loading...

Diary…. Pengen banget aku menemui mereka dan kembali ke mereka layak nya keluarga seperti dulu, tapi aku malu diary, malu dengan masa lalu ku, malu dengan mas rustam yang begitu baik memperlakukan istri dan anak nya, tidak seperti suami ku yang tidak berubah sikap dan watak nya malah semakin sering aku ditinggal dalam kesendirian untung saja ada citra yang membuat aku kuat menjalani ini semua.

Diary…. 4 bulan lalu aku mendapatkan sms terakhir dari sahabat ku setelah ia menjalani operasi cesar dalam sms nya ia meminta ku untuk mendekati mas rustam kembali dan semoga aku bisa memas rustam sesuai permintaan nya, aku ingat saat terakhir ia menelpon ku, ” tini aku akan kembalikan orang yang selama ini kamu cintai, aku percaya mas rustam akan bisa membahagiakan mu, semoga kalian di takdirkan menjadi pasangan suami istri”.

Aku mendengarkan tangisan lia saat itu, ia rindu dan mengharapkan kehadiran ku, seketika aku meminta ia untuk mengirim sms lokasi rumah sakit dan no. kamar rawat inap nya biar aku segera kesana.

Diary….. Aku dan lia akhirnya bertemu setelah beberapa tahun kami terpisahkan, kami berpelukan melepas rindu dan terlihat dari wajah nya terlihat ia tersenyum walau ku tau ia saat ini mengalami sakit dan nyeri di dada sebelah kiri nya, ya penyakit jantung koroner yang ia derita sejak usia 8 tahun kembali kambuh dan ini yang terparah, hanya dengan ku ia berani bercerita bahwa ia mungkin tidak lama lagi meninggalkan kami semua, dia tidak mau membuat mas rustam sedih akan kepergian nya nanti dan meminta ku untuk menggantikan nya menemani mas rustam menjadi istri nya.

“Mau kan ka…mu jadi istri mas rustam tin, cuma kamu yang aku per…caya untuk meng….urusi anak ku putri bersama mama yatmi”, ucap lia terbata-bata sambil mengatur nafas nya untuk mengatakan itu.

Diary…. Aku tidak tega untuk bilang tidak sama lia, hanya mengangguk walau aku tau mungkin kami berdua tidak ditakdirkan berjodoh, sebelum ia bilang bahwa sebentar lagi mas rustam dan keluarga datang aku segera akan datang, aku malu untuk menunjukkan wajah ku dihadapan mas rustam dan mama yatmi, walau mungkin mereka sudah bisa melupakan kejadian memalukan itu tapi hati ku mengatakan bahwa sebaiknya aku pergi sebelum mereka datang.

Diary… Ku cium kening lia untuk terakhir kali nya, sebelum aku bilang bahwa aku akan menyusul nya di keabadian entah kapan waktu nya.

Diary….. Saat aku keluar dari rumah sakit aku sempat melihat rombongan mas rustam dan keluarga, mama yatmi, agus, bapak dan ibu mas rustam dan mas dedi kakak nya turun dari mobil carry, aku bersembunyi dari situ dan hanya melihat mereka dari kejauhan, butiran air mata ku jatuh saat melihat lelaki yang kucintai semakin tampan dengan tubuh kekar, “mas rustam, aku kangen sama kamu, makasih sudah pernah menjadi bagian hidup ku, cinta pertama dan selama nya hanya untuk mu mas”, batin ku.

Diary…. Pulang ke rumah aku mendapati citra tertidur di rumah tetangga asrama, bu tuti tetangga yang baik yang mengganggap kami bagai saudara nya, suami bu tuti bernama letnan dua jaka pratama, rekan suami ku di kepolisian daerah DIY.

“Bu tuti, makasih banget sudah membantu tini, jadi ngerepotin ibu karena citra nggak bisa diajak ke dalam rumah sakit”, ucap ku pada bu tuti.

“Santai saja bu, kita tetanggaan dan sudah seperti saudara jangan sungkan kalo mau nitipin citra bu, nggak repot kok malah senang ada citra”, ucap nya dengan ramah dan tidak merasa keberatan.

Diary……Aku lalu menggendong citra yang tertidur di sofa rumah bu tuti, lalu membawa nya ke rumah dan menidurkan nya ke kamar ku, ku pandangi wajah nya yang cantik yang mengingatkan ku akan ayah kandung nya yang sesaat lalu sempat ku lihat di rumah sakit bethesda.

“Nak maafin mama ya, seharusnya kamu bahagia dengan papa kandung mu, bukan malah mendapatkan papa yang tidak bertanggung jawab seperti dia”, rutuk ku menyesali semua ini.

“Ma….Mama kok nangis…!”, ucap citra saat ia melihat ku menangis melihat keadaan nya saat ini.

“Nggak nak, tadi mama habis ngiris bawang di dapur pas ke kamar bawa kamu mama jadi keluar air mata, kamu tidur saja dulu nanti mama masakin kamu ya nak”, ucap ku kembali mencium kening nya dan mengusap air mata ku.

Diary….. Lalu aku ke dapur untuk memasak dan membuatkan makan untuk kami, beberapa masakan ku buat demi membuat anak ku senang, hanya citra yang bisa membuat ku tersenyum dibalik kesedihan ku selama ini.

Diary….. “Ma, papa kangen sama kamu”, bisik mas tono suami ku yang entah sejak kapan ia pulang karena tau-tau sudah berada di belakang ku.

“Jangan pa, nanti saja mama sedang masak nih”, ucap ku menolak halus diri nya.

“Sebentar saja ma”, ucap nya sambil mengangkat rok ku ke atas dan menurunkan cd ku.

“Awwww….Pa… sakit… papa gitu!”, jerit ku merasakan nyeri saat penis nya memaksa menerobos masuk tanpa memperdulikan vagina ku siap apa belum.

“Enak ma, memek kamu rapet banget, aaaahhhh…. uuuuuhhhh…. oooohhhh…”, lenguh nya saat ia memompa dengan cepat penis nya di vagina ku.

Aku mengernyit menahan sakit di sekitar vagina ku, “bajingan kamu pa, tidak ubah nya kamu menganggap ku seperti wanita murahan, semakin jijik aku pada mu”.

Entah berapa menit ia memompa ku, saat aku mulai merasakan nikmat justru ia telah lebih dulu menembakkan benih nya di rahim ku, “pa kok sudah keluar dasar loyo bisa ngecrot saja tapi nggak bisa bikin mama puas”, dengus ku kesal lalu segera aku lari ke kamar mandi dan mencuci bersih bekas sperma nya hingga tuntas.

Diary….. Hal yang membuat ku semakin jijik pada nya karena sikap nya tak ubah nya menganggap diri ku hanya tempat pembuangan sperma nya, tanpa peduli aku puas atau tidak dalam persetubuhan itu.

Diary…. 3 hari kemudian setelah aku menjenguk lia di rumah sakit aku mendapatkan kabar lia meninggal dari suami ku, ternyata pak dodit ayah lia yang memberitahu ke suami ku perihal meninggal nya lia, hari itu juga aku bersama citra dan suami ku pergi ke perumahan mataram bumi sejahtera untuk melayat sahabat ku untuk terakhir kali nya.

Diary…. Tau nggak apa yang membuat ku bahagia? Ya aku bahagia saat citra dan rustam bertemu dan mereka berdua seperti ada ikatan batin pertama kali bertemu langsung dekat bahkan tanpa malu dan ragu citra memeluk mas rustam seperti ia melihat sosok ayah nya di diri mas rustam.

Diary….. Selama 3 hari aku ikut menemani keluarga mas rustam selain karena kangen aku juga merasakan kebahagiaan saat aku bisa kembali dekat dengan mas rustam dan mama yatmi, mereka ternyata menyambut ku seperti dulu tidak ada kebencian di wajah mereka bahkan mama yatmi bisa menerima citra anak ku dan mas rustam tetapi untuk saat ini biar saja dulu mas rustam jangan sampai tau supaya ia bisa fokus kembali menata hidup nya karena kepergian lia sahabat ku.

Diary…. Saat mas rustam dan agus mengatarkan ku pulang seakan aku tidak ingin berpisah dengan nya, hati ku seakan berat saat aku melangkah turun masuk ke rumah dan kalimat yang keluar dari bibir mas rustam yang mengatakan bahwa ia menyayangi ku seperti layaknya kakak dengan adik membuat hati ku sedih, seakan kami memang sudah ditakdirkan untuk tidak bisa bersama sebagai suami istri, tapi aku bersyukur masih bisa dianggap adik oleh nya.

Diary….. Saat aku sudah masuk ke dalam rumah dan menidurkan citra, tiba-tiba penglihatan ku kabur dan seluruh tubuh ku melemas, aku tak ingat lagi saat itu, yang ku ingat aku saat ini sudah berada di rumah sakit bhayangkara, di tunggui oleh mas tono.

“Ma…. Maafin papa ya, maafin papa ma….”, ucap mas tono terisak menangis memeluk ku erat.

“Ada apa pa, kok papa nangis, emang nya ada apa pa?”, ucap ku bingung dan semakin penasaran.

“Maafin papa, karena papa mama jadi ikut tertular dan papa baru tau itu ma”, ucap nya sesegukkan menangis.

“Apa pa? Mama nggak ngerti…!”, ucap ku setengah berteriak minta penjelasan nya.

“Kamu terkena penyakit HIV AIDS ma, itu karena papa ma, maafin papa ma”, ucap mas tono terbata-bata sambil mengatur nafas nya yang mulai berat karena merasa berat mengucapkan kata demi kata dari mulut nya.

PLAAAAKKKK…. PLAAAKKKK…..

“Jahat kamu pa, nggak puas apa sudah bikin masa depan ku rusak malah sekarang membuat hidup ku menderita dengan ulah bejat mu, sekarang mama minta papa ceraikan mama nggak mau lihat kamu lagi pa”, bentak ku seketika emosi ku meningkat aku tak peduli akan gimana nasib ku ke depan nya.

“Sabar ma, kita omongin baik-baik, kita cari obat nya biar kita bisa sembuh”, ucap nya menenangkan ku yang sudah tersulut emosi.

Hikssss…. Hikssss….Hikssss…. Diary mungkin ini akhir dari penderitaan ku hancur rasa nya mendengar aku terjangkiti virus yang mematikan yang menggerogoti kekebalan tubuh ku, entah sampai kapan aku bisa bertahan dari penyakit ini, ya allah apa dosa ku hingga aku terkena virus HIV, apa ini karma ku karena kesalahan ku masa lalu”, berdoa dalam hati untuk meredam emosi ku.

Diary…… Sepulang nya dari rumah sakit aku sedikit banyak sudah bisa menerima keadaan ku walau terkadang menyimpan penyesalan kenapa semua ini terjadi pada ku, berkat aku sering mengikuti pengajian dengan ibu-ibu asrama aku mengenal seorang ustadzah, dan dengan beliau aku belajar untuk menjadi muslim yang taat, selama ini aku telah banyak melakukan dosa, dosa besar yang mungkin sekarang mendapat buah dari kesalahan masa lalu ku.

Diary….. Aku memutuskan untuk bertobat dan mengubah jalan hidup ku untuk lebih baik lagi, dengan lebih dekat kepada-Nya aku merasa kuat untuk menjalani hidup yang entah sampai kapan aku akan dijemput oleh Sang Maha Kuasa.

(Diary…. tahun 2001)…..

Diari….. 1 tahun kemudian semua cara pengobatan telah aku dan suami ku jalani, sampai saat ini belum ada vaksin atau obat yang bisa membunuh virus tersebut, hanya saran dokter saat itu untuk menjaga kekebalan tubuh mesti banyak melakukan olahraga, mengkonsumsi obat-obatan suplemen penambah imun, mengkonsumsi sayur-sayuran alami dan berhubungan badan mesti menggunakan pelindung supaya tidak menularkan virus HIV AIDS kepada orang lain.

Diary…. Hubungan ku dengan mas tono sejak itu semakin hambar, aku sudah tidak mau lagi melayani kebutuhan seksual nya, walau ku tau itu berdosa karena melalaikan kewajiban ku sebagai istri tetapi itu bentuk rasa marah, kesal dan kecewa ku karena sikap dan perbuatan nya yang telah menodai pernikahan kami dengan masih bermain wanita yang berakibat fatal tertular nya virus mematikan itu.

(Diary … tahun 2002)……

Diary…. Sudah 2 tahun sejak kematian lia sahabat ku, dan sudah 2 tahun pula aku mesti bergelut dengan penyakit ini, citra sekarang sudah sekolah di TK (Taman Kanak-Kanak) di dekat perumahan dinas kepolisian, saat aku mendaftarkan diri ke sekolah aku mencantum kan nama rustam anwar sebagai ayah kandung nya bukan tono hartono, dan memberi nama anak ku menjadi CITRA RAHAYU ANWAR, supaya dikemudian hari akan memudahkan mengurus administrasi sekolah nya jika aku meninggalkan dunia ini untuk selama-lama nya.

Diary….. Tau nggak hal yang membahagiakan kami saat itu adalah saat mas rustam mengajak ku dan citra wisata ke candi borobudur dan candi prambanan, aku sangat senang sekali dan merasa bahagia saat ia menelpon ku dan meminta aku dan citra saat itu untuk ikut serta bersama-sama mereka, dan saat aku diantar mas tono ke rumah mereka, mas rustam tersenyum melihat ku menggunakan jilbab dan mengatakan aku semakin cantik dengan berpakaian seperti ini, dan sempat meminta berfoto dengan nya dengan terlebih dahulu meminta ijin pada mama yatmi sebagai istri nya mas rustam.

Diary….. Begitu damai, tenang dan bahagia saat itu, aku bisa sedikit melupakan penyakit ku, aku bisa merasakan ketulusan mereka pada ku dan citra, terutama mas rustam, entah kenapa ia memperlakukan citra sama seperti anak-anak nya yang lain, memberikan kasih sayang nya pada citra, bahkan putri anak sahabat ku lia semakin lengket dan akrab dengan citra anak ku sampai-sampai sepulangnya dari tempat wisata ia seakan tidak mau berpisah dengan putri dan merengek untuk ikut menginap di rumah mereka, dan aku pun diminta nya sekalian ikut menginap karena memang hari itu mas tono sedang berpatroli dengan mobil dinas nya.

Diary….. Akhirnya mas tono bercerita siapa sebenarnya yang menularkan virus ini, seorang wanita panggilan yang ia kencani saat itu, wanita itu seorang mahasiswa di kampus yang sama dengan mas rustam bernama amanda putri, dari nya ia tertular dan manda nama wanita itu mengaku ia terjangkiti dari pria bule yang berasal dari kanada yang menyewa jasa nya saat itu, dan karena pengaruh alkohol ia tanpa sadar melakukan hubungan badan tanpa menggunakan kondom dan sperma lelaki itu menulari nya hingga kini virus itu pun bersemayam di diriku.

Diary…. Aku ingin sekali rasa nya mengatakan semua ini pada mas rustam, biar beban yang ku rasakan sedikit berkurang, tetapi aku malu dan tak sanggup untuk berkata jika sudah berada di dekat nya, mulut ku seperti terkunci saat melihat senyum nya yang melelehkan jiwa raga ku, ketulusan dan perhatian nya sama seperti yang kurasakan dulu, tetapi yang berbeda dari nya sekarang adalah ia bisa mengontrol diri nya, ia bisa menahan nafsu dan syahwat nya yang membuat aku semakin bangga dan salut dengan semakin dewasa nya mas rustam, ia berkata bahwa “ia memegang kepercayaan istri itu sangat penting, sekali kita melanggar kepercayaan nya, maka akan terus berulang bahkan menjerumuskan diri kita semakin dalam ke dalam kemaksiatan, cukuplah semua kesalahan masa lalu menjadi pelajaran berharga buat kita dik, jangan kita ulangi lagi kalo perlu kita mesti memperbaiki kesalahan itu dengan menjadi pribadi yang lebih baik, utama nya pada pasangan kita saat ini”.

(Diary… tahun 2005, saat mas rustam wisuda)….

Diary….. 3 tahun kemudian , atau 5 tahun setelah kepergian lia sahabat ku, mas rustam akhirnya wisuda, aku ikut bahagia saat ia dan mama yatmi menelpon ku untuk sama-sama menghadiri acara wisuda nya, bapak dan ibu nya mas rustam beserta mas dedi dan istri nya pun sampai mau datang untuk melihat dan menyaksikan acara wisuda tersebut.

Diary…. Aku sempat meneteskan air mata, air mata bahagia saat melihat mas rustam berdiri gagah dengan berpakaian toga, maju ke depan bersalaman dengan rektor dan menerima gulungan kertas yang berbentuk bulat entah apa itu nama nya, dan dari topi nya kuncir nya dipindahkan oleh rektor itu. Aku, mama yatmi dan seluruh anggota keluarga beserta teman-teman mas rustam memberikan tepuk tangan nya saat itu, “duh bahagia sekali aku mas, sekarang kamu sukses menggapai cita-cita yang kamu impikan sejak kita masih kecil dulu, ingat benar saat aku menanyakan cita-cita mas rustam apa ya, dengan yakin dan tegas kamu mengatakan ingin jadi insiyur perminyakan dan kerja di STANVAC CO dan semua itu sekarang menjadi kenyataan, selamat mas rustam, selamat kekasih ku, selamat untuk mu papa dari diri ku yang hanya bisa menjadi adik mu bukan menjadi pendamping hidup mu”, batin ku.

“Ma, boleh ya aku buka semua ini, sudah nggak kuat rasanya aku menanggung semua ini, aku nggak kuat ma, hiksss….hiksss..hiksss… mas tono selingkuh ma….”, bisik ku pada mama yatmi yang duduk di samping ku saat acara wisuda itu.

“Boleh tin, tapi jangan sekarang ya, biarkan dulu rustam merasakan kebahagiaan nya, merasakan bersama orang-orang yang dicintai nya”, jawab mama yatmi balas membisiki ku.

“Tapi ma, umur ku belum tentu bisa lama lagi, aku…. aku…. sekarang terkena HIV AIDS dan semua itu karena mas tono yang menulari ku ma hiksss….hiksss…hiksss….”.

Aku segera dipeluk oleh mama yatmi, ada kesedihan di mata nya saat mendengar aku mengatakan semua ini dan ia mengelus rambut ku yang tertutup jilbab lalu membisiki ku, “mama akan bantu kamu untuk membicarakan masalah ini dengan rustam, maafin mama tin, tidak seharusnya kamu menderita seperti ini, semoga masih ada waktu dan kesempatan untuk kita memperbaiki semua ini, mama akan bantu, hiksss…hiksss…hiksss…

Diary…. Tangis kami berdua pecah ditengah keriuhan acara wisuda itu, mungkin mereka mengira kami menangis bahagia saat itu, tapi kenyataaan nya kami berdua menangis karena hal yang menyedihkan, aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada mama yatmi, ” makasih ma, makasih buat semua nya, tini sayang sama kalian, maafin semua kesalahan tini dulu ya ma, bikin mama dan mas rustam kecewa dan sakit hati”.

Diary…. Acara wisuda itu akhirnya selesai, dan masing-masing mereka yang wisuda berhamburan membubarkn diri menemui anggota keluarga nya, semua nya tersenyum bahagia saling berpelukan dengan orang-orang yang dicintai nya. Begitu juga dengan mas rustam, saat ini ia langsung menemui kami, pertama kali yang ditemui nya adalah bapak dan ibu nya, ia menangis dihadapan orang tua nya, menangis bahagia karena perjuangan nya berhasil, perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan pendidikan yang layak yang tidak semua orang bisa seberuntung diri nya, dari keluarga tidak mampu bisa kerja dan kuliah gratis bahkan nanti setelah jadi insiyur karir nya di perusahaan akan semakin meningkat.

Lalu ia mendekati kakak nya, mereka berdua berpelukan erat dan hal yang mengharukan mas dedi pun ikut meneteskan air mata saat itu, lalu ia mendekati yatmi dan aku dengan wajah yang berseri-seri ia memeluk istri nya lalu mengucapkan kata terima kasih karena telah sabar menemani nya hingga ia bisa wisuda, dan pada ku ia ikut bahagia karena aku mau menghadiri wisuda nya, saat itu mama yatmi mengangguk pada ku memberi ijin aku untuk memeluk mas rustam”, mas selamat ya, adik bangga sama kamu mas, semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan, selamat ya mas”, bisik ku saat kami berpelukan untuk menumpahkan rasa bahagia saat itu.

Diary….. Mas rustam mengajak kami makan-makan saat itu di sebuah restoran, keceriaan, dan kebahagiaan terpancar dari wajah kami saat acara makan-makan itu, apalagi saat aku melihat keakraban agus, putri, dan citra saat itu, mereka tak lelah bercerita sepanjang acara makan siang bersama, dan anak mas rustam bernama rizki malah tanpa malu duduk dipangkuan ku, ia memanggilku dengan sebutan ibu, entah siapa yang mengajari nya, apa mungkin mama yatmi yang membisiki rizki, tapi dengan panggilan itu aku senang diary…. aku seperti bagian keluarga mereka saat itu, saat aku melihat mama yatmi, ia memberi kode untuk ku menyuapi rizki dan aku melakukan nya dengan tulus seperti layak nya ibu pada putra nya.

Diary…. Kata ibu yang diucapkan oleh rizki membuat aku menangis terharu dan bahagia, setelah aku selesai makan aku pamit untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur, ya waktu itu semua melaksanakan sholat di musholah rumah makan setelah kami semua selesai menyantap makan siang bersama, dan setelah selesai sholat aku mengangkat kedua tangan ku, bermunajat pada nya”, ya allah berikanlah selalu kebahagiaan pada keluarga mas rustam, jika Engkau memanggil ku berikan kesempatan pada ku untuk mengatakan dan menitipkan anak ku citra pada mas rustam ayah kandung nya, ampuni semua kesalahan dan dosa-dosa ku baik yang telah kulakukan di masa lalu maupun dosa-dosa ku saat ini….. amiiieennn ya robbal alamin….”.

 

===

Pov rustam

Aku mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, berkat ridho-Nya aku kini bisa menyelesaikan study ku dan berhak atas gelar insiyur, di nama ku, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk meraih nya, tidak semudah membalikkan telapak tangan tapi semua itu juga berkat istri ku yatmi yang setia menemani ku, mendukung ku, memberikan semangat padaku bahkan memberi nasehat saat aku mengalami masalah baik kuliah maupun mengenai pergaulan dengan sesama teman di kampus.

Yang membuat ku bersyukur adalah saat aku bisa menjaga kepercayaan nya untuk menjaga hati ku tak berpaling mencari wanita yang lebih muda, cantik dan seksi dari nya, itu ku syukuri karena hal itu juga sekaligus membebaskan ku dari kemungkinan ku terjangkiti penyakit kelamin, atau yang lebih parah HIV AIDS, dan hal yang membuatku terkejut sekaligus kaget saat yatmi istri ku menceritakan semua masalah tini yang sekarang menderita HIV karena kelakuan papa tono yang masih bermain wanita setelah mereka menikah dan entah dari siapa penyakit itu tertulari karena tini tidak menceritakan semua nya pada yatmi istri ku.

“Pa, mama minta papa ngomong 4 mata sama tini, sudah waktu nya papa mesti tau kebenaran nya, CITRA RAHAYU ANWAR, itu nama anak tini dengan mu pa, ingat nggak pa, saat terakhir kali kalian berdua melakukan nya di hotel sebelum kita berangkat ke pendopo, saat itu tini sedang masa subur dan kejadian itu membuat is hamil pa, umur citra dengan agus selisih 2 minggu lebih tua citra arti nya memang benar citra itu anak papa, dan setau mama, selama mama menikah dengan mas tono, dia nggak bisa membuahi mama, bertahun-tahun lama nya sampai kita melakukan nya dan mama hamil, artinya mas tono itu mandul pa, mama minta papa terima citra sebagai anak papa, ingat pa, anak itu titipan allah dan akan menjadi berkah buat kita jika kita merawat dan mengasuh nya, mama akan menerima citra jika papa pun menerima nya dengan tulus seperti anak kita yang lain, mama percaya papa lelaki bertanggung jawab, cuma itu permintaan mama, tini pasti bahagia jika papa bisa menerima nya sebagai ibu dan istri nya walaupun mungkin kalian tidak bisa berhubungan suami istri itu permintaan nya sebelum ajal menjemput nya, tolong papa kabulkan permintaan nya karena saat ini ia sudah mengajukan surat cerai pada mas tono dan mungkin 2 bulan ke depan status tini resmi sebagai janda, papa mau kan kalo menjadikan tini istri papa, demi mama dan citra pa supaya ia mendapatkan kasih sayang seperti yang lain, kalo kalian belum sah sebagai suami istri tentu kalian akan canggung untuk mencurahkan kasih sayang kalian pada citra”, ucap yatmi menjelaskan panjang lebar permintaan dan permasalahan tini selama ini.

“Apa kamu ikhlas ma, jika papa menikah lagi, papa nggak mau membuat mama berbagi seperti bunda kemaren”, ucap ku mengulangi lagi perkataan nya.

“Lahir batin mama ikhlas pa, tini itu selain ponakan mama juga anak mama pa, mama tau selama ini cinta dan sayang nya itu hanya pada mu nak, cobalah papa memberikan kesempatan dan bahagiakanlah ia layak nya seperti istri papa sebelum nanti papa akan menyesal kehilangan ia sebelum sempat membahagiakan nya”.

“Baiklah ma, papa akan menikahi tini, semoga ini akan membuat nya bahagia, jujur ma, papa juga masih menyayangi nya bukan seperti kekasih lagi tapi seperti adik jika papa bisa membuat nya bangkit menjalani dan melawan penyakit nya papa akan lakukan untuk membahagiakan nya”, ucap ku yakin dan tegas dengan keputusan ku.

“Makasih suami ku sayang, kamu memang lelaki yang hebat, mama bangga sama papa, pa….. kangen-kangenan yuk…!”, bisik nya manja memeluk ku.

“Udah kangen ya ma sama dedek papa, hehehehehe, sini sayang lebih dekat!”, ucap ku sambil menarik pelan tubuh nya dan mulai kurebahkan tubuh nya ke pembaringan.

Suatu persetubuhan yang penuh cinta kasih kami lakukan malam ini, saling memberi dan menerima rasa cinta dalam bentuk perlakuan yang menghasilkan kepuasan batiniah bagi sepasang suami istri, desahan leguhan dan rintihan nikmat kelur dari bibir kami masing-masing hingga akhirnya kepuasan itu datang dan semua tertumpahkan dalam rahim istriku yang masih berproduksi.

“Pa, kok di keluarin di dalam, apa papa mau nambah lagi nih, padahal lagi subur saat ini pa, jujur mama pun nggak tega tadi mau bilang kalo mama sedang subur… Kalo jadi anggap saja bonus dari Allah ya pa”, ucap istri ku bermanja-manja setelah kami selesai menjalani hubungan suami istri.

“Banyak anak banyak rezeki ma, yaudah nanti kalo mama hamil lagi, sebaiknya setelah kehamilan ini kita stop punya anak ma, kasihan mama, makin bertambah usia makin rawan ma melahirkan, kalo papa ma enak cuma kasih benih yang repot kan mama melahirkan itu berjuang antara hidup dan mati, mama kb aja ya biar nggak kelepasan kita”, ucap ku sambil membelai rambut hitam nya.

“Makasih pa, cuuuuppp….i love you papa, yuk bobok pa!”, ucap nya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua.

6 bulan kemudian…..

Pov rustam

“AKU TERIMA NIKAH DAN KAWIN NYA HARTINI BINTI SUDJIMAN DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN SEBUAH CINCIN SEBERAT 20 GRAM DIBAYAR TUNAI”,

“Gimana para saksi?”, ucap penghulu menanyakan saksi ku yaitu papa dodit.

“Sah”, ucap papa dodit tegas.

“Sah”, ucap kakak tini bernama Bimo Arya

“Amiiieeennnn”, gumam ku berdoa di hati saat selesai mengucapkan ijab qobul pada tini.

Ia mencium buku tangan ku dan ku cium kening nya saat acara prosesi ijab qabul selesai begitupun doa nya.

Yang menjadi wali dari tini adalah bapak sudjiman yang juga kakak kandung dari yatmi istri ku, beliau berpesan dan menitipkan tini pada ku setelah ia tau kondisi anak nya yang saat ini menderita HIV AIDS, “Makasih nak rustam, bapak ucapkan terima kasih tolong bahagiakan tini di sisa umur nya ya nak, eh iya maaf kalo aku panggil kamu nak, biasa nya kamu panggil aku mas hehehhe lucu kalian, memang takdir dan jodoh hanya allah yang tau ya rus”, ucap nya setelah selesai acara ijab qabul.

Setelah wisuda, 2 bulan kemudian aku ke jakarta, aku sengaja tidak membawa serta istri dan anak-anak karena hanya mengurus admisnitrasi dikantor pusat dan rencana penempatan tugas ku yang kemungkinan besar akan ditempatkan di sungai gerong, plaju palembang.

Dan hari ini kami sekeluarga berada di pendopo, di rumah orang tua lia, acara mempertemukan putri sama kakek dan nenek nya, acara ijab qabul pun itu juga permintaan beliau yang meminta diadakan di rumah dinas nya.

“Nak rustam, mobil kamu ayah rawat masih bagus kok, kamu bawa aja nanti ke palembang, daripada nganggur disini”, ucap ayah mertua ku.

“Buat ayah dan ibu saja, itu kenangan dari rustam yah, eh iya katanya ayah dan ibu mau berangkat haji, tahun ini juga ya, kalo mbok siti tahun ini juga yah, cuma karena rustam pindah ke palembang jadi bingung ngurusin nya, apa bisa pindah kloter ya yah biar bareng sama ayah dan ibu, soalnya mbok siti itu sudah seperti orang tua kami yah, rus titip sama ayah dan ibu kalo bisa”.

“Iya rus, ayah dan ibu tahun ini berangkat nya, bisa kalo pindah kloter nanti ayah bantuin ngurus nya, nggak apa-apa nih biat ayah mobil kamu, wah makasih ya nak, semoga rezeki mu makin bertambah dan berkah ya nak”. ucap ayah mertua ku.

“Amiieenn”, sahut ku mangamini ucapan ayah mertua ku barusan.

“Yah, rustam mau ngumpul dan ngobrol sama mereka, rustam tinggal bentar yah”, ucap ku lalu mencium buku tangan ayah mertua ku.

“Eh papa, sini pa duduk dan ngumpul bareng”, ucap citra kegirangan saat melihat ku mendekati mereka.

“Iya nak, sini papa peluk kamu nak”, ucap ku pada citra lalu merentangan tangan ku.

“Putri juga pa pengen di papa”, ucap putri yang langsung bangkit dari pangkuan ibu ratna nenek nya.

“Ada papa nya nenek nya ditinggal, hehehehe”, canda ibu ratna mertua ku.

“Putri sayang kok sama nenek tapi juga pengen dipeluk papa sama kayak mbak citra nek”, ucap putri beralasan.

“Iya, rus kamu enak banyak anak semoga kamu bisa bersikap adil jangan membeda-bedakan kasih sayang kamu pada anak-anak mu”, ucap ibu ratna mengingatkan ku.

“Pasti bu, semua rustam sayangi, dan tidak akan membeda-bedakan kasih sayang rustam pada mereka”, ucap ku mengiyakan permintaan ibu mertua ku.

“Mbakyu…. Eh ibu ana… maaf masih kagok ngomong nya, rustam mohon restu ibu, juga ibu ratna doakan supaya rustam bisa membahagiakan kedua istri rustam dan anak-anak kami”.

“Iya nak ibu doakan kamu bahagia bersama istri dan anak-anak mu”, ucap ibu ratna menyahuti.

“Ibu juga merestui pernikahan kalian, ibu titip dan percayakan anak dan cucu ibu pada mu nak, semoga kalian berbahagia”, jawab ibu ana ibu nya tini yang juga kakak ipar yatmi istri ku.

“Mama, dik tini bisa kita bicara sebentar, ibu ana, ibu ratna, rustam permisi sebentar mau ngomong dengan mereka berdua, rustam titip anak-anak bentar bu”, ucap ku meminta ijin pada kedua mertua ku saat itu.

“Nak papa mau ngomong bentar sama mama dan ibu tini ya, citra dan putri ikut nenek ya nanti kita main lagi”, ucap ku lalu mencium kening mereka satu persatu dan juga kening agus dan rizki yang sedang asik main berdua menemani rizki main mobil-mobilan.

“Yuk sayang kita obrolin di kamar”, ucap ku kepada kedua istri ku.

 

===

Pov tini

Aku mengikuti suami ku dan mama yatmi masuk ke dalam kamar, entah apa yang ingin ia obrolin saat itu, tetapi sebagai istri nya aku percaya penuh dengan sikap dewasa mas rustam sebagai kepala keluarga.

“Mama, dan ibu, sekarang kalian berdua istri papa, kalian berdua meski akur papa janji akan memperlakukan sama adil nya kalian berdua, dan mulai sekarang kita bertiga berbagi beban dan masalah bersama-sama kita hadapi masalah keluarga kita”, ucap mas rustam memulai omongan nya.

“Kalo mama ikhlas pa, justru mama bahagia papa bisa menikahi ibu tini papa nggak usah khawatir mama akan ikut bantu ibu tini melawan penyakit nya dan mama minta ibu tini juga mau berjuang melawan penyakit mu, mama sayang kamu bu”, ucap yatmi istri ku lalu memeluk tini dan membisiki sesuatu pada nya.

“Makasih ma, tini.. eh ibu bersyukur menjadi bagian keluarga ini, bersyukur menjadi istri mas rustam, makasih ma, mas”, ucap ku sambil berusaha menahan air mata ku yang akan menetes karena bahagia.

“Iya bu, eh iya pa, mama keluar bentar ya, kalian berdua ngobrol aja, mama nggak mau nganggu pengantin baru hehehehhe, dah sayang muaaachhh”, ucap mama yatmi pada ku dan mas rustam dan sempat ia mencium bibir suami ku di hadapan ku.

“Romantis banget sih papa dan mama jadi pengen di cium juga”, canda ku melihat kemesraan suami ku dan mama yatmi.

“Kamu juga pasti akan mendapatkan nya bu, dah mama keluar ya biar kalian bisa santai berdua”, ucap mama lalu melangkah meninggalkan kami berdua.

Sepeninggalan mama yatmi, aku sedikit grogi berduaan dengan mas rustam yang secara agama sah menjadi suami ku walau pernikahan kami hanya pernikahan siri, itu pun juga karena keinginan ku yang tidak mau merepotkan mas rustam.

“Pa, ini buku diary ibu, semua isi di dalam buku ini adalah kisah ibu, dari saat kita masih menjadi anak angkat papa dan mama, sampai kehidupan ibu saat ini semua ibu tulis dan ibu harap papa menyimpan nya walau mungkin tidak sekarang papa akan membaca nya, tapi jika kangen ibu papa bisa membaca diary itu, terima pa ibu mohon”, ucap ku sambil menyerahkan buku diary ku pada mas rustam.

“Apa maksud nya ini bu? Jangan bilang kamu akan pergi seperti bunda lia, papa nggak akan sanggup melihat kenyataan itu untuk kedua kali nya”, ucap ku kaget mendengar nya.

“Papa mesti percaya sama takdir dan ketentuan dari Allah pa, ibu yakin papa kuat menghadapi nya apalagi ada mama yatmi yang akan mendampingi pap melewati ujian dan cobaan ini, ibu bahagia bisa menjadi istri mu mas, hanya keajaiban yang bisa mengangkat penyakit ibu yang sampai saat ini belum ada obat nya, tapi sebelum ibu pergi, ibu titip citra anak kita, benih yang dulu kamu tanamkan di rahim ibu, hanya itu permintaan ibu pada papa suami ku yang merupakan cinta pertama, sekarang dan sampai nafas terakhir ibu”, ucap ku yang sudah bercucuran air mata tak sanggup untuk meninggalkan diri nya tapi takdir tidak bisa kita tolak dan tentang.

“Bu, papa minta maaf terlambat menyadari nya, papa juga minta maaf karena tidak mengetahui nya, tapi papa janji akan menjaga, merawat dan mengasuh citra seperti anak-anak papa lain nya, papa sayang sama ibu, kenapa semua ini terjadi pada kita bu?”, ucap nya dan ikut terbawa sedih karena merasa menyesal dengan kenyataan ini.

“Ini sudah jalan dari Allah pa, kamu jangan menyalahkan takdir yang sudah menjadi ketentuan-Nya, kita hanya bisa berusaha dan semua Dia yang mengatur hidup, jodoh dan mati kita, dan papa jangan menyesali apa yang sudah terjadi, pasti ada hikmah di balik semua itu, ibu ikhlas pa, ibu tidak menyalahkan papa dan takdir Allah, malah ibu bersyukur masih diberi kesempatan untuk kita bahagia walaupun mungkin waktu nya hanya sesaat, ibu bahagia seperti bunda lia yang bahagia disana bisa mendampingi papa walau hanya sebentar”.

“Bu, boleh papa nanya, semoga ibu nggak tersinggung bukan maksud papa untuk menyakiti perasaan ibu, papa ingin tau kok bisa mama sampai tertular virus mematikan itu”, ucap nya menanyakan masalah penyakit ku.

“Baiklah pa, ibu akan ceritakan semua kejadian nya dari awal hingga sampai ibu terkena virus HIV”, ucap ku memulai cerita.

“Kejadian nya sudah lebih dari 5 tahun 6 bulan lalu pa, saat papa tono sering patroli dan mulai jarang pulang ke rumah, ternyata penyakit nya kambuh , ia menjalin hubungan dengan seorang wanita panggilan anak teknik informatika kampus tempat papa kuliah, bernama Amanda Putri.

“Bentar bu, amanda putri, ya itu papa kenal bu, ia memang anak teknik informatika kampus papa dulu, saat 2 tahun setelah meninggalnya bunda lia, ia secara tidak sengaja menjadi dekat dengan papa, tapi karena sikap nya agresif terang-terangan menggoda dan merayu papa, bahkan rela menjadi istri kedua papa, bikin papa malah jadi ngeri dan papa dengan tegas dan menolak dia tanpa sedikit pun memperdulikan perasaan nya saat itu, papa hanya mencintai mama yatmi saat itu dan tidak ingin mengecewakan diri nya yang sudah setia menemani papa dalam suka dan duka, dan sejak itu ia mulai berhenti mengganggu papa dan menjauh dengan sendiri nya.

Aku tersenyum bahagia melihat kejujuran nya, aku sudah tau semua dari mama yatmi”, gumam ku dalam hati.

“Lanjutin bu, kok malah senyum-senyum sendiri”, sindir suami ku.

“Papa tono, kenal manda saat ia berpatroli dan mendapati ia sedang keluar dari diskotik dalam keadaan sempoyongan dan hampir menabrak mobil patroli papa tono yang saat itu sedang melintas, lalu papa tono membawa manda ke alamat yang ia katakan sambil sesekali memuntahkan isi perut nya ke dalam mobil patroli papa, setelah sampai di alamat yang ternyata sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari kampus papa dulu, papa tono memampah dan membawa manda ke kamar nya, dan entah manda saat itu mungkin dibayangan nya melihat wajah kamu pa, ia malah menarik papa tono dan terjadilah hubungan badan diantara mereka dan yang membuat kaget adalah saat manda klimaks ia memanggil nama papa rustam.

“Dari mana manda terjangkiti virus itu bu?”, ucap ku penasaran.

“Ia terjangkiti dari pria bule warga asing asal kanada yang sedang berbisnis di indonesia, yang meminta jasa nya melayani nya long time seharian penuh, manda terbawa alkohol dan ia melakukan nya tanpa menggunakan kondom pa”. ucap ku menjelaskan kronologi nya.

“Kamu digauli papa setelah virus itu sudah berada di tubuh nya, jahat banget kamu papa tono?”, dengus ku kesal seketika.

“Nggak gitu pa, memang papa tono saat itu belum menyadari kalo ia sudah terjangkiti virus HIV AIDS, dan ia baru mengetahui nya saat ibu kelelahan pas pulang dari rumah papa setelah 3 malam takziah itu, ibu pingsan saat itu pa dan setelah di bawa ke rumah sakit bhayangkara aku di vonis menderita HIV AIDS setelah melakukan beberapa tes laboratorium.

 

===

Pov rustam

Malam ketig2a setelah aku sah menjadi suami nya aku baru bisa melakukan kewajiban ku sebagai suami nya dengan terlebih dahulu berkonsultasi pada dokter tempat tini melakukan check up dan entah karena rasa sayang ku, walau mesti aku melakukan kewajiban ku dengan menggunakan kondom.

1 bulan kemudian…..

Saat ini aku sudah berada di kota palembang, kami mendapatkan rumah dinas di komplek perumahan sungai gerong plaju, dan posisi ku saat itu sebagai asisten manajer manufacturing devision dan menerima gaji 4x lipat dari gaji saat aku masih menjalani program beasiswa.

Saat aku sedang berada di dalam kantor tiba-tiba hp ku berbunyi dan ternyata yang menghubungi adalah mas dedi kakak ku di kampung.

“Assalamualikum wr.wb, mas dedi”, ucap ku menjawab panggilan telpon dari kakak kandung ku.

“Waalaikum salam wr.wb dik, bentar dik ibu pengen ngomong sama kamu”, ucap nya di ujung telepon sana.

“Hallo rus, ini ibu, gimana kabar kalian disana?”, suara ibu menyapaku setelah tadi sunyi sesaat.

“Alhamdulillah, anak-anak sehat semua bu, cuma yatmi mesti sering di kontrol karena kondisi nya nggak stabil, kalo kandungan yatmi saat ini sehat dan memasuki usia kandungan nya 7 bulan bu, gimana dengan kabar kalian disana bu,”, ucap ku menjelaskan keadaan keluarga kami, dan balik bertanya keadaan keluarga ku disana.

“Alhamdulillah sehat semua, ibu sudsh sembuh dari demam kemaren nak, maaf ibu tidak bisa menghadiri akad nikah kamu dengan tini”, ucap ibu ku dari ujung telpon sana.

“Syukurlah kalo kalian semua sehat walafiat, nggak apa-apa bu, yang penting doa restu ibu dan bapak supaya rustam bisa menjadi suami yang baik buat mereka dan anak-anak kami”, jawab ku.

“Eh iya nak, ada kabar duka nih, kamu jangan kaget paman kamu tono hartono meninggal dunia rus, dan jenazah nya sudah ada di rumah kita dan rencana nya hari ini akan segera dimakamkan di samping makam mbah darto kakek mu rus”, ucap ibu ku mengabarkan berita duka.

“Innalillahi wa innalillahirojiun”, memang nya kapan papa tono meninggal nya”, ucap ku.

“Semalam rus, paman kamu meninggal karena over dosis menggunakan narkoba jenis heroin dan disamping jenazah nya juga terdapat jenazah seorang wanita yang usia nya mungkin seusia tini yang kalo tidak salah siapa ded, wanita itu…. amanda putri bu sahut mas dedi, amanda putri rus nama perempuan itu suara mereka berdua terdengar di telinga ku.

“Astarfirullahal adzim, kok sampai segitu nya keadaan papa tonoya bu”, ucap ku kaget.

“Dan yang membuat ibu malu, paman mu di ketemukan tidak bernyawa keesokan hari nya dengan wanita itu dalam keadaan bugil dan masih bersatu kemaluan mereka, menurut ahli forensik rumah sakit umum yogyakarta, kematian mereka diperkirakan 6 jam lalu saat menggunakan heroin dan melakukan persetubuhan tersebut hingga ajal mereka mungkin jangtung kedua nya terbakar”, ucap ibu menjelaskan keterangan ahli forensik atas meninggal nya papa tono.

“Mungkin sudah takdir nya seperti itu bu, kita doain saja semoga allah mengampuni dosa-dosa nya, amiieenn ya robbal alamin”, ucap ku di telepon.

“Amiieenn”, ucap ibu ikut mengamini ucapan ku

“Yaudah rus, ibu mau nyambut para pelayat yang datang, salam buat mantu, cucu dan mertua kamu disana ya nak, assalamualaikum wr.wb,” ucap nya mengakhiri pembicaraan kami di telepon.

“Waalaikum salam wr.wb”, jawab ku.

Lalu segera ku kirim berits duka itu pada ayah dodit mertua ku, yatmi dan tini istri ku.

to : ayah dodit

“Assalamualaikum wr.wb, ayah ini rustam, baru saja rustam dapat kabar duka dari ibu rustam di kampung bahwa papa tono hartono meninggal dunia, jenazah sudah ada di rumah ortu rustam di desa slaung ponorogo, tolong di doain semoga dosa-dosa almarhum diampunin allah swt”.

to: mama yatmi

“Assalamualaikum wr.wb, mama, papa barusan dapan kabar duka dari ibu di kampung bahwa papa tono meninggal dunia, jenazah beliau sudah berada di rumah ibu, dan akan dimakamkan di pemakaman keluarga di desa slaung ponorogo”.

to: tini

“Assalamualaikum wr.wb, Ibu, papa dapat kabar duka dari ibu di kampung bahwa papa tono meninggal dunia, dan jenazah nya akan dimakamkan di makam keluarga di slaung ponorogo”.

10 menit kemudian ayah dodit membalas pesan sms ku.

from : ayah dodit

“Waalaikum salam wr.wb, innalillahi wa innalillahirojiun, ayah turut berduka cita ya nak, biar bagaimana pun ia paman mu juga”.

Sedangkan sms dari yatmi dan tini istri-istri ku meminta ku segera pulang jangan lembur dulu untuk hari ini, soalnya nanti malam kami akan membacakan surat yasin dan alfatihah buat almarhum papa tono semoga dosa-dosa nya diampuni dan amal ibadah nya diterima allah swt.

Saat aku pulang ke rumah, kedua istri ku menampakkan wajah sedih nya, biar bagaimana pun papa tono pernah menjadi bagian hidup mereka, mereka berdua janda dari almarhum papa tono yang juga mantan suami mereka berdua, aku mengucapkan salam terlebih dahulu, dan dijawab salam ku oleh mereka berdua.

“Mama, ibu, kalian berdua jangan bersedih, kita doakan saja semoga amal ibadah nya diterima dan dosa-dosa beliau diampuni allah swt, papa ingin melihat kalian berdua bangkit dan jangan sedih yang justru akan mengganggu kesehatan kalian berdua”.

“Iya pa, mama cuma sedih kenapa meninggal nya dia seperti itu, tadi mama nelpon langsung ke ibu yang memberitahukan kalo papa kamu meninggal sedang bersetubuh dengan bukan istri nya sambil mengkonsumsi narkoba hingga over dosis”, jawab yatmi.

“Mungkin jalan takdir papa tono seperti itu ma, makanya kita mesti berdoa dan bermunajat meninggal dalam keadaan khusnul kotimah bukan sebaliknya”, ucap ku menenangkan yatmi yang saat ini kandungan nya memasuki bulan ketujuh.

Malam itu sehabis sholat magrib kami sekeluarga, aku, kedua istri ku, mbok siti, agus, citra, dan putri membaca surat yasin dan al-fatihah untuk almarhum tono hartono.

 

===

2 bulan kemudian tepat nya 10 oktober 2005….

Pov yatmi

Aku melahirkan seorang bayi laki-laki melalui persalinan yang normal, dan sekarang aku berada di ruang rawat inap RS.Charitas kamar kelas 2.

Bayi laki-laki yang lahir dari rahim ku, di beri nama Muhammad Oktavianus Anwar, lahir dengan berat 2,9 kg.

Senyum bahagia suami ku saat ia mengazankan serta mengiqomatkan bayi laki-laki yang terlihat lucu dan menggemaskan.

“Ma, selamat ya ataa kelahiran putranya, ibu boleh gendong okto ma”, ucap tini meminta ijin menggendong okto.

Aku menggangguk dan mengiyakan permintaan nya dan berbicara pelan pada tini, “bu, okto juga anak mu bu, kita akan rawat dan asuh bersama-sama ya, semoga kelahiran okto juga membuat ibu bahagia seperti apa yang mama rasakan saat ini”.

“Makasih ma, eh iya pa, ibu sekalian aja mau check up mumpung ada di RS.CHARITAS ini, papa mau ikut nemenin ibu bentar”, ucap tini pada rustam suami kami.

“Ayo papa temenin, ma papa tinggal bentar ya, nemenin ibu check up bulanan nya, nanti kalo ada perlu apa-apa, mama bisa sms papa saja, ini hp mama papa kembalikan”, ucap suami ku sambil mencium kening ku kemudian menggandeng tini keluar ruangan rawat inap ini.

“Ya allah semoga engkau memberikan kesembuhan buat tini, dia tidak seharusnya menderita penyakit tersebut, ampuni dosa dan kesalahan masa lalu nya, amiiiennn ya robbal alamin”, ucap ku berdoa dalam hati.

Yang membuat ku sedih atas meninggal nya mas tono mantan suami ku adalah karena ia makin jauh tenggelam dengan kesalahan dan dosa nya, entah apa yang membuat nya seperti itu, apa mungkin karena digugat cerai tini tempo hari atau karena masalah apa? Tapi biar bagaimana pun ia dulu pernah hadir mengisi kehidupan kami bertiga, sebagai suami dan papa dari ku dan anak-anak, bahkan aku dan tini merupakan mantan istri nya yang sedikit banyak mengetahui bahwa sebenarnya mas tono itu sosok yang baik seperti rustam suami ku saat ini, tetapi karena sikap nya yang tertutup dan tidak mau membagi beban hidup nya membuat ia salah dalam mengambil langkah dalam kehidupan nya, “selamat jalan mas tono, aku mendoakan semoga amal ibadah mu di terima dan semua dosa-dosa mu diampuni allah swt, amiieen ya robbal alamin”. Doa ku dalam hati untuk mantan suami ku.

Diruangan lain di RS. CHARITAS…..

Pov rustam

“Pak rustam, boleh kita berbicara 4 mata mengenai kondisi terakhir istri bapak, lebih baik bapak ikut ke ruangan kerja ku sebentar”, ucap dokter yohannes dengan wajah serius mengajak ku ke ruangan kerja nya.

Setelah kami berada di ruang kerja dr.yohannes, beliau mempersilahkan duduk dan sesaat kemudian mulai menjelaskan kondisi terakhir yang dialami oleh tini istri ku.

“Mohon maaf pa, mungkin bapak agak shock mendengar penjelasan saya nanti, tapi itu kenyataan yang harus bapak ketahui sejak sekarang sebelum nanti kita ambil langkah dan tindakan medis selanjutnya”. ucap dr. yohannes.

“Silahkan dok, saya sudah siap mendengar penjelasan dokter”, ucap ku menyahuti omongan nya dan meminta beliau melanjutkan penjelasan medis nya.

“Ini hasil rontgsen terakhir yang beberapa saat lalu di ambil ibu tini, keadaan ibu tini semakin kritis dan mengkhawatirkan terutama kedua ginjal nya yang sudah tidak berfungsi normal karena efek obat yang dikonsumsi nya selama ini, ibu tini termasuk kuat bisa bertahan sampai hari ini, sudah lebih dari 5 tahun lalu virus HIV AIDS ini menggerogoti sistem kekebalan tubuh nya, cuma karena virus itu belum ada vaksin untuk membunuh nya maka kami atau para dokter hanya memberi nya obat untuk memperkuat sistem imun atau daya tahan tubuh nya, tetapi itu berakibat pada organ tubuh ibu tini, efek obat yang rutin mesti ia konsumsi mengakibatkan kedua ginjal nya menjadi rusak dan untuk ke depan nya ibu tini mesti melakukan cuci darah minimal 1 bulan sekali dan kalo ada pendonor ginjal yang cocok bisa dilakukan operasi pak, sampai disini apa penjelasan saya sudah bisa dipahami pak?”, ucap dr. yohannes bertanya sambil mengatur nafas nya kembali.

“Iya saya mengerti pak, tapi kalo bisa dokter rahasiakan semua ini dari nya ya, saya ingin ia terus berjuang dan tidak mau melihat nya lemah karena mendengar berita ini, berapapun biaya nya akan saya usahakan demi kesembuhan istri saya dok, tolong bantuan nya untuk membantu saya menyembuhkan penyakit nya”, ucap ku yakin dan tegas.

“Iya pak saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu bapak, untuk sekarang cuci darah nya mesti dijalani, dan jangan sampai telat untuk cuci darah bulan berikutnya karena akan berakibat fatal dengan kesehatan ibu tini pak”, ucap dr. yohannes selanjut nya.

“Ok pak, silahkan lakukan tindakan medis yang perlu demi membantu kesehatan nya saat ini, nanti administrasi akan saya beresin segera, dokter jangan khawatir”, ucap ku tegas untuk menyakinkan nya.

“Ok kalo begitu, saya rasa cukup penjelasan saya pada bapak, apa masih ada yang ingin bapak tanyakan lagi?”, ucap dr. yohannes.

“Tidak dok makasih atas semua penjelasan nya, kalo begitu saya permisi, mau kembali lagi ke ruangan istri ku biar ia tidak khawatir dengan saya”, ucap ku lalu menjabat tangan dr. yohanes kemudian melangkah keluar ruangan itu.

Aku melangkah menuju ruangan tini menjalani serangkaian check up dan tes medis, dan setelah ada disana ia melihat ku dengan tersenyum walau ku tau ia menahan sakit di pinggang nya karena kedua ginjalnya saat ini tidak berfungsi normal karena efek samping dari obat yang ia konsumsi untuk memperkuat imun di tubuh nya.

“Ibu, gimana keadaan nya, masih sakit kah pinggang nya?”, ucap ku pada tini istri ku yang masih memegangi pinggang nya yang terasa sakit.

“Iya pa sakit banget, tadi dokter yohannes ngomong apa pa?”, tanya istri ku penasaran.

“Nggak kok, cuma katanya kamu mesti tiap bulan rutin check up nya, papa akan catat jadwal rutin check up kamu biar papa bisa nemenin kamu bu”, ucap ku berbohong.

“Ya udah kalo cuma masalah itu, eh iya pa, boleh kah ibu jalan-jalan ke bangka-belitung seperti yang pernah bunda lia ceritain, ibu pengen merasakan bulan madu dengan papa, please pa…”, ucap tini dengan wajah penuh harap permintaan nya ku kabulkan.

“Iya bu, bulan depan ya, papa bisa bulan depan ajuin cuti dulu”, ucap ku mengiyakan permintaan nya.

“Makasih pa, ibu senang banget dengar nya”, ucap nya kegirangan mendengar jawaban ku.

“Dah ibu duduk saja di kursi roda, kita ke ruangan xxx”, ucap ku lalu mendorong kursi roda menuju ruangan tempat cuci darah.

“Eh iya pa, ruangan apa ini pa?”, ucap tini bertanya pada ku saat ia sudah diatas kursi roda yang sedang ku dorong.

“Nggak begitu faham saya bu ruangan apa ini, tapi menurut dr. yohannes sekarang ibu mesti ke ruangan ini”, ucap ku menjawab nya dengan sedikit berbohong.

Di dalam ruangan itu sudah ada dr. yohannes yang sudah menunggu kami, ia dibantu oleh 2 orang suster lalu menggantikan ku mendorong kursi roda dan meminta ku untuk menunggu di luar ruangan.

1 bulan kemudian….

Aku menepati janji ku mengajak tini berlibur ke provinsi bangka belitung, itupun karena keinginan yatmi yang meminta ku untuk segera mengajak tini berliburan kesana, selain karena ingin membahagiakan istri ku tempat ini juga mengingatkan kembali kebahagiaan ku bersama bunda lia hingga setelah pulang dari sana bunda lia hamil dan itu suatu anugerah yang terindah buat ku saat itu.

“Papa, ibu senang banget bisa melihat laut yang indah ini, kirain hanya impian ibu saja makasih pa sudah mewujudkan keinginan ibu”, ucap nya tersenyum dalam dekapan tubuh ku.

“Sama-sama bu, papa juga bahagia bila kamu senang seperti ini, i love you ibu, jangan tinggalin papa ya”, jawab ku sambil membelai bahu nya.

Iya saat ini kami berdua sedang berada di pantai parai tenggiri, pantai yang sangat indah dengan karakter ombak yang tenang dan permukaan pasir putih yang lembut dan landai.

“Bu…. Kok kamu pucat gini, mana dingin banget tubuh mu bu, sebaiknya kita segera balik ke hotel saja ya bu, papa khawatir dengan kesehatan kamu bu”, ucap ku khawatir melihat kondisi nya yang kedinginan karena terpaan angin laut.

“Iya pa, tiba-tiba kepala ibu sakit, pa ibu senang banget walau mungkin ini terakhir kali nya ibu bisa melihat pantai”, ucap nya seperti mengingau dan ambruk pingsan membuat ku semakin kacau dan panik seketika.

“Bu…ibu bangun bu….”, ucap ku menggoyang-goyangkan tubuh nya berusaha menyadarkan nya tetapi tini tetap tidak mau membuka mata nya, tetapi dari hidung nya nya aku bisa merasakan ia masih bernafas saat itu.

Aku segera meminta bantuan pihak hotel untuk menjemput kami saat ini dan saat tiba di hotel aku segera mengambil keputusan untuk membawa nya ke rumah sakit di daerah pangkal pinang.

Rumah sakit pangkal pinang…

“Pak rustam, kondisi ibu tini sangat sulit untuk ditangani di rumah sakit ini, peralatan rumah sakit ini masih minim, sebaiknya dibawa segera ke rumah sakit charitas, nanti kami akan keluarkan surat rujukan nya biar segera langsung ditangani disana pak”, ucap dokter fauzi saat selesai menangani pemeriksaan pada tini istri ku.

“Ok dok, tolong dibantu dok, apa bisa malam ini segera kembali ke palembang”, ucap ku.

“Bisa pak, tapi biaya trasportasi nya ke palembang sangat mahal”, ucap dokter fauzi.

“Nggak apa-apa, yang penting istri ku segera ditangani dengan baik disana, saya mohon bantuan nya pak”, ucap ku.

Jam 12 malam akhirnya kami sudah sampai di rumah sakit charitas, tini segera dilarikan ke ruang ICU oleh petugas jaga rumah sakit, sementara aku mengabari pada yatmi istri ku bahwa aku sekarang sudah berada di depan ruang ICU RS.CHARITAS, dan yatmi istri ku akan segera menyusul ku menemani ku saat itu.

from : mama yatmi

“Papa, yang kuat ya, jangan panik, mama akan kesana nemenin papa”.

1 Jam kemudian yatmi istri ku datang ke RS CHARITAS, bersama ayah dodit dan ibu ratna, terlihat wajah mereka menampakkan kesedihan saat menyaksikan ku mondar-mandir di depan pintu ruang ICU.

“Pa, yang tenang ya kita akan temenin papa melewati cobaan ini, mama nggak mau kalo sampai papa jadi sakit karena terlalu panik seperti ini”, ucap yatmi istri ku mencoba menenangkan kegelisahan dan kepanikan ku saat ini.

“Makasih ma, kamu udah datang, kok bisa bareng ayah dan ibu ma”, ucap ku terkejut melihat kedua mertua ku ada bersama yatmi saat itu.

Aku lalu mencium buku tangan ibu mertua ku, lalu berpindah ke ayah dodit dan memeluk nya menumpahkan semua kesedihan ku pada nya.

“Rus, ayah ikut sedih melihat kamu seperti ini, kamu mesti kuat dan tegar, demi istri dan anak-anak kamu nanti, eh iya sebaiknya besok kamu ajak citra ke sini sebelum terlambat, ayah minta kamu mesti kuat dan tegar jika takdir allah menentukan garis kematian tini nanti nya, seperti dulu saat ayah mesti merelakan kepergian lia anak kesayangan ayah, karena itu sudah hak nya allah menentukan takdir kita nak, ayah minta sebaiknya kamu banyak berzikir dan berdoa minta pertolongan allah, dan mesti siap menerima qodho dan qodhar nya allah nak”, ucap ayah dodit menasehati ku untuk tenang.

“Iya yah, rustam beruntung ayah bisa datang kemari, makasih yah rustam sekarang bisa kuat karena ada kalian yang mensupport dan mendukung ku yah”. ucap ku.

Keesokan hari nya…. tanggal 12 november 2005…. jam 5.00 wib….

Aku pulang ke rumah dinas di plaju sungai gerong, dan segera ke kamar citra bermaksud membangunkan nya supaya ia ikut menjenguk ibu nya yang sedang ditangani para medis di RS. CHARITAS, saat aku mencium kening nya ia kaget dan tersenyum saat menyadari di hadapan nya berdiri papa nya.

“Papa, kok cepat banget pulang liburan nya sama ibu”, ucap citra lalu bangkit dan duduk memeluk tubuh ku yang saat itu duduk di sisi ranjang nya.

“Kamu mandi dan segera berpakaian ikut papa ya nak kita temui ibu mu”, ucap ku meminta nya untuk segera mandi dan pergi ke rumah sakit.

“Kenapa dengan ibu pa, ibu sakit ya pa?”, ucap citra dan matanya mulai berkaca-kaca.

Aku mengangguk pelan dan mempererat pelukan ku dan berusaha menenangkan nya.

“Jangan sedih nak, ada papa dan mama kok, citra anak papa mesti kuat ya, ibu cuma sakit biasa kok, sedang ditangani oleh pihak rumah sakit, eh iya nanti pap bikin surat ijin buat kamu ya nak, nanti papa titip surat nya sama agus, dah buruan mandi papa keluar dulu mau mandi juga nanti 1 jam lagi kita berangkat bareng ke rumah sakit ya nak”, ucap ku.

“Iya pa”, ucap nya singkat lalu segera bangkit membawa handuk untuk mandi.

Aku menemui keempat anak ku yang lain, sementara itu mbok siti yang sudah bangun sudah menyiapkan kopi hitam untuk ku, dan sempat menanyakan keadaan tini istri ku.

“Den gimana kabar nya ibu, istri aden, mbok cuma bisa bantu doa semoga lekas sembuh ya den, air hangat nya sudah mbok siapin untuk aden mandi”, ucap beliau.

“Masih belum sadar mbok, makasih mbok sudah siapin buat rustam, eh iya mbok gimana okto? Apa anak nya rewel sekarang? Maklum mama nya masih di rumah sakit, nanti kalo aku sudah disana mama yatmi nanti pulang”, ucap ku.

“Alhamdulillah masih tidur dia den, nanti kalo dia bangun mbok buatin susu sementara sebelum mama nya pulang, itu pesan mama den saat mereka mau berangkat semalam.

Jam 6.00 wib….

“Agus, putri, papa dan citra berangkat dulu ke rumah sakit, agus papa titip adik-adik mu tolong kamu jagain mereka sama mbok ya, ntar mama pulang ke rumah gantian sama papa jika papa sudah sampe di sana”, ucap ku pada agus dan citra saat mengantarkan nya ke sekolah.

“Iya pa, tenang ada agus pa, agus bisa diandalin benar nggak put”, ucap nya.

“Iya pa putri juga akan bantuin mamas, kak citra jangan nangis ya, ibu pasti sembuh kok”, ucap putri pada citra kakak nya.

“Iya put”, ucap citra lalu mereka berdua berpelukan sejenak sebelum agus dan putri turun dan mereka berdua melambaikan tangan pada kami.

“Yuk nak, kita berangkat sekarang”, ucap ku lalu mulai menjalankan mobil kijang yang dibawa ayah dan ibu mertua ku dari pendopo.

Jam 7.00 wib…..

Aku sudah sampai di ruang ICU, dan segera menemui, ayah dan ibu mertua ku serta yatmi istri ku, dan meminta mereka berdua segera beristirahat di rumah.

“Mama….”, ucap citra sambil menangis memeluk yatmi istri ku.

“Sabar nak, ibu masih di dalam sedang diobati, kamu nggak usah sedih ada papa, mama, dan adik-adik kamu yang sayang sama kamu nak, ibu mu pernah berpesan citra nggak boleh nangis dan jadi anak yang baik ya”, ucap yatmi menasehati citra anak ku dan tini yang sudah ia anggap seperti buah hati nya sendiri.

“Iya ma, citra nggak akan sedih kok, makasih ma, citra sayang sama mama”, ucap nya dalam pelukan istri ku.

Jam 7.30 wib saat istri ku dan mertua ku sedang dalam perjalanan pulang, pintu ruang ICU terbuka dan seorang suster memanggil ku dan citra untuk masuk ke ruang ICU, tini ternyata sudah sadar.

“Pak rustam ya”, ucap suster itu saat melihat ku sedang menunggu di ruang ICU.

“Iya sus, saya rustam suami nya ibu hartini”, ucap ku menjawab dengan cepat panggilan suster.

“Ibu tini sudah sadar dan ingin ngomong dengan bapak, ini siapa pak?”, ucap suster itu ramah.

“Ini citra anak kami sus”, ucap ku menjawab cepat.

“Kalo begitu bapak dan citra silahkan masuk”, ucap nya mempersilahkan aku dan citra masuk ke dalam.

“Terima kasih sus”, ucap ku singkat dan menggandeng citra anak ku.

Di dalam ruangan ICU…..

Aku melihat tini yang sudah sadar dari koma nya, di sekujur tubuh nya dipasangi peralatan medis, selang infus di tangan kiri nya, alat bantu pernafasan di hidung nya, dan alat detektor di dada kiri nya, sekilas di monitor alat itu menunjukkan grafik turun naik, alat yang mendeteksi detak jantung pasien saat itu sedang diaktifkan untuk memantau dan memonitor perkembangan jantung pasien nya.

Seketika citra maju menghambur ke hadapan ibu nya yang masih terbaring lemas.

“Ibu…..”, ucap citra sedikit berteriak memeluk ibu nya yang tergolek lemas diruangan ICU.

Ya sejak tini menjadi istri ku, ia mengubah panggilan nya menjadi ibu, dan meminta seluruh anak kami termasuk citra untuk memanggilnya ibu, dan panggilan mama di peruntukkan untuk yatmi yang juga istri dan mama angkat kami.

Tini mengelus punggung citra, naluri seorang ibu yang mencintai putri yang ia lahirkan dari rahim nya, lalu ia melepas alat bantu pernafasan nya dan mulai berbicara dengan citra,”nak, ka…mu…. yang ra…jin.. be..la..jar..nya…, ibu min…ta.. ka..mu…nu…rut…sama ma…ma…dan pa…pa”, ucap nya terbata-bata sambil mengatur nafas nya yang mulai tersengal-sengal.

Ia sempat memasang kembali alat bantu pernafasan nya dan setelah merasa enakan lalu ia melepas kembali alat berupa selang mirip slang infus tersebut.

“Ka..mu… ja…ngan….se..dih….dan…na…ngis…ibu nggak apa..apa…nak, sa..yangi…adik…adik…mu…lainnya…me..re…ka… itu…sau…da…ra…mu..nak, satu…ba..pak, ibu ya…kin… pa..pa…ma..ma… dan… adik…adik…ka…mu…sa…yang…ju…ga…sa…ma…ka..mu…nak”, ucap tini mengeja kata perkata untuk berbicara dengan citra anak nya.

Haaa….Haaa…”, suara nafas yang terengah-engah dan berat.

Aku yang melihat nya langsung kembali memasangkan alat bantu pernafasan nya, lalu membisiki tini, “ibu sayang, kamu jangan dulu bicara, istirahat dulu ibu kan baru sadar”.

Setelah ia merasa enakan kemudian ia melepas lagi alat bantu pernafasan nya, dan melanjutkan berbicara pada citra”, nak…ini…pa..pa..kan…dung…ka..mu.., ka… mu… ja… ngan… se.. dih…. jika… ibu… pergi…pa, ibu…titip…cit..ra…anak…ki…ta”, ucap nya sambil memandang ku meminta kepastian ku.

Aku mengangguk lalu mencium kening nya”, ibu, jangan ngomong gitu papa tidak akan menyia-nyiakan anak kandung papa, papa akan bahagiakan kamu dan citra, kita sama-sama berbagi kebahagiaan, papa ingin ibu menemani papa sampai kita bisa melihat anak-anak kita sukses dan berhasil”, ucap ku yang mulai menitik kan air mata mendengar kata perkata yang ia ucap kan.

“Ibu ti…tip cit…ra pa, ma..af…in ibu…ti…dak…bisa me..ne..ma..ni…ka..li..an…, ibu su…dah…nggak…ku…at…la..gi…pa.., nak…ka…mu…ja…di…lah…an…ak…sho…le..ha…do..ain…ibu…nak…ibu…mau…ti…dur…”, ucap nya lalu perlahan-lahan ia menutup mata nya, dari bibir nya ia mengucapkan kalimat 2 syahadat,”la…. illa.. ha… illa… hu… mu.. ham.. mad.. dar..rosul…lu…llahu…”dengan mengeja kata perkata dari kalimat tahlil tersebut sebelum ia menutup rapat mata nya.

Suara alarm alat detektor jantung berbunyi nyaring, di layar monitor nya yang sesaat lalu berupa garis turun naik sekarang cuma berbentuk garis lurus, aku panik saat itu dan segera menekan tombol bantuan, beberapa saat suster dan dokter datang dan meminta kami berdua keluar dengan sopan dan ramah karena akan melakukan tindakan medis.

Citra yang melihat kejadian itu menangis terisak ia selalu menyebut dan memanggil ibu nya saat kami sudah berada di luar ruangan ICU, ” ibu….ibu…jangan tinggalin citra bu, ibu….”.

Aku pun ikut sedih dan mengeluarkan air mata, lalu merengkuh tubuh citra anak ku memeluk nya erat, kami berdua terduduk lemas, duduk tanpa beralaskan tikar di depan pintu ruang ICU.

15 Menit kemudian…

Dokter yohannes keluar dari ruang ICU, mendapati kami duduk berdua berpelukan di depan pintu lalu beliau dengan ramah dan sopan menegur ku”, pak rustam, mohon maaf bisa kita bicara sebentar”, ucap nya ramah khas dokter rumah sakit.

“Eh…Iya dok”, ucap ku kaget dan terkejut mendapati beliau berdiri di belakang ku.

Aku lalu berdiri dan membangunkan citra untuk ikut berdiri, lalu beliau ngomong dengan suara berat memberitahukan bahwa istri ku tini sudah meninggal dunia.

“Pak rustam, Saya memberitahukan bahwa ibu tini, istri bapak sudah meninggal dunia, saya mohon maaf sudah berusaha melakukan yang terbaik tetapi itu sudah kehendak Tuhan, bapak yang sabar ya, saya atas nama pribadi ikut turut berduka cita atas kepulangan ibu hartini”.

“Innalillahi wa inna illahi rojiun”, ucap ku dan citra berbarengan.

Tangis citra pecah setelah mendengar bahwa ibu nya sudah meninggal dunia, ia lalu menghambur ke dalam ruangan ICU, begitu pun dengan ku kami mendapati, tubuh nya sudah ditutupi kain sampai ke wajah nya.

“Ibu……”, teriak citra menangis histeris lalu ia membuka kain hang menutupi wajah ibu nya.

“Nak sabar nak, istighfar nak, jangan meratap, ikhlaskan kepergian ibu, papa juga sedih atas meninggalnya ibu, tapi pesan ibu kamu mesti ingat jangan menangis ikhlaskan supaya arwah ibu bisa pergi dengan tenang menghadap allah swt, papa akan selalu ada untuk mu, menyayangi mu nak, kamu tidak sendiri menjalani hidup ini, ikhlaskan nak”, ucap ku menasehati citra dan sekaligus menenangkan nya.

Aku memeluk tubuh citra yang lemas seakan ia mau pingsan saat itu, membelai rambut nya, mengecup kening nya, membuat nya menghadapi cobaan ini dengan kuat dan tegar, “papa sayang kamu nak, papa akan bahagiakan kamu sesuai amanat ibu yang sudah menitipkan kamu pada papa, papa janji akan mewujudkan cita-cita kamu dan ibu, membuat mu bahagia, kamu anak papa yang cantik papa sayang kamu dan ibu nak”, ucap ku.

Hiksss….hikssss….Hiksss….

“Ke…na…pa…Ibu. per..gi…secepat…ini..pa? Setelah ia mulai me..ra.sa..kan…kebahagian nya…menjadi istri papa…”, ucap citra.

“Semua sudah ketentuan dari Allah nak, kita tidak bisa menolak takdir kita itu hak Allah menentukan hidup, jodoh dan kematian semua kuasa-Nya kita hanya menjalani nya dengan ikhlas dan sabar nak, ibu mu, papa, mama, kamu dan semua makhluk ciptaan-Nya pasti akan mati, dan takdir ibu mu sudah ditulis dan sudsh ditentukan-Nya, jangan menangis seperti itu lagi ya nak, kita boleh bersedih, menangis tetapi tidak boleh menyalahkan takdir-Nya apalagi sampai membenci takdir-Nya, kamu mengerti nak”, ucap ku.

“Iya pa, citra berusaha ikhlas demi kebahagiaan ibu, citra janji akan menuruti amanat dan pesan ibu, jadi anak sholeha, menurut sama papa, mama dan sayang pada adik-adik, makasih pa, citra beruntung punya papa, mama dan adik-adik yang sangat sayang sama citra”, ucap nya lalu menyeka air mata ya berusaha tegar dengan kematian ibu nya.

“Sebentar nak, papa mau kabarin mama, dan kakek biar kosongin ruang tengah”, ucap ku lalu mengambil hp ku dan mengetik pesan sms pada yatmi istri ku.

to : mama yatmi

“Assalamualaikum wr.wb, mama, ibu sudah tidak ada, tolong siapin ruang tengah, kosongin ma, biar jenazah ibu bisa segera papa bawa pulang ke rumah”.

to mas dedi

“Assalamualikum wr.wb, mas dedi tolong kasih tau ibu, tini istri ku meninggal dunia, jam 09.00 wib hari ini tanggal 12 Oktober 2005, mohon didoakan ya mas”.

to : ayah dodit

“Assalamualaikum wr.wb, ayah, tini sudah tidak ada, tini meninggal dunia yah, rus dan citra sempat ngomong sama dia saat ia sadar, tolong doa buat istri ku tini yah”.

Pov rustam

Suasana duka kembali menghadiri kediaman kami, setelah 5 tahun lalu kepulangan lia istri ku kini menyusul tini istri ku yang juga adik angkat ku menghadap sang pencipta-Nya.

Jenazah almarhumah hartini kini sudah berada ditengah-tengah kami sebelum nanti nya akan dikebumikan di peristirahatan nya terakhir.

“Selamat jalan hartini binti sudjiman, beristirahatlah dengan tenang kamu di keabadian, doa ku akan selalu menyertai mu, hartini binti sudjiman”.

Sei gerong, plaju… 12 oktober 2005…. jam 13.00 wib adalah saat jasad engkau dikebumikan.

=== TAMAT ===

EPILOG

3 bulan kemudian setelah meninggal nya tini…..

“Ayah, ibu, dan mbok siti, selamat ya, semoga kalian bertiga menjadi haji yang mabrur”, ucap ku sambil mencium buku tangan ketiga nya.

Ya hari ini adalah hari keberangkatan haji mertua ku dan mbok siti pembantu rumah ku yang sudah kuanggap sebagai keluarga ku, tak terasa sudah 3 tahun ia bekerja dengan kami, pengabdian nya setimpal dengan berangkat nya ia ke tanah suci dengan ayah dan ibu mertua ku.

“Terima kasih den, berkat kerja dengan aden mbok bisa berangkat haji, aden udah mbok anggap seperti anak mbok makasih sekali lagi den”, ucap nya saat aku mencium buku tangan beliau dan berpamitan mengantarkan nya ke asrama haji.

Ayah, ibu dan mbok siti tergabung di kloter haji 30, kota asal palembang, muara enim, lahat, pendopo, pagar alam, empat lawang. Embarkasi Palembang, dan akan berangkat nanti malam jam 20.00 wib melalui Bandara Internasional SMB II Palembang, tetapi sebelum itu mesti masuk terlebih dahulu ke asrama haji untuk pembekalan selama haji nanti nya.

“Kakek, nenek, jangan lupa bawa oleh-oleh nya buat putri ya, air zam-zam”, ucap putri cucu beliau yang tahun ini akan bersekolah di sekolah dasar.

“Kakek, agus titip kopiah haji ya”, teriak nya sambil melambaikan tangan nya pada kakek nya.

Mereka bertiga balik membalas dengan melambaikan tangan dan mulai memasuki asrama haji yang tidak jauh dari bandara SMB II Palembang.

5 tahun kemudian…..

Maret 2010, usia ku kini 30 tahun, dan di bulan ini pula aku mendapatkan promosi sebagai manajer kilang minyak di sei gerong, plaju menggantikan Ir. Chandra Budiman yang di promosikan ke kantor pusat menjadi kepala pemasaran pusat di jakarta.

Tentunya di barengi dengan fasilitas dan gaji yang juga ikut naik drastis, karena jabatan dan tanggung jawab ku semakin tinggi pula.

Sementara itu citra berusia 12 tahun 6 bulan dan agus berusia 12 tahun 5 bulan 16 hari, berbeda 2 minggu usia nya dengan citra. Sekarang mereka berdua sudah masuk di SMP negeri 7 palembang, yang letaknya berdekatan dengan asrama polisi saat aku dan tini masih menjadi anak angkat mereka.

Putri kini berusia 10 tahun saat ini sudah di kelas 5 SD satu sekolahan dengan rizki yang berusia 8 tahun kini sudah berada di kelas 3 dan okta berusia 5 tahun 8 bulan yang baru masuk taman kanak-kanak karena belum cukup usia untuk masuk sekolah dasar.

Mengenai prestasi belajar kelima anak-anak ku, citra dan agus selalu bersaing di kelas saat mereka berdua masih SD, bahkan juara 1 dan 2 di sekolah mereka diperebutkan oleh kaka beradik itu, ya agus dan citra menjadi kakak-kakak yang baik untuk adik-adik nya, walau usia mereka yang berselisih beberapa minggu agus memanggil citra dengan panggilan mbak, citra memanggil agus dengan panggilan mamas mengikuti panggilan adik-adiknya yang lain.

“Nak cita-cita kamu nanti mau jadi apa?”, ucap ku bertanya pada citra anak ku.

“Pengen jadi guru bahasa inggris pa, citra ingin mengabdikan ilmu citra biar anak indonesia bisa lancar berbahasa inggris”. Jawab nya yakin dan mantap.

“Cita-cita yang mulia nak, papa dukung kamu nak”. ucap ku.

Yatmi, istri ku saat ini berusia 39 tahun, dia bisa merawat tubuh nya hingga masih kelihatan seperti wanita berusia 30 tahun, dan sejak melahirkan okta, panggilan anak terakhir kami, kini ia memutuskan kb setelah membicarakan nya terlebih dahulu dengan ku, dan kini menjadi istri dan ibu yang perhatian sama keluarga kami, menjadi tempat curhat anak-anak nya, menjadi tempat keluh kesah ku dan sekaligus menjadi teman ku dalam menjalani kehidupan dunia yang keras ini, bersama nya aku menemukan kebahagiaan lahir dan batin, dan berkat kesabaran nya pula aku bisa meraih harapan dan cita-cita ku.

Semoga Kami akan tetap rukun, saling menjaga kesetiaan, menjadi papa dan mama yang baik demi kelima anak-anak kami yang kini mulai beranjak remaja, kami hanya berharap suatu saat nanti kebahagian kami akan pula dirasakan oleh anak dan cucu kami.

Semoga kejadian pahit yang pernah kami alami tidak menular kepada anak-anak serta cucu-cucu kelak, dan pesan orang tua ku yang sampai saat ini terus melekat dan menjadi filosopi hidup ku adalah “berani berbuat mesti berani bertanggung jawab, dan memperbaiki kesalahan bukan menyesali keadaan”.

Dan untuk sahabat ku, rad76 aku ceritakan semua ini sebagai pembelajaran hidup buat ku, buat nya dan buat orang-orang yang nanti nya akan membaca kisah ini.

Sei gerong, plaju, sumsel….
Rustam Anwar

loading...
 Klik “<–” untuk kembali
Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo