loading...

Aku bisa merasakan kalau hasrat bocah itu hari demi hari justru semakin menggebu-gebu. Eko pastinya sudah sangat berharap untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dariku. Namun sampai saat ini, aku hanya membiarkan Eko memelukku, menciumku, dan paling jauh mempersilahkannya menggesekkan penisnya di pahaku bila kami sedang tidur bareng. Tentunya itu sudah bisa dikatakan sangat beruntung.

Orang-orang tentunya tidak pernah membayangkan kalau kelakuanku di rumah seperti itu. Mereka tahunya kalau aku gadis baik-baik yang tidak akan pernah khilaf menunjukkan auratku sembarangan kepada cowok. Seharusnya sih aku memang seperti itu, namun ternyata berbuat ‘sedikit’ khilaf itu menyenangkan, hihi.

Hari ini sepulang dari kampus, aku tidak langsung pulang dari rumah. Aku ingin ke pasar untuk membeli buah-buahan. Dari pada membelinya di mall, aku lebih suka membeli buah-buahan di pasar. Karena menurutku lebih terjamin, lagian harganya jauh lebih murah dan bisa ditawar. Pakaianku saat ini tentunya pakaian yang tertutup seperti hari-hari biasanya aku keluar rumah. Kemeja lengan panjang, celana jeans, dengan atasan jilbab. Gak mungkin kan aku telanjang bulat ke pasar.

Entah hanya perasaanku, tapi sepertinya ada yang mengikutiku. Oh! apakah itu stalker yang biasa mengikutiku? Risih memang, tapi karena sudah terbiasa, maka akupun berlagak cuek saja. Aku heran, masih saja ada orang seperti itu di zaman sekarang yang mana stalking bisa dilakukan pakai media sosial. Dia juga bukan stalker yang pintar karena aku menyadari keberadaannya.

Saat berada di parkiran ketika akan pulang. Tiba-tiba ada yang menghampiriku. Astaga, dia stalker itu! Setelah sekian lama akhirnya dia berani juga muncul di hadapanku. Aku sebenarnya ingin memarahinya karena sudah diam-diam stalker-in aku selama ini, tapi sepertinya dia tidak bermaksud jahat, akupun menahan diri.

Diapun mengenalkan dirinya. Dodi namanya, seorang pemuda culun yang mengaku baru saja lulus kuliah. Dia ternyata alumni dari kampusku, jurusan komputer. Sudah lama dia memperhatikanku, dia bilang kalau dia menyukaiku dan mengagumiku. Senangnya punya fans, hihihi. Dia mengaku terobsesi denganku dan ingin menjadikan aku modelnya, namun tidak berani ngomong langsung padaku. Maka diapun mengikutiku diam-diam dan mengambil fotoku. Tidak hanya stalker, tapi dia juga paparazzi!

Hingga akhirnya dia kini berani juga mengenalkan dirinya padaku. Dia memintaku menjadi model pemotretannya. Dia akan membayarku jika aku mau menjadi modelnya.

“Aku jadi model kamu? Temanya apa nih?” aku tertarik juga mendengar tawarannya. Lumayan untuk mengisi waktu dan nambah pemasukan, pikirku. Dia jawab kalau dia ingin pemotretan bertema erotis. Aku langsung keberatan mendengarnya. Aku tidak berniat menunjukkan auratku pada pria lain, cukup Eko saja. Lagian aku takut terjadi apa-apa kalau foto-foto erotisku sampai tersebar. Akupun menolaknya.

“Baiklah, tidak usah tema erotis kalau gitu. Yang penting kamu mau jadi modelku dan aku bisa dapetin foto-foto kamu,” ujarnya. Aku berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui tawarannya. Aku meminta padanya kalau aku ingin tetap memakai pakaian yang tertutup selama pemotretan. Dia setuju. Kami sepakat. Diapun memberiku alamatnya dan memintaku untuk datang ke sana besok.

“Hmm… besok yah?” Gumamku, bukannya tidak mau, tapi rasanya terlalu mendadak.

“Kenapa? Kamu gak bisa? Kalau kamu gak bisa besok gak apa…”

“Eh, nggak kok… aku bisa kok… ya sudah… aku ke sana besok”

Meskipun mendadak tapi gak apa deh.

“Sip, aku tunggu… dandan yang cantik yah… hehe,” ucapnya kemudian pamit.

Akupun memberitahu Eko apa yang baru saja terjadi. Dia tampaknya senang-senang saja aku jadi model. Dia mendukungku. Akupun semakin yakin jadinya. Besoknya sepulang kuliah akupun menuju ke alamat yang diberikan Dodi. Mungkin aku tergolong nekat langsung menuruti keinginan orang yang baru saja aku kenal, tapi aku percaya padanya. Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Kalau aku tidak nyaman akan kutinggalkan. Simpel saja.

Alamat yang diberikannya tidak jauh dari kampusku. Rumahnya cukup bagus. Sepertinya dia anak orang kaya. Aku langsung diajak ke suatu ruangan. Ada spot khusus yang sepertinya sudah dipersiapkan untuk sesi pemotretan nanti. Peralatan fotografi yang dimilikinya cukup lengkap dan sudah seperti profesional. Mulai dari kamera, lampu dan alat-alat pendukung lainnya semua ada.

“Maaf ya Dira udah repot-repot datang ke sini,” ucap Dodi sambil mengecek peralatan.

“Gak apa kok… Terus gimana? Langsung mulai?” tanyaku.

“Iya, kita langsung mulai saja, tapi kalau kamu mau membetulkan dandananmu dulu juga boleh”

“Oh, oke

Akupun membetulkan dandananku dulu. Sekedar berbedak sedikit saja dan merapikan pakaianku. Busana yang aku gunakan di pemotretan ini masih sama dengan yang aku gunakan waktu kuliah barusan. Kemeja kotak-kotak dominan merah, levis hitam, dan jilbab merah muda.

Setelah selesai membetulkan dandananku, Dodi mulai mengarahkan aku untuk berpose sesuai yang diinginkannya, baik dari ekspresi wajah maupun anggota tubuh. Aku turuti semua yang dimintanya, namun kadang aku sedikit berimprovisasi. Aku berusaha melakukannya dengan maksimal dan sebaik mungkin.

“Oke, siap… satu, dua, tiga! Lagi..lagi.. mantap..” serunya sambil terus memujiku. Kilatan lampu blitz bertubi-tubi memapar tubuhku. Ini menyenangkan. Sungguh menyenangkan. Ada kepuasan yang kurasakan ketika foto diriku diambil secara profesional seperti ini.

“Kamu fotogenik banget… Udah sering ikut pemotretan ya?” Tanyanya sambil melihat hasil foto.

“Gak kok, baru kali ini ikut beginian”

“Kayaknya kamu berbakat deh… sayang kalau disia-siakan” pujinya lagi, membuatku tersipu malu dan merasa bangga. Dodipun lanjut mengambil fotoku.

Acara pemotretannya tak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam. Foto-fotoku yang diambilnya terlihat bagus. Aku terlihat cantik sekali di sana, jadi ku minta softcopynya. Lumayan untuk ku masukkan di akun media sosialku. Sebelum pulang Dodi memberiku 200 ribu rupiah, untuk uang bensin katanya. Sejak saat itu, beberapa hari sekali akupun akan menjadi model untuknya. Dia tampaknya sangat bersemangat untuk terus membidikkan kameranya ke arahku. Akupun juga mendapatkan kesenangan, apalagi dapat tambahan uang jajan juga. Aku ketagihan dengan kegiatan baruku ini.

Hari demi hari berlalu. Mungkin sudah ratusan foto diriku yang diambil. Kadang aku membawa kostum tambahan dari rumah. Tentunya semuanya busana yang tertutup dan selalu dilengkapi dengan jilbab. Atasannya bisa berupa kemeja ataupun kaos lengan panjang, dengan bawahan celana panjang levis, jeans, ataupun rok panjang. Pernah juga aku menggunakan dress maupun gamis.

Tapi sepertinya belakangan ini pakaian yang ku pilih sedikit lebih ketat baik atasannya maupun bawahannya. Dodipun memuji betapa indahnya lekuk tubuhku. Puji-pujian darinya membuatku jadi semakin bersemangat dan semakin ingin pamer tubuh. Pose-pose yang diarahkan Dodi padaku makin lama juga semakin menantang saja. Tidak lagi hanya sekedar berdiri atau duduk tersenyum. Sekarang… aku justru ingin difoto seksi!

Namun, sebelum makin jauh, aku ingin membuat beberapa perjanjian dulu dengannya. Supaya tidak ada yang dirugikan dan sama-sama untung.

“Pertama dan yang paling penting, foto-foto yang diambil hanya untuk keperluan pribadi, tidak boleh disebar tanpa persetujuan aku,” pintaku.

“Oke, setuju” jawabnya singkat.

“Jangan setuju-setuju aja ih, kamu harus janji…” seruku.

“Iya… aku janji kok gak bakal nyebarin foto-foto kamu,” balasnya sambil garuk-garuk kepala. “Terus yang kedua apa?” tanyanya kemudian.

“Cuma itu aja kok… Cukup satu itu dulu sekarang”

“Ohh… oke deh”

“Kalau kamu? Apa yang kamu mau?” tanyaku.

“Aku juga cuma satu kok… Selama sesi pemotretan, model merupakan milik fotografer. Jadi kamu harus menuruti apapun yang aku suruh” terangnya. Aku agak keberatan mendengarnya.

“Baiklah, tapi kalau ada pose yang terlalu aneh-aneh, aku berhak menolaknya ya…”

“Sip…. Terus, untuk bayarannya gimana? Ada yang mau kamu bahas?” tanyanya lagi.

“Nggak… terserah kamu mau ngasih aku berapa. Kasih aja sepantasnya,” jawabku.

“Oke deh”

Dengan ini kamipun sepakat. Semoga dia memegang janjinya untuk tidak menyebarkan foto-fotoku sembarangan. Semoga dengan perjanjian ini kami jadi sama-sama untung. Aku dapat kepuasan dengan pamer tubuh, pemasukan tambahan serta pengalaman, dan dia mendapatkan foto-fotoku.

“Ya udah, mulai yuk… udah gak tahan pengen ambil gambar kamu” pintanya kemudian.

“Oh… okeeh,” setujuku.

“Ingat kan perjanjian tadi? hehe”

“Iya… aku akan nurutin pose apapun yang kamu suruh” balasku. Diapun tertawa puas mendengarnya.

Lalu sesi pemotretanpun dimulai…

“Siap… Satu.. dua… tiga! Mantab… bagus banget”

Pakaian yang sedang ku kenakan sekarang adalah pakaian yang paling ketat yang aku punya. Kaos lengan panjang berwarna hitam polos, dengan bawahan celana legging yang juga hitam, serta jilbab orange. Poseku saat ini sedang duduk di lantai sambil menekuk lutut ke belakang. Kedua tanganku berada di depan di antara kedua paha menyangga tubuhku. Dodi cukup lama mengambil gambarku dengan pose tersebut. Akupun ikut berimprovisasi dengan berekspresi imut, genit, tersenyum nakal dan sebagainya. Tanganku juga menyilang seperti menutupi tubuhku, atau membentuk tanda V dengan jari. Aku berusaha memberikan yang terbaik yang aku bisa.

Pose berikutnya aku disuruh berbaring. Dodi kemudian mengambil gambarku dari atas. Kadang sampai harus mengangkangi tubuhku. Seksi sekali rasanya telentang seperti ini yang mana ada seorang cowok mengambil fotoku dari atas.

“Sekarang coba tangannya diselipin di antara paha” suruhnya. Akupun menurutinya, sambil tetap berbaring ku tekuk lututku sedikit, lalu menjepit kedua tanganku di antara pahaku. Persis kelihatan seperti lagi menahan kencing. Kilatan lampu blitz kembali menyambar tubuhku diiringi sanjungan dari fotografer amatiran ini.

“Duh, kamu emang cantik banget Dira…” ucapnya sambil jarinya terus menjepret.

“Makasih”

“Oke, sekarang tengkurap ya… tangan menopang dagu, lihat ke kamera… okeee.. satu.. duaa.. tiga!”

Dia terus bereksperimen dengan menyuruh berbagai pose padaku. Aku pasrah mengikuti intruksinya dan menuruti semuanya. Dari pose berdiri, duduk, berbaring, tengkurap bahkan ada yang mengangkang. Betul-betul tidak ada puasnya dia mengambil foto diriku. Namun aku juga sangat menikmati momen-momen ini. Ketika kemudian Dodi ingin memotretku tanpa menggunakan dalaman, aku tidak menolak.

Setelah melepaskan bra dan celana dalamku di kamar ganti, aku kembali difoto. Aku masih menggunakan busana yang sama dengan yang tadi, hanya saja kali ini aku tidak menggunakan dalaman. Kontradiksi sekali dengan pakaian yang aku kenakan yang mana luarnya tertutup tapi di dalamnya tidak memakai bra dan celana dalam. Ini membuatku merasa seksi. Dengan menggunakan kaos seketat ini dan tidak mengenakan bra, tentunya membuat putingku nyeplak. Begitu juga dengan daerah kewanitaanku yang terlihat jelas karena ketatnya celana leggingku. Pemandangan diriku seperti inipun kemudian menjadi santapan lensa kamera Dodi. Fotoku kembali diambil dengan berbagai posisi dan pose sepuas yang Dodi inginkan.

Seperti itulah bagaimana kini dan hari-hari selanjutnya sesi pemotretan berlangsung. Yang mana awalnya hanya pemotretan biasa saja, kini telah menjadi pemotretan yang erotis. Aku sampai lupa kalau dulu pernah menolak difoto seperti ini, ternyata rasanya menyenangkan.

Suatu hari aku mengajak Eko ikut denganku ke tempat pemotretan. Dodi tentunya bingung siapa bocah ini. Akupun menceritakan semuanya padanya, dia terkejut mendengarnya. Sepertinya dia tidak menyangka kalau aku bisa senakal itu di balik penampilanku yang sopan, hihi. Untuk hari itupun Eko akan menonton aku difoto. Sekarang akan ada dua pasang mata lelaki yang menyaksikan aku difoto seksi!

“Sekarang mau ambil foto aku yang gimana?” tanyaku pada Dodi menanti arahannya.

“Ehmm… Mumpung ada Eko, aku ingin ngambil foto kalian berdua dulu deh… keren kayaknya tuh, hehe”

“Foto sama Eko? Hmm… boleh aja… gimana Ko? Kamu mau kan?” tanyaku pada bocah itu.

“Anu… tapi aku gak pandai kak…”

“Cuma foto-foto aja kok gak pandai. Mau ya…” ajakku lagi.

“I-iya deh kak…” jawab Eko akhirnya mau.

“Ya sudah, sekarang kamu ganti baju dulu… Yang seksi kayak kemaren yah, hehe” suruh Dodi kemudian padaku. Aku mengiyakan. Akupun pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Aku kenakan model pakaian yang sama dengan kemaren, hanya beda warna dan motif saja. Baju kaos lengan panjang merah muda dan celana legging hitam. Tentunya tanpa dalaman, sehingga kembali membuat putingku nyetak dan menampakkan garis lurus di pangkal selangkanganku. Semua itu berpadu kontras dengan jilbab yang ku kenakan.

Sambil terus mengarahkan, akupun mulai difoto berdua dengan Eko. Dodi menyuruh Eko memelukku dengan berbagai gaya. Ada yang memeluk dari samping, depan dan juga belakang, bahkan tiduran sambil dipeluk bocah itu. Tidak hanya dipeluk, tapi juga dicium. Aku dipeluk dan dicium bocah ini sambil terus tersenyum manis ke arah kamera. Ada juga aku yang mencium Eko. Eko terlihat canggung sekali, tapi lama-lama dia mulai terbiasa karena tampaknya diapun menikmati.

“Ko, untuk sesi selanjutnya gimana kalau kakakmu ini kita foto telanjang?” tanya Dodi melirik Eko. Eko bersemangat mendengarnya. Dia tentunya tidak menolak untuk melihat aku difoto bugil.

“Gimana Dira, kamu mau kan difoto telanjang?” tanya Dodi kini padaku. Aku berpikir sejenak. Meskipun aku suka difoto seksi, tapi aku masih ragu untuk telanjang bulat.

“Ayo dong kak… mau dong…” ucap Eko ikut-ikutan memanasiku. Akhirnya aku luluh juga. Rasa penasaranku lebih tinggi dari rasa was-wasku.

“Hmm… boleh deh… Tapi ingat jangan sampai kesebar. Aku gak ingin ada orang lain tahu kalau aku pernah difoto telanjang”

“Tenang aja, gak bakal kok… kamu percaya deh sama aku” jawabnya.

“Pegang janjimu ya…”

“Iyaaa… tenang aja…”

Aku kemudian disuruh berganti pakaian oleh Dodi. Aku disuruh memakai kemeja kotak-kotak lengan panjang dengan bawahan celana jeans. Kali ini dia memintaku untuk memakai dalaman. Ternyata dia ingin mengambil gambar diriku dari yang berpakaian lengkap dengan jilbab, hingga sampai bertelanjang bulat.

Sesi pemotretanpun dimulai. Seperti yang ku katakan tadi, awalnya aku difoto dengan masih menggunakan pakaian lengkap, baik berdiri, duduk maupun berbaring. Namun kemudian Dodi mulai menyuruhku melepaskan beberapa kancing kemeja, kini belahan dada dan braku terlihat. Beberapa fotopun diambil. Lalu dia menyuruhku melepaskan seluruh kancing kemejaku dan menurunkan resleting celana jeansku. Sehingga kini bra dan celana dalamku kelihatan.

Sambil terus memotret, Dodi terus mengintruksikan aku untuk melepaskan pakaianku perlahan-lahan sedikit demi sedikit. Dia cukup lama mengambil fotoku dengan celana jeans menggantung di lutut.

“Wah, ternyata rambut kamu bagus banget…” ucapnya ketika aku sudah melepaskan jilbabku dan baru saja membuka ikat rambut. Membuat rambut panjang bergelombangku tergerai. Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. Saat ini aku sudah hanya menggunakan pakaian dalam saja, dan tak lama lagi pasti akan disuruh telanjang.

Benar saja, setelah mengambil beberapa gambar. Dodi menyuruh aku melepaskan pakaian dalamku. Dimulai dari bra dengan perlahan menurunkan talinya. Saat bra terlepas dia mengambil gambar lagi. Aku berpose dengan hanya memakai celana dalam saja sesuai arahannya. Ada yang menutupi kedua buah dadaku dengan tangan, baik berdiri maupun telentang, sampai membiarkan buah dadaku menjadi santapan lensa kameranya. Setelah puas Dodi kemudian memintaku melepaskan celana dalamku. Aku turuti!

“Ingat… jangan sampai kesebar” ucapku mengingatkan, tapi pemuda itu sepertinya sudah terlalu mupeng untuk mendengarkanku. Dia bersiap menyaksikan pemandangan yang dia nanti-nantikan.

Dia memintaku menurunkan celana dalam dengan perlahan karena dia ingin terus mengambil gambar. Sedari tadi jarinya memang tidak pernah berhenti menekan tombol Shutter, seakan tidak ingin satu momenpun yang terlewatkan.

Akhirnya kini aku telanjang bulat. Aku kini bugil di hadapan dua lelaki sekaligus! Begitu kontras dengan fotoku di awal tadi yang berpakaian lengkap. Juga begitu kontras tentunya seorang cewek yang biasanya berpenampilan sopan dan tertutup kini sedang telanjang bulat dan siap untuk diambil foto telanjangnya di hadapan dua lelaki yang jauh dari kata tampan. Yang satu masih remaja tanggung dan sedang penasaran-penasarannya dengan tubuh wanita, satunya lagi pemuda culun mesum yang punya fantasi yang aneh-aneh. Dadaku berdebar kencang. Rasanya sungguh memalukan, tapi aku juga antusias.

Eko sudah pernah melihatku tanpa busana, namun bagi Dodi tentunya ini pemandangan yang dia idam-idamkan bisa melihat aku yang polos tanpa pakaian sama sekali. Dodi orang kedua yang beruntung bisa melihat tubuhku tanpa sehelai benangpun yang menempel.

“Gilaaa… mulussss… bening bangettt… Kamu cantik banget” teriaknya girang, jarinya semakin cepat saja menekan tombol shutter. Dia tampaknya terlalu sibuk menikmati pemandangan ini dan bermain dengan kameranya sampai lupa memberiku arahan. Aku yang jadinya berinisiatif berpose demi memanjakan mata dan lensa kameranya. Dimulai dari menutupi kedua buah dadaku dengan tangan kiri dan vaginaku dengan tangan kanan, lalu berlanjut dengan pose-pose lainnya yang semakin lama semakin menantang yang memperlihatkan bagian-bagian sensitifku itu secara jelas. Sesekali aku mengibaskan rambutku sambil tersenyum genit ke kamera, membuat kedua lelaki di sana semakin mupeng berat.

Setelah beberapa lama, Dodi mulai memberiku intruksi. Kini dia tak tanggung-tanggung mengarahkan aku untuk berpose vulgar. Seperti menyuruhku tiduran, lalu membuka kakiku lebar-lebar dengan tangan sehingga vaginaku terlihat jelas. Persetujuanku dulu yang boleh menolak pose yang aneh-aneh ternyata tidak pernah ku pakai karena aku tetap saja menuruti semua arahannya sevulgar apapun itu.

“Oke kita istirahat dulu…” ucap Dodi kemudian setelah tampaknya sudah cukup puas. Aku suruh Eko membawakanku handuk untuk ku kenakan. Kamipun makan malam bersama. Sambil makan kami ngobrol dan saling bercanda, tentunya pandangan kedua cowok itu tidak pernah lepas dari tubuhku. Tentu saja, karena aku masih hanya mengenakan handuk, hihi.

Selesai makan, Dodi tampaknya masih belum puas mengambil foto bugil diriku. Dia memintaku melakukan sesi pemotretan seperti tadi sekali lagi. Aku kembali berpakaian lengkap dengan jilbab, tentunya memakai pakaianku yang lain, bukan pakaian yang tadi. Kali ini aku memakai dress panjang. Proses pemotretannya sama seperti tadi, foto diriku terus menerus diambil sambil aku menelanjangi diriku sendiri hingga telanjang bulat. Barulah setelah itu kami pulang.

Sejak hari itu, aku selalu mengajak Eko denganku. Eko tentunya senang-senang saja aku ajak ke tempat itu. Dodi sendiri tampaknya juga tidak ada puas-puasnya mengambil foto diriku, baik berpakaian maupun telanjang bulat. Dia juga sering menyertakan Eko dalam pemotretan. Bahkan ada sesi foto yang mana aku terus berpakaian lengkap, namun Ekolah yang telanjang. Aku yang berpakaian lengkap dipeluk dan dicium Eko yang telanjang bulat. Perpaduan cewek cantik berjilbab dengan bocah laki-laki yang telanjang menciptakan foto yang begitu erotis, itu yang Dodi katakan.

Lokasi pemotretannya juga tidak melulu di rumah Dodi, sering juga di rumahku, bahkan pernah juga waktu itu kami pergi ke pantai ataupun perdesaan. Tentunya lokasinya merupakan tempat yang sepi dan terpencil sehingga aku bisa telanjang bulat tanpa perlu takut dilihat orang lain. Seperti saat ini, lokasi pemotretan yang kami lakukan sekarang berada di komplek pergudangan tua yang sudah tak terpakai lagi. Tempatnya memang tidak terurus, tapi Dodi mengatakan justru foto perpaduan antara cewek cakep dengan latar belakang seperti ini yang paling mantap. Aku sih oke-oke saja selama tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Aku juga selalu menyukai dan antusias bisa pamer badan dan bertelanjang bulat di tempat terbuka seperti ini.

Selesai mengambil gambar di luar ruangan, Dodi kemudian mengajak kami ke suatu ruangan yang begitu lapang dan beratap tinggi. Tampaknya ruangan ini merupakan bekas gudang. Di dalamnya banyak kardus dan juga kotak kayu yang bertumpukan.

“Kita mau ngapain di sini?” tanyaku sambil menahan handuk yang melilit sekedarnya di badanku.

“Ya foto-foto”

“Masih kurang emang? Belum puas juga?”

“Belum, hehe”

“Hmm.. ya udah, jadi aku ngapain nih sekarang? Pakai baju lagi?” tanyaku menunggu arahannya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Article Name
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Description
cerita dewasa bergenre "kakak-adik" ini adalah hasil karya agan bramloser dari forum semprot. tokoh utamanya adalah seorang jilbaber yg suka eksibisionis (eksib). manis & menggoda, selamat membaca!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo