loading...

Aku sadar 1 jam berikut nya saat mendengar suara tangis bayi yang menggema di ruangan kamar rawat inap rumah sakit, senyum bahagia terpancar dari wajah rustam yang melihat ku sadar lalu mendekati ku dan mencium kening ku, walaupun di ruangan kamar itu ada lia, pak dodit dan bu ratna.

Oiya, aku baru ingat mereka kan yang mengantarkan ku ke rumah sakit saat aku mengalami pendarahan waktu di rumah ku, yang kebetulan saat itu rustam ada mendampingi ku, ia begitu kaget mendapati ku terduduk di lantai kamar mandi dengan darah yang mengalir di paha ku, wajah panik nya terlihat kala itu, ia langsung membopong tubuh ku dan membawa nya ke rumah pak dodit dan langsung aku di bawa ke rumah sakit umum derah dr.muh.rabain muara enim.

“Pa, malu dilihat pak dodit, bu ratna dan lia”, ucap ku manja saat rustam selesai mencium kening ku.

“Buat apa malu ma, toh mereka bagian dari keluarga kita, malah mereka ikut senang mama melahirkan dengan selamat walau harus operasi cesar”, jawab rustam tanpa malu berbisik ke telinga ku.

Baca juga: cinta sayur asem (klik di gambar ini)

“Sekarang kamu sudah jadi ibu, dan aku jadi ayah dari benih kita ma, papa akan nikahi kamu ma, setelah 1 bulan menikahi lia itu komitmen papa sama ayah dodit dan ibu ratna saat kamu tadi berjuang melahirkan anak kita”. Bisik rustam di telinga ku.

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala, dan meminta nya mendekatkan telinga nya, “pa, mama bahagia bisa melahirkan anak untuk mu kita didik anak-anak kita pa dengan baik, mama harap papa bisa adil nanti nya setelah menjadi suami buat mama dan lia, jadilah lelaki yang bertanggung jawab pada istri-istri nya pa”.

“Insya allah ma, udah ma kalo belum pulih benar mending mama istirahat, anak kita baik-baik saja kok, untung tadi ada lia ma, dia kan sedang PKL (Praktik Kerja Lapangan) di rumah sakit ini”, bisik nya ke telinga ku.

“Pa….. Mama pengen ngendong anak kita pa”, bisik ku meminta rustam membawa bayi lelaki yang baru saja ku lahirkan.

Rustam pergi ke box bayi yang berada tidak jauh dari tempat ku berada, lalu ia perlahan menggendong nya dan membawa nya ke hadapan, lalu ia tersenyum sambil menyerahkan anak kami kepada ku untuk ku gendong.

Air mata bahagia turun dari kedua sudut mata ku, saat aku menggendong bayi laki-laki yang belum kami kasih nama, karena aku ingin rustam sendiri sebagai ayah nya yang akan memberi nama bayi laki-laki kami. Kurasakan betapa bahagianya aku hari ini karena menjadi seorang ibu, menjadi wanita sempurna yang bisa memberikan keturunan buat lelaki yang kini sangat ku sanyangi, lelaki yang bisa membuatku kuat menjalani hari esok, lelaki yang dulu nya kuasuh dari bocah berubah menjadi lelaki tampan yang banyak membuat wanita tergoda dan terpikat karena paras nya yang tampan, sikap nya yang lembut pada wanita dan berani bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

Tiba-tiba seorang perawat datang menghampiri ku dan menanyakan kondisi ku saat ini.

“Bu yatmi, gimana keadaan ibu sekarang, kalo sudah kuat ibu coba kasih ASI buat bayi ibu, itu sebagai tanda kasih seorang ibu pada anak nya”, ucap perawat itu ramah pada ku.

“Iya sus, aku coba dulu, semoga ASI ku cukup dan lancar keluar nya”, jawab ku mengiyakan omongan perawat tersebut.

Asi ku keluar dengan lancar, ku lihat anak lelaki ku dengan rakus nya menyedot puting susu ku yang kini sudah bisa menyusui nya, “padahal sebelum kamu lahir papa mu dulu nak sudah mencicipi asi mama”, gumam ku membatin sambil tersenyum melihat tingkah bayi ku dalam gendongan ku.

Ku lihat rustam tersenyum sumringah di samping lia dan kedua orang tua nya saat melihat ku menyusui bayi kami.

“Nah sudah lancar bu ASI nya nanti usahakan minimal selama 6 bulan bayi nya terus di beri ASI, lebih sehat, alami dan membuat ibu dan bayi nya terjalin kontak batin”, ucap perawat tersebut.

“Kalo begitu saya pamit ya bu, mau ngechek pasien yang lain nya”, ucap perawat tersebut ramah dan pergi meninggalkan ruangan kamar VVIP yang sedang ku tempati ini.

“Bukde, selamat ya, bukde sudah jadi ibu dari anak nya mas rustam, boleh lia gendong bayi nya setelah bukde selesai menyusui?”, pinta lia dengan wajah memelas.

“Tentu sayang, kamu juga kan bakal jadi ibu nya, mulai sekarang jangan panggil bukde ya panggil mbak saja, dan mbak minta kamu bisa mencintai anak mbak seperti anak kandung mu sendiri ya dik”. jawab ku mengiyakan keinginan nya sambil menyusui bayi ku.

Setelah bayi lelaki tenang dan mungkin sudah kenyang karena meminum ASI ku kemudian ku serahkan bayi ku ke lia dan disambutnya dengan perasaan senang dan bahagia bagai ia sedang menimang dan menggendong bayi nya sendiri.

Pak dodit, bu ratna ikut mendekati lia anak nya, sementara rustam mendekati ku lalu membelai rambut dan sekali lagi ia mencium kening ku, kebahagiaan terpancar dari semua orang yang melihat bayi ku yang sehat dan menggemaskan bagi yang melihat nya.

“Pa, wajah nya mirip banget sama kamu”, bisik ku pada rustam.

“Iya ya ma, tapi mata dan hidung nya itu sama seperti kamu ma”, bisik rustam balik.

Kami tertawa kecil melihat keluarga pak dodit menggoda bayi lelaki ku dan seketika ingin ku tanyakan apa rustam sudah punya nama untuk bayi laki-laki kami.

“Pa, sudah ada nama buat anak kita”, ucap ku pelan dengan tatapan mata bertanya serius pada nya.

Ia menganggukkan kepala, lalu keluar kata per kata dari mulut rustan nama bayi lelaki kami. Muhammad Agustiawan Putra, “gimana ma, kamu setuju nama itu buat anak kita?”, tanya nya kemudian.

“Iya pa, nama yang bagus mama setuju, panggilan nya agus saja pa”, ucap ku mengusulkan nama panggilan anak kami.

“Ayah, ibu dan dik lia, rustam ingin kasih nama buat bayi rustam, nama nya MUHAMMAD AGUSTIAWAN PUTRA, panggilan nya agus, biar ingat kalo ia lahir di bulan agustus”, ucap rustam lantang menyebutkan anak kami pada keluarga pak dodit.

“Wah nama yang bagus itu rus, ayah rasa itu cocok buat nama bayi kalian, semoga kelak menjadi anak yang soleh, berbakti pada orang tuanya, agama dan negara nya”, sahut pak dodit mengomentari nama pemberian rustam pada bayi kami.

“Ayah, ibu, rustam minta satu permintaan pada kalian, tolong anggap bayi ini seperti cucu ayah dan ibu, biar rustam merasakan bahwa rustam benar-benar menjadi menantu ayah dan ibu, rustam tidak ingin ada perbedaan anak rustam dengan yatmi dan anak rustam dengan lia, rustam ingin berlaku adil sesuai kemampuan rustam kelak sebagai suami mereka berdua”, ucap rustam dengan penuh harap pada kedua orang tua calon mertua nya.

“Iya nak, kamu nggak perlu ragu soal itu, ayah dan ibu sudah menganggap yatmi seperti saudara dan juga menantu kami juga”, ucap pak dodit mengiyakan permintaan rustam tersebut.

“Terima kasih ayah, bu, kalian berdua sangat baik pada rustam dan yatmi, rustam bersyukur akan menjadi menantu kalian, dan rustam akan memperlakukan dengan seadil-adil nya nanti kedua istri rustam, mohon bimbingan ayah dan ibu untuk menasehati rustam jika ada yang salah”, ucap rustam sambil ku perhatikan mata nya mulai berkaca-kaca, terharu dengan kebaikan pak dodit sekeluarga.

Pak dodit mendekati rustam, lalu memeluk rustam, “kamu itu akan jadi suami anak ku, jangan sungkan nak untuk berbicara apapun dengan kami, mulai sekarang dan seterus nya ayah minta kamu makin dewasa ya nak, jadikan pelajaran kemaren sebagai penebus kesalahan kalian dan berusaha lah menjadi orang tua yang memberi comtoh yang baik untuk anak-anak kalian kelak”.

“Makasih yah, ayah dodit sosok yang rustam hormati dan jadi panutan rustam terima kasih sudah mau menerima masa lalu dan kesalahan kami berdua yah, sekaligus memberi kesempatan rustam untuk menjadi lelaki yang lebih baihk lagi”, ucap rustam terharu dan bahagia saat itu.

“Nak rustam, ayah dan ibu nggak bisa tinggal nemenin kamu nak, nanti kamu di temenin lia ya, ayah titip lia sama kamu, ayah dan ibu mau balik lagi ke pendopo hari ini”, ucap pak dodit lalu ia menghampiri ku dan memberi selamat atas kelahiran putra kami.

Seminggu kemudian…..

Kodisi ku sudah mulai membaik dan sudah bisa berdiri dan berjalan, walau masih terasa nyeri di bekas jahitan ku yang mulai kering, agus semakin hari terlihat semakin sehat dan ia bayi lelaki yang kuat menyusu nya, entah kalo ASI ku dimasukin botol dot berapa ml yang ia konsumsi, tapi aku sangat senang melihat nya menyukai ASI ku, terjalin ikatan batin yang erat antara aku dan agua saat ia sedang menyusu, ku elus ubun-ubun kepala nya memberikan rasa nyaman untuk nya saat ia menghilangkan dahaga dan lapar nya.

“Nak, mama harap kamu jadi laki-laki sehebat papa mu, jadilah lelaki yang bisa membuat bahagia orang-orang di sekitar mu, mama doakan kamu jadi orang sukses esok nak”, ucap ku seakan ingin mengajak ngomong agus yang masih mengenyot dan menyedot puting susu ku.

Suami ku datang bersama lia, setelah semalam ia menunggui ku bersama lia dan tadi jam 2 dinihari ia pulang nganterin lia ke rumah nya yang berada di muara enim.

Terlihat raut ceria pasangan muda tersebut saat memasuki ruangan rawat inap tempat ku dirawat sekarang.

“Ma, maaf papa baru datang sama bunda, tadi papa ketiduran di rumah bunda”. Ucap rustam merasa bersalah pada ku.

Sementara lia seperti salah tingkah saat ia bertatap muka dengan ku, terlihat ia pun ikut merasa bersalah mengajak rustam nganterin diri nya sehingga ketiduran disana.

“Nggak apa-apa pa, papa nggak perlu minta maaf sama mama, apalagi mama sudah bisa berjalan pa”, ucap ku meyakinkan kondisi ku baik-baik setelah operasi cesar seminggu yang lalu.

“Beneran ma, papa senang dengar nya, apa kata dokter ma? Apa sudah boleh pulang hari ini?”, ucap rustam senang dan bahagia mendengar berita baik dari ku.

Aku mengangguk mengiyakan omongan ku barusan.

“Ma, kamu mau nggak nanti tinggal dulu bersama bunda lia di muara enim, biar ada yang nemenin mama, soalnya papa sedang banyak kerjaan tskut nya kalo mama di pendopo nanti malah mama sendirian papa nggak mau bikin ibu ratna jadi repot ma”, ucap rustam.

“Iya pa, mama mau kok, bunda lia nggak keberatan kah?”, ucap ku mengiyakan omongan rustan dan meminta ijin pada lia sebagai pemilik rumah.

“Bunda senang kok ma, jadi bunda ada teman juga selama sekolah, biar hunda dan mama bisa akrab, bunda pengen belajar banyak sama mama untuk menjadi istri papa nanti nya ma”, ucap lia senang karena aku mau tinggal serumah dengan nya di muara enim ini.

“Papa bahagia punya 2 istri yang kompak seperti kalian, papa harap kalian berdua sama-sama mengenal pribadi masing-masing selama papa kerja, papa ingin kejar karir supaya nanti nya bisa menghidupi kalian dan anak-anak dengan sangat layak”, ucap rustam tersenyum sumringah melihat aku dan lia akur.

“Amiiennn….”, ucap ku dan lia hampir dalam waktu yang bersamaan.

“Ma, papa ke ruangan dokter dulu mau nanyain kondisi terakhir mu, mama ditemani dulu sama bunda lia ya”, ucap rustam meminta ijin padacku untuk menanyakan kondisi ku pada dokter yang menangani dan bertanggung jawab pada kesehatan pasca operasi ku.

Rustam melangkah meninggalkan kamar vvip di rumah sakit tersebut lalu ia pergi menemui dokter yang menangani ku dari awal hingga sekarang.

 

===

Pov rustam

Aku saat ini sudah berada di depan ruangan dr. yustini harahap, DSog. Ku ketuk pintu itu sesaat dan setelah mendengar ada sahutan dari dalam yang meminta ku masuk lalu ku ketan handle pintu itu.

Ceklek…. Kriiieeettt….

Seorang dokter berwajah cantik sedang duduk memberi senyum nya dan mempersilahkan ku masuk dan duduk.

“Apa yang bisa saya bantu pak”, kata dr.yustini ramah menanyakan keperluan ku menghadap nya.

“Gini dok, saya suami dari yatmi pasian kamar vvip nomer 3, pengen tau perkembangan istri dan anak kami setelah pasca operasi karena saya beberapa hari lalu belum sempat berkomunikasi langsung dengan dokter mengenai perkembangan kesehatan istri dan anak ku setelah melahirkan”, ucap ku menjelaskan kedatangan ku menemui nya.

“Oiya, dengan bapak rustam anwar kah ini”, tanya dokter tersebut balik.

“Betul dok, gimana dok perkembangan mereka”, jawab ku penasaran.

“Alhamdulillah pak, perkembangan kesehwtan mereka berdua dalam progress yang sangat baik, istri anda sekarang sudah bisa berjalan tadi pagi saya melakukan pemeriksaan pada luka bekas operasi yang sudah kering walau masih ada terasa nyeri dan sakit di sekitar perut istri anda, tapi saya pastikan kondisi kesehatan ibu yatmi sudah diatas 90% kembali normal, cuma pesan saya nanti jangan dulu istri bapak kerja yang berat-berat yang justru akan membuat luka bekas operasi akan kembali terbuka dan itu sangat berbahaya jika sampai terjadi bisa berakibat infeksi dan gangguan kesehatan lain nya”, ucap nya menjelaskan kondisi kesehatan yatmi yang ku daftarkan sebagai istri ku saat pertama kali masuk ke ruang (UGD) unit gawat darurat.

“Nah untuk kesehatan putra bapak dan ibu dapat saya asumsi kan bayi kalian sehat dan tumbuh sesuai dengan perkembangan bayi pada umum nya, hanya saja selama 6 bulan ini usahakan ibu yatmi lebih banyak mengkonsumsi nutrisi dan vitamin serta makanan yang bisa memperbanyak ASI karena bayi kalian terlihat sangat lahap dan lebih banyak membutuhkan ASI di banding anak seusia nya cuma itu masih dalam kategori wajar pak, jangan terlalu khawatir soal itu, nah untuk makanan, nutrisi dan vitamin yang bisa menghasilkan ASI yang banyak dan sehat seperti ini pak”, ucap dr. yustini memperlihatkan kertas yang berisikan informasi mengenai makanan, vitamin dan nutrisi yang baik untuk dikonsumsi wanita menyusui, dan kertas ini bisa bapak bawa pulang biar nanti bisa bapak ikuti sesuai anjuran dari rumah sakit”, ucap nya panjang lebar menjelaskan detil mengenai progres, dan apa yang akan di konsumsi yatmi biar memperbayak ASI nya.

“Ok dok saya faham, sekarang gimana kondisi istri saya apa hari ini sudah diperbolehkan pulang, karena masa cuti ku sudah habis dok, sekira nya fihak rumah sakit sudah bisa mengijinkan saya bermaksud mengajak pulang istri saya setelah menyelesaikan seluruh biaya administrasi rumah sakit ini”, ucap ku menjelaskan keinginan yatmi untuk pulang ke rumah lia.

“Saya bisa menjamin istri dan anak bapak bisa kok pulang hari ini, silahkan bapak selesaikan dulu seluruh biaya selama di rumah sakit, akan saya keluarkan surat keterangan saya bahwa istri dan anak bapak sudah diperbolehkan pulang, tunggu sebentar pak”, ucap dr. yustini menuliskan surat keterangan ijin pulang dari nya sebagai bukti nanti untuk mengurus biaya administrasi rumah sakit.

Setelah selesai mengurus administrasi dan melunasi pembayaran seluruh biaya rumah sakit yang mencapai 3 juta rupiah, akhinya aku mengajak yatmi beserta anak kami ke rumah lia di kompleks perumahan di kota muara enim, dari rumah sakit ke rumah lia hanya berjarak 2 km sehingga waktu tempuh perjalanan tidak begitu lama.

Teringat saat semalam aku dan lia sempat berhubungan badan melepas kangen, padahal aku sempat menolak keinginan nya tersebut, tapi karena aku tidak tega membuat nya sedih dan kecewa karena penolakan ku akhirnya kami melakukan hubungan suami istri tersebut tanpa kami rencanakan terlebih dahulu.

Tapi nanti saja aku bicarain ini dengan yatmi, setelah semua kebutuhan yatmi dan agus anak ku tercukupi selama tinggal di rumah lia, “ma, bunda lia sedang PKL di RSUD dr.Muh.Rabain Muara Enim, sekarang mama tunggu di sini sebentar papa mau beliin ranjang buat mama istirahat, 1 buah ranjang bayi buat agus, perlengkapan agus seperti popok, baju bayi, bedak bayi, minyak telon, minyak kayu putih dan semua perlengkapan untuk kebutuhan agus anak kita, mama istirahat saja dulu di kamar lia sama agus ya ma, papa pamit ya ma”, ucap ku sambil mencium bibir nya, rasa kangen ku untuk mencumbui yatmi tetapi aku menahan hasrat ku untuk menggauli nya sebelum aku resmi meinkahi nya sesuai syariat agama yang ku anut.

“Pa, mama kangen sama kamu, kamu yang sabar dan kuat ya pa, kendalikan nafsu papa, mama ngerti papa butuh penyaluran nya tapi maaf pa, mama nggak ingin kita terus berbuat dosa setelah adanya agus, mama berharap papa segera ambil keputusan segeralah nikahi bunda lia dan mama pa”, ucap yatmi bijaksana mengingatkan dosa yang sering kami lakukan.

“Iya ma, papa juga berpikiran sama seperti mama, apa papa minta ijin pada ayah dan ibu untuk mempercepat pernikahan papa sama bunda lia, kan bunda lia sudah 17 tahun, secara hukum dan agama sudah bisa papa nikahi, cuma masalah nya papa nggak ingin mama menjadi istri kedua papa”, ucap ku berat untuk menjadikan nya istri kedua ku.

“Nggak masalah pa, itu cuma status papa saja di kantor, asalkan papa adil mama tidak keberatan kok walau jadi istri kedua papa”. jawab nya yakin dan mantap tanpa keraguan sedimit pun.

“Ok ma, akakn papa usahakan secepatnya menikahi kalian berdua, tapi tolong ya ma, pernikahan poligami kita jangan sampai tercium oleh perusahaan, bisa di pecat nanti nya papa”, ucap ku menjelaskan pada nya.

“Supaya kalian berdua tidak terendus perusahaan kalian berdua tinggal dulu sementara di rumah ini yan ma. Papa akan kejar karir papa deni membahagiakan kalian semua, istri-istri papa dan anak-anak kita kelak” ucap ku.

“Yaudah pa, papa pergi saja dulu beli semua yang papa sebutin tadi, nanti keburu sore loh pa, mama kuat kok kalo cuma memasak, tapi untuk sekarang seperti nya mama minta beliin bubur ayam dulu ya pa”.

Akhirnya aku pergi ke pasar membeli semua yang aku butuhkan untuk mencukupi kebutuhan yatmi dan agus anak kami, kebetulan tabungan ku lebih dari cukup untuk membeli itu semua.

Semua yang ku beli sudah berada di rumah lia, 1 unit ranjang extra bed beserta kasur busa nya, 1 unix ranjang bayi untuk agus anak kami, perlengkapan bayi dan semua kebutuhan mereka selama tinggal di muara enim aku cukupi, dan tak lupa membelikan pesanan bubur ayam buat yatmi yang hanya itu yang di perbolehkan oleh rumah sakit untuk di konsumsi untuk beberapa bulan ini sampai jahitan nya sudah bisa dikatakan sembuh.

“Pa, mama bangga sama kamu pa, kamu bikin mama bahagia, mama sayang kamu pa”, ucap nya saat ruang kamar nya sudah tersusun rapi semua kebutuhan nya selama tinggal di muara enim”.

“Ma, mending rumah mama di pendopo mama jual dan uang nya di tabung saja untuk kebutuhan kita nanti, biar untuk kebutuhan mama dan bunda lia selama di sini biar papa yang mencukupi dari gaji papa kerja ma”, ucap ku menyarankan menjual rumah nya.

“Iya pa, mama juga berpikir seperti itu, untuk kebutuhan rumah tangga sebaiknya papa rundingkan dulu sama bunda lia, kita rembukan bersama biar nggak ada sqlah faham nanti nya pa”. Ucap yatmi.

“Hehehehe….”, aku tertawa kecil mendengar usulan nya.

“Belum menikah kita ma, santai aja ma, kalo kebutuhan bunda lia untuk saat ini masih ayah dan ibu yang membiayai nya, tapi setelah menikah nanti papa akan mengambil alih peran ayah nya mencukupi kebutuhan hidup nya”.

Jam 15.00 wib, lia pulang, terlihat senyum nya tulus menerima ku, yatmi dan anak kamk di rumah nya, bahkan ia langsung masuk kamar yatmi untuk menggendong agus yang bikin ia gemas.

“Bunda sayang, ganti dulu baju nya, mandi dan baru gendong agus, mulai sekarang kita mesti hidup sehat karena ada agus yang rentan dengan bakteri dan virus karena kondisi bayi masih rentan mengenai hal itu”, ucap ku pelan meminta pengertian nya.

“Ok pa, bunda saking kangen nya sama agus jadi pengen gendong dia”. Jawab lia beralasan.

“Bunda buruan mandi nya, ada yang ingin papa bicarain bertiga sama mama, ini menyangkut masa depan kita nanti nya”, ucap ku tegas pada lia.

“Siap papa sayang, bunda mandi dulu kalo gitu”. Sahut lia.

30 menit kemudian…..

Aku, lia, yatmi dan anak ku agus sudah berada di meja makan, memang rencana nya aku ingin ngobrolin masalah ini bertiga.

“Nah sekarang sudah kumpul ya, sengaja papa kumpulin kalian ada yang mau papa omongin dan bahas ke kalian”, ucap ku memulai obrolan kami.

“Pertama, papa ingin secepatnya menikahi kalian berdua, walaupun bunda belum selesai sekolah kan masih sekolah asalkan kita jangan punya anak dulu sampai bunda selesaiin sokolah nya.

Kedua, papa ingin kalian berdua untuk sementara tinggal dulu di sini setelah papa menikahi kalian berdua, untuk menghindari tuduhan dan sangkaan dari perusahaan tempat papa bekerja, bahwa papa berpoligami kalo sampai ketahuan papa bisa dipecat.

Ketiga, untuk kebutuhan rumah tangga, kebutuhan dapur dan lain-lain papa titip sama mama, nah untuk keperluan agus dan sekolah bunda akan papa berikan langsung ke kalian berdua nanti kalian berdua ngomong saja ke papa berapa jumlah nya? Apa kalian setuju dengan ketiga point yang papa omongin barusan?”, ucap ku menjelaskan semua apa yang ingin kusampaikan.

“Pa, boleh bunda ngomong”, ucap lia menyahuti ucapan ku barusan.

“Silahkan bunda, ngomong aja kita cari solusi nya sama-sama sayang”, ucap ku mempersilahkan lia ngomong.

“Jawaban pertama bunda tentu senang jika papa secepatnya menikahi bunda dan mama, iya pa, demi menghindari dosa besar lebih baik papa menikahi kami segera, dan bunda setuju akan hal itu karena kita bisa menunda dulu kehamilan bunda sampai bunda menyelesaikan sekolah bunda.

Kedua, kalo soal tempat tinggal, papa jangan khawatir, apa yang dipunyai bunda itu juga milik papa, rumah ini terbuka buat papa, mama dan agus pa, kalian bagian hidup lia kita satu keluarga jika nanti nya papa menikahi bunda dan mama.

Ketiga, untuk masalah keuangan rumah tangga sehari-hari bunda senang jika mama yang mengatur nya, bunda sangat yakin mama lebih tepat untuk itu, dan untuk masalah kebutuhan sekolah bunda saja papa mesti bayarin ya, nggak mungkin lagi bunda minta sama ayah dan ibu karena bunda sudah sepenuh nya menjadi tanggung jawab papa jika kita sudah menikah. Cuma itu tanggapan bunda inti nya apa yang disampaikan papa bunda semua nya setuju pa, jadi pengen besok papa nikahi bunda dan mama biar bunda juga ada teman di muara enim.

“Makasih bunda, sabar ya, papa urus dulu semua administrasi dan semua perlengkapan buat pernikahan kita, kalo lengkap baru kita adakan akad nikah maupun resepsi pernikahan nya”.

“Kalo mama gimana, apa tanggapan mama mengenai masalah ini?”, ucap ku bertanya pada yatmi tentang rencana ku mengenai ketiga point tersebut.

“Mama setuju pa, apapun itu mama akan ikut apa yang papa omongin, mama yakin papa akan adil sama kami berdua”, ucap yatmi menjawab.

“Ok kalo begitu, papa senang nanti papa urus semua untuk pernikahan kita papa usahakan secepat nya ngomong sama ayah dan ibu mu bunda, dan untuk mama, kita akan menikah di kampung mama setelah 1 bulan pernikahan papa dengan bunda, kalian setuju kah?”.

“Setuju pa”, ucap lia dan yatmi kompak dengan memperlihatkan senyum kebahagian dari bibir mereka masing-masing.

“Ok, semoga rencana kita diberikana kelancaran dan kemudahan sama allah, amiin ya robbal alamin”, ucap ku sambil menegadahkan kedua tangan ku berdoa pada-Nya.

“Amiiiieen….”, sahut mereka kompak.

“Bunda, yuk temenin papa beli makanan buat makan malam kita nanti malam, untuk hari ini biar jangan dulu masak mama yatmi nya, ma, papa pergi dulu ya, assalamualaikum wr.wb”, ucap ku lalu menggandeng tangan lia untuk membeli masakan buat makan malam kami bertiga.

“Waalaikum salam wr.wb, hati-hati pa, bun”, ucap yatmi pada kami berdua.

“Iya ma”, sahut lia singkat.

 

===

Pov Yatmi

10 Oktober 1999, akad nikah, resepsi pernihakan rustam dengan lia di salah satu gedung di pendopo……

Jam 9.00 wib, semua undangan telah memasuki ruangan, acara akad nikah pun di laksanakan sesaat lagi, semua sudah berkumpul di dekat sebuah meja kecil dimana saat itu rustam dan lia sudah duduk berdampingan dengan di berikan kerudung putih diatas kepala mereka berdua.

Pak dodit yang akan menjadi wali nikah lia sekaligus orang tua kandung nya dengan wajah sumringah telah berhadapan dengan kedua pengantin, sementara lia banyak menunduk dan sesekali ia melirik ke belakang melihat ku yang berada sambil menggendong agus di pelukan ku.

Petugas P3N dari desa talang ubi tempat alamat lia berada telah memulai dan memimpin acara akad nikah kemudian masuk ke acara ijab kabul antara pak Dodit dengan rustam.

“Rustam anwar bin paimin anwar kau ku nikahkan dengan anak ku amelia ratna wahyudi binti dodit wahyudi dengan mas kawin 2 suku mas di bayar TUNAI”.

“Saya terima nikah nya dengan mas kawin tersebut TUNAI”. Jawab rustam dengan cepat dan sempurna tanpa ada kata yang terlambat sedikit pun.

“Bagaimana para saksi”, tanya petugas P3N tersebut bertanya kepada kedua saksi dari pernikahan rustam dan lia.

“SAH”, jawab saksi dari lia yang ku tau itu kakak nya bu ratna bernama pak Gunawan Ahmad.

“SAH”, jawab saksi dari rustam yang merupakan kakak kandung nya bernama dedi anwar yang mewakili pihak keluarga rustam.

Mereka berdua terlihat tersenyum bahagia duduk di pelaminan di dampingi oleh pak dodit dan bu ratna, pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga, tetangga dan teman-teman lia dan rustam, aku pun melemparkan senyum bahagia ku pada rustam dan lia atas pernikahan merek berdua dan berdoa dalam hati semoga pernikahan kalian berdua langgeng, bahagia dan menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warohmah.

“Dik yatmi”, sapa wanita berhijab yang saat ini sedang menyapa ku dengan ramah dan tersenyum.

“Mbakyu watini, kapan mbakyu datang nya soalnya semalam yatmi kecapean ngurusin agus mbak”, ucap ku sambil menggendong agus anak ku.

“Bisa mbakyu ngomong sebentar sama kamu dik, ini berkaitan juga sama mantan suami mu dan anak ku rustam”, ucap mbakyu watini yang merupakan ibu kandung rustam dan juga kakak kandung mas tono hartono mantan suami ku.

Setelah kami menjauh dari keramaian dalam gedung resepsi itu aku dan mbakyu watini duduk sambil melepaskan rindu sebagai adik dan kakak ipar yang telah lama nggak ketemu.

“Maafin ya dik yatmi atas kesalahan tono, dan juga rustam, mbakyu tau itu anak kamau dan rustam kan, rustam selalu memberikan kabar pada mbakyu setiap bulan nya, dan apa yang rustam lakukan padamu salah tetapi mbakyu yakin ia memang mencintai mu dan akan bertanggung jawab menikahi mu setelah menikahi lia dik”, ucap mbakyu watini pada ku.

“Jadi mbakyu sudah tau kalo agus ini anak kami berdua, maafin yatmi ya mbak sudah tidak memberikan kabar apapun di kampung”, ucap ku balik menyesal karena tidak memberikan kabar apapun.

“Boleh mbakyu gendong cucu ku dik”, pinta nya sopan saat itu.

“Ini mbakyu, namanya MUHAMMAD AGUSTIAWAN PUTRA, nama yang diberikan rustam”, ucap ku sambil menyerahkan agus anak ku pada nenek nya, ibu kandung rustam.

“Bagus namanya, cakep anak kalian dik”, ucap mbakyu watini setelah ia menggendong anak kami agus.

“Cah ganteng, jadilah kelak anak yang soleh, berbakti pada kedua orang tuamu, berguna bagi masyarakat, agama dan negara, maafin nenek baru bisa ngejenguk kamu cucuc ku”, ucap nya pelan dan lirih dari kelopak mata nya seakan ingin berkaca-kaca melihat agus anak kami.

“Gimana kabar kangmas paimin mbak”, ucap ku mengalihkan pembicaraan supaya mbakyu watini nggak sampai meneteskan air mata.

“Alhamdulillah sehat dik, beliau titip salam buat kamu”, ucap mbakyu watini.

“Dik mulai sekarang kamu panggil ibu saja ya, kan sebentar lagi kalian akan menikah arti nya kamu akan menjadi menantu ku dik”, ucap mbakyu watini.

“Iya ya….Kebiasaan serasa masih adik kakak kita mbak, eh bu maksud ku”, ucap ku kaku untuk memanggil ibu pada calon ibu mertua ku.

“Yatmi, ibu ada rahasia yang mungkin akan membuat mu kaget, tapi sekali lagi ini masa lalu kalian berempat, sebenar nya tini itu mengandung anak nya rustam bukan anak nya tono dik”, ucap nya dan terus menatap ku yang terlihat kaget dan terkejut.

“Kok bisa bu, darimana ibu tau semua itu?”, tanya ku penasaran.

“1 bulan setelah mereka menikah, tono pulang kampung dan memperkenalkan tini sebagai istri baru nya dan mengatakan ia menikahi tini karena telah menghamili nya dan ia menceraikanmu mi”, ucap ibu sambil ia menghela nafas dan mengatur nafas nya kembali untuk melanjutkan cerita nya.

 

===

Pov Yatmi

Aku hanya menggangguk mendengar omongan mbakyu watini yang sekarang ku panggil ibu, beliau kemudian melanjutkan omongan nya yang tadi sempat tertunda.

“Keesokan hari nya, tono pergi ke rumah teman nya, tetapi tini tidak mau ikut dan hanya ingin tinggal di rumah saja, lalu kami berdua ngobrol saat itu”, ucap ibu watini sambil menghela nafas nya.

“Kamu pasti kaget dan terkejut nak jika ibu ceritakan apa yang tini ceritakan sejujurnya pada ibu?”, ucap nya melihat reaksi ku dan ia terus mengumpulkan memori ingatan nya untuk menceritakan pada ku.

“Yatmi dengerin bu, kan semua sudah terjadi ceritakan saja mungkin yatmi nggak tau apa yang terjadi sebenarnya”, jawab ku yakin supaya ibu mau melanjutkan cerita nya.

“Tini menceritakan bahwa ia anak yang ia kandung saat itu merupakan benih cinta nya dengan rustam anak ku, mereka melakukan nya terakhir saat di hotel sriwijaya di palembang sebelum kamu dan rustam berangkat ke pendopo, tini minta maaf karena itu bukan pertama kali mereka berhubungan badan, selama ini mereka melakukan nya dengan kondom atau tini minum pil kb dan hari itu ia ingin melakukan nya tanpa kedua hal itu dan ternyata itu masa subur nya. Mungkin kita sebagai wanita nak akan marah atas perbuatan rustam pada tini, tapi tidak semua kesalahan itu mutlak kesalahan nya justru tini yang berbohong kalo saat itu ia ingin memberikan seutuhnya jiwa dan raga nya untuk rustam tanpa ada keraguan kalo bakalan ia hamil. Dan setelah mereka menginap seharian di hotel entah berapa kali merek meelakukan nya saat itu tini hanya bilang sampai 7x orgasme dan rustam 3x orgasme dan semua nya dikeluarkan di dalam rahim nya di masa subur tini”, ucap ibu terlihat mata beliau mulai berkaca-kaca.

“Nak yatmi, yang bikin ibu sedih dan merasa kasihan pada tini karena ia berkorban demi kebahagian rustam dan mengorbankan masa depan nya, ibu lanjutin saja cerita tini, setelah kalian berdua berangkat ke pendopo 2 minggu setelah kejadin itu ia tidak datang bulan dan sempat pingsan saat upacara bendera, karena ia curiga bahwa ia kemungkinan hamil maka ia beli testpack dan benar nak ia hamil dan janin di rahim tini itu anak rustam, cucu ku nak.”, ucap ibu watini yang mulai sesegukkan menangis.

Aku merangkul dan memeluk nya, di gendongan beliau agus dengan tenang nya tertidur, aku pun meneteskan air mata setelah mengetahui masalah sebenarnya, “pantesan saja saat waktu tini sadar dari pingsan nya seolah ia ingin bicara pada ku, tapi karena keadaan waktu itu yang panas aku enggan untuk menanggapi nya”. Batin ku berkata.

“Kok bisa bu, kenapa tini sampai kepergok sedang dizinahi papa nya saat kami berdua datang dari pendopo”. Ucap ku mulai penasaran apa tini yang menggoda suami ku saat itu.

“Kamu salah nak, justru tini menjadi korban adik ku tono, saat ia tau hamil saat itu dengan hasil testpack, tiba-tiba suami mu pulang setelah beberapa hari ia tidak pulang sejak kalian berdua berangkat ke pendopo, lalu tini bilang pada papa nya bahwa ia sedang sakit, papa nya menyuruh istirahat saja di kamar dan tidak usah masak dan tono akan beli makanan buat mereka nantinya.

Saat papa nya masuk kamar ternyata ia tergoda dengan bentuk tubuh tini yang sedang mengingau dan selimut yang menutupi baju tidur nya tersingkap sehingga papa nya jadi bernafsu saat itu, ia mengancam tini akan mengadukan perbuatan zina nya sama rustam pada ku jika ia menolak untuk di setubuhi.

Tini berontak tetapi karena tenaga papa nya lebih kuat perlawanan nya sia-sia dan akhirnya papa nya menggauli tini anak angkat kalian dan ia menyetubuhi seperti layak nya suami pada istri nya, dan hari itu tini marah dan kecewa dengan papa nya, tidak mungkin jika ia jujur sama rustam bahwa ini anak nya tetapi ia pun sempat dinodai oleh papa nya, mungkin itu yang membuat tini jadi tidak bisa ngomong jujur sama kalian berdua.

Nah yang bikin shock buat tini saat kalian berdua memergoki langsung papa nya menyetubuhi nya, ia bahkan sempat pingsan saat itu benar nggak nak”, ucap ibu watini sambil menyeka air mata dengan tisu.

“Iya benar bu, saat itu aku marah besar sama kelakuan mereka berdua, dan tak habis pikir kenapa mereka seperti itu”, ucap ku menyahuti.

“Tapi kalian berdua sama kan nak, tidak lebih baik dari mereka juga, walaupun mungkin perbuatan kalian tidak diketahui oleh tono tapi aku sebagai ibu nya tau karena rustam ngomong jujur lewat surat nya, tujuan kalian berdua ke palembang sebenarnya ingin kamu minta cerai pada tono adik ku karena kamu hamil tapi karena mungkin sudah jalan nya kalian seperti diuntungkan dengan kejadian tersebut”, ucap ibu watini yang tegas dan mengetahui masalah ini hingga aku hanya menunduk malu.

“Sudah nak, ambil pelajaran nya saja, ibu merestui kamu untuk jadi istri rustam, didik lah anak kalian jangan sampai terjadi lagi peristiwa seperti ini, dan masalah tini ini jangan sampai rustam tau sebelum waktu nya tiba, karena ibu yakin kalo sekarang rustam tau maka akan lebih kacau nak, ia akan mencari tini, rustam masih memiliki perasaan sayang pada tini sampai saat ini hanya karena peristiwa itu rasa sayang nya pada tini perlahan-lahan terkikis habis”, ucap ibu watini.

Saat itu aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada beliau karena mau menerima ku sebagai menantu nya, kami berdua berpelukan menetes air mata di kedua sudut mata ku terharu, bahagia sekaligus sedih bercampur aduk jadi satu.

“Ma, ibu kok kalian berdua menangis, dari tadi rustam dan bunda lia nyariin kamu ma”, jawab rustam dengan khawatir melihat ku menangis.

Aku kaget dan melepaskan pelukan ku pada calon ibu mertua ku, ku seka air mata ku dan segera memeluk lia sebagai istri sah rustam saat ini.

“Mama, sama mbakyu eh ibu mu sedang kangen-kangenan pa, betul kan bu”, ucap ku sambil memberikan kode kedipan ke ibu watini.

“Iya nak, sini nak lia peluk ibu, kamu sekarang sudah jadi bagian keluarga ibu”, ucap ibu watini bersandiwara menutupi apa yang sedang kami tadi bicarakan.

Ibu watini dan lia saling berpelukan setelah sebelum nya ia menyerahkan terlebih dulu agus pada ku, aku dan mas rustam tersenyum melihat mantu dan mertua nya berpelukan mesra sebagai tanda bahwa terjalin ikatan keluarga baru di kehidupan rustam dan lia.

“Yuk masuk ke dalam, nggak enak loh sama yang lain nya kalo kita disini”, ucap rustam menengahi kemesraan ibu nya dengan lia.

Kami berlima masuk kembali ke dalam untuk kembali berkumpul walau sekarang hanya keluarga inti yang ada disana.

 

===

1 bulan berikut nya…..
Pov Rustam

10 Nopember 1999, di desa ku gorang gareng, madiun….

Sesuai janji ku pada yatmi tanggal yang sama cuma berbeda bula akhirnya aku menepati janji ku untuk menikahi yatmi, pernikahan sederhana seperti yang ku lakukan sama lia, hadir bersama rombongan ku saat itu ayah dan ibu ku, kakak-kakak ku, lia istri ku dan kedua orang tua lia.

Acara akad nikah diadakan di sebuah rumah milik orangtua yatmi, dan yang menjadi wali nikah nya adalah kakak kandung nya bernama Sugiono.

Ijab kabul yang ku ucapkan lancar dan sah menurut saksi dan hadirin yang menghadiri acara akad nikah lalu diteruskan dengan makan-makan, tidak ada acara resepsi karena itu permintaan istri ku yatmi yang ingin pernikahan kedua nya hanya acara ijab kabul saja.

Setelah acara ijab qabul selesai aku dan istri ku masuk ke dalam kamar kami melaksanakan sholat dzuhur, sholat dzuhur berjamaah sebagai suami istri ya sah terasa berbeda makna nya bagi ku.

“Papa, makasih ya sudah buktiin janji mu untuk menikahi mama, mama bahagia banget hari ini”, ucap yatmi istri ku saat ia mencium buku tangan ku sebagai ucapan syukur dan terima kasih nya setelah kami selesai berdoa dan beribadah sholat dzuhur berjamaah.

“Iya ma, papa juga senang dan bahagia menikahi mama adalah impian papa, papa cinta dan sayang sama kamu ma”, ucap ku sambil mengelus rambut nya yang tertutup jilbab putih gaun yang ia kenakan saat akad nikah tadi.

“Yuk kita keluar, membaur sama keluarga mama, papa ingin jadi bagian keluarga mama juga”, ajak ku pada yatmi istri ku.

Suasana di ruang tengah tempat tadi dilaksanakan akad nikah tadi masih rame dengan tawa dan canda dari keluarga ku, keluarga yatmi dan juga keluarga lia, sekarang keluarga kami menjadi makin erat dan bertambah dengan kehadiran keluarga lia, pak dodit ternyata ada kerabat juga di madiun dan dari obrolan mereka yang menggunakan bahasa jawa halus aku kurang begitu mengerti tetapi melihat keakraban mereka aku bisa menduga bahwa ayah dodit memang orang yang supel dan ramah dengan siapapun.

“Nah ini pengantin baru nya sudah keluar kamar kirain langsung nggak keluar kamar lagi”, goda ayah ku saat melihat kami berdua keluar kamar dan menemui mereka yang sedang asyik mengobrol.

“Ayah, bisa saja, mereka jadi malu tuh, sini nak yatmi, kita ngobrol-ngobrol, tuh lihat agus akrab banget sama lia”, ucap ibu ku.

Aku melihat kearah lia seperti yang ibu ku bilang dan benar, agus tersenyum-senyum dalam godaan lia yang dengan tulus nya merawat nya saat aku dan ibu nya melaksanakan akad nikah tadi.

“Ma, panggil bunda lia, ajak kesini biar ngumpul dan ngobrol bareng kita-kita”, ucap ku pada yatmi dan ia melangkah menuju lia.

“Nak hebat kamu bisa bikin akur kedua istri mu, padahal jarang sekali perempuan mau hidup berdampingan sama madu nya”, ucap ibu ku berbisik.

“Iya bu, rustam bersyukur mendapatkan mereka berdua, mereka walau berbeda umur tetapi bisa saling mengerti dan saling menghargai satu sama lain, rustam minta restu dan doain keluarga kami akan selalu bahagia, hanya itu harapan rustam bu”. Ucap ku dan seketika mencium buku tangan ibu ku meminta restu dan doa nya.

“Iya nak, ibu doakan kamu bisa bahagia, dan jangan lupa selalu tetap mengirim kabar kalian lewat surat seperti biasa ya nak”, ucap ibu ku.

“Iya bu, pasti itu kepada siapa lagi rustam mencurahkan beban hidup rustam kalo nggak kepada ibu”, ucap ku mengiyakan permintaan nya.

“Cuma pesan ibu satu nak, kamu harus bersikap adil dan jangan sekali-kali membeda-bedakan kasih sayang kamu kepada salah satu istri mu, adil itu sesuai porsi nya nak, tapi dalam kasih sayang itu mutlak kamu mesti adil dan tidak boleh lebih sayang hanya pada salah satu dari istri mu, kamu faham nak apa yang ibu omongin barusan?”.

“Iya bu, rustam faham, semoga saja rustam bisa melakukan nya sesuai harapan ibu bersikap adil gampang diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan kalo tidak ada nya ketulusan dari masing-masing pihak”, ucap ku menjawab omongan ibu ku.

Hari yang bersejarah bagi ku karena aku memperistri 2 wanita hebat dalam waktu 1 bulan, dan mereka berdua dengan keikhlasan masing-masing mau berbagi kasih sayang dengan ku, “gimana caranya membagi waktu untuk kedua istri ku, sebaik nya aku tanyakan pada kedua nya setelah kami tinggal di muara enim”, gumam ku di hati.

3 hari kami tinggal di desa gorang gareng madiun, dan hari ini kami (aku, yatmi, lia, dan kedua orang tua lia) pulang ke pendopo, dan selama 3 hari di madiun aku diminta lia untuk tidur sama yatmi sebagai pasangan pengantin baru dan ia akan tidur dengan agus menggantikan peran ibu nya mengurusi agus sebagai anak nya sendiri.

Pendopo, 14 Nopember 1999, di rumah dinas ayah dodit….

Kami sampai di rumah dinas mertua ku, di pendopo, sebelum keesokan hari nya aku akan mengantarkan kedua istri ku ke rumah kami di muara enim.

Mengenai pekerjaan ku di stanvac, aku di tempatkan di bagian manufacturing division atau divisi kilang minyak sehingga aku tidak lagi di tugaskan di bagian pengeboran seperti diawal masa training selama 6 bulan kemaren.

Saat ini aku menjadi junior assiten supervisor setelah kemaren mendapatkan promosi karena berhasil memenuhi kriteria dan dianggap sebagai karyawan terbaik, kinerja ku dinilai sangat baik dengan peningkatan jumlah pasokan minyak dari area pengeboran ke kilang minyak, dan berkat tim manufacturing division perusahaan stanvac memperoleh laba 2 kali lipat dari target yang di tetapkan manajemen.

Sebelum aku mendapatkan cuti, aku sempat dipanggil oleh GM area pendopo, beliau mengatakan akan memberikan kesempatan kepada karyawan terbaik dari masing-masing divisi untuk melanjutkan pendidikan ke Fakultas perminyakan UPN Yogyakarta, dan semua biaya pendidikan ditanggung penuh oleh perusahaan, dan gaji bulanan akan tetap dibayarkan sesuai jabatan atau posisi nya selama mengikuti pendidikan tersebut.

“Dan salah satu karyawan terbaik yang akan kami beri beasiswa tersebut adalah kamu, rustam anwar, untuk pelaksanaan beasiswa nya bukan sekarang tetapi akan dilaksanakan tahun depan, apa kamu siap pak rustam, dan selama setahun kamu mesti mempertahankan kinerja kamu yang sangat baik ini hingga perusahaan akan mengirim kamu untuk melanjutkan kuliah di yogyakarta?”, ucap pak raymond dharmadji menjelaskan kenapa aku dipanggil untuk menghadap nya.

“Ok siap pak, akan saya pertahankan malah akan ditingkatkan lagi kinerja saya pa, dan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan perusahaan kepada saya pak”, jawab ku yakin dan tegas.

“Saya pribadi sangat menyukai orang-orang seperti pak rustam, semoga nanti nya kita bertemu lagi dengan posisi bapak yang sudah menjabat sebagai salah satu pimpinan di perusahaan kita ini”, ucap pak raymond.

“Semoga saja pak, dan saya ucapkan terima kasih atas bimbingan bapak dan senior-senior disini yang telah membimbing kami para karyawan baru dan kami akan mengabdikan sepenuhnya kemampuan kami demi kejayaan perusahaan stanvac co”, ucap ku senang dan bahagia dengan memberikan senyum pada pak raymond.

“Ok kalo begitu, silahkan bapak bertugas kembali, hanya informasi itu yang bisa saya informasikan ke pak rustam, pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, jangan bikin kecewa saya yang telah mengajukan nama bapak di rapat direksi bulan kemaren di jakarta”, ucap nya sambil tersenyum.

“Terima kasih sekali lagi pak, saya mohon diri kembali bekerja”, ucap ku sambil menyalami pak raymond dharmadji.

Dan saat ini aku, lia, yatmi, ayah dodit dan ibu ratna sedang ngobrol asik di ruang tamu, kuceritakan semua apa yang terjadi sebelum aku mendapatkan cuti, dan ternyata mereka semua mendukung ku untuk mengejar karir ku sekalian mendapatkan pendidikan dalam bentuk beasiswa, bahkan lia dengan senang ia mau juga melanjutkan kuliah nya di yogya sekalian menemani ku disana.

Suasana obrolan ringan penuh kekeluargaan terjalin saat itu, bahkan ayah dodit dan ibu ratna menanyakan nanti nya bakal tinggal dimana setelah kami hidup berpoligami, aku, lia dan yatmi kompak menjawab akan tinggal sementara di muara enim, sambil menemani lia menyelesaikan study nya yang tinggal 1 tahun beberapa bulan lagi.

“Nak rustam, nanti kamu tabung uang mu, kalo sudah cukup, saran ayah kamu beli mobil buat keperluan kamu bolak balik pendopo muara enim dan keperluan mu nanti nya membawa istri dan anak kamu, kalo motor kan repot nak, apa kamu beli nya kredit saja? ayah bayarin dp nya kamu nanti nya yang bayar cicilan perbulan nya”, ucap ayah dodit.

“Terima kasih ya, sebaiknya rustam simpan saja dulu uang tabungan rustam belum cukup untuk beli mobil yah, rencana nya nanti kalo sudah ada, rustam mau beli kontan yah, lumayan daripada beli kredit jadi lebih mahal, dan rustam mohon maaf menolak uang ayah karena rustam tau ayah juga butuh buat biaya naik haji seperti yang pernah ayah dan ibu ceritakan ke lia dan rustam”, ucap ku menjawab keinginan ayah dodit dan menolak halus.

“Iya nak, apa sebaiknya ayah setor untuk naik haji saja ya, kebetulan cukup lah untuk setoran awal naik haji untuk ayah dan ibu, nanti tiap bulan ayah cicil ONH nya, kan biaya sekolah lia sudah kamu tanggung sekarang rus, jadi uang biaya sekolah lia bisa ayah gunakan untuk cicilan ONH tiap bulan”, ucap beliau terpikirkan omongan ku mengenai rencana nya mau ke tanah suci.

“Nah itu bagus yah, nanti rustam ikut bantu biaya nya nya yah, semoga tahun depan ayah dan ibu sudah bisa berangkat ke tanah suci, amiien…”. Ucap ku ikut mendoakan keinginan ayah dan ibu mertua ku yang ingin naik haji.

Setelah makan malam kami ngobrol ringan, kadang ayah dan ibu menggoda agus dengan tingkah lucu mereka membuat agus tersenyum dan tertawa kegirangan, dan beberapa saat kemudian.

“Yaudah ayah dan ibu mau ke kamar, ngantuk dan capek perjalanan, yuk bu kita tidur, biarkan mereka bertiga mungkin masih ada yang mereka ingin bahas tanpa ada nya kita”, ucap ayah dodit sambil mengedipkan mata nya pada ku.

Sepeninggal mereka kami bertiga diam, bingung harus memulai obrolan dari mana, lalu yatmi berbicara dengan bijaksana,”pa, malam ini kamu tidur sama bunda lia ya, mama biar tidur dengan agus, aku yakin bunda lia sudah kangen sama papa, bunda mau ajak agus ke kamar seperti nya ia pun sudah kecapean selamat malam papa, bunda lia, assalamualikum “.

Aku hanya mengangguk dan yatmi sempat mencium buku tangan ku lalu ia menghampiri lia dan membisikan sesuatu pada nya, entah apa yang ia bisikan ke telingan lia.

“Yuk pa, kita ke kamar! Bunda ngantuk juga”, rengek manja lia istri ku.

“Ayo!”, ucap ku singkat lalu beranjak dan menggandeng tangan lia menuju kamar tidur nya.

“Bunda sama mama tadi bisikin apa?”, tanya ku penasaran pada kelakuan mereka tadi.

“Papa kepo, pengen tau aja, rahasia tau!”, ucap nya sambil memanyun kan muka nya.

“Loh kok jadi cemberut bun, papa nggak maksud bikin bunda marah, maafin papa kalo bikin mood bunda kesal”, ucap ku bingung melihat sikap nya berubah 180 derajat.

“Hehehehe… lucu lihatin papa panik kayak gitu, mosok gitu aja sampai bunda marah pa, nanti deh bunda kasih tau”, ucap nya sambil ia melolosi seluruh gaun nya sehingga kini ia bertelanjang hanya jilbab nya belum ia tanggalkan.

Sesaat ia mau menanggalkan jilbab nya, aku menahan nya dan memeluk nya erat, nafsu ku naik seketika melihat kemulusan dan kemontokan tubuh istri ku, ia mendesah sesaat kala aku meremas gundukan gunung di tubuh nya.

“Aaaaahhhh… Papa remas tetek bunda pa, oooohhhh pa”, desah lia melenguh tubuh nya bergeliat saat aku terus meremasi kedua payudara nya dimana puting susu nya sekarang mulai mengeras.

Lalu tubuh nya ku putar dan ia tersenyum saat mengetahui bahwa aku terpana dengan kecantikan alami nya, lalu ia dengan inisiatif nya sendiri mulai melucuti pakaian ku hingga seluruh kain yang tadi nya menutupi aurat ku kini tak sehelai benang pun menutupi ketelanjangan ku.

“Ini bikin bunda rela berbagi sama mama pa, itu jawaban pertama nya dari pertanyaan papa”, ucap nya kemudian ia mulai mengocok pelan kontol ku dengan penuh perasaan sayang nya pada ku.

“Nah sudah nganceng abis tuh pa, bunda ingin malam ini papa diem saja, bunda ingin papa akan ketagihan dengan pelayanan bunda dan itu kompetisi sehat kan pa, tau nggak pa, mama dan bunda taruhan siapa yang bisa lebih cepat bikin papa keluar itu pemenang nya, itu jawaban bunda kedua dari pertanyaan papa tadi.

Lalu ia mengoral kontol ku seluruh permukaan kontol ku dari kepala nya hingga sampai ke buah zakar ku ia jilati, ia telusuri dengan lidaha nya, jelas perlakuan nya ini membuat aku merasa terbang, kepala lia ku tahan dan ku pegang walau tanpa bisa merenggut rambut nya tetapi setidak nya bisa mengurangi kegesitan nya mengoral kontol ku.

“Bunda… Oooohhhhh… Enak bun… Terus sayang..”, erang ku merasakan sensasi luar biasa karena ia melakukan nya dengan lembut tetapi konstan dan bikin ku merinding.

Dia terus menjilati kontol ku bagai sedang menjilati es cream cone yang ia sukai, terasa sekali bibir nya sesekali mengecup dan menyedot kontol ku dan itu membuat ku hampir meledak dan orgasme, sudah lebih dari 10 menit ia melakukan nya ku alihkan pikiran ku ke hal-hal lain yang tidak membuat ku terangsang sehingga libido ku perlahan-lahan turun walau ketegangan kontol ku tetap terjaga.

“Iihh Papa…. Tadi kan sudah mau muncrat kok belum muncrat-muncrat ya, apa teknik oral bunda salah ya”, ucap nya merengek kesal melihat kontol ku belum muncrat.

Hampir saja aku ingin ketawa melihat lia kesal dan merengek manja karena kegagalan nya membuatku klimaks, lantas aku perlahan-lahan menaikkan badan nya dan membimbing nya ke ranjang yang sempat menjadi saksi saat malam pertama kami habiskan dengan bercinta dan bercinta hingga puas saat itu.

“Papa nggak setuju dan akan melarang kalian melakukan taruhan seperti itu, jujur papa kalo pengen egois pasti mau saja ikutin mau nya kalian, tapi papa sudah janji akan memperlakukan bunda dan mama sama persis, kasih sayang papa akan papa bagi rata buat bunda dan mama, tolong jangan diulangi lagi, nanti papa akan tegur mama jika itu memang benar adanya, mengertikah bunda dengan ucapan papa barusan?”, ucap ku tegas dan bijaksana sebagai kepala keluarga.

“Iya pa, maafin bunda pa, sebetulnya kami hanya ingin membuat papa bahagaia dan selalu sayang bunda, jujur pa kadang bunda masih saja cemburu dengan mama jika papa memperlakukan mama lebih dari papa memperlakukan bunda, maafin bunda ya pa, seharusnya bunda mengerti kondisi papa yang mesti berbagi perasaan dan bunda janji mulai hari ini akan berlaku sewajarnya jika sedang kita bertiga, kecuali saat seperti ini, saat dimana papa menjadi milik bunda, nanti kita obrolin ya pa sama mama kapan papa buat mama dan kapan papa buat bunda”.

Aku mencium kening nya, ku peluk erat tubuh nya,”bunda, papa cinta dan sayang kamu, kalian berdua tak bisa tergantikan, walaupun kamu lebih muda dari mama, tapi apa yang kamu katakan itu sudah menunjukkan bunda itu dewasa dan bisa tau apa yang menjadi hak bunda dan apa yang jadi hak mama, untuk itu papa minta bunda dan mama akur supaya papa bisa sayangin kalian berdua tanpa ada yang dibeda-bedakan, jika bunda makan apel, mama pun akan makan apel, jika bunda tidur sama papa hari ini, besoknya papa tidur sama mama, nah besok kita rundingkan masalah rumah tangga kita bertiga nanti di rumah kita bun”, ucap ku menjelaskan pada lia istri ku.

“Makasih pa, bunda bangga bisa menjadi istri papa, benar apa yang mama bilang, papa itu orang yang bertanggung jawab, peka dengan perasaan wanita, dan yang bikin kami. berdua sayang dan cinta papa, papa jago banget soal ini, puasin bunda malam ini ya pa”, ucap nya tanpa malu-malu lia sudah mulai memposisikan kepala nya ke kemaluan ku yang kini mulai menyusut.

Kami mulai melakukan foreplay sebagaimana sering kami lakukan sebelum kami menikah, tetapi kali ini lebih tenang, lebih santai, dan tentu nya lebih aman karena sudah sah sebagai suami istri, tidak ada ketakutan, keraguan bahkan ketidaknyamanan semua menjadi lebih indah dari sebelumnya.

“Oooohhhhh…Pa…! Terus pa jilatin itil bunda….Ya disitu terus pa”, lenguh lia mengerang keenakan dengan jilatan lidah ku dan permainan jari tangan ku di bibir memek nya.

“Bunda juga mainin dong kontol papa, nggak ngantuk apa bun, nanti besok pagi kita pulang loh?”, ucap ku menjawab setelah melepaskan wajah ku sesaat karena ingin iapun melakukan seperti apa yang kulakukan sekarang.

Lia lalu berpindah posisi, hingga kini tubuh ku rebah di kasur sementara ia memposisikan tubuh nya diatas ku dengan wajah kami saling berhadap-hadapan dengan kemaluan kami masing-masing.

Beberapa menit kami berdua melakukan foreplay posisi 69, saling memberi dan menerima rangsangan satu sama lain hingga aku meminta lia untuk mulia dan ku minta ia di posisi women on top, menduduki kontol ku sambil melihat ekspresi manja dan terangsang lia membuat sensasi tersendiri bagi ku.

“Bun, kamu naik diatas ya, papa sudah pengen masukin kontol papa ke memek mu bun, tapi bunda ngadep papa, papa senang lihatin bunda lagi ngentotin papa diatas”, ucap ku meminta lia untuk memulai percintaan malam ini.

Lia merubah posisi badan nya, sekarang ia sudah menghadap ku, kedipan genit nan manja ia lakukan sejenak, membuat gemas aku ingin segera menggauli nya, itu yang kusukai dari lia, dia pinter manaikkan syahwat ku tanpa harus mengocok, menjilati kontol ku, apa barusan yang di lakukan nya seketika membuat kontol ku semakin berdenyut dan tegang.

“Bunda…. Masukin sekarang jangan godain papa, nanti papa hukum bunda kalo godain papa”, ucap ku berpura-pura mengancam nya.

“Hahahaha…. Nggak tahan ya pa…. Ok pa, nikmatin pelayanan istri mu malam ini pa”.

Lalu ia menggenggam kontol ku dan diarahkan nya ke dalam bibir memek nya dan setelah di rasa cukup pas tempat dan sasaran nya ia turunkan pantat semok nya sehingga BLEEEESSSSS….. Seluruh batang kontol ku amblas masuk menghujam sampai ke dalam rahim nya karena saat ia turunkan pantat nya, dengan hentakan yang cukup kuat dan dalam.

“Aaaarrrrgggghhhh”, erang kami berdua saat merasakan kedua kelamin kami bersatu dalam tubuh nya.

“Gimana pa.. Enak nggak?”, tanya lia istri ku genit.

“Enak banget bun, duh ngejepit gini memek kamu bun, aaaahhhh”, sahut ku merasakan empot ayam memek lia yang baru kutau ia bisa melakukan seperti yatmi.

“Papa pengen tau bunda belajar dari siapa?”, ucap lia sambil ia mulai memutar-mutar pinggul nya diatas kontol ku.

“Iii….Iya…Bun…Bunda…”, ucap ku terbata-bata karena ulah nya membuat kontol ku ngilu seperti sedang di ulek oleh memek nya.

“Yaaa…Yang nga….nga..ngajarin…aaaahhhh… enak pa… Ma..mama..yaaa….tmi”, ucap lia menjawab dengan suara terputus-putus karena ia pun merasakan ekstase sensasi nikmat akibat yang ia lakukan barusan.

Beberapa menit kemudian…

“Oh pa…. bunda keluaaaaarrrrr…. SUUUURRR…. SUUUURRR…. SUUUURRR…. SUUUURRR…. SUUURRR….

Lia mendapatkan klimaks nya dari dalam tubuh nya mengalir lelehan cairan kewanitaan nya yang baru saja ia alami, dan langsung terkulai lemas setelah mendapatkan orgasme pertama nya.

“Pa…. Sebentar ya, bunda ngumpulin tenaga dulu, susah banget sih bikin K.O papa”, ucap lia dengan nafas yang memburu kencang karena habis mendaki dan meraih kenikmatan nya.

10 menit kemudian aku kemudian meminta nya untuk nungging dan dengan cepat segera kumasukkan kontol ku yang sangat tegang dan menuntut untuk dituntaskan segera, kukocok kontol ku dengan ritme kencang dan kuat sehingga tubuh nya terutama buah dada nya ikut bergoyang keatas kebawah atau kesamping kiri dan kanan tergantung hentakan dan pompaan ku pada memek nya.

“Ooohhh….Pa… bunda mau dapet lagi, terus pa sodok memek mama lebih dalam”, rintih lia mengerang nikmat saat akan mendapatkan klimaks kedua kali nya.

Kuercepat tempo hujaman dan pompaan ku ke dalam memek nya, sehingga makin membuat lia berkelojotan dalam tubuh yang sudah berpeluh keringat kami berdua.

“Papa…. Bunda sampeeeeeee…….”, teriak nya kencang saat lia mendapatkan klimaks kedua nya

“Tunggu bentar bunda papa juga mau keluar kita bareng saja bun”, ucap ku menyahuti lia istri ku yang akan menyambut orgasme nya begitu pun aku yang sedikit lagi akan mengalami ejakulasi.

Aku fokuskan pikiran ku untuk menuntaskan hasrat sekaligus syahwat ku, ku percepat sodokan ku ke memek lia istri ku, mengerang dan mendesah kami berdua berlomba untuk menjemput titik tertinggi dari sebuah persetubuhan yaitu orgasme, kata yang sering di ucapkan tetapi sulit digambarkan rasa nikmat nya sehingga sampai sekarang kenapa banyak orang yang menyukai seks karena satu kata itu orgasme.

Beberapa saat kemudian….

“Papa…. Oooohhhh nikmat nya pa…. Bunda keluaaaaaaarrrrr…. Aaaaarrrggghhhh”, erang lia setengah berteriak menyambut orgasme nya yang datang saat itu.

SEEEEERRRR….. SEEEEEERRRR….. SEEEEERRRRR….. SEEEERRRR….. SEEERRRR….

“Papa juga keluaaaaarrrrr Bun…. Oooooohhhhhhhh bunda terima benih papa bun”, erang ku meneriakan nama panggilan sayang ku saat aku mengerang nikmat saat kontol ku tuntas mengeluarkan sperma sebagai tanda bahwa aku sudah mendaptkan orgasme ku.

CROOOOTTTT….. CROOOOTTTT….. CROOOTTTT…. CROOOTTTT… CROOOTTT…. CROOOTTT…. CROOOOTTTT…..

Cairan cinta kami bersatu menjadi satu dalam rahim lia istri ku, tubuh lia bergeliat dalam posisi tubuh tengkurep dengan kontol ku masih tertancap di kemaluan nya.

Malam itu, lebih tepat nya dini hari kami melakukan kewajiban suami istri untuk menyatukan perasaan sayang sekaligus rindu kami, tujuan orang menikah tidak lain untuk memperoleh keturunan walaupun saat ini lia sedang sekolah perawat tadi dia tidak lagi menggunakan pil kb dan kondom, toh kalo ia hamil itu anak kami berdua yang sah karena sudah terikat oleh pernikahan yang suci.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo