loading...

“Shifa mana ?” Tanya Popi, menanyakan Shifa kepada Latifha.

“Gak tau gue, katanya tadi dia di panggil sama Umi Andini kekamarnya.” Jawab Latifha sambil berlari-lari kecil mengikuti rombongan santri lainnya.

“Perasaan, dia sering banget akhir-akhir ini di panggil sama Umi Andini, ada apa ya ?” Tanya Ria.

“Waduh, gak tau juga Ya, tapi iya juga si, semalem dia juga menginap di kamarnya Umi Andini, pulangnya pas habis subuh, terus tadi ke kamarnya Umi lagi.” Jelas Lathifa, walaupun penasaran, dia tak menaruh curiga sedikitpun terhadap sahabatmya.

“Apa dia di hukum ya ?”

“Eehmm… bisa jadi tu.” Jawab Popi.

“Nanti kita tanyain aja de sama orangnya langsung.” Timpal Ria, sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.

Tak terasa saat ini mereka memasuki kawasan Santri, mereka melihat para siswa laki-laki yang masih berkumpul di lapangan, otomatis mereka yang jarang melihat lawan jenis mulai saling menggoda, seperti bersiul atau bersorak, tapi ada juga yang tersenyum malu-malu sambil berbisik.

Para siswa laki-laki yang tadinya sedang serius memperhatikan arahan Gurunya, kini malah memalingkan wajah kearah siswa perempuan yang sedang berlari kecil melewati mereka.

“Lihat tu ada cowok keren, gila ganteng banget ya !” Pekik Popi sambil melambaikan tangan kearah Cakra, pemuda itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.

“Apaan si, itu cowok gue… ” Omel Latifha kesal.

“Hihihi… ya deh sayang, gitu aja ngambek !” Jawab Popi, memang paling suka menggoda Sahabatnya.

“Ciee… ada yang cemburu niye… ” Timpal Ria.

“Apaan si, kalian nyebelin banget si, awas ya kalian nanti.” Ancam Lathifa, tapi malah membuat kedua sahabatnya semakin tertawa terpingkal-pingkal.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau Lathifa menjalin hubungan special secara diam-diam dengan Cakra, bahkan beberapa malam yang lalu, mereka berdua sempat janjian bertemu di belakang danau yang ada di lingkungan sekolah.

Mengingat kejadian malam itu, pipi Lathifa merona merah, karena untuk pertama kalinya, dia mencium bibir seorang pria.

 

———-

Sementara itu di tempat lain, sepasang wanita yang berbeda usia sedang memadu kasih di dalam kamar berukuran 3X4. Mereka berpelukan, sambil berciuman.

Wanita yang usianya lebih tua itu, membuka pakaian pasangannya, yang usianya jauh lebih muda, hingga telanjang bulat. Kemudian ia menuntun pasangan mudanya, naik keatas tempat tidurnya.

Ilustrasi Andini

“Umi… Aaah… ” Ashifa merintih tertahan.

“Kamu cantik sekali, Umi gak perna bosan melihat kamu telanjang seperti ini sayang.” Puji Andini, sembari tersenyum manis, membuatnya terlihat makin cantik.

Andini kembali melumat bibir muridnya, sementara tangannya meremas-remas payudara muridnya, membuat gadis kecil itu merintih keenakan, sambil membalas lumatan mesrah gurunya yang sekarang menjadi kekasihnya.

Aneh memang, seorang guru yang seharusnya mendidik muridnya, malah melakukan perbuatan yang tak terpuji bersama muridnya, yang seharusnya ia didik menjadi anak yang baik.

“Umi gak adil ni.” Rengek Asyifa.

“Loh, gak adilnya di mana sayang ?” Tanya Andini, sambil memebelai wajah cantik muridnya.

“Umi masi pake pakaian lengkap, sementara Shifa uda telanjang kayak gini.” Gadis muda itu cemberut, membuat Andini semakin gemas dan menciumi sekujur wajahnya.

Lalu dia mulai melepas gamisnya dan juga branya, hingga payudaranya melompat keluar, kemudian ia menurunkan celana dalamnya, dan saat itulah terlihat benda besar berbentuk penis yang terhubung dengan ikat pinggang yang melilit di selangkangannya.

Sambil tersenyum, Andini memainkan mainannya di depan muridnya. Ashifa seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia langsung merangkak, mendekati dildo tersebut dengan wajah girang, lalu tangannya yang halus menggenggam dildo tersebut sambil mengocok dan menjilatinya, seperti menjilati es cream kesukaannya itu.

Sementara Andini membelai rambut Ashifa yang terurai indah, sepanjang punggungnya.

“Kamu suka kan sayang ?”

“Iya Mi, Ashifa suka kontol Umi, rasanya geli-geli di mulut.” Jawab Ashifa di sela-sela mengulum mainan Umi.

“Kalau suka, masukin sekarang dong, Umi gak tahan ni.”

“Sebentar lagi dong Umi, akukan masi seru mainin kontol plastiknya Umi.” Pinta Asyifa seperti anak kecil, yang tak ingin di jauhkan dari mainan barunya, membuat Andini semakin gemas.

Tanpa berkata lagi dia menarik penis mainannya, kemudian dia mendorong tubuh mungil Asyifa, dia mengangkangkan kedua kaki Ashifa, hingga vagina mungilnya terkuak. Andini sudah tidak sabar lagi menikmati madu manis vagina Ashifa, murid kesayangannya, sekaligus kekasihnya.

Lidanya terjulur menyapu bibir vagina Ashifa, rasanya asin tapi menyenangkan, membuat Andini tidak perna bosan menjilati vagina Muridnya itu

Tak butuh waktu lama, tubuh gadis muda itu mengejang hebat, kepalanya mengada keatas, ketika orgasmenya tiba, membuatnya berteriak cukup nyaring, tapi untunglah, suasana sore itu tampak sepi sehingga suaranya tidak terdengar oleh siapapun.

“Umi jahaaat !”

“Tapi kamu sukakan sayang.” Goda Andini sambil membelai rambut Ashifa.

Perlahan Andini mengangkat kaki kanan Ashifa keatas pundaknya, sementara kaki kiri Ashifa di rentangkan kearah berlawanan sehingga vaginanya terkuak.

Dia memegang batang dildonya, mengarahkan kearah bibir vagina Ashifa, membelanya dengan cara perlahan, ia dorong inci demi inci memasuki lembah nikmat milik muridnya. Raut wajah itu, ya… Andini sangat suka setiap kali melihat wajah imut Ashifa meringis.menahan rasa sakit bercampur nikmat setiap kali dia mebyetubuhinya, dia semakin puas tatkala Ashifa mulai merintih.

Dengan tempo perlahan, Andini menggoyang pinggulnya maju mundur, sambil meremas kedua payudara Ashifa.

Dua bulan yang lalu, untuk pertama kalinya Andini merenggut keperawanan muridnya, dengan dildo yang ia gunakan saat ini sebagai saksinya. Semenjak saat itu, Ashifa menjadi budak nafsunya hingga saat ini.

“Aaahkk… aaaaa…. aaa… ”

“Kamu cantik sekali sayang, tubuh kamu bagus, Umi tidak bisa berhenti memikirkan kamu !” Ujar Andini, sambil menatap dalam mata muridnya.

“U… Umiii…. Aaaah…. Puaskaaan Ashifaaa… sodok teruuss Umi, Ashifaaa milik Umi… !” Erang Ashifa lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Andini.

Andini menyambutnya, dengan melumat mesrah bibir muridnya, hingga akhirnya Ashifa kembali di terjang badai orgasme yang dahsyat, tubuhnya seperti terkena tegangan tinggi, bergetar hebat, dan terhempas.

Walaupun Andini tidak sampai mengalami orgasme, tapi Ibu Guru itu merasa sangat puas, setiap kali melihat muridnya menggelepar, meringis, merintih dan menggeliat di dalam kekuasaannya, dia puas bisa menaklukan gadis muda nan cantik dan baik seperti Ashifa.

 

—————–

Dddrrrttt….. Ddrrtt… Drrrrttt….

Suara rington hp cukup nyaring, membuat sang pemilik tergesa-gesa kembali kekamarnya, lalu dengan cepat ia mengangkat telponnya.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikum salam, gimana kabar kamu nak ?”

“Baik Ma, kabarnya Mama sama Papa gimana ?” Jawab Nadia, sambil menanyakan balik kabar mertuanya.

“Alhamdulillah baik, kalian kapan pulang? Sudah hampir setengah tahun loh kalian gak pulang.”

“Iya Ma, maaf belum sempat pulang.”

“Ya udah gak apa-apa, tapi nanti kalau kalian ada waktu jangan lupa untuk pulang.” Ujar Farah mertuanya Nadia. “Oh iya ngomong-ngomong sudah ada kabar gembira belom ?” Lanjutnya dengan suara yang terdengar penuh harap.

Deg… perasaan Nadia berubah menjadi tidak tenang. “Maksud Mama kabar apa ?” Tanya Nadia ragu-ragu.

“Gini loh, maksud Mama kapan kamu mau kasih Mama cucu, Mama sudah kepingin menimang cucu.” Pertanyaan yang di takutin Nadia akhirnya keluar juga.

Nadia tak langsung menjawab permintaan Mamanya, karena ia sendiri juga tidak tau, apakah ia bisa memberi cucu untuk mertuanya atau tidak, karena kesempatan dirinya untuk bisa hamil sangat tipis.

Bukan karena Nadia seorang wanita mandul, melainkan karena Suaminya yang mandul, selain itu Suaminya juga mengalami ejakulasi dini. Satu bulan yang lalu, Nadia dan Suaminya mendatangi dokter spesialis kandungan untuk mengecek kesuburannya, dan mencari tau penyebab kenapa ia tidak bisa hamil, padahal ia sudah lama menikah.

Dan ternyata, dari penjelasan dokter, Suaminyalah yang mandul, dan mengalami ejakulasi ringan, sehingga sangat sulit baginya saat ini untuk bisa hamil.

“Nadia… ” Panggil dari sebrang telpon.

“Eh iya Ma!” Jawab Nadia tergagap dari lamunannya.

“Jadi gimana, kapan Mama bisa menimang cucu.” Ujar Farah antusias, membuat Nadia semakin merasa bersalah, walaupun kesalahan terletak pada Suaminya.

“Secepatnya Ma, mohon doanya saja.”

“Kamu itu dari dulu jawabannya gitu-gitu terus, Mama butuh kepastian Nad.” Paksa Ferah seperti biasanya, padahal yang salah sebenarnya adalah putranya sendiri.

Beruntung Jaka memiliki seorang Istri yang setia dan baik seperti Nadia yang selalu menyembunyikan kekurangan Suaminya, dan membiarkan dirinya yang tersiksa demi kebahagian dan harga diri Suaminya.

“Maaf Ma, ini kami lagi usaha.” Jawab Nadia.

“Pokoknya Mama tidak mau tau, tahun ini kamu harus hamil bagaimanapun caranya. Teett…. teeett… ” Tiba-tiba saja lawan bicara Nadia mematikan teleponya.

Dan seperti biasanya, dia segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu ia menyembunyikan wajahnya di dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya. Sebagai seorang wanita tentu saja ia sangat sedih, apa lagi ia selalu di salahkan tanpa ada yang mau mengerti penderitaannya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo