loading...

Baca juga: Liarnya Nafsu Berahi Seorang Aktivis Mahasiswi Berhijab! (klik di gambar)

Mungkin kelakuanku ini sungguh sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang gadis berjilbab yang berasal dari keluarga baik-baik. Aku sering merasa risih dan bersalah dengan statusku itu. Namun tak jarang justru ketika mengetahui perbuatanku ini benar-benar salah dan bertentangan dengan ajaran orangtuakulah yang membuatku semakin bergairah. Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin memang tidak pantas, tapi aku menikmati sensasinya. Sekali lagi, inilah yang ku mau.

“Ko, kamu malam ini mau pulang atau tidur di rumah kakak?” tanyaku pada Eko ketika kami dalam perjalan pulang. Sedari tadi ku lihat dia sering senyum-senyum sendiri. Sepertinya dia masih membayangkan apa yang baru saja dialaminya. Dia pasti tidak menyangka bisa membuang spermanya ke wajahku. Beruntung sekali bocah ini.

“T-tidur rumah kakak aja, boleh kan kak?”

Aku tersenyum, “iya… boleh”

Sebenarnya aku ingin langsung ke rumah, tapi karena lapar kami singgah dulu di warung pecel ayam untuk makan malam. Lalu ke mini market untuk membeli beberapa keperluan mandi, masak serta cemilan-cemilan. Aku persilahkan Eko untuk memilih cemilan apapun dan sebanyak apapun yang dia mau. Biar badannya berisi dikit dan gak terlalu kurus kayak sekarang.

Mbak-mbak kasir tampak keheranan, mungkin dia bertanya-tanya apa hubungan kami. Pacar tampak sangat tidak mungkin, adek kakak juga tidak mirip sama sekali. Yang paling memungkinkan adalah majikan dan pembantunya. Tidak terlalu salah sih, Eko memang kerja sambilan bersih-bersih di halaman rumahku, tapi mana ada pembantu yang boleh melihat majikannya telanjang, gerepe-gerepe majikannya dan muncratin sperma di wajah majikannya, hihihi.

Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamarku. Aku lepaskan jilbab, kemeja dan celana panjangku. Sekarang aku hanya memakai tanktop dan celana legging pendek saja. Aku kemudian berbaring di kasur.

Tanpa sadar aku ketiduran dan baru bangun esok paginya.

 

***

Tidak kutemukan Eko di sebelahku. Biasanya saat aku bangun ada bocah itu yang sedang telanjang bulat tertidur di sebelahku, atau jika tidak aku yang terbangun karena ulahnya yang menggerepe-gerepe tubuhku tanpa izin. Tapi sekarang tidak ada. Tidur dimana sih dia? Tumben banget gak ada.

Aku kemudian bangkit menuju dapur untuk mengambil minum. Ternyata Eko sedang tidur di sofa depan tv. Langsung saja ku bangunkan dia.

“Ko… bangun… Kok tidur di sini sih!? Bangun ayo…”

“Eh… k-kak Dira, pagi kak… hoaaam….”

“Kamu kok tidur di sini? Kok gak tidur di kamar kakak?”

“Semalam waktu ke kamar kakak, ternyata kakak udah tidur… Aku jadi gak enak mau ganggu, soalnya kakak kelihatan capek banget,” terangnya.

“Ish… kamu ini… Masuk aja gak papa kok… gak perlu sungkan gitu. Kasihan kan kamunya tidur sendirian di sini” Aku merasa gak enak juga karena dia jadi tidur sendiri. “Pokoknya kamar kakak itu boleh kamu masukin kapanpun kamu mau… kapanpun boleh naik ke tempat tidur kakak… Oke?”

“O-oke kak” jawabnya senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala.

“Eh, udah jam berapa nih? Kamu gak sekolah?”

“Nnggg…. Gak kak”

“Kok gak sih?”

“Udah telat” jawabnya enteng. Aku sudah menduga sih kalau dia ingin bolos lagi hari ini. Dia pasti ingin manja-manjaan lagi denganku, semalam kan tidak jadi. Dia pastinya sedang mupeng pagi ini. Apalagi melihat kondisiku yang memang hanya menggunakan tanktop dan celana pendek ketat.

Tapi aku tidak mau juga kalau gara-gara aku sekolahnya jadi berantakan. Akupun memaksanya untuk ke sekolah. Pakaian dan perlengkapan sekolahnya kebetulan lengkap ada di rumahku saat ini, jadi dia gak perlu capek-capek pulang dulu ke rumahnya. Aku bahkan menawarkan untuk mengantarnya ke sekolah, jika perlu ku pinjamkan dia sepeda motorku.

“Ayo dong kak… aku kan pengen sama kakak,” jawabnya sambil memeluk tubuhku dari belakang. Aku berteriak karena pelukannya yang tiba-tiba itu.

“Awh! Eko…” Aku berusaha melepaskan diri, tapi tangannya melingkari perutku dengan erat dan terus bergelayutan memelukku.

“Gak mau aku lepasin…”

“Kenapa? Pengen yah?” Dia hanya cengengesan saja kemudian mencium-cium pipiku dari belakang. Saat aku berhenti berontak, tangannya malah nakal meraba-raba pinggul dan pantatku yang hanya terbalut celana legging, bahkan berusaha melepaskan celanaku. Bocah ini lagi horni berat!

Saat tangannya berusaha menarik celanaku ke bawah, ku tahan tangannya. Kuputar badanku menghadap ke arahnya.

“Kalau dikasih lanjut ntar kamunya gak jadi sekolah,” ucapku sambil menepis-nepis tangannya yang kembali berusaha menggapai celanaku. “Hihi, kamu ini… Udah… gak bakal kakak bolehin” Aku senyum-senyum sambil sesekali tertawa kecil saat ‘bertarung’ dengannya. Aku berusaha mempertahankan celanaku agar tidak dipelorotin oleh bocah SMP dekil ini. Karena kalau celanaku itu sampai lepas dia pasti akan semakin buas. Kalau udah gitu aku bakal dicabuli, dan dia gak bakal jadi sekolah.

Akhirnya aku dapat menangkap kedua tangannya. Persis seperti polisi yang sedang menangkap penjahat. Penjahatnya masih anak SMP yang suka mesumin gadis kuliahan, hihihi.

“Udah, tangannya jangan nakal lagi,” seruku. Wajah Eko memelas setengah horni. Bukannya kasihan, aku malah ketawa melihat wajahnya yang justru terlihat semakin jelek dengan ekspresi seperti itu.

“Kak Diraaa” rengeknya, aku menggelengkan kepala sambil senyum-senyum. Tanganku masih memegang tangannya, tapi dia kemudian malah berusaha menarikku ke dalam kamar. Ku turuti saja dan ku biarkan dia. Hingga akhirnya kami sampai di kamarku dan telah berada di depan tempat tidur.

“Hayo mau ngapain?”

“Ayo dong kak… sepuluh menit aja,” pintanya manja.

“Gak yakin kakak sepuluh menit”

“Lima menit deh”

“Duh Ko… kok malah nawar-nawar sih? Kalau gini terus ntar beneran telat kamunya”

“Bagus dong, hehe”

“Ish… dasar bandel kamunya dibilangin…” Aku kemudian melepaskan pegangan tanganku, lalu ku tuntun tangannya memeluk tubuhku dari depan.

“Kamu sekolah dulu ya sayang… nanti pulang kan bisa…”

Aku terus membujuknya, dia masih susah dibilangin. Setelah terus ku bujuk Eko akhirnya mau juga pergi sekolah. Dia akhirnya mengalah. Ku biarkan dia memelukku selama beberapa saat sebelum akhirnya ku lepaskan pelukannya.

“Udah sana mandi, terus sekolah yang benar biar pinter,” suruhku.

“Iya…” jawabnya lesu.

Eko kemudian bersiap-siap. Selagi dia siap-siap ku buatkan serapan untuknya. Dia memakai motor maticku ke sekolah. Ku berikan dia uang 50 ribu untuk isi bensin sekaligus uang jajan untuknya.

“Hati hati ya… jangan ngebut, jangan lewat jalan besar, kamu gak ada SIM, kalau kena tilang kan repot,” seruku padanya. Dia cuma angguk-angguk saja.

 

***

Dari tadi aku terus berada di depan laptopku sambil tiduran di kasur. Aku bebas hari ini, tidak ada jadwal kuliah dan tidak ada janji pemotretan dengan Dodi. Aku memilih untuk bersantai saja di rumah seharian. Saat ini aku sibuk hunting pakaian di sebuah situs jual-beli online. Sesekali aku suka membeli pakaian secara online karena lebih gampang memilih. Modelnya juga banyak. Untung saja badanku ideal, gak kurus dan juga gak gemuk, jadi gak susah memilih ukurannya. Aku mencari baju atau kemeja lengan panjang, aku juga mencari pakaian terusan yang tertutup. Tentunya tidak lupa mencari jilbab. Akupun juga ingin menambah koleksi pakaian dalam seksi, hihihi.

Sambil bermain laptop, sesekali ku raih smartphoneku untuk membalas pesan-pesan yang masuk. Beberapa pesan tersebut dari cowok yang tidak ku kenali, yang sepertinya merupakan penggemarku yang ingin dekat denganku. Selagi mereka sopan dan aku sedang mood aku sih akan membalas chating-an mereka. Gak baik kan jadi orang sombong. Soalnya aku suka punya banyak fans. Dodi mungkin jadi salah satu yang beruntung karena bisa mengambil foto-fotoku secara eksklusif, dari foto sopan berjilbab hingga foto telanjang, bahkan waktu itu foto dan video aku beradegan intim. Namun aku tidak berminat untuk menambah fans yang beruntung kayak dia lagi. Cukup Dodi saja. Kalau kebanyakan terlalu beresiko kesebar. Aku tidak mau teman-temanku, apalagi orangtuaku sampai mengetahui anak gadisnya ternyata suka pamer aurat.

Aku sendiri dari tadi memang tidak menutup auratku sama sekali. Telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhku. Setelah Eko pergi ke sekolah tadi pagi, aku langsung mandi namun kemudian tidak memakai pakaian lagi sampai sekarang. Gadis kuliahan cantik anak orang kaya, telanjang bulat di rumah sendirian. Kalau ada tamu tak diundang datang maka habis sudah.

Aku beraktifitas di dalam rumah tanpa memakai pakaian. Menyapu, cuci piring, nonton tv dan sebagainya dengan kondisi bugil. Sesuatu yang sangat kontras bila aku beraktifitas di luar rumah yang selalu memakai pakaian tertutup dan berjilbab. Pakaian tertutup dan berjilbab itu memang pakaian kesukaanku, meskipun memang untuk menutupi aurat tapi itu memang gaya yang kusukai dalam berpakaian. Tapi telanjang bulat seperti ini juga menyenangkan. Aku suka memakai pakaian tertutup, namun aku juga suka bertelanjang bulat dan memamerkan tubuh indahku pada orang lain. Aku suka mendengar pujian mereka. Aku suka memuaskan mata mereka. Beruntung lah Dodi dan Eko menjadi orang tersebut.

Beberapa saat kemudian ku dengar suara motor dan suara pintu pagar dibuka. Ternyata Eko sudah kembali. Ku raih handukku yang dari tadi tergeletak di tepi tempat tidur dan membelitkannya di tubuh telanjangku, lalu berlari kecil untuk membuka pintu depan. Sebenarnya bisa saja ku biarkan Eko membuka pintu sendiri, dia punya kuncinya. Aku hanya ingin saja membukakan pintu untuknya.

Pintunya pelan-pelan ku buka. Tidak ku buka lebar-lebar, hanya ku buka sampai bisa dia lewat saja.

“Yuk Ko masuk…” Ajakku menyuruh dia cepat masuk, takut juga kalau ada tetangga lihat aku cuma pakai handuk gini.

“Kakak kok pakai handuk? Habis mandi? Tapi badan kakak kok gak basah…”

“Mandinya tadi pagi, tapi belum pakai baju sampai sekarang, hihihi,” jawabku memeletkan lidah. Eko tampaknya senang sekali melihat kondisiku saat ini. Setelah seharian pusing di sekolah pastinya adem sekali melihat pemandangan cewek kuliahan cantik cuma pakai handuk gini.

“Kakak cantik banget…”

“Makasih… Kamu lapar? Mau makan sekarang? Kakak temenin deh…”

“Boleh, hehe”

Aku kemudian ke dapur disusul olehnya. Aku siapkan makan siang untuk kami berdua. Kebetulan aku juga belum makan. Ku lihat Eko terus curi-curi pandang ke arahku, aku pura-pura cuek saja. Kamipun makan bersama kemudian. Eko masih menggunakan seragam SMPnya, sedangkan aku masih hanya handuk yang melilit di tubuhku. Kami makan sambil mengobrol.

“Asik kan sekolah?”

“Gak juga, bosan kak…”

“Yeee…. Kalau belajar itu gak boleh bosen”

“Karena kak Dira yang ngomong, iyain aja deh”

“Hahaha, dasar!”

“Kakak gak pergi ke tempat bang Dodi?” tanya Eko kemudian.

“Nggak, malas… mau di rumah aja sama kamu,” jawabku. Mendengar ucapanku Eko jadi terlihat kege-eran, haha.

“Tapi kakak cantik banget waktu itu…”

“Masa?”

“Iya… serius kak… aku suka banget lihat kakak kemaren waktu difoto-foto sama bang Dodi” terangnya. Tentu saja dia suka, dia kan tidak hanya sekedar melihat aku yang difoto seksi, tapi juga ikutan jadi lawan mainku.

“Kamu suka ya?”

“Iya…”

“Hmm… Ko, kakak mau mandi lagi, kamu mau ikutan nggak?” tanyaku senyum-senyum.

“Mau kak!” jawabnya bersemangat. Aku tertawa mendengarnya.

“Ish, kalau itu cepat amat kamunya, kalau disuruh sekolah susahnya minta ampun, dasar… hahaha”

“Kan Kak Dira kemaren janji mau mandi bareng…” balas Eko.

“Iya sih, ya udah… sekarang kita mandi bareng deh… hadiah karena kamu udah mau pergi sekolah hari ini”

“Hehehe, makasih kak…” ucapnya ketawa mesum.

“Selagi kamu habisin makananmu, kakak mau siap-siap dulu ya… ntar kamunya kakak panggil”

“I-iya kak…” Ekopun tampak buru-buru menghabiskan makanannya. Dia terlihat begitu antusias. Ku tinggalkan Eko dan pergi ke kamar mandi yang ada di kamarku. Makananku sebenarnya masih belum habis, tapi aku sudah cukup kenyang.

Meskipun selama ini aku dan Eko sering telanjang berduaan, tapi kami belum pernah mandi berdua karena aku memang tidak suka acara mandiku diganggu. Waktu mandi adalah waktu yang paling aku sukai. Namun kali ini aku memperbolehkan Eko ikut mandi bersama denganku. Aku isi bathtub dengan air, selagi menunggu air penuh aku menggosok gigi untuk menghilangkan bau mulut. Ketika air dalam bathtub kurasa sudah cukup aku kemudian menuangkan sabun cair ke dalamnya sehingga penuh dengan busa dan gelembung.

Bisa saja aku memanggil Eko sekarang, tapi kuputuskan untuk berpakaian lengkap terlebih dahulu, tidak langsung dengan cuma pakai handuk seperti sekarang. Aku pikir akan lebih menyenangkan jika aku berpakaian lengkap terlebih dahulu, dari dalaman, baju, celana panjang dan tentunya jilbab. Aku ikat rambutku. Aku lalu keluar dari kamar mandi dan menuju ke lemari pakaianku. Aku pilih-pilih pakaian yang akan ku gunakan. Pilihanku jatuh pada baju kaos lengan panjang motif tutul macan, celana levis hitam, serta jilbab segi empat warna coklat. Tentunya baju dan celana panjang yang ku kenakan itu begitu ketat, biar bisa memperlihatkan lekuk tubuhku. Setelah selesai berpakaian akupun memanggil Eko masuk ke dalam kamar.

“Ko… yuk sini ke kamar kakak,” teriakku memanggil bocah itu. Hanya kepalaku yang nongol dari balik pintu.

“Iya kak…” sahutnya. Begitu dia masuk ke dalam kamarku dia langsung terpana gitu melihat diriku. “Kak Dira cantik banget… pakai baju atau nggak sama aja cantiknya, hehehe” Aku tertawa mendengarnya. Bisa-bisanya bocah itu menggombal.

“Tapi kok kakak pakai baju? Kan katanya mau mandi…” tanyanya kemudian.

“Iya… emang mau mandi kok… gak apa kan kalau kakak pakai baju dulu?”

“Owh… Gak apa kok kak… aku malah suka… Lebih menegangkan kalau kakak pakai baju dulu, hehe”

“Okeey… yuk bajumu dibuka,” suruhku. Tanpa perlu menunggu disuruh dua kali Eko langsung menuruti ucapanku. Tak butuh waktu lama kini bocah SMP ini sudah telanjang bulat di depanku. Penis tegangnya berdiri menunjuk ke arahku. Dia pasti sudah tidak sabar.

Sebelum masuk ke kamar mandi aku iseng mengambil foto selfie kami berdua. Kami berfoto di depan cermin. Ada foto kami berpelukan, dia mencium pipiku, dan sebagainya. Sungguh kontras sekali pemandangannya. Pemandangan yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh oranglain benar-benar terjadi. Aku masih berpakaian lengkap sedangkan Eko telanjang bulat. Aku gadis kuliahan putih mulus sedangkan Eko bocah SMP dekil. Beda jenis kelamin, beda umur dan beda status sosial. Papa Mama gak boleh tahu keadaanku saat ini.

“Nih, kamu pegang hape kakak,” ucapku menyerahkannya handphoneku. Kini handphoneku ada padanya. Aku sebenarnya hanya ingin menyuruh dia memegangnya, tapi dia malah meneruskan mengambil foto-fotoku. Aku sih oke-oke saja. Eko kini berlagak layaknya fotografer seperti Dodi, tapi tentunya dia tidak pandai mengarahkan seperti Dodi. Jadi akulah yang harus inisiatif bergaya untuknya. Hasil fotonya juga tidak sebagus jika Dodi yang mengambilnya. Yah… namanya juga iseng-iseng. Eko masih harus banyak belajar.

Setelah mengambil banyak foto di dalam kamar, kami lanjut ke dalam kamar mandi. Di sini aku iseng mengambil sikat lantai dan membersihkan kamar mandi. Eko tidak melewatkan pemandangan ini. Dia terus mengambil gambarku. Aku betul-betul menyikat kamar mandi jadinya. Lama-lama capek juga. Aku jadi kepanasan dan keringatan karenanya.

“Haha, kok jadi acara foto-foto gini sih?”

“Gak tahu kak, hehehe”

Aku lalu mengambil gagang shower, menyalakan air dingin, kemudian menyiramkannya ke tubuhku. Terang saja pakaian yang ku kenakan jadi basah dibuatnya. Baik baju maupun celanaku jadi basah kuyub, begitupun jilbabku. Karena pakaianku ketat, otomatis baju kaosku jadi nyeplak di badanku. Tali braku jadi kelihatan jelas. Eko melongo menatapku. Pemandangan ini tentunya sangat seksi di mata remaja tanggung seperti dirinya. Aku membalas menatapnya sambil senyum-senyum. Seakan mempersilahkan bocah itu menikmati pemandangan yang sedang tersaji di depannya. Pemandangan yang saat ini khusus ku berikan untuk dirinya seorang.

Melihat Eko yang salah tingkah aku jadi semakin ingin untuk terus menggodanya. Aku kemudian mengelus-elus gagang shower tersebut. Mengocoknya naik turun dengan tanganku selagi shower tersebut membasahi bagian depan tubuhku. Eko tampak semakin tidak karuan saat aku mulai menjilati gagang shower. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang melihat tingkahku ini. Aku juga menyelipkan selang shower itu di antara pahaku. Kadang ku tarik-tarik sehingga selang itu bergesekan dengan pangkal pahaku.

“Kenapa Ko? Udah gak mau foto-foto lagi?” godaku. Dengan gagap dia coba menjepretku lagi. Dia terlihat tidak tenang karena menahan horni. Akupun juga demikian, pamer lekuk tubuh basah-basahan seperti ini saja membuatku amat terangsang. Aku senang oranglain menyukai dan memuji keindahan tubuhku.

“Kalau kamu udah capek letakkin aja hapenya dulu,” suruhku. Eko yang memang sudah tidak fokus memotret akhirnya meletakkan handphoneku. Ditaruhnya handphoneku di dekat wastafel. Tangannya yang tadi sibuk memegang handphoneku kini malah memegang penisnya.

Dia mulai mengocok penisnya sambil terus melihat diriku. Wajahnya mupeng berat. Aku persilahkan dia melihat diriku sepuas yang dia mau. Aku terus memainkan shower itu untuk menyenangkan matanya. Terus mengguyur tubuhku sambil memainkan gagang shower dengan tangan dan lidahku. Sesekali aku tersenyum manis ataupun tertawa kecil padanya, yang tentunya membuat birahinya semakin meluap-luap. Kocokan penisnya semakin cepat.

“Nih, mau pegangin showernya?” Aku menawarinya untuk memegang shower. Eko yang penasaran segera berhenti mengocok dan meraih gagang shower. Dia langsung mengarahkannya ke tubuhku, membuatku berteriak kecil “Ah… Eko…” Sekarang dia yang pegang kendali. Bebas menyemprotkan air ke tubuhku dari arah manapun. Bisa sesuka hatinya membuatku semakin basah. Aku masih terus memancingnya dengan sesekali tertawa kecil.

Aku betul-betul basah kuyup karena Eko. Kadang hingga gelagapan menerima guyuran darinya. Tapi dia justru semakin kesenangan. Aku sampai teriak-teriak minta berhenti dia masih saja asik menyiramku. Hingga akhirnya kemudian dia berhenti.

“Udah? Puas bikin kakak basah?” ucapku mencubit gemas hidungnya. Dia hanya cengengesan saja. Eko kini mengguyur tubuhnya sendiri.

“Naahh… iya, kamunya belum kena air dari tadi, hihihi”

“Hehehe, kakak sih…” balasnya, aku balas lagi dengan memeletkan lidah.

Sepertinya sudah cukup acara siram-siraman airnya. Waktunya buka baju, pikirku. Eko meskipun tidak berkata tapi ku yakin dia sudah menantikan untuk melihat aku bertelanjang bulat. Mungkin di dalam hatinya sudah berteriak-teriak ingin melihat aku bugil lagi.

Aku kemudian menuju bathtub dan masuk ke dalamnya. Aku aduk airnya agar busanya kembali melimpah. Eko tampak bertanya-tanya apa yang akan kulakukan. Aku senyum-senyum saja. Setelah busanya melimpah aku duduk berendam di dalamnya. Dengan gaya dan ekspresi nakal aku mulai membuka pakaianku. Dimulai dengan membuka celana panjang levisku. Cukup susah melepaskannya soalnya celananya jadi berat karena basah, apalagi dengan posisi duduk begini. Aku membuka celana dalamku sekalian. Sekarang bagian bawah tubuhku sudah polos, namun karena aku berendam di dalam bathtub yang penuh busa sabun maka Eko tidak bisa melihat ketelanjanganku.

“Hei, mandi sana… kok malah lihatin kakak sih?” godaku karena Eko berhenti menyiramkan air di tubuhnya. Dia sudah kembali mengocok-ngocok penisnya. Jelas dia sudah tak sabar melihat aku melepaskan baju, tapi aku malah bermain-main dulu dengan gelembung dan busa sabun. Setelah beberapa saat barulah aku lanjut melepaskan sisa pakaian yang masih menempel. Dimulai dengan membuka jilbabku, lalu dengan perlahan membuka baju kaos dan braku di dalam bathtub. Sekarang aku sudah telanjang bulat. Namun tetap seperti tadi, Eko tidak bisa melihat ketelanjanganku karena busa dan gelembung yang menutupi. Palingan hanya sebatas belahan dadaku saja yang bisa terlihat olehnya.

Ku ambil jilbab tadi dan kukenakan sembarang, sekedar menutupi rambut kepalaku saja. Aku kemudian bangkit berdiri, menunjukkan pada Eko kalau aku memang sudah beneran telanjang saat ini. Kedua tanganku kulipat di depan menutupi dadaku, namun daerah vaginaku ku biarkan tertutupi oleh busa sabun. Ketika busanya hampir menghilang aku buru-buru berendam lagi, sengaja menggoda bocah ini. Aku mengulanginya lagi. Kali ini aku membebaskan tanganku, membiarkan busa sabun yang menutupi buah dada dan vaginaku. Sama seperti tadi, ketika busanya akan menghilang aku buru-buru masuk lagi berendam. Lalu senyum-senyum menatap Eko yang geregetan dengan tingkahku.

“Hihihi, hampir aja kelihatan,” godaku. Eko masih asik mengocok penisnya. Kelakuanku yang berusaha menutup-nutupi sepertinya terlihat seksi di matanya. Bikin dia semakin gemas.

“Kenapa Ko? Mau sampai kapan di sana? Gak pengen gabung?” pancingku.

“i-iya, boleh kak?” tanyanya. Aku mengangguk. Tentu saja boleh, dan seharusnya dia tidak perlu bertanya lagi boleh atau tidak karena aku sendiri yang mempersilahkan. Dasar Eko. Bocah itu lalu menuju bathtub. Aku bergeser, melipat kakiku ketika Eko ikutan masuk. Sekarang kami berendam berdua. Eko tampak salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia sedang mupeng berat.

Aku berusaha santai meskipun sebenarnya sedang berdebar-debar sekarang. Ini pertama kalinya aku berendam dengan cowok, apalagi dalam satu bathtub yang sempit. Namun aku menyukainya. Suasana ini begitu erotis bagiku. Aku yang biasanya menikmati waktu mandi sendirian, kini sedang bersama dengan seorang bocah SMP yang sedang mupeng berat terhadapku. Seorang bocah yang bisa saja nekat memperkosaku jika tidak tahan.

“Kak…”

“Apa?”

“Aku senang bisa mandi bareng sama kakak”

“Kakak juga…”

Ku letakkan busa di tanganku dan kutiupkan kearahnya. Dia membalas dengan mencipratkan air ke arahku. Kamipun jadi perang air. Saling siram, sampai dorong-dorongan. Tertawa cekikikan bersama di tengah suasana mesum. Penisnya berkali-kali menyentuh tubuhku entah disengaja atau tidak. Kami bergelut di dalam bathtub seakan cuek dengan kondisi kami yang sama-sama sedang telanjang bulat. Padahal aku begitu berdebar-debar, dan aku yakin pikiran Eko juga sedang melayang-layang saat ini.

Setelah puas kami berhenti. Nafasku ngos-ngosan, begitupun dengan Eko. Kain jilbabku yang tadinya menutupi kepalaku kini entah kemana. Posisiku sekarang berada di pangkuan Eko karena yang terakhir tadi Eko menarikku ke sisinya. Dapat ku rasakan penis tegangnya mengganjal di belakangku. Eko mencium pipiku, aku balik mencium pipinya. Kami tertawa. Kemudian saling cium lagi. Lama-lama tangannya sudah mulai meraba-raba pahaku, bikin aku jadi horni saja.

“Hayo…. Mulai gerepe-gerepe…”

“Hehehe, gak boleh ya kak?” tanyanya. Aku jawab pertanyaannya dengan meletakkan tangannya di buah dadaku. Dia yang mengerti jadi cengengesan mesum.

“Ngmhh…” aku melenguh ketika Eko mulai meremas buah dadaku. Dia mainkan kedua buah dadaku sesuka hatinya dari belakang sambil sesekali menciumi leher dan pipiku. Kami juga saling mengecup bibir, berciuman berkali-kali sambil tangannya terus asik menggerepe-gerepe. Membayangkan penis tegangnya yang berada dekat dengan vaginaku juga semakin membuatku sange.

Saat tanganya mulai mengarah ke vaginaku akupun membiarkannya, tindakanku hanya merapatkan pahaku yang justru membuat tangannya terjepit di pangkal pahaku. Kini satu tangannya asik memainkan buah dadaku sedangkan satu tangannya asik membelai-belai kemaluanku. Aku betul-betul terangsang!

“Kalau ngentotin kakak boleh nggak? Hehe” tanya Eko. Haruskah??

Aku putar tubuhku menghadap ke arahnya. Remasan tangannya pada buah dadakupun jadi terlepas.

“Pengen?” tanyaku sambil melepaskan ikat rambutku, membiarkan rambut basahku kini tergerai.

“Iya kak, pengen,”

“……Hmm… Kamu itu masih kecil,” balasku. Tentunya bukan itu alasanku yang sebenarnya. Niatku selama ini cuma ingin berbagi keindahan tubuhku padanya. Aku masih belum kepikiran untuk benar-benar melepaskan keperawananku, berhubungan badan di luar nikah, dengan anak SMP pula. Terlalu jauh rasanya jika aku sampai melakukan itu. Pamer aurat dan membiarkan tubuhku dijamah seperti ini saja sudah sangat tidak pantas dilakukan olehku yang dari keluarga baik-baik ini.

“Gak boleh ya aku ngentotin kakak?” tanyanya lagi. Tampaknya dia ngebet sekali ingin menyetubuhiku. Tak tahukah dia betapa tidak pantasnya dia berhubungan badan denganku? Lagian kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Aku tidak mau. Belum, ataupun mungkin tidak akan. Entahlah, pokoknya belum kepikiran.

“Kamu coli aja ya… atau pura-pura nghmm ngentot aja” rasanya aneh sekali lidahku menyebut kata ‘itu.’

“Pura-pura ngentot?” Tapi Eko justru seperti sudah terbiasa berkata jorok begitu kepadaku.

“Iya… gesek-gesek seperti waktu itu aja… kalau itu boleh… kapanpun kamu mau boleh, dimanapun, atau selama apapun yang kamu mau, sepuas-puasnya kamu deh pokoknya… gimana?”

“Eh,i-iya deh kak…” jawabnya. Eko terlihat puas. Tentu saja dia harus puas. Itu sudah lebih dari cukup. Dia sangat beruntung bisa mendapatkannya dariku. Dia menang telak dari begitu banyaknya laki-laki yang ngejar-ngejar aku. Entah kenapa aku membiarkannya sejauh ini menikmati tubuhku.

Eko meremas-remas dadaku lagi. Dia juga kembali menciumi wajahku dan mengajakku berciuman. Aku hanya bisa mendesah-desah horni menerima perlakuannya. Aku biarkan dia melakukan apa yang disukainya, termasuk menjilati buah dadaku, mengulumnya dan memainkan puting buah dadaku dengan lidahnya. Bocah ini kalau sudah kelewat horni sudah gak malu-malu lagi.

Setelah beberapa saat Eko berhenti memainkan dadaku. Dia menatap mataku, seperti ingin meminta lebih. Aku tidak tahu harus berbuat apa, namun yang jelas aku juga horni. Aku ajak Eko keluar bathtub. Ku suruh dia berbaring, kemudian aku duduk di atas badannya, vaginaku tepat di atas penis tegangnya, lalu mulai menggoyangkan pinggulku. Vaginaku kini bergesekan dengan penisnya. Aku yang kesehariannya memakai pakaian sopan dan berjilbab, kini sedang sange berat asik saling menggesek kelamin dengan penis bocah SMP.

“Enak?”

“E-enak kak… e-enak bang-nget…” jawabnya terputus-putus saking mupengnya. “Kak Dira emang cewek idaman… Cantik, baik, kaya, terus seksi banget…” sambungnya sambil meremas-remas dadaku. Aku tersenyum. Aku suka mendengar pujiannya.

“Itu aja?”

“nghh… Pokoknya kak Dira sempurna banget deh… kalau pakai baju bikin jatuh cinta, kalau telanjang bikin horni dan jadi pengen entotin”

“Hihihi… belajar ngomong dari mana sih kamu?” Ucapku sambil menghentakkan pinggulku dengan kencang. Eko merintih sok kesakitan.

“Sakit kak…”

“Rasain… masih SMP udah bandel sih… hihihi”

Aku terus menggesekkan vaginaku ke penisnya. Sesekali agak kutekan, kadang ku percepat gerakanku, kadang ku perlambat. Kadang maju terlalu jauh hingga ke perut Eko, lalu mundur lagi hingga ke pahanya. Penisnya betul-betul merasakan nikmatnya bergesekan dengan selangkanganku.

Apa kata orang-orang? Apa kata teman-temanku? Apa kata orangtuaku jika melihat kelakuanku ini? Semakin sering aku membayangkan betapa kontrasnya kelakuanku sekarang dengan kebiasaanku sehari-hari jika di luar rumah, semakin terangsang pula aku jadinya. Aku horni berat. Terus mendesah-desah dari tadi. Bisa-bisa nanti akulah yang memohon disetubuhi oleh bocah ini.

Eko yang asik menerima gesekan vaginaku di penisnya juga ikut menggoyangkan pinggulnya. Tapi lama-lama dia jadi capek sendiri sehingga kembali aku sendiri yang menggesek.

“Kak… pengen muncrat…” ucapnya beberapa lama kemudian.

“Keluarin aja… gak apa”

Aku terus menggesek meskipun tahu Eko akan segera muncrat. Tidak beranjak meskipun tahu dia akan segera mengotori vaginaku dengan spermanya. Goyanganku justru semakin cepat seperti ingin memancing spermanya untuk segera keluar. Ku tekan-tekan vaginaku dengan kuat seakan ingin kelamin kami menempel. Seakan ingin penisnya benar-benar masuk di vaginaku.

“Kak… muncraaaaat”

Crooott…crrrooottt…

Eko akhirnya muncrat, muncrat dengan banyaknya berkali-kali. Ujung penisnya tertutup sepenuhnya oleh permukaaan vaginaku membuat tak sedikitpun spermanya yang muncrat mengenai perutnya. Spermanya tumpah berserakan di permukaan vaginaku. Selangkanganku belepotan air maninya. Betul-betul selangkanganku yang menjadi sasaran tembak spermanya kali ini.

Setelah dia muncrat aku juga merasakan sesuatu yang nikmat. Tubuhku kejang seperti kesetrum. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini. Aku langsung rebah di badannya. Rasanya lemas sekali, namun nikmat sekali.

“Banyak banget Ko… nakal kamu…”

“Hehehe”

“Gara-gara kamu… terpaksa deh kakak mandi sekali lagi…” bisikku lirih.

“Aku temanin deh kak…” balasnya. Aku tertawa. Kami tertawa.

Aku dan Eko terpaksa mandi lagi setelah itu. Kali ini aku benar-benar mandi untuk membersihkan diri, terutama membersihkan area kewanitaanku. Tapi aku juga sedikit menggodanya dengan memintanya menyabuniku. Aku juga balas menyabuninya. Setelah itu kami bilas lalu handukan.

Mandi berdua…? Ternyata asik juga. Sepertinya setelah ini kalau ada kesempatan kami akan terus mandi berdua.

 

***

“Kamu gak pakai baju?”

“Nggak…”

“Hihihi… kamunya ikut-ikutan ih…”

Dasar Eko, dianya ikut gak pakai baju setelah kami mandi menjelang dia pulang magrib nanti. Kamipun beraktifitas di rumah tanpa mengenakan pakaian. Geli banget melihat bocah dekil sepertinya keluyuran di dalam rumahku. Kalau aku yang keluyuran di dalam rumah tanpa pakai baju sih pasti bikin mata segar, hihihi.

 

****

“Aku pulang dulu ya kak…” pamit Eko ketika sudah waktunya pulang.

“Iya… Hati-hati di jalan yah…” ucapku. Aku berdiri di belakang pintu, menyembunyikan tubuhku yang masih telanjang bulat, hanya kepalaku saja yang menoleh keluar. Dia menggapai tanganku dan mencium telapak tanganku.

“Buruan sana pulaaang… lama-lama ketahuan tetangga nih kalau kakak belum pakai baju” ucapku.

“Emang kakak nanti pakai baju?” godanya.

Aku cuma tersenyum, lalu memeletkan lidah padanya. Tentunya dia sudah mengerti, kami sama-sama tahu, kalau aku tidak akan berpakaian sepanjang malam nanti.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Article Name
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Description
cerita dewasa bergenre "kakak-adik" ini adalah hasil karya agan bramloser dari forum semprot. tokoh utamanya adalah seorang jilbaber yg suka eksibisionis (eksib). manis & menggoda, selamat membaca!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo