loading...

Dodi ingin Eko ikut kali ini. Dimana bocah itulah yang akan menelanjangiku. Dia ingin aku dan Eko mesra-mesraan di atas kasur itu. Hal tersebut mungkin sudah biasa kami lakukan saat tidur bersama, tapi bedanya kali ini kami melakukannya di depan oranglain dan akan terus diambil fotonya.

“Yuk Ko… kamu dengar tuh, kamu telanjangi kakak,” ucapku pada Eko.

“Eh, i-iya kak..”

Dodi segera menyuruh kami mulai. Eko mendekat dan mulai memeluk serta menciumiku. Dengan perlahan dia buka kancing kemejaku satu persatu hingga kemeja itu terlepas dari tubuhku, lalu membantu menurunkan celana panjangku juga melepas jilbabku. Selama kami melakukannya, Dodi terus memotret kami dan memberi arahan. Mengitari kami untuk mendapatkan sudut yang pas. Dia meminta kami agar tidak usah menghiraukannya dan mengganggap tidak ada kamera. Jadi kayak foto candid gitu. Kamipun mengikuti intruksinya tanpa harus menjawab ataupun mengangguk.

“Dira, kamu buka ikat rambutmu, terus kibaskan rambutmu ke wajah Eko.. Sip”

“Eko, sekarang kamu bantu lepaskan branya Dira… Sip bagus…”

“Sekarang Dira cuma pakai celana dalam. Kamu peluk Dira dulu, terus cium pipinya… Oke… mantap,” ujar Dodi terus mengarahkan. Kami mengikutnya. Baik aku maupun Eko sama-sama sedang terbakar nafsunya saat ini. Aku dapat merasakan nafas Eko yang ngos-ngosan. Aku yakin Dodi juga begitu sekarang meskipun dia terus sibuk dengan kameranya.

“Eko, sebelum lepaskan celana dalam Dira, Kamu buka baju dulu sampai telanjang ya… Dira, tolong bantu Eko, baguuus”

“Oke, Eko sudah bugil, sekarang Diranya yang ditelanjangi. Eko, sekarang kamu lepasin celananya Dira… Dira, jangan langsung pasrah ya celanamu ditarik, kamu tahan-tahan dulu biar makin menggoda… Oke sempurna!” Akupun kini telanjang bulat.

“Yak kita istirahat dulu… kalian keringatan banget kayaknya, hehe” seru Dodi kemudian.

“Panas tau… iya kan Ko?” balasku.

“Iya kak, panas”

“Haha… Gak apalah, yang penting hasilnya mantap” ujar Dodi sambil memeriksa hasil fotonya.

“Ko, tolong ambilkan kakak minum dong… haus,” pintaku pada Eko yang langsung diturutinya. Aku masih tidak beranjak dari kasur itu. Setelah memberiku minuman Eko juga ikut duduk di sebelahku. Kami ngobrol dan juga bercanda. Sesekali Dodi iseng mengambil gambar aku dan Eko. Beberapa saat kemudian acara kembali dilanjutkan.

“Yuk lanjut lagi…” ujar Dodi.

“Selanjutnya apa?” tanyaku.

“Ya kalian mesra-mesraan gitu… kan katanya kalian sering tidur telanjang berdua, praktekin aja. Nanti kalau ada yang perlu diarahkan bakal aku arahkan” terangnya.

“Yuk Kak…” ajak Eko semangat.

“Ih kamu Ko,” Aku mengacak rambut Eko gemas.

Sesuai perintah Dodi, kamipun lanjut mesra-mesraan dengan kondisi sama-sama telanjang bulat.

“Yuk Ko,” ajakku. Eko kemudian mendekat dan memelukku. Cahaya lampu blitz kembali menyambar-nyambar kami seiring dengan bibir Eko yang mulai menciumi wajahku. Tapi aku tidak menyangka kalau dia berani mencium bibirku. Aku juga balas menciumnya. Beberapa saat kemudian aku berbaring, Eko naik ke atas tubuhku dan kembali memelukku. Tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang bocah ini. Dia kembali menciumi wajah dan bibirku. Aku dapat meraskan penis tegangnya menempel di perutku, tak begitu jauh dari vaginaku. Ah… bocah ini tampaknya sedang horni berat, nafasnya putus-putus.

“Cut!” Seru Dodi. Aku dan Eko berhenti dan menoleh ke arah fotografer kami itu. “Jangan cuma dipeluk dong… gerepe-gerepe aja Dira. Gak apa kan Ra?”

“Eh, iyaah, gak apa…” jawabku pelan. Eko menatapku seperti meminta persetujuan dariku, “Tuh dengar Ko… gerepe aja, gak apa kok” ucapku padanya. Mendengar ucapanku Ekopun seperti makin terlecut birahinya.

“Oke, sekarang lanjut lagi ya… Mulai!”

Eko kembali menciumi wajahku, namun tangannya kini tak lagi sekedar diam memeluk, tapi bergeriliya meraba-raba mulusnya kulitku. Baik leher, bahu, pundak dan juga tanganku.

“Yuk Eko, remas susunya Dira…” suruh Dodi. Ekopun menuruti. Dia tentunya tidak sabar untuk melakukannya, selama ini dia belum pernah merasakannya meski sudah sering melihat aku telanjang. Buah dadakupun digapainya, dielus dan dimainkannya dengan tangannya. Rasanya ternyata sungguh nikmat ketika bagian sensitif tubuhku itu disentuh oleh laki-laki, beda sekali ketika aku yang menyentuhnya sendiri. Aku terus mendesah selama Eko menghujaniku dengan ciuman dan remasan.

Dodi juga menyuruh Eko mengemut buah dadaku. Bocah itupun dengan senang hati kembali menuruti omongan Dodi. Dia menurunkan posisi tubuhnya sehingga kini kepalanya berada di depan buah dadaku. Dengan penuh nafsu dia jilati dan dia mainkan buah dadaku dengan mulutnya. Sungguh beruntung bocah itu bisa menikmati tubuhku seperti ini. Perlakuannya pada tubuhku membuat aku semakin sange. Tanganku meremas kasur menahan horni. Penisnya sekarang berada antara pangkal pahaku. Eko yang semakin hornipun membuat gerakan menggesek di sana. Tubuhnya naik turun bergesekan dengan tubuhku seperti sterikaan.

Di samping kami, Dodi terus saja asik mengabadikan momen keintiman yang sangat ganjil ini. Pemandangan yang begitu panas antara seorang mahasiswi cantik sepertiku dengan seorang bocah SMP dekil ini tak henti-hentinya ditangkap oleh lensa kamera. Dodi terus mengambil fotoku, dan Eko terus menikmati tubuhku. Mereka berdua seperti tidak ada puasnya. Namun aku baru sadar kalau ternyata di dekat kami juga terdapat handycam yang menyala menyorot ke arah aku dan Eko.

“Eh, ini juga kamu rekam ya?” tanyaku merasa terusik, tapi tampaknya tidak bagi Eko. Dia masih terus menikmati buah dadaku dan menggesekkan penisnya di pangkal selangkanganku, tidak menoleh sama sekali dari dadaku.

“Iya… gak apa kan Ra?”

“Gak apa sih, yang penting kamu jaga videonya baik-baik”

“Iyaa… Aman deh pokoknya…”

Aku percaya saja kalau dia bisa menjaga foto-foto dan rekaman diriku dengan baik. Kalau tersebar entah apa yang terjadi. Apalagi kalau sampai ketahuan oleh teman-temanku, khususnya keluargaku. Aku yang kesehariannya berjilbab, sekarang sedang difoto bahkan direkam sedang berbuat mesum dengan bocah SMP tentunya tidak pernah terbayangkan oleh mereka.

“Oke… Ko, stop dulu… ganti posisinya” seru Dodi, tapi Eko tidak langsung berhenti. Setelah aku ikut menyuruh Eko berhenti barulah bocah itu menaikkan kepalanya yang sedari tadi terbenam di buah dadaku. Dia hanya cengengesan. Aku cubit gemas hidungnya.

“Haha, kenapa Ko? Dira cantik banget ya? Kamu nafsu berat ya sama dia? hehe” goda Dodi pada bocah itu.

“Iya”

“Pengen kamu entotin?”

“Pengen” jawab Eko polos.

“Hush!!” Aku langsung menepuk tubuh Eko. “Gak boleh!”

Dodi tertawa mendengarnya. Bocah itu sendiri cuma bisa garuk-garuk kepala.

“Tanya dong kakakmu itu udah pernah ngentot belum” Dodi terus memancing Eko. Aku menatap kesal pada pemuda itu karena menyuruh Eko nanya begituan. Ekopun dengan polosnya mengikuti perkataan Dodi.

“Kakak udah pernah ngentot?”

“Belum…” jawabku singkat.

“Ajak dong ngentot” Dodi tak henti-hentinya menyuruh Eko menanyakan pertanyaan vulgar.

“Apa sih Dod…” ucapku sebal.

“Bercanda kok Ra, jangan marah dong…” balas Dodi, tapi Eko sudah terlanjur mengucapkan pertanyaan itu.

“Kak Diraaa… Kita ngentot yuk kak,” ajak Eko kemudian. Sebuah ajakan yang terdengar kurang ajar. Ajakan yang seharusnya sangat tidak pantas diucapkan oleh bocah dekil di bawah umur seperti dia kepada gadis sepertiku.

“Kamu mau ngajakin kakak ML? Emang kamu ngerti? Udah pernah emangnya?” Balasku yang justru tertawa kecil sambil mencubit hidungnya.

“Belum pernah sih…” jawab Eko cengengesan. “Tapi aku pengen banget ngentot sama kak Dira,” sambung Eko lagi yang semakin lancang omongannya. Dodi makin tertawa terbahak.

“Aku pengen banget masukin kontol aku ke memek kak Dira, terus aku genjot kencang-kencang.. Pasti rasanya enak banget,” ucapnya lagi yang semakin menjadi-jadi. Dia bahkan menggesekkan penisnya maju mundur di pangkal pahaku menirukan gerakan orang bersetubuh.

“Emang kenapa sih kamu ngebet banget pengen ngentotin kakak?” ucapku meladeni omongan vulgarnya.

“Soalnya kak Dira nafsuin. Kak Dira cewek tercantik dan terseksi yang pernah aku temuin”

“Hihihi, bisa ngegombal juga kamu. Tapi kamu itu masih SMP”

“Emang kenapa kak kalau aku masih SMP? Gak boleh yah anak SMP ngentotin cewek kuliahan?”

Aku tidak menjawab dan hanya senyum-senyum saja. Aku sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa. Eko tampaknya berharap sekali ingin bisa menyetubuhiku.

“Teman-teman aku aja udah ada yang pernah ngentot,” ujar Eko lagi.

“Hah? Masa?”

“Iya, tapi yang pasti gak dengan cewek kuliahan yang cantik dan tajir kayak kak Dira, hehe,” balasnya. Dasar bocah ini.

“Pokoknya gak boleh… Jangan yah Eko sayang…”

Aku tentunya tidak ingin kalau sampai terjadi ML. Belum terpikirkan olehku untuk sampai melakukan itu dan melepaskan keperawananku. Apa kata orangtuaku nanti kalau mereka tahu kelakuan anak gadisnya ini. Pamer aurat dan membiarkan tubuhku dijamah seperti ini saja sudah melenceng banget dari bimbingan orangtuaku, apalagi kalau aku sampai berhubungan badan di luar nikah, dengan bocah SMP pula, bahkan sambil direkam pula.

Namun Dodi sepertinya ingin sekali mengambil adegan aku yang sedang bersetubuh. Dia ingin pertunjukan terus berlanjut. Diapun meminta aku dan Eko lanjut beradegan yang lebih intim, menirukan adegan orang yang sedang bersetubuh. Tapi tentunya kami tidak benar-benar melakukannya. Dia akan mengambil gambar dari sudut-sudut tertentu sehingga aku akan kelihatan seperti benar-benar sedang dientotin bocah ini.

“Gimana Dira? Gak apa kan kalau gitu?” tanya Dodi meminta persetujuan dariku.

“Iyaah, gak apa deh kalau kayak gitu” jawabku.

Sesi pemotretan kini berlanjut menjadi semakin intim.

“Dira… kamu nungging ya… ceritanya kamu dientotin dari belakang. Eko, kamu minggir dulu” Dodi mulai memberikan arahannya. Eko yang sedari tadi menindih tubuhku akhirnya bangkit untuk membiarkan aku merubah posisi. Kuputar badanku, kedua tangan dan lututku kini menopang tubuhku. Bagian belakang tubuhku kini terlihat jelas. Baik oleh mata bocah ini, mata Dodi, maupun lensa kamera.

“Eko… sekarang pegang pantat Dira…” Seru Dodi. Eko kemudian mendekat, aku menoleh ke belakang melihat bagaimana ekspresi wajah bocah itu. Eko melongo menahan nafsu seiring tangannya yang mencoba menggapai bongkah pantatku. Tangan bocah itu akhirnya mendarat di sana.

“Satu.. dua.. tiga! Mantap.. Dielus terus ya… kita bakal ambil gambar yang banyak…”

Eko lanjut mengelus. Bocah itu tampak sangat menyukai apa yang sedang dia lakukan. Semakin lama usapannyapun semakin kencang dan telah menjadi remasan-remasan. Saat kemudian disuruh mencium pantatku, Ekopun menurutinya. Begitupun ketika dia disuruh menampar pantatku.

“Ayo dong Eko… tampar lebih keras,” suruh Dodi karena tamparan Eko barusan memang begitu pelan. Ekopun menampar sekali lagi.

‘PLAAK!’

“SShhh….” Aku mendesah kesakitan. Tamparannya yang barusan cukup keras. Dia kemudian terus menampar pantatku, berkali-kali, semakin lama semakin cepat dan juga semakin keras. Sesuai dengan arahan yang terus diberikan Eko.

‘PLAK’

“Sshhh…. Ngghh”

‘PLAAKKK’

“Nghhh”

Hanya ada suara tamparan dan desahanku saja yang terdengar di kamar itu, ditemani dengan kilatan lampu yang terus menyambar. Eko keasikan sampai lupa diri. Ya, lupa diri. Karena memang tidak sepantasnyalah bocah kampungan seperti dia melakukan hal seperti ini terhadapku. Eko tampaknya ketagihan. Dia seperti menemukan mainan baru. Dari tadi dia terus meremas dan menampar pantatku seperti tidak ada bosannya. Aku yakin pantatku sudah sangat merah sekarang. Aku sendiri menikmati perlakuannya. Meskipun terasa perih, tapi aku juga merasa enak dan semakin horni dibuatnya.

‘PlAAKK’ sebuah tamparan yang paling keras dari sebelum-sebelumnya akhirnya mendarat di pantatku. Membuatku meringis kesakitan dan mengaduh kencang. Mendengar aku yang kesakitan akhirnya membuat Eko berhenti.

“Sakit Ra?” tanya Dodi menggodaku.

“Iyaaaah…. aku salah apa sih ke dia ditamparin terus” ucapku pura-pura kesal melirik ke arah Eko.

“Ma-maaf kak…” ucap Eko yang ku balas dengan senyuman. Kami kemudian masih terus melanjutkan adegan ini. Namun kali ini tangan Eko selang-seling antara remasan, elusan dan tamparan yang keras maupun pelan. Sambil tangannya memainkan pantatku, Dodi juga menyuruh Eko menciumku dari belakang. Tubuhku jadi harus menahan berat badan Eko. Dengan posisi seperti itu membuat penis bocah itu jadi menempel dengan belahan pantatku.

“Oke, sekarang kamu selipin burungmu di antara paha Dira…”

“Benar begitu. Nah, sekarang pegang pinggul Dira, terus goyangin pinggulmu, gesekin burungmu di sela paha Dira”

“Mantap! Dira nya kayak dientot beneran, hehe”

Dodi terus mengambil foto kami sambil terus memberikan arahan. Tidak selalu foto candid, sesekali Dodi juga meminta kami menatap ke arah kamera.

“Eko… Pegang susunya Dira”

“Sekarang remas-remas… mantap… sekarang kalian berdua ngadep ke kamera… Dira, senyum yang manis ya… Eko, kamu terus aja menggesek.. Siap… satu.. duaa.. tiga! Sip!”

Ah… suasana yang begitu intim seperti ini membuat aku horni berat! Gesekan penis Eko di pangkal pahaku, serta remasan tangannya yang liar di bagian sensitif tubuhku semakin membuat aku terbuai. Tampak Eko juga merasakan hal yang sama. Kami berdua terbakar nafsu hingga kami berdua bermandikan keringat. Adegan pura-pura bersetubuh ini merupakan adegan terlama yang pernah ku lakukan. Dodi masih terus mengambil gambar kami seperti tidak ada bosannya. Aku kadang tidak selalu menungging, ada juga dengan posisi berlutut sambil aku berciuman dengan Eko yang terus menggesekkan penisnya dari belakang dan tangannya meremas buah dadaku. Begitu erotis bukan?

“Ahhh.. Ahhh… ahh….” Aku mendesah-desah karena merasakan sensasi yang begitu nikmatnya. Aku horni berat. Begitu horni. Aku sudah benar-benar basah. Tanganku sampai tidak sanggup menahan berat badanku.

Namun sepertinya tidak akan lama lagi, tampaknya Eko sudah ingin keluar. Dia sepertinya sudah mati-matian menahan laju spermanya dari tadi. Goyangan pinggulnya semakin cepat. Penisnya dengan beringas menggesek di jepitan pangkal pahaku. Dodi kemudian buru-buru memberikan perintah selanjutnya.

“Eko, tumpahin spermamu di muka Dira…”

Aku terkejut mendengarnya, namun aku tidak menolaknya. Malah langsung memutar tubuhku ke hadapan Eko. Bersiap menjadikan wajahku sebagai nampan sperma bocah ini.

“Kak Diraaaa….” Eko melenguh kencang.

‘Crrrooott… crrrroooottt….’

Sesaat kemudian cairan putih kental mulai menghujani wajahku. Begitu banyak, bertubi-tubi menerpa kulit mukaku. Eko melepaskan semua beban birahi yang ditahan-tahannya sedari tadi di atas wajahku. Membuang semua isi kantong zakarnya dan memindahkannya ke tempat yang tak semestinya menjadi kanvas spermanya.

“Ngghhh… Eko… banyak bangeeeeet… bauuu” Aku merengek manja. Aku memang tidak sembarang bicara, sperma bocah itu memang sungguh banyak dan juga begitu bau. Aku juga kesusahan membuka mataku karena ketutupan spermanya yang kental. Eko tidak merespon, dia masih ngos-ngosan merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Sungguh beruntung bocah ini. Dia telah banyak mendapatkan apa yang tidak mungkin orang lain bisa dapatkan dariku.

“Waaahhh… gila… aku gak nyangka bisa melihat wajah kamu belepotan peju kayak gitu, haha” ujar Dodi, aku hanya balas tersenyum kepadanya. Akupun juga tidak mengira hal ini akan terjadi. Hal yang barusan terjadi sungguh gila. Gadis cantik perawan dan berjilbab sepertiku baru saja membiarkan wajahku diceceri sperma langsung dari penisnya. Aku benar-benar nekat melakukannya hingga sejauh ini.

Dodi tidak menyia-nyiakan pemandangan yang tersaji. Pemandangan yang tentunya begitu sayang dilewatkan untuk diabadikan. Dia memintaku menatap kamera untuk diambil fotoku. Dengan wajah masih belepotan sperma akupun memenuhi keinginannya dengan tersenyum manis serta berekspresi imut di depan lensa.

“Cantik banget Din, seksi abis…”

Foto-foto inipun menjadi penutup yang sempurna pada sesi pemotretan hari ini.

“Oke… cukup untuk hari ini. Kamu keren banget Dira…

“Makasih…” balasku. “Enak yah kamu bisa pejuin muka kakak” godaku melirik Eko, dia hanya cengengesan saja. Dasar dia ini.

Aku kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dari cermin yang ada di sana tampak begitu berantakannya diriku. Badanku mengkilap penuh keringat. Rambutku juga becek karena keringat. Mukaku memerah karena kepanasan ditambah dengan ceceran sperma yang begitu banyaknya. Pokoknya kacau banget, tapi kayaknya memang seksi seperti yang mereka bilang, hihi.

Aku sebenarnya ingin mandi, tapi tidak banyak air di sini, jadi aku hanya bisa membersihkan wajahku saja, badanku masih keringatan. Setelah itu kamipun beres-beres untuk pulang. Sambil beres-beres, aku menyempatkan untuk melihat seluruh hasil fotoku barusan. Perbandingan foto pada bagian awal pemotretan dengan bagian akhir terlihat begitu kontras. Sesi foto kali ini mungkin yang paling jelas terlihat ketimpangannya. Yang mana di bagian awal merupakan foto-fotoku menggunakan pakaian tertutup dan berjilbab, namun di bagian akhir merupakan foto-foto diriku yang terlihat seperti sedang melakukan hubungan badan dan wajahku yang dikotori sperma.

Ini pengalamanku yang pertama difoto seperti itu, yang pasti tidak akan jadi yang terakhir.

Kami kini malah asik membahas hasil foto-foto tadi. Dodi dan Eko mengomentari betapa cantik dan seksinya aku di foto sambil sesekali becanda vulgar. Saat sedang asik ngobrol, tiba-tiba ada panggilan masuk ke hapeku. Dari Mama, sepertinya dia sedang kangen anak gadisnya. Untungnya dia tidak tahu kalau anak gadisnya ini baru saja difoto bugil, bahkan dipejuin, hihi.

“Halo Ma… iya… aku udah pulang kuliah kok, udah…. Mama gimana kabarnya? Dira baik juga Ma,” sapaku ramah sambil berjalan menjauh dari Eko dan Dodi. Aku tidak ingin mama mendengar obrolan mereka berdua yang masih terus membahas foto-foto diriku.

Aku dan Mama memang sering komunikasi. Kadang aku yang telepon duluan, kadang Mama. Tentunya dengan Papa juga sering. Seperti biasa, mama selalu menanyai bagaimana kabarku. Apa semua baik-baik saja. Apa kuliahku lancar dan sebagainya. Lalu seperti biasa akan berlanjut dengan ceramah nasihat-nasihatnya. Cukup lama. Hingga kemudian aku mendengar hal yang membuat aku terkejut. Mama bilang kalau dia dan Papa sudah punya calon suami yang pas untukku. Mama memintaku untuk menikah saja setelah kuliah.

Apaan sih! Tentu saja aku langsung memprotes. Aku belum ingin menikah. Aku bilang kalau aku ingin berkerja dulu, atau mungkin lanjut ambil S2 dulu, dan yang paling penting kalau aku masih ingin main sama teman-teman. Kami berdebat jadinya. Namun aku tidak ingin membahas hal ini sekarang. Aku tutup teleponku karena sebal.

“Siapa kak?” Tanya Eko saat aku kembali.

“Biasa… Mama”

“Owh… Kok kayaknya kakak kesal gitu, kenapa?”

“Gak papa kok…” jawabku. Aku tidak ingin memikirkan obrolanku dengan Mama tadi sekarang, apalagi membahasnya. Aku capek dan ingin pulang.

“Ko… kamu keringatan banget”

“Kakak juga…”

Aku kemudian mendekatkan bibirku ke telinga Eko, lalu berbisik lirih padanya.

“Ntar kalau udah sampai rumah, kita mandi bareng yuk… mau?”

“Mau!” seru Eko yang malah menjawab dengan keras karena kegirangan, membuat Dodi melirik ke arah kami.

“Ada apa sih?”

“Hihihi… Ada deh, mau tau aja!”

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Article Name
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Description
cerita dewasa bergenre "kakak-adik" ini adalah hasil karya agan bramloser dari forum semprot. tokoh utamanya adalah seorang jilbaber yg suka eksibisionis (eksib). manis & menggoda, selamat membaca!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo