loading...

Reza yang lebih kuat dari Irma dengan mudanya menghempaskan tubuh Irma jatuh di atas tempat tidurnya.

“Jangan melawan, saya hanya ingin memuaskan nafsumu yang besar, saya tau Suamimu tidak perna bisa memuaskan kamu, sampai kapanpun.” Ujar Reza, dia menindi tubuh Irma sambil berusaha mencium bibirnya.

“Jangan Mas… ini dosa, Saya… hhmmpp…. hhmmpp… ” Reza berhasil melumat bibir Istri sahabatmya.

Sambil berciuman jari-jari Reza mempereteli kancing piyama Irma, lalu dia membetot bra yang di kenakan Irma hingga putus, dan membuangnya entah kemana.

Tapi walaupun begitu Reza tak mau buru-buru, dia ingin menikmati tubuh Irma dengan perlahan, sentuhan lembut ia berikan di atas payudara Irma, ia meremasnya pelan, walaupun sedikit kasar, membuat mata Irma melotot, merasakan payudaranya yang sedang di sentuh oleh pria lain yang bukan Suaminya.

“Kamu cantik sayang, jangan melawan ya !” Bisik Reza lirih, dia masi menindih tubuh Irma agar tak bergerak.

“Sadar Mas, aku Istri sahabatmu, kita sama-sama tau kalau ini berdosa Mas, tolooong… Aaahkk… hentikan Mas, sebelum semuanya terlambat.” Isak Irma, dia tidak menyangkah kalau dirinya akan di perkosa di rumahnya sendiri.

“Malam ini aku akan memuaskanmu cantik.”

“Ooohh Mas, jangan di pelintir, aku tidak tahaaan… ” Erang Irma, yang memang sebelumnya sangat terangsang karena birahinya yang belum sempat di tuntaskan oleh Suaminya, di tambah lagi dengan obat perangsang, dan sekarang dia di rangsang habis-habissan oleh sahabat Suaminya.

Reza menyingkap kerudung Irma, tapi tidak sampai melepasnya, hanya saja kerudung itu sedikit memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Reza segera menciuminya, membuat beberapa tanda merah di leher Irma.

Sementara payudaranya di remas semakin keras, dan anehnya remasan kasar Reza malah membuatnya semakin terangsang, dan tak bisa mengendalikan dirinya.

Irma menangis semakin menjadi-jadi, bukan karena ia sedang di perkosa tapi karena tubuhnya yang mulai menikmati setiap sentuhan di dadanya, bahkan bibirnya tak dapat menolak ketika Reza melumatnya kembali.

Ciuman Reza berpinda kedada kirinya, dia mengulum payudara Irma, memainkan puttingnya yang mengeras.

“Jangaaan Mas, aku mohooon !”

“Nikmatin saja sayang, malam ini aku akan membuatmu merasakan yang namanya orgasme, kamu sudah lama menginginkannya bukan ?” Ejek Reza, lalu dia kembali mengulum putting Irma.

“Aaampuun… Aaah… aku tidak mau, tolooong !”

Reza tak perduli dengan teriakan miris dari Irma, yang dia inginkan hanya satu, menaklukan wanita yang di kenal Shaleha, Istri dari sahabatnya. Tangan Reza turun kebawa, dia menekan selangkangan Irma, dia menekan vagina Irma, membuat wanita berhijab itu menggeliat, bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa nikmat nan geli yang di rasakan tubuhnya.

Ciuman Reza berpindah, dari payudara kiri, kini berpindah kepayudarah kanannya, ia menghisap dan mencucup putting Irma yang menggemaskan, sementara jarinya menusuk-nuduk vagina Irma dari luar celana piyama yang di kenakan Irma.

“Aku akan menjadikan kamu wanita binal, malam ini tubuhmu resmi menjadi milikku.”

“Ampuuuun Mas, aku sudah bersuami… !”

“Hahaha… statusmu itu yang membuatku semakin bergairah sayang, kamu bisa bayangkan, wanita soleha sepertimu takluk dengan nafsumu sendiri.” Jelas Reza, dia memainkan jarinya di bibir tipis Irma.

“Kamu pria laknat !” Umpat Irma.

“Hahaha…. ”

“Lepaskan aku, jangan perkosa aku Mas.” Irma semakin kalut, ia memukul dada Reza.

“Ini bukan pemerkosaan, aku hanya ingin membantu wanita setia sepertimu mengeluarkan sisi liarnya, dan sekarang aku ingin melihat memekmu yang basah.” Bisik Reza, dia semakin intens mempermainkan perasaan Irma yang merasa berdosa.

Dia memegang kedua sisi celana piyama Irma, dia menarik perlahan celana piyama Irma, tanpa bantahan, tanpa penolakan, karena Irma secara tidak langsung tubuhnya sudah pasrah menerima nasibnya, hanya hatinya saja yang sedari tadi berteriak menolak perlakuan Reza terhadap dirinya.

Perlahan tapi pasti, celana dalam Irma yang berwarna biru langit di hiasi pitah di bagian atasnya terlihat mengagumkan, ketika celana piyama itu melewati selangkangan Irma, terlihat bercak basah di celana dalamnya, tepat di bibir vaginanya. Irma memalingkan wajahnya dari tatapan nanar Reza, dia benar-benar merasa malu di perlakukan layaknya perempuan murahan oleh sahabat Suaminya sendiri.

Reza menciumi betis Irma, lalu naik kepahanya dan berhenti tepat di selangakangannya, dia mengendus celana dalam Irma yang menebarkan aroma kewanitaanya.

Perlahan diapun menarik lepas celana dalamnya, sehingga vagina berbulu lebat milik Irma terekpose di hadapan Reza. Wanita berkerudung itu menangis semakin keras, dia malu dan sangat marah terhadap dirinya sendiri, karena gagal mencega Reza menelanjangi dirinya.

“Bagaimana rasanya di telanjangi sama orang lain yang bukan Suami ? Rasanya menengangkan bukan, dan membuat kamu semakin terangsang dengan keadaan saat ini.” Bisik Reza sambil membelai paha mulus Irma.

“Bajingan kamu Mas, tegaaa kamu Mas !” Isak Irma.

“Hahaha… terusnya mengumpat, kalau dengan cara itu bisa membuatmu semakin terangsang Ustadza Irma, Suami dari sahabat baikku Iwan, yang mengerahkan Istrinya untuk kujadikan budak nafsuku.” Katanya tajam, dan kemudian kembali menciumi paha mulus Irma.

Benar apa yang di katakan Reza, perlakuan Reza membuatnya tegang, perasaan bersalah yang di rasakannya membuat dirinya semakin terangsang, bukan merasa semakin terhina.

Tak bisa di pungkiri, sebagai seorang Istri yang taat terhasap Agama, perlakuan Reza benar-benar membuat harga dirinya tercabik-cabik, tapi sisi liar yang ada di dalam dirinya sangat menyukai setiap pelecehan dan hinaan yang di lontarkan Reza kepada dirinya, hanya saja Irma belum menyadari sepenuhnya dengan apa yang terjadi terhadap perubuhan di dalam dirinya.

Ciuman Reza semakin lama semakin keatas, ujung lidanya mulai menyentuh bibir vagina Irma yang berkedut, sementara kedua jari jempolnya menekan pinggiran bibir vagina Irma.

“Aaah… hentikan Mas, itu menjijikan !” Teriak Irma, seumur-umur baru kali ini ada seseorang yang mau menjilati vaginanya, karena Suminya Iwan tidak perna sekalipun menjilati vaginanya, walaupun dia menginginkannya.

“Ooooh Tuhaaaan… hentikan, aku mohon Mas.” Irma mengerang, kedua tangannya mengais-ngais, terkadang ia memukul kepala Reza dengan pukulan ringan.

Tetapi Reza tak berhenti merangsang Irma, seorang Istri yang setia dan taat dengan ajarannya. Dia menghisap clitoris Irma, sementara dengan jari telunjuk dan tengahnya dia menusuk lobang vagina Irma dengan gerakan perlahan tapi menghentak, dan terkdang ia mengais-ngais, mengorek liang vagina Irma hingga semakin becek.

“Katanya gak mau, tapi memeknya basah banget, pengen di entot sekarang ya ? Sabar yaa… saya belum puas menjilati memeknya kamu.” Goda Reza, lidanya semkin intens menjilati clitoris Irma, sementara jarinya semakin dalam menggali vagina Irma.

“Aaah… Aampun Mas, ngiluuu… Aaa… pelan-pelan !” Irma menggeliat-liat menahan semua godaan yang melanda ujung syaraf di tubuhnya yang mulai basah kuyup dengan keringat.

Tapi Reza tetap tak mau berhenti, ia senang melihat korbannya yang tak berdaya melawan nafsunya, dia senang saat melihat Istri sahabatnya itu berusaha membongi dirinya sendiri dengan terus meronta dan berteriak, tapi sama sekali tidak berusaha menghentikan perbuatannya, malahan Irma wanita shaleha itu menjambak rambutnya, dan menekan kepalanya.

Setelah lima menit berlalu, tubuh Irma mengejang kaku, kakinya tertekuk, dan kemudian dari dalam vaginanya keluar cairan yang sedari tadi ia nantikan.

Untuk pertama kalinya di dalam hidup Irma, wanita berhijab itu merasakan nikmatnya orgasme, dia merasa seperti buang air kecil, tapi ini rasanya sangat nikmat sekali, bahkan ia sendiri rasanya tak ingin kehilangan apa yang ia rasakan sekarang. Dia tanpa sadar mendekap kepala Reza, menekan wajah seorang pria yang bukan Suaminya tenggelam kedalam hutan rimba miliknya.

“Bagaimana rasanya ? enakkan ?”

“Tidaaak… ini menjijikan Mas, aku mohon Mas lepaskan aku, sadar Mas, ini zina ketika tidak boleh melakukannya.” Isak tangis Irma sambil menutup wajahnya.

Reza berbaring di samping tubuh Irma, dia membelai wajah korbannya, sementara matanya menelusuri setiap lekuk tubuh mangsanya. Reza tidak ingin terburu-buru, wanita seperti Irma tak bisa di perlakukan dengan cara terburu-buru, harus dengan cara perlahan agar membekas di hati wanita shaleha seperti Irma.

Tangan kiri Reza meremas payudara Irma, memainkan puttingnya, membuat tubuh Irma kembali menggelinjang.

“Jangan setubuhi aku Mas, jangan nodai aku !”

“Tidak… tidak… aku tidak akan menyetubuhimu, aku hanya ingin ngentot denganmu, aku ingin merasakan jepitan memek seorang Ustadzah, Istri yang alim.” Bisik Reza menggoda korbannya baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

“Aku tidak mau… !”

“Tidak mau apa ?” Tanya Reza meringis.

“Nge… ngentot Mas, aku tidak mau melakukannya dengan orang lain, selain Suamiku Mas.” Tak sadar Irma mulai mengikuti cara bicara Reza yang sedikit vulgar.

“Tidak sekarang tapi nanti… !” Bisiknya, lalu melumat pelan bibir Irma. “Sekarang kamu boleh keluar, kunci kamarnya ada di atas meja saya.” Sambung Reza sambil melepas pelukannya.

Irma terdiam, sekarang dia yang malah kebingungan, bagaimana mungkin seorang pria yang tadinya ingin memperkosanya tiba-tiba saja melepaskannya begitu saja. Apa yang salah sebenarnya dengan Mas Reza ? Kenapa ia begitu mudanya melepaskanku ? Bukankah ini kesempatan yang bagus bagi dirinya untuk menikmati tubuhku ? Irma merasa tidak rela kalau dirinya di lepaskan begitu saja.

“Pergilah sebelum saya berubah pikiran, atau kamu mau aku perkosa sekarang ?” Kata Reza mengejek Irma.

“Bajingan, aku tidak sudi di perkosa olehmu.”

Irma segera bangun dari tempat tidurnya, ia memungut pakaiannya dan hendak mengenakannya kembali. “Tinggalkan celana dalammu.” Ucap Reza terdengar seperti perintah, dan bodohnya Irma mengikuti perintah Reza.

Ia segera mengenakan kembali piyamanya tanpa mengenakan dalamannya, karena branya sudah putus dan celana dalamnya di ambil Reza.

Buru-buru Irma mengambil kunci kamar Reza, kemudian dia bergegas menuju pintu kamar Reza dan hendak membukanya, tapi lagi-lagi Reza menghentikannya.

“Tunggu sebentar.” Kata Reza.

Dia membuka lemari pakaiannya dan kemudian dia mengambil sebuah botol berukuran kecil yang berisi obat perangsang, Irma tampak kebingungam saat menerima botol tersebut, tapi ia tetap mengambilnya dari tangan Reza.

“Itu obat perangsang, kamu minum setiap bangun tidur dan saat kamu ingin tidur.” Perintah Reza.

“A… apa ? gila kamu Mas.”

“Cobalah dulu, dan kamu rasakan sensasianya… ”

“Persetan dengan obat ini, aku akan membuangnya, dan aku akan mengadukan perbuatanmu kepada Mas Iwan.” Ancam Irma geram dengan perlakuan Reza

“Terserah apa katamu, tapi aku meragukannya.”

Braaak… Irma membanting pintu kamar Reza, ia berlari sambil menangis kembali kekamarnya.

Sementara Reza ia tersenyum penuh kemenangan, ia yakin sebentar lagi, Irma Istri sahabatnya yang shaliha itu akan jatuh kedalam pelukannya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo