loading...

Ini tentunya masih belum berakhir.

“Yuk ke kamar…” ajakku.

“Ngapain kak?” tanya Arman.

“Mau diajak ngentot tuh” ucap Riki sembarangan. Gila tuh anak. Capek ah ladenin omongannya.

“Bantu pilihin bajuuuu…” ujarku.

“Eh, i-iya…” merekapun begerak mengikutiku. Mereka bisa melihat seluruh bagian belakangku saat mengekoriku dari belakang. Mata mereka pastinya terus tertuju ke selangkanganku. Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam kamar bersama gerombolan bocah ini.

“Kalian sukanya kakak pakai baju apa? Pilih sana di lemari” ujarku.

“Nanti aja kak pakai bajunya, kita duduk-duduk dulu yuk di tempat tidur…” pinta Riki cengengesan mesum.

“Ih, ogaah”

“Hehehe, maksudnya kakak dulu dulu, biar kami pilihin bajunya” kata Riki lagi. Dia sampai berani menarik tanganku, membawa tubuh telanjangku menuju ranjang. Hmm… okelah. Akupun kemudian duduk di tepi tempat tidur.

“Apa? Sana bantuin temanmu” perintahku karena si Riki malah diam menatapku. Diapun kemudian ikutan diskusi dengan teman-temannya di depan lemari.

“Apa aja boleh kak?” tanya Riki.

“Iya boleh….

“Yang nampak memek dan susu juga gak apa kan kak?”

“Iyaaaa” Aku iyakan saja, mereka sudah ngelihat semua kan. Ya sudah. Mereka bisa bebas berfantasi sepenuhnya.

Mereka mengacak-acak seluruh koleksi pakaianku hingga ke dalaman-dalamannya. Pakaianku memang tidak ada yang seksi. Rata-rata merupakan pakaian yang tertutup. Bagaimana aku menggunakannyalah yang membuatnya seksi.

Setelah sekian lama mereka masih bingung apa yang mereka ingin untuk ku kenakan. Sambil menunggu aku lalu merebahkan badan dan tiduran di tempat tidur. Tidak bermaksud mengundang mereka, tapi mereka jadi berhenti berdiskusi dan malah putar badan, asik melihatku yang lagi tidur-tiduran.

“Kenapa? Udah ketemu?” tanyaku.

“Belum kak…”

“Aku ikut tidur sama kakak boleh nggak kak? hehe”

“Nggak!” Aku langsung kembali duduk. Kayaknya posisiku yang berbaring terlalu mengundang buat mereka.

Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarku! Eko… Aku kirain siapa. Ternyata dia datang juga.

“Waaaahh…. Kak Dira udah telanjang aja…” ucap Eko.

“Iya bro.. sorry ya kita duluan, hehe” Riki seperti bangga gitu sudah membuatku telanjang bulat. Mungkin dia pikir dialah yang pertama. Padahal Eko sudah berkali-kali melihat aku telanjang bulat.

“Kak, emang mereka lagi ngapain? Terus kok kak Dira telanjang gitu di tempat tidur?” tanya Eko bingung. Akupun menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Oh… gitu ya…”

“Iya… sekarang kamu bantu teman-temanmu itu dong pilihin kakak baju, lama amat mereka” ujarku. Eko mengiyakan. Merekapun kembali lanjut memilih.

“Ko, kamu punya hape kan? Nanti kita ambil foto-foto kak Dira yuk…” ucap Riki. Eko melirik ke arahku seperti meminta persetujuanku. Yah… ku pikir tidak apa-apa. Aku mengangguk setuju.

“Kalau selfie-selfie bareng kakak boleh juga nggak kak?” tanya Fikri.

“Boleh aja… Hmm… gini deh, masing-masing kalian pilih satu deh untuk kakak pakai, nanti kakak ganti-gantian foto bareng kalian pakai baju pilihan kalian itu…” tawarku. Tentu saja mereka setuju. Siapa juga yang gak kepengen.

“Tapi kita urut dari yang nilainya paling tinggi… jadi Fikri, kamu dulu, buruan pilih gih…” kataku kemudian. Fikripun tersenyum bangga karena menjadi yang pertama. Dia mulai memilih. Dia ingin aku mengenakan baju kaos dengan motif garis-garis horizontal. Baju kaos itu biasanya aku gunakan sebagai baju pelapis sewaktu aku pergi kuliah. Di baliknya aku tidak memakai apa-apa lagi, untuk bawahannya hanya celana dalam berwarna putih. Aku sebenarnya cukup sering berpakaian seperti ini kalau di rumah. Eko tahu betul itu.

Setelah aku memakainya, kami kemudian foto-foto berdua. Baik selfie maupun diambil oleh Eko. Eko kembali berlagak layaknya fotografer seperti Dodi. Namun hanya pose-pose biasa yang tidak erotis sama sekali. Paling banter adalah foto ketika Fikri memelukku dari belakang.

“Yaaah, kalian ini… masa gitu-gitu doang foto-fotonya… Sayang lho, kapan lagi bisa foto dengan cewek secantik kak Dira… kan kak Diranya udah mau bugil-bugilan, hehe” ucap Riki. Dia ini memang hobinya ngomporin ya? Pantas aja kulitnya hitam seperti kebakar kompor, hihihi.

“Kan baru mulai, berisik deh” balasku pura-pura kesal. Dalam hati aku merasa tertantang. Aku jadi ingin balik memanas-manasi Riki dengan aksi foto-fotoku.

“Ko… lanjut fotoin kita lagi ya…” suruhku pada Eko.

“Iya kak”

Aku lalu ajak Fikri naik ke tempat tidur. Sebenarnya aku ingin Fikri melepaskan baju seragamnya. Tapi aku pikir hasil fotonya akan menjadi lebih erotis kalau dia pakai seragam. Jadi di kamera hasilnya akan kontras banget bagaimana perpaduan antara gadis kuliahan berpakaian minim dengan bocah smp dekil berseragam lusuh. Gila deh, kok aku malah suka yang kayak-kayak gini ya.

Foto-fotoku dan Fikri kali ini selalu adegan pelukan. Baik aku dipeluk dari belakang maupun dari depan. Baik duduk maupun berlutut. Tubuh kami terus menempel. Kadang wajah kami juga. Tapi tetap gak ada acara pegang-pegang buah dada atau vagina. Dia hanya ku bolehkan memeluk perut atau pinggangku. Tangannya kadang masuk ke dalam bajuku juga. Kadang aku merasa ada sedikit elusan, tapi ku pikir tidak masalah.

Setelah sudah banyak foto yang diambil, aku lalu membuka baju kaosku. Mengajak Fikri foto berdua beberapa kali, sebelum akhirnya menyudahi sesi foto-fotoku dengannya. Aku sengaja sekalian menelanjangi diri sebagai penutup, biar gak lama-lama amat persiapan untuk giliran berikutnya.

“Ko, sekarang giliran kamu kan? Yuk” ajakku pada Eko. Tapi dia bilang nanti saja. Dia mempersilahkan teman-temannya terlebih dahulu. Katanya ingin jadi yang ngambilin gambar saja. Haha, iya sih, kalau bagi Eko foto-foto begini merupakan kemunduran. Kami kan sudah pernah foto telanjang berdua bahkan foto foto pura-pura lagi ML. Jadi karena Eko tidak mau, maka giliran selanjutnya adalah Arman. Nilai Arman dan Didik sebenarnya sama, tapi Didik bersedia mengalah.

“Duh, kapan nih giliran gue…” ucap Riki ngenes.

“Terakhir” jawabku sambil memeletkan lidah padanya. Tuh kan mupeng… kepengen kan… rasain deh. Hobi banget sih panas-panasin orang.

Pilihan Arman jatuh pada kemeja putih longgar lengan panjang. Kemeja itu transparant dan tipis banget, soalnya itu memang kemeja untuk tidur sih.

“Itu aja? Dalamannya? Atau ada yang lain?” tanyaku pada Arman.

“Apa ya…” Dia kemudian memeriksa laci lemari. “Pakai ini aja deh, hehe” ucapnya menunjukkan beberapa lembar plester luka.

“Kakak pakai itu?” tanyaku bingung. Itu kan untuk nutupin luka.

“Iya kak…” Dia ternyata memintaku untuk nutupin putting dan vaginaku pakai plester itu. Ada-ada aja dia ini. Aku turuti saja permintaannya. Ku tutupi puting dan vaginaku dengan plester tersebut, kemudian ku kenakan kemeja putih tadi.

“Wah kak Dira seksi banget…” ucap Arman dan lainnya. Kulihat ke cermin, ternyata emang beneran seksi. Boleh juga idenya untuk nutupin puting dan vagina pakai plester luka kayak gini. Kesannya jadi erotis banget. Ditambah dengan kemeja putih ini. Sempurna banget deh untuk manjain mata bocah-bocah itu.

Eko kemudian mulai mengambil foto-fotoku. Sama kayak Fikri tadi, awalnya foto biasa-biasa saja, terus lanjut adegan peluk-pelukan saling nempel. Aku bahkan akhirnya melepaskan kemeja ini dan berfoto dengan hanya memakai plester yang menutupi puting dan vaginaku. Arman jadi leluasa banget mengelus-elus tubuhku sambil memeluk. Nempel-nempel terus bikin aku gerah juga, aku jadi kembali keringatan.

“Mau dihidupin AC nya kak?” tawar Eko.

“Ngh… gak usah… biar aja… asik kok kayak gini… Iya kan? Kalian suka kan kakak keringatan gini… nikmatin deh…” ujarku kelampau horni. Nafasku putus-putus. Pamer aurat, foto-foto, dan pelukan sambil dielus-elus gini sukses banget bikin aku horni berat. Semoga aku masih bisa mengontrol diriku >.<

“Hufh… panas kak…” ucap Arman setelah aku memutuskan selesai.

“Iyaaah.. panas… kakak sampai keringatan gini…” aku sapu keringatku dan memercikkannya ke wajah Arman. Dia malah kesenangan dan nagih. Ku ulangi lagi memercikkan keringatku ke wajah Arman berkali-kali. Ekopun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan momen itu. Aku lalu juga iseng memercikkan keringatku ke arah lensa kamera hapenya. Semua yang ada di situ jadi terpana melihat kelakuanku. Gadis cantik nyaris telanjang yang bermain-main dengan keringatnya sendiri kayaknya bikin semua yang melihat jadi mupeng abis, hihihi.

“Udah kan Man?” tanyaku pada Arman.

“Iya kak, makasih…”

“Dik… sekarang giliran kamu… Kamu mau kakak pakai apa?” tanyaku pada Didik. Yang ditanyain Didik tapi yang nyahut malah Riki.

“Aku dulu dong kak…” Aku memutar bola mata mendengar ucapannya. Udah dibilangin kalau dia itu terakhir, masih juga gak ngerti.

Didik kemudian memilih pakaian pilihannya. Sepertinya dia ingin membuatku makin kepanasan dengan memilih celana overall, alias celana kodok yang berbahan jeans itu. Celananya panjang, bagian atasnya bisa nutupin sampai ke dada. Aku lumayan sering sih ke kampus memakai ini, tapi tentunya dengan baju dalaman lengan panjang dan tentunya memakai jilbab. Tidak buka-bukaan seperti yang ku pakai sekarang, yang hanya memakainya gini doang tanpa ada apa-apa lagi di baliknya. Untungnya aku masih memakai plester untuk nutupin puting dan vaginaku, kalau tidak pasti geli banget rasanya ketika puting dan vaginaku bergesekan dengan bahan jeans ini.

Buah dadaku sih tertutupi, tapi gak semuanya juga. Bagian tepinya terbuka. Punggungku juga kelihatan semua hingga ke pinggul. Akupun foto-foto dengan Didik dengan memakai itu. Seperti sebelumnya, awalnya foto-foto biasa kemudian peluk-pelukan. Awalnya kedua talinya masih nyangkut di pundakku, lalu gak sengaja turun sebelah sehingga sebelah dadaku jadi kelihatan. Aku mengembalikannya ke posisinya, tapi kemudian turun lagi, aku perbaiki lagi. Karena jatuh terus aku jadi capek, jadi kubiarkan saja. Bahkan lama-lama kedua talinya yang turun sehingga buah dadaku kelihatan semuanya. Penutup dadanya terjuntai begitu saja.

Sekarang aku betul-betul sudah mandi keringat. Tampak dari cermiin betapa kusutnya penampilanku. Wajahku memerah karena kepanasan dan rambutku lepek banget karena keringat. Bagi bocah-bocah itu tentunya ini pemandangan yang semakin seksi.

Capek juga ternyata. Tapi masih ada giliran si Riki. Duh, aku sudah kayak piala bergilir saja.

“Tuh sekarang giliran yang nilainya paling jelek…” candaku.

“Ah, kakak ini disebut-sebut terus”

“Kamu sih… ribut terus dari tadi… Jadi kamu mau kakak pakai apa?” tanyaku.

“Pakai apa ya… pakai ini aja deh kak, hehehe” jawabnya sambil melepaskan kancing baju seragamnya. Maksudnya aku disuruh pakai seragam lusuhnya itu !? iih…

Riki kemudian menyerahkan seragamnya itu padaku. Dari tadi yang ku pakai bersih dan bagus-bagus, tapi kali ini aku akan memakai yang beginian.

“Pakai ini?” tanyaku memastikan. Aku angkat seragamnya itu dengan ujung telunjuk dan jempol dengan jijik. Gak cuma lusuh dan kotor, tapi juga bau. Udah berapa lama sih ini gak dicuci!?

“Iya kak pakai itu, mau kan kak?”

“Ish… Ya udah deh…” Kalau pakai sebentar gak apa kayaknya. Aku sepertinya udah terlalu horni sehingga nurutin semua pilihan pakaian mereka. Ku pakai seragam tersebut. Seragamnya itu agak sempit di tubuhku. Apalagi ketika ku pasang kancingnya, buah dadaku terasa tertekan. Jadi hanya satu kancing yang paling bawah saja yang ku pasang. Puting dan vaginaku masih tertutupi dengan plester yang tadi.

Gimanaaaa gitu kelihatannya saat ku lihat penampilanku di cermin. Menggelikan sekali. Tapi bagi mereka mungkin ini pemandangan yang begitu erotis. Aku yakin tidak ada yang mau melakukan in selain aku. Mana ada di luar sana gadis sepertiku yang mau memakai baju seragam yang dekil, lusuh dan bau punya bocah ini.

“Cantik kok kak…” kata Riki. Aku nyengir saja.

“Yuk” ajakku dengan isyarat jari menyuruh bocah itu mendekat.

“Ko.. fotoin yang bagus ya… dibikin se-hot mungkin” ucap Riki ke Eko. Eko mengacungkan jempol.

Foto-foto dengan Riki kemudian dimulai. Karena aku memakai seragamnya, maka diapun telanjang dada. Dia paling cerewet di antara teman-temannya, banyak banget permintaanya. Seperti pengen mengelus kepalaku, pengen pegangan tangan denganku, pengen tiduran di pangkuanku, sampai memelukku sambil berbaring di tempat tidur.

Gerepeannya juga paling heboh dibandingkan yang lain. Berkali-kali dia malah asik mengelus-elus ketika memelukku. Dari pundak, punggung, pinggang, sampai ke pahaku habis kena gerepean tangannya. Aku masih membiarkan. Kalau tangannya terlalu dekat ke vagina atau terlalu lama berada di pantatku barulah tangannya ku singkirkan. Dia juga sering pura-pura gak sengaja menyenggol buah dadaku. Risih, tapi aku malah membiarkan. Aku betul-betul terbawa suasana.

“Jangan goyang-goyang…” ujarku saat dia menggesek-gesekkan bagian depan celananya ke pantatku. Terasa banget ada sesuatu yang tegang menyentuh pantatku. Sebenarnya aku sudah merasakannya sejak Fikri, Arman dan Didik memelukku, tapi karena kali ini Riki memelukku sambil menggesekkan pinggulnya, tonjolan itu jadi lebih terasa, mengganjal banget. Bocah ini betul-betul memanfaatkan kesempatan.

“Lepas kak?” tanya Riki menawarkan melepaskan seragam itu.

“Iya… lepas aja, panas….”

Sama seperti sebelumnya, seragam lusuh itu pada akhirnya juga lepas dari tubuhku. Riki membantuku melepaskan seragam itu dari tubuhku. Tentunya sambil cari-cari kesempatan ngelus-ngelus. Setelah lepas, dia letakkan seragam itu di atas tempat tidur, tapi kemudian ku ambil dan ku campakkan jauh-jauh. Itu sih cocoknya jadi kain lap.

Baru saja seragam itu lepas dari tubuhku, Riki kembali memelukku dari belakang dan menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur dengan cepat. Nih anak betul-betul horni. Aku kembali berfoto dengan hanya memakai plester di puting dan vaginaku. Aku semakin keringatan. Semakin nafsu dan juga semakin horni.

“Ki…. Nghhh… Udaaaah….” Aku akhirnya meminta berhenti sebelum aku kelewat horni dan memohon disetubuhi oleh mereka, khususnya si Riki ini. Aku yakin si Riki ini sudah pernah ML dengan cewek. Bisa kacau kalau aku sampai di-ML-in sama dia juga.

Tentunya si Riki gak bisa hanya dengan satu kali dibilangin. Setelah beberapa kali dibilang barulah dia mau berhenti. Dia sempat mencium pipiku sebelum melepaskan pelukannya. “Iuuhh…”

Setelah dengan Riki selesai, Eko kemudian mengambil fotoku bersama dengan semua teman-temannya itu sebagai penutup. Tentunya aku masih telanjang bulat berada di tengah-tengah mereka. Gila deeeh. Eko kemudian punya ide agar aku menutupi tubuhku dengan selimut. Biar nanti kalau difoto terkesan kayak aku abis disetubuhi rame-rame katanya. Eko nakal juga ya…

Setelah itu barulah acara foto-foto ini selesai. Tak terasa hari sudah senja. Aaahh… Betul-betul gila apa yang barusan terjadi. Tak pernah kubayangkan aku mau-maunya melakukan ini untuk mereka. Kok aku bisa jadi senakal dan semurah ini sih? Bukan satu cowok saja yang menikmati auratku, tapi beberapa cowok sekaligus!

Aku keasikan pamer aurat sampai khilaf. Tapi kayaknya hari ini khilafku betul-betul keterlaluan. Untung saja malam ini vaginaku selamat. Paling banter hanya membiarkan mereka mengelus dan memeluk tubuh telanjangku. Tapi ku rasa itupun sudah sangat lebih dari cukup. Aku bersyukur malam ini aku masih virgin, kalau nurutin nafsu bisa aja aku udah nggak prewi lagi. Gila banget kalau sampai diperawani rame-rame oleh gerombolan bocah SMP. >.<

“Udah selesai kan kaliannya? Sana keluar” ujarku pada mereka. Aku berkata sambil berusaha melepaskan plester yang nutupin puting dan vaginaku. Susah juga melepaskannya. Kulitku jadi ikutan tertarik saat berusaha melepaskan plester tersebut. Perih juga. Mereka malah kesenangan melihatku kesusahan.

“Mau aku bantuin kak?” Riki menawarkan diri untuk membantu melepaskan plester itu, tapi aku tolak. Gak ada yang boleh pegang-pegang area terlarang tersebut. Sebenarnya Eko boleh sih, tapi gak mungkin dia lakukan di depan teman-temannya sekarang.

“Keringatnya mau bantu dilap?” tawar Riki lagi belum menyerah.

“Nggggaaak mauuuuuu” jawabku gemas. Masak menawarkan ngelap keringatku pakai seragam kotornya tadi. Mana mau akunya.

“Sana kalian coli kamar mandi…” suruhku kemudian. “Kakak tahu kalian udah nafsu banget, tapi udah gak ada lagi, acaranya udah selesai!” lanjutku tegas. Semua yang ada di dalam kamar ini pasti lagi horni-horninya saat ini. Aku sih masih bisa kendaliin diri, tapi aku kan gak tahu mereka.

Dengan berat hati akhirnya mereka mau juga beranjak. Kalau aku tegas sih mereka memang gampang nurutnya. Tapi tidak jarang ketegasan itu malah kalah dengan rasa penasaranku, sampai akhirnya terjadilah kejadian seperti hari ini.

“Eh, jangan di kamar mandi sini… sana kamar mandi bawah. Kakak juga mau langsung mandi” ucapku pada mereka yang hampir masuk ke kamar mandiku.

“Iya kak…” jawab mereka serentak. Setelah mereka keluar aku tutup dan ku kunci pintu kamarku, jaga-jaga… kalau kalau mereka berubah pikiran karena dapat bisikin setan agar memperkosaku, hihihi. Aku mendengar samar-samar kalau mereka ingin melihat hasil foto Eko tadi, sepertinya mau menggunakannya untuk bahan coli. ^o^

Setelah keringatku kering aku lalu mandi. Enak banget rasanya diguyur air dingin setelah berpanas-panasan dari tadi. Akhirnya aku bisa membersihkan diri dari lengketnya keringat, terutama kuman-kuman dari elusan tangan mereka, termasuk kuman dari baju seragam Riki itu.

Setelah aku mandi, aku kemudian memakai baju yang terbilang sopan. Piyama tidur lengan panjang dengan celananya yang juga panjang. Setelah itu akupun keluar kamar. Tampak bocah-bocah itu lagi ngumpul. Sepertinya mereka sudah selesai onaninya, hihi.

“Wah, kak Diranya udah segar…” ucap mereka begitu melihatku.

“Iya dong…”

“Makasih ya kak hari ini…”

“Sama-sama…. Tapi kalian jangan bilang siapa-siapa ya…” Aku tentunya tidak mau ada bocah-bocah seperti mereka lagi yang datang ke rumahku.

“Oke kak tenang aja” jawab mereka. “Tapi kapan-kapan boleh lagi kan kak?” tanya Riki kemudian.

“Nggak!!” tolakku. Aku sebenarnya belum tahu sih apa aku akan membolehkan mereka kayak tadi lagi. Mungkin saja nanti. Jika benar terjadi lagi, mungkin akan lebih heboh. Lalu mungkin saja aku akan… Ah… aku gak mau membayangkannya. >.<

“Sekarang kalian pulang gih… udah malam” ujarku. Aku tidak ingin menunggu nafsu mereka bangkit lagi, kemudian ngerayu aku agar mereka nginap di sini lagi. Sudah cukup aku kerepotan hari ini.

“Bentar lagi dong kak… kita masih pengen nemanin kakak”

“Gak perlu, gaya kalian…” balasku.

“Oh ya, Eko belum kan ya pilihin baju buat kakak,” ujar Didik kemudian mencoba mencari alasan.

“Iya tuh, lo nya cuma foto-foto aja dari tadi,” kata Riki ke Eko.

“Kapan-kapan aja, gak apa, hehe” jawab Eko santai. Dia sih emang udah pernah dapat yang lebih banyak dariku, jadi emang gak apa-apa. Malam ini kayaknya Eko sudah cukup bersenang-senang dengan jadi fotografer, hehe.

“Ya deh… yang udah punya pacar, jadi ada pelampiasan,” ucap Fikri.

“Pelampiasan? Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Eko kan udah punya pacar kak, si Susi, anak kelas sebelah, baru juga kemaren dia ngentot dengan Susi, hahaha” jawab Riki.

“Haaah?” Aku lirik Eko. Dia tampak salah tingkah. Garuk-garuk kepala sambil menundukkan kepala ke bawah. “Benar Ko?” tanyaku pada Eko. Dia hanya diam sambil terus menunduk. Sepertinya memang benar. Sejak kapan? Dia tidak pernah bilang selama ini. Aku… Kok aku jadi kesal…

“Kalian ini masih kecil kok udah gitu-gituan sih!!? Udah sana kalian pulang!” ujarku dengan nada tinggi. Aku marah, tapi gak tahu kenapa bisa semarah ini. Entah kenapa aku jadi kesal mengetahui Eko sudah punya pacar bahkan sampai melakukan ‘itu’.

Riki, Arman, Didik dan Fikri terdiam. Mereka saling pandang, seakan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Aku mendengar mereka bisik-bisik, “kenapa kak Dira jadi marah-marah sih?”

“Sanaaa pulang! Kamu juga Ko… pulang sana,” kataku lagi. Mereka akhirnya bergerak meski tampak terus bertanya-tanya kenapa denganku. Aku tutup pintu depan dan ku kunci begitu mereka keluar.

Aku tidak tahu kenapa… Aku juga tidak ingin suasana hatiku jadi begini. Hanya saja aku… Aku merasa begitu kecewa. Tapi kenapa? Seandainya aku tidak mengenal Eko sebelumnya, mungkin aku tidak begitu peduli. Tapi… aku sudah terlanjur kenal dengannya. Aku sudah menganggapnya adek, bukan… aku rasa ini agak beda, aku… mungkinkah aku cemburu!?

Gila saja aku cemburu dengan Eko. Tapi… aku terus kepikiran. Ahhh… udah ah, aku mau tidur dulu.

Aku segera ke kamar. Langsung tiduran di atas tempat tidurku. Tiba-tiba ada WA masuk… aku cek… Shinta? Nih anak ngapain tiba-tiba WA setelah lama gak ada kabarnya. Aku yang sedang bad mood jadi tambah kesal.

Aku buka pesan tersebut, dan kubaca…

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Article Name
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Description
cerita dewasa bergenre "kakak-adik" ini adalah hasil karya agan bramloser dari forum semprot. tokoh utamanya adalah seorang jilbaber yg suka eksibisionis (eksib). manis & menggoda, selamat membaca!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo