loading...

“Kak Rossi….”

“Gimana kalau kamu panggil aku Ochi aja? Hehe… Itu bukan sepenuhnya nama samaran, karna di rumah panggilanku memang begitu. Teman teman dekatku juga memanggilku Ochi”

“Kalau mau, aku juga akan memanggil kamu Dilla?”

“Oh Tuhan…” Gumamku benar-benar malu. Wajahku mungkin bagai kepiting rebus sekarang. Aku tak tahu harus menjawab apa. Baru sehari aku gabung di grup, identitasku sudah langsung ketahuan. Benar-benar kebetulan yang susah dipercaya.

Lagi-lagi kak Rossi tertawa. “Kenapa sih kamu? Hihi…”

“Maaf ya aku mengungkap identitasmu. Hihihi…”

“Aku sudah menduga sejak di kelas tadi. Kamu pasti membuka video kiriman Ai. Gak nyangka ya kita sekelas”

“Aku sudah punya firasat sejak pak Tarno menyita HP kamu. Takutnya kamu nggak ngunci HP kamu dengan password. Dan ternyata benar.” Kak Rossi terus nyerocos tanpa menunggu aku mengatakan sesuatu. Pada dasarnya aku memang tidak ingin mengatakan apa-apa sih. Aku menunggu saja kak Rossi selesai menjelaskan.

“Ya ampun Dilla, beresiko banget tau nggak kamu punya hobi kayak gitu tapi HP kamu dengan mudah bisa dibuka siapa aja…” Omelnya. Yah, soal itu aku juga nyesel banget sih. Mulai nanti akan kucari cara mengunci HPku. Mungkin ada aplikasi tertentu yang perlu diinstall, pikirku.

“Aku menduga kuat juga pak Tarno kemungkinannya nyuruh kamu ke lab. Karna aku juga pernah dikerjai pak Tarno di situ… Eh, lebih tepatnya aku yang ngerjain dia deh, hahaha… Nanti aku cerita kapan-kapan…” kerlingnya.

“So, aku buru buru ke lab sebelum kamu dan pak Tarno datang. Dan aku langsung sembunyi gitu deh…”

“Cerita selanjutnya, kamu sudah tahu…” pangkas kak Rossi sambil menunjukkan rekaman kejadian tadi dari sudut pandang tempat persembunyian kak Rossi. Aku menonton rekaman itu sebentar dan memalingkan mukaku. Tidak ingin melihatnya lebih jauh. Kak Rossi mengerti dan mematikannya.

“Aku tadinya mau diam saja… Pura-pura tidak ngenalin bahwa kamu itu Dilla. Dengan begitu aku juga nggak perlu mengungkap aku ini Ochi. Tapi kupikir tidak adil, jadi…” Masuk akal juga. Aku memahami logika keadilannya. Dan aku jadi berterimakasih lagi. Aku juga tidak lagi perlu merasa malu.

“Iya… Makasih ya kak Rossi.. Eh kak Ochi… Senang ketemu anggota grup…” Ucapku tersenyum.

“Tapi panggil aku Dira aja yah… Nggak terbiasa dengan panggilan Dilla. Nama itu buat di grup aja.” Lanjutku.

“Oke Dira… Hihihi… Nah, senyum dong, udah lupain aja tadi… Atau kalau kamu susah ngelupain, ya udah jadikan aja salah satu portofolio kamu sebagai seorang eksibisionis. Hahaha…!” Ujar kak Ochi asal.

“Ketahuan itu salah satu prestasinya eksibisionis lho, hihihi…!” Lanjutnya.

“Ya tapi nggak sampai mau diperkosa juga kali…” Sahutku bersungut-sungut.

“Tapi beneran tadi kamu juga terangsang?”

“Iiyaa sih…”

“Kira-kira kalau tadi nggak ada aku, apa ya yang bakalan terjadi? Hahaha”

“Nggak tahu deh…”

“Kalau beneran diperkosa gimana?”

“Nggak tau deh kaak… Aduh ga bisa ngebayangin….”

“Kalau aku ya… misal kejadian beneran diperkosa, ya udah aku move on aja setelahnya.”

Aku terdiam mendengarkan.

“Maaf ya, bukannya aku nggak ngerti gimana perasaan kamu tadi. Tapi aku udah pernah merenungkan ini. Kejadian tadi itu resiko seorang eksibisionis lho sayang…”

“Ketika melakukan aksi demi aksi, kita selalu mengharapkan adrenalin lebih. Tantangan lebih. Keberanian atau kenekatan yang lebih lagi… demi mendapat kepuasan yang juga selalu menuntut lebih… Nggak ada habisnya. Pada akhirnya, kita makin menghadapi resiko yang sangat tinggi. Pada level tertentu malah bisa jadi kita mengharapkan diperkosa orang,” jelas kak Ochi panjang lebar. Aku manggut-manggut mendengarkannya. Ada benarnya banget, pikirku.

“Eh kak Ochi…”

“Ya?”

“Selain aku, ada lagi nggak anggota grup yang kakak kenal secara personal?”

“He em… si Icha itu temen aku. Nama aslinya Risa. He he. Risa, Icha. Rossi, Ochi. Hahaha…”

“Tapi nama Icha itu samaran yang terinspirasi dari panggilanku. Jadi dia bukan yang sehari-hari dipanggil Icha, kayak aku yang sehari-hari dipanggil Ochi.”

“Ooo…” Gumamku.

“Risa itu anak kampus kita juga lho… tapi beda fakultas. Dia seangkatan aku. Aku udah kenal dia sejak SMA.” Jelasnya.

“Nah… Sampai deh kita!” Ujar kak Ochi ketika mobilku memasuki perumahan tempatku tinggal, melewati pos satpam. Kak Ochi membuka kaca samping dan menyapa pak satpam. “Siang pak…” Pak satpam yang mengenali mobilku langsung melongok ke dalam. Begitu melihatku di samping kak Ochi, dia manggut-manggut, dan membiarkan kami jalan terus.

“Wah tuh adekku udah nyampe duluan!” Seru kak Ochi menunjuk ke arah rumahku. Seorang cowok terlihat menunggu di samping mobilnya yang terparkir di depan rumahku. Tadi dari kampus memang aku sudah memberi kak Ochi lokasi rumahku di GPSnya. Dan kak Ochi memforward lokasi itu ke adeknya supaya dia dijemput di rumahku. Melihat adeknya yang sudah sampai duluan, berarti jarak antara rumahku dan rumah kak Ochi lebih dekat dari jarak rumahku dan kampus. Aku menanyakan hal itu dan kak Ochi mengkonfirmasinya. Dia menyebut nama daerah yang terdengar familiar di telingaku.

Setelah memarkirkan mobilku di garasi, kami pun menemui adek kak Ochi.

“Fadel, kenalin nih temen kakak, Dira… Dira, kenalin, ini adekku yang nakalnya nggak ketulungan, Fadel.”

Kak Ochi memperkenalkan aku pada adeknya. Fadel hanya tertawa kecil mendengar dirinya disebut ‘nakal nggak ketulungan’. Dia pasti beranggapan aku tidak tahu apa yang dimaksud kak Ochi. Hahaha, aku udah tahu Fadel. Kalau kamu suka mejuhin wajah cantik kakakmu sendiri! Pikirku nakal.

Aku menjabat tangannya sambil tersenyum-senyum. Aku jadi membayangkan macam-macam sambil mencermati wajahnya. Fadel sendiri tidak banyak bicara.

“Ganteng juga kak…” bisikku pada kak Ochi. “Kakak nggak pingin incest kayak Icha? Hihihi…” Lanjutku asal.

“Hahaha…” Kak Ochi tergelak. “Eh adek, kata Dira kamu ganteng lho…” Whatt!!! Ember banget kak Ochi ini. Buset! Malunya aku.

“Apaan… Nggakk!” Kilahku. Kak Ochi hanya tertawa, sementara si Fadel tersipu malu.

“Kalian kan sama-sama jomblo, Jadian gih!” Canda kak Ochi makin asal. “Biar kamu nggak nakalin kakak lagi…” Sindirnya.

“Apaan sih kakak ni asal banget deh!” Gerutu Fadel.

“Hihihi…”

“Eh, Dira, aku langsung pulang ya… kamu sendirian ya di rumah segede ini? Gapapa kutinggal?” Pamit kak Ochi.

“Iya kak, gapapa kok, makasih ya…” Selepas kepulangan kak Ochi. Aku masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan… kulucuti semua pakaian yang menempel di tubuhku. Kulempar begitu saja dan aku berlari masuk kamar.

Tanpa cuci kaki, langsung kuhempaskan tubuh telanjangku di atas kasur. Walau lapar, aku lebih memilih tidur. Tubuhku tidak capek, tapi yang barusan kualami hari ini rasanya benar-benar ‘too much’. Ingin kuistirahatkan pikiranku. Benar saja, tidak sampai semenit kemudian, aku sudah terlelap.

 

***

Beberapa jam kemudian.

Sore ini aku duduk termangu di kursi ruang tengah sambil memandangi layar HPku.

Sejak HPku disita pak Tarno tadi hingga sekarang, baru aku mengakses HPku lagi setelah bangun tidur, ibadah dan selesai beres-beres rumah sedikit.

Aku termangu menatap foto telanjangku di lab tadi, full body, dengan wajah yang terlihat jelas. Terkirim di grup. Ternyata pak Tarno sempat mengirimkannya ke grup. Banyak sekali komentar setelah foto itu. Farah menanyakan apakah itu foto diriku? Nana menanyakan di mana lokasinya? Aya menanyakan siapa yang memotret? Icha komentar merasa familiar dengan ruangannya. Dan seterusnya. Pertanyaan yang muncul sejak siang tadi dan belum kujawab sampai sekarang.

Air mataku mengalir mengetahui wajahku sudah dikenal semua anggota grup, bukan hanya kak Ochi saja. Semua ini gara-gara Ai. Tadinya ingin kudamprat Ai, tapi setelah kupikir-pikir kemudian kejadian tadi adalah salahku sendiri. Aku urung mendamprat Ai dan belum berkomentar apapun di grup.

Kak Ochi japri, menyarankan aku menceritakannya saja di grup dan aku tidak perlu khawatir karenanya. “Aku akan mengkonfirmasi ceritamu…” Tulis kak Ochi.

Setelah beberapa saat berpikir, kuputuskan menuruti saran kak Ochi. Aku mulai mengetikkan komentar.

Kalimat demi kalimat mengalir keluar menjelaskan apa yang kualami tadi. Tapi aku berusaha menceritakan tanpa mengesankannya sebagai sebuah tragedi. Sesuai saran kak Ochi, aku menceritakannya sebagai sebuah sensasi pencapaian dari seorang eksibisionis. Yah begitu kira-kira. Tak lupa kuceritakan bagaimana sekarang aku mengenal kak Ochi yang telah menolongku.

Kak Ochi mengkonfirmasi ceritaku, sambil memberi peringatan kepada Ai untuk tidak share jebakan betmen seperti tadi lagi. Ai kemudian minta maaf kepadaku, baik di japri maupun di grup. “Gapapa.” Jawabku singkat menunjukkan aku tidak marah padanya.

Karna wajahku kini sudah bisa dilihat semuanya, Farah kemudian mengusulkan lagi bagaimana kalau semua anggota grup juga membuka dirinya.

Farah : Seperti kubilang kemarin. Kalo aku sendiri ga ada masalah.

Farah : Nana juga udah duluan usul begitu kan kemarin.

Farah : Trus Ochi juga secara personal kenal sama Icha dan Dilla.

Farah : So, kita berlima oke kan? Tinggal gimana dengan Ai dan Aya?

Nana : He eh, aku kan yang usul begitu duluan. Hehe, kalau boleh langsung kushare fotoku nih?

Farah : Nanti dulu sayang… tunggu komentar Ai dan Aya lah… Kalau mereka keberatan, ya kita putuskan nggak.

Farah : Kalau kita berlima terbuka, dan yang dua belum siap terbuka, pasti yang dua akan merasa nggak enak… gue nggak mau.

Farah : Kalau foto kan baru punya Dilla yang terekspos. So sorry ya Dilla, kalau Aya dan Ai nggak setuju, kita yang lain ga akan ikut ekspos wajah…

Aku mengetik.

Dilla : Iya, aku ngerti kok… kan bukan aku yang minta juga. Hehe, makasih ya…

Ai sedang mengetik…

Ting

Ai : Aku setuju. Tereksposnya Dira juga gara gara aku.

Farah : Yes, tinggal Aya. Kayaknya dia belum nyimak grup dari tadi siang.

Aku termenung. Wah cepat sekali perkembangan grup ini. Baru juga sehari aku gabung, kini sudah sejauh ini. Aku menutup jendela obrolan karna tau-tau aja sudah menjelang Maghrib. Seperti biasa aku harus mengkondisikan rumah untuk memasuki malam.

 

***

Setelah maghrib, perutku mulai terasa sangat lapar dan badanku lengket belum mandi. Kalau lapar sebenarnya sudah sejak tadi siang. Sambil mengakses aplikasi pesan makanan sambil aku ngemil sisa keripik di rumah. Lumayan untuk mengganjal perut. Aku ingin memanjakan diri dengan memesan makanan kesukaanku yang cukup mahal : Pizza.

 

Aku memilih resto pizza yang sedang hits di kotaku. Sudah lama aku pingin merasakan pizza ini, tapi saking hitsnya, restoran ini selalu rame dan ngantri panjang. Sehingga belum kesampaian sampai sekarang.

Sebenarnya lokasi resto pilihanku ini cukup jauh dari rumah. Artinya aku harus membayar lebih untuk ongkos kirim dan menunggu cukup lama juga. Tak apalah. Keripik yang kucamil ini cukup menahan laparku. Sementara menunggu pesanan aku mau mandi dulu. Tapi sebelum itu aku cek group lagi.

Ah, sudah ada komentar dari Aya! Pikirku antusias.

Aya mengirim dua foto! Foto pertama menampakkan wajahnya yang cantik dengan mengenakan jilbab dan pakaian serba tertutup yang rapi dan sangat sopan. Foto kedua membuatku menahan napas dan menelan ludah. Di foto itu, Aya tampak mengenakan seragam SMA yang kesempitan dan lusuh. Seragam itu sudah compang-camping juga dan terbuka di mana-mana, menampakkan sepasang buah dadanya yang mengkal sempurna. Posisi Aya ada di atas kasur, dan di sekelilingnya ada beberapa anak yang berseragam sekolah juga, tapi semuanya tidak lagi mengenakan celana. Anak-anak yang tampak jelas usianya lebih muda itu mengacungkan penisnya pada Aya, dan Aya mengulum salah satunya, sementara kedua tangannya menggenggam dua penis lain. Di pipi Aya tampak meleleh pejuh kental, mengalir turun membasahi pundak dan seragamnya.

Benar-benar foto yang… Gila!

Ini sih seperti adegan bokep profesional! Pikirku langsung horny.

Aya : Kenalin, namaku Alya.

Aya : Usia 24 tahun, aku masih kuliah di universitas XXX.

Aya : Status hubungan. Belum nikah. Tapi kalau kawin udah sering. Hi hi hi…

Aya : Yang di foto itu temen-temen adekku. Nakal-nakal banget mereka ya…?

Aya : He he he, maaf ya langsung kirim foto dan perkenalan. Aku setuju dengan usulan Nana dan Farah.

Aya : Semua sudah setuju juga kan, tinggal aku doang? Makanya aku langsung kirim foto aja. Hehehe…

Farah : Ayaaa… Eh, Alya! Ya ampun kamu cantik-cantik, nakalnya!

Ai : Alya…! Gila.. Mesum banget kamu. Nggak nyangka. Itu temen-temen adek kamu?

Ai : Adek kamu yang motret? Kamu incest juga?

Alya : Hehehe… Nggak, aku belum pernah incest. ‘Nyaris-nyaris’ doang.

Icha : Waoww… Pornonya Alya. Wkwkwk…

Icha : Gue juga awalnya nyaris-nyaris sama adek. Lama-lama gue kasihan juga, ya udah deh gue persilahkan masuk kontol si adek. Hihihi… Dikawin sama adek sendiri tuh… Sesuatu banget lho. Yang punya adek silahkan coba deh, hahaha…

Aya : Iyaa Icha… Gue kasihan juga sebenernya sama adek. Cuman belum berani aja. Terus terang aku sering ngarep adekku hilang kendali, trus guenya diperkosa aja gitu… Cuman ya gitu, adek gue imannya kuat banget. DIa seringnya minta aja, kalo gue ga kasih, eh dianya pasrah. Payah ya? Hihihi…

Icha : Ya ampun, kasihan tau… Udah dikasih aja napa?

Farah : Kalian ini… Pada suka mainan sama adek ya… Sapa lagi yang sama adeknya di sini?

Nana : Kak Ochi…!

Ochi : hadir! Haha…

Farah : Duh, jadi iri… Andai gue punya adek juga. Pasti udah entot-entotan deh tiap hari ama gue.

Duh, obrolan grup kok udah mulai rame aja sih. Mana aku belum mandi lagi. Hendak mandi tapi gak mau ketinggalan obrolan di grup. Nggak mandi udah gak enak aja ni badan rasanya. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan mandi dulu. Sebelumnya kuketikkan komentar.

Dilla : Alya… Salam kenal. Fotonya gokil!

Dilla : Kasihan banget adek kamu, cuman bisa ngeliat doang temen-temennya sendiri gangbang kakak tercintanya.

Dilla : NTR tuh namanya. Kalo gue sih nggak tega, haha.

Aya : Hehe… Temen-temen adek nggak sampai gangbang gue kok. Mereka juga belum ada yang kukasih ngentot. Paling peju-pejuan aja kaya gitu. Dan adek gue kalo cuma mejuin sih juga udah ga bisa keitung lagi…

Dilla : Wah… Kirain dikawin tuh sama mereka. Kalo bukan mereka trus sama siapa? Pacar ya?

Aya : Aku ga punya pacar. Eh, punya sih, tapi buat formalitas. Status sosial di kampus aja. Pacar gue cupu orangnya. Hehehe. Seringnya sih aku dikawin sama bapak-bapak tua gitu deh. Makanya aku horny banget tadi baca cerita kamu. Hehe, maaf ya… Kalo aku sih udah kulayanin tuh pak dosen.

Farah : Omaigat… Fantasi gue banget tuh Ya… Tapi belum kesampaian sampai sekarang. Bantuin gue dong? Eh, cerita dulu…

Alya : Mau sih, tapi kan hari ini jatahnya Icha cerita. Ayo Icha dulu dong? Siapa tau aku jadi terinspirasi buat kawin sama adekku.

Tu kan. Tadinya mau pamit malah masih keterusan. Aduh bisa nggak mandi-mandi aku kalo kayak gini. Buru-buru kuketik komentar pamit.

Dilla : Aduh… Time out dong. Lanjut nanti dong, aku ga mau ketinggalan… Tapi sekarang aku mau mandi dan makan dulu!

Farah : Hehehe, gue juga lagi mau cabut si sama Kak Sarah. Mau belanja sama makan gitu deh

Ochi : Sama, aku juga mau diajak makan sama adekku.

Ai : Aku juga mau maem duluu…

Sip, teman yang lain juga pada mau makan! Batinku girang. Langsung kututup HPku dan bergegas hendak mandi. Ah horny banget membayangkan foto Alya barusan. Gila. Aku mau masturbasi ah.

Tiba-tiba…

“Kyaaa!!” Jeritku. Lampu mati! Aku paling takut gelap, apalagi sendirian begini. Dengan panik aku lari ke depan rumah. Brukk! “Aduhhh!!” Jeritku kesakitan. Kakiku kepentok meja. Sakit sekali. Bodoh! Aku memaki diri sendiri. Kenapa nggak nyalakan senter HP? Sambil berjalan tertatih aku balik ke kamar, mengambil HP.

Secepat kilat aku berlari keluar rumah dengan lancar karna jalannya sudah diterangi HPku. Sebenarnya aku punya lampu darurat kalau listrik mati. Tapi sudah lama rusak dan tidak segera kuperbaiki, karna nyaris nggak pernah listrik mati di daerah kompleksku.

Dengan berdebar-debar aku mengintip keluar. Setelah memastikan keadaan sepi dan gelap, dengan berani aku melangkah keluar rumah dan berdiam duduk di teras. Bukan lampu rumahku saja yang mati, tapi semua rumah di sekitar kompleksku juga gelap gulita. Berarti ini pemadaman dari PLN. Kenapa sih harus malam-malam gini? Pikirku kesal. Meski sama-sama gelap di teras, tapi aku lebih berani ada di sini, karna terbuka. Kalau di dalam, duh kebayang setan macem-macem, dasar memang penakut akunya, tapi kadang suka nonton film horror, ya gini deh jadinya.

Kondisi terasku yang gelap juga membuat posisiku aman tidak terlihat dari orang lewat atau tetangga. Eh, tapi menyenangkan juga ya telanjang begini di luar rumah? Pikirku. Beberapa kendaraan yang lewat sempat membuatku waspada. Tapi setelah terbukti posisiku aman tidak terlihat dalam gelap, aku pun jadi rileks. Meski yang lewat adalah motor yang menyalakan lampunya, tetap saja cahayanya tidak menjangkau tempatku berdiri. Tapi kalau mobil yang lewat lumayan juga sih, kupikir sekilas akan kelihatan aku berdiri di sini sambil telanjang. Tapi gampang saja, kalau ada mobil mau lewat aku cukup menunduk dan tubuhku akan tersembunyi karna ada pagar yang menghalangi.

Ketika ada motor lewat aku berdiri di teras, dan motor itu lewat begitu saja tanpa menyadari keberadaanku di sini. Hihi, seru juga. Mulai deh kumat penyakitku. Selanjutnya ketika ada motor akan lewat lagi, aku lebih berani. Persis sebelum motor itu melintasi depan rumahku, aku berteriak kuat memanggil, “Pak…!” Walhasil pengendara motor itu reflek menoleh ke arahku. Tapi dia tidak melihat apapun kecuali teras yang gelap gulita. Hihihi! Seru! Pikirku kegirangan.

Aku berjingkat berjalan ke pagar dan mengawasi kondisi jalan yang sepi dari dalam pagar. Naluriku makin menuntut lebih. Kubuka pintu pagarku dan dengan berdebar-debar aku berjalan keluar. Dengan berdiri di luar pagar kupikir posisiku masih aman. Karna yah kondisi jalan juga gelap gulita. Kalau ada orang atau kendaraan yang akan lewat aku dengan mudah bisa menyadarinya sejak awal, cukup waktu untuk aku berlari masuk ke dalam dan bersembunyi di balik pagar. Tapi, dua menit berlalu tanpa ada seorang pun yang lewat. Jalanan benar-benar sepi. Yah beginilah kondisi kompleks tempat tinggalku yang penghuninya tipikal kota besar. Jarang kenal dengan tetangga, sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, semua rumah selalu tertutup rapat, tak terkecuali rumahku. Meski begitu, aku cukup dikenal baik oleh beberapa tetangga sekitar rumahku.

Dari beberapa rumah tetanggaku kulihat cahaya lilin dari jendela. Kenapa aku nggak nyetok lilin ya? Pikirku. Tapi mungkin sama saja, berdiam di dalam rumah sendiri dengan hanya bercahayakan lilin tetap akan membuatku takut. Duh, sampai kapan nih? Masak aku harus bengong begini di luar sampai lampu nyala. Mana belum mandi lagi. Pingin banget mandi, udah nggak betah. Pikirku sambil mengusap-usap kulit telanjangku yang mulai lengket oleh keringat. Tiba-tiba ide liarku muncul lagi.

“Kenapa nggak mandi di teras aja?” Gumamku sambil senyum-senyum. Di terasku ada satu keran air yang biasanya digunakan untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan. Kuputar keran tersebut, dan currr… Airnya mengalir keluar dengan lancar. Yes!

Dengan bergegas aku masuk rumah untuk mengambil sabun dan handuk. Masuk ke dalam rumah yang gelap gulita benar-benar horror bagiku. Parah banget penakutnya aku ini. Padahal ini rumahku sendiri. Dalam rumah aja horror, apalagi di dalam kamar mandi. Hiii… Walau cuma sekejap untuk mengambil sabun, sempat merinding juga aku. Jadi begitu kudapat sabunnya langsung aku berlari keluar lagi.

Sampai di luar kupasang selang di keran air, kunyalakan dan mulai menyorotkan air ke tubuhku.

Seerrrrr…

Hihihi… Dingin! Tubuhku menggigil. ^o^

Papa Mama! Lihat nih anak perawanmu ini telanjang bulat mandi di teras rumah! Hahaha… rasanya luar biasa! Berliter-liter air menerpa dan membasahi sekujur tubuhku. Kadang aku berhenti sejenak ketika mendengar ada motor lewat. Berdebar-debar menunggu motor itu berlalu. Ternyata posisiku masih sangat aman. Aku pun meneruskan mandi, dan ketika kudengar ada motor lewat lagi aku tak ambil pusing untuk menghentikan aktivitasku. Benar-benar aman. Tidak ada orang lewat yang penasaran mengintip hanya karena mendengar ada suara aliran air di sebuah teras rumah, kan? Saking amannya, dengan nakal aku malah berpikir untuk membuka gerbang rumahku lebar-lebar supaya terasku terbuka sepenuhnya dan menjadi panggung pertunjukanku.

Hahaha. Yang ada aku hanya tertawa geli memikirkan kegilaan ideku itu. Tentu aku tak benar-benar merealisasikannya. Tapi kupikir, tak apa juga kali ya kalau kubuka sedikit pintu gerbangnya? Ah ide bagus! Keran air kumatikan. Sambil menyabuni tubuhku, aku melangkah ke gerbang dan membuka sedikit pintunya. Dengan was-was aku mengintip ke jalanan. Memang aku tidak mendengar ada suara kendaraan apapun, tapi bisa saja kan ada orang berjalan yang lewat sini? Langkah kaki orang tentu tidak terdengar olehku. Meski kecil sih kemungkinan orang jalan lewat sini. Secara ini adalah kompleks perumahan yang tertutup dari akses orang luar. Sementara kalau penghuni perumahan kalau keluar selalu menggunakan kendaraan bermotor. Karna urusan penghuni perumahan ini kalau keluar rumah pasti tujuannya jauh. Minimal ke minimarket atau ke laundry yang ada di luar kompleks.

Sambil berpikiran begitu, dengan berani aku melangkah keluar pagar dan menyabuni tubuhku di pinggir jalan! Mamaaa… Sensasinya, benar-benar luar biasa. Saat menyabuni bagian selangkangan, jemariku beraksi menari-nari belahan memekku. “Aahhh….” Aku mendesah pelan sambil tetap waspada menengok kiri-kanan. Naluriku makin menjadi-jadi. Rasa gatal di dinding memekku menggila. Aku kembali masuk ke teras. Kuambil selang dan kunyalakan lagi keran airku sampai terbuka penuh. Berliter-liter air seketika mengalir sangat kuat menyembur-nyembur keluar dari ujung selang. Dengan jari telunjuk dan tengah aku membelah bibir memekku lebar-lebar, lalu selang air kuarahkan ke daerah sensitifku itu. Serrr… “Aaaahhhh….” Tubuhku kelojotan nikmat. Semburan air itu begitu kencang, rasanya sampai masuk ke dalam liang vaginaku. Sampai-sampai aku kepikiran apakah air ini bisa merobek selaput keperawananku? Tak tahan berlama-lama, kukecilkan aliran air dan kuarahkan kembali ke sekujur tubuhku. Kubilas kulitku yang licin karena sabun. Aahh, segar sekali rasanya.

Setelah cukup kesat kulitku kubilas, kumatikan air. Begitu siraman air berhenti menerpa tubuhku, seketika aku menggigil. Dingiiin… Segera kuraih handuk, dan melingkarkannya di tubuhku. Sejenak aku malah berdiri bengong sambil mendekap tubuhku yang menggigil. Acara mandiku selesai, tapi karna kondisi masih gelap aku tidak segera masuk rumah. Untuk mengurangi rasa dingin, aku pun mulai handukan tanpa beranjak dari tempatku berdiri.

Dari kejauhan kudengar suara motor datang mendekat. Aku diam saja di tempat menunggu motor itu melewati rumahku. Tapi aku salah. Makin dekat dengan rumahku, motor itu terdengar berjalan memelan. Dan ketika melewati rumahku tiba-tiba motor itu malah berhenti. Waduh, kok berhenti? Pikirku panik. Astaga! Aku sampai lupa tadi memesan pizza sebelum mandi. Aku harus berlari secepatnya masuk rumah. Tapi baru saja aku mengambil ancang-ancang, tiba-tiba, byarrr! Listrik menyala kembali! Suasana mendadak terang. Lampu dalam rumahku, lampu di teras dan halaman rumahku, lampu jalanan, semuanya menyala serentak tanpa peringatan.

Sial! Kenapa bisa kebetulan sekali menyala di saat seperti ini sih?! Umpatku sambil berlari panik.

Srettt… Gedubrakk!

“Aauuwwhhh…!”

Karna kondisi tubuhku masih basah, kakiku terpeleset di lantai keramik teras dan aku jatuh menabrak kursi. Sakit sekali! Air mataku keluar. Lututku gemetar. Sambil menahan sakit aku mencoba bangkit tapi susah. Dengan susah payah aku mencoba merayap. “Aahh…” Desahku kesakitan saat mencoba menggerakkan kaki.

“Mbak? Kenapa mbak?”

Oh tidak, pria itu sudah melihatku. Habis sudah. Kepalaku kunang-kunang, aku tak bisa bergerak lagi. Pasrah. Sedetik kemudian kurasakan tubuhku diangkat dan digendong masuk ke dalam rumah.

“Mbak… Nggak apa-apa?” Ucap pria itu sambil membaringkanku di sofa panjang ruang tamu. Aku hendak menjawab tapi suaraku tercekat. Pria itu kemudian menyibak rambutku yang berantakan menutupi wajahku. “Aahh…” Desahku. Sejenak kami berpandangan tanpa berkata-kata. Wajah pria itu tampak terperangah. Dia menelan ludah, sambil matanya menyusuri tubuh telanjangku dari kepala sampai ujung kaki. Lalu dia kembali menatapku, dan menelan ludah lagi. Agaknya dia terpesona dengan kecantikanku. Bukan ge-er, hanya mawas diri. Aku juga mengamati wajah pria itu. Mataku sayu, mulutku meringis masih menahan sakit. Kutaksir usia pria itu 35-an. Belum terlalu tua. Wajahnya biasa-biasa aja. Aku jadi tersipu. Malu sekali.

“Mbak, nggak apa-apa? Mananya yang sakit…?” Tanyanya karena aku belum juga berkata-kata. Tangannya menelusuri dan memijat-mijat kakiku. “Aahh…” Desahku ketika tangannya tepat berada di titik yang terasa sakit. Pria itu memelankan pijatannya di titik itu. “Di sini mbak?” Tanyanya.

Oh tidak, aku merasa risih sekali. “Udahh mas… Jangan…” Ucapku lirih. Aku mencoba duduk saat rasa sakitnya sudah lumayan menghilang. Kudekap tubuh telanjangku, berusaha menutupinya dari tatapan liar pria di sebelahku yang pasti sangat terangsang itu.

“Mbak… Sedang apa tadi…? Kenapa… anu… tadi kok….?” Tanya pria itu terbata-bata.

“Saya sedang mandi tadi mas, lampu mati jadi saya mandi di luar… Maaf mas…” Jawabku jujur.

“Mbak yang pesan pizza? Mbak Dira…?”

“I… Iya mas… Taruh saja pizzanya, bentar saya ambilkan uang…”

“Ga usah buru-buru mbak, duduk dulu…” Tangannya menahan tubuhku yang hendak berdiri.

“Istirahat dulu mbak kayaknya masih kesakitan… Tadi nabrak kursi kencang sekali…”

“Aah… Gapapa mas, sudah nggak sakit…” Ucapku sambil berusaha menepis tangannya. Tapi pria itu makin kuat menahan tubuhku.

“Biarkan saya berdiri mas, sudah gapapa kok… Saya mau ambil uang dan pakai baju, please…”

“Saya nggak buru-buru mbak, gapapa nanti aja… Mbak mau saya pijitin?”

“Nggak mas… Maaf mas, saya pakai baju dulu…” Sahutku mulai panik. Pria ini sepertinya mulai nggak bener T.T

“Badan mbak masih basah, jangan pakai baju dulu…” Ucapnya sambil mencoba menghanduki tubuhku.

“Aahh… Mas, biar saya sendiri…” Kucoba merebut handukku dari tangannya. Tapi dia malah menangkap dan memegangi tanganku. “Aah… Mas… Lepasin…” Pintaku meronta.

“Mbak Dira… Cantik sekali…!” Ucap pria itu. Nafasnya menderu. Tubuhnya merangsek memeluk tubuhku.

“Sungguh… Cantik sekali…!” Mulutnya kini memburu mencoba menciumku sekenanya.

“Aahh… Mas, jangan mas… Pleaseee…” Aku makin meronta dan mulai terisak. Ya Tuhan. Dalam sehari aku mengalami dua kali percobaan pemerkosaan! Dan kali ini aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya melepaskan diri. Tenaga pria itu sangat kuat. Kedua pergelangan tanganku dicekal hanya dengan satu genggamannya saja. Aku tak berkutik. Bertubi-tubi ciumannya mendarat di tubuhku. Di pundak, payudara, leher, dan terus memburu di sekitar situ. Aku menggelinjang tak karuan. “Massshhh… hentikan mas.. Please… jangan. Aahhh…” Aku menolak tapi mulutku tak bisa menyembunyikan desahan yang keluar akibat dirangsangnya area-area sensitifku.

“Maaf mbak… Saya tak kuat menahannya” Tubuh pria itu kini menindihku di sofa. Tubuhku dipeluknya erat.

“Mas… Saya akan teriak!” Ancamku. Dan aku salah langkah. Pria itu tambah menggila, dicekiknya leherku dengan kuat. “Arrghh… Mashh…!!” Jeritku tercekik. Sakit sekali, aku susah bernafas, mataku berkunang-kunang, air mataku mengalir deras keluar. Ya Tuhan apakah aku akan mati? Melihat aku kepayahan, cekikannya melonggar.

“Uhuuukk uhukkhh…” Aku menarik napas sekuatnya hingga terbatuk-batuk.

“Maaf mbak… Tolong jangan teriak.” Bisiknya. “Saya tidak ingin menyakiti mbak! Tolong pasrah saja…”

“Hu hu hu… Jangan mas.. Please… Saya masih perawan,” pintaku mengiba. Tapi pria itu benar-benar sudah kesetanan. Tak ada belas kasihannya sedikit pun padaku. “Maaf saya tak tahan mbak benar-benar cantik. Tolong ijinkan saya menikmati tubuh mbak sekali saja… Please…” Ucapnya sambil terus bertubi-tubi menciumi bibir, pipi, leher dan tengkukku. Aku terus menggelinjang-gelinjang sampai lemas. Tenagaku rasanya terkuras habis. Haruskah aku pasrah? Ooh kenapa aku tidak bisa menikmati perkosaan ini saja? Aku ingin menikmatinya sehingga aku tidak harus bersedih dan ketakutan seperti ini. Tapi aku tak bisa. Tangisku makin deras. Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.

Tahu aku tidak lagi meronta, kini tangan pria itu lebih bebas menggerayangi tubuhku. Secara fisik aku merasakan rangsangan seksual yang begitu hebat, tapi secara perasaan aku menolaknya. Campur aduk perasaanku kini. Kenapa otakku tidak bisa memerintahkan seluruh unsur dari tubuhku ini supaya sejalan menyikapi apa yang aku alami kini?

“Mbak, memek mbak sudah basah… Saya masukin ya?”

“Jangan massh… Please…”

“Maaf mbak, saya rela dipenjara demi bisa menikmati tubuh mbak…”

Orang ini terus-terusan meminta maaf seolah dia berharap perbuatannya benar-benar bisa dimaklumi dan kumaafkan. Kalau aku terus menolaknya, apakah aku yang salah? Salahkah diriku berwajah cantik? Pikiranku kalut. Pria itu mulai melucuti celananya dan mengeluarkan penis yang sudah tegak mengacung keras.

Kupejamkan mata rapat-rapat. Aku tak sanggup melihatnya.

“Jangaaannn masshh!! Tolong hentikan… Pleasee. Jangann… Hu hu hu…!!” Dengan sisa tenaga aku berteriak memohon dan meronta. Ini yang terakhir kalinya. Setelah ini aku tak kuat lagi dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Pria itu menahan tubuhku yang meronta. Dengan mudah ditaklukkannya tenagaku. Kurasakan benda tumpul mulai mencoba menyeruak masuk liangku. “Maaf mbak…” Lagi-lagi dia berbisik minta maaf.

Di tengah keadaan yang sudah di ujung tanduk itu, tiba-tiba terdengar suara menggebrak pintu.

“Braaakk…!”

Kaget bukan kepalang, pria itu menarik penisnya yang sudah nyaris menjebol keperawananku. Dia berdiri, oleng dan saking gugupnya dia terjatuh menabrak meja.

“Saya lapor polisi!” Seru orang yang menggebrak pintuku tadi, dan tanpa sempat terlihat sosoknya, dia langsung berlari menjauh.

Pria itu benar-benar ketakutan. Celananya dipakai kembali dengan sangat terburu-buru dan sambil lari, dia sempat terjatuh lagi sebelum akhirnya berhasil mencapai motornya. Kudengar suara motor distarter dan deru mesin dipacu menjauh.

Aku masih terengah-engah di sofa dan menatap kosong. Lagi-lagi semua terjadi begitu cepat, sulit kupercaya percobaan pemerkosaan ini sudah berakhir. Aku selamat? Apakah aku sudah aman? Masih terlalu dini untuk merasa lega. Kukerahkan tenaga untuk bangun. Suasana mendadak hening. Entah di mana orang yang menolongku tadi. Aku tidak ingat apakah aku mengenal suaranya atau tidak tadi. Mungkin dia lari dan melapor pada pak satpam. Kalau begitu mestinya pria tadi tidak bisa lolos, karna satu satunya jalan keluar dari kompleks ini ya melewati pos satpam. Kalau begitu mungkin juga sebentar pagi pak satpam akan mendatangi rumahku.

Aahh… aku harus segera pakai baju! Mereka bisa datang dalam waktu dekat. Tapi untuk bangun saja aku kepayahan. Badanku lemas sekali karna tadi aku sudah mengerahkan semuanya. Aku terisak lagi merenungi nasib. Dua kali percobaan pemerkosaan dalam sehari, apa artinya ini? Apa ini karma? Apa ini ganjaran untuk dosa-dosaku karena aku terlalu gampang pamer aurat? Apakah aku harus memaklumi dan menerimanya seperti yang dikatakan kak Ochi? Memang harus kuakui, kejadian kedua ini juga akibat kenekatanku sendiri yang beresiko tinggi.

Kuraih handuk untuk menyeka air mataku, kemudian kututupi tubuhku sekenanya dan mencoba bangkit lagi. Paling tidak pintu harus segera kututup dan kukunci, kalau pak satpam datang mungkin kutolak saja dengan mengatakan tak ada kejadian apa-apa.

Dengan kaki masih gemetar aku beranjak dan mencoba berjalan secepatnya ke arah pintu meski sambil tertatih. Tapi aku tidak cukup cepat. Tiga meter jarak dari sofa ke pintu menjadi terasa sangat jauh saat itu. Belum sampai di pintu, aku sudah mendengar langkah kaki pelan dari luar masuk halaman rumahku dan menuju pintu.

Oh tidak, tubuhku belum kututupi dengan layak. Handuk yang cuma kudekap di depan dengan cepat berusaha kulilitkan di tubuh, tapi handuk ini terlampau kecil. Ya Tuhan, ratapku panik lagi membayangkan apa yang mungkin terjadi.

“Kak….?” Deg. Orang yang datang itu kini sudah berdiri di depan pintuku yang terbuka lebar.

“Aahhh…! Eko…?!”

“Kakak baik baik saja?”

“Ekooo….! Hu hu hu…” Aku mulai mewek lagi. Entah kenapa refleks air mataku membuncah keluar lagi melihat Eko. Tangisku meledak. Ternyata yang datang adalah Eko. Dia sendirian tidak bersama satpam atau siapapun.

Aku terduduk lemas di lantai. Eko bergegas menghampiriku, tanganku menggapai minta dipeluk, dan Eko pun memelukku. Kudekap erat tubuh Eko dan aku menangis sesenggukan di dadanya.

“Siapa tadi kak? Kakak gak diapa-apakan kan? Kakak baik-baik saja?”

“Gendong kakak Ko… Bawa kakak ke kamar…” Pintaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“B-Baik Kak…” Eko mencoba membenahi handuk yang tidak sempurna menutupi tubuhku.

“Udah tinggalin aja handuknya Ko, bawain aja HP kakak… Ada di teras.” Ucapku.

“Baik kak…” Jawab Eko, lalu keluar mencari HPku.

“Tutup sekalian gerbangnya Ko…” Seruku dari dalam. Kudengar suara gerbang ditutup dan Eko kembali masuk.

“Tutup pintunya dan kunci…” Suruhku lagi.

“Iya kak…” Jawab Eko.

Setelah mengunci pintu Eko menghampiriku. Dia tampak grogi. Aku mengangkat tanganku dan meraih pundaknya. “Gendong kakak…” Bisikku. Dan Ekopun dengan sigap menggendong tubuh telanjangku dan membawaku ke kamar. Meski tubuhnya lebih kecil dariku, tapi bagaimanapun dia cowok dan fisiknya kuat.

“Baringkan kakak Ko…” Ucapku begitu Eko sampai membawaku ke kamar. Dengan lembut Eko membaringkanku. Sembari dia melakukannya, kutahan tangannya supaya ikut berbaring di kasur ini bersamaku. “Sini aja…” Bisikku.

“Kak…” Ucap Eko lirih. Nafasnya terdengar memburu. Meskipun mungkin dia prihatin dengan keadaanku, sebagai laki-laki tentu juga terangsang dengan keadaanku yang polos. Aku tidak menyalahkannya. Kuraih kepala Eko, dan kukecup bibirnya.

“Kak…” Kukecup lagi bibirnya, dan kali ini kujulurkan lidah untuk mengundang. Eko merespon. Dilumatnya lidahku. Tanpa banyak bicara, kami pun berciuman dengan panas dan mesra selama beberapa saat. Entah kenapa aku melakukan ini, aku hanya mengikuti naluriku. Tak bisa kupungkiri juga, aku yang selama ini menolak bertemu dengan Eko, ternyata begitu merindukannya.

“Kak…” Desahnya. “Aku kangen kakak…”

Kukecupi lagi bibirnya, seolah tidak ingin memberinya kesempatan bicara. Kami berciuman dan saling melumat lagi. Tangan Eko mulai menggerayangi tubuhku. Dengan gemas diremas-remasnya kedua payudaraku. “Aahh.. Koo…” Desahku menggeliat. Eko melepaskan diri dari ciumanku dan memburu putingku dengan bibirnya. Hap! Dengan rakus mulutnya langsung mencaplok kedua puting susuku bergantian. Melumat dan menggigit-gigitnya.

“Aaahhh Ekoo.. hh… Oohhh…” Desahku makin menjadi. Tubuhku menggelinjang-gelinjang. Kutarik kaos Eko dan kulucuti. Eko paham dan berhenti sejenak untuk menelanjangi dirinya. Dalam sekejap kami sudah sama-sama polos. Kutarik tubuh Eko untuk menindihku lagi. Kami berciuman lagi dan saling berpelukan, menggesek-gesekkan kulit telanjang kami satu sama lain. Panas!

Penis Eko sudah sangat keras. Kuraih dan kutarik ke arahku. Aku terduduk di kasur dan Eko berdiri dengan lututnya mengarahkan penisnya ke wajahku. Dengan antusias aku mengulumnya tanpa ragu.

Suara decak lidahku di penis Eko dan desahan Eko berlomba-lomba mendominasi ruangan.

Aku tidak berpikir sama sekali. Semua mengalir begitu saja. Kami sama-sama tak banyak bicara sebagaimana waktu-waktu sebelumnya. Akan sejauh mana aku mencumbu Eko? Aku juga tak tahu. Apakah aku akan menyerahkan keperawananku sekarang? Entahlah… Aku lebih memilih berkonsentrasi pada penis Eko yang sudah begitu lama tidak kujumpai. Kini penisnya terasa sangat penuh menyumpal mulutku, dan aku sangat menikmatinya! Perasaan ini begitu membuncah, sehingga aku ingin memuaskan diri melampiaskannya. Entah kenapa perasaan yang sama tidak muncul dengan Pak Tarno ataupun abang delivery tadi. Apakah aku jatuh cinta pada Eko?

“Kakaak…. Aahh…” Tubuh Eko menggelinjang hebat. Dia mundur melepaskan diri dari serangan oralku. Dipeluknya tubuhku dan kami kembali berciuman.

“Aahhh… Hah… Hahh… hh…” Setelah beberapa saat kami berhenti, mengambil napas dan terengah-engah. Mata kami saling bertatapan nanar.

“Kak… Tubuh kakak wangi sekali…”

Aku tersenyum sambil masih terengah. “Kakak habis mandi barusan…” Jawabku.

“Tadi bagaimana bisa… Orang tadi…”

“Kakak mandinya di luar… Terus kepergok sama abang tadi…” Jelasku sambil membelai-belai rambut Eko. Kenapa ya, aku malah gemas melihat wajah jeleknya, haha. Kukecup lagi bibirnya.

“Di… luar..? Maksudnya…?” Tanya Eko sambil menerima kecupanku. Masih penasaran dia.

“Ya… di luar… Di halaman rumah… Hihihi”

“Kakak… Kok bisa…? Nekat banget sih… Kakak masih nakal ternyata…”

“Tadi mati lampu sayang… Kakak takut gelap sendirian, akhirnya mandi di luar deh. Trus pas abangnya datang tiba-tiba lampu nyala… Gitu.”

“Kalau takut kenapa nggak panggil aku kak? Kok malah mandi di luar?”

“Nggak mau! Kakak kan lagi menghindari kamu… Mau mandi lagi, masak manggil-manggil kamu segala, entar kakak dinakalin lagi sama kamu…!”

“Hehehe… Kalo kakak nggak nakal, ya aku gak berani nakal juga… Kakak sih nakal…”

“Gara-gara kamu juga!” Sahutku gemas. Kuciumi lagi bibirnya, dan kami saling melumat lagi.

“Kok gara-gara aku sih…? Aahhh… Kak…”

Kami bergulingan di kasur dengan panas. Bergantian saling tindih. Kemudian berakhir dengan posisi misionary lagi. Kubuka lebar pahaku, kuraih penis Eko yang berdiri sangat keras, pelan-pelan kuarahkan ke selangkanganku. Jantungku berdebar keras. Aku menelan ludah, sejenak muncul keraguan, tapi kuteruskan sampai ujung penisnya yang menyerupai jamur menempel di vaginaku dan membelah bibirnya.

Deg. Deg. Deg.

“Kakak….?”

“Eko… Tadi abangnya sudah sampai sejauh ini…” Ucapku sambil menarik penis Eko lebih jauh hingga kepalanya menyeruak masuk ke dalam liangku yang sangat basah. Aku melihatnya dan menelan ludah. Kembali kupandangi wajah EKo.

“Lalu kamu datang dan mengganggu… Gak jadi deh… Sekarang kamu harus tanggung jawab!” Ucapku nakal.

“Kakaak…. Tadi aku kira…”

“Iya kakak emang mau diperkosa kok tadi… Kamu sih gangguin. Kasihan abangnya tadi kan, gagal merawanin kakak…” ucapku menggodanya.

“Haahh… Jadi kakak tadi… ngarep?”

“Yaa nggak lah, kakak takut banget tadi… Kakak juga dicekik, diancam mau dibunuh tau!”

“Jadi?”

Hihihi… Aku tertawa geli melihat kebingungan Eko. Aku yang baru saja mengalami musibah, malah menggoda Eko.

“Jadi, aman Ko… Kakak masih perawan…” Ucapku sambil makin melebarkan paha dan mendorong pinggulku ke arah Eko. Kugenggam penis Eko supaya tidak lepas dari bibir vaginaku. Kurasakan penisnya makin tegang, dan rasanya kepala penisnya mulai masuk lebih dalam. “Aahh…” Desahku lirih. Kurasakan sedikit sakit di liangku. Mataku sayu menatap Eko. Nafasku memburu.

“Kakak…”

“Kamu mau Ko? Kalau mau kakak kasih…” Kini aku melepaskan tanganku dari penisnya. Kulipat tanganku di dada tanda kepasrahan. Kuserahkan kendali pada Eko. Aku tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Tapi entahlah, ada sesuatu yang sangat mengganjal dan ingin kulepaskan. Mungkin setelah ini aku bisa merasa lega, pikirku.

Kulihat Eko diliputi kebimbangan. “Kakak…”

“Kenapa Ko?”

“Kakak serius?”

“Iya Eko… Kakak pasrah…”

“Ja-jangan begini kak… aku nggak bisa kak…” Ucapnya pelan. Matanya berkaca-kaca. Kepala penisnya ditarik keluar dari vaginaku.

“Aahh….” Desahku merasakan tercabutnya kepala penis Eko. “Kenapa Eko?” Tanyaku heran.

“Kak… Kakak mungkin masih kalut, kakak tidak berpikir jernih”

Aku tertegun. Sejak kapan Eko berpikir sedewasa ini. Aku jadi bingung apa yang harus kukatakan.

“Mumpung kakak sedang kalut Eko… Ini kesempatan kamu, entotin kakak Ko… Kakak mau,” ucapku asal.

“Jangan kak… aku nggak bisa… Maaf kak…!”

“Eko…” Gumamku lirih. Aku benar-benar tidak menduga.

“Kak… Tujuan aku kemari sebenarnya ingin menyerahkan ini.” Eko mengambil sesuatu dari saku celana yang tergeletak di sampingnya, dan menyerahkannya padaku.

“Apa ini Ko?” Tanyaku penasaran.

Aku terdiam. Ternyata Eko menyerahkan undangan pernikahan. Benar benar kejutan.

“Eko mau nikah kak… Pacar Eko hamil.”

“Kamu… Nikah? Kamu kan masih SMP Ko?”

“Dua bulan lagi aku kan lulus kak…” Ucapnya meringis.

“Udah mau SMA ya kamu… Tapi… Tetap saja Ko… Kamu anak sekolah… Aahh kenapa kamu sampai ngehamilin pacar kamu Eko??” Tanyaku gusar. Ternyata anjuranku waktu itu agar dia memakai kondom sudah terlambat. Lebih dari itu, entah kenapa ada penyesalan dan semacam rasa tidak terima di hatiku.

“Aku gak mau lanjut sekolah kak… mau bantu bapak ngurus ternak juragannya… Jadi dua bulan lagi aku sudah bukan anak sekolah lagi… aku udah gede.. harus tanggung jawab kak…”

“Tapi pacar kamu…?”

“Moga moga aja aku ada rejeki buat biayain sekolahnya kak…”

“Ya ampun Eko…” Ucapku masih sulit mempercayainya. Kupeluk tubuh Eko.

“Kamu mau ninggalin kakak Ko?”

“Aku sayang banget sama Kakak…”

“Lalu kenapa kamu menolak Ko, bukannya kamu selalu memintanya? Ayolah Ko…” Bujukku. aku tidak peduli menjadi rendah dengan memintanya.

“Aku mau kak… Aku masih pengen sama Kakak… nakal-nakalin kakak lagi… Tapi…”

“Tapi kenapa Ko?”

“Tapi jangan begini kak… Kakak layak untuk mendapatkan lebih. Perawan kakak jangan Eko yang ambil kak… Eko sayang sama Kakak… Eko harus pulang sekarang kak… Sebenarnya Eko nggak mau lama tadi. Eko mau antar calon istri Eko belanja… Dia pasti udah nunggu dari tadi… Maaf kak…”

Aku tertegun mendengar jawaban Eko. Tak percaya kalimat itu mengalir dari mulut bocah yang selama ini kukenal.

“Ciee calon istri.. hahaha…” kupaksakan tertawa untuk menyembunyikan kekecewaanku.

“Eko… Kamu bilang nggak mau, tapi kontol kamu masih ngaceng aja dari tadi nyundul-nyundul memek kakak nih…” Godaku. Sengaja kugunakan kata kontol dan memek untuk merangsangnya.

Eko tersenyum kecut. Kuraih penisnya. Benar saja, ucapanku sukses membuat penisnya makin tegang. Penis itu pun kukocok-kocok pelan dengan gemas.

“Aahh kaak…” Desah Eko keenakan.

“Kontol kamu bilang mau Ko… Dia minta masuk memek kakak… Kamu yakin nggak mau kakak persilahkan masuk?”

“Mau kak… Tapi… Kakak masih perawan kak… Jangan kak… Eko menghargai kakak…”

“Ih, sok dewasa banget deh kamu sekarang…” ujarku gemas. Kutambah cepat frekuensi kocokanku.

“Jadi maksud kamu, kakak kasih perawan kakak ke orang lain, habis itu baru kamu mau ngentotin kakak?”

Eko mungkin tidak menyangka aku akan bertanya dengan sudut pandang seperti itu, dia terdiam sejenak lalu meringis, “Hehehe kalau boleh kak…” Ucapnya.

“Kalau kakak nggak bolehin? Kamu nyesal?” Raut mukanya berubah. Tampak kebingungan. Dasar. Aku bangkit dan mengecup bibir Eko.

“Ko… Kalau kakak juga mencintai kamu, bukannya kamu layak ambil keperawanan kakak?”

Lagi-lagi Eko terdiam. Aku merasakan kebimbangannya.

“Kamu nggak cinta kakak…?”

“Cinta kak… Tapi… Kak… aku harus pulang… Maaf kak…” Matanya makin berkaca kaca. Aku tahu dia sangat berjuang menahan keinginannya.

Terakhir kami berjumpa sebelum ini dia begitu pengennya untuk bisa menyetubuhiku. Aku tidak menyangka kalau ternyata dia sekarang berubah jauh lebih dewasa hanya dalam waktu kurang dari dua bulan tidak berjumpa denganku. Rasanya tidak bijak kalau aku terus membujuknya, pikirku yang jadi ikut-ikutan dewasa.

“Ya, kamu cinta kakak, tapi kamu sudah mau menikah… Dengan cewek lain. Yah, kakak kalah deh… ” Ucapku miris.

“Maaf kak…”

“Cantik banget ya calon kamu…?”

“Cantikan kakak, jauh kaakk…”

Hihihi. Aku tertawa kecil. Dalam hati Eko mungkin mengutuki kenapa aku baru mau dientot sekarang. “Maaf ya Ko,” gumamku dalam hati. Kukecup lagi bibir Eko gemas.

“Ko, sebelum kamu pulang, kakak minta cenderamata dong… boleh?”

“Apa itu kak? Kalau Eko bisa, apapun Eko beri buat kakak…”

“Hihihi… Gombal deh kamu.”

“Kakak cuma minta… sebelum kamu pulang…” Aku memberi jeda untuk membuatnya penasaran. “Tolong…”

“Tolong apa kak?”

“Tolong… pejuin muka kakak…” ucapku sambil memasang senyum semanis mungkin.

“Kaak?”

“Kamu mau kan ya?” Ucapku beringsut turun dan mencaplok penis Eko yang masih sangat tegang. Bahkan rasanya menjadi lebih tegang lagi.

“Aahhh Kakk…”

“Entot mulut kakak Ko…” Pintaku menghentikan gerakan kepalaku. Tanganku memegangi pinggulnya. Pasrah.

“Ayo Ko, calon istrimu sudah menunggu…” Ucapku menatap matanya sayu. Kumasukkan lagi penisnya ke mulutku. Eko kini memegangi kepalaku dan mulai menggoyang pinggulnya.

“Kakakk nakalll… aahhh… Kak Diraa…”

Slurrpph! Slurrphh! Slurrphh…!

Berisik sekali suara decak lidahku yang bergesekan cepat dengan penis Eko.

“Aahhh kak diraa… Kakak binall… Aah Eko keluar kak…” Eko mencabut penisnya cepat dan mengocoknya.

“Phuaahh…” Aku langsung menarik napas panjang. “Ekoo… Ahhh… mana Ko?” Aku langsung menempatkan wajahku di bawah penisnya, mulutku terbuka, lidah kujulurkan siap menadahi muncratan sperma Eko.

“Keluarkan yang banyak di mulut dan wajah kakak Ko. Jangan ada yang kebuang…”

“Iyaa kak Dira cantik… Eko pejuhin cantiknya kakak ya…”

“Silahkan Eko…”

Crooot crooooott!

Tembakan demi tembakan sperma Eko beruntun menerpa wajahku. Terasa panas dan kental sekali. Dan rasanya tidak habis-habis!

“Ekoo… Ahh.. Hahaha… Aahh…” Desahku kewalahan sambil tertawa. “Udah Ko…? Banyak sekali…”

Cratzzs!

Ya ampun masih ada lagi!

Kubuka mulutku lagi. Eko masih mengocok penisnya, seolah ingin menguras habis spermanya sampai tetes terakhir. Kira-kira 2 atau 3 kali aliran penis penghabisan yang tidak lagi muncrat kuterima di lidahku.

“Ekoo…”

“Kak….”

“Makasih Eko… ini cinderamata termanis yang kakak terima… hahh.. hah…” Ucapku terengah-engah sambil tersenyum manis pada Eko. Hihihi… Aku tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Mencoba menjatuhkan sperma Eko yang menggayuti dahi, hidung, bibir dan daguku. Tapi sperma itu begitu kental bagai lem. Tak setetespun jatuh menetes.

Aku tersenyum gemas. “Makasih Ko…” Ucapku lagi lalu menghempaskan badanku. Mencoba menormalkan nafasku yang masih sedikit terengah. Kulirik Eko yang juga masih terengah-engah sudah mulai mengenakan pakaiannya.

“Kak… aku pulang ya…” Pamitnya.

“Iya ko… salam ya buat calon kamu… Dari cewek yang patah hati…” ucapku sambil merengut manja.

Eko hanya meringis mendengar godaanku. “Kakak gapapa aku tinggal sendiri?” Ucapnya.

“Emang kalau kakak tahan di sini, kamu mau?”

“Mungkin aku bisa bantu hubungin temen atau saudara kakak…”

“Iih udah sono, kamu pikir kakak kenapa? Kalau cuma telpon kakak sendiri juga bisa… Udah jangan pikirin kakak lagi” Sahutku gemas.

“Kak… Kakak bisa datang kan ke nikahan aku?”

“Pasti kakak datang sayang… Makasih ya undangannya…”

“Iya kak… makasih… pamit kak…”

“Keluar sendiri ya, jangan lupa pintunya ditutup lagi!”

“Siap kak…”

Aku terdiam melihat kepergian Eko sambil terus merebahkan tubuhku.

Selepas Eko pergi, pandanganku menerawang ke langit-langit. Nafasku sudah mulai kembali normal. Dua menit berlalu sejak kepulangan Eko. Sepi. Waktu serasa berhenti. Sperma kentalnya masih menggenangi wajahku tanpa kubersihkan sama sekali. Aku tidak merasa risih atau jijik. Kalau perlu bahkan ingin kubiarkan biar mengering sendiri sampai pagi.

Aku yang sedari tadi sebenarnya berusaha menyembunyikan perasaan, kini merasa sangat lega. Tak terasa mataku membanjir. Bulir demi bulir air mataku satu persatu berlinang dan bercampur dengan sperma di wajahku.

“Ekoo…” Desahku lirih.

Malam ini… Aku ingin berdua dengan Eko, tapi….

“Hu hu hu…” Aku menangis tersedu. Sesak yang kurasakan dari tadi kini satu-persatu mulai terurai seiring dengan berjatuhannya air mataku. Aku betul-betul tidak tahu kenapa aku jadi begini. Aku tidak tahu apa yang sedang kurasa.

Sambil tetap merebah, kuraih HP di sampingku. Dengan kamera depan kuamati wajahku. Ya ampun, wajahku benar-benar berantakan penuh sperma. Tapi banyaknya sperma itu tidak menyembunyikan kecantikan wajahku. Kupencet tombol foto, satu gambar terabadikan. Kulihat hasilnya, lalu kushare ke grup. Tak peduli obrolan apa yang sedang berlangsung di grup. Mungkin di tengah-tengah cerita Icha yang sedang kulewatkan.

Setelah foto terkirim, kububuhi emoticon menangis.

Aya sedang mengetik…

Ting.

Aya : Dillaaa, hihi… peju siapa tuh?

Ochi : Ya ampun ni anak, dari tadi no comment, muncul2 udah berlumuran peju aja… baru asik2an nih yaa?

Ochi : Eh, kamu itu sedang nangis?

Ai : Iyaa Dilla nangis…

Ochi : Ya ampun sayang, kenapa kamu?

 

…..

Sebelum aku berkomentar, kuscroll obrolan ke atas. Tidak terlalu jauh ternyata. Aku pun mencermati dengan cepat obrolan yang tadi kulewatkan. Icha sudah memulai cerita, tapi sama sekali tak banyak. Dia hanya memulai sedikit, lalu malah minta maaf belum bisa lanjut karna dia dan adeknya sedang diajak makan-makan di restoran sama orang tuanya. Dia mengaku belum bisa bebas ngobrol di grup. Habis itu tidak banyak komentar.

Icha mengusulkan Farah ditunjuk sebagai ketua grup. Yang lain setuju dan menodong Farah untuk cerita. Tapi Farah malah share foto dia sedang digangbang tiga orang cowok. “Maaf ketua sedang sibuk.” Captionnya. Wow… Ya ampun Farah, liarnya… batinku. Setelahnya tentu yang lain riuh mengomentari foto itu. Komentar-komentarnya kadang lucu dan membuatku tersenyum. Aku cukup terhibur.

Di tengah riuhnya komentar itulah aku menginterupsi dengan fotoku.

Beberapa komentar mempertanyakan keadaanku masih muncul. Bahkan Farah yang mungkin masih digangbang ikut komentar.

Farah : Dilla itu beneran kamu nangis?

Nana : Kak Dilla kenapa?

Aya : Halo Dilla…. Kamu gak kenapa-napa?

Aku pun mengetik.

Dilla : Sori ya sudah nginterupsi obrolannya.

Ochi : Kamu kenapa Dira?

Dilla : Huhuhu… aku baru aja mau diperkosa kak…

Ochi : Haah?

Farah : Maigat! serius?

Farah : Terus sekarang gimana?

Farah : Kamu sama siapa?

Ochi : Itu selfie kapan?

Dilla : Barusan…

Aya : Haahh…

Dilla : Aku sekarang sendirian… Huhuhu… Kak Ochi, ke sini dong temenin aku…

Aya : Dira, kamu serius?

Dilla : Iya…

Ochi : Oke aku otw ya. Tunggu.

Farah : Ya ampun Dira honey… kasihannya… Aku juga pingin kesana, tapi ini aku masih dikerjain 3 ekor monyet… aku usir aja ya mereka…!?

Dilla : Gak usah Farah. Aku udah gapapa kok… cuma butuh temen aja.

Farah : Yakin ya gapapa? Maigat kok bisa2nya si kamu sehari 2 kali diperkosa. Kayak minum obat aja…

Ai : Minum obat tu sehari 3 kali nek…!

Farah : Hehe iya ya… ya udah ya, gue sebagai ketua memerintahkan Ochi untuk nemenin Dira! Haha…

Farah : Maaf ya Dira, nanti kamu ceritain ya perkembangannya…

Farah : Ni 3 monyet ga mau diusir… duh mana baru datang lagi nih tambahan 2 monyet!

Aya : Wkwkwk…

Farah : Siapa mau bantu gue? Kewalahan nih gue lawan 5 monyet!

Farah : Nanaa… adekku, gabung yuk… monyetnya ganteng-ganteng lho…

Aya : Wkwkwk… mana ada monyet yg ganteng

Nana : Mauu kak… Kakak di mana sih? Jauh gak dari rumahku?

Farah : Gue send loc yah… serius ini yang mau gabung datang aja ya…

Aya : Kalo gue gabung tapi bawa monyet juga boleh ngga?

Farah : Ha ha ha… boleh! Tapi kalo Alya yang bawa, monyetnya harus yang sudah tua ya… hi hi hi…

Aku tersenyum geli. Parah juga si Farah ini. Ah senangnya kak Ochi mau datang. Kita baru kenal tadi, tapi baik banget dia sama aku. Akupun berpikir untuk mandi sebelum kak Ochi datang.

Sebelum kututup obrolan, aku mengetikkan komentar.

Dilla : Kak Ochi ditunggu ya, pintu rumahku nggak dikunci, nanti langsung masuk aja ya… aku di dalam.

Dilla : Farah… Have fun with the monkeys ya… semoga kamu hamil anak monyet. Weee…

Farah : Aamiin…

Dilla : Wkwkwkw.. malah diaminin.

Farah : Serius gue udah lama pingin banget hamil kaya kak Sarah hahaha

Dilla : Ha ha ha… Farah ente!

Icha : Ha ha.. Kalo hamil ga jelas dong monyet yang mana yang jadi bapaknya?

Farah : Biarin. Malah bagus.

Farah kemudian mengirim gambar. Dia selfie telanjang bulat, dikelilingi 5 orang cowok. 3 cowok sama-sama telanjang, sedangkan yang 2 lainnya terlihat baru melepas baju atasannya. “Yang mau gabung, ditunggu ya…?” Caption Farah pada fotonya.

Aku geleng-geleng kepala melihat binalnya Farah ini. Kututup obrolan sambil kepikiran, apakah aku akan sebinal Farah nantinya kalau terus bergaul di grup ini? Ga tau deh, yang akan terjadi biarlah terjadi…

Aku pun beranjak dan pergi mandi (lagi).

Sambil berjalan ke kamar mandi, sejenak ku lihat bingkai foto orangtuaku. Aku gak kebayang apa jadinya kalau mereka mendengar bagaimana kabarku hari ini. Mereka pasti akan histeris mendengar kabar anak gadisnya mengalami 2 kali percobaan pemerkosaan. “Maafin Dira yah Pa.. Ma… Dira nakal banget sampai hampir diperkosa,” gumamku.

== menunggu update dari suhu bramloser ==

loading...
 Klik “<–” untuk kembali
Summary
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Article Name
Dira: Sang Hijaber Petualang (Sex)
Description
cerita dewasa bergenre "kakak-adik" ini adalah hasil karya agan bramloser dari forum semprot. tokoh utamanya adalah seorang jilbaber yg suka eksibisionis (eksib). manis & menggoda, selamat membaca!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo