loading...

Suasanan haru, kini menyelimuti keluarga kami, istri pertama suami ku, AMELIA RATNA WAHYUDI telah berpulang ke sisi-Nya meninggalkan tangisan dari orang-orang yang mencintai nya termasuk aku dan suami ku.

Suami ku menyambut kedatangan para pelayat yang datang melayat jenazah almarhumah bunda lia terlihat tegar walau ku tau dalam hati nya saat ini ia rapuh bagai kehilangan bagian dari hidup nya, tak bisa ku pungkiri kemesraan mereka berdua pasti menyisakan kenangan terindah yang tak bisa digantikan oleh siapapun.

Dari arah pintu masuk aku melihat suami ku menangis saat ia memeluk mantan suami ku, ya mas tono hartono, entah apa pangkat nya sekarang karena ia saat melayat tidak memakai pakaian dinas, disampingnya ada anak angkat perempuan ku dulu, hartini (tini) yang menggandeng anak perempuan seusia agus anak kami.

Setelah suami ku, rustam berpelukan erat dengan papa angkat nya, lalu ia memeluk adik angkat nya yang sekarang menjadi istri papa angkat nya, kulihat tini memeluk erat suami ku, mereka berdua menangis.

Aku berdiri melangkah mendekati suami ku, ku cium buku tangan mantan suami ku dan menyapa nya.

“Mas tono apa kabar?”, sapa ku saat itu membuat suami ku dan tini terkejut dan melepaska. pelukan mereka.

“Alhamdulillah baik dik”, sahut mas tono menjawab.

“Mama”, ucap tini dan langsung memburu ku.

Kami berdua berpelukan dan menangis, ada kerinduan di hati kami walau saat sekarang mungkin tangisan kami karena kesedihan atas meninggalnya bunda lia.

“Apa kabar kamu tin, duh cantik nya putri kamu tin nama nya siapa cah ayu?”, ucap ku menanyakan kabar pada nya dan menanyakan nama putri dari anak angkat ku dulu.

“Alhamdulillah sehat ma”, jawab tini.

“Nak jawab dan salim sama nenek…eh tante tuh”, ucap tini bingung menjelaskan posisi anakny pada ku

“Cilta”, jawab nya malu-malu dan menyembunyikan wajah nya di belakang mama nya.

“Sayang kok malu, ini keluarga mama dan papa juga sayang, tuh salim juga sama papa rustam nak….. eh om rustam maksud nya”, ucap tini meminta anak nya salim ke suami ku.

“Sini cantik peluk om”, ucap rustam suami ku merentangkan tangan nya.

Entah kenapa citra seperti terhipnotis langsung memeluk rustam tanpa takut dan malu, rustam pun memeluk anak itu dan menggendong nya seperti mereka berdua ada ikatan batin antara ayah dan anak.

“Dah kita masuk ke dalam yuk! Kita temui ayah dan ibu bunda lia, sekalian bunda lia nya ya”, ucap ku meminta mereka masuk.

Suasana yang tadi nya hening berubah sedikit mencair dengan kehadiran mantan suami ku dan tini, setelah lebih dari 2 tahun kami berpisah kini kami dipertemukan kembali dalam suasana sedih seperti ini.

“Mas, kamu yang kuat ya, ikhlaskan lia supaya ia tenang disana, adik akan selalu mendukung mas walaupun adik tidak ada di sisi mas, adik akan selalu menyayangi kalian”, ucap tini menguatkan suami ku rustam.

“Eh iya ma, mana ponakan ku, tini pengen lihat anak kalian”, ucap tini saat tidak melihat agus di sisi kami berdua.

“Tadi dengan mas dedi, nangis mulu agus nya melihat bunda nya telah tiada, soalnya dia deket banget sama bunda nya tin, bentar aku cari di belakang dulu, kalian ngobrol saja sekarang”, ucap ku dan segera bangkit melangkah ke belakang mencari agus putra kami.

Saat aku melangkah ke belakang, aku sempat melihat putri, anak almarumah bunda lia, ia sedang di susui dengan susu kemasan oleh kedua ibu mertua ku yang terpaksa sekarang ini yang sibuk mengurusi anak tiri ku, aku sempat menangis melihat semua itu, dan hanya dalam hati aku mencurahkan kesedihan ku, “putri sayang, mama janji akan merawat dan membesarkan mu seperti anaka ku sendiri, bunda kamu yang tenang ya, masih ada mama yang akan merawat dan membesarkan putri, aku terima amanah mu bunda selamat jalan adik ku, teman ku, kamu akan selalu ada di hati kami, tidak akan kami lupa sama mu bunda lia”.

Aku melangkah meninggalkan kamar lia sambil menyeka air mata ku dengan tisu mencari agus yang sudah bisa tertawa-tawa di pangkuan mas dedi yang sejak awal selalu menemani agus putra kami.

“Mas dedi, maaf ya, kita ke depan bentar ajak agus sekalian, itu ada mas tono dan tini mereka ingin bertemu”. ucap ku menghentikan canda tawa mereka sesaat.

“Ciapa mah? Agus kok nggak tau ya!”, ucap agus dengan logat bocah nya.

“Makanya biar agus tau, mama kenalin apalagi ada citra nak, jadi agus bisa main sama dia nak”, ucap ku menjawab keingintauan nya.

Kami bertiga pun meninggalkan halaman belakang menuju ke ruang tamu dimana saat ini keluarga sudah kumpul, dan saat disana keakraban mulai terjalin kembali, mas tono ngobrol akrab dengan ayah dodit mertua ku yang juga sahabat suami ku, kedua mertua ku sudah ikut keluar kamar lia sambil membawa putri yang di gendong oleh ibu ratna mertua ku yang juga ibu alm. bunda lia.

Saat tini melihat ku, mas dedi dan agus ia lalu tersenyum dan memanggil agus dengan lambaian tangan nya supaya mendekat ke diri nya dan suamiku yang berada disamping nya.

Agus segera mendekat ke papa nya dan malu-malu ia mencium buku tangan tini tante nya.

“Duh ganteng banget ya, seperti papa dan mama nya”, puji tini setelah melihat agus dan mencium pipi anak ku.

“Ini tante tini nak, dan itu citra anak nya, adik mu kenalan dulu nak biar kalian akrab”, ucap suami ku pada agus setelah ia duduk di pangkuan papa nya.

“Agus nama aku tante, ini ciapa anak tante ya?”, ucap agus seketika setelah mendengar papa nya meminta biar ia kenal sama tini dan anak nya.

“Iya nama nya citra, citra ini agus kakak mu nak”, ucap tini dengan suara bergetar memperkenalkan anak nya dengan agus.

Suara dan ekspresi tini seperti sedang ingin mengatakan bahwa kamu itu saudara satu bapak sama seperti kamu dengan putri anak nya alm.bunda lia, tetapi suami ku mungkin tidak menyadari semua itu, hanya aku yang mengetahui nya.

“Pa, boleh mama ngajak tini ngobrol berdua, papa temanin agus dan citra ya, yuk tin, kita ke kamar ku, ada yang perlu mama omongin sama kamu”, ucap ku dengan suara pelan pada tini setelah meminta ijin suami ku.

“Silahkan ma, mungkin kalian berdua ingin banyak ngobrol berdua melepaskan kangen, papa akan jagain agus dan citra di sini sambil menerima tamu yang masih berdatangan ke mari”, ucap suami ku dengan suara pelan.

Aku dan tini meninggalkan ruangan tamu, hanya ibu watini mertua ku dan lia yang mengetahui permasalahan ini, saat itu ibu watini mertua ku hanya memberi anggukan kepala saat kami berdua berpapasan muka dengan beliau.

Di dalam kamar ku……

“Mama maafin tini ya, selama ini sudah membuat mama kecewa, selama ini menyimpan rahasia ini, mungkin mama sudah mengetahui bahwa citra itu anak ku dengan mas rustam, aku mohon ma maafin tini”, ucap nya saat kami sudah duduk berdua diatas ranjang ku dan tini memeluk ku erat dengan air mata yang menetes deras dari kelopak mata nya.

“Sudah lah tin, semua sudah terjadi, mama pun juga salah pada mu seharusnya mama sadar kalau kalian berdua saling mencintai, tetapi takdir dan jodoh yang membuat kita jadi seperti ini, mama juga minta maaf sama kamu sudah mengambil orang yang kamu sayangi sebagai suami mama”. jawab ku dan membalas pelukan nya semakin erat.

“Iya ma, tini nggak akan menyalahkan mama, mama juga butuh kebahagiaan dan mas rustam orang yang tepat untuk membahagiakan mama, tini hanya berharap mama bisa menerima kehadiran citra sebagai bagian dari hidup mas rustam, lihat nggak ma tadi saat citra memeluk mas rustam seakan mereka berdua punya ikatan batin padahal mereka baru saja kenal, citra kalo ketemu orang yang baru ia kenal nggak mau dekat apalagi sampai memeluk nya”.

“Iya tin, mama lihat itu semua, mama percaya kamu dengan baik mendidik anak mu, gimana keadaan mu dan rumah tangga kalian, maaf kalo mama kepoin masalah ini, apa kamu bahagia sama mas tono?”, ucap ku.

Hikzzzz…. Hikzzzz….. Hikzzzz….

Tangis tini makin kencang, sesegukkan ia saat aku menanyakan perihal kebahagian nya, perihal rumah tangga nya dengan mantan suami ku.

“Mama tau kan sifat papa seperti apa? Dulu tini kasihan melihat mama seperti itu, kini aku yang mesti mengalami nya, dia tau ubah nya menganggap istri itu hanya teman tidur saja, tini ahhhhh…. hikzzzz…. hikzzzz….. hikzzzz…..”.

Aku mengelus rambut nya, memberi nya kesempatan untuk mengungkapkan rasa sakit yang dialami nya, tapi apa yang mesti ku lakukan tidak mungkin aku meminta suami ku menikahi nya sementara ia masih menjadi istri mantan suami ku, “kasihan kamu tin, jujur aku tidak tega melihat mu menderita seperti ini, kamu yang kuat ya, demi anak mu”, batin ku berkata.

“Kamu mesti kuat tin, jalani hidup kita seperti air yang mengalir kita tidak tau akan sampai dimana kita, apakah di muara yang akan berakhir dengan kebahagiaan apa sebalik nya karena semua itu sudah di gariskan oleh Allah Swt, cuma kita menjalani nya dan berusaha memperbaiki nya, mama akan menganggap citra anak mama, kamu jangan khawatir soal itu ya tin, jangan dulu kamu kasih tau status anak mu pada rustam, kita pelan-pelan memberitahu nya jika kondisi mental rustam sudah kuat”.

“Makasih banget ma, tini senang dengar nya mama bisa menerima citra, kesalahan kita berdua citra dan agus ma, tini janji akan merawat anak itu sampai akhir hayat tini, dan hanya pada mas rustam cinta abadi tini tidak akan ada yang bisa mengisi rasa itu di hati tini sampai detik ini walaupun tini hidup berumah tangga dengan mas tono ma”, ucap tini menatap mata ku dengan tatapan nanar penuh perasaan sayang nya pada suami ku.

“Mama tidak akan cemburu sama kamu nak, kamu boleb mencintai suami ku seperti aku mencintai nya, kita serahkan semua nya dengan jalan takdir jika suatu saat kamu di takdirkan allah bersama mama tidak akan menolak mu, kamu tau kan mama dan sifat mama seperti apa pada mu tin”.

“Iya ma, tini sayang sama mama seperti orang tua kandung tini, dan selama ini maaf jika tini sering berkirim surat pada alm.lia hanya dia sahabat tini yang selalu memberi tini semangat dari keterpurukan, maafin tini yang nggak mau jujur cerita ke mama, tini takut mama marah dan kecewa waktu itu jika tini cerita kalo tini hamil anak nya mas rustam”.

“Iya mama faham kok, yaudah kita sekarang mesti kompak tin, ini nomor hp mama, kamu sekarang bukan orang lain bagi mama, curhat lah masalah kamu ke mama sekarang, mama akan selalu menyayangi mu dan anak kalian”, jawab ku.

“Makasih ma, hiksss…hikssss…. Mama benar-benar baik, tini sayang mama, makasih ma…”, ucap tini kemudian memeluk ku erat dengan air mata yang mulai menetes kembali.

“Udah yuk kita keluar tin, biar yang lain nggak curiga, yang penting sekarang kita mulai perbaikin kesalahan masa lalu dan mulai berhubungan baik seperti sedia kala ya tin, jangan kamu menangis lagi ya”, ucap ku sambil menyeka air mata tini dengan tisu yang ku ambil dari tempat tisu dikamar ku.

Tini mengangguk dan mulai tersenyum lebar, ia menggenggam tangan ku saat aku mengajak nya keluar kamar, aku ikut tersenyum bahagia melihat perubahan tini saat ini.

Kami pun kini sudah kembali berkumpul di ruang tamu, sesekali kami semua menyalami tamu yang masih berdatangan, kulihat suami ku ngobrol bisik-bisik dengan pak rt yang mengurus jenazah bunda lia, dan setelah itu ia pun mendekati ku membisiki bahwa jenazah bunda lia segera mau dimandikan dan disholatkan sebelum di makam kan di tpu yang sudah disiapkan oleh pak rt bersama warga di sini.

Setelah di mandikan dan jenazah bunda lia sempat di sholatkan di masjid di dalam komplek perumahan yang kami huni saat ini, lalu keranda jenazah di bawah dan dipanggul oleh rustam, mas dedi, ayah dodit dan mas tono walaupun kadang sesekali digantikan oleh orang lain sebagai bentuk rasa gotong royong dan kekeluargaan.

“Laila ha illallah…. 3x….

Suara tahlil menggema mengiringi keranda jenazah bunda lia di bawa ke peristirahatan terakhir nya.

Disamping ku tini, kedua ibu mertua ku, dan warga, putri ditinggal di rumah sebentar bersama istri teman suami ku yang berada di komplek yang sama, nama nya hesti rahayu istri dari wawan darmawan.

Suami nya, wawan darmawan dengan semangat ikut membantu mengangkat keranda jenazah bunda lia bergilir dengan suami ku dan warga sehingga kini keranda itu pun sudah sampai di tujuan nya.

Seorang ustadz membimbing prosesi pemakaman bunda lia, dan setelah selesai beliau sendiri yang memimpin doa nya.

Aku menaburkan bunga beraneka warna ke gundukan tanah dimana bunda lia bersemayam, tetasan air mata tak sanggup ku tahan saat itu walau sudah di ingatkan oleh ustadz jangan sampai meratapi kepergian almarhumah supaya tidak sampai memberatkan nya untuk menghadapi sang khalik yang menciptakan nya.

Hari itu suasana berkabung masih terasa, apalagi setelah jenazah alm.bunda lia seolah masih terlihat nyata di mata ku saat ia membantu ku memasak di dapur, saat kami berdua bercanda di ruang tamu dengan suami dan agus anak kami, saat ia merengek manja bergelayutan di bahu suami ku, seakan bayangan itu nyata sehingga tanpa sadar membuat mata ku mulai berkabut dan mengalir air mata dari kedua sudut mataku.

Tini meminta ijin pada suami nya untuk menginap di rumah kami menemani ku malam ini, dan kebetulan akan diadakan takziah 3 malam berturut-turut, dan kami sekeluarga hanya mengikuti apa yang menjadi kebiasaan warga muslim di daerah jogja.

 

===

Pov rustam

Malam ini hari pertama diadakan takziah, tidak ada pembacaan surat yasin dan tahlil dan tidak diperbolehkan menyediakan makanan karena kami dilarang untuk menyediakan semua itu bahkan warga, tetangga yang membawakan makanan kepada kami.

Ceramah dipimpin oleh ulama yang bertausiah mengenai kematian, bahwa kita akan kembali ke asal nya dan semua amalan kita akan terputus saat kita meninggal kecuali 3 hal yang akan kita bawa terus menuju akhirat dan akan mengalir menjadi pahala buat kita, yaitu :

  1. Ilmu yang bermanfaat, baik itu ilmu dunia maupun ilmu agama yang terus di amalkan oleh orang yang kita kasih pengetahuan nya.
  2. Amal jariyah, atau sedekah jariyah yang kita lakukan selama hidup misalkan kita selagi hidup mewakafkan tanah kita untuk dibangun masjid, tempat pendidikan alqur’an, selama masih di gunakan dengan baik maka pahala nya akan mengalir terus kepada almarhum.

3.Anak yang soleh, anak yang senantiasa mendoakan almarhum dan menjadi soleh karena pribadi nya, perbuatan nya yang baik, dan mencerminkan anak itu selalu berbakti pada orang tua nya walaupun orang tua nya sudah meninggalkan dunia ini dengan menyambung silahturahmi dengan keluarga almarhumah.

Dari sebagian pencerahan di malam pertama itu, sedikit banyak memberiku kekuatan untuk mensyukuri nikmat-Nya, menyadari semua kekhilafan dan kesalahan kami, dan membuat aku ingin bertobat dan ingin benar-benar menjadi suami yang baik untuk yatmi ke depan nya, dan tidak akan menyia-yiakan anak yang sudah dititipkan pada kami, “Ya Allah ampuni semua dosaku, dosa-dosa kedua istri hamba, hamba ingin kembali ke jalan mu ya allah, hamba ingin menjadi suami yang baik dan berjanji akan membahagiakan istri dan anak-anak ku kelak”, doa ku dalam hati saat itu.

 

===

Pov rustam

Sudah tiga malam kami sekeluarga mendapatkan siraman rohani dari ustadzyang memberikan ceramah atau tausiah nya di takziyah, beberapa tetangga pun memberikan ucapan selamat berduka cita dan mengingatkan untuk sabar, tegar dan move on dari kesedihan beberapa hari ini.

Selama 3 malam tini menginap di rumah kami, bilang nya ingin melepas kangen sama ibu mertua ku, ibu ku dan yatmi yang merupakan bibi dan sekaligus mama angkat nya.

Keesokan hari nya setelah 3 malam takziah….

Kedua mertua ku akan kembali ke pendopo setelah kemaren aku sempat membelikan tiket pesawat di bandara adi sutjipto, juga kedua orang tua ku hari ini pun akan kembali ke kampung setelah hampir 1 minggu mereka menemani ku sejak lia masuk rumah sakit sampai selesai acara takziah.

Mas dedi memeluk ku memberikan semangat, dia bilang pada ku ; “dik kamu mesti bangkit, kembali lah ke kampus dan kejar cita-cita mu demi kebahagiaan keluarga mu kelak, mas akan membantu mu jangan sungkan hubungin mas kalo kamu ada masalah”.

“Iya mas, besok insya allah rustam sudah mulai masuk kuliah lagi, mengejar ketinggalan rustam beberapa hari lalu, makasih ya mas”. Ucap ku pada kakak lelaki ku dia lah kakak yang sangat dekat dengan ku.

“Nak, bapak dan ibu pulang dulu ya, kamu bangkit nak hidup mesti terus berjalan dan melangkah lah dengan yakin menyonsong hari esok ya nak”, ucap bapak setelah aku mencium buku tangan beliau dan beliau memeluk tubuh ku erat.

“Ibu minta kamu ikhlaskan kepergian lia nak, hanya itu yang bisa mengobati luka hati kita, bahagiakan anak dan istrimu sekarang , disana lia pun akan tersenyum bahagia nak”, ucap ibu ku setelah aku menghampiri nya mencium buku tangan nya dan memeluk beliau sebagai kasih sayang anak dan ibu kandung.

“Makasih bu. rustam akan selalu mengingat nasehat ibu, ibu, dan bapak jaga kesehatan kalian, insya allah kalo rustam ada waktu nanti ke kampung bu”. Ucap ku menjawab omongan beliau.

Kulihat kedua orang tua ku berpamitan juga dengan kedua mertua ku, keakraban tetap terjalin saat itu, begitupun ketika kedua orang tua ku berpamitan sama yatmi ibu ku memeluk yatmi dengan penuh kasih walau dulu mereka kakak dan adik ipar sekarang yatmi statusnya anak mantu mereka.

Tini pun begitu akrab dengan ibu ku maklum sekarang ini status nya sebagai adik ipar ibu ku, seharusnya aku memanggil tini itu bibi ya, tapi karena sejak kecil kami akrab dan selalu memanggil nya adik dan ia pun tidak mau dipanggil bibi, “emang aku udah tua ya mas dipanggil bibi”, omel nya saat malam kemaren sempat berbicara 4 mata setelah acara takziah.

Mengenai hubungan ku dengan tini, aku tidak merasakan kembali hubungan layak nya sepasang kekasih bebarapa tahun silam, kini kami bagai kakak dan adik, lebih tepat nya ponakan dan bibi, tapi kadang aku sering melihat sorot mata tini yang sayu mengharapkan lebih dari hubungan seperti ini, sorot mata yang menunggu kedatangan seorang kekasih, sorot mata yang mengharapkan kehadiran kekasih nya.

Setelah bapak, ibu dan mas dedi berangkat ke kampung dengan mobil carry yang di kendarai oleh mas dedi kini aku bersiap untuk mengantarkan kedua mertua ku ke bandara.

“Gimana kalo mama, tini dan anak-anak ikut papa saja ke bandara ikut mengantar ayah dan ibu”, usul ku pada yatmi dan tini di depan kedua mertua ku.

“Boleh pa, mama setuju, kamu gimana dengan kamu tin? Apa mau ikut juga kesana?”, jawab yatmi mengiyakan ajakan ku dan ia kemudian bertanya pada tini disamping nya.

Tini mengangguk kepala nya.

Kami bersiap-siap mau ke bandara setelah sebelum nya aku menyewa mobil rental yang ku sewa selama 1 hari ini untuk mengantarkan kedua mertua ku.

1 Jam sebelum keberangkatan mereka kami sudah berjalan menuju bandara, di dalam mobil, disamping kiri ku ayah dodit dengan agus, di kursi tengah ibu ratna menggendong putri, cucu nya, yatmi, tini dan citra. Selama di mobil hening tanpa suara mungkin karena masih terbawa suasan duka meninggalnya lia, tapi dari wajah kami semua sudah bisa mengikhlaskan kepergian lia dan itu yang terbaik buat nya karena Allah Swt sayang dengan nya.

“Pa, sampai juga, acccikk…banyak pecawat pa…tuh gede pecawat nya pa”, ucap agus saat kami sudah sampai di bandara dan mulai masuk ke dalam

“Iya sayang, pesawat nya besar ya nak”, sahut ku menjawab tingkah polos agus yang sinang saat meljhat pesawat terbang terparkir rapi sebelum terbang menembus awan.

Suasana haru saat kami semua melepas kepergian ayah dan ibu mertua ku, ada tangisan dari mereka, dan meminta ku dan yatmi untuk mengasuh dsn merawat putri cucu mereka, dan berharap suatu hari nanti mereka akan melihat putri cucu nya tumbuh besar.

“Nak rustam, yatmi, ibu dan ayah menitipkan putri pada kalian, tolong rawat dan didik putri seperti amanah lia pada mu mi, suatu saat ibu dan ayah bisa ketemu kembali cucu kami, kami percaya kalian anak mantu kami yang terbaik, selamat tinggal ya kami akan doakan kalian supaya bahagia bersama anak-anak kalian, ibu dan ayah pulang sekarang”, ucap ibu ratna mewakili ayah menitipkan putri cucu pada kami.

“Pasti ibu, putri itu anak ku, nggak akan aku sia-siakan perngorbanan bunda lia demi melahirkan anak kami, rustam janji sama ibu akan menyayangi nya sama seperti rustam sayang pada agus”, ucap ku mengiyakan permintaan ibu mertuaku.

“Makasih ya nak, ayah lega sekarang, kamu kasih kabar keadaan kalian disini sama ayah dan ibu, walau kita jauh ayah dan ibu akan selalu mendoakan kalian disini ya nak, ayah anggap kamu anak kami sekarang bukan sekedar anak menantu lagi, jangan sungkan sama ayah ya rus”, ucap ayah dodit.

“Iya ya, doakan rustam bisa jadi suami yang lebih baik lagi untuk istri dan anak-anak kami yah, hati-hati di jalan ayah dan ibu, kalo sudah sampai sms rustam ya yah, biar kami tenang disini kalo ayah dan ibu sampai dengan selamat”, ucap ku lalu memeluk erat ayah mertua ku sebagai bentuk rasa sayang ku pada beliau.

“Dadah agus, citra, dan putri”, ucap ibu ratna melambaikan tangan nya ke tiga putra dan putri kami di depan lobby keberangkatan.

Setelah kepergian mertua ku, kami kembali ke mobil dan karena waktu penyewaan masih lama aku mengusulkan untuk mengajak mereka jalan-jalan di kota yogyakarta, dan bertanya mau kemana saja kira-kira mereka mau diajak jalan.

“Tini, mama, ada usulan mau kemana, papa belum tau sama sekali dari jogja”, ucap ku pada tini dan yatmi istri ku sebelum menjalankan mobil.

“Kalo tini nurut saja mas, mama yatmi ada usul”, ucap tini lalu memalingkan wajah nya ke yatmi istri ku.

“Kalo mama pulang saja pa, putri masih bayi belum bisa jalan jauh, kita ngobrol di rumah saja, gimana pa maaf bikin kamu kecewa soal ini?”, ucap yatmi menjawab pertanyaan tini dan aku.

“Yaudah nggak apa-apa, papa ngerti niat baik mama, dah kita balik lagi kalau gitu”, ucap ku mengiyakan permintaan yatmi istri ku.

 

===

Pov yatmi

Aku melihat pandangan mata tini pada suami ku seperti pandangan seorang wanita yang sudah lama merindukan kekasihnya, jujur ada kecemburuan di hati ini, tapi itu aku kubur dalam-dalam aku hanya percayakan semua nya ini pada rustam suami ku, percaya sama takdir dan jodoh kalau memang mereka ditakdirkan bersama aku tidak bisa menentang nya, walau kulihat suami ku seperti biasa hanya melihat dan memandang tini seperti kakak pada adik nya, aku yakin perasaan sayang dan cinta nya pada tini semakin luntur dan hilang dengan berjalan nya waktu dan ia bisa memposisikan diri nya sabagai kakak buat tini itu yang ku lihat saat itu.

Kami akhirnya kembali ke rumah, walau ada raut kekecewaan dari wajah tini setelah mendengar omongan ku tadi, tapi ia bisa tersenyum setelah melihat anak nya citra begitu nyaman dalam pelukan suami ku saat di ruang tamu.

Aku teringat pesan bunda lia untuk mencari buku diary nya saat terakhir kali kami berdua ngobrol 4 mata sebelum ia kehilangan kesadaran nya sampai ia menghembuskan nafas terakhir nya,”buku diary bunda, ya itu jawaban keresahan ku nanti aku cari bunda dan akan aku jalankan semua amanah mu”. Batin ku berkata saat mengingat terakhir kali omongan kami beberapa waktu lalu.

Aku melangkah ke dapur untuk memasak makanan buat maka. siang kami bersama, tiba-tiba tini datang menghampiri ku dan membantu ku untuk memasak.

“Ma, tini bantu ya, tini ingin bikin semur jengkol kesukaan mas rustam, resep mama yang tini pelajari dulu masih ingat kok ma, masakan yang sampai sekarang tini latih semoga mas rustam senang ya ma”, ucap tini.

“Boleh tin, itu bahan-bahan nya ada di kulkas, mama bikin rendang saja kalo begitu”, ucap ku menanggapi omongan tini.

Kami berdua memasak makanan buat makan siang kami, sesekali tini bertanya bagaimana perlakuan rustam selama ini setelah menjadi suami ku, aku jawab saja dengan jujur bahwa rustam lelaki yang sempurna buat ku, apa yang selama ini menjadi impian ku ada pada diri rustam, tini senang mendengar omongan ku dan wajah nya bersemu merah saat aku menanyakan apa kamu masih mencintai nya?.

“Tin, kamu masih mencintai rustam sampai saat ini, gimana perasaan suami mu?”, ucap ku menanyakan perasaan nya.

“Maaf ya ma, sampai detik ini perasaan ku pada mas rustam tak akan berubah ia tetap cinta pertama sampai akhir hayat tini, kalo dengan mas tono entahlah ma, tini seperti menganggap beliau seperti papa sejak dulu tak lebih, bahkan kalo mau hubungan suami istri tini enggan dan merasa terpaksa hanya sebatas melayani kewajiban saja”, ucap nya.

“Kamu belajar mencintai nya tin, mungkin dengan cara itu kamu akan mendapatkan kebahagiaan”, ucap ku memberikan nasehat pada nya.

“Susah ma, sudah beberapa kali tini coba, tapi nggak bisa melupakan mas rustam, apalagi sifat nya bertolak belakang dengan mas rustam ma, ahhhh jadi malu tini ceritain masalah rumah tangga tini pada mama”, ucap nya lalu menundukkan wajah nya.

Setelah makan siang kami sempat ngobrol sebentar dan akhirnya aku meminta suami ku mengantarkan tini pulang ke rumah nya biar ngga kemalaman sampai disana, agus yang kini mulai akrab dengan citra pengen ikut.

“Ma, papa pergi dulu ya, kamu dan putri baik-baik di rumah dan hubungin papa jika ada apa-apa dengan kalian”, ucap nya lalu mencium kening ku setelah tadi aku mencium buku tangan nya.

Tini memperhatikan kemesraan ku dengan rustam, tatapan mata nya sayu seakan ia membayangkan diri nya yang sedang dicium kening nya oleh rustam.

“Dah yuk citra, agus, tini, kita berangkat”, ucap suami ku mengajak mereka ke mobil yang terparkir di halaman depan.

“Hati-hati pa bawa mobil nya”, sahut ku berteriak pada suami ku.

“Iya ma, doain ya ma, assalamualaikum wr.wb mam sayang dah”, ucap suami ku sambil melambaikan tangan nya.

“Waalaikum salam wr.wb”, ucap ku sambil juga melambaikan tangan pada mereka.

Aku lantas masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah lalu masuk ke kamar ku dimana putri kini tidur. Bayi yang cantik seperti ibu nya sedang tidur pulas setelah tadi sempat menangis karena lapar dan setelah kuberikan susu ia kembali tenang.

Aku kemudian ke kamar bunda lia, kamar madu ku yang tidak pernah ku ganggu privasi nya kecuali ia yang meminta nya, begitupun juga dengan kamar ku bunda lia tidak pernah mau masuk ke kamar ku bila tidak ada ijin dari ku, komitmen sederhana tapi bermakna buat kami berdua, walau tinggal seatap tetaplah kami berdua punya kehidupan masing-masing, umpama nya rustam punya 2 rumah itu menurut penjelasan bunda lia saat itu.

Aku mencari buku diary yang ia kemaren katakan, apa mungkin di dalam laci itu, apa ini kunci nya ya, setelah bunda lia sempat memberikan kunci ini pada ku.

Ku buka laci tersebut dan ternyata terdapat 1 bundel map plastik transparan, di dalam nya terdapat 1 buku diary, 1 buah pulpen dan beberapa lembar kertas kosong dan kertas surat.

Sebelum aku membuka buku diary aku sempat mendapati surat tini tanggal 20 september 1992, saat pertama surat itu ia kirimkan pada bunda lia. Kubuka buku diary bunda, lembar perlembar ku baca air mata ku tak kuat untuk tidak meneteskan air mata ku saat mengetahui bunda lia di diagnosa sakit jantung koroner, hari-hari nya menghadapi penyakit nya, persahabatan nya dengan tini yang sudah seperti saudara nya, perasaan nya pada rustam yang dari hari ke hari membuat nya menyukai rustam yang kini menjadi ayah dari anak nya, pertemuan kembali ia dengan rustam dan ia menyerahkan kesucian nya tanpa ia meminta apapun pada rustam, semua ia ceritakan.

Sedih, menyayat hati saat aku mengetahui semua ini, ia begitu sayang pada suami ku dan aku, ia bersyukur dipertemukan dan tinggal seatap sebagai keluarga dengan ku dan rustam, rasa syukur nya saat hamil dan bahagia saat liburan 1 tahun lalu di provinsi babel, dan sebelum ia melahirkan ia menuliskan kalimat yang membuat aku seolah ingin berteriak.

“Ya Allah, aku mohon kasih kesempatan ku untuk melahirkan anak kami, menyusui nya walaupun itu hanya satu kali dalam sisa umur ku, dan terima kasih engkau berikan aku jodoh suami yang sesempurna mas rustam, dan mempunyai teman sahabat dan kakak sebaik mama yatmi, lia bersyukur diberikan kesempatan ini walaupun hanya sebentar”.

Tetesan air mata ku jatuh saat membaca tulisan terakhir alm. bunda lia, saat 1 minggu sebelum ia melahirkan. Kemudian aku teringat dengan omongan bunda lia mengenai surat-surat tini, aku urutkan sesuai tanggal yang diterima bunda lia, lalu aku baca satu persatu, dan saat ia menceritakan kejadian sebenarnya mengenai pemerkosaan papa nya yang ternyata saat itu ia sedang mengandung citra anak nya sekarang baru aku percaya atas semua omongan ibu mertua ku kemaren dan bunda lia beberapa waktu lalu, jadi citra kakak nya agus, jarak kehamilan nya dengan ku mungkin hanya berbeda 1 minggu karena sebelum aku berangkat ke pendopo tini dan rustam melakukan nya terlebih dahulu di hotel.

Ia juga menceritakan pada bunda lia, ia terpaksa menikah dengan papa nya karena saat itu mungkin itu jalan terbaik buat nya yang sedang hamil dan tidak mungkin menceritakan masalah ini dengan rustam karena mereka ketangkap basah oleh ku dan rustam saat itu.

“Apa yang mesti ku lakukan ya Allah Swt, haruskah aku menceritakan ini semua dengan suami ku biar jelas semua nya atau mesti aku tutupi sampai terkuak sendiri nanti nya”, gumam ku membatin.

Sementara itu di tempat lain…..

Pov rustam

Aku terpaksa mengikuti keinginan tini untuk melihat keraton jogja, itu karena citra yang merengek ingin jalan-jalan.

“Ma, kata nya mau ajakin ciltra jalan-jalan”, rengek citra pada tini mama nya.

“Iya nak, ngomong dong sama papa rustam… eh mas rustam nak”, ucap ku kelepasan memanggil nya dengan sebutan papa pada mas rustam.

“Papa rustam, cilra pengen jalan-jalan boleh ya”, ucap nya manja.

“Papa yaudah boleh kok sayang kamu panggil om papa, seperti agus panggil om papa”, ucap ku kaget saat citra memanggil ku papa rustam.

Mobil memasuki objek wisata keraton jogja, dan setelah memarkirkan mobil, mereka turun dengan senyum dan begitu semangat, terutama citra dan agus, kedua bocah yang cerdas menurut ku.

“Ini tempat apa pa?”, tanya agus pada ku.

“Keraton jogja, gus”, celetuk citra menjawab.

“Wah pintar banget kamu nak citra, nanti papa bakalan ajak kamu nak biar tau tempat-tempat wisata di jogja, maafin papa ya belum sempat ngajak jalan-jalan”, ucap ku pada agus anak ku.

“Iya pa, agus bahagia pa, makacih pa”, ucap nya memeluk ku.

Aku yang melihat citra seperti cemburu melihat aku hanya memeluk agus melambaikan tangan ku pada citra untuk mendekat, lalu ia tersenyum dan ikut memeluk ku.

Tini meneteskan air mata saat melihat kemesraan kami bertiga saat itu, ia memalingkan wajah nya saat ia tersadar aku melihat nya dan segera menyeka air mata nya dengan tisu.

“Kok mama menangis ya pa, ucap citra pada ku setelah ia melihat tini mama nya.

“Tadi mama kelilipan nak, yuk kita ke dalam nanti kemalaman kita pulang nya”, sahut tini menjawab omongan anak nya, menutupi rahasia nya depan anak nya.

“Kamu kenapa dik, kok tadi nangis saat kami bertiga berpelukan, kamu baik-baik saja kan?”, ucap ku menayakan pertanyaan yang sama dengan citra tadi.

“Iya mas, nggak apa-apa, tini sehat kok”, ucap nya singkat menutupi sesuatu yang aku tidak ketahui.

Hampir 1 jam kami berempat berada di lokasi wisata tersebut, hingga tak terasa kami akan pulang dan mengantarkan nya ke komplek perumahan dinas polda jogjakarta.

“Ini nomor hp ku mas, kamu simpan dan hubungin aku ya, cuma kamu mas keluarga terdekat adik di kota ini”, ucap tini sambil menyerahkan secarik kertas pada ku sebelum ia turun ke dalam rumah nya.

“Pasti dik, mas akan hubungin kamu nanti setelah sampai di rumah, makasih ya sudah beri mas semangat menghadapi cobaan ini”, ucap ku.

“Mas, tini kangen sama kamu tini….”, ucap nya dan sengaja ia tak melanjutkan omongan nya.

“Sudah dik, lupakan semua yang sudah terjadi, itu masa lalu ke depan nya kita mesti hadapi kenyataan bahwa kita sekarang sudah sama-sama mengambil keputusan itu, kita mesti menghormati pasangan kita masing-masing, mas harap kamu mengerti dengan sikap mas saat ini, kita lebih baik menjadi kakak dan adik”, ucap ku menjawab.

“Tapi…… Mas tini…. Masih sayang sama kamu…”, ucap nya lalu tertunduk malu setelah mengucapkan kalimat itu.

“Tidak selamanya mencintai itu mesti harus bersama dik, mas tetao mengenang kamu dan semua memori kita selama ini akan selalu jadi kenangan terindah buat mas, tapi untuk ke depan nya mas nggak bisa dan berjanji untuk membahagiakan mama yatmi dan anak-anak, semoga kamu faham ya dik”, ucap ku sambil tersenyum dan mengecup kening nya.

“Itu ciuman mas sebagai kakak mu, mulai sekarang kita perbaiki hubungan ini bukan karena sebagai kekasih melainkan sebagai kakak dan adik”, ucap ku menjelaskan semuanya supaya nanti tidak menimbulkan masalah dilain hari.

“Iya mas, tini ngerti posisi mas, udah tini mau masuk dulu, cuuuppp…”, ucap nya lalu mencium bibir ku dengan ciuman yang dulu ia berikan pada ku.

Ciuman yang kurasakan sama seperti saat kami pacaran, penuh gairah, nafsu dan kehangatan dari nya. Aku diam tak membalas ciuman nya membuat tini seakan kecewa dengan sikap dingin ku pada nya.

“Maafin mas dik, walaupun masih ada sedikit sayang ku pada mu, tapi sekarang rasa sayang ku sebagai kakak lebih besar karena mas lebih memilih membahagiakan istri mas dan anak-anak, maafin sikap ku dik”, gumam ku di hati

 

===

Pov rustam

Aku melihat bunda lia duduk di taman dengan tersenyum, pakaian nya sangat anggun serba putih tapi aura bahagia terpancar dari wajah nya, ia bersenandung sambil memainkan bunga mawar yang ia petik di taman itu.

Begitu ia menyadari kedatangan ku ia tersenyum, aku mencoba mendekati nya tapi seperti ada tembok pembatas yang tak bisa kumasuki, beberapa kali ku coba untuk memasuki nya tetap saja aku terpental bahkan membuat sekujur tubuh ku kesakitan.

Akhirnya ia mendekati ku dan jarak kami yang hanya beberapa centi tapi tak bisa ku gapai, “bunda lia, papa kangen kamu bun”, teriak ku sekencang-kencang nya memanggil nama nya.

Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya, dia nggak mengeluarkan sepatah kata hanya bahasa tubuh dan isyarat yang ia lontarkan, membuat aku seakan ingin menangis, “bunda jangan tinggalkan papa, bunda papa ingin menemani mu, papa ingin selalu bersama mu bun”, teriak ku sekali lagi.

“Pa…..Papa… Bangun pa”, ucap suara wanita di telinga ku.

Seketika aku kembali terjaga, aku kaget saat menyadari aku berada di kamar istri ku yatmi, dan seluruh tubuh ku berkeringat.

“Papa, merindukan bunda ma, tadi papa mimpi melihat bunda ma, hikzzz…. hikzzz…. hikzzz…. “, ucap ku saat tangan yatmi istri ku membelai rambut ku dan tubuh ku bersandar di bahu nya menceritakan mimpi ku barusan sambil menangis sesegukkan.

Yatmi istri ku mendengarkan semua yang barus aja kualami, dia ikut menangis dan terus mencoba membuat aku melepaskan semua kegelisahan dan kesedihan ku saat itu.

Setelah selesai aku menceritakan semua, yatmi istri ku mencium bibir ku dengan penuh kasih, dan ia memegang pipi ku menatap ku dengan tatapan penuh cinta.

“Papa sayang sama bunda?”, ucap nya bertanya.

“Iya pasti itu ma, kenapa ma?”, ucap ku singkat dan bingung dengan maksud pertanyaan nya.

“Kalo papa sayang sama bunda, papa mulai sekarang bahagiakan putri, bahagiakan kami pa, justru itu permintaan bunda saat terakhir nya, hidup mesti terus berjalan pa!!!!”, ucap nya mengingatkan ku akan tanggung jawab dan segera bangkit menghadapi hidup yang terus berjalan.

“Iya ma, makasih ya, papa janji akan berusaha membahagiakan kalian, kita sama-sama besarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, papa beruntung memiliki kamu ma, makasih ya ma, cuuuuuuppppp… emuuuacchhh…”, ucap ku lalu mencium istri ku dengan penuh kasih.

Ciuman yang awalnya hanya sebatas ciuman singkat malah makin lama semakin membuat nafsu dan gairah kami bangkit, hingga akhirnya malam itu aku dan istri ku menyalurkan kerinduan kami berdua dengan berhubungan sebagai suami istri.

“Makasih pa, mama bahagia punya suami seperti papa, mama janji akan mendidik agus dan putri menjadi anak yang soleh yang kelak akan mendoakan kita di hari tua kita, mama bahagia pa, tapi ingat ya pa, mama tidak ingin berbagi suami lagi dengan yang lain janji ya pa”, ucap yatmi istri ku.

“Ia sayang papa janji, cuma mama istri papa sampai maut memisahkan kita, i love you ma”, ucap ku memeluk tubuh telanjang nya yang sesaat lalu sempat ku gauli.

“Terima kasih bunda, beristirahatlah disana dengan tenang kami semua akan selalu mengenang mu”, gumam ku di hati.

 

 

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo