamis tidur ku.

“Kenapa ma! Bukan nya mama juga menikmati nya”.

Aku seketika tersadar ucapan rustam, memang ku akui barusan aku juga menikmati apa yang kami lakukan tadi, tetapi sebagai seorang istri dan sekaligus ibu angkat tidak seharus nya aku mencontohkan hal yang di luar batas kewajaran.

Plakkk….

Tangan ku menampar wajah nya yang terlihat bengong melihat rona muka ku menjadi marah dan kecewa dengan ucapan ia barusan.

“Jangan kurang ajar nak, mama sayang sama kamu sebagai ibu bukan kekasih mu, tolong nak buang jauh-jauh pikiran mu tentang mama”.

Ia bersujud di kaki ku, menangis dan meminta maaf, “ma….! Maafin rustam ma, rustam khilaf, rustam terbawa nafsu rustam, maafin ma”.

“Sini nak”, perintah ku pada nya untuk mendekat.

Kupeluk ia dengan penuh kasih sayang sebagai ibu pada anak nya, ku elus pipi nya yang memerah bekas tamparan tangan ku, dan ku belai rambut nya.

“Suatu hari nanti kamu akan bisa mengerti kenapa mama marah tadi, bukan mama marah karena kamu berbuat seperti itu tetapi karena mama ini masih istri sah papa mu, dan selayak nya mama mengabdi pada suami apapun keadaan nya nak”.

“Iya ma…! Rustam ngerti kok”.

“Udah yuk kita bobok nanti kamu kesiangan sekolah nya, jangan di ulangi lagi yang tadi”.

“Iya ma”.

 

===

Pov Rustam

Sejak kejadian malam itu aku berusaha menjadi anak yang baik, menuruti semua kemauan mama, menjaga tini adik ku dan sekaligus menjaga mama.

Tini adik ku diam-diam selalu memperhatikan ku hampir setiap hari, dan saat mata kami berdua bertemu ia menundukkan kepala nya, terkadang pura-pura menoleh mencari sesuatu.

Hingga tak sengaja hari itu aku masuk ke kamar nya, dan ku temukan buku diary nya yang ia tulis sejak masuk SD kelas 1.

For diary, (pov tini)

Hai diary, kenalin aku hartini, panggil tini aja ya, diary aku ingin nulis di sini untuk mengungkapkan semua isi yang ada di hati ku.

Aku di adopsi oleh bi yatmi yang sekarang aku panggil mama, awal nya aku sedih diary, karena akan berpisah untuk selamanya dengan ibu dan saudara-saudara ku, maklum diary saat itu umur ku kan baru 6 tahun sedang senang-senang nya main dengan teman sebanya ku.

Nah saat itu ternyata bukan aku saja diary, yang diangkat anak sama papa dan mama ternyata ada cowok manis yang bernama rustam anwar, orang nya sih biasa aja, sedikit kumal, bau dan apa lah pokok nya tini ngejauh saat pertama di kenalin mama dan papa sebagai mas ku.

Tapi setelah kami pindah ke pendopo, aku mulai diperhatikan, dimanja, di jaga oleh nya aku senang diary, dia seperti kakak yang begitu sayang pada adik nya, terkadang aku suka jahilin dia tapi malah dia bisa buat aku tertawa dan tersenyum.

Hal yang paling membahagiakan diary saat aku dan mas rustam masuk sekolah, aku kelas 1 dan mas ku kelas 3 di SD Negeri 1 Talang Ubi Pendopo, waktu pertama sekolah aku sudah dapat banyak teman dan semua nya baik-baik pada ku diary. Mas rustam selalu menunggu ku atau kalo kelas ku duluan bubar aku menunggu nya, kami selalu pulang sekolah bareng, hingga lulus mas ku lulus sd, dan yang membuat ku sedih saat mas ku masuk smp aku masih kelas 4. Kami jadi jarang pulang bareng lagi karena mas rustam pulang nya lebih lama dari aku. Tetapi walaupun begitu mas rustam tetap baik dan menjaga aku diary, kadang kami berdua main dan lucu nya ia pun ikutan main-mainan perempuan, walaupun aku tau ia malu dan gengsi tentu nya.

Sekarang aku masuk SMP diary, banyak kawan baru baik cewek maupun cowok, dan waktu mos (masa orientasi siswa) mas rustam jadi panitia, aku aman tidak pernah di hukum seperti teman-teman ku lain nya.

Dan yang membuat ku kesal diary, saat yuli teman sebangku ku menanyakan mas rustam pada ku, ia suka pada mas rustam, aku hari itu bete diary, bete enah kenapa aku tidak tau, yang jelas serasa dongkol dan mungkin cemburu ya yuli suka sama mas rustam. Sampai pulang ke rumah pun muka ku manyun dan cemberut, sampai-sampai mama nanya, “kenapa nak muka kamu nekuk gitu, ada apa sayang”. Aku hanya menggelengkan kepala mau ngomong apa aku diary, mau ngomong bahwa ada teman ku yuli suka sama mas rustam dan aku sebel sama yuli karena ia suka mas rustam, pasti di ketawain mama diary, untunglah mas ku ini pinter bikin aku senyum dan ketawa, melihat muka ku cemberut ia malah menggoda dan mencandai ku yang membuat aku dan mama ikut ketawa, ya mas ku ternyata pinter ngelawak kata orang sini sih, pake bahasa daerah sini bikin aku dan mama terpingkal-pingkal tertawa padahal mungkin menurut orang lain itu tidak lucu tapi karena ia ceritain dengan polos nya bikin kami ketawa.

Diary, hal yang membuat ku terkesan dan mengagumi mas ku saat ia menghajar cowok jahil bernama budi. Ya budi kakak kelas 3 yang ternyata teman sekelas mas ku, ia sebenar nya orang baik, berasal dari keluarga yang cukup kaya di kampung kami, cuma karena aku tidak punya rasa, ia tus-terusan mendekati bahkan menggoda ku. Hingga hari itu diary, pas jam istirahat aku mau ke kantin biasa mau jajan karena laper pagi tadi sarapan ku sedikit hehehe, nah saat itu kak budi menghadang ku ia menarik paksa aku untuk di ajak ngomong, ku turuti saja kemauan nya saat ia menyatakan cinta nya aku seketika menjawab bahwa aku belum mau pacaran dan memang aku nggak punya rasa pada nya, tetapi kak budi tidak bisa menerima penolakan ku, ia memaksa ku dengan menarik tangan ku sehingga aku terjatuh dan kebetulan mas rustam melihat kejadian itu.

Diary…Baru kali ini aku melihat pancaran kemarahan yang besar dari mas rustam, setelah ia membantu ku berdiri, ia kemudian mendekati kak budi dan menghajar nya, memukul dan menendang nya hingga kak budi babak belur sekujur tubuh nya lebam dan ada darah yang mengucur dari hidung kak budi, seandai nya tidak di lerai dan di pisahkan aku tidak tau gimana nasib nya kak budi dihajar habis-habisan oleh mas ku.

Diary…Lelaki gagah, pemberani, dan jantan ada pada sosok mas ku, ia melindungi ku tanpa peduli dengan diri nya, rasa kagum ku makin meningkat menjadi rasa suka terhadap lelaki, rasa suka ku pada mas ku sendiri….oh diary apa yang mesti ku lakukan beberapa hari ini aku selalu memandangi nya dengan penuh perasaan pernah kepergok oleh nya saat aku memandangi nya dan ternyata ia menyadari nya kami saling menatap lalu aku menunduk malu dengan muka memerah. Diary apa aku sedang jatuh cinta pada mas ku sendiri? Apa dia juga merasakan apa yang kurasakan diary?…..

Sudah dulu diary…. Nanti aku lanjutin lagi kisah ku ….bye diary….

 

===

Pov Rustam

Aku selesai membaca buku diary tini, “ternyata adik ku menyukai ku, bahkan mengharapkan cinta ku, tapi kenapa aku hanya menganggap nya hanya sebatas adik yang perlu aku lindungi, beda rasa nya jika dengan mama, rasa deg-degan jika berdekatan dengan mama, apakah aku mencintai mama ku sendiri?”. Rutuk ku dalam hati.

Aku hanya bisa memendam rasa cinta ku pada mama ku sendiri, tidak ku tunjukkan pada mama jika aku selalu tergoda sama kecantikan nya, kelembutan nya, dan yang membuat ku sampai sekarang menyimpan rasa karena kemolekan tubuh nya.

Semakin hari mama terlihat makin cantik, semakin montok, semakin seksi walaupun usia nya semakin matang dan dewasa, begitu juga dengan tini adik ku terlihat aura kecantikan nya mulai terbuka, tubuh nya mulai bertumbuh dan berkembang menjadi gadis yang seksi, 2 bidadari yang membuat ku betah di rumah.

“Nak kamu sedang ngelamuni apa?”.Tegur mama dan seketika menyadarkan ku dari lamunan tadi.

“Eh…Ma…Mama…!”, ucap ku kaget saat di tegur oleh mama.

“Apa yang sedang kamu pikirin nak?”. Ulang mama bertanya sambil duduk mendekati ku.

“Mikirin mama dan tini jika aku sekolah di palembang”.

“Maksud kamu nak, kamu akan sekolah di Palembang”.

“Iya ma, rustam mau ke STM 1 Palembang, dan nanti setelah lulus mau kerja Starvac”.

“Bagus nak, mama dukung cita-cita kamu, kebetulan papa juga dapat kenaikan pangkat dan di mutasi di polsekta seberang ulu 1 Palembang, jadi kamu nggak usah khawatir kita semua akan bersama kamu disana”.

“Yang benar ma, asyik kalo begitu rustam makin semangat biar bisa masuk kesana, doain ya ma”.

“Iya sayang, udah… Yuk kita makan! Ajak adik mu nak, tadi mama lihat sedang main sama Lia diluar”.

“Ok ma….”.

Aku melangkah keluar mencari keberadaan tini, dan setelah celingak celinguk melihat kiri dan kanan ternyata ia sedang duduk di teras rumah lia, lia usia nya sebaya dengan tini, sekolah mereka pun sama di SMP Negeri 1 Pendopo. Saat melihat ku tini dan lia berhenti berbicara dan mereka menatap ku lain dari biasa nya terutama tini yang malu-malu melihat ku.

“Eh mas….”, ucap tini setelah melihat ku.

“Nah gitu mas. Sekali-kali main ke tempat lia, nggak bosen apa di rumah mulu?”. Ucap lia.

“Hehehe…. Iya kapan-kapan deh nanti mas main ke sini, eh iya dik mas disuruh mama panggil kamu dik”.

“Lia, tini pulang dulu ya”, ucap adik ku tini pada lia.

“Lia, mas juga pulang dulu, kamu main-main ke rumah kan ada tini juga disana”.

“Iya mas, gampang itu, nanti lah lia main kesana”.

Kami bertiga saat ini sedang makan siang, papa beberapa hari ini sudah ikut pendidikan untuk kenaikan pangkat nya di SPN Betung, MUBA. Dan menurut mama setelah nanti papa akan di tugaskan di Polsekta Seberang Ulu I Palembang.

“Nak kalian berdua jaga rumah ya, mama mau pergi dulu ada arisan ibu-ibu bhayangkara, kalian kalo mau pergi keluar kunci nya taruh aja di bawah keset kaki seperti biasa”.

“Ma, rustam antar mama ya, memang nya acara arisan nya di mana ma”. Ucap ku menawarkan untuk mengantar mama arisan.

“Di polsek nak, boleh lah kalo kamu mau nganterin mama kesana”, sahut mama mengiyakan tawaran ku.

“Siap…nyonya sertu tono hartono”.

“Hahahaha…..”. Tawa mama dan adik ku lepas.

15 menit kemudian…..

“Tini, kamu jaga rumah ya, nanti mas mu pulang setelah nganterin mama, kamu jangan main ya nak, kasihan adik mu sendirian di rumah”.

“Iya ma”.

“Yuk berangkat!”. Perintah mama singkat.

Motor mulai berjalan sedang menuju ke tempat mama acara arisan nya, mama memakai pakaian seragam ibu-ibu bhayangkara dengan baju kebaya dan kain batik dengan warna jilbab yang menyesuaikan dengan warna pakaian seragam bhayangkara.

Aku berdebar saat mama duduk menyamping sambil memeluk pinggang ku, entah kenapa tiba-tiba penis ku tegang dan berdiri hanya karena di peluk mama dari samping, deru nafas nya terasa di telinga dan leher ku seperti suara alunan musik.

Akhirnya sampai juga aku mengantar mama ke tempat acara, dan sempat kulihat sudah ada beberapa orang ibu-ibu bhayangkara yang sudah datang di tempat acara tersebut, aku kemudian mencium tangan mama dan kembali balik ke rumah.

Motor sudah kumasukkan kembali ke garasi karena saat pergi tadi sengaja pintu garasi tidak aku kunci cuma di rapatkan saja, dan begitu masuk suasana rumah sepi, “kemana tuh anak tumben sepi gini, apa jangan-jangan dia keluar rumah”, gumam ku.

Ceklek….Krieekk….

Aku melongo dan terpana melihat tini membuka pintu kamar mandi hanya memakai handuk berwarna putih, yang aneh nya baru kali ini aku tergoda melihat kemolekan tubuh nya yang terlihat semakin menggoda dan seksi.

Saat ia berjalan menuju kamar nya ia sempat tersenyum melihat ku yang melongo, seolah cuek tubuh nya ku pelototi dengan tatapan penuh nafsu, sambil bilang,”mas rustam, nanti adik diajarin ya PR matematika”. Dan ia langsung masuk kamar tanpa menunggu jawaban ku.

“Dasar wanita…! Sulit untuk di mengerti”.Gerutu ku dalam hati.

 

===

Pov Rustam

Setelah tini masuk ke kamar nya, aku masuk ke kamar ku, niat ku mau kerjain PR Fisika dan Matematika. Aku mulai membuka buku pelajaran fisika dan mulai mengerjakan PR fisika, soal-soal nya ku jawab dengan lancar dan baik dan setelah selesai aku dikagetkan dengan suara tini yang masuk ke kamar ku dengan membawa beberapa buku, lalu aku mengerjakan PR matematika dan menjawab semu soal nya dengan rumus-rumus dan pengerjaan nya yang ku ketahui dari buku pelajaran matematika serta penjelasan guru matematika pagi tadi, “selesai juga PR fisika dan matematika”, gumam ku di hati.

Setelah selesain tugas PR, aku menoleh ke belakang, mendapati tini sedang rebah berbaring tengkurep dengan mengangkat kedua kaki nya tinggi tinggi.

Ia tersenyum saat aku melihat nya, “mas rustam sini mas, ajarin adik ngerjain PR matematika”. Panggil nya dari arah ranjang ku.

Aku mendekati tini dan kemudian ikut tidur tengkurep seperti nya, jarak kami sangat dekat dan kulihat buah dada nya yang masih tahap pertumbuhan, terlihat indah dari sela-sela ketiak nya.

“Dik mas mau tanya, boleh dijawab boleh tidak?”.

“Mau tanya apaan mas?”, tanya nya balik penasaran.

“Apa kamu saat ini sedang suka sama seseorang dik, mas perhatiin kamu selalu tersenyum kamu sedang jatuh cinta ya…?”, selidik ku.

Dia diem dan menunduk, ku lihat muka nya merah tersipu seperti orang yang habis di puji oleh orang yang dia cintai.

“Kok diem dik. Ada yang salah kah dengan pertanyaan mas?”.

“Mas janji dulu sama tini, kalo nggak tini seumur hidup akan benci sama mas”.

“Mas janji, buruan mas penasaran siapa cowok yang beruntung itu dik yang telah bikin adik ku yang cantik ini jatuh cinta”, ucap ku pura-pura tidak tau perasaan nya.

“Serius mas, janji dulu mas nya, ikuti kata tini demi allah, aku rustam anwar tidak akan marah, benci ataupun menjauhi adik ku, hartini jika ia mengatakan cowok yang membuat nya jatuh cinta, dan bila aku sudah mengetahui nya, maka aku akan tetap menjaga nya sebagai adik nya jika aku tidak menyukai nya”.

“Ayo mas katakan seperti yang barusan tini ucapkan”.

“Demi Allah, aku Rustam Anwar tidak akan marah, benci ataupun menjauhi adik ku hartini, jika ia mengatakan cowok yang membuat nya jatuh cinta, dan bila aku sudah mengetahui nya, maka aku akan tetap menjaga nya sebagai adik nya jika aku tidak menyukai nya”.

“Sudah dek, sekarang kamu jawab siapa cowok itu?”.

“Cowok itu…… Nama nya…… Rus…Rustam Anwar”. ucap nya sambil ia menundukkan kepala nya karena malu dengan muka bersemu merah.

Aku sesaat diam, ku angkat dagu nya dan ku cium kening nya, kami berdua bertatapan mata, ku tau ia jujur menyukai ku dari hati nya yang terdalam, tetapi aku yang belum yakin sama perasaan ku.

“Mas sebenar nya sudah tau kamu suka pada mas, mas sudah baca buku diary kamu dik kemaren, mas jujur kaget dan tidak percaya adik ku suka sama mas nya sendiri, Tapi mas hargai keberanian dan kejujuran kamu dik, beri mas waktu untuk memupuk rasa sayang pada mu dik seperti yang sudah kamu punya, rasa sayang sebagai kekasih, percaya saja kalo memang kita di takdir bersama akan ada jalan buat kita mewujudkan nya”.

“Dan hari ini mas janji akan belajar mencintai kamu dik sebagai kekasih mas, kita jalani semua dengan bersama, kamu mau dik menunggu mas”.

“Beneran mas mau sama adik”, ucap nya setengah tidak percaya.

“Iya dik, mas sebenar nya suka sama kamu, tapi untuk menumbuhkan cinta sebagai kekasih mas butuh waktu. Kamu mesti sabar ya dik tidak gampang buat mas jatuh cinta kalo belum dari hati, dan ingat jangan sampe papa dan mama”.

Cuupppp….. “Makasih sudah mencintai ku adik ku tini, mas akan selalu menjaga mu, ada selalu di dekat mu, menjadi teman, kakak bahkan suami mu kelak”.

“Mas rustam”, ucap nya memanggil nama ku dan memeluk ku erat.

Karena posisi kami yang rebahan memudahkan kami untuk saling menjamah, membelai, bahkan mencium.

Saat ku bisikan aku ingin mencium bibir merah nya yang merah merona, tini mengangguk mengijinkan.

Aku mendekatkan mukaku hingga jarak wajah kami hanya dibatasi hidung kami masing-masing, ku beranikan diri mencium bibir nya dengan mata terpejam, bibir kami sudah menempel tapi belum ada reaksi dari tini, bibir nya masih terkatup dan tak merespon.

“Dik balas ciuman mas, kita belajar sama-sama”.

Ia mengangguk, kami mulai berciuman lagi kali ini tini cepat belajar, tini membalas cumbuan bibir ku, seketika kami berdua larut dalam ciuman, ku coba memancing lidah nya, dengan menjulurkan lidah ku.

Mulai hari itu kami berdua menjadi sepasang kekasih, aku bertekad kelak akan menjadikan nya pendamping ku, istri ku dan ibu dari anak-anak ku kelak, secara agama islam kami berdua boleh menikah karena bukan saudara kandung, saudara sepersusuan, dan lain sebagai nya. (Juli 1995)

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo