loading...

BAGIAN 15 : SELAMAT DATANG YOGYAKARTA DAN TAKDIR DARI ALLAH

Pov Rustam
STANVAC Co. … Lokasi Pendopo….

“Selamat pak rustam, bapak akan mendapatkan program beasiswa untuk melanjutkan study di UPN YOGYAKARTA Fakultas Perminyakan dan seluruh biaya study akan ditanggung perusahaan dan selama bapak mengikuti program beasiswa tersebut seluruh gaji dan fasilitas selama mengikuti perkuliahan akan tetap dibayarkan sesuai dengan jabatan terakhir selama mengikuti program beasiswa ini”, ucap manajer personalia dan SDM STANVAC Co area pendopo mewakili pak raymond dharmadjie yang menyampaikan berita tersebut.

“Terima kasih bu Devi atas penghargaan ini, saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan dengan menjadi mahawiswa terbaik juga disana, dan terima kasih sudah memberikan kesempatan ini tolong sampaikan rasa hormat ku ke pak raymond beserta manajemen yang telah memilih saya di program ini”, ucap ku memberikan kata ucapan terima kasih pada pihak manajemen stanvac co.

“Waktu pelaksanaan perkuliahan nya akan di mulai 1 bulan lagi dari sekarang silahkan pak rustam mulai berkemas untuk mencari tempat menginap disana, jika pak rustam disana membawa istri dan anak maka biaya untuk anak dan istri menjadi tanggung jawab pribadi, hanya itu pak yang bisa saya informasikan, untuk gaji pak rustam perbulan akan di transfer ke rekening bapak, selamat jalan semoga pak rustam sukses ke depan nya”, ucap bu devi.

“Terima kasih bu, kalo begitu saya mohon diri, mau siap-siap untuk keberangkatan saya, maklum nanti disana mau cari tempat ngontrak bersama anak dan istri bu, dan terima kasih sekali lagi”, ucap ku.

“Sukses ya pa”, ucap bu devi memberi semangat.

“Ok”, jawab ku singkat memberi acungan jempol buat bu devi.

Setelah keluar dari ruangan kantor administrasi dan manajemen perusahan area pendopo, aku lantas menemui rekan-rekan di bagian kilang minyak, dan memberitahukan bahwa mulai bulan depan aku mengikuti program beasiswa yang tahun ini hanya aku yang mewakili, dan untuk tahun ini cuma 2 orang yang mendapat program beasiswa aku dari area pendopo dan satu lagi berasal dari area sungai gerong plaju palembang sumsel.

Begitu sampai di dalam ruang kontrol yang kala itu dijaga oleh 5 orang sesuai dengan shift tugas nya.

“Pak Rustam, selamat ya kamu terpilih untuk mengikuti program beasiswa tersebut”, ucap rahmat hidayat rekan ku yang sama-sama kemaren di angkat di bagian divisi ini.

“Oh makasih pak rahmat, mungkin rejeki dan keberuntungan ku saja pak, semua kan sesuai prosedur dari manajemen, semoga pak rahmat bisa menyusul nanti nya”, ucap ku memberikan semangat pada nya.

“Memang pantas pak rustam yang terpilih, cerdas, paling cepat dalam mengambil keputusan, dedikasi tinggi, dan selalu bisa memenuhi target produksi harian, bulanan, salut pokok nya para pak rustam”, ucap yudi agustian senior ku yang sama-sama kerja di bagian kilang.

“Bisa saja pak yudi memuji, oh iya aku nggak bisa lama-lama, soalnya besok sudah berangkat ke bandara SMB II Palembang, minta doa nya semoga lancar dalam perjalanan dan selamat sampai disana”, ucap ku pamitan sama semua teman-teman ku di divisi manfacturing.

Sesampai nya di rumah dinas ku, aku disambut kedua istri ku dan mertua ku, mereka akan mengantarkan ku ke bandara SMB II Palembang, kedua istri ku rencana nya akan menyusul ke yogyakarta 1 minggu kemudian berbarengan dengan mertua ku yang akan ikut mengantar.

“Pa, nanti kamu disana jaga kesehatan ya, bunda doain papa sehat selalu”, ucap lia penuh perhatian akan keberangkatan ku kali ini.

“Bunda, jaga kesehatan bunda dan kandungan bunda, papa beliin hp buat kalian berdua nanti di palembang kita mampir dulu di IP, biar komunikasi kita lancar”, ucap ku mengkhawatirkan lia dan kandungan nya.

Sejak lia hamil, ia sering sakit, pernah aku menanyakan ke dokter kandungan yang memeriksa istri ku di rumah sakit stanvac karena lia yang terdaftar di perusahaan sebagai istri ku, dan menurut dokter lia memang ada masalah dengan jantung nya, dan mesti terus kontrol mengenai perkembangan janin dalam kandungan nya. Dan masalah kesehatan lia yang selama ini kuanggap normal baru terungkap setelah ayah dodit mengajak ku bicara 4 mata.

“Nak rustam, ayah mohon maaf selama ini menutupi nya dari kamu, lia dari usia 8 tahun. pernah mengalami kelainan jantung dan sempat di operasi, menurut dokter penyakit jantung nya bisa sewaktu-waktu kambuh lagi, jika lia tidak menjaga pola makan dan beberapa anjuran dari pihak rumah sakit, nah sejak ia memutuskan hamil penyakit nya kini kambuh, pernah ayah tanyakan apa kamu benar-benar serius ingin hamil dan punya anak, jawab lia tentu yah, untuk apa lia nikah kalo nggak ingin memberi keturunan buat suami dan juga cucu buat ayah, ayah hanya berharap kehamilan nya tidak sampai merenggut nyawa nya nak, karena yang ayah khawatirkan jika lia melahirkan nanti semoga jantung nya tidak bermasalah”. Ucap ayah dodit menjelaskan prihal penyakit lia anak nya yang membuat ku kaget saat itu.

“Ayah, selama rustam kuliah jika lia akan melahirkan di sini rasa nya berat buat rustam, apa sebaiknya rustam ajak saja ke yogya ikut disana bersama rustam dan yatmi? biar lia bisa kuat dan rustam nggak khawatir karena ada yatmi yang mengawasi nya disana”, ucap ku meminta pendapat ayah mertua walaupun sebetulnya tanpa di minta pun itu hak ku sebagai suami nya.

“Ayah setuju nak, yang menjadi semangat lia selama ini adalah kamu nak, selama ia dekat kamu ayah yakin ia akan kuat menjalani kehamilan nya ini, ayah nanti cuma ikut mendoakan supaya lia dan anak nya nanti melahirkan dengan selamat begitu pun dengan bayi nya”, ucap ayah dodit.

“Iya yah, oiya yah, nanti minggu depan kalo mau berangkat kabarin dulu rustam biar nanti rustam bisa jemput di bandara nya, nanti rustam mau beli hp 4 buah 1 buah rustam 2 buat lia dan yatmi dan 1 buat ayah, biar komunikasi kita lancar yah”, ucap ku.

“Nggak usah nak, kan bisa telpon ke rumah saja”, jawab ayah dodit menolak halus.

“Beda yah, pokok nya ayah terima ya, demi kebaikan kita bersama yah, jika mau komunikasi jadi lebih cepat”, ucap ku menjelaskan nya.

Malam hari nya sebelum aku berangkat ke bandara sultan mahmud badaruddin II palembang atau dulu bernama talang betutu, lia malam itu terlihat manja dan selalu nempel nggan mau lepas.

“Pa, mama kasihan sama bunda, papa malam ini tidur sama bunda saja ya, mama maklum bunda mungkin sedang kangen sama calon ayah dari anak yang dikandung nya”. Bisik yatmi

“Tapi…… mama nggak apa-apa, kan sudah semalam papa tidur sama bunda?”, ucap ku yang tidak enak jika yatmi istri ku merasa tidak adil.

“Nggak apa-apa pa, justru mama khawatir sama bunda pa, semoga saja bisa bikin bunda semangat ya pa”. bisik yatmi.

“Pa, ma, kalian berdua bisik-bisik, ada apa pa, ma?”, ucap lia memperhatikan aku dan yatmi berbisik.

“Bunda, mau papa bisikin apa yang barusan mama bisikin ke papa?”, ucap ku ke telinga lia.

Lia tersenyum kala aku selesai membisiki nya, dan ia langsung mencium tangan yatmi sebagai tanda ucapan terima kasih.

“Mama paling baik deh, bunda sayang mama, makasih ya ma telah perhatian sama bunda”, ucap lia pada yatmi.

“Iya bunda, sama-sama, demi suami kita”, jawab yatmi sambil menyunggingkan senyum.

“Iya ma, demi suami kita”, sahut lia kemudian.

“Udah malam pa, mama pamit duluan bobok ya, tuh lihat agus nya sudah ngantuk, bunda, mama duluan ya”, ucap nya lalu mencium pipi kiri dan kanan lia sebelum ia membisiki ke telinga lia.

“Pa, mama duluan ya, mama sayang selalu papa, selamat istirahat suami ku, layani bunda ya pa, seperti nya ia kangen sama papa beberapa hari ini manja dan nggak mau jauh dari papa”, ucap nya dengan suara pelan sambil mencium buku tangan ku sebagai bentuk rasa hormat nya pada ku suami nya.

“Iya sayang, papa selalu sayang kamu ma, sampai kapan pun”, ucap ku serwya mencium kening nya.

“Disini pa belum dicium”, rengek manja yatmi menunjuk bibir nya.

Cuuuuuppp….

Ciuman singkat yang penuh kasih sayang ku labuhkan ke bibir istri ku yatmi dengan tanpa ragu walaupun di saat itu ada lia istri ku lain nya.

“Makasih pa, selamat bersenang-senang pa, semoga perjalanan papa besok selamat sampai tujuan, mama masuk duluan ke kamar”, ucap yatmi.

Yatmi menggendong agus yang tertidur di sofa ruang tamu di rumah dinas yang besok akan ku tinggalkan 4 sampai 5 tahun ke depan, dan rencana nya perabotan rumah dinas akan di urus oleh ayah mertua ku, sementara perabotan rumah di simpan di rumah dinas ayah mertua ku.

Jam 21.00 wib….

Aku kini hanya berdua dengan lia, istri ku, kulihat tubuh nya mulai berisi saat ini usia kandungan nya memasuki usia 5 bulan.

“Pa, bobok yuk!”, ucap lia singkat menyenderkan kepala nya di bahu ku.

“Ayo sayang!”, sahut ku mengiyakan ajakan nya.

Kami berdua melangkah ke kamar lia istri ku, lia tersenyum riang sambil menyender di bahu berjalan mengikuti ku ke kamar nya.

“Sini sayang papa bantu bunda”, ucap ku saat ia mau naik ke ranjang tempat kami tidur.

“Makasih pa, so sweet deh papa, makin cinta deh bunda sama papa, di perlakukan manja seperti ini”, ucap nya tersenyum lebar dengan perlakuan kecil ku barusan.

“Demi bunda dan calon bayi kita, papa akan berikan yang terbaik, bila perlu nyawa papa taruhan nya”, ucap ku yakin dan tegas.

“Bunda bangga bisa menjadi istri papa, bangga menjadi ibu dari calon bayi kita, karena papa lelaki hebat, tetaplah seperti ini pa, jadilah lelaki yang bertanggung jawab, dewasa dan menjadi kepala keluarga yang baik”, ucap lia istri ku yang kini sudah berada di atas ranjang tidur nya.

“Nak, papa harap kamu bisa menjaga bunda, kamu jangan nakal ya di dalam sana, kasihan bunda kamu, berat melahirkan dan mengasuh mu sedari dari kandungan hingga nanti kamu lahir”, ucap ku sambil mengelus perut lia yang buncit dan sekaligus mencium perut nya.

“Kok jadi anteng pa, dedek bayi dalam perut bunda, dengerin omongan papa nya barusan”, ucap lia menanggapi omongan ku barusan dengan tersenyum.

“I love you bunda, yuk kita bobok!”, ucap ku sambil mencium kening nya sejenak.

“Love you too pa, makasih atas kasih sayang yang papa berikan selama menjadi suami bunda”, sahut nya sambil menatap mata ku nanar.

Sekilas ku lihat mata lia berkaca-kaca, dan butiran air mata jatuh dari kedu sudut mata nya sebelum ia sempat menyeka, ku seka terlebih dahulu air mata nya tersebut dengan ke dua jari tangan ku dan memberikan senyuman ku biar lia merasakan perhatian ku pada nya sama besar dengan perhatian ku dengan yatmi istri ku yang lain nya.

Keesokan hari nya……

“Papa, bangun sayang, sholat subuh yuk!”, ucap lia istrik ku berbisik pelan di telinga ku.

Hoaaaammmm……

“Jam berapa sekarang bun, duh nyenyak banget bun papa tidur nya, apalagi di dampingi istri papa yang cantik seperti bunda”, goda ku merayu lia yang tersipu merah merona pipi nya.

“Ih papa, bangun tidur malah ngaco, buruan sayang nanti telat sholat subuh nya, kita sholat berjamaah bareng mama yatmi dan agus ya pa”, ucap lia lalu ia melangkah pelan keluar kamar.

Selasai sholat berjamaah, aku mengangkat tangan ke hadirat allah swt, atas semua rahmat dan karunia nya pada ku, kedua istri ku, anak ku agus serta anak yang di kandung oleh lia.

“Senang nya aku punya kalian berdua, ya allah aku bersyukur padamu atas semua yang telah engkau tetapkan, semoga kami semua selalu bisa bersyukur atas semua yang engkau berikan pada kami, berikan kesehatan pada istri dan calon anak ku, amiieen ya rabbal alamin”, ucap ku berdoa sambil menengadahkan tangan ku pada sang pencipta alam semesta.

Kedua istri ku mencium buku tangan ku dan mereka berdua tersenyum, begitu juga agus melakukan apa yang dicontohkan kedua ibu nya, ia pun mencium tangan ku dan setelah nya duduk di pangkuan ku.

“Mama, bunda, dan agus anak papa, hari ini papa mau berangkat ke yogya, kalian selama ditinggal papa akur dan saling menjaga satu sama lain, untuk mama tolong bantu bunda ya ma, papa percayakan semua kepada mama untuk mengurus bunda selama papa seminggu di sana, dan buat agus anak papa yang ganteng, kamu jangan nakal ya, dengerin apa kata mama dan bunda ya, papa sayang sama kalian semua”, ucap ku berbicara kepada kedua istri ku dan agus anak ku dan tanpa kusadari mengalir air mata di sela sudut mata ku.

“Iya pa, mama akan jaga bunda, papa tenang saja disana, kan cuma seminggu nanti kami ikut kesana kok”, ucap yatmi menjawab omongan ku sambil ia mendekati ku dan menyeka air mata yang barusan turun dan mata ku.

“Iya pa, bunda janji akan menjaga bayi kita, papa jangan khawatir ya, kami juga akan nyusul papa kok”, sahut lia menimpali omongan yatmi.

“Pa, aa..gus… naanti minta maaa…in..an ya…pa”, ucap agus dengan bahasa cadel nya yang masih mengeja kata perkata.

“Iya sayang nanti papa belikan, kamu jagain mama dan bunda ya”, jawab ku sambil mengelus rambut kepala agus dan sesaat kemudiat kucium kening nya.

Hari ini tanggal 4 Mei 2000, aku akan ke yogyakarta, untuk mengejar cita-cita dan karir ku di perusahaan stanvac co, karena bulan juni 2000 aku akan mulai kuliah dan tinggal di kota tersebut selama 4 sampai 5 tahun ke depan.

Aku berjalan keluar rumah dengan menggendong agus yang dari tadi pengen dekat sama papa nya, mungkin melihat ku membawa 1 koper ia berpikir aku akan pergi lama meninggalkannya.

Kedua istri ku pun ikut menemani ku mengantarkan ku ke bandara talang betutu atau bandar udara sultan mahmud badaruddin II Palembang.

Mobil kijang sudah berada di depan rumah, senyum khas ayah dodit menyambut ku beserta istri nya ibu ratna yang juga memberi senyum pada ku.

“Ayah dan ibu bahagia sekali melihat papa”, bisik lia istri ku saat ia melihat kedua orang tua nya tersenyum melihat ku.

“Iya sayang, yuk kita samperin mereka bun”, sahut ku menyahuti bisikan lia istri ku.

“Sini agus, duduk di depan ya sama papa rustam, kata nya mau duduk dekat kakek”, ucap ayah dodit meminta ku dan agus duduk di depan.

Sementara barisan kursi di belakang duduk ibu mertua ku, yatmi dan lia, mereka sempat cipika dan cipiki, sementara aku sebelum mobil berangkat sempat mencium tangan kedua mertua ku hal yang sering kulakukan sebagai bentuk rasa hormat ku sebagai anak menantu nya.

Penjalanan dari pendopo menuju ke palembang memakan waktu +/- 4 jam, dan sebelum ke bandara aku meminta ayah ke IP untuk membeli 4 unit hp yang nanti nya akan ku bagikan untuk ayah, dan kedua istri ku dan untuk ku.

Aku membeli hp nokia 3310 yang saat itu lumayan masih baru launcing, lumayan mahal dan cukup menguras kantong ku, tetapi karena penting buat komunikasi kami itu tetap menjadi prioritas ku saat ini, dan juga sempat membelikan agus anak ku mainan pistol-pistolan yang ia sukai karena ia sangat menyukai nya selain karena kakek nya seorang polisi.

“Nah sekarang kita ke bandara”, ucap ku setelah selasai membeli semua apa yang kami beli disana.

Mobil kijang jantan tahun 94 melaju gagah menembus jalanan kota palembang, jarak dari IP yang berada di jalan jenderal sudirman ke bandara sultan mahmud badaruddin II yang berada di km. 10 artinya sekitar 10 km jarak nya, ayah dodit menjalankan mobil dengan santai tanpa buru-buru karena dari arloji ku lirik masih ada 2 jam lagi waktu keberangkatan ku.

“Yuk sayang, kita turun udah sampe nih”, ucap ku pada agus anak ku yang sedari tadi duduk di depan bersama ku dan ayah dodit.

“Banyak pee…ca..wat…ya pa…tuh liat pa ada pe…ca…wat pa lewat”, ucap nya dengan kelucuan dan kekaguman nya pada pesawat terbang.

“Iya sayang, kamu nanti minggu depan naik pesawat itu sama kakek, nenek, bunda dan mama, nyusulin papa disana”, ucap ku sambil mengucek rambut agus anak ku.

“Ih…Papa nga…cakin lambut agus… jadi jelek muka agus pa”, ucap nya sambil memanyunkan wajah nya pada ku.

“Bikin gemes saja kamu nak, udah nanti papa sisirin lagi deh”, jawab ku menyahuti omongan agus.

Kami melangkah masuk menuju lobby keberangkatan, setelah melakukN boarding pass dan mengecek kelengkapan tiket dan keberangkatan ku, masih ada 30 menit lagi, sebelum aku masuk ke pesawat dan meninggalkan keluarga ku sementara.

Sambil menunggu kami semua bercengkrama satu sama lain, dan terkadang agus dengan tingkah lucu nya membuat kami semua tertawa saat itu, apalagi saat ia melihat pesawat sedang take off dari kejauhan di lobby ia kegirangan sambil loncat-loncat.

“Asyik papa ketinggalan pecawat, nggak jadi berangkat”, ucap nya membuat kami semua tertawa.

“Itu pesawat lain nak, pesawat ayah tumpangi tuh, sedang parkir nanti berangkat nya 25 menit lagi dari sekarang”, ucap ku menjawab omongan agus.

“Pa, boleh agus bobok di rumah kakek dan nenek? Agus mau main polisi-polisian sama kakek”, ucap agus minta ijin pada ku.

“Boleh sayang, tapi jangan nakal ya, jangan bikin kakek marah ya, papa ingetin agus mesti dengerin apa yang kakek omongin ya”, jawab ku pada putra ku agus.

“Tenang saja rus, anak mu ini pinter, ayah senang main dengan nya”, ucap ayah mertua ku.

“Makasih pa, rustam titip yatmi, lia dan agus ya pa, nanti kalo kalian mau berangkat kasih tau jam keberangkatan nya lewat sms ya pa, biar rustam bisa carter mobil disana buat jemput”, ucap ku sambil memeluk ayah mertua ku.

“Kamu disana jaga kesehatan ya rus, nanti untuk sementara biar istri-istri dan anak mu tinggal di rumah ayah, malah senang kok jadi rame rumah ayah ada anak mu ini”, ucap nya membalas pelukan ku sebagai mertua.

“Makasih yah, ayah bukan seperti mertua buat rustam tapi sudah bagai ayah kandung rustam, makasih sudah banyak menolong rustam selama ini”, ucap ku selanjut nya mencium buku tangan beliau.

“Iya sama-sama nak, sudah sna pamitan juga nak sama ibu mu, dan kedua istri mu”, ucap beliau yang mulai berkaca-kaca melepas kepergisn ku.

Aku menghampiri ketiga wanita hebat yang sedang asyik mengobrol, saat aku mendekat, mereka bertiga lalu seketika tersenyum.

“Sudah mau berangkat ya nak, hati-hati disana, jaga kesehatan kamu ya rus, ibu doain kamu sampai dengan selamat di sana”, ucap ibu mertua ku setelah aku mencium bukj tangan nya.

“Peluk ibu mu nak”, ucap nya sambil merentangkan tangan nya.

Aku memeluk beliau, terasa nyaman seperti ibu kandung ku, “makasih bu sudah menerima ku sebagai anak sekaligus menantu kalian, walaupun aku banyak melakukan kesalahan dalam hidup ku kalian masih mau memberiku kesempatan untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab”, bisik ku di teling beliau.

“Sudah jangan kamu pikirkan yang sudah lampau, sekarang ibu bangga punya menantu seperti kamu nak, sudah bikin anak ibu bahagia dalam hidup nya, dan kamu jangan khawatir lia akan ibu jagain bersama yatmi kamu disana nanti kabarin ibu dan istri mu bila sudah sampai ya nak”, sahut nya di telinga ku.

“Dah, kamu pamitan sama kedua istri mu, mereka dari tadi seperti nya ingin ngomong sama kamu rus”, ucap beliau mengingatkan ku.

Aku lalu mencium tangan beliau dan bergeser ke samping di situ ada yatmi dan kemudian lia, mereka berdua sabar menunggu giliran untuk berbicara satu persatu dengan ku.

“Ma, papa berangkat dulu ya, nanti mama jangan lupa telpon atau sms papa, dengar suara mu papa bakalan kuat disana”, ucap ku berbisik saat memeluk yatmi istri ku.

“Pasti pa, jangan nakal disana, jaga hati, dan jangan lupa sholat pa, mama tau papa pasti kuat menjalani ini semua, mama pasti dukung papa kok”, bisik istri ku yatmi.

“Iya ma, papa janji, sudah punya 2 istri cakep gini masak mau cari lagi, eh iya ma, papa minta tolong mama bantuin bunda ya, selama papa di yogya, jangan lupa beri vitamin buat kandungan nya, sering malas lia kalo disuruh makan obat dan vitamin ma”, balas ku membisiki nya.

“Iya bos, tenang saja mama kan dulu nya perawat juga pa, walaupun nggak kerja di RS, tapi tau kok, pa i love you, mama bahagia hidup mendampingi papa”, ucap yatmi lalu ia mencium tangan ku dan aku mencium kening nya.

Kemudian aku bergeser ke samping kiri yatmi, kulihat lia yang sudah berlinangan air mata, sejenak ku ambil sapu tangan ku lalu ke seka air mata nya dan memeluk nya seerat mungkin.

“Kenapa bunda sayang, kok malah nangis, nanti minggu depan bunda ketemu lagi sama papa”, ucap ku membisiki nya.

“Nggak tau pa, tiba-tiba saja bunda keluar air mata, bunda pun senang hidup berumah tangga sama papa, pa jangan nakal ya disana, mama tidak ingin papa menikah lagi, cukup dengan mama dan bunda ya, tolong hargai kami sebagai istri papa, bunda yakin papa lelaki yang bisa memegang janji”, bisik lia istri ku.

“Iya bunda sayang, papa janji kok, kalian berdua sempurna buat papa dan papa bahagia sama kalian berdua, maafin papa jika pernah menyakiti hati bunda, dan papa minta bunda turuti ya apa yang diminta mama sama ibu demi kebaikan bunda dan calon anak kita ini”, bisik ku.

“Iya pa, bunda akan turuti apa yang papa minta, pa jangan lupa sms atau telpon bunda ya, bunda nggak bisa jauh dari papa”. Bisik nya.

“Iya bun, papa akan tanyain kabar kamu selalu, jaga bayi kita dan kesehatan kamu, ingat pesat dokter, kamu jangan banyak pikiran ya”, balas ku membisiki nya.

“Thanks ya pa, i love you pa, bunda cinta papa sampi akhir hayat bunda”, bisik nya kemudian mencium pipi kiri dan kanan ku, lalu mencium tangan ku.

“Iya bunda, papa juga sayang bunda”, ucap ku menjawab perasaan nya kemudian mencium kening nya dengan penuh rasa sayang.

5 menit kemudian terdengar suara pengumuman dari resepsionis bandara untuk para penumpang pesawat boing 747-300 jurusan yogyakarta untuk segera naik ke dalam pesawat.

“Ayah, ibu, mama, bunda dan agus, rustam berangkat ya dadah semua”, ucap ku berpamitan menuju ke koridor tempat pesawat ku akan tinggal landas sambil melambaikan tangan ke mereka.

“Dadah papa….”, teriak agus dengan nyaring khas suara anak-anak balita.

Welcome to Yogyakarta…..

“Selamat datang di kota yogyakarta, untuk penumpang pesawat garuda indonesia boing 747-300 no. penerbangan GA-430 asal dari palembang, sumsel”, ucap suara wanita di pengeras suara saat aku memasuki area kedatangan.

Begitu udah sampai di lobby, aku lantas mengaktifkan hp nokia 3310 lalu segera menekan call mengabari kepada ayah mertua ku.

“Assalamualaikum wr.wb, yah, ini rustam yah, alhamdulillah rustam sudah tiba di bandara adi sucipto yogyakarta”, ucap ku di telpon.

“Waalaikum salam wr.wb, syukur alhamdulillah kalo begitu nak, oh iya nak,

ayah sudah booking pesawat untuk 5 orang minggu depan nanti ayah kabarin jika kami semua berangkat, ayah sms no.penerbangan berapa nya”, ucap beliau di ujung telepon sana.

Aku memang meminta kedua istri ku mengurusi biaya buat perjalanan nanti mereka ke yogyakarta dan menyerahkan uang nya kepada ayah mertuaku untuk pembayaran tiket dll untuk 5 orang.

“Udah dulu ya yah, nanti rustam kabarin lagi jika sudah sampai di rumah kontrakan, salam buat ibu ratna yah, assalamualaikum wr,wb”, ucap ku memutuskan sambungan telpon ku.

Lalu aku mengirim sms untuk kedua istri ku masing-masing yang isi nya sama persis mengabarkan bahwa aku sudah tiba di bandara adi sutjipto yogyakarta.

to : mama yatmi

“mama sayang, papa sudah tiba di jogja, saat ini masih di bandara adi sutjipto, i love you mama papa selalu mencintai mu”.

to : bunda lia

“Bunda sayang, papa sudah tiba di jogja, saat ini masih di bandara adi sutjipto, i love you bunda, papa selalu mencintai mu”.

Kedua pesan sms itu ku kirimkan kepada kedua istri ku, lalu segera ku kantongi hp ku dan segera menuju alamat yang diberitahukan oleh pihak perusahaan dimana sebagian karyawan STANVAC Co ada juga yang sedang memgikuti program beasiswa seperti saya, setiap 3 tahun sekali diadakan program ini untuk memberikan kesempatan kepada karyawan terbaik untuk melanjutkan karir nya di perusahaan dengan perjanjian, selama mengikuti perkuliahan diberikan semua fasilitas nya sama seperti ia bekerj, tetapi mesti loyal dan setia pada perusahaan dan jika keluar dari perusahaan atau pindah ke perusahaan lain mesti membayar ganti rugi yang tercantum selama mengikuti program ini.

Aku lalu menelpon ke pak wawan yang merupakan karyawan STANVAC Co. beliau adalah senior ku, 5 tahun diatas ku dan sekarang sudah kuliah di semester 5 atau sudah 2 tahun di yogyakarta.

Tut…. Tut….Tut…..

“Ya hallo”, jawab suara dari ujung telpon sana.

“Ya hallo dengan bapak Wawan Darmawan, ini dengan rustam anwar, karyawan STANVAC Co. yang mendapatkan kesempatan mengikuti program beasiswa di UPN Yogyakarta, menurut informasi dari ibu devi saya diminta menghubungi bapak, saya bisa minta alamat bapak sekarang di sms aja pak alamat nya ke no. hp saya”, ucap ku ke point nya langsung.

“Ok pak rustam, nanti saya sms ke no. bapak, senang nih ada dari sesama penduduk pendopo kuliah di sini”, jawab beliau antusias.

“Ok pak makasih, sampai ketemu kita disana, Assalamualikum wr.wb”, ucap ku mengucapkan salam perpisahan.

“Sama-sama pak, waalaikum salam wr.wb”, jawab nya menjawab salam ku dan menutup sambungan telepon ku.

Aku lalu melangkah menuju cafetaria yang beradi di area bandara, lalu memesan 1 cangkir kopi hitam beserta 2 buah donat untuk menghangatkan tubuh ku yang mulai ngantuk dan lapar, duduk-duduk santai sambil menunggu pesan sms dari pak wawan dan balasan sms dari kedua istri ku.

Drrrtttt….. Drrrtttt…… Drrrrtttt…..

Hp yang ku simpan di saku baju ku bergetar, dan kulihat ada pesan masuk lalu ku buka pesan sms dari no. 0811-xxxx-xxx

from : 0811-xxxx-xxx

“Pak rustam, ini dengan wawan darmawan, alamat ku di Jl. Tambak Boyo, Perumahan Mataram Bumi Sejahtera (MBS) Blok A no.15”.

to : pak wawan

“Makasih pak, saya pesan taxi dulu setelah ini pak, maaf sedang ngopi maklum lumayan ngantuk pak, terima kasih sekali lagi”.

from : pak wawan

“Sama-sama, saya tunggu pak di rumah, senang berkenalan dengan bapak”.

to : pak wawan

“Saya juga pak, kita ketemu di sana pak, assalamualaikum wr.wb”.

from : pak wawan

“Waalaikum salam wr.wb”.

Setelah menerima pesan sms dari pak wawan aku kembali menyeruput kopi hitam yang tadi sempat ku abaikan, dan memakan donat untuk mengganjal perut ku yang kelaparan, “mau makan besar malas nanti lah kalo sudah sampai di rumah pak wawan”, gumam ku di hati.

Akhirnya sampai juga aku di alamat yang di sms-in pak wawan, sebuah rumah yang asri di kawasan perumahan, yang lokasi nya tidak berjauhan dengan lokasi kampus UPN Yogyakarta.

“Gimana kabar nya perjalanan pak rustam, dengar-dengar istri nya nanti mau diajak serta ya pa, sama kalo begitu dengan saya”, ucap pak wawan ramah dan sopan mengajak ngobrol.

“Lumayan capek pak, dari pendopo ke palembang dan naik pesawat hingga tiba di yogya terasa bagai mimpi, eiya, istri saya saat ini sedang hamil pak, nanti minggu depan mereka sekeluarga akan kesini, dan saya juga minta bantuan bapak untuk mencarikan rumah kontrakan di perumahan ini”, jawab ku.

“Kalo begitu istirahat dulu sebentar, atau bapak ada rencana apa untuk ke depan nya?”, ucap pak wawan mengajak bicara.

“Gampang itu pak, kayak nya saya perlu cepat-cepat cari rumah kontrakan, minggu depan keluarga istri ku datang ke yogya, nggak enak kalo sampe belum dapat rumah kontrakan”, ucap ku memberi penjelasan maksud kedatangan ku ini.

“Oiya pak rustam, kebetulan di blok C no. 7 ada rumah yang mau dikontrakin, kalo bapak mau sekarang kita bisa langsung check rumah tersebut”, ucap pak wawan memberitahu rumah kontrakan yang bisa ku kontrak.

“Ayo pak sekarang saja kalo begitu siapa tau langsung cocok buat kami tinggali!”, ucap ku senang dengan kabar adanya rumah kontrakan yang bisa segera ku kontrak.

“Bentar pak, saya pamit dulu sama istri”, ucap pak wawan sambil melangkah ke dalam menemui istri nya.

Tidak begitu lama keluar bersama nya seorang wanita cantim berjilbab yang usia nya mungkin di bawah yatmi 2 atau 3 tahun, wanita tersebut dengan ramah membawakan minuman dan makanan berupa pisang goreng.

“Maaf kelamaan tadi, diminum dulu pak, ayah ajak teman nya minum dulu”, ucap istri nya meminta pak wawan menawari ku minuman dan makanan yang sudah ia sajikan barusan.

“Oh makasih bu, maaf nih jadi merepotkan ibu, kenalkan saya rustam karyawan stanvac co yang tahun inj mengikuti program beasiswa di UPN Yogyakarta sama seperti suami ibu yang telah dulu menjalani program ini”, ucap ku menjelaskan siapa aku pada istri nya.

“Hanya kopi dan pisang goreng kok, nggak merepotkan pak, silahkan diteruskan ngobrol nya saya pamit ke belakang”, ucap istri nya pak wawan.

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih”, ucap ku sambil memberikan senyum pada pak wawan dan istri nya.

Aku dan pak wawan sekarang sudah berada di rumah yang akan aku kontrak selama beberapa tahun ke depan, rencana nya akan ku kontrak terlebih dahulu selama 2 tahun.

“Cocok pak aku suka rumah ini, kalo begitu saya kontrak selama 2 tahun ya pak wisnu”, ucap ku sambil berencana mengontrak nya selama 2 tahun.

Pak wisnu adalah pemilik rumah yang sedari awal tadi diperkenalkan kepada ku saat aku pertama kali ketemu beliau melihat rumah ini, dan setelah tawar menawar akhirnya aku hari itu mendapatkan rumah kontrakan untuk ku kontrak nanti ya selama kuliah di yogyakarta ini.

“Terima kasih pak wawan, sudah membantu saya mencari rumah kontrakan, sebaiknya malam ini saya langsung tidur di sini, nanti untuk sementara ane beli kasur busa saja dulu nanti jika keluarga ku kumpul baru nanti kamk membeli semua perabotan yang dibutuhkan”, ucap ku menjelaskan rencana ku.

 

===

Sementara itu di tempat lain….. Di pendopo….

Seorang wanita hamil sedang duduk di meja hias kamar nya, dalam ruang kamar yang ia tempati sejam kecil hingga kini sudah menjadi istri dari lelaki yang saat ini berada di lain pulau dengan nya.

Wanita itu tersenyum saat ia mengingat semalam, suami nya begitu perhatian dan tulus memperlakukan nya sebagai istri dan calon ibu dari anak mereka, ia lalu membuka laci dimana selama ini ia menyimpan buku diary nya beserta surat-surat dari tini sahabat nya, lalu ia mulai membuka buku diary nya tersebut yang ia tulis dari usia 7 tahun, “aku kangen sama kamu diary”, gumam nya dan mulai ia membukan halaman pertama.

Pov Lia ( Dari tulisan diary yang ia tulis sejak usia 7 tahun)

Halo diary, sobat ku tempat curhat ku, kenalkan aku amelia ratna wahyudi, putri tunggal dari pasangan dodit wahyudi dengan ratna sari, sebetul nya aku bukan lah putri tunggal mereka, aku memiliki kakak dan adik yang sempat lahir tetapi kakak perempuan dan adik lelaki ku meninggal dunia saat mereka masih bayi, mungkin sudah takdir dan ketentuan dari sang khalik.

Aku lahir tanggal 8 maret 1981, saat ini aku sudah masuk SD Negeri 1 Pendopo, dan teman pertama ku adalah hartini (tini) tetangga dekat rumah yang mempunyai kakak angkat bernama rustam anwar.

Aku saat pertama kali melihat mas rustam begitu ku panggil kakak nya tini, ada perasaan deg-degan dan muka ku merah merona saat ia memuji ku cantik, padahal tini adik nya juga cantik malah menurut ku lebih putih dan cantim dari ku.

Usia 8 tahun atau tepat nya tanggal 23 Desember 1990, aku mengalami gejala kelainan jantung, ayah dan ibu ku langsung membawa ku ke rumah sakit umum daerah muara enim.

Sejak saat itu ayah dan ibu tidak pernah marah sekalipun marah walaupun aku melakukan kesalahan besar sekalipun, mereka sangat menyayangi ku karena hanya aku anak keturunan merereka yang masih hidup.

Hartini yang mengetahui aku menderita sakit kelainan jantung jadi semakin akrab, ia bahkan mengangkat sumpah dan janji untuk berbagi suka dan duka dengan ku, sejak saat itu hubungan ku dengan tini semakin akrab sebagai seorang sahabat, tidak ada rahasia yang kami berdua tutup-tutupi.

Usia 10 tahun….. aku menjadi seorang gadis yang ceria, mudah bergaul dengan siapapun dan selalu berdua dengan tini di kelas, tini selalu menjadi juara 1 dan aku pernah juga loh jadi juara kedua nya tapi dari secara kemampuan dan otak kuakui memang tini lebih daripada aku.

Smp Negeri 1 Pendopo…

12 tahun 5 bulan usia ku saat aku menginjakkan kaki di sebuah sekolah negeri di tempat ayah bertugas, ya saat ini aku dan tini melanjutkan ke SMP Negeri 1 Pendopo kami di terima di negeri karena nilai NEM kami termasuk tertinggi di sekolahku, itu berkat bimbingan mas rustam selama kami berdua mempersiapkan diri menghadapi EBTANAS SD, dari situ aku mulai mengagumi sosok mas rustam, dia selain baik, ramah juga ternyata pintar, pelajaran yang selama ini kutakuti dan kuanggap paling susah menjadi terasa mudah berkat arahan dan bimbingan nya.

Malam itu, 2 hari sebelum EBTANAS dimulai aku sengaja diajak tini tidur di rumah nya, dan belajar pelajaran matematika dengan mas rustam, dia dengan baik nya memberikan contoh cara mengerjakan soal-soal matematika dengan cepat, tepat dan dengan rumus yang menurut ku bisa ku mengerti.

“Nah dik lia, seperti ini cara mengerjakan soal ini, pake rumus ini bla…bla..bla… hingga hasil nya dapat dan sama jika pake rumus ini yang lebih panjang, sekarang kamu coba deh mas kasih contoh soal nya, kerjain seperti yang mas contohkan”, ucap mas rustam mengajarkan cara mengerjakan soal-soal matematika.

“Baiklah mas, lia coba kerjakan soal nya seperti yang mas rustam contohkan”, jawab ku menuruti apa yang dia contohkan.

“Mas rustam, tini nggak ngerti soal ini mas”, omel tini menunjukkan buku pelajaran nya pada mas rustam.

“Oh yang ini, nggak sulit dik mas kerjakan dulu ya nanti mas terangkan biar kamu gampang memahami nya”, jawab mas rustam santai.

Akhirnya malam itu kami (aku dan tini) bisa mengerjakan soal-soal matematika, perlu diketahui mas rustam selalu mewakili pihak sekolah ku dalam lomba cerdas cermat antar sekolah di kabupaten muara enim bahkan tingkat provinsi, nilai matematika nya selalu diatas 9.

Kelas 1, aku dapat tempat duduk didepan tentulah dengan tini sahabat ku, karena ia yang meminta duduk nya di depan, mas rustam juga di sekolah ini, banyak teman-teman wanita di kelas ku yang menanyakan mas rustam sama tini bahkan ada yang nitip salam.

“Tin, salam buat mas rustam, cakep dan pinter mas mu”, ucap rita teman sekelas ku yang duduk di belakang bangku kami saat itu.

“Ngomong saja sendiri kamu nya sama mas rustam”, jawab tini seperti nggak suka kalo ada cewek lain yang menyukai mas rustam.

“Nggak ah, malu tin mosok cewek duluan kejar-kejar cowok, nanti malah dianggapnya murahan”, ucap rita menolak.

Aku tersenyum mendengar obrolan singkat mereka berdua mengenai mas rustam, “apa istimewa nya sih kamu mas hingga ada beberapa teman sekelas ku menyukai kamu?”, pertanyaan batin ku saat itu.

Sekitar 2 bulan kemudian saat itu aku tidak masuk sekolah karena mesti melakukan kontrol kesehatan jantung ku yang sejak di operasi kondisi ku alhamdulillah mengalami perkembangan yang baik, tubuh ku sekarang agak berisi.

Saat pulang, tini langsung memeluk ku dan menangis ia lalu menceritakan kejadian di sekolah dimana saat itu tini ditembak budi untuk jadi pacar nya tapi tini nya tidak mau dan budi menarik nya dengan paksa hingga dia meronta-ronta dan terdorong jatuh, dan disaat itu kebetulan mas rustam datang dan menghajar budi hingga babak belur, “duh kok jadi ngeri juga ya mendengar mas rustam kalo malah bisa kalap seperti itu”, gumam ku di hati.

Lalu tini menceritakan akhir-akhir ini malah ia selalu bahagia jika mas rustam selalu memperhatikan nya, “tau nggak lia senang dan bahagia rasa nya tini jika bisa jadi pacar mas rustam”, ucap nya saat itu.

“Kok kamu suka sama kakak mu sendiri tin, apa kamu nggak punya ketertarikan sama cowok lain”, sahut ku.

“Nggak kamu belum mengenal baik mas ku lia, coba saja kamu dekat sama mas ku, pasti nya kamu pun akan jatuh cinta sama dia, sikap nya itu bikin kita kaum perempuan meleleh, sedari kecil aku dijaga dan diperhatikan malah semakin besar rasa sayang ku pada nya, karena ia melakukan nya dengan tulus dari hati nya”, jawab tini menjelaskan.

“Tapi kamu jangan sampai ceritakan ini sama mas rustam ya, malu tau”, ucap tini mengingatkan ku.

“Janji kok rahasia kamu akan lia jaga sampai mati, hmmmm tin, boleh lia ngomong tapi kamu jangan marah ya”, ucap ku ragu-ragu.

“Ngomong saja lia, kamu itu sudah kuanggap saudara ku sendiri”, jawab tini yakin.

“Gimana kalo seandainya aku juga menyukai mas rustam, apa kamu bakalan memusuhi ku, jika kamu bakalan memusuhi ku, lebih baik aku kubur perasaan lia pada mas rustam, aku menyukai mas rustam karena ia sosok kakak yang baik, belum seperti kamu yang sampai mengharapkan ia menjadi kekasih mu”, ucap ku.

“Lia, siapapun berhak mencintai dan dicintai, tini tidak akan memusuhi dan membenci kamu, percaya pada tini dan masalah ini kan kita tidak tau takdir dan jodoh, jika aku yang jadi jodoh nya mas rustam tini bakalan senang dan bahagia, begitupun jika kamu yang ditakdirkan berjodoh dengan mas rustam, tini nggak punya hak untuk menentang takdir dan jodoh dari Allah, jalani saja menurut yang kita baik, tapi ingat kita jangan sampai bermusuhan kamu itu sudah tini anggap kakak, saudara tini tempat tini berkeluh kesah, berbagi suka dan duka”, ucap nya lalu memeluk ku.

“Dik tini”, ucap mas rustam mengagetkan kami berdua saat itu.

“Eh mas rustam, nah gitu mas sekali-kali main lah kesini, mosok lia mulu yang main ke rumah mas dan tini”, ucap ku menutupi kekagetan kami kehadiran mas rustam.

“Ada apa mas, cariin tini?”, ucap tini menjawab.

“Mama minta mas manggil kamu, nggak tau mama ada perlu apa sama kamu dik?”, ucap mas rustam.

“Oiya, kapan-kapan mas rustam bakalan sering main kesini dik lia?”, ucap mas rustam menjawab omongan ku tadi.

“Dah lia, tini pulang dulu”, ucap tini lalu ia memeluk ku sejenak.

“Yuk dik lia, mas juga balik ke rumah dulu bareng tini!”, ucap rustam.

“Ok tin, mas, sering-sering kalian main kerumah ya, sepi lia nggak ada teman”, ucap ku.

Diary…. April 1992….perpisahan ku dengan sahabat ku tini dan mas rustam…

“Nak, sini duduk dekat ayah dan ibu”, ucap ayah.

“Papa nya rustam dan tini akan pindah tugas ke palembang, dan mereka berdua otomatis akan ikut menemani papa mama mereka nak, papa tau ini berat buat kamu nak, berpisah sama tini sahabat kamu, yang telah menganggap mu saudara nya, tapi suatu saat nanti papa yakin kalian akan dipertemukan kembali oleh allah swt”, ucap ayah saat itu menjelaskan tentang kepindahan tugas pakde tono papa nya tini dan rustam.

Aku lalu memeluk ayah dan menyandarkan tubuh ku, jujur aku merasa kehilangan jika tini beneran akan pindah ke palembang, dan tiba-tiba ada suara ketukan di pintu.

Tok…Tok…Tok…

“Assalamualikum wr.wb”, ucap suara oranv yang mengetuk pintu tersebut.

“Waalaikum salam wr.wb”, sahut ku lalu membuka pintu rumah.

Ceklek….. Krrriiieekkkk….

Aku melihat tini dan rustam berdiri di depan pintu saat itu, mereka berdua seperti mau berpamitan, dan terlihat wajah tini berkaca-kaca melihat ku dan kami berdua lalu berpelukan sambil meneteskan air mata, menumpahkan rasa yang mengganjal di hati akan perpisahan kami yang tidak bisa kami hindari.

“Lia, tini mohon maaf jika mesti berpisah meninggalkan kamu, tapi tini akan tetap menjalin komunikasi pada kamu lewat surat, kamu jangan lupain tini ya”, bisik tini yang menangis beruraikan air mata.

“Iya tin, aku akan tetap menjadi sahabat dan sekaligus saudara mu, lia janji akan selalu mengirim kabar dan berkomunikasi sama kamu, minimal setiap bulan kita mesti saling berkirim kabar, kamu setuju tin”, bisik ku pada nya.

Tini mengangguk setuju, dan ia lalu memeluk ku makin erat, seakan ini adalah pertemuan kami yang terakhir kali nya.

Suasana saat itu membuat ayah dan ibu ku pun ikut meneteskan air mata, mereka terharu melihat kedekatan ku dengan tini, dan bahkan rustam, papa dan mama angkat mereka pun ikut sedih dan terharu.

“Lia kalo mau ke palembang nanti jangan lupa mampir dan nginep di rumah bukde”, ucap bukde yatmi mama angkat nya.

“Iya bukde, lia kalo main palembang pasti mampir kok”. ucap ku menjawab walau masih menahan isak tangis ku.

“Sudah dik, kalian berdua jangan nangis, mas janji suatu saat kalian akan bertemu lagi, dik lia jaga diri mu dik, maafin mas kalo ada salah padamu”, ucap mas rustam mencoba menenangkan kami berdua.

Akhirnya malam itu aku terpisah dengan sahabat ku hartini, dan kami berjanji akan selalu berkirim kabar apapun itu setiap bulan nya, malam yang merubah hidup kami semua telah dimulai saat itu.

 

===

Pov lia

Drrrrt….. Drrrrrttt….. Drrrrrrtttt….

Saat aku sedang membaca diary ku, tiba-tiba hp yang baru saja dibelikan mas rustam suami ku bergetar.

Aku lalu menutup sebentar buku diary ku dan meraih hp ku dan membuka pesan sms dari nya.

from : papa rustam

“Bunda sayang, papa sudah tiba di jogja, saat ini masih di bandara adi sutjipto, i love you bunda, papa selalau mencintaimu”.

Aku tersenyum saat membaca isi sms dari suami ku, betapa besar rasa cinta nya pada ku, walaupun mungkin awalnya ia terpaksa menikahi ku karena rasa tanggung jawab nya telah mengambil perawan ku, walaupun aku tidak menuntut dan meminta pertanggung jawaban nya, jujur aku bahagia menjadi istri nya, menjadi bagian hidup nya, menemani hari-hari nya, walaupun ku tau ia pun sangat mencintai mama yatmi dan sahabat ku tini.

Entah mengapa takdir dan jodoh lebih memihak pada ku bukan pada sahabat ku tini yang sampai detik ini masih mencintai dan menyayangi rustam suami ku, bahkan anak mereka kini sudah besar, seusia dengan agus anak rustam dan mama yatmi.

Surat terakhir yang ia kirimkan beserta photo anak nya, membuat ku seolah bersalah dan menyalahkan takdir kenapa mereka mesti berpisah dengan jalan seperti ini.

Lalu ku buka kembali surat dari hartini tono hartono yang ia cantumkan di nama nya saat ini

Untuk sahabat ku : Lia

Assalamualikum wr. wb,

Apa kabar saudara ku? Semoga kalian selalu sehat dan menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah, aku dan anak ku alhamdulillah sehat walafiat.

Eh…iya aku ucapkan selamat atas kehamilan mu lia, semoga kamu dan anak mu sehat selalu dan dimudahkan dalam persalinan nanti nya, aku ikut bahagia mendengar kabar tersebut dan berharap rahasia kita ini jangan sampai diketahui mama yatmi, dan juga mas rustam.

Bersama surat ini aku kirimkan foto aku dengan citra rahayu anwar, nama yang ku berikan untuk mengenang sosok ayah nya.

Mengenai kehidupan rumah tangga ku dengan papa tono, walaupun aku tidak mencintai nya tapi aku berusaha untuk menjadi istri nya yang baik, mungkin hanya waktu yang akan menjawab apa pernikahan kami akan langgeng atau berakhir, sifat dan watak nya nggak berubah dan suatu saat nanti kalo sudah tiba waktu nya akan ku buka siapa anak ku sebenarnya.

Aku menceritakan ini bukan untuk merusak rumah tangga kalian, tapi hanya untuk mengurangi beban pikiran dan rasa bersalah ku pada mas rustam, dan hanya kamu serta ibu mas rustam yang mengetahui siapa ayah biologis citra sebenar nya.

Oiya, nanti suami ku bakalan pindah tugas ke jogja, mungkin bulan depan ia akan bertugas disana, aku dan citra diminta ikut menemani nya di jogja.

Mungkin hanya kabar ini yang bisa ku berikan lia, tini berharap silahturahmi kita masih bisa terjaga sampai kapan pun, oiya ini no. hp ku tolong kamu simpan ya, o811-xxxx-xxx, sekarang biar cepat berkabar sebaiknya komunikasi kita bisa lewat hp.

Dari sahabat mu : Hartini tono hartono

Aku lantas menyimpan no.hp tini dan memberi nama tini-tono di save no. contact, dan sesaat aku menghubungi no. nya.

Tut…. Tut…. Tut….

” Hallo, assalamualaikum, dengan siapa ini?”, ucap suara wanita di ujung telepon sana.

“Waalaikum salam wr.wb, lupa ya sama sahabat kamu, aku amelia rustam anwar”, ucap ku menjawab suara telpon dari nya.

“Hahahaha…. Nggak bakalan lupa aku sama kamu lia, apa kabar kalian semua di pendopo?”, ucap tini yang sempat tertawa mendengar ku.

“Alhamdulilah sehat, kamu sekeluarga gimana sehat juga?”, jawab ku dan balik bertanya.

“Alhamdulillah sehat, wah gimana nih kandungan mu sudah berapa bulan sekarang?”, ucap tini di telpon menanyakan kehamilan ku.

“Masuk 5 bulan, oh iya aku mau kasih kabar kami akan ke jogja minggu depan, kalo mas rustam sudah lebih dulu ada di jogja, mas rustam di sekolahkan oleh perusahaan bakalan tinggal lama kami di jogja tin”, ucap ku.

“Yang bener lia, wah kebetulan banget nih, mungkin sudah takdir kita ya ketemu di jogja, sekarang ini aku sudah di jogja, sudah sebulan ini di komplek perumahan dinas kepolisian polda yogyakarta no. 10”, ucap tini antusias dan senang mendengar kabar ku barusan.

“Iya kita bisa ketemuan disana ya tin”, ucap ku.

“Ok kamu kabarin ya, kalo sudah di jogja, kirim sms bila perlu alamat rumah kalian nanti di jogja”, ucap nya senang.

“Pasti itu tin, maaf tin aku ada perlu nih nanti aku call kamu lagi ya, assalamualaikum wr.wb”, ucap ku mengakhiri obrolan singkat kami.

“Semoga kamu dan kandungan mu sehat ya, waalaikum salam wr.wb”, jawab nya mengakhiri omongan kami.

“Oiya hampir lupa, aku belum balas pesan sms mas rustam, sebaiknya ku sms-in saja sekarang biar suami ku nggak khawatir”, aku membatin dan baru mengingat belum membalas sms suami ku.

to : papa rustam

“Alhamdulillah kalo sudah sampai selamat papa di jogja, oiya pa ayah bilang sudah dapat tiket nya, bunda juga sayang banget sama papa, jaga kesehatan papa disana, i love you too suami ku rustam anwar, kange. sama papa”.

“Dah ahh, mending aku ke kamar mama, main sama agus daripaa bengong sendiri di kamar”, gumam ku berpikir dalam hati.

Aku lantas keluar kamar dan berniat menuju kamar mama yatmi, ku lihat agus berlari-larian sambil membawa pistol main sama ayah ku, ada senyum kecerian diwajah mereka berdua.

Dorrrr…. Dorrrr…. Dorrrrr….

Aku seakan mau pingsan saat dikagetkan oleh suara agus yang tiba-tiba berada dihadapan ku dan tubub ku lalu lemas dan ambruk ke lantai dengan wajah pucat dan tubuh berkeringat dingin.

“Lia…..”, teriak ayah.

 

===

Pov yatmi

Aku begitu khawatir setelah mengetahui kalo bunda lia mengalami gangguan jantung dan berdoa semoga ia dan janin yang dikandung nya tidak kenapa-kenapa.

Saat ini aku menemani ibu ratna, dan ayah mertua ku yang juga orang tua bunda lia, saat ini ia terbaring lemah dengan oksigen di hidung nya, ia sadar tetapi kondisi fisim nya sempat melemah akibat kejadian tadi.

“Nak yatmi, kamu tenang saja lia nggak kenapa-kenapa kok, tadi dokter nya bilang ia dan janin dalam kandungan nya sehat, cuma kondisi lia sempat shock akibat kaget untung kita tadi cepat bawa ke rumah sakit stanvac sini”, ucap ibu ratna mencoba menenangkan kegelisahan ku.

“Maafin agus ya bu, sudah bikin bunda lia jadi begini”, ucap ku merasa bersalah karena kelakuan agus tadi.

“Namanya anak-anak, sudah jangan kamu pikirkan, ibu nggak menyalahkan agus kok”, ucap beliau dengan muka tenang dan tersenyum.

“Ma, sini”, panggil bunda lia pada ku.

“Tuh lia mau ngomong nak”, ucap ibu ratna mengingatkan ku.

Aku melangkah mendekat dan memeluk bunda lia serta mencium kening nya, “jangan marahin agus ma, bunda nggak kenapa-kenapa kok, bentar lagi bunda bisa pulang kan kita mau berangkat ke jogja”, ucap nya pelan sambil memberi senyum nya.

“Dokter beri obat penguat jantung, semoga bunda bisa melahirkan anak kami dengan selamat ya ma”, ucap lia.

“Iya bunda, mama akan berdoa demi kesehatan bunda dan anak mu nanti, mama sayang sama bunda kamu mesti kuat ya bun”, ucap ku menyemangati bunda lia.

“Makasih mama, bunda juga sayang mama dan agus”, ucap nya.

“Oh iya hampir lupa, tadi papa sms mama, papa bilang sudah dapat rumah kontrakan untuk kita disana, bunda semangat biar cepat pulih lagi biar kita bisa kumpul lagi sebagai keluarga yang utuh”, ucap ku sambil membelai pipi nya.

Hari ini kami sekeluarga sudah berad di bandara SMB II Palembang untuk berangkat ke jogja, tadi ayah mertua ku sudah memberitahukan kepada suami ku bahwa kami berangkat hari ini dengan pesawat garuda indonesia boing 747-300 no.penerbangan 503 rute palembang-jogja.

Selama perjalanan ini kurasakan begitu bahagia, ada senyum ceria anak ku agus di samping ayah dan ibu mertua ku dan senyum bahagia bunda lia disamping ku.

Sesekali ada obrolan ringan antara aku dan bunda lia selama di dalam pesawat, tidak terlihat kami sebagai madu bahkan seperti kakak dan adik yang saling mendukung satu sama lain.

Hampir 2 jam perjalanan udara yang kami lalui sejak take off hingga sampai landing di bandara adi sutjipto dengan selamat. Ada senyum bahagia kami saat tiba di pintu kedatangan dan disambut dengan senyum bahagia suami ku di labby kedatangan.

“Papa….”, teriak agus saat i melihat suami ku berada disana.

Kami yang melihat mereka berdua berpelukan tersenyum lebar, dan mendekati papa dan anak nya yang saling melepas rindu.

“Duh anak papa makin besar ya, papa kangen sama kamu nak”, ucap rustam suami ku yang langsung memeluk agus dan menggendong nya tinggi-tinggi.

“Pa…. Ta…tadi agus lihat awan… Mau lagi agus naik pecawat pa…”, ucap agus pada rustam papa nya.

“Iya nanti ya, kita naik pesawat lagi, agus turun dulu ikut mama bentar, papa mau salim sama nenek dan kakek dulu”, ucap nya setelah mencium kening agus sejenak.

Ia lalu menurunkan agus dan kemudian mencium buku tangan ibu mertua nya, kemudian berpindah ke ayah mertua nya.

“Ayah gimana perjalanan nya, ayah dan ibu sehat kah?”, ucap rustam menyapa mertua nya setelah mencium buku tangan mertua nya.

“Lumayan capek nak, tapi senang ada agus yang bikin kami semua tersenyum dan tertawa kecil selama di pesawat, anak mu memang pintar, dan alhamdulillah ayah dan ibu sehat nak”, ucap ayah dodit menjawab omongan suami ku.

“Dah yuk kita kangen-kangenan di rumah saja, kebetulan rustam tadi sempat rental mobil buat jemput kalian semua”, ucap nya menyudahi acara kangen-kangenan kami.

 

===

Pov Lia

Akhirnya kami sampai ke rumah kontrakan di perumahan mataram bumi sejahtera blok c no. 10, rumah yang sederhana yang akan kami huni selama kami tinggal di kota ini.

“Pa, bunda kangen sama papa”, rengek manja ku saat kami berdua sudah berada di kamar ku.

“Papa juga kangen sama kamu bun, gimana keadaan bunda dan kandungan nya, papa kangen sama calon anak kita”, ucap suami ku mas rustam dan ia melepaskan rindu nya mencium kening ku dan membelai perut ku yang membuncit.

Sejak kejadian kemaren agus sekarang jadi penurut dan jarang bertindak nakal di rumah, padahal aku sama sekali tidak memarahi nya mungkin mama ny yang menasehati agus sehingga ia sekarang sedikit banyak diam di rumah hanya sesekali tingkah lucu nya hadir kala main sama kakek dan papa nya.

“Oh iya bun, kampus papa dekat kok dari sini, untung saja semua sudah di urus oleh pihak perusahaan, papa kemaren kesana hanya melapor dan menyerahkan data diri untuk di data ulang oleh bagian administrasi dan selanjutnya bulan depan sudah mulai perkuliahan nya”, ucap nya sumringah.

“Bagus itu pa, senang bunda dengar nya”, sahut ku menanggapi omongan nya.

“Dah bunda istirahat saja, papa mau ke kamar mama dulu buat melepas kangen sama mama dan agus, papa tinggal bentar ya bun, nanti malam papa temenin bunda tidur di kamar kita”, ucap nya lalu mencium bibir ku setel:ah aku memberi anggukan kepala mengijinkan nya.

Hari demi hari ku lewati dengan penuh semangat karena di dampingi mama yatmi dan papa rustam mereka berdua memberikan kasih sayang yang tulus buat ku, membuat ku dan pertumbuhan janin dalam kandungan ku semakin baik, aku tidak lagi mengalami gangguan dari jantung ku karena pola makan, pikiran dan jiwa ku yang tenang menjalani hari-hari ku.

Bulan berganti bulan kini usia kandungan ku memasuki 9 bulan dan menurut perkiraan dokter kemungkinan 10 hari kemudian aku akan melahirkan, mas rustam walaupun disibukkan dengan urusan perkuliahan nya ia selalu memperhatikan perkembangan kehamilan ku, tak jarang ia selalu sms setelah ia selesai jam kuliah nya hanya untuk menanyakan kabar ku baik langsung ke hp ku maupun ke hp mama yatmi.

10 hari kemudian……

Malam itu aku merasakan sakit yang teramat sangat di perut ku, dan suami ku dengan sigap melarikan ku segera ke rumah sakit. Aku segera di bawa ke ruang unit gawat darurat oleh petugas jaga dan setelah menunggu beberapa saat, suami ku, memyusul ku setelah ada dokter jaga yang mulai mengurusi ku.

“Bapak suami nya”, tanya dokter tersebut.

“Iya dok, saya suami nya nama saya rustam anwar”, jawab mas rustam cepat dan tegas.

“Gini pak, setelah saya periksa istri bapak sudah dalam bukaan 3, tetapi ada hal yang membuat kami memutuskan operasi cesar karena kondisi jantung ibu mengalami masalah, jika bapak memutuskan untuk operasi silahkan di urus di bagian administrasi sekarang pak, mohon di putuskan secepat nya demi keselamatan ibu dan anak nya”, ucap dokter tersebut menjelaskan permasalahan nya.

“Ok dok, saya faham, beri saya waktu untuk ngobrol sebentar dengan istri saya”, ucap mas rustam dengan yakin.

Dokter itu meninggalkan kami berdua di sebuah ruangan, lalu mas rustam mendekati ku dan membelai pipi ku.

“Bunda, papa sayang sama bunda dan anak kita, papa ingin kalian berdua selamat, bunda mau kan operasi, kalo melahirkan normal resiko nya terlalu tinggi”, ucap nya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.

“Iya pa, bunda ikut apa yang papa putuskan, makasih sudah begitu perhatian sama bunda, i love you pa”, ucap ku.

“Kalo gitu papa mau urus administrasi nya bun, bunda tunggu sini ya, nggak lama kok”, ucap nya lalu bergegas menuju ke bagian administrasi pasien.

30 menit kemudian….

“Bunda, papa sudah urus administrasi nya, nanti dokter beserta suster akan membawa bunda ke ruangan operasi, papa titip pesan berjuanglah demi papa dan anak kita, papa ingin kamu dan anak kita selamat dan sehat ya bun, i love you bunda”, ucap suami ku sembari mencium ubun-ubun kepala ku yang tertutup hijab.

 

===

Pov rustam

Aku terlihat panik saat mengetahui istri ku lia mengalami kontraksi, dan setelah ngomong sebentar pada yatmi aku membawa nya secepat mungkin ke rumah sakit swasta Bethesda, salah satu rumah sakit swasta terbaik di kota jogja karena pelayanan nya, motto rumah sakit yang berdiri sejak tahun 1899 itu “tolong dulu urusan belakangan”, membuat rumah sakit ini sangat cepat dalam penanganan medis nya, terbukti dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dilandasi dengan kasih, tidak membedakan agama, suku, budaya, golongan serta derajat ekonomi.

Saat ini aku sedang berada di depan kamar operasi, duduk dengan gelisah dan terus berdoa demi keselamatan istri dan anak ku.

Drrrrttt….. Drrrrrtttt…. Drrrrtttt….

Hp ku tiba-tiba bergetar ada sms masuk dari ayah mertua ku.

from : ayah dodit

“Nak gimana keadaan lia dan anak nya, apa sudah melahirkan, ayah dan ibu besok akan ke jogja”.

Segera ku balas sms mertua ku saat itu.

to : ayah dodit

“Saat ini sedang dilakukan operasi cesar yah, kondisi jantung lia bermasalah kalo ia melahirkan normal, rustam terpaksa mengambil keputusan operasi cesar demi menyelamatkan lia dan anak kami yah, mohon doa nya, oiya papa sms saja no. penerbangan nya dan jam berangkat nya nanti rustam jemput ayah dan ibu di bandara adi sutjipto”.

Beberapa saat kemudian balasan sms dari ayah.

from : ayah dodit

“Ayah pasti doakan lia dan anak kalian, iya nanti ayah sms, tolong kamu kabarin lagi ya nak perkembangan lia operasi nya dan setelah operasi”.

to : ayah dodit

“Iya pasti ya, udah dulu yah rustam mau sholat dulu, salam buat ibu ya yah, assalamualaikum wr.wb”.

Setelah selesai sholat isya’ dan berdoa memohon pertolongan Yang Maha Kuasa Allah Swt, aku lalu kembali ke tempat kamar operasi lia, operasi cesar sudah melewati lebih dari 1 jam, aku terus komat-kamit dalam hati berdoa untuk kelancaran operasi lia, selamat ibu dan anak nya.

Drrrttt….. Drrrttt…. Drrrrtttt….

Hp ku kembali berbunyi dan bergetar dan ternyata dari yatmi istri ku.

from : mama yatmi

“Pa, jangan panik, mama yakin bunda dan anak nya selamat, mama ikut berdoa, sebenarnya mama mau nemenin papa, tapi agus nggak bisa ditinggal sendiri di rumah, sabar dan banyak berdoa pa”.

to : mama yatmi

“Makasih mama sayang, papa jadi kuat berkat kalian, ia ma papa yakin bunda lia dan anak nya selamat dalam operasi cesar ini, mohon mama doain juga ya”.

Setelah mengirim sms pada yatmi istri ku pintu ruangan operasi tempat lia dioperasi terbuka, muncul dokter yang menangani operasi lia dan mendekati ku.

“Dengan suami nya ibu lia kah?”, tanya dokter tersebut.

“Benar dok, ada masalah apa dok?”, tanya ku dengan panik.

“Nggak pak, mau kasih kabar gembira, ibu lia dan anak nya sudah selesai operasi cesar dan semua dalam keadaan baik, anak kalian perempuan berat 3,2 kg keadaan bayi nya sehat dan normal, cuma ada masalah sedikit dengan ibu nya pak”, ucap dokter tersebut.

“Masalah apa dok kalo boleh saya tau mengenai istri saya”, ucap ku gelisah dengan omongan dokter barusan.

“Kondisi jantung ibu lia bermasalah dengan alat pacu jantung nya, kalo tidak segera di operasi berakibat fatal pak, kalo di indonesia belum bisa melakukan operasi tersebut, kecuali bapak mengusahakan nya ke mount elizabeth singapura, disana bisa melakukan operasi itu atau pun transpalasi cangkok jantung”, ucap dokter heri menjelaskan kronologi penyakit lia.

“Ok dok, sekarang gimana keadaan lia dok, apa sudah sadar sekarang”, ucap ku khawatir dengan kondisi nya.

“Mungkin sekitar 2 atau 3 jam lagi istri bapak sadar dari obat bius nya, kalo nggak ada lagi yang perlu ditanyakan saya pamit pak, dan selamat ya atas kelahiran putri nya”, ucap dokter heri sambil menyalami ku memberi ucapan selamat pada ku.

“Makasih dok, atas bantuan nya”, ucap ku singkat dan tersenyum menjabat tangan nya.

Lalu aku mengirim sms pada ayah dodit dan yatmi.

to: ayah dodit

“Alhamdulillah yah, lia sudah selesai operasi nya, anak nya perempuan lahir dengan selamat, sehat dan normal, cuma lia masih belum sadar dari bius dan menurut dokter keadaan lia aman dan sehat”.

to : mama yatmi

“Alhamdulillah ma, bunda lia sudah selesai operasi cesar, anak nya perempuan sehat dan normal, cuma bunda lia belum sadar dari bius tapi kondisi bunda lia sehat kok”.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo