loading...

“Teruuss Abi… Aah… Aah… !”

“Pelan-pelan sayang, suaranya di kecilin, malu nanti kedengeran sama temannya Abi.” Ujar Iwan, yang tak perna bosan mengingatkan Istrinya.

“Gak bisa Bi, Aaaa… enak banget Bi !” Erang Irma tak perduli.

“Uuhk… iya sayang, Abi mau keluar ni.”

“Nanti Bi, Aaahk… Umi masi belum ni.” Rengek Irma, malam ini dia sudah bertekad, akan mendapatkan klimaksnya, bagaimanapun caranya.

Irma mendorong tubuh Suaminya hingga terlentang, lalu dia naik keatas tubuh Suaminya, di arahkan penis Suaminya.ke lobang vaginanya, lalu dengan satu hentakan dia menduduki penis Suaminya hingga amblas.

Dia segera menggerakan pimggulnya naik turun, sesekali ia memutar pinggulnya. Rasa nikmat yang ia rasakan bertambah nikmat, apa lagi Suaminya memberinya stimulasi terhadap kedua payudarahnya, memainkan puttingnya, membuat Irma semakin berteriak kencang.

Tapi apa daya, ketika keterbatasan Suaminya, membuat Irma harus kembali menelan pil pahit.

“Bi keluaaar !” Erang Iwan, tubuhnya mengejang sejenak.

“Belum Bi, jangan keluar dulu.” Pinta Irma.

“Maaf sayang.”

“Gak boleh Bi, Umi belum dapat… ” Irma tidak mau menyerah, ia semakin bersemangat mengaduk-aduk penis Suaminya, berharap nafsu Suaminya kembali bangkit.

Tapi Iwan bukan tipe pria yang mudah untuk membangunkan hasratnya, dia butuh waktu, walaupun dia sangat bernafsu melihat Istrinya.

Tak urung, ketika Irma menarik pantatnya keatas, penis Suaminya yang kecil terlepas dari cengkraman dinding vaginanya. Tapi Irma tetap tidak mau menyerah, dia berusaha memasukan kembali penis Suaminya, tapi gagal. Berkali-kali ia mencoba membangunkan penis Suaminya, tapi tetap saja tidak bisa, membuatnya akhirnya menyerah.

Dia merebahkan tubuhnya kesamping Suaminya, dia kesal karena Suaminya tidak pernah mampu memuaskan birahinya.

“Umi… !”

“Jangan sentuh aku Bi.”

“Maafin Abi ya sayang, Abi sudah berusaha, bahkan Abi sudah minum obat kuat, tapi ternyata tetap gagal.” Sesal Iwan, ia sendiri sebenarnya merasa bersalah karena tidak pernah bisa memuaskan birahi Istrinya, walaupun ia sudah melakukan berbagai cara agar bisa tahan lebihi lama.

Irma tetap diam, ia masih amat kesal dengan Suaminya, dari dulu dia tak pernah merasakan yang namanya orgasme, sementara teman-temannya yang sudah menikah sering bercerita bagaimana nikmatnya saat mencapai orgasme, sementara dirinya hanya bisa menjadi pendengar yang baik, padahal ia sudah lama menikah dan memiliki seorang anak.

“Umi ngantuk Bi.”

“Ingat Umi, surganya Istri ada pada ridhonya Suami, walaupun Abi tidak bisa memuaskan kamu, bukan berarti kamu bisa marah seperti ini dengan Suami kamu.”

“Aku tau Abi, tapi apa salah kalau Umi kecewa.”

“Itu haknya Umi, tapi bukan berarti Umi boleh mendiamkan Abi seperti ini. Ya sudah Abi mau ronda dulu, malam ini giliran Abi yang ronda.” Iwan segera keluar kamar, meninggalkan Istrinya sendiri yang masi diam memikirkan ucapannya.

Dia segera kekamar mandi, menunaikan kewajibannya, mandi wajib, selama ia menyiram tubuhnya, dia memikirkan perubahan yang terjadi kepada Istrinya. Selama ini Istrinya tak perna mengeluh walaupun ia tidak bisa memuaskan Istrinya, tapi akhir-akhir ini Istrinya sering mengeluh.

Dia tidak tau apa yang menyebabkan Istrinya berubah seperti saat ini, dia hanya berharap Istrinya bisa mengerti dan menerima kekurangannya.

Saat dia kembali kekamarnya untuk berganti pakaian, Istrinya tetap diam tak mau mengajaknya bicara, bahkan ketika ia berpamitan ingin pergi, Irma tak berkomentar apapun, dia hanya memandang sesaat kearah Suaminya.

“Mas, mau kemana ?” Tanya Reza.

“Mau pergi ronda, biasa jadwal bulanan. Nanti juga kamu kebagian, mungkin untuk bulan depan.” Jelas Iwan sambil tersenyum ramah.

“Kalau begitu biar aku ikut denganmu Mas.”

“Tidak perlu biar saya sendiri saja, kamu di rumah.” Tolak Iwan, dia tentu tidak ingin merepotkan tamunya, walaupun sebentar lagi Reza akan menjadi salah satu penghuni Madrasah.

“Saya gak enak Mas, sama Mbak Irma, kalau cuman berduaan saja di rumah, takut nanti salah paham.”

“Hei tenanglah, aku mengenalmu sudah sangat lama, aku tau kamu orang yang baik, dan aku sangat mempercayaimu. Aku merasa lebih khawatir kalau aku harus meninggalkan Istriku sendirian di rumah.”

“Hahaha… Mas Iwan bisa saja.” Jawab Reza sambil menggaruk kepalanya.

“Ya sudah aku pergi dulu ya.”

“Iya Mas, hati-hati di jalan.”

“Sama-sama, aku titip Istriku kepadamu.”

“Baik Mas, aku akan menjaga Istrimu…”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

Setelah Iwan pergi, Reza segera menutup pintu rumah, dan ‘klik’ dia menguncinya.

Reza berjalan kekamarnya, lalu mengambil sebutir kapsul di dalam botol obat. Kemudian ia keluar menuju dapur, membuat segelas susu yang nantinya akan di berikan kepada Irma, istri sahabatnya sendiri.

Reza… reza… malam ini adalah malam keberuntunganmu, selagi temanmu berjaga-jaga di luar sana, kamu di dalam rumahnya, akan mencuri tubuh Istrinya, Hahaha… bodoh sekali kamu Mas, menitipkan Istrimu kepadaku, tapi tenang saja Mas, malam ini aku akan membuat Istrimu bahagia dan melupakanmu…

—————-

Tok… tok… tok…

“Siapa ?”

“Ini aku mbak, Reza !”

“Ada apa Mas ? Sebentar ya… ” Irma segera turun dari atas tempat tidurnya, ia sempat menghapus air matanya.

Dia mengambil sepasang piyama tidur yang lebih sopan dari sebelumnya, tak lupa ia juga mengenakan kerudung, bagaimanapun juga Reza bukan muhrimnya, sudah selayaknya sebagai seorang Istri yang taat, ia menutup seluruh auratnya, untuk menjaga diri.

Perlahan Irma membuka pintu kamarnya, dia melihat Reza sedang tersenyum sambil membawakannya segelas susu hangat. Harus diakuinya, Reza memang lebih perhatian ketimbang Mas Iwan, Suaminya yang rada cuek.

“Ini sengaja saya buatkan khusus buat Mbak.” Reza menyerahkan segelas susu hangat kepada Irma.

“Terimakasi Mas.”

“Sama-sama Mbak, ehm… kalau lagi butuh temen ngobrol, saya ada di kamar, panggil aja.” Ujar Reza sembari tersenyum, lalu ia berbalik dan hendak kekamarnya, tapi sebelum itu ia kembali berkata. “Jangan nangis lagi Mbak, nanti cantinya hilang loh.” Rayu Reza.

“Iya makasi.”

Irma kembali menutup pintu kamarnya, dia duduk di atas tempat tidurnya sambil menikmat segelas susu hangat pemberian Reza. Dia tidak menyangka kalau Reza begitu perhatian kepadanya, berbeda dengan Suaminya, yang tega meninggalkan dirinya dalam keadaan kacau seperti ini.

Seandainya saja Mas Iwan bisa seromantis Mas Reza, mungkin aku akan menjadi Istri yang paling bahagia

Tanpa di sadarinya, Irma perlahan mulai menbandingkan Suaminya dengan pria lain, kekecewaan terhadap Suaminya membuat dirinya lupa hakikat menjadi seorang Istri yang setia, baik perbuatan maupun hati, seperti yang telah di ajarkan oleh ajaran Agamanya.

Dia kembali meminum susu pemberian Reza, entah kenapa bayangan Reza tak mau hilang dari bayangannya, padahal ia sudah berusaha menggantinya dengan wajah Suaminya, tapi yang terjadi dia malah kesal.

Irma telah menghabiskan susu hangatnya, efek dari obat perangsang yang di berikan Reza mulai bereaksi, Irma mulai merasa tak tenang, puttingnga mengeras, dan vaginanya membanjir, ingin rasanya dia memuaskan birahinya dengan bermasturbasi, tapi dia tau itu dosa dan ia lebih memilih bertahan.

Perlahan ia merebahkan tubuhnya, berusaha menenangkan dirinya, tapi lama-kelamaan dia semakin tergoda untuk menyentuh organ tubuhnya.

“Tidak… tidak… aku tidak boleh melakukannya, lebih baik sekarang aku menemui Reza, setidaknya aku punya teman ngobrol untuk melupakan birahiku ” Gumam Irma, teringat dengan pesan Reza barusan kepada dirinya.

Dia segera keluar kamar menuju kamar Reza, awalnya dia agak ragu untuk mengetuk kamar Reza, tapi birahinya yang tinggi menuntut pengalihan.

Tok… tok… tok…

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, Reza menyambut Irma dengan mengenakan kaos putih yang super ketat memeluk tubuh Reza, sehingga baju itu memperlihatkan bentuk tubuh Reza yang sempurna dan kekar.

“Ada apa mbak ?” Tanya Reza.

“Maaf Mas, cuman pingin ngobrol aja, tapi kalau Mas mau tidur saya akan pergi.” Jelas Irma, entah kenapa ia merasa bersalah dengan perbuatannya kali ini.

“Saya lagi santai aja kok Mbak, ayo masuk.” Ajak Reza.

Walaupun menyisakan keraguan Irma menerima tawaran Reza untuk masuk kedalam kamarnya.

Perasaan Irma semakin tak menentu, aroma melati yang tercium oleh hidungnya, membuat birahinya semakin meledak-ledak, tanpa bisa ia tahan, cairan vaginanya terus menerus keluar tanpa bisa ia hentikan, membuat celana dalamnya terasa lembab.

Jantungnya berdetak semakin keras, tatkala Reza duduk di sampingnya, apa lagi ketika ia melihat senyuman Reza yang menggoda, membuat dirinya semakin tak tenang.

Sadar Irma, kamu tidak boleh di sini, di kamar pria lain yang bukan muhrimmu, ingat cowok yang di sampingmu ini dulu perna menggodamu, kamu Istri yang baik, kali ini kamu tidak boleh terbuai oleh godaannya, kamu harus keluar sekarang, ingat Suamimu Irma… ingat anakmu, ingat keluargamu kecilmu

“Maaf Mas, saya ke kamar dulu ya !” Irma hendak buru-buru pergi sebelum hal buruk terjadi. Tapi Reza dengan cepat menahan pergelangan tangan Irma.

Irma terdiam, melihat pergelangannya yang sedang di pegang oleh pria lain, darahnya berdesir, nafasnya semakin berat. Segera ia mengibaskan tangannya, melepas pegangan Reza di pergelangan tangannya.

“Mau kemana ? katanya mau ngobrol.”

“Gak jadi Mas.” Jawab Irma buru-buru.

Tapi Reza tak ingin kehilangan mangsanya, dia menarik kembali tangan Irma, dan memintanya untuk duduk. “Kenapa ? kitakan cuman ngobrol.” Jelas Reza, matanya menatap dalam-dalam mata Irma. Tapi Irma segera mengalihkan pandangannya.

“Kita bukan muhrim Mas, gak pantas kita berdua berada di kamar berduan seperti ini.”

“Kenapa tadi kamu masuk kekamar saya ?”

“Saya khilaf.” Jawab Irma lirih.

“Jangan munafik Mbak, saya tau kalau Mbak kesepian, biarkan saya menemani Mbak malam ini.” Ujar Reza yang mulai kehilangan kesabarannya.

“Maksudnya ? Maaf Mas saya wanita baik-baik, dan saya sangat mencintai Suami saya. Oh iya, kelakuan anda malam ini sangat kurang ajar, saya berharap besok anda sudah meninggalkan rumah saya dan jangan datang lagi.” Ucap Irma emosi mendengar perkataan Reza kepadanya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo