loading...

“Dia ke tempat orangtuanya dulu kak, nyusul katanya nanti” jawab Arman.

“Ohh gitu… Eh, jadi siapa yang paling tinggi nilainya? Dapat berapa?” tanyaku yang penasaran dengan nilai mereka, dan ternyata nilai tertinggi dari mereka yaitu…

“Tujuh puluh?” Aku mengernyitkan dahi.

“Iya kak tujuh, hehehe” jawab mereka girang. Jadi mereka buru-buru datang ke rumahku cuma ingin menunjukkan nilai tujuh puluh? Yang mendapatkan nilai tujuh puluh itu adalah Fikri, Eko cuma dapat enam puluh lima, Didik dan Arman dapat enam puluh, yang paling parah Riki dia cuma dapat empat puluh. Ini merekanya yang memang bego atau gimana sih?

“Masak nilai tujuh dibilang bagus sih?” ucapku kesal.

“Udah bagus kok kak itu… biasanya di antara kami paling tinggi cuma dapat lima puluh” kata Didik menjelaskan.

“Oh… gitu ya…”

“Iya kak… datang aja ke sekolah, terus tanyain guru kami” Mana mungkin aku lakukan. Malas banget.

“Terus Riki, kamunya kok cuma dapat empat puluh sih? Kan udah belajar” tanyaku lagi, kali ini pada Riki.

”Hahaha, dia biasanya malah dapat nol kak karena gak isi sama sekali, paling tinggi dapat dua puluh, hahaha” ledek Arman. Didik dan Fikri juga ikutan meledek.

“Sialan kalian! Awas nanti”

“Ya ampun Riki, pantas aja kamu tinggal terusss, hihihi” Akupun juga ikut-ikutan meledeknya.

“Ah, kakak….”

“Maaf deh… hihihi”

“Jadi gimana kak?” Tanya mereka menunggu pengakuan dariku. Mereka tampaknya ngotot banget. Tapi sepertinya mereka memang jujur. Nilai mereka memang gak bagus-bagus banget, tapi kalau memang ada peningkatan bagus deh, berarti aku berhasil ngajarnya.

“Hmm… gimana ya…”

“Gimana kak!?” tanya mereka lagi gak sabaran. Duh, bocah-bocah ini.

“Karena kakak baik….. oke deh, nilai kalian kakak anggap bagus” ucapku akhirnya. Suasana langsung menjadi riuh.

“Yes!!… Yuhuuuu!” Mereka bersorak gembira. Aku tertawa geli melihat Riki yang sok-sok-an melakukan sujud syukur, padahal nilainya paling rendah.

“Heboh banget sih gitu aja…” Aku pura-pura santai, padahal dengan kemenangan mereka ini mereka bebas melihatku dengan pakaian seksi. Aku harusnya tidak sesantai itu membiarkan aurat-auratku akan terumbar lagi. Apa kata mamaku nanti.

“Berarti sesuai perjanjian kan kak? Hehe” tanya Riki. Harusnya waktu bikin perjanjian itu aku matok nilai 8 atau 9 kali ya, tapi ya udah deh.

“Iyaaah… kita tunggu Eko dulu ya…” jawabku sambil melirik ke arah pintu, berharap Eko segera datang.

“Yaaah…. Sekarang dong kak…”

“Iya, sekarang dong kak…” rengek mereka,

“Gak, kalian harus komplit semua” balasku.

“Tapi kan Eko kan udah sering lihat”

“Sok tahu ih, siapa yang bilang? Eko yang bilang?”

“Iya kak… Eko yang bilang, iya ya kak?”

“Kadang-kadang aja kok… Emang dia bilang apa lagi ke kalian?” tanyaku penasaran. Apa Eko udah ngomong semuanya ke mereka? Kalau iya, duh… bisa tambah heboh suasana.

“Eko bilang kalau kak Dira sering pakai baju seksi kalau di rumah, dia sering lihat”

“Itu aja?”

“Iya itu aja, emang ada yang lain ya kak? Eko udah ngapain aja emangnya kak? hehe” tanya mereka kemudian yang jadi penasaran. Mereka ini bisa banget mancing-mancing. Tentu saja tidak akan ku jawab yang sebenarnya.

“Ih… nggak ngapa-ngapain kok… dia tuh cuma kerja bersihin halaman aja, kalian jangan mikir macam-macam deh, masih kecil jugak”

“Ohh… ya deh kak sorry, maaf yah kakak cantik”

“Mulai deh gombal”

“Tapi kak Dira emang cantik kok, seksi lagi, ya kan bro?” ujar Riki yang langsung diiyakan oleh teman-temannya.

“Iya kak, ganti baju dong kak, biar nampak lagi seksinya…” ucap Arman ikut-ikutan menggombal.

“Iya-iyaaah… kakak ganti deh…. Cerewet ih” Aku langsung menuju ke kamarku. Mereka itu pandai banget kalau hal yang beginian, tapi kalau tentang pelajaran bebal banget. Sambil berjalan ku buka ikat rambutku dan ku lempar sembarangan.

“Yang seksi ya kak…” teriak mereka sebelum aku menutup pintu kamar. Aku senyumin aja.

Aku buka lemari bajuku. Apa yang harus ku kenakan? Apa ya yang cukup seksi untuk pertunjukan pembuka? Sambil berpikir dadaku berdebar terus. Kelakuan yang tidak pantas itu akan kulakukan lagi. Kali ini aku akan dengan sengaja tampil buka-bukaan di hadapan pria yang bukan muhrimku, empat orang sekaligus, masih dibawah umur dan dekil-dekil semua. Membiarkan mereka semua menikmati aurat-auratku, sepuas-puasnya mata mereka memandang. Aaah, memikirkannya membuat yang ‘di bawah’ terasa gatal.

Meski baru pembuka, tapi aku ingin tampil semenggoda mungkin di hadapan mereka. Aku ingin mereka langsung berdecak kagum melihatku. Aku akhirnya memutuskan untuk menggunakan pakaian yang sedang ku kenakan sekarang, tentunya dengan sedikit perubahan.

Aku lepas rok panjang yang ku pakai tadi, jadi sekarang bawahannya hanya pakai celana dalam yang warnanya merah. Atasannya aku masih memakai kemeja kotak-kotak tadi, tapi branya aku copot. Aku juga membuka hampir semua kancingnya, hanya menyisakan satu kancing saja di tengah-tengah. Sehingga sebagian besar buah dadaku jadi bebas untuk dinikmati oleh mata mereka, belahannya nampak jelas. Pusarku juga kelihatan. Karena kemeja ini tidak dalam, maka celana dalamkupun kelihatan.

Sepertinya cukup, akupun keluar kamar.

Mereka melongo melihatku begitu aku kembali ke tengah-tengah mereka. Bisa-bisanya mereka yang tadi heboh sekarang jadi diam gini. Mungkin karena saking mupengnya, hihihi.

“Gimana?” tanyaku mencoba menyadarkan mereka dari imajinasi liar mereka.

“Wew… Bagus kak” komentar Arman.

“I-iya kak… keren” ucap Fikri singkat.

“Mantab kak… sempurna, aku suka lihatnya” kata Didik.

“Seksi abis kak… nafsuin, sumpah kak kontolku ngaceng…. Pengen ngocok nih… Tuh susunya bening amat, mulus… Iya kan bro?” Seperti biasa, Riki yang ngomongnya paling berani. Gak heran lagi akunya. Ucapan cabulnya itu hanya kubalas senyuman. Ku gerakkan telunjukku kiri kanan sebagai isyarat gak boleh berbuat yang aneh-aneh. Enak aja ngomong pengen ngocok.

“Kalian bertiga kok gitu aja sih komentarnya? Kalau ada yang pengen dikomentari lagi bilang aja…” godaku pada Arman, Didik dan Fikri. Aku ingin mereka berkata yang lebih berani lagi seperti Riki. Meski ucapan Riki itu tidak pantas, tapi mendengarnya membuatku horniih.

“Udah diwakili sama Riki kak, hehe” ucap Fikri.

“Iya kak betul, pokoknya kak Dira kelihatan seksi deh, terus itu… nafsuin… kayak yang dibilang Riki” sambung Arman, Didik mengiyakan. Hihihi, mereka ini, sampai kehabisan kata-kata gitu. Ya udah deh kalau gitu.

“Kakak kalau di rumah bajunya kayak gini ya?” tanya Fikri. Aku mengangguk.

“Iya… kalau di rumah emang gini aja kalau lagi gak ada orang. Kalau ada orang ya kakak pakai bajunya biasa-biasa aja, yang sopan,” jelasku, “pakai jilbab… yang tertutup deh pokoknya” sambungku lagi ketika melihat jilbab merah yang ku pakai ke kampus tadi masih tergeletak di atas sofa, belum ku bereskan.

“Berarti kita spesial dong? Hehe”

“Nggmm… Anggap aja gitu”

“Senangnya, beruntung deh bisa kenal kakak, hehe” ucap Riki dan yang lain. Mereka itu seharusnya beruntung kenal dengan Eko. Kalau tidak ada Eko mereka gak mungkin bisa kenal dengan aku. Tapi, ngomong-ngomong Eko lama amat datangnya. Semoga dia tidak cemburu teman-temannya ngegodain aku terus. ^.^

Setelah itu cukup lama kami saling diam. Mereka tidak ngomong apapun, aku juga hanya berdiri diam membiarkan mereka menikmati pemandangan yang tersaji. Tampak olehku kalau mereka berkali-kali membetulkan celana.

“Udah puas liatnya? Ngayalin apa?” ucapku kemudian.

“Eh, nggak kok, lagi menikmati aja kak”

“Kak…” panggil Riki, pasti dia mau request yang aneh-aneh.

“Apa?”

“Itu kancingnya dibuka aja, tanggung tinggal satu” pinta Riki. Tuh kan benar.

“Benar kak, biar kelihatan lebih menggairahkan”

“Iya… Biar lebih cantik” ucap yang lain.

“Dibuka ya? Hmmm… ya udah” Tanpa banyak perlawanan aku turuti permintaan mereka. Akupun mulai membuka kancing yang masih tersisa itu. Tapi kok susah?

“Mau aku bantuin kak?” Riki menawarkan diri.

Aku mengangguk. “Cuma buka kancing ya, jangan macam-macam”

“Sip kak…” Riki mendekat dan meraih kancing bajuku. Dia berdiri tepat di depanku. Dia agak menarik kancing itu sehingga kemejaku ikut-ikutan tertarik. Sengaja banget. Diapun jadi bisa mengintip ke dalam sana, mungkin putingku tampak olehnya. Ya sudah, aku lagi berbaik hati untuk membiarkan.

“Duh, emang susah kak, nyangkut” ucapnya kerepotan.

“Bisa nggak? Kalau nggak bisa kakak minta tolong sama yang lain aja nih”

“Bisa kok…” Plup!! Aaaah… Dia ini. Dia malah membuat kancingnya putus. Apanya yang bisa!? Salah satu kemeja kesukaanku jadi rusak deh.

“Ish, kamu ini gimana sih…”

“Maaf kak, yang penting udah terbuka, hehe” Dia cengengesan tidak merasa bersalah.

“Sembarangan deh”

Ya mau gimana lagi. Untungnya cuma putus aja jahitan kancingnya. Aku bisa memperbaikinya sendiri nanti. Yang harus ku pikirkan sekarang adalah nasibku yang nyaris ditelanjangi ini. Bocah-bocah itu pastinya semakin mupeng melihat kondisiku saat ini. Karena semua kancing kemejaku sudah dibuka, terang saja bagian depan tubuhku kini semakin terekspos. Untungnya masih bisa menutupi puting buah dadaku, tapi kalau kena angin pasti tersingkap.

“Udah kan?” ujarku pada Riki yang masih asik menatapku. Dia masih tidak beranjak dari posisinya. Jadi akulah yang mundur. Namun dia dan teman-temannya malah maju mengikutiku. Hingga akupun mentok ke dinding. Kini aku terpojok di kelilingi bocah-bocah ini.

Dadaku berdebar kencang. Tentu saja, jika mereka mau mereka bisa saja memperkosaku saat ini juga. Meskipun begitu aku juga merasa sangat seksi dengan keadaanku sekarang, yang berpakaian asal-asalan nyaris telanjang dikelilingi cowok-cowok yang bukan muhrimku. Para bocah SMP yang lagi penasaran-penasarannya dengan tubuh cewek. Tapi aku masih percaya mereka tidak akan berbuat yang macam-macam.

“Baru kali ini lihat cewek secantik ini, kak Dira sempurna banget” ucap Riki, yang dilanjut dengan sanjungan dan pujian dari teman-temannya. Mereka tidak henti-hentinya memujiku, membuatku jadi ingin lebih memamerkan tubuh.

“Kalau bugil pasti makin sempurna, hehe” sambung Riki lagi.

“Ye…. Kan perjanjiannya kakak cuma pakai pakaian seksi, gak bugil,” balasku.

“Bentar aja kok kak… ntar kalau udah telanjang sekalian ganti baju lain aja. Kan katanya kita juga boleh milihin baju buat kakak. Iya kan teman-teman? Pada pengen lihat kak Dira bugil kan?” ujar Riki memanas-manasi yang lain. Tentu saja mereka semua mengiyakan. Gak mungkin ada yang menolak. Bocah-bocah tanggung nan mesum kayak mereka mana mungkin melewatkan kesempatan melihat gadis kuliahan sepertiku telanjang bulat.

“Ntar kita belajar lebih rajin deh…” rayu mereka. Ih, janji manis.

“Ampun deh kalian ini, oke deh, sekali ini saja ya…” Aku akhirnya mengiyakan. Cepat atau lambat ternyata aku dibugilin juga. Tapi kenapa aku mau sih…

“Hehehe, ayo kak dibuka” pinta mereka tak sabaran. Ingin agar aku segera melepas pakaian yang tersisa. Tapi aku rasa… aku ingin membuat suasana jadi sedikit lebih asik.

“Fikri, siniii…” panggilku pada anak itu. Diapun mendekat. “Karena kamu yang nilainya paling tinggi, jadi kamu yang nelanjangi kakak” ucapku senyum-senyum. Berusaha memasang senyuman semanis mungkin. Dia jadi langsung salah tingkah mendengarnya, hihihi.

“Kok gak aku aja sih kak?” tanya si Riki sok protes.

“Dasar kamu ini, kan kamu nilainya paling rendah. Kamu bisa ikutan gabung aja udah syukur” aku memeletkan lidah padanya. Tapi kalau dia gak ikutan kayaknya jadi kurang heboh. Karena dialah yang mancing-mancing aku jadi mau ditelanjangi begini.

“Ayo dong buruan kakaknya ditelanjangi… ntar keburu diserobot temanmu…” godaku menarik lengan baju Fikri sambil melirik ke arah Riki, sengaja mengompori Riki, hihi.

“I-iya kak…” jawab Fikri grogi. Mereka semua ternyata sejenis dengan Eko, kalau udah ditantangi kayak gini malah grogi, padahal tadi ngebet banget mesumnya.

Fikri mulai melepaskan kemejaku. Lengan kiriku sudah lolos dari kemeja, kemudian lanjut lengan kananku. Selagi dia melakukannya, aku terus berusaha menutupi buah dadaku dengan tanganku. Kadang aku terlambat bergerak sehingga putingku jadi sempat terlihat oleh mereka. Akhirnya akupun telanjang dada. Kali ini aku tutupi dadaku sekedarnya. Tidak lagi terlalu berusaha menutupi putingku dari pandangan mereka. Mereka sudah terlanjur berkali-kali melihatnya dari tadi.

Setelah yang atas, ku suruh Fikri lanjut untuk menarik celana dalamku. Aku masukkan tanganku ke dalam celana dalam sebelum dia menariknya. Dia terlihat semakin grogi. Tangannya gemetaran ketika melakukannya. Saat celana dalam itu sudah di mata kaki, aku bantu mengangkat kakiku agar celana dalam itu terlepas. Akupun kini sudah telanjang bulat. Duh, makin banyak cowok yang sudah melihat aurat-auratku yang tanpa pakaian sama sekali seperti ini. Aku merasa semakin nakal saja. Tidak ku sangka aku melakukannya sejauh ini. Tapi bisa pemer aurat itu memang menyenangkan. Perasaanku betul-betul campur aduk antara grogi, malu, dan horni.

Setelah aku bugil total begini, tentunya pujian dan sanjungan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka tampak semakin mupeng saja. Makin lama mereka semakin mendekat, membuat suasana yang sudah panas jadi terasa semakin panas saja. Aku jadi keringatan dibuatnya.

“Mundur dong… panas nih…” pintaku. Gak nyaman banget dipojokin ke tembok dengan tubuh telanjang gini. Aku kini lebih fokus untuk menutupi vaginaku, tak terlalu ambil pusing lagi dengan dadaku yang sudah jadi bulan-bulanan mata mereka.

“Bagus banget badan kakak” ujar mereka yang tidak menuruti kata-kataku sama sekali. Duh, mereka ini. Ya sudah lah, aku nikmatin saja mandi keringat ini.

“Iya, gak ada cacatnya… putih mulus, super bening… jadi pengen pegang, hehe”

“Enak aja pegang-pegang, gak boleh… Kakak udah bugil lho ini, masih kurang emang?” balasku cepat. Cukup sampai aksi telanjang saja. Aku tidak berniat, dan tidak akan mau melakukan lebih dari ini. Yang telah mereka dapatkan sudah lebih dari cukup.

“Bentar aja kak…”

“Gak mauuuu… Kalau kalian macam-macam kakak beneran marah lho nanti” ucapku tegas. Merekapun akhirnya berhenti. Bagus deh, jangan sampai karena saking nafsunya mereka jadi main paksa.

“Iya deh kak, tapi memeknya jangan ditutupin lagi dong…” pinta Riki mesum. Dia ini memang gak ketolongan mesumnya. Akupun tanpa pikir panjang mau-maunya saja menuruti.

“Tapi mundur dulu ya dikit…” aku menggeser tanganku dari posisinya. Ah, memalukan. Sekarang bagian-bagian terlarang tubuhku sudah terekspos semua untuk dinikmati mata mereka. Tadi buah dada, sekarang vaginaku.

“Gilaaaa.. mantab banget… Ngaceeeeng gueee…. Anjrit” komentar Riki. Tampak dia mengelus-elus bagian depan celananya yang menonjol. Dia sampai membungkuk di depanku untuk melihat vaginaku lebih jelas. Mereka gak ada yang mundur, semuanya malah makin mendekat, mereka juga mengelus bagian depan celana mereka masing-masing. Suasana yang begitu cabul. Makin aku buka-bukaan aku malah semakin kepanasan. Makin keringatan akunya. Seharusnya aku beranjak dari sana. Tapi aku yang sedang keringatan malah menyukai dipojoki seperti ini. Aku betul-betul merasa seksih.

Saat sedang panas-panasnya, aku terkejut saat mendengar ada orang di depan rumah. Aku pikir itu Eko, tapi ternyata itu kurir yang nganterin paket! Duh! Aku kayaknya harus mengurangi belanja online agar kurir-kurir itu gak terlalu sering ke sini. >.<

“Ada orang tuh kak…”

“Iya… minggir dulu ya…” Aku menerobos mereka. Akhirnya aku bisa bebas juga dari kepungan bocah-bocah dekil ini. Aku ambil jilbabku yang tergeletak di atas sofa, aku berencana menggunakannya untuk mengelap keringatku. Mereka tampak keheranan aku berjalan ke arah pintu tidak memakai apa-apa. Seperti biasa, kalau lagi telanjang aku biasanya akan memakai jaket menyambut pengantar paket itu.

“Kalian jangan berisik ya… kakak gak mau ketahuan sedang bersama kalian” ujarku di tengah jalan. Mereka mengangguk. “Tapi kalau kakak sampai diapa-apain kalian cepat tolongin,” candaku. Mereka angguk-angguk lagi. Akupun lanjut jalan ke depan.

Saat ku lihat dari jendela ternyata itu mas-mas yang nganterin tempo hari juga. Waktu itu dia melihat aku dengan pakaian yang sopan dan berjilbab. Kali ini akan sebaliknya. Aku berencana menyambutnya dengan… telanjang bulat. Tapi gak telanjang-telanjang banget juga. Jilbab yang tadinya ingin kugunakan untuk mengelap keringat di tubuhku, akhirnya malah aku gunakan untuk menutupi tubuhku seadanya. Sekedar untuk menutupi buah dada dan vaginaku. Yaaah… tapi mau gimanapun ini tetap telanjang sih namanya. Aku berani melakukannya karena mas-mas ini kelihatannya tidak berbahaya. Aku yakin dia tidak akan berani macam-macam. Dia dulu juga pernah berjanji untuk tidak bilang siapa-siapa kalau sering lihat aku pakai baju ala kadarnya. Dia sendiri yang akan rugi kalau macam-macam.

Ku buka pintu sedikit, lalu ku suruh dia masuk.

“M-mbak Dira… mbak ng-nggak pakai baju?” ucapnya terbata-bata.

“Cuma ini…” balasku sedikit mengebas ujung kain jilbab ini. Meyakinkannya kalau memang inilah satu-satunya yang kupakai untuk menutupi tubuhku. Apa kata orangtuaku kalau melihat jilbab yang seharusnya aku pakai di kepala untuk menutup aurat dengan sempurna, kini malah ku gunakan untuk memberikan kesan erotis sewaktu pamer aurat. Kontradiksi banget.

“Mbak seksi amat…” ucapnya kemudian.

“Makasih…” balasku sambil tersenyum. Wajah dan tubuhku masih penuh keringat karena gak jadi ku lap. Tentunya membuat pemandangan yang tersaji makin terlihat menggairahkan baginya.

“Tanda tangan di sini mbak…”

“Oke…”

Sambil melakukan proses serah terima. Aku terus berusaha menutupi buah dada dan vaginaku, tapi aku tidak terlalu peduli kalau kecolongan atau tidak. Mungkin saja dia berhasil melihat bagian-bagian itu, anggap saja hari ini hari keberuntungannya. Bisa saja aku menyingkirkan jilbab ini, tapi aku lebih suka tampil begini. Lebih menyenangkan membiarkannya terus penasaran.

“Sering-sering belanja online ya mbak, hehe” ucapnya. Aku senyumin aja. Aku malah niatnya mau ngurangin belanja.

Setelah semua beres, aku langsung mempersilahkan dia keluar. Aku tidak ingin dia berlama-lama di sini. Untungnya dia tidak banyak cincong. Sebelum dia pergi, aku kembali ngasih kode agar jangan bilang-bilang siapa-siapa.

Kejadian yang barusan memang singkat, tapi pengalaman yang ku rasakan sungguh luar biasa. Aku betul-betul nekat!

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Article Name
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Description
cerita dewasa bergenre "kakak-adik" ini adalah hasil karya agan bramloser dari forum semprot. tokoh utamanya adalah seorang jilbaber yg suka eksibisionis (eksib). manis & menggoda, selamat membaca!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo