loading...

“Baik ma, papa akan ceraikan mama, perlu mama ketahui tini saat ini hamil dan itu anak ku, terbukti kan kalo kamu itu mandul”, jawab papa dengan suara marah dan kesal menanggapi omongan mama dan merendahkan nya di hadapan ku.

“Pa…… Siapa bilang mama mandul? Buktinya……”, ucapan ku terhenti karena seketika mama yatmi membungkam ku.

Sengaja aku membungkam mulut rustam, “biar saja suami ku selama ini menganggap ku mandul, toh kami juga akan bercerai, ini jalan terbaik “, gumam ku dihati.

Aku memberi kode pada rustam untuk diam saja, kemudian aku menghampiri tini anak ku yang menangis sesegukkan lalu ku peluk ia dengan penuh rasa kasihan sebagai seorang ibu dan perempuan.

“Nak tini, sebaiknya kamu segera nikah sama papa mu, apalagi kamu sedang mengandung anak nya”, ucap ku membujuk tini dan mencoba menenangkan nya.

“Tapi ma……”, ucap tini berusaha menjawab dan ia lalu kembali tertunduk malu setelah melihat rustam dengan sorot mata marah dan kecewa pada nya, tubuh nya yang telanjang namun masih berjilbab kini sudah ia tutupi dengan selimut nya.

“Dik mas minta jadilah istri yang baik untuk papa, mas ikhlas jika memang itu jalan terbaik buat kalian berdua, maafin mas ya”, ucap rustam saat ia mendekati tini adik nya yang masih meneteskan air mata.

“Sudah tini, buat apa kamu nangis, papa pasti tanggung jawab sama anak di rahim kamu, itu anak ku”, ucap papa dengan yakin nya.

“Tidaaaaaaakkkkkk…..”, jawab tini histeris lalu kemudian ia pingsan.

Aku, mas tono dan rustam panik melihat tini yang tiba-tiba pingsan, kami bertiga lalu mencari sesuatu yang bisa menyadarkan tini dari pingsan nya, “minyak kayu putih, ya itu ada di tas ku”, batin ku berkata setelah mengingat ada minyak kayu putih di dalam tas ku.

Mas tono pergi ke belakang mengambil air dan memasak nya, seperti nya ia ingin membawa air hangat untuk tini, sementara rustam sedikit kebingungan apa yang mesti ia lakukan saat itu, cuma seketika ia lalu pergi ke luar untuk membeli sesuatu.

“Yatmi sayang, tolong jagain tini bentar,rustam mau beli minyak kayu putih dan balsem buat tini”, ucap nya sambil mengecup mesra kening ku.

“Iya mas, jangan lama ya, yatmi jijik liat papa kamu”, ucap mama yatmi memelankan suara nya.

“Iya sayang, demi kamu dan rustam hanya kasihan sama tini semoga cepat sadar dan kita bisa balik lagi ke pendopo”.

“Mas, yatmi sayang sama kamu, kamu jangan banyak ngomong biar saja yatmi yang selesaiin masalah ini, dah mas keluar saja buruan beli balsem saja kalo minyak kayu putih sudah ada nih”. Ucap ku pada rustam bapak dari anak yang ku kandung saat ini.

“Ok sayang, jaga diri kamu, semoga saja cepat kelar ya urusan kita di sini, dah rustam pergi dulu sayang”, ucap rustam memelankan suara nya sambil ia melangkah meninggalkan kamar tini.

“Kemana rustam ma?”, tanya suami ku saat ia sudah kembali ke kamar tini sambil membawa baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.

“Beli balsem pa, nanti kita obrolin masalah ini dengan kepala dingin ya pa, mama minta kita selesain dengan baik-baik”. ucap ku.

“Iya ma, maafin ya ma, ucapan dan perbuatan papa ini, mungkin ini jalan terbaik buat kita, papa sudah banyak salah dan tidak jujur sama mama selama ini”. Ucap nya setelah melihat tini pingsan sikap nya mulai melunak dan penuh kekhawatiran.

“Pa, sudah berapa lama papa menggauli tini? Jujur pa, mama kaget dan shock menyaksikan kejadian ini, papa mesti nikahin tini kasihan pa nasib dan masa depan nya kelak”, ucap ku mengajak bicara suami ku yang kini sudah mereda emosi nya.

“Lebih dari 10 kali papa menggauli tini, sejak mama pergi ke pendopo waktu itu, malam nya papa kangen banget sama mama, dan entah setan dari mana papa nekat membuka kamar tini yang malam itu tidak ia kunci, papa khilaf ma dan jujur setelah itu papa ketagihan sama tini ma, maafin papa ya ma, papa janji setelah menceraikan mama, papa akan langsung nikahi tini”.

Aku hanya diam dan mencoba menguatkan hati ku, walau bagaimana pun aku tidak lah mau untuk bercerai dengan mas tono, dia cinta pertama ku tetapi mungkin ini jalan terbaik buat nya dan buat ku biar kami berdua bisa berbahagia, senyum ku melebar melihat rustam berdiri depan pintu.

“Pa, ma, ini balsem nya!”, ucap nya sambil menyerahkan kantong kresek tersebut pada ku.

“Ma, tolong kamu urus tini, papa ingin ngobrol berdua sama rustam, yuk nak ikut papa!”, ajak nya pada rustam setelah meminta ku merawat tini yang sedang pingsan saat ini.

“Ma, rustam ke depan dulu ya, kalo ada apa-apa dengan tini kasih tau rustam ya ma”. ucap nya lalu ia mengikuti suami ku ke luar kamar tini.

Entah apa yang dibicarakan suami ku dengan rustam, aku mulai memijit-mijit tubuh tini yang tergolek lemas belum sadarkan diri, ada kesedihan terpancar di wajah nya.

15 menit kemudian…..

“Mas rustam….. Maafin tini mas….”, ucap tini mengingau dalam kondisi mata nya tertutup.

Tak lama kemudian ia membuka mata nya dan mendapati ku sedang meunggui nya.

“Mama….. Hiksss…. Hiksss…. Hiksss….”.

Tini memeluk ku erat, ia menangis kembali setelah ia siuman dari pingsan nya sesaat lalu.

Aku membelai rambut nya menenangkan ia supaya berhenti menangis, sebenarnya aku pun ingin bertanya tapi ku urungkan karena melihat kondisi psikis tini yang masih shock karena kejadian ini.

Setelah tini terlihat kuat dan tegar, ia ku minta segera berpakaian dan menemui rustam dan suami ku, untuk mendiskusikan masalah ini supaya ada solusi yang terbaik buat kami semua.

Di ruang tamu….

Saat ini kami berempat sudah berkumpul di ruang tamu, tini tidak berani menatap wajah rustam, ia selalu menundukkan kepala nya tetapi sudah tidak menangis lagi.

“Jadi gini, papa minta maaf pada mama sudah mengkhiati pernikahan kami, untuk itu papa aka. secepatnya mengajukan talak 3 papa ke kantor supaya nanti kita bercerai, dan mama tidak akan mendapatkan apapun dari papa mohon mama mengerti dengan status papa sebagai abdi negara dan penegak hukum, dan setelah menceraikan mama secara agama dan hukum papa akan menikahi tini secepat nya”, ucap suami ku menjelaskan maksud nya.

“Ok pa, rustam sudah ngerti arah omongan papa, mulai sekarang mama jadi tanggung jawab rustam setelah papa menceraikan mama, bukan begitu pa”, ucap rustam menimpali omongan suami ku.

“Iya nak, kamu keberatan kah merawat dan mengurusi mama mu nak”, ucap suami ku kemudian.

“Tidak pa, justru rustam senang, bisa membalas budi kebaikan mama selama ini, papa jangan khawatir sama mama, rustam akan membahagiakan nya”, jawab rustam dengan penuh keyakinan.

“Pa…. Mama boleh ikut ngomong!”, ucap ku meneruskan omongan rustam.

“Silahkan ma, ngomong aja papa dengarin kok!”. jawab suami ku tegas.

“Jika nanti kalian menikah, mama harap papa lebih perhatian dan mencintai tini dan anak kalian, tolong pa! Jangan kamu sia-sia kan tini keponakan ku”. Ucap ku menjelaskan apa keinginan ku.

“Iya ma, papa akan bahagiakan tini dan calon anak kami kelak, cuma itu saja ma permintaan mama?”, ucap nya mengiyakan permintaan ku dan balik bertanya.

“Iya pa, dan papa jangan khawatir rustam bisa membiayai hidup kami nanti nya, semoga kalian berdua berbahagia”, jawab ku.

“Ma….. Tini mohon maaf sama mama, sudah bikin mama kecewa, dan buat mas rustam tolong bahagiakan mama biar bagaimanapun ia bibi ku mas, jagain ia ya mas, tini minta maaf bikin kecewa mas rustam”, ucap tini ikut ngomong setelah tadi ia banyak diam dalam rembukan ini.

“Iya dik, mas juga minta maaf ya, mas janji akan menjaga mama sebaik-baik nya, semoga kamu bahagia dik bersama papa”. Jawab rustam dengan suara berat menahan sedih di hati nya.

“Yaudah kalo begitu, aku dan mama pamit ya, kami sebaik nya pulang ke pendopo dan mulai hari ini kami akan tinggal di kompleks perumahan stanvac di pendopo kalo kalian kangen silahkan datang saja kesana”. Ucap rustam sekalian pamit pada tini dan suami ku.

 

===

Pov Rustam

“Mas maafin tini ya mas, tini bikin mas kecewa, mas sebaik nya mencari wanita yang baik untuk mas, tini tidak pantas untuk mendampingi mas, maafin ya mas”. bisik tini sambil ia memeluk ku ketika kami akan berpisah hari itu.

“Iya dik mas juga minta maaf tidak bisa menjaga kamu mungkin ini jalan yang sudah di gariskan Allah buat kita dik, jaga diri kamu ya dik, mas akan selalu menyayangi kamu sebagai adik mas bukan kekasih mas lagi”. bisik ku pada nya.

“Mas rustam, jujur di hati tini mas tetap special, mungkin ini ganjaran yang setimpal buat tini karena telah mengkhianati cinta mas”. bisik nya sambil mengeluarkan air mata.

“Sudah tini sayang jangan menangis, mas tidak tega melihat air mata mu”, ucap ku sambil menyeka air mata nya.

“Sekarang tersenyum lah, jalani hidup kita jangan menengok ke belakang dik, mas harap suatu hari kita bertemu kembali dalam keadaan bahagia dan tersenyum”.

Tini berusaha tersenyum walau ku akui di hati nya masih menyimpan cinta yang sangat besar untuk ku, tapi untuk masalah ini aku tidak mungkin menyalahkan tini saja, pasti karena papa yang mengancam nya, selain itu aku pun juga saat ini juga menjalin hubungan yang sama memalukan nya dengan mereka berdua”, gumam ku membatin.

“Yuk rus…..! Kita pulang”, ajak mama yatmi setelah tadi berpamitan sama papa ku yang juga suami nya.

“Sebentar ma, rustam mau pamitan dulu sama papa”, ucap ku.

Ku peluk tubuh kekar papa, sempat terlihat air mata nya menetes saat melihat keluarga kami tercerai berai, lalu ia berkata,”rustam, maafin papa ya bikin hubungan kamu sama tini jadi seperti ini, papa minta maaf pada mu”.

“Sudah pa, yang sudah terjadi tidak perlu disesali, sekarang papa mesti menjaga tini, sayangi dan cintai lah ia sebagai istri dan ibu dari anak papa kelak, rustam ikhlas kok pa”. jawab ku berbisik di dalam pelukan nya.

“Makasih ya nak, tolong jaga mama mu ya, papa sayang sama dia, mungkin jodoh dan takdir kami sampai di sini tapi rasa sayang papa pada nya akan selalu ada di hati papa”.

“Iya pa, kewajiban rustam untuk menjaga mama, rustam pamit ya pa”. ucap ku kemudian melepaskan pelukan kami.

“Ma…. Kita jangan pulang ke pendopo, soalnya sudah nggak ada bus yang ke sana, mending kita cari hotel buat kita nginep malam ini ma”. ucap ku saat kami keluar dari komplek perumahan dinas di kota Palembang.

“Ok sayang, mama ikut papa deh, istri mesti ngikut apa kata suami nya”, jawab mama yatmi memanggil ku papa setelah kesepakatan kami saat ia hamil anak ku.

Aku tersenyum dan memberikan lengan tangan ku, dan ia pun membalas senyuman ku dengan melimgkarkan tangan nya di lengan ku, kami berdua berjalan sebelum ada angkot yang datang persis di hadapan kami.

“Kak, nak kemano kak, kalo nak ke kota naik ini bae” (Kak, mau kemana kak, kalau mau ke kota naik ini saja) , ucap seorang kernet angkot jurusan plaju-ampera saat itu.

“Payo tunggu denget, lewat dak kalo IP” (Ayo tunggu bentar, lewat nggak kalau IP), ucap ku pake bahasa lokal palembang pada kernet tersebut.

“Lewat kak, yuk naik biar cepet berangkat”, jawab nya singkat.

Kami berdua naik ke mobil tersebut, hanya membawa 1 tas jinjing berisi pakaian ku dan pakaian yatmi.

Sekitar 30 menit kemudian kami sampai di depan lobby hotel sriwijaya, tempat aku dan tini biasa menginap, mungkin karena malam ini hanya hotel ini yang sempat terpikirkan oleh ku disamping karena memang aku sudah mengenal baik resepsionis hotel, setelah membayar untuk 1 malam kami di berikan kunci kamar oleh resepsionis tersebut.

“Pa, kok papa seperti nya kenal baik sama resepsionis hotel ini, apa teman papa ya?”. tanya yatmi berbisik mengikuti langkah ku menuju kamar yang dimaksud.

“Nanti di dalam saja papa jelasin semua ma, sebaik nya mama tau sebelum mama tau dari orang lain”. Ucap ku dengan mimik serius.

Setelah sampai di kamar, aku lalu mengajak yatmi masuk dan mengunci kembali kamar, kemudian memesan makan malam melalui telpon kamar hotel tersebut.

“Ok pa, sekarang jelasin ke mama, biar mama nggak penasaran kita mulai hubungan ini dengan terbuka pa”. ucap yatmi meminta ku jujur.

“Apa setelah mama mendengarkan cerita papa ini, nanti malah mama meningalkan papa?”, ucap ku meminta kepastian bahwa ia tidak akan meninggalkan ku setelahme mengetahui kebenaran ini.

“Mama janji pa, mama tetap mencintai papa sebelum dan setelah mendengar nya, percaya sama mama, mama hanya ingin kita mulai hubungan ini dengan saling terbuka, dan jujur, hubungan yang di awali dengan kebohongan akan berakibat pada hubungan yang tidak sehat pa, coba kamu lihat apa yang mama alami selama ini, itu semua karena papa mu yang selalu berbohong demi menjaga agar mama tidak marah, kecewa dan sakit hati, tapi kebohongan itu seperti bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dan justru makin membuat kacau dan lebih menyakitkan”. Jawab mama penuh kedewasaan sebagai seorang istri.

“Ok ma, papa mulai ceritain tentang tini, sebelum nya rustam mohon maaf sudah membohongi mama kalo rustam dan tini adalah sepasang kekasih. Rustam juga yang memperawani tini ma, saat ultah rustam ke-17, ingat nggak ma saat itu tini pernah bilang dia ikut jambore pramuka padahal ia mengajak nginap di hotel ini ma, rustam menolak nya ma tapi tini yang memaksa untuk menyerahkan kesucian nya pada rustam saat itu”, ucap ku berhenti sejenak sambil menghela nafas panjang mengumpulkan semua keberanian ku untuk menceritakan kebenaran nya.

Mama terlihat kaget, ia tidak menyangka aku sudah begitu jauh menjalin hubungan sama tini adik angkat ku sendiri. Wajah nya merah mendengar penuturan ku soal hubungan badan ku dengan tini.

“Papa lanjutin lagi ya ma, papa minta maaf jika ini menyinggung perasaan mama, rustam selama di pendopo dan tinggal di kediaman pakde dodit malah menjalin hubungan dengan lia anak nya pakde dodit ma, setelah test pertama lulus lia libur dari sekolah perawat nya, selama libur itu, lia selalu menemani papa, berkat bantuan dari bukde nani papa bisa sukses mengikuti testing II dan testing terakhir. Cuma yang membuat papa sampai sekarang belum berani jujur sama mama karena papa telah mengambil keperawanan lia. Sumpah demi Allah papa tidak memaksa, mengancam atau memperkosa nya ma, justru papa dipaksa oleh lia saat itu. Lia sejak 3 tahun lalu suka sama papa dan bahkan ia sama seperti tini menyerahkan keperawanan nya tanpa menuntut apapun sama papa, papa janji ma, papa akan mempertanggung jawabkan perbuatan papa pada lia, tapi tergantung mama jika mama tidak mengizinkan papa menikahi lia, maka papa tidak akan menikahi nya, papa ingin mama tau bahwa semua ini terjadi karena obsesi papa sama mama, sejak papa diijinkan nenen sama mama malam itu papa terus mikirin mama, tubuh mama dan cemburu sama papa, untuk menghilangkan kecemburuan papa sama suami mama papa belajar mencintai tini yang tulus dan sayang pada papa”.

Plakkkk….. Plakkkk…. Plakkkk….

Yatmi menampar pipi ku sebanyak 3 kali, kemudian ia memeluk ku dan mengelus lembut pipi ku yang ia tampar barusan.

“Tamparan pertama, karena papa merusak keponakan ku walaupun itu bukan kesalahan mu pa”.

“Tamparan kedua, karena papa merusak lia, anak sahabat papa kamu, yang telah mau menerima baik papa selama disana walaupun dari cerita papa itu bukan kehendak papa”.

“Tamparan ketiga, mama hamil karena kamu, dan hati mama sudah ikhlas menerima kamu pa, mama cinta mati sekarang sama lelaki yang akan menjadi ayah anak ku”.

“Cuma pesan mama, ini yang terakhir pa, tolong jaga hati, terutama nafsu papa jangan sampai nanti papa menyesal jika mama pun meninggalkan papa jika papa belum berubah, mama tidak ingin papa mengikuti apa yang suami mama lakukan cukup dijadikan pelajaran saja pa, mama sekarang milik mu cintai lah mam dengan segenap hati mu, mama akan setia dan taat pada mu papa rustam”.

“Ia ma, papa akan ingat ketiga tamparan mama ini setiap saat, supaya papa bisa menjaga kelakuan papa saat papa jauh dari kamu sayang, papa juga sangat mencintai kamu lebih dari apapun itu”.

“Pa, mama kok jadi basah ya saat papa ngomongin ml sama tini dan lia, mama marah, cemburu tapi entah kenapa nafsu mama malah naik membayangkan mereka berdua papa entotin, pa……”, ucap yatmi yang memainkan lidah nya menggoda ku saat itu.

“Ma…. Kamu bikin papa jadi pengen nih”, ucap ku mendekati nya dan langsung melabuhkan ciuman ku ke bibir nya.

Yatmi membalas ciuman ku, lidah kami pun saling bertautan, memilin dan membelit lincah, liur dan ludah kami saling bertukar dengan penuh gairah yang panas kami berdua seakan meluapkan semua emosi, kesal, marah dan kecewa bahkan yatmi seperti lepas kendali saat ia membalas kuluman bibir ku dengan menghisap dan menyedot lidah ku saat aku menjulurkan lidah ku.

Tangan kami berdua tanpa diperintah sudah saling membuka dan melucuti pakaian yang kami kenakan masing-masing. Sehingga dalam sekejap tubuh kami berdua telah polos tanpa sehelai pakaian yang menempel.

Ting…… Tong…….

“Ma, itu pasti pesanan makan malam kita, mama ke kamar mandi saja dulu”.

“Iya pa, sekalian mandi dulu biar mama segar dan wangi, sabar rustam junior nanti kamu mama bikin enak”, goda nya lalu ia sempat mencium kontol ku sejenak.

Ceklek…..

“Maaf pak, ini pesanan makan malam bapak, untuk 2 porsi ya, mau saya antar ke dalam pak”, tanya petugas room boy dengan ramah.

“Iya pak, mari masuk”, ucap ku mempersilahakan room boy itu masuk.

“Di sana aja pak taruh makanan nya, dan besok saja ya ambil piring dan peralatan lainnya”, ucap ku meminta room boy itu meletakkan makanan nya di meja sofa dan meminta nya mengambil besok piring dll.

“Iya pak, selain menu makan malam ini apa ada yang lain nya yang bisa kami bantu pak”, tanya nya kembali.

“Oh cukup pak, ini buat bapak”, ucap ku menyerahkan selembar uang 10 ribu rupiah pada nya sebagai tips untuk room boy itu.

“Ok kalau begitu saya pamit ya pak, selamat malam”, ucap room boy itu sopan dan ramah saat ia pamit.

Aku menyusul yatmi ke kamar mandi, dan melihat nya sedang menggosok tubuh nya, ia sempat kaget saat pintu kamar mandi terbuka dan setelah ia melihat ku ia tersenyum.

“Mau ikut mandi pa, yuk sini biar mama bantuin”, goda yatmi.

Aku segera melucuti pakaian piyama yang ku pake lalu segera mendekati nya, ia kemudian menyiramkan air shower tubuh ku, kemudian menyabuni seluruh tubuh ku, aku sedikit tergoda untuk menyentuh nya lalu ku cium lembut bibir nya dan kedua tangan ku memakinkan payudara nya yang menggantung indah.

“Pa…. Nanti saja di kasur ya, nanti masuk angin, papa nafsu banget sih”, rintih nya menolak halus.

“Habis nya ngegemesin kamu ma, nih lihat kontol papa nganceng”, ucap ku sambil menunjukkan kemaluan ku ke yatmi.

“Hihihi…. sudah bangun ternyata rustam junior nya, sabar ya sayang nanti ketemu juga kok sama teman nya”.

Kami menyelesaikan mandi bareng itu dengan segera karena aku sudah sangat bernafsu untuk menyetubuhi nya, yatmi pun faham segera ia pun membersihkan tubuh nya sehingga kami sekarang sudah bersih mandi ala kadar .

Percumbuan yang tadi sempat tertunda karena terganggu oleh room boy kini kami lanjutkan di ranjang hotel yang empuk, kami memulai nya dengan foreplay dimana sudah lama aku ingin mengoral memek nya begitupun yatmi kangen sama kontol ku, kami sekarang sudah di posisi 69 dimana yatmi berada diatas ku sedang mengoral kontol ku dalam mulut nya sementara dibawah aku mempermainkan itil dan lubang peranakan nya dengan jilatan dan jari tangan ku.

“Oooooohhhh papa nikmat sekali, terus jilatin itil mama dan cepetin tusuk memek mama… Bentar lagi mama keluar ……”, ceracau yatmi saat merasakan ia akan mendapatkan klimaks pertama nya.

Aku semakin instens untuk segera melakukan apa yang diminta nya, jilatan lidah ku semakin liar dan tusukan jari tengah ku semakin cepat, membuat yatmi kelojotan, mata terpejam dan mulut nya membentuk huruf O pertanda kalo ia sedang memasuki tahaf orgasme dan sesaat kemudian dari dalam tubuh nya keluar semburan cairan kewanitaan nya yang cukup banyak dan deras.

“Papa…. Mama keluaaaaaaaarrrrr…. Aaaaarrrgggggghhhh…. Nikmat sekali pa…. SUUUUURRRR…… SUUUURRRR…… SUUUUURRRR…….

Galeri Yatmi

Tubuh nya bergelindang dan bergeliat seperti orang kejang-kejang, dari memek nya mengalir cairan sedikit kental terasa asin saat sebagian ada yang masuk ke dalam mulut ku dan sebagian lagi membasahi sprei ranjang berwarna putih tersebut.

“Wah K.O lagi mama sama papa, pinter banget sih pa, bikin mama kelojotan seperti tadi, bentar ya pa mama istirahat barang 10 menit saja, masih lemas nih”, ucap nya manja dan ia merebahkan kepalanya di depan kontol ku yang kini hanya di pegang nya.

“Iya mama sayang, papa senang kalo bisa bikin mama puas dan bahagia, tapi janji ya bikin papa juga puas”, ucap ku pada yatmi.

“Tentu itu papa sayang, biar papa nggak tergoda sama memek lain nya, mama mesti bisa puasin papa setiap saat”. Jawab nya.

10 menit kemudian……

Yatmi kembali mengoral kontol ku supaya kembali tegang dan birahi ku kembali tinggi, dan ia berhasil karena aku sekarang sudah nggak kuat untuk segera menyetubuhi nya.

“Ma stop… Nanti papa keluar, papa pengen keluar di dalam buat nambahin vitamin anak kita”, ucap ku dengan suara yang tersengal-sengal.

Yatmi kemudian bangkit dan merebahkan tubuh nya ke ranjang setelah tadi aku membimbing nya untuk rebahan di tempat ku, kinj di hadapan ku ada seorang bidadari yang telanjang bulat, pasrah untuk ku gauli, ia tersenyum saat aku memandangi seluruh tubuh nya yang menurut ku indah dan sempurna.

“Ma….. Papa masukin ya….”, ucap ku menggoda nya dengan terlebih dahulu menggesek-gesekkan kepapa kontol ku ke lubang memek nya yang merah merekah.

“Ihh papa…. Godain mama mulu…. Masukin saja pa… Mama juga dari tadi sudah siap”. Rengek manja yatmi menyadari kalo aku menggoda nya saat ini.

Aku kemudian mencari lubang memek nya dan setela ketemu lalu ku tekan kepala kontol ku sehingga kini kemaluan ku sudah membuka jalan peranakan nya untuk aku eksploitasi, dan dengan menghela nafas panjang ku dorong kontol ku sehingga seluruh batang nya amblas tak bersisa dalam lubang memek nya yang sudah merekah karena terbelah kemaluan ku.

“Aaaaarrrggggghhhhh”, erang yatmi saat kontol ku menghujam memek nya yang basah dan banjir.

“Ma…. Sempit dan rapat memek mama…. Papa suka banget ma…”, ucap ku merasakan jepitan dan cengkraman memek yatmi yang kuat pada kemaluan ku.

“Pa…. Ayo dong pa… Pompa memek mama…. Puasin dan nikmati tubuh mama… Semua nya untuk papa saja….”. Pinta yatmi kemudian.

Aku mulai memompa dengan perlahan, sambil terus menatap wajah yatmi yang merem melek menikmati pompaan ku, dari mulut nya terdengar desahan dan rintihan kecil menandakan ia sangat menikmati persetubuhan ini.

Ia melebarkan paha nya dan memberi tempat lebih untuk ku mengeksplore memek nya.

“Pa…… Enak pa….. Terus pa…. Oooohhhhh papa sangat jantan….”, puji yatmi di sela ceracauan bibir nya.

“Ia ma….. Papa juga merasa enak ma, jepitan memek mama bikin papa ketagihan pengen lama-lama meresakan nya”.

Ku pompa dan ku dorong kontol ku dengan tempo cepat membuat yatmi bergelinjangan kepala nya bergerak ke kiri dan ke kanan, paha nya makin ia buka lebar-lebar seperti mengijinkan aku untuk berbuat sesuka ku, ia seolah pasrah menikmati semua yang ku lakukan pada nya.

Bahkan aku mendorong tubuh ku agak keras dan terus memompa kontol ku dengan kecepatan tinggi membuat kami berdua semakin dekat dengan orgasme yang sudah semakin dekat.

“Ma…. Papa mau keluar…… Aaaarrrggghhhh…. Nikmat ma terus jepit kontol papa….”, erang ku.

“Mama juga mau dapet pa…… Terus pa jangan berhenti…. Kita berangan pa…”, jawab yatmi mengerang di bawah himpitan tubuh ku.

Beberapa pompaan cepat dan kuat ku lakukan untuk menuntaskan syahwat dan sekaligus mengejar orgasme ku yang sudah di ujung dengan hujaman yang paling kuat dan dalam ku semburkan sperma ku di dalam rahim yatmi yang dalam waktu bersamaan juga mendapatkan orgasme kedua nya.

“Mama…… Papa keluaaaaaaarrrrrr….. Aaaaarrrrgggghhhhh…..”. CROOOTTTT…. CROOOTTTT…… CROOOTTTT…… CROOOTTTT…… CROOOTTTT….

CROOOTTTT…. CROOOTTTT……

“Mama juga pa….. Oooooohhhhh….. Papa mama keluaaaaarrrr…. “, SEEEERRR….. SEEEERRRR…… SEEEEERRRR……. SEEEEERRRR….. SEEEEERRRR….. SEEEERRRR……

Aku terkulai lemas diatas tubuh yatmi yang juga sedang mengalami kenikmatan, kami berdua bersatu menikmati sisa-sisa orgasme kami yang masih berlangsung, memek yatmi berkontraksi otot memek nya seperti meremas dan mencengkram batang kontol ku yang juga berkedut dan berdenyut menumpahkan sisa-sisa orgasme ku.

Aku mencabut kontol ku dari lubang peranakan yatmi, seketika cairan cinta kami berdua ikut meluber keluar seiring tercabutnya kontol ku dari lubang memek nya yang mengangga lepas dari sumpalan kontol ku.

“Aaaahhhhh papa…. mama puas banget…. kamu memang pria jantan, beruntung sekali mama jadi istri mu pa, segera nikahi mama pa, biar kita tidak terus melakukan dosa ini”, ucap yatmi berbicara sambil mengatur nafas nya yang terengah-engah.

“Iya ma, tapi kita minta saran dulu sama pakde dodit karena dia satu satu nya kenalan dan kerabat dekat di pendopo”, jawab ku.

“Mama ikut apa kata mu pa, asalkan kamu bahagia mama pun ikut bahagia, istirahat dulu pa, nanti kita lanjutin ngobrol nya.

Keesokan hari nya…..

“Papa sayang bangun!”, bisik yatmi di telinga ku.

“Jam berapa ini sayang”, jawab ku setelah bangun dari tidur pulas ku.

“Jam 5.00 subuh, mama pengen kita sholat subuh berjama’ah, ayo pa nanti lewat subuh nya”. ucap yatmi.

“Ok nyonya rustam anwar, demi kamu dan anak kita papa akan berusaha jadi imam buat kamu”. Jawab ku tegas lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.

“Mandi besar nya yang benar pa, biar sah sholat nya, heheheheh”, goda yatmi sambil tertawa kecil.

Aku ikut tertawa dengan candaan yatmi dalam hati,”aku bersyukur mendapatkan cinta mu mama, bodoh sekali kamu pa menyia-nyiakan orang secantik dan sebaik mama yatmi”.

Setelah melaksanakan ibadah sholat subuh kami berdua sarapan pagi dan akan check out nanti pada jam 6.00 wib dan segera menuju terminal di bawah jembatan ampera.

Mobil taksi sudah ada saat kami berdua keluar dari dalam hotel tersebut setelah menyelesaikan sisa kekurangan yang mesti ku bayar, kami berdua masuk ke kursi penumpang belakang, mobil melaju perlahan menembus jalanan kota palembang yang mulai ramai karena aktivitas pagi hari di kota tersebut.

Saat mobil taksi yang kami tumpangi melewati masjid agung sultan mahmud badaruddin II, yatmi membisiki ku, “papa, mama pengen banget kita sekeluarga nanti nya sholat di masjid agung palembang, mama, papa dan anak kita kelak”.

Aku mengangguk dan mengenggam tangan nya mengiyakan permintaan nya, dan balik membisiki nya,”suatu hari nanti ya ma, berdoa saja kita bisa menjalani takdir dan jodoh kita sesuai yang kita harapkan dan allah mengabulkan niat kita ini”.

“Amiiieeen….”, ucap nya berbisik pada ku.

Mobil terus melaju dan saat melintasi dan naik ke jembatan ampera, yatmi terlihat sangat senang, ia melihat dari kejauhan orang-orang yang sibuk di pasar 16 ilir palembang, sungai musi yang mulai sibuk hilir mudik perahu ketek yang melintasi sungai, speedboat yang mengantri menunggu giliran keberangkatan sampai ada anak-anak kecil yang melompat dan berenang di pinggir sungai musi, semua itu ia katakan saat itu.

Akhirnya sampai juga kami di terminal bus antar kota dalam provinsi yang saat ini berada di bawah jembatan ampera tepat nya di 7 ulu, setelah menyelesaikan pembayaran taksi kami pun langsung naik ke bus yang akan membawa kami pulang ke pendopo.

 

===

Pov Tini (ditulis dari buku diary nya tanggal 4 April 1999)
Palembang, 27 Desember 1998….

Diary…. Eh iya sudah lama ya aku nggak nulis di buku mu ini, saat ini aku sudah naik kelas 2 di SMEA jurusan yang ku pilih adalah jurusan pariwisata.

Diary….. Aku ceritain saja ya setelah kejadian di kamar hotel itu, esok nya mas rustam pergi ke pendopo sama mama yatmi, padahal diary jujur aku tidak rela mas rustam jauh dari hidup ku, tetapi demi kebahagiaan dan masa depan mas rustam aku merelakan nya.

2 minggu kemudian….11 Januari 1999….

Diary…. Pagi itu saat sarapan pagi aku merasa mual-mual dan muntah-muntah entah kenapa tidak biasa nya aku mengalami hal seperti ini, “apa mungkin aku masuk angin ya”, gumam ku dalam hati.

Diary….. Setelah membikin air teh hangat keadaan ku agak mendingan, dan aku pun berangkat ke sekolah karena hari senin pagi sekolah ku mengadakan upacara bendera, salah satu hobby ku karena aku hari itu akan terlibat dalam upacara bendera sebagai salah satu pengibar bendera nya.

Diary….. Sesampai nya aku di lapangan, sebelum upacara dimulai aku kembali merasa janggal di tubuh ku, tubuh ku seperti lemas dan kepala pusing, rasa mual dan ingin muntah kembali lagi saat itu. Aku memaksakan diri saat upacara bendera mulai, tetapi tiba-tiba pendangan mata ku kabur dan menghitam, dan setelah itu aku tak sadarkan diri.

Diary….. Aku baru sadar saat berada di sebuah ruangan PMR disana ada hesti yang setia menemani ku dan ia tampak khawatir dengan ku yang tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.

“Tini…. Kamu sudah sadar”, ucap hesti sambil memeluk erat tubuh ku.

“Kok aku di PMR sama kamu hes, kan mesti nya tadi aku ikut paskibra yang mengibarkan bendera saat upacara”, ucap ku kaget menyadari diri ku berada di ruangan ini bersama nya.

“Kamu pingsan say, udah istirahat saja dulu”, jawab hesti menenangkan ku.

“Apa kamu sedang sakit ya tin, muka mu pucat banget, tuh sudah ku bikinin teh anget supaya badan mu sedikit segaran”, ucap nya sambil mengambil segelas teh hangat untuk ku.

Ia dengan telaten nya meminumkan segelas teh hangat itu ke mulut ku, dan setelah itu ia kembali membantu ku untuk berbaring kembali.

“Tin, lebih baik kamu istirahat di rumah saja, nanti hesti anterin kamu pulang ke rumah mu”, ucap nya saat melihat ku sulit untuk memejamkan mata.

Akhirnya aku diantar hesti pulang ke rumah setelah terlebih dahulu minta ijin kepada pihak sekolah, setelah sampai di rumah beberapa saat kemudian hesti pamit untuk pulang ke rumah nya.

Rumah dinas papa sepi sejak kepergian mas rustam dan mama ke pendopo aku hanya tinggal sendiri di sini, papa tidak pulang ke rumah sejak keberangkatan mas rustam dan mama ke pendopo.

“Kok masih mual dan nek rasa nya pengen muntah, kalo masuk angin tadi kan sudah di beri obat masuk angin sama hesti, ASTAGA…. tidak mungkin semoga saja nggak sampai kejadian”, gumam ku dalam hati.

Aku lalu pergi ke luar rumah tujuan ku ke apotek biasa tempat aku biasa beli pil kb, dan saat aku tiba di apotek aku lalu menemui mbak yuli yang tersenyum ramah.

“Mau beli pil kb lagi untuk mama mu ya tin?”, ucap mbak yuli ramah.

“Nggak mbak, mama malah minta tolong beliin alat test kehamilan yang bagus kata nya beliau telat datang bulan, mbak”, jawab ku pada mbak yuli.

“Ada kok tin, ini yang bagus”, ucap mbak yuli sambil menyerahkan test pack merk AKURAT padaku.

“Ok yang ini saja ya mbak”, ucap ku sambil menyerahkan beberapa uang ribuan pada mbak yuli.

Setelah itu aku pamit pada mbak yuli setelah ia menjelaskan cara pakai alat tersebut, juga di belakang kotak nya tercantum cara pemakaian nya, “sebaiknya ku pakai alat ini besok pagi saat bangun tidur seperti petunjuk yang tercantum di belakang kotak nya”. Batin ku berkata.

Diary….. Keesokan hari nya…. jam 4.30 wib, selasa, 12 Januari 1998… Aku sekarang sudah berada di kamar mandi, seluruh pakaian ku sudah ku lucuti tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh ku, mulai aku coba alat itu, kencing pertama ku buang terlebih dahulu kemudian ku tahan lalu kuambil gayung mandi dan ku tampung kencing ku hingga selesai, lalu alat test kehamilan tersebut ku celupkan ke dalam gayung tersebut, ku tunggu beberapa saat, alat itu mulai bereaksi, perlahan-lahan indikator dialat tersebut naik terus hingga menyentuh 2 garis tanda indikator.

Diary…. Aku shock, kaget dan bingung setelah melihat dengan sendiri bahwa 2 tanda garis itu sudah berhenti dan sesuai petunjuk nya bahwa itu menandakan bahwa si pemakai alat itu dinyatakan positif hamil.

“Apa yang mesti ku lakukan, senang kah atau sebalik nya, senang karena ini anak dari benih mas rustam orang yang sangat ku cintai, tetapi ada kesedihan karena aku saat ini masih sekolah dan berjanji pada mas rustam dan mama untuk menyelesaikan sekolah ku hingga tamat”.

“Aku mesti curhat pada lia, hanya dia tempat ku menceritakan semua masalah ku, dan meminta nya jangan bercerita pada mas rustam dan mama biar nanti tini sendiri yang akan menceritakan nya pada mas rustam jika tini sudah siap”, pikir ku dalam hati.

Diary…. Aku menceritakan semua kejadian ml ku di kamar hotel dan bagaimana aku sampai hamil pada lia secara detail. Lia merupakan sahabat ku tidak ada rahasia diantara kami berdua bahkan saat ia cerita bahwa selama mas rustam di pendopo, ia sangat dekat bahkan ia menceritakan bahwa ia sudah menyerahkan keperawanan nya pada mas rustam, ia minta maaf pada ku saat itu, karena ia ingin membuktikan bahwa ia sangat mencintai mas rustam sama besar nya rasa cinta ku pada nya.

Diary….. Hari itu aku tidak masuk sekolah, selain karena shock dengan kehamilan ku, juga karena aku ingin mengirimkan surat ke lia, aku pergi ke kantor pos setelah dan mengirimkan surat itu ke alamat kos nya di muara enim, setelah dari kantor pos aku segera pulang ke rumah, ternyata papa sudah pulang ke rumah setelah lebih dari 2 minggu ngurusin kerjaan nya.

“Assalamuaalikum wr.wb”, ucap ku mengucap salam saat mau masuk ke rumah.

“Waalaikum salam wr.wb”, jawab papa menjawab salam ku.

Aku kemudian mencium buku tangan nya, papa sempat bertanya,”kenapa aku tidak masuk ke sekolah?”. Ku jawab saja karena sedang tidak sehat badan, tadi saja baru pulang dari puskesmas buat berobat. Papa meminta ku beristirahat saja karena melihat ku sedang sakit dan ia akan membeli makanan buat nanti makan malam karena ia melarang ku memasak.

Diary….. Aku mengganti pakaian ku dengan baju tidur warna oranges yang sangat tipis tanpa bh dan cd warna putih. Saking capek dan mungkin karena banyak pikiran membuat aku tertidur pulas, dan lupa menutup dan mengunci pintu kamar ku.

Diary…. Dalam tidur ku aku bermimpi sedang bercinta sama mas rustam yang merupakan ayah dari janin yang ku kandung, ia sedang memainkan memek ku saat aku merebahkan badah, aku mendesah dan mengerang kegelian karena titik sensitif seks ku sedang ia mainkan. “Aaaahhhh…. Uuuuhhhh…. Ooohhhh…. mas rustam enak mas jilatin memek adik mas, adik kangen kamu entotin mas, tini kangen sejak kamu perawanin”, desah ku sambil memanggil nama mas rustam dengan berteriak kencang.

Diary….. Aku mulai sadar dari tidur ku saat dalam mimpi ku mas rustam marah dan kecewa lalu aku berteriak memanggil nama nya, dan saat aku membuka mata aku kaget mendapati papa ku sudah berada diatas tubuh ku, kontol nya berada diatas perut ku, lalu ia kemudian turun dan menjilati memek ku.

“Pa, apa yang papa lakukan?”, ucap ku menyadari saat itu papa ku sudah menjilati kemaluan ku.

“Kamu tenang saja sayang sudah lama papa menginginkan kamu, kamu jangan bohong sama papa kamu sudah tidak perawan kan, dan sering kamu ml sama rustam, apa kamu mau kalo papa bilangin mama kamu bahwa tini dan rustam melakukan zina?”, ancam nya.

Diary….. Apa karena aku tadi barusan mendesah dan mengerang menyebut nama mas rustam sehingga papa bisa tau apa yang kami lakukan selama ini?”, batin ku bertanya.

“Kamu sudah sering kan ml sama rustam, papa ingin kamu oral kontol papa, layani papa malam ini anak ku”, ucap papa sambil menyodorkan kontol nya pada ku minta di oral.

“Nggak pa, ini salah, jangan pa”, ucap ku berusaha memberontak dan melepaskan diri dari nya.

Tapi ia dengan agak kasar menarik rambut ku dan menyodorkan kontol nya supaya di sepong oleh ku, aku dalam keadaan terpaksa membuka mulut ku dan mulai mengulum kontol nya.

Diary…. Papa dengan jahat nya memaksakan aku untuk memasukkan kontol nya lebih dalam sampai aku susab bernafas, mulut ku penuh dengan kemaluan nya yang sudah basah oleh air liur ku yang ia paksa keluar tanpa kemauan ku.

“Dah sekarang papa pengen ngerasain memek kamu, mosok cuma rustam saja yang mencicipi memek mu nak”.

Diary….. Aku sebenar nya ingin menjerit dan berteriak tapi aku urungkan karena menjaga kehormatan papa sebagai abdi negara dan bakalan membuat keluarga ku malu kalo sampai kejadian ini di ketahui orang lain, ia membalikkan badan ku menjadi tengkurep.

Diary….. Kontol papa ku kemudian ia gesek-gesekkan terlebih dahulu di kemaluan ku yang telah basah karena tadi papa sempat menjilati nya, dan seketika BLEEEESSSS…..

Diary….. Kurasakan kontol papa masuk ke dalam memek ku hingga sampai masuk rahim ku, walau pun begitu tidak bisa ku pungkiri aku pun mulai terbawa nafsu, cairan kewanitaan ku semakin banyak keluar merembes dari dalam memek ku membuat papa semakin lancar memompa dan menusuk kan kontol nya dengan cepat.

“Nak…. Memek kamu sempit banget…. Papa jadi makin nafsu pada mu nak”.

Diary…. Jujur aku merasakan sedih saat menyadari tubuh ku telah di kotori oleh orang lain, selama ini aku setia dan hanya mengijinkan mas rustam yang menyetubuhi ku kini papa dengan buas nya menggauli ku.

Hikss….. Hikss…. Hikss…

Air mata ku menetes tanpa aku sadarj dan ku tahan, “mas rustam maafin tini mas, tini sudah tidak bisa menjaga tubuh tini, tini sudah kotor semua gara-gara papa mas, maafin tini”, jerit hati ku saat menyadari tubuh ku tercemar oleh lelaki lain.

Tapi sebalik nya papa semakin cepat memompa penis nya, tubuh ku yang terbaring pasrah hanya menerima semua kelakuan bejat nya menggauli anak angkat nya sendiri, dan beberapa saat kemudian ia berteriak histeris, kurasakan kontol nya berdenyut dan berkedut pertanda ia akan mendapatkan klimaks.

“Pa, jangan di keluarin di dalam tini sedang subur”, ucap ku berbohong supaya ia tidak mengeluarkan sperma nya di dalam rahim ku.

“Nak enak banget memek kamu, papa keluaaaaarrrrr…. CROOOTTT…. CROOOTTT…. CROOOTTTT….. CROOOTTTT….. CROOOTTT…. CROOOTTT…..

7x semprotan sperma kurasakan masuk ke dalam rahim ku, aku sempat ingin berontak saat itu dengan menggeliatkan badan ku tapi terlambat, suara isak tangis ku terdengar oleh nya.

“Nak jangan khawatir papa akan tanggung jawab jika kamu sampai hamil, papa memang menginginkan anak, semoga saja benih papa bisa buahi sel telur kamu”.

“Papa jahat, kalo tini hamil gimana masa depan tini, sekolah tini, dan cinta tini, papa jahat…..”, teriak ku histeris sambil tangis ku semakin kencang saat itu.

Papa lalu mencoba menenangkan ku, ia lalu mendekati ku dan membelai rambut ku, ia minta maaf karena khilaf dan bernafsu melihat ku tidur dengan pakaian yang seksi, padahal tadi saat ku tidur aku menyelimuti tubuh ku.

“Tadi papa masuk kamar kamu, mau nawarin makan nak, sekalian ingin melihat keadaan kamu yang sedang sakit, tiba-tiba kamu ngingau nak, kamu nyebut mas rustam buat jilatin memek mu, dan kamu bilang sendiri bahwa kamu kangen sama kontol mas mu setelah ia perawanin kamu, jujur nak papa kaget dan terkejut saat itu apalagi kamu sendiri memainkan memek mu dan memek kamu tusuk dengan jari kamu sendiri”.

“Nak maafin papa ya, tidak sepantasnya papa berbuat seperti itu, papa kangen sama mama kamu, dan saat melihat mu papa seakan ingat mama kamu saat pertama kali kita nikah, tubuh mu, dan sosok mu persis yatmi mama mu nak”.

Aku hanya diam, isak tangis ku mulai mereda, walaupun papa salah tapi aku tidak menyalahkan sepenuh nya pada nya, mungkin kesalahan ku sendiri yang juga kangen sentuhan mas rustam.

Aku tak menghiraukan bujukan papa, aku lantas pergi meninggalkan nya menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi ku sirami seluruh tubuh ku seolah ingin membuang jejak nya.

Cairan sperma mengalir dari bibir memek ku, saat aku membersihkan semua setelah papa dengan kasar menyetubuhi ku.

Tadi bahkan aku tidak sedikitpun merasakan kepuasan apalagi sampai orgasme, jauh kalah jantan sama mas rustam yang bisa membuatku orgasme berkali-kali dalam beberapa kali persetubuhan ku.

Diary….. “Mas rustam sebelum aku digauli papa, kemaren aku mual-mual dan muntah-muntah, sejak kita lakukan di hotel tini tidak datang bulan lagi, dan tadi sempat pake testpack ternyata tini hamil anak mu mas”.

Diary…. Akankah aku bisa bicara jujur bahwa sebenar nya anak yang ada di rahim ku ini benih dari mas ku rustam anwar, dan gimana kalo ia menolak mengakui nya jika aku ceritakan kalo aku di perkosa papa saat ini.

Diary….. “Apa yang mesti ku lakukan? Tolong diary bantu aku cari jalan keluar nya!”.

Diary…. tanggal 28 Januari 1998, Setelah kejadian itu, hubungan ku dengan papa renggang, aku selalu menghindari nya dan tak mau ia menyentuh ku lagi, hingga di pagi itu ia mendengar kan ku mual dan muntah-muntah saat aku sedang sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah.

“Kamu kenapa nak, apa kamu sakit”, tanya papa khawatir.

“Nggak pa, tini baik-baik saja, tapi….. tini telat datang bulan sudah lebih 2 minggu setelah papa setubuhi tini, tini tidak dapat mens lagi”, ucap ku kesal pada nya dan masih marah.

“Yang bener nak, apa sudah kamu test pake alat kehamilan nak”, tanya papa ku lagi terlihat wajah nya senang dan bahagia mengetahui kehamilan ku.

“Belum pa, tini takut kalo memang itu terjadi, tini….”, ucap ku sambil membuang muka dari nya.

“Nanti papa beliin testpack nya, besok kamu coba ya, sudah kamu jangan sedih papa pasti tanggung jawab nikahin kamu nak”, jawab papa membujuk ku.

Aku mengangguk walaupun aku berbohong pada nya, mungkin ini solusi terbaik untuk ku, jujur aku mau nya mas rustam yang menikahi ku dan menjadi ayah dari anak ku karena sebenar nya ia yang membuahi ku, tetapi aku nggak mau membuat mas rustam sampai di keluarin dari perusahaan tempat ia bekerja sekarang karena selama masa training selama 6 bulan karyawabln tidak diperbolehkan menikah, sedangkan kandungan ku semakin hari tentunya semakin besar mesti ada yang menikahi ku.

Diary…. Esok hari nya tanggal 29 Januari 1998….Pagi itu aku kembali melakukan testpack supaya papa percaya kalo aku hamil, dan setelah selesai testpack itu ku serahkan pada nya.

“Nak benar kamu hamil, papa senang dan bahagia akan punya keturunan walaupun itu dari kamu nak, menikah lah dengan papa nak, nanti papa akan bicarakan masalah ini dengan mama mu dan rustam”. ucap nya bahagia dan senang melihat hasil testpack ditangan nya.

“Tapi pa….?”, ucap ku ingin meneruskan omongan ku.

“Apa kamu libur saja dulu hari ini?”, ucap papa.

“Nggak bisa pa, hari ini ada ulangan di kelas tini, kalo nggak ikut tini bisa tidak naik kelas”, jawab ku beralasan.

“Ya sudah nanti papa jemput kamu ya nak, papa senang kamu hamil nak, boleh papa pegang perut mu nak”, ucap nya meminta ijin pada ku.

Aku diamkan saja papa memegang perut ku dan papa bilang,”anak ku, jangan rewel ya, mama kamu mau ulangan jangan bikin ia mual dan muntah di kelas, nanti papa akan jagain kamu dan mama mu”.

Diary….. Jujur aku terharu juga mendengar papa begitu menginginkan seorang anak, pernikahan papa dan mama yang sudah lebih dari 10 tahun tetapi mereka belum dikaruniai seorang anak dari rahim istri nya mama yatmi, entah karena aku kasihan atau apa lah nama nya, aku mencium pipi papa, membuat papa tersenyum sumringah.

“Kamu sudah nggak marah lagi nak sama papa, maafin papa ya nak papa janji aka. memperlakukan kamu dengan lembut”.

Aku memeluk nya dan sesaat kemudian kami berdua berciuman panas di pagi hari itu, tapi ku tolak dengan halus saat ia ingin melanjutkan ke percumbuan yang lebih.

“Pa, tini ntar nggak sekolah, nanti pulang sekolah tini akan layani papa, makasih papa sudah mau bertanggung jawab atas kehamilan tini”, ucap ku menolak dengan halus keinginan nya menyetubuhi ku pagi ini.

Aku di antar papa ke sekolah pagi itu, dan ia berjanji saat aku pulang nanti papa akan menjemputku kembali

Diary….. Aku di jemput papa sesuai janji nya pada ku, dan kami langsung ke rumah, saat itu jam menunjukkan waktu jam 14.15 wib, setelah makan siang terlebih dahulu sesaaf kami makan di sebuah rumah makan.

Begitu sampai di rumah papa sudah kelihatan bernafsu sampai lupa untuk nengunci pintu depan dan langsung menyusulku ke kamar ku.

Diary…. Papa kemudian mencium ku, dan aku membalas ciuman nya, ciuman kami semakin liar dan panas, saling bertukar saliva, memberi dan menerima ludah kami masing-masing, dan tangan nya yang nakal mulai membuka baju seragam yang kenakan sehingga baju putih sekolah ku sudah terlepas dari tubuh ku, sekarang aku hanya memakai bh dan rok abu-abu beserta cd ku.

Setelah melucuti bh yang ku pakai, papa kemudian meminta ku rebahan, aku pun mengikuti apa yang di inginkan nya, lalu ia melepaskan cd ku dan kemudian papa mulai memainkan kemaluan ku.

“Pa, itu itil tini pa, ya terus pa, bikin puas tini ya pa”. erang ku saat merasakan lidah papa mulai menjilati itil dan memek ku.

Setelah merasa cukup dan melihat memek ku sudab basah karena cairan kewanitaan ku mulai mengalir keluar dari kemaluan ku, papa meminta ku menungging, ia akan melakukan penetrasi nya dengan gaya doggy style.

Ku posisi kan tubuh ku sesuai yang di inginkan nya lalu papa mulai mengarah kan kontol nya ke lubang memek ku yang mulai berdenyut sudahn siap menerima penetrasi dari papa.

“Aaaarggghhhh…..”, erang ku saat merasakan kontol papa menyeruak masuk menghujam ke dalam tubuh ku.

“Nak…. Sempit banget memek kamu, oooooohhhhh nikmat nya nak”. rintih papa merasakan otot kegel yang mulai ku mainkan.

“Iya pa, kontol papa juga nikmat”, desah ku merasakan kontol nya memenuhi di dalam rabim ku.

Ceklek….

“Papa….. Apa yang kalian lakukan pa?”, ucap mama yatmi dengan wajah yang marah dan kesal memergoki kami berdua sedang posisi bersenggama.

Jedderrrrrrrr……..

Terasa ada petir yang menyambar saat aku mendengar teriakan mama yatmi, di belakang nya berdiri mas rustam yang juga shock dan terkejut melihat kejadian di kamar ku ini.

Papa kalang kabut saat itu, emosi nya muncul di saat ia belum mendapatkan orgasme tiba-tiba mama yatmi memergoki papa suami nya sedang menggauli ku, ia seketika mencabut kontol nya sementara aku segera menyambar selimut untuk menutupi ke telanjangan ku.

Diary….. Miris dan ingin berteriak aku saat itu menyadari kebodohan ku, apalagi di saksikan langsung sama orang yang ku cintai mas rustam, aku hanya menunduk malu di hadapan nya, tak berani aku menatap wajah nya yang kelihatan kecewa dengan kelakuan ku.

Selama beberapa saat aku seakan berada di mana, tubuh ku memang berada di kamar ku tetapi jiwa dan hati ku telah pergi, pergi meninggalkan sesal yang sangat dalam, aku menangis sesegukkan meratapi kesalahan ku sendiri.

Diary….. Aku tidak ingat apa yang mereka bicarakan hingga aku berteriak histeris dan seketika aku hilang kesadaran saat itu.

Diary….. Mungkin ini penyesalan yang akan ku bawa sampai mati, aku malu untuk memperlihatkan wajah ku di hadapan mas rustam ayah dari anak yang ku kandung, tapi akan aku kenang semua kenangan bersama mu mas rustam, ini bukti nyata cinta ku pada mu, suatu hari nanti akan ku serahkan anak kita sebagai penebus rasa bersalahku pada mu tolong nanti kamu asuh dan didik ia menjadi anak yang berbakti pada orangtua nya dan menjadi anak yang soleh. “MAAFIN TINI, kamu cinta pertama dan akan selalu ada di setiap tarikan nafas ku walaupun nanti kita tidak akan bersatu dalam biduk pernikahan”,

dari adik mu, kekasih mu dan ibu dari anak mu…. “HARTINI”.

 

===

Pov Yatmi

Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu, akhirnya aku tinggal di pendopo, kami sempat membicarakan masalah ini dengan pak dodit dan beliau dengan bijaksana menyarankan agar aku melahirkan anak yang ku kandung dan tak perlu khawatir karena anggapan masyarakat itu anak suami mu kata pak dodit bijaksana.

Supaya aku dan rustam tidak mendapatkan cacian masyarakat pak dodit meminta keikhlasan ku untuk menikahkan rustam dengan lia anak nya, dia sangat sayang pada rustam dan sudah menganggap anak nya.

“Yatmi, mas minta kamu ijinkan rustam menikahi lia, karena hidup lia hanya untuk rustam dik, dan ini juga untuk menutupi aib kalian berdua, mas tidak ingin rustam di pecat gara-gara menghamili kamu dik, rahasia kalian akan mas jaga sampai mati.

“Dan untuk kamu rus, pakde tau apa yang sudah kalian berdua lakukan, jujur awalnya pakde marah saat lia menceritakan ia yang memaksa kamu untuk memerawani nya, tapi melihat kesungguhan nya pakde cuma berharap kamu bisa bertanggung jawab nak, cintai dan sayangilah anak pakde, karena cinta nya pada mu sangat besar dia bahkan tidak akan menikah dengan siapa pun kalo tidak dengan mu nak, pakde mohon kabulkan permintaan pakde ini demi kebahagiaan anak pakde satu-satu nya”. Ucap pak dodit saat ia bicara dengan rustam.

“Ma, rustam minta ijin mama nikahi lia, biar bagaimanapun rustam mesti bertanggung jawab telah mengambil kesucian nya yang selayak nya ia berikan pada suami nya kelak, tapi pengorbanan lia sangat lah besar dalam hidup rustam”, ucap rustam menjelaskan keinginan nya menikahi lia putri pak dodit.

“Mama setuju nak, sekarang kamu lamar lia pada pak dodit dan bu ratna, minta ijin dan restu mereka supaya pernikahan kalian nanti nya berbahagia”, ucap ku mengiyakan permintaan nya.

 

===

Pendopo, 1 Maret 1999…..
Pov Suyatmi

Sudah sebulan lebih sejak peristiwa tertangkap basah suami ku dan tini sedang bersetubuh, aku sekarang membeli sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah pak dodit dan bu ratna orang tua lia calon istri rustam anwar anak ku, semua itu sudah di rencanakan sebaik-baik nya oleh pak dodit dan rustam demi menjaga nama baik aku, rustam dan mantan suami ku.

Tetapi sesekali aku mengunjungi rustam saat ia sedang kerja, memasakkan makanan untuk nya, merapikan perabotan, kamar tidur dan semua pekerjaan yang biasa nya di urusin para istri dan wanita.

Terkadang ada rasa kangen diantara kami berdua tetapi karena aku memegang janji ku pada pak dodit untuk sementara waktu tidak terlalu mesra dan intim dengan rustam membuat kami hanya sesekali menyalurkan hasrat seksual kami berdua.

Job training yang dijalani rustam sudah berjalan 2 bulan sejak ia di tetapkan sebagai karyawan stanvac co. dan selama itu pula ia menjalankan pekerjaan nya dengan serius bahkan diantara para karyawan baru yang di terima ia mendapatkan penilaian sebagai karyawan terbaik selama proses job training.

Hubungan rustam dan lia sudah di restui aku dan kedua orang tua lia, mereka bertunangan 1 minggu setelah permintaan rustam pada ortu nya akan menjadikan lia sebagai istri nya.

Mengenai diri ku yang sedang berbadan dua, tetangga meyakini bahwa anak yang di dalam kandungan ku itu anak nya suami ku mas tono, dan mereka tidak terlalu banyak mengunjingkan aku dan rustam, selain karena sebelum nya para tetangga tau kalau aku masih istri sah mas tono.

Saat aku berada di rumah dinas rustam untuk memasakkan makanan buat nya, terdengar suara bell berbunyi pertanda ada tamu yang datang.

Ting…… Tong…….

Ceklek….. Kriiiieeekkk….

Pintu rumah segera ku buka dan dihadapan ku berdiri lelaki berpakaian oranye berlogo pos dan giro, di samping nya terparkir motor dinas berwarna sama dan berlogo sama yang ia pakai.

“Selamat siang bu, apa benar ini alamat rumah dinas rustam anwar?”, tanya seorang petugas pos dengan sopan.

“Benar pak, saya ibu nya rustam, ada apa ya pak?”, jawab ku dan balik bertanya pada petugas pos.

“Ini ada surat bu dari bapak serka tono hartono untuk ibu suyatmi dengan alamat rumah dinas atas nama rustam anwar”. jawab petugas pos itu menjelaskan kedatangan nya.

“Oh itu suami saya pak, saya sendiri suyatmi istri bapak serka tono hartono”, jawab ku dengan yakin dan tegas.

“Oh kebetulan sekali bu, ini surat nya dan mohon ibu tanda tangan di resi tanda terima surat sudah sampai”, ucap nya sopan sambil menyerahkan surat dan bukti tanda tangan ku bahwa surat itu telah diterima.

Setelah menandatangani surat dan mengucapkan terima kasih aku kembali masuk ke dalam dan segera melanjutkan perkerjaan ku yang sempat tertunda, “biar nanti saja ku baca surat nya, selesaikan dulu perkerjaan ku di dapur”, gumam ku dalam hati.

Ting…. Tong…..

“Siapa lagi yang datang”, gumam ku membatin.

Lalu aku membuka pintu dan ternyata rustam anak ku yang pulang, ia menggandengku masuk ke dalam, dan setelah mengunci pintu ia bilang,” ma, papa kangen sama mama. Kita main yuk ma, rustam sudah pulang karena kerjaan rustam sudah beres”.

“Pa ingat pesan pakde dodit jaga kelakuan mu, selama masa training jangan sampai papa mendapat masalah, ini buat masa depan kita, kamu, aku anak kita dan lia”.

“Iya ma, jadi nggak sabar nunggu selesai masa training ya ma”. Ucap rustam anak ku.

“Papa mandi dulu, bau keringat semua pa, mama lanjutin masak di dapur”.

Rustam kemudian pergi ke kamar nya dan membawa handuk, saat ia melewati dapur ia malah berhenti dan menyergap ku dari belakang. Ia membisiki ku,” ma, papa kangen banget sama kamu ma, boleh ya ma”.

Aku yang juga merindukan belaian nya hanya diam dan pasrah saat tangan rustam meremas buah dada ku dari belakang, sementara bibir nya menciumi dan menjilati leher ku, “Aaahhhh… Papa sayang…. Geli pa”, desah ku manja pada nya.

Ia lalu menarik kepala ku ke belakang sehingga kami berdua sudah berciuman panas dan liar, “ma…. papa sange banget lihatin bokong mama saat mama nungging barusan, papa pengen jilatin memek mama ya, turunin cd dan naikin rok nya saja ma!”.

Aku mengikuti apa yang diinginkan nya, ku turunkan cd warna putih yang sesaat lalu masih menutupi lubang peranakan ku, kini sudah melorot ke bawah ke tungkai kaki ku.

“Aaarrrgggghhhh….. Enak pa, terus pa jilatin memek mama, kangen memek mama sama lidah papa”. Erang ku.

Rustam terus mempermainkan memek ku dengan jilatan lidah nya bahkan jari tengah nya ikut menusuk dalam ke lubang memek ku membuat aku melayang dan banjir di bagian organ intim ku.

“Udah pa, masukin saja pa, memek mama gatal pa pengen di garuki sama kontol papa”.

Ia berhenti melakukan oral pada kemaluan ku, sambil ia mengocok sendiri kontol nya ia arahkan kontol ke lubang memek ku yang telah banjir cairan kewanitaan ku.

“Aaarrrrgggghhhh”, erang kami berdua saat kontol nya menghujam dalam di dalam tubuh ku.

Kurasakan kontol nya sangat penuh dan bikin sesak memek ku, “Pa…. Penuh pa, makin besar dan panjang ya pa kontol papa”. ucap ku tanp malu berbicara vulgar sama rustam.

“Memek mama yang sebulan nggak papa masukin jadi rapet dan sempit lagi ma”. Jawab rustam.

Rustam memompa kontol nya dengan cepat dan kencang, hujaman-hujaman kontol nya terasa sampai membentur dinding peranakan ku, quickly sex yang kami lakukan sedikit banyak meluapkan rasa rindu kami berdua saat itu.

“Pa…. Mama mau keluar pa…. Ooohhhhh….”, erang ku.

“Bareng ma, papa juga mau keluar…. Aaaaahhhh”, lenguh nya.

Semakin cepat pompaan nya membuat orgasme ku semakin dekat, begitu pun dengan rustam ia sudah dekat dengan klimaks nya, dan di saat hampir bersamaan kami berdua berteriak nyaring meneriakan kenikmatan saat orgasme ku dan rustam datang.

“Pa…. Mama keluaaaaaarrrrrrr…… Aaaaaahhhhhhh”, SEEEERRRR….. SEEEERRRR….. SEEEEERRRR….. SEEEERRRR…… SEEERRRR….. SEEEERRRR….

“Mama….. Papa keluaaaaarrrrrrrrr…… Ooooooohhhhhh….. Croooottttt….. Croooottttt…. Croooottttt……. Crooooottttt…… Crooootttt…… Crooootttt……

Aku mendapatkan orgasme yang cepat walaupun seks yang kami lakukan sangat singkat tapi begitu berkesan dan sensasi yang kurasakan pun lain dari biasa nya, baru kali ini aku melakukan seks cepat di luar tempat semesti nya.

“Pa…. Mandi dulu…. Mama mau kasih lihat surat papa mu mas tono, seperti nya surat cerai dari nya pa”.

“Siap sayang, cuuuuuppp…”. ucap nya sambil mencium bibir ku sebentar.

30 menit kemudian…..

Aku menyerahkan surat itu pada rustam saat kami berdua telah duduk di meja makan, ia tersenyum saat membaca surat tersebut lalu ia mengatakan,”mama sayang, sekarang kamu sudah bebas sayang, kamu resmi jadi janda, insya allah papa akan menikahi mama setelah mama melahirkan anak kita, biar sah secara hukum dan agama ma”.

“Ia pa, mama siap untuk jadi istri dan ibu dari anak-anak kita kelak, mama sayang pada papa, cuma papa harapan mama satu-satu nya”.

“Ini ma, surat cerai dari papa tono, mama baca saja”, ucap nya lalu menyerahkan surat keputusan perceraian dari pengadilan agama.

Setelah membaca isi surat cerai itu, aku merasa lega, aku bebas dan tak terikat pernikahan dengan lelaki manapun, sekarang hanya rustam anak ku, sekarang hanya pada nya cinta harapan ku sandarkan.

Perceraian itu akhir nya terjadi, status ku saat ini janda yang sedang mengandung anak dari benih rustam anak angkat ku sendiri, sementara suami ku setelah bercerai ia menikahi tini anak angkat nya sendiri yang kini juga sedang mengandung anak nya. Kami bagai makan mentimun, anak-anak angkat yang kami asuh sedari kecil kami “makan” sendiri, itulah istilah nya kata orang-orang dulu anak-anak mentimun

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Article Name
[Cerita Nyata Jilbaber] Kisah Anak-anak Mentimun...
Description
sebuah kisah nyata yg diangkat oleh agan rad76 menjadi cerbung dewasa. aslinya berjudul anak-anak mentimun, mengisahkan seorang anak lelaki yg bercinta dengan ibu angkatnya sendiri
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo