loading...

“Alhamdulillah yah, lia sudah selesai operasi nya, anak nya perempuan lahir dengan selamat, sehat dan normal, cuma lia masih belum sadar dari bius dan menurut dokter keadaan lia aman dan sehat”.

to: mama yatmi

“Alhamdulillah ma, bunda lia sudah selesai operasi cesar, anak nya perempuan sehat dan normal, cuma bunda lia belum sadar dari bius tapi kondisi bunda lia sehat kok”.

Setelah aku mengirim sms kepada ayah dodit dan yatmi di rumah, kini aku ingin masuk ke ruangan operasi, dimana bunda lia berada, tetapi ruangan sudah kosong yang ada hanya 2 orang suster yang sedang bersih-bersih setelah selesai operasi.

“Permisi, maaf mengganggu suster mau tanya ibu yang tadi baru selesai operasi di bawa kemana ya, saya suami nya”. Ucap ku menanyakan di bawa ke mana istri ku dan anak ku.

“Oh itu ibu lia yang baru saja operasi cesar ya, barusan di bawa ke ruangan pemulihan pak, dan anak nya dibawa ke ruangan isolasi khusus anak yang baru lahir, bapak nanti urus dulu kamar rawap inap nya di bagian administrasi nanti ibu lia dan anak nya akan ditempatkan ke ruangan rawat inap setelah bapak urus kamar nya”, ucap salah seorang suster.

“Oh begitu sus, baiklah saya permisi dulu, sekarang mau ngurus kamar rawat inap buat istri ku, makasih atas informasi nya”, ucap ku menyahuti penjelasan nya.

Aku segera ke bagian administrasi pasien, dan setelah disana segera mengurus kamar rawat inap buat lia dan anak ku nanti nya, dan setelah mengurus nya aku mendapatkan kamar rawat inap di kelas 2 kamar no. 7, petugas yang berjaga di bagian administrasi pasien mengatakan kalau ibu lia sudah sadar dan sedang di bawa ke kamar rawat inap kelas 2 nomor 7.

Aku segera menuju kamar yang dimaksud dan berharap segera bertemu istri ku lia, ada kegelisahan tersendiri saat itu sebelum melihat sendiri istri ku dan anak ku dalam keadaan sehat.

Kamar no.7 kelas 2…….

“Ya benar ini kamar nya”, gumam ku membatin.

Ceklek….

Aku melihat istri ku yang masih tergolek lemas di ranjang dengan pakaian pasien, saat aku membuka pintu dan melihat ku terpancar senyum nya seolah ingin mengatakan bahwa ia dalam kondisi baik-baik saja, lalu aku mendekati nya.

“Papa”, panggil nya sambil merentangkan kedua tangan nya sambil ia berbaring.

“Bunda”, sahut ku lalu mendekati dan memeluk nya.

Air mata ku menetes bahagia melihat senyum nya, kekhawatiran ku hilang seketika, yang ada kebahagiaan melihat ia selamat dalam operasi cesar tersebut, alhamdulillah ya allah engkau telah mengabulkan permohonan ku, aku bisa melihat istri ku dalam keadaan sehat”, batin ku berkata mengucapkan syukur pada-Nya.

“Pa, anak kita mana”, ucap lia menanyakan anak kami berada.

“Menurut keterangan suster, anak kita masih di ruang isolasi bun, nanti akan dibawa kesini oleh suster bunda tenang ya anak kita cantik kayak kamu, dan papa bahagia memiliki putri dari rahim mu, terima kasih bun”, ucap ku menenangkan istri ku dan memberi nya kecupan di kening nya.

“Alhamdulillah pa, bunda juga bahagia pa bisa memberimu anak, i love you pa”, ucap nya dan menyeka air mata ku yang masih menetes.

“Maaf papa jadi cengeng ya, hehehehe, bentar bun papa telpon ayah dulu biar bunda bisa ngomong dengan ayah langsung”, ucap ku sembari mengeluarkan hp ku.

Tut…. Tut…. Tut….

“Ya hallo”, ucap suara ayah dodit di ujung telepon sana.

“Hallo yah, assalamualaikum wr.wb”, jawab ku.

“Waalaikum salam nak, gimana keadaan lia nak?”, ucap nya khawatir di sana.

“Alhamdulillah yah, lia sudah sadar saat ini sudah sama rustam di kamar rawat inap kelas 2 no.7, bentar yah lia mau ngomong sama ayah”, ucap ku menjawab kekawatiran nya dan memberikan hp pada lia istri ku.

Hp ku diterima lia, dan ia lalu ngobrol sama ayah nya, aku bahagia saat lia tersenyum sambil ngomong ke ayah nya, sesekali aku mendengar lia mengatakan baik-baik saja sambil mengelus rambut nya yang tertutup jilbab, dan mencium kening nya saking senang nya aku sudah melihat kondisi nya yang membaik pasca operasi cesar.

Beberapa menit kemudian lia mengakhiri obrolan nya dengan orang tua nya dengan mengucap salam, dan tersenyum pada ku sambil menyerahkan hp ku.

“Besok mama ke sini bun, nanti hp bunda dibawain sama mama ya, bunda nanti ditemanin sama mama ya, soalnya papa mau ajak agus jemput kakek nya di bandara”, ucap ku.

“Iya pa, tadi ayah dan ibu bilang nya begitu mau ke jogja besok, pa bunda pengen ketemu sama ayah dan ibu papa, papa nanti jemput mereka ya”, ucap lia istri ku.

“Ayah dan ibu juga akan kesini bun, tadi papa sudah ngasih kabar ke mas dedi dan rencana nya besok mereka berangkat dari kampung, yaudah bunda istirahat dulu, biar besok bunda segar ketemu orang tua kita bun, papa keluar sebentar mau beli makan nanti papa makan di kamar saja”, ucap ku meminta nya istirahat dan keluar sebentar mau beli makan buat ku.

“Cium dulu baru boleh pergi”, rengek manja lia istri ku.

Cuuuppppp…. Emmuuaaccchhh….

Aku menuruti permintaan lia istri ku, ku cium bibir nya dengan penuh perasaan, ciuman singkat penuh sayang kami lakukan. “Bunda sayang papa”, ucap nya pelan. “Papa juga sayang bunda”, sahut ku.

Aku lalu keluar ruangan dimana lia saat ini di rawat, ku lirik jam tangan ku sudah menunjukkan angka 11, “beli di mana nih, coba aku ke angkringan mungkin masih ada yang buka dekat rumah sakit ini”, gumam ku.

 

===

Keesokan hari nya…..
Pov lia

“Papa sayang, bangun pa”, ucap ku pelan membangunkan suami ku sambil mengelus rambut nya

“Eh bunda kenapa bun, ada yang perlu papa ambilin”, ucap nya saat ia terjaga dari tidur nya.

“Nggak pa, bunda jadi nggak tega melihat papa, tidur nya pasti nggak nyaman”, ucap ku setelah mengetahui diri nya menunggui ku semalaman dan tertidur sambil duduk memegang tangan ku.

“Nggak bun, bunda jangan merasa nggak enak apa yang papa lakukan masih jauh lebih ringan dibandingkan perjuangan bunda melahirkan anak kita, papa ingin selalu menemani bunda kita rawat anak kita hingga dewasa, papa ingin bunda dan mama menemani papa terus sampai kita jadi kakek nenek, papa butuh bunda semangat ya bun demi anak kita”, ucap nya menenangkan perasaan nggak enak ku pada nya.

“Pa, makasih ya, kamu suami terbaik buat bunda, bunda akan selalu mencintai papa dan doakan bunda biar bisa menemani papa hingga nafas terakhir bunda”.

“Kita serahin ke allah bun, papa akan berusaha menyembuhkan penyakit bunda, papa bahagia bersama bunda dan mama, jangan bunda ragukan kasih sayang papa dengan bunda”.

“Iya pa, makasih ya pa”, ucap ku singkat dan memeluk tubuh nya sebagai ungkapan sayang ku pada nya.

Tak lama seorang suster datang dengan membawa ranjang bayi dan menghampiri kami berdua.

“Bapak ibu maaf mengganggu kemesraan kalian, saya bawakan anak kalian, ucap suster tersebut sambil menyerahkan anak kami pada ku.

“Makasih suster”, ucap ku dan menyambut anak ku dengan penuh bahagia.

Mas rustam terlihat bahagia saat anak kami sudah berada di pelukan ku, bayi perempuan yang cantik seperti yang suami ku bilang ia mirip sekali dengan ku.

“Sebaiknya ibu coba beri ASI untuk anak nya, itu menambah ikatan batin antara ibu dan anak sekaligus baik untuk perkembangan bayi ibu”, ucap suster tersebut menyarankan pada istri ku.

“Iya sus”, jawab ku singkat dan menganggukkan kepala.

“Kalo begitu saya permisi dulu, selamat buat bapak dan ibu atas kelahiran putri nya”, ucap nya ramah lalu meninggalkan kami berdua.

Aku menggeser baju pasien ku yang di dalam nya tidak terdapat daleman, dan mendekatkan putri kami ke payudara ku, sesaat suara tangisan nya membuat haru dan bahagia, tangisan bayi ku menyadarkan ku bahwa aku sekarang menjadi seorang ibu.

Bayi ku diam saat ia mulai menghisap puting susu ku yang kini sudah bisa mengeluarkan ASI, ku dekap bayi ku dengan penuh cinta dan membelai nya supaya ia nyaman dalam dekapan ku.

“Bunda makin cantik saja kalo sedang menyusui bayi kita, eh iya bunda punya nama buat anak kita nggak?”, ucap mas rustam memperhatikan ku sedang menyusui bayi kami.

“Bunda mau kasih nama Amelia putri anwar, apa papa setuju dengan nama itu?”, ucap ku mengusulkan nama buat bayi kami.

“Nama yang cantik secantik ibu nya, tapi kok ada nama bunda di nama putri kita”, ucap mas rustam setelah mendengar usulan nama dari ku.

“Biar ia selalu ingat bahwa bunda nya amelia ratna wahyudi yang melahirkan nya pa”, ucap ku menjawab pertanyaan suami ku.

“Papa setuju sayang, jangan lagi bunda ngomong yang aneh-aneh sayang, papa ingin bunda menemani anak kita hingga sampai kita tua, papa nggak bisa hidup tanpa bunda”, ucap suami ku dengan muka yang berubah sedih saat aku seakan ingin meninggalkan nya.

“Iya pa, bunda akan berjuang untuk bertahan hidup demi kalian, bunda tidak ingin melihat papa sedih maafin bunda ya pa”, ucap ku menyadari kesalahan ucapan ku barusan.

Jam di dinding menunjukkan angka 10 pagi, ku lihat wajah nya yang terlihat lelah dan capek.

“Pa, bunda ingin papa istirahat saja di rumah, nanti kesini lagi sama mama yatmi, bunda nggak mau papa jadi sakit, apalagi nanti papa bakalan mau jemput ayah dan ibu di bandara, bunda nggak apa-apa kok di sini, kalo perlu apa-apa bunda bisa minta tolong suster lewat tombol ini”. ucap ku.

“Iya bun, papa pulang dulu istirahat di rumah nanti papa ke sini sama mama yatmi”, jawab suami ku mengiyakan permintaan ku.

“Hp ini papa kasih ke mama, nanti kamu hubungin papa ya kalo ada apa-apa”, ucap nya dan mengecup kening ku serta ubun-ubun anak kami sebelum ia melangkah pergi keluar kamar inap yang ku tempati saat ini.

“Mas rustam makasih, kamu suami terbaik buat bunda, maafin bunda jika selama ini banyak salah pada mu, jika umur bunda nggak lama bunda merasa bahagia pernah menjadi bagian hati mu, menjadi istri mu adalah anugerah buat ku pa, i love you”, ucap ku dalam hati dan tak terasa air mata ku menetes mengetahui penyakit ku ini.

Sebelum aku melahirkan, saat aku di rumah sakit stanvac co, dokter disana menyarankan ku untuk melakukan operasi cangkok jantung, karena jantung ku efektif nya hanya 60% lagi, dalam waktu 2 sampai 6 bulan kinerja jantung ku semakin lama semakin menurun karena fungsi nya semakin berat, dan semua itu diceritakan ayah saat aku sadar dari pingsan ku.

Tapi menurut ayah, keajaiban allah itu ada nak dan ayah percaya sama semua itu, kamu mesti semangat untuk menjalani nya demi suami dan anak yang kamu kandung, itulah motivasi yang membuat aku semangat sampai detik ini karena kasih sayang dari orang-orang disekitarku yang selalu mensupport ku untuk terus berjuang sampai nafas terakhir ku.

“Nak, jika bunda pergi kamu sayangi mama yatmi seperti ibu kandung mu ya nak, bunda akan selalu mengawasi mu disana, bunda sayang sama kamu, tapi jika allah sudah menentukan takdir bunda, tidak ada seorang pun bisa menentang nya, bunda bahagia bisa menjadi ibu mu walau nanti nya bunda tak bisa melihat mu tumbuh menjadi dewasa, melihat cucu dari rahim mu dan tidak bisa menjadi sahabat mu, maafin bunda ya nak”.

 

===

Di tempat lain… di perumahan mataram bumi sejahtera….
Pov yatmi

Aku menunggu kabar suami ku dengan cemas, setelah mengetahui bahwa bunda lia di operasi cesar, dan baru bisa bernafas lega setelah mendapatkan sms dari suami ku yang mengatakan bahwa lia sudah selesai operasi cesar anak nya perempuan sehat dan normal, dan bunda lia pun dalam keadaan baik-baik walau masih belum sadar karena efek obat bius.

Pagi itu setelah aku memasak dan memberi makan agus anak ku, tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu depan rumah.

“Assalamualaikum wr.wb”, ucap suara dari luar mengucap salam.

“Waalaikum salam wr.wb, siapa di luar?”, ucap ku menyahuti dari dalam sebelum membukakan pintu.

“Mas dedi mi, sama ibu dan bapak”, sahut suara dari luar.

Ceklek….

Pintu terbuka dan segera ku sambut mereka dengan senyum penuh bahagia, yang datang ternyata kakak ipar dan mertua ku dari kampung, ku cium tangan mas dedi, bapak dan ku peluk ibu watini serta cipika cipiki sebagai bentuk keriduan menantu dan mertua nya padahal aku dulu nya pernah menjadi adik ipar mereka.

“Yuk masuk mas, ibu dan bapak, inilah keadaan kami”, ucap ku mempersilahkan keluarga suami ku masuk ke dalam.

“Nyaman juga disini nak, oiya rustam belum pulang dari rumah sakit ya mi”, ucap ibu mertua ku saat ia mulai membuka obrolan kami.

“Belum bu, masih di sana, bentar aku telpon dulu mas rustam”, ucap ku lalu menelpon suami ku.

Tut….. Tut….. Tut……

“Assalamualikum ma”, ucap suara bunda lia di ujung telpon sana.

“Waalaikum salam bun, gimana keadaan bunda?”, jawab ku.

“Alhamdulillah ma, sudah mendingan tinggal pemulihan saja menurut suster dan dokter di sini, eh iya ma, papa sudah jalan pulang, mungkin bentar lagi sampai ke rumah, tadi papa sengaja titipin hp nya ke bunda”, ucap bunda lia.

“Mama pengen bantuin sebenar nya bun, tapi nggak bisa bawa agus ke rumah sakit, eh iya bun sampai lupa, ada ibu watini barusan sampai, bunda ngomong dulu sama ibu ya, mama mau bikinin minuman dulu buat mereka”, ucap ku lantas memberikan hp pada ibu mertua ku.

“Bentar ya mas, pak, yatmi tinggal ke dapur dulu”, ucap ku pamit dan meninggalkan mereka di ruang tamu.

10 menit kemudian….

“Loh papa sudah sampai ya”, ucap ku kaget saat suami ku sudah duduk mengobrol sama mas dedi, dan bapak.

Aku lu meletakkan minuman ke atas meja dan menyuguhkan ke mas dedi dan bapak, kemudian mendekati suami ku dan mencium buku tangan nya.

“Papa, mandi dulu biar segar nanti mama bikinin minum ya”, ucap ku meminta nya mandi dan kemudian ia mengikuti ku ke belakang.

“Ma, bentar, papa kangen sama mama”, ucap suami ku menahan ku untuk pergi ke dapur.

Suami ku lalu mencium ku dengan lembut dan penuh penghayata lalu memeluk ku, entah berapa menit kami berdua berciuman dan berpelukan membuat ku ikut terhanyut hingga agus menegur kami saat ia keluar dari kamar setelah bangun dari tidur nya.

“Ih papa nakal cium mama pagi-pagi”, ucap agus membuat kami berdua kaget dan hampir mau tertawa.

“Sini nak, papa bawa kamu ke depan ya, ada kakek dan nenek sama wak dedi”, ucap suami ku lalu ia menggendong agus ke depan.

Sepeninggal suami ku dan agus, aku lalu membuatkan suami ku kopi hitam, dan teh manis hangat buat ibu watini serta memasakkan air untuk ia mandi, dan membawa nya ke depan untuk ku sajikan.

“Pa, mandi dulu air hangat nya sudah siap, nanti dingin air nya, nanti lanjutin lagi kange-kangenan nya”, ucap ku membuat rustam suami ku mengangguk.

“Iya ma, mas, pak, bu, rustam permisi ke belakang mau mandi, nanti setelah itu kita semua ke rumah sakit jengukin lia dan cucu ibu dan bapak”, ucap nya lalu pergi ke dapur.

Aku mengikuti suami ku di belakang nya, suami ku masuk ke kamar ku terlebih dahulu, sementara aku ke dapur menyiapkan air hangat untuk nya mandi.

Jam 13.00 wib setelah makan siang kami semua berangkat menuju rumah sakit bethesda.

Kami sudah sampai di rumah sakit bethesda, dengan menumpang mobil carry yang dibawa mas dedi dari kampung, satu persatu kami turun dari mobil menuju ke dalam rumah sakit, cuma agus saja yang tidak di bolehkan masuk ke dalam terpaksa mas dedi menemani agus sementara sementara suami ku menunjukkan jalan ke kamar inap bunda lia di ikuti oleh ku, ibu dan bapak mertua ku.

Ceklek…..

Kami memasuki ruangan dimana bunda lia dirawat, ternyata ia tertidur saat kami datang mungkin karena sudah makan dan meminum obat dari dokter rumah sakit hingga ia tertidur.

Di dalam box bayi tertidur seorang bayi perempuan yang cantik dan menggemaskan, wajah nya mirip sekali seperti ibu nya, lucu dan menggemaskan sekali melihat nya.

“Bun…Bunda….”, ucap suami ku di telinga bunda lia.

Hoam…. Bunda lia bergeliat dan membuka mata nya perlahan dan ia tersenyum saat ia menyadari bahwa kami datang menjenguk nya.

“Eh…Mama, ibu, bapak”, ucap nya lalu mencium tangan bapak, ibu dan aku.

“Sudah berbaring sana nak”, ucap ibu watini saat lia ingin menyenderkan tubuh nya.

Ia menuruti apa omongan ibu mertua ku barusan dan berusaha tersenyum melihat kami.

“Pa, kasih lihat putri ke nenek kakek dan mama nya, pasti mereka semua pengen gendong putri” ucap bunda lia pada suami ku.

Suami ku menggendong bayi perempuan yang dipanggil putri oleh bunda nya dan menyerahkan ke ibu nya terlebih dahulu.

“Ini bu, nama nya amelia putri anwar, nama yang diberikan bunda nya, cantik kan bu seperti bunda nya”, ucap suami ku setelah menyerahkan putri pada ibu nya.

“Cantik seperti ibu nya nak, cucu ku sayang ini nenek, ini kakek, dan ini mama mu”, ucap ibu mertua ku seoalah mengenalkan kami semua pada nya.

“Bunda… Papa pergi dulu ya mau jemput ayah dan ibu di bandara, kamu disini nanti ditemani ibu, bapak dan mama ya, papa pergi sayang”, ucap suami ku sembari mengecup kening bunda lia.

“Iya pa, hati-hati di jalan ya pa”, jawab bunda lia lalu mencium buku tangan suami ku.

Suami ku lalu meninggalkan ruangan kamar inap setelah sempat berpamitan terlebih dulu sama ibu dan bapak nya serta pada ku, dan rencana nya ia akan menjemput mertu nya yang akan tiba di bandara adi sutjipto jogja jam 14.30 wib.

“Bunda, nih hp kamu”, ucap ku saat aku mendekat ke arah nya.

“Makasih ma, eh iya ma, nanti bunda mau ngomong berdua saja sama mama, penting ma”, ucap bunda lia berbisik ke telinga ku.

“Ok bunda, mama akan selalu ada disamping mu”, ucap ku mengiyakan permintaan nya

 

===

Pov lia

Setelah ibu dan bapak keluar sebentar, entah apa yang sempat di bicarakan mama yatmi pada mertua ku akhirnya aku bisa berbicara berdua saja dengan mama yatmi.

“Mama yatmi, sebelumnya bunda minta maaf atas semua kesalahan bunda baik sengaja maupun tidak di sengaja, bunda mungkin menyakiti hati mama dengan menikahi papa rustam, suami kita berdua yang sangat kita sayangi, bunda ada rahasia yang mama yatmi sudah tau atau belum dengan rahasia ini,”, ucap ku berhenti sejenak sambil menarik nafas dan mengatur nafas ku.

Jantung ku terasa sakit saat ini, nafas ku terasa berat, karena oksigen dalam tubuh ku berkurang, jantung ku melemah karena alat pacu nya bermasalah.

“Tini ma, ini menyangkut tini, mama akan tau semua nya jika mama baca di buku diary lia, semua surat tini ada di dalam buku diary lia, selama ini kami berdua selalu komunikasi lewat surat setiap bulan, tolong mama jangan menyalahkan tini ma, mama bisa baca semua nya dan tolong jangan sampai papa rustam tau masalah ini, bunda tidak ingin papa marah sama bunda karena menyimpan rahasia ini selama ini, dan perlu mama tau sekarang kondisi bunda makin lemah, mau berdiri dan jalan ke wc saja sudah nggak kuat, itu karena jantung bunda sudah berat bekerja mungkin kini hanya 40% efektif kerja jantung bunda ma”. Ucap ku terputus karena aku mesti mengatur nafas yang mulai berat.

“Bunda minta mama merawat dan mengasuh putri, bunda titip putri ya ma, bunda percaya mama pasti bisa merawat, mengasuh serta mendidik putri seperti anak mama sendiri”, ucap ku kemudian.

Aku melihat mama yatmi sudah berlinang air mata, tak ada sepatah kata keluar dari bibir nya, aku tau ia sama seperti ku tidak mau membuat suami kami sedih, kesedihan di mata nya seakan membuat ku ikut bersedih, aku tau walau ia madu ku tapi kasih sayang nya seperti ibu pad anak nya, seperti kakak pada adik nya dan bahkan ia banyak mengalah demi membahagiakan ku memberikan kesempatan ku untuk lebih intim sama suami kami, “mama makasih ya sudah bikin bunda bahagia, mama jangan sedih bunda bahagia mengenal mama dan papa walaupun tidak lama”. Bisik ku ke telinga nya.

“Bunda, please jangan ngomong seperti itu mama yakin bunda kuat melewati ini, mama dan papa akan berusaha menyembuhkan penyakit bunda, jangan tinggalkan kami bun”, ucap mama yatmi sedih.

“Ma, bisa nggak tolong panggilin ibu dan bapak bunda ingin ngomong sama mereka”, ucap ku meminta dengan sopan pada mama yatmi.

“Iya mama panggilin mereka bun, mama minta bunda banyak istighfar dan berzikir mohon kepada Allah Swt diangkat semua penyakit nya”, ucap mama yatmi memberi ku semangat dan memeluk ku lalu melangkah keluar menemui kedua mertua ku.

Ditempat lain…. Di bandara Adi Sutjipto Yogyakarta….
Pov rustam

Saat aku pergi ke bandara ditemani oleh mas dedi dan agus, pikiran ku berada di rumah sakit, ada sesuatu yang membuat ku merasa gelisah tanpa tau sebab nya, begitu sampai di bandara kami menunggu kedatangan pesawat hari ini di lobby kedatangan.

“Kok kenapa hati ku serasa perih seperti ini, padahal seharusnya aku senang karena kelahiran putri ku dari istri ku bernama Amelia Ratna Wahyudi”, gumam ku membatin.

Drrrrrrtttt….. Drrrrrrtttt…… Drrrrrrtttt…….

Tiba-tiba hp ku berbunyi dengan nada getar yang sengaja ku nyalakan biar tau kalo ada sms atau telpon masuk.

Ku buka hp ku yang ternyata pesan sms dari yatmi, istri ku.

from : mama yatmi

“Pa, sudah sampai belum ayah dan ibu lia di bandara, pa bunda pa… buruan kesini… bunda anfal dan tak sadarkan diri”.

Degh!!!

Aku kaget dan terkejut setelah membaca pesan sms dari yatmi barusan, tangan ku gemetar dan tak kuasa untuk sekedar membalas pesan sms dari istri ku.

Mas dedi yang melihat perubahan ku lalu mendekat dan memeluk ku, ia lalu merebahkan kepala ku di bahu nya, ” kenapa dik, kok tiba-tiba kamu nangis seperti ini”, ucap mas dedi menenangkan ku.

“Hikzzz….Hikzzz…Hikzzz….

“Mas boleh lihat hp mu dik”, ucap nya dan ia langsung meraih hp ku.

Mas dedi membuka hp ku dan ia pun kaget setelah membaca nya, lalu ia memeluk ku semakin erat, sementara agus yang melihat kami berdua sedih ikut menangis dan ia memeluk ku walau ia tidak tau apa yang membuat kami sedih.

 

===

Pov rustam

Sekitar 30 menit kemudian setelah aku bisa menenangkan diri ku dengan banyak istighfar dan berdoa dalam hati, akhir nya ayah dan ibu mertua ku sampai dan melihat kami sudah menunggu mereka.

“Ini dedi kan”, ucap ayah dodit ketika melihat mas dedi saat itu.

“Iya pakde, gimana kabar nya pakde?”, sahut mas dedi bertanya kabar pada mertua ku.

“Alhamdulillah nak, eh iya kita kangen-kangenan saja nanti di rumah sakit, ayah merasa nggak enak nih, apalagi ibu dari berangkat sampai tadi di pesawat nangis mulu nak.

“Ayo yah, bu emang mesti buru-buru kita ke rumah sakit”, ucap ku mengajak kedua mertua ku segera beranjak meninggalkan bandara.

Setelah dalam mobil, aku menunjukkan pesan sms dari yatmi pada ayah dan ibu mertua ku perihal anak nya yang sedang anfal dan tak sadarkan diri, seketika kedua nya meneteskan air mata dan menyebut nama anak nya LIA… Hikzzz…. Hikzzz… Hikzzzz…

Tangis ibu ratna pecah saat mengetahui lia anak nya mengalami anfal, menurut mereka ini lebih parah dari yang sudah-sudah dan berharap semoga kami masih sempat melihat dan menemui nya, “lia, anak ku yang kuat nak ibu sudah ada di jogja sekarang kamu tunggu ayah dan ibu ya nak”, ucap ibu mertua ku bergumam yang terdengar sekilas oleh indera pendengaran ku.

Drrrtttt…. Drrrrtttt….. Drrrrtttt….

Hp ku yang ku simpan di saku baju ku bergetar dan segera ku ambil lalu ku buka, pesan sms dari yatmi.

from : mama yatmi

“Papa…. Bunda pa… sekarang di bawah ke ruang ICU, kalo papa sudah sampe langsung saja ke ruangan ICU, mama, ibu dan bapak menunggu di depan ruangan ICU… Buruan pa”.

Segera ku balas pesan sms dari yatmi walaupun tangan ku gemetar menahan sedih, sedih karena istri ku sedang berjuang melawan maut.

to : mama yatmi

“Tunggu papa, ma sebentar lagi kami sampai disana, mama jangan panik, bantu bunda dengan doa ma”.

“Mas dedi, bisa lebih cepat dikit nggak bawa mobil nya”, ucap ku panik.

“Kenapa nak, kok panik gitu”, tanya ayah mertua ku.

“Ini pa, sms yatmi barusan”, ucap ku sambil menyerahkan hp ku pada ayah mertua ku.

Ayah dodit lalu membaca isi pesan sms dari yatmi, tampak ia terdiam sesaat dan mata nya mulai berkaca-kaca, suasana dalam mobil menjadi hening, terdengan isak tangis ibu mertua ku yang masih menangis mengenang anak nya lia yang sedang berjuang dari maut.

Sesampainya kami di depan rumah sakit swasta bethesda, aku kedua mertua ku langsung turun dari mobil, aku hanya berpesan pada mas dedi untuk menjaga agus sementara karena tidak diperbolehkan anak balita memasuki rumah sakit.

“Yuk pa, kita langsung ke ruangan ICU”, ucap ku pada kedua mertua ku setelah sempat aku menanyakan letak ruangan ICU di rumah sakit ini di bagian informasi.

Setelah berjalan beberapa langkah, sesuai arahan dari petugas dari bagian informasi akhirnya kami sampai di tempat yang di maksud, kulihat ibu dan bapak ku sedang duduk di bangku batu bersama yatmi. lalu kami berjalan kearah mereka.

“Pak, bu, mama, ini ayah dan ibu mertua rustam sudah tiba”, ucap ku menyapa mereka yang sedang melamun mungkin sedang memikirkan kesehatan lia saat ini.

Ayah mertua ku bersalaman dengan bapak, kemudian ibu mertua ku cipika cipiki dengan ibu ku, dan yatmi menangis dalam pelukan ku, aku berusaha tegar walau rasa sedih tak bisa aku tutupin juga saat itu.

“Sudah ma, jangan menangis, kita mesti kuat menghadapi ujian ini ma, kita berusaha saja sesuai kemampuan kita dan serahkan sepenuhnya pada Allah Swt”, ucap ku mencoba menenangkan yatmi dari kesedihan nya.

“Iya pa, semoga bunda cepat sembuh dan diangkat oleh allah penyakit nya”, ucap nya.

“Amieennn….”, sahut ku.

“Ma, kamu temanin ibu watini dan ibu ratna, papa ingin bicara dulu dengan dokter rumah sakit ini yang menangani kesehatan bunda lia, mungkin papa akan ke ruangan dokter dengan ayah dodit”, ucap ku.

“Bapak, ayah, rustam mau ke ruangan dokter yang bertanggung jawab yang menangani kesehatan bunda lia, apa ayah mau ikut sama rustam menemui dokter menanyakan kondisi lia saat ini?”, ucap ku.

“Iya nak, bapak biar disini saja, kamu sama ayah mertua mu saja temui dokter, bapak hanya bisa bantu doa semoga anak mantu bapak di berikan kesembuhan dan sadar dari anfal nya, sembuh dan diangkat allah penyakit nya, amiin ya robbal alamin”. Ucap bapak ku.

“Ayo nak, ayah juga pengen tau perkembangan lia anak ku, pak anwar ditinggal bentar ya”, ucap ayah mertua ku sopan pada bapak ku.

Sebelum aku dan ayah mertua ku ke ruangan dokter, kami sempat melihat dari kaca ruangan ICU keadaan lia yang masih belum sadar, dengan menggunakan bantuan alat pernafasan di mulut nya.

“Yuk nak, kita mesti segera temui dokter, semoga saja dokternya berada di ruangan nya”, tegur ayah ku mengingatkan tujuan awal kami tadi.

Ruangan dr. Suryo Hadi Kusumo, DSPd…..

Tok…. Tok… Tok….

“Masuk”, sahut suara seorang laki-laki dari dalam ruangan dr. Suryo Hadi Kusumo, DSPd.

Kami berdua masuk ke dalam dan mendapati dr. suryo tersenyum menyambut kedatangan kami di ruangan nya.

“Silahkan duduk bapak-bapak”, ucap dr.suryo ramah mempersilahkan kami duduk.

Setelah kami duduk lalu dr. suryo kembali bicara dengan santu, ” ada yang bisa saya bantu bapak-bapak?”.

“Perkenalkan dok, nama saya rustam anwar, dan disamping saya mertua saya bapak dodit wahyudi, saya suami dari ibu amelia ratna wahyudi, pasien di kamar ICU saat ini dok”, ucap ku memperkenalkan diri ku dan mertua ku pada dokter suryo.

“Ok bapak-bapak, saya faham maksud kedatangan bapak-bapak mau menanyakan kondisi ibu amelia ratna wahyudi ya”, ucap dr. suryo dengan yakin.

“Baiklah saya jelaskan pada bapak-bapak secara medis kondisi jantung ibu amelia ratna wahyudi”, ucap dr. suryo sambil menunjukkan gambar jantung manusia dan ia mulai menjelaskan kondisi lia.

“Saat ini ada penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri di 90% blockage seperti gambar itu pak, akibat gangguan itu yang menyebabkan ibu amelia ratna wahyudi tidak sadarkan diri sampai saat ini, karena aliran darah yang mengandung oksigen sedikit yang mengaliri seluruh organ tubuh nya, untuk mengatasi masalah itu secara medis mesti dilakukan operasi, dan ini mohon maaf sebelum nya peluang hidup untuk ibu amelia ratna wahyudi 50:50 setelah operasi, jadi menurut saya kita stabilkan dulu kondisi fisik nya, dengan kata lain ibu amelia mesti sadar terlebih dahulu, baru dilakukan observasi lanjutan dengan rotgsen dan lain-lain baru dilakukan tindakan medis lainnya yaitu operasi”, ucap dokter suryo menjelaskan kondisi lia dan langkah-langkah tindakan medis lanjutan nya.

“Apa bapak-bapak mengerti dengan penjelasan saya barusan”, ucap dr.suryo menanyakan kembali pada kami berdua.

“Saya faham dok, jadi apa kira-kira yang mesti kami lakukan saat ini dok, apa mesti menunggu istri ku amelia sadar terlebih dahulu baru dilakukan berbagai tes observasi dan baru bisa operasi seperti itu maksud dokter?”, ucap ku mengulang kembali penjelasan langkah tindakan medis yang akan dijalani li kalau ia sadar nanti.

“Iya tepat seperti itu pak langkah tindakan medis yang rumah sakit bisa lakukan, untuk saat ini kita hanya bisa berdoa supaya ibu amelia bisa melewati masa kritis nya, hanya bantuan oksigen dan infus yang saat ini membantu nya bertahan melewati itu semua, berdoa saja pak semoga Yang Maha Kuasa memberikan jalan but kesembuhan istri bapak”, jawab dr.suryo.

“Ok kalo begitu kami sudah mengerti dok, apa ayah ada pertanyaan lagi buat dokter?”, tanya ku pada ayah mertua ku.

“Cukup nak, ayah juga sudah mengerti, sebaiknya kita pamit sama dokter”, jawab mertua ku.

“Makasih dok atas penjelasan dan bantuan medis nya, kami berdua mohon diri dok”, ucap ku mewakili ayah mertua pamit sama dokter suryo.

Kami keluar dari ruangan dokter suryo dan kembali ke tempat semula, ruang ICU dimana saat ini istri ku lia berbaring belum sadarkan diri dengan alat bantu pernafasan dan slang infus, bapak dan ibu ku, ibu mertua ku serta yatmi yang melihat kami seakan ingin bertanya gimana kondisi terakhir lia setelah kami dari ruangan dokter.

“Ayah, ibu, bapak dan ibuku serta yatmi, sebaiknya kita berdoa demi kesembuhan lia, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini untuk nya”,ucap ku dan disambut dengan tangisan para ibu-ibu.

Sudah 2 hari lia koma dan belum sadarkan diri, walau menurut dokter kondisi nya belum mengalami perubahan, bahkan semakin kritis membuat harapan hidup nya semakin kecil.

Mengenai kuliah ku sudah 5 hari ini aku tidak kuliah, tetapi aku sempat melaporkan soal istri ku ke bagian administrasi keuangan dan kemahasiswaan dan aku diberikan dispensasi selama 2 minggu dengan catstan mesti melapor juga kepada dosen-dosen penanggung jawab mata kuliah ku.

Dari perusahaan ada pergantian uang karena fasilitas perusahaan masih berlaku dengan meminta kwitansi pembayaran dll dn di kirimkan ke perusahaan nanti perusahaan akan membayar kembali uang yang sudah ku keluarkan ke rekening tabungan ku, biasa nya kalo lia berobat di rumah sakit stanvac co aku tidak perlu mengeluarkan uang sepersen pun, kini mesti keluar biaya yang besar, tetapi itu nggak jadi masalah bagi ku nyawa lia istri ku lebih berharga dibandingkan uang dan harta yang kami miliki, akan aku usahakan yang terbaik demi istri ku lia.

Keesokan hari nya…. Jam 10.00 wib, 20 September 2000…..

Kulihat paramedis masuk ke dalam ruang ICU, semua alat standby dan mulai difungsikan, tindakan medis segera dilakukan, alat yang digunakan untuk memacu detak jantung sudah di tempelkan ke tubuh lia.

1 kali alat itu di tempelkan ke dada lia membuat tubuh nya berguncang hebat seperti kena setrum listrik, belum ada perubahan.

2.kali alat itu kembali di tempelkan ke dada lia dan mengakibatkan hal yang sama tetapi tetap indikator dari alat pendeteksi jantung tidak mengalami perubahan.

3 kali alat itu kembali di tempelkan ke dada lia dan hal yang sama tidak ada perubahan malah alat indikator nya berbunyi nyaring dan tanda indikator dari alat tersebut sudah bergaris lurus dan berbunyi panjang.

Aku seakan mau menjerit saat itu menyadari istri ku telah pergi meninggalkan aku dan anak kami yang baru ia lahirkan belum lama ini, tanpa terbendung air mata ku mengalir menyisakan kesedihan yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.

Kehilangan orang yang telah menjadi bagian dari hidup ku seperti layak nya burung yang patah sayap nya, tidak akan bisa terbang dan rapuh karena ketidak berdayaan nya menentang takdir kematian.

“Selamat jalan bunda lia, selamat jalan istri ku, selamat jalan bidadari ku, tunggu papa disana suatu hari nanti kita kelak bertemu di surga-Nya”, batin ku berkata dalam hati yang sedang remuk dan sedih.

Tangisan dan cucuran air mata mengiringi kepergian lia, kami sekeluarga di perbolehkan masuk melihat jenazah lia di ruang ICU dimana selama 3 hari ia berjuang bertahan melawan maut yang akan menjemput nya, dan mungkin takdir Allah Swt, kematian adalah salah satu cara terbaik untuk membebaskan lia dari penderitaan nya yang ia tanggung dan alami selama 12 tahun, diusia nya yang masih muda 20 tahun istri ku AMELIA RATNA WAHYUDI, kembali ke sisi Allah Swt.

Raungan sirine ambulance memecah kota jogja, mobil berjalan kencang menuju komplek perumahan mataram bumi sejahtera blok c no.10, rumah kontrakan yang ku kontrak selama 2 tahun ke depan seakan meninggalkan luka dan kenangan sedih.

Mobil ambulance berhenti di depan rumah dan keranda di keluarkan dari mobil, ibu ku dan ibu ratna ikut dalam rombongan. mobil ambulance, sementara mas dedi dengan sigap membantu menurunkan keranda mayat dari mobil ambulance.

Tetangga komplek perumahan mulai berdatangan mengucapkan turut berduka cita, ada juga yang memberikan beberapa bahan pokok sebagai bentuk rasa kepedulian sesama warga, tetangga dan saudara seiman, isak tangis pun tak henti saat jenazah lia dibawa masuk ke dalam rumah dan di semayamkan di ruang tengah/ ruang tamu yang di sulap menjadi kosong, sofa dan meja semua di taruh di luar supaya ruangan tersebut bisa menampung para pelayat yang mulai berdatangan.

“Pak rustam, ada rencana mau di makamkan dimana?”, tanya pak Ahmad pak rt di komplek tempat ku tinggal saat ini.

“Bentar pak, sebaiknya kita obrolin dulu sama mertua dan orang tua saya, saya nggak mau mendahului mereka, biar bagaimana pun saya menghormati mertua saya yang saat ini datang dari pendopo pak, mari pak kita obrolin sama mereka”, ajak ku pada pak rt.

“Bapak, ayah, mas dedi, kenalkan ini pak ahmad pak rt di komplek ini, beliau menanyakan rencana jenazah lia mau dimakamkan dimana?”, ucap ku memperkenalkan pak rt sekaligus merundingkan pemakaman lia istri ku.

“Ayah ikhlas nak, makamkan saja di sini, dimanapun kita meninggal hanya Allah swt yang mengetahui, sebaiknya minta segera diurus pemakaman nya nak, supaya tidak menimbulkan dampak buat warga sekitar nya”, ucap ayah menanggapi omongan ku barusan.

“Ok yah, pak ahmad, saya secara pribadi sebagai suami nya minta tolong untuk diuruskan pemakaman istri saya pak, nanti soal biaya nya bapak jangan sungkan bicarakan langsung sama saya”, ucap ku tegas.

“Baik pak, segera kami warga sini akan membantu mengurusi jenazah istri pak rustam, saya atas nama rt disini mengucapkan turut berduka cita, semoga keluarga yang ditinggalkan di berikan kesabaran dalam menjalani takdir kematian ini, dan semua amal ibadah almarhumah di terima di sisi-Nya, amiiieen ya robbal alamin, dan saya mohon diri untuk secepat mungkin mempersiapkan pemakaman nya pak, permisi “, ucap pak ahmad lalu meinggalkan kami setelah sempat bersalaman dengan kami semua.

 

 

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo