loading...

Pemandangan yang kulihat barusan sedikit banyak membuatku terangsang, walaupun menyimpan banyak tanda tanya melihat sikap Ustadza Irma dan Lathifa, dan menyisakan rasa sakit hati, mengetahui wanita yang kucinta terlibat dalam pesta sex.

“Baru pulang?”

“Eh… ” Aku menghentikan langkahku di ruang keluarga, dari dalam kegelapan aku dapat melihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa. “Kak Nadia belum tidur?” Sapaku hanya sekedar berbasa-basi.

“Mana bisa tidur, kalau selalu kepikiran kamu.” Jawabnya dengan nada jutek. “Hidupkan lampunya Dek.” Aku segera menghidupkan lampu hingga terang benderang.

Kini aku dapat melihat jelas Kak Nadia yang sedang duduk di sofa, sambil melipat kedua tangannya di dada, membuat dadanya yang besar semakin membusung kedepan, membuatku bergairah. Seandainya saja Kak Nadia sedang tidak marah kepadaku, mungkin aku bisa dapat jatah secelup dua celup.

Aku duduk di samping Kak Nadia, dia langsung membuang mukanya.

Sepertinya Kak Nadia sudah tidak marah lagi, dia hanya sedikit merajuk. Dan itu artinya, aku hanya perlu membujuknya dengan perlahan agar dia tidak merajuk lagi seperti saat ini.

Aku memberanikan mengamit tangannya, tapi dia menepisnya, aku mencobanya lagi tapi kembali di tepis, dan kucoba lagi untuk ketiga kalinya, dan kali ini dia diam menerima tangannya kugenggam. Kudekatkan tubuhku, lalu tangan kananku memeluk perutnya dari samping.

“Lepasiiin.”

“Gak akan, kecuali Kakak mau maafin aku!” Kataku, semakin erat memeluknya.

“Kamu minta maaf aja belum.”

“Ya udah aku, minta maaf ya Kak, jangan marah lagi… soalnya kalau Kakak marah, aku jadi merasa kehilangan Kakak.” Kataku memebujuknya, lalu aku mengecup pundaknnya dengan lembut.

“Lepasin…” Dia menggeliat.

Aku memeluknya semakin erar, kusandarkan kepalanya di dadaku, sementara bibirku menghujami wajahnya dengan ciuman. Kak Nadia berusaha memberontak, tapi rontahannya sangat lemah bahkan terkesan pasrah, walaupun ia selalu berusaha menghindari ciumanku kebibirnya, tapi dia sama sekali tidak menyingkirkan tanganku yang sedang meremasi payudarahnya.

Muuaahk… Akhirnya aku bisa mencium bibirnya, dan lidahku mulai menari-nari di dalam mulutnya

Aku menghisap lidahnya dengan lembut, menelan air liurnya dan memberikan air liurku kepadanya, kami berciuman sangat panas. Sementara tanganku meremas teteknya semakin kencang.

“Aaahkk… Dek!” Erang Kak Nadia.

Aku melepas ciuman dan remasanku, cukup lama aku menatap matanya yang berbinar.

“Ngambeknya di kamar aja ya Kak?” Ujarku sambil membelai wajahnya, lalu kukecup mesrah keningnya, dan secara bergantian aku mencium kedua pipinya.

“Apaan si Dek.” Katanya pura-pura judes.

“Apa perlu aku gendong.”

“Gak mauuu… Aaauuww…” Kak Nadia segera melingkarkan kedua tangannya keleherku, saat aku tiba-tiba menggendongnya.

Aku membawanya masuk kedalam kamarmya, kujatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Aku kembali menutup pintu kamar Kak Nadia, kemudian mengunci pintu kamarnya. Kak Nadia segera menghampiriku, ia hendak membuka pintu kamarnya, tapi aku cekatan menghalanginya, kupeluk tubuhnya dengan erat sambil melumat bibirnya, sementara tanganku bergerilya diatas pantatnya yang montok.

Kugiring Kak Nadia keatas kasur, lalu kehempaskan tubuhnya kembali dan menindihnya.

“Jangan marah lagi ya Kak.” Bisikku pelan di dekat telinganya, lalu lidahku menjulut menyapun daun telingannya, menghisap lembut daun telinganya.

Sementara kedua tanganku satu persatu membuka kancing piyama pakaian Kakakku, dan seperti yang kuduga Kak Nadia tidak mengenakan bra, sehingga payudarahnya langsung melompat keluar.

Aku segera mengulum payudara Kak Nadia secara bergantian, menghisap lembut puttingnya yang meruncing indah, membuat tubuhnya menggeliat nikmat, dan mendekap kepalaku cukup erat.

“Ooouuhhkkk…. Aaadeeeeek…. Aaaahhkk…. Aaahkk….”

Secara bergantian aku mengisap dan meremas payudarah Kak Nadia, membuat Kak Nadia mengerang semakin keras.

Kedua tanganku memegang kedua sisi celana tidur Kak Nadia, lalu dengan perlahan aku menarik turun celana tidurnya, menyisakan g-string hitam yang di kenakan Kak Nadia. Jilatanku kini beralih keatas perutnya, aku menjilat pusarnya, sementara tangan kananku mengelus dan merabah vagina Kak Nadia dari luar celana dalamnya yang nampak sangat basah.

Iseng kutarik keatas celana dalamnya hingga tenggelam kedalam lipatan bibir vagina Kak Nadia, sementara bibirku menciumi pinggiran celana dalam Kak Nadia.

“Aduuuuhk… Deeekkk…. ! Aaahkk…. Aaahkkk…. memek Kakak gateeeellll Dek.” Pekik Kak Nadia, sepertinya ia sudah tidak sabar lagi merakasan kontolku di dalam memeknya yang gatal.

Kutarik lepas g-astringnya, lalu lidahku menjilat dan menghisap bibir vagina Kak Nadia.

Dengan cekatan aku mencari clitoris Kak Nadia, lalu kini aku memfokuskan lidahku bermain dengan clitorisnya, sementara jari telunjukku mengorek-ngorek liang vaginanya, mengocoknya dengan perlahan.

PLOOOOPPSSS…. PLOOOOPPPSS… PLOOPPSS…. PLOOOPSSS… PLOOOPPSS…. PLOOOPPS…. PLOOPSS…. PLOOOOPSSSS…. PLOOOOPP…. PLOOOPPSS….

Semakin lama aku semakin cepat mengocok vagina Kak Nadia hingga cairan cintanya membanjir semakin deras, lalu tak lama kemudian, tubuhnya menggigil hebat, kedua betisnya mengejang kaku, tatkala orgasme menghantam tubuhnya tanpa ampuun.

“Aaaaddddeeeeekkk…..!”

Tubuh Kak Nadia langsung terkulai lemas, nafasnya memburu dengan keringat yang bercucuran di dahinya. Aku berbaring di samping Kak Nadia lalu, kupeluk mesrah pinggangnya sambil menatap matanya.

Kak Nadia memang sangat cantik, dia terlihat sempurna di mataku, sungguh beruntung saudaraku bisa menikahi wanita sebaik Kak Nadia.

“Kenapa? Kepingin?” Tanya Kak Nadia membuyarkan lamunanku tentang dirinya.

“Kakak gak marah lagi?”

“Gak kok Dek, tapi lain kali mainnya pelan-pelan aja ya Dek, Kakak gak suka kamu main kasar kayak tadi siang, rasanya gak enak banget.”

“Iya Kak, Maaf ya Kak.” Kataku berbinar senang.

“Iya Adekku yang bandel, Kakak maafin, sekarang masukin kontol kamu ya, Kakak dari tadi siang nahan-nahan pengen di entot sama kamu.” Pintanya vulgar membuatku senang bukan kepalang.

Kemudian Kak Nadia membuka pakaianku hingga telanjang bulat, dan menggenggam penisku, mengocoknya perlahan sambil menyapukan lidahnya diatas kepala penisku.

Darahku langsung berdesir nikmat, meresapi permainan lidah Kak Nadia.

Mulut Kak Nadia terbuka lebar, dia melahap penisku dengan rakus, sementara tangannya membelai kantung pelirku, rasanya ngilu tapi sangat nikmat.

“Cukup Kak, aku belum mau keluar.” Kataku memintanya untuk segera berhenti.

Kakakku segera berhenti mengoral penisku, tapi sebagai gantinya, dia memintaku duduk bersandar dan kemudian dia duduk di pangkuanku, dia menggenggam penisku, mengarahkan penisku kedalam vaginanya yang sudah sangat licin itu.

Aaahkk… memek Kakak rasanya enak banget, ngejepit kontolku dengan sangat erat, aku sangat menyukai sensasi jepitan memek Kakak.

Dengan perlahan, Kak Nadia berhasil menelan semua batang kemaluanku hingga menubruk rahimnya. “Aaaaahkk…” Dia mendesah pelan, lalu dengan perlahan ia menggoyangkan pinggulnya naik turun di atas pangkuanku dengan ritme perlahan.

Aku meraih lehernya, lalu mendekatkan wajahku kewajahnya. Bibir kami kembali berpagutan mesrah seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak perna bertemu dan berbagi kasih.

PLOOOOKKK…. PLOOOOKKK…. PLOOOKK…. PLOOOKKK… PLOOOOKKK…. PLOOOKKKKKKK……

Kubuka perlahan kerudung Kak Nadia, lalu kelempar sembarangan, ku kecup mesrah lehernya, kubuat beberapa cupangan merah di lehernya.

Persyetan dengan Mas Jaka, yang terpenting saat ini aku bisa memuaskan birahiku yang sempat tertunda, dan meredahkan amarahku yang tadi sempat memuncak gara-gara melihat Clara.

“Aaaa… Adeeeeekk… Aaahkk… isep tetek Kakak Dek, Ooohhkk… kontol kamu enak bangeeet dek.” Dia menyodorkan payudarahnya kedepanku, lalu aku langsung melahap payudaranya.

Ssluuuppss…. Plooookkkkkk…. Ploooookkss…. Plokks…. Plookokk…. Sluuupsss…. Sluuupppp…. Plookk… ploook… Sluuppss…. Ploookkkkkssss…. Ploookkss….

Aku menghisap rakus payudarah Kak Nadia, sambil menikmati setiap hentakan pantat Kak Nadia yang turun naik di atas pangkuanku.

Sepuluh menit kemudian, kurebahkan tubuh Kak Nadia agar berbaring, lalu ku tindih tubuhnya, dan kulesatkan kontolku kedalam memeknya, kukocok dengan cepat memeknya yang sudah sangat licin itu.

“Aaaaahhkkk…. kamu hebaaar Deeek!”

“Kakak pasti kangenkan sama kontol aku?” Godaku, sambil memainkan kedua payudarahnya yang terguncang-guncang itu.

“Adeeeeekk…. sodok lebih cepaaat, Oooh…”

“Iya Kak, kayaak gini Kak?”

“Iyaaaa…. aaauuuwwe…. gitu sayaaaang, Ooohhkk… nikmatnya kontol kamu Dek….”

“Memek Kakak juga enak bangeeet.” Erangku, tak henti menggoyang pinggulku maju mundur menghentak selangkangan Kak Nadia.

“Adek, Kakak mau keluaaar…”

“Adeeeeek juga Kak.”

Crrrrooooottt….. cccrrrooottt…. seeerrr….ssssseeeerrr….

Kami secara bersamaan mencapai klimaksnya. Kurebahkan tubuhku dari atas tubuh Kak Nadia, sambil mengatur nafasku yang berat.

 

———————

Aku duduk bersandar sambil memeluk tubuh Kak Nadia yang indah, rasanya aku tidak perna bosan melihat tubuh indah Kak Nadia yang sangat menggoda. Sungguh bodoh Mas Jaka meninggalkan Istrinya yang cantik jelita di rumah sendirian.

Melihat Kak Nadia, aku jadi ingat dengan Ustadza Irma, mungkin saat ini mereka masi melakukan pesta sex di rumah Ustad Reza.

“Kakak kenalkan dengan Ustadza Irma?” Tanyaku memulai obrolan.

“Iya Kakak kenal emang kenapa?”

“Cukup dekat?” Kataku memastikan.

“Sangat dekat malahan, Kakak tau Irma luar dalam Dek, dia udah kayak saudara buat Kakak. Emangnya kenapa si Dek? Ada masalah?” Tanyanya penasaran, dia memeluk perutku dengan erat sambil menyadarkan kepalanya di atas dada bidangku.

“Gimana ya memulainya?” Ujarku bingung.

“Udah cerita aja kenapa?”

“Eehmm… Kakak tau gak hubungan Istadza Irma dengan Ustad Reza? Menurut Kakak ada yang aneh gak sih dengan sikap Ustadza Irma akhir-akhir ini.” Tanyaku, karena jujur saja aku masi tidak percaya kalau Ustadza Irma yang baik itu bisa melakukan pesta sex bersama-sama seperti yang aku lihat barusan.

“Maksud kamu?”

“Jadi gini Kak, tadi pagi temenku cerita katanya di rumah Ustad Reza suka ada pesta sex, karena penasaran tadi aku sama temen-temenku sengaja datang kerumah Ustad Irma buat memastikan cerita temanku.

Dan ternyata memang benar Kak, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ustad Reza sedang menggauli Ustadza Irma, gak hanya mereka berdua, ada Pak Rozak, Budi dan Dewa juga, selain itu ada teman kelasku Chakra, lalu perempuannya selain Ustadza Irma, ada santriwatinya juga, Lathifa bersama Clara.” Jelasku panjang lebar, sementara Kak Nadia menatapku serius, mendengarkan ceritaku.

“Kamu yakin Dek?”

“Yakin banget Kak, aku melihatnya sendiri denyan kedua mataku secara langsung.” Kataku dengan serius, apa yang kutakan memang benar apa adanya.

“Pantesan akhir-akhir Irma sering menyendiri, setiap aku ajak cerita gak perna nyambung.” Kata Kak Nadia, dia menggeser posisinya. “Tapi jujur Dek, Kakak ragu kalau sahabat Kakak Irma bisa berbuat seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi terhadap dirinya.”

“Maksudnya Kakak dia dipaksa?”

“Iya bisa jadi, gak menutup kemungkinan kalau dia diancam oleh Reza, karena dulu Irma perna cerita, kalau Reza itu bajingan, perna sekali Reza menggoda Irma saat Suaminya sedang tidak di rumah.” Jelas Kak Nadia serius, aku mengangguk pelan.

“Tapi Kak, kalau aku lihat Ustadza Irma sangat menikmati ketika di gituin sama Reza, bahkan ia yang minta-minta sama mereka.”

“Yaelah Dek, Irmakan juga wanita normal, wajarlah kalau dia menikmati saat di perkosa…” Jelas Kak Nadia, tapi kalau di pikir-pikir memang benar apa yang di kantakan Kak Nadia, buktinya saja Kak Nadia juga suka lepas kendali setiap kali kusetubuhi.

“Terus kita harus gimana Kak?”

“Begini saja, nanti Kakak yang ngomong sama Irma, kalau dia melakukan itu karena suka sama suka ya kita biarkan saja, tapi kalau karena terpaksa, atau di ancam, kita wajib harus bantuin dia Dek, karena dia sahabat terbaik Kakak, kamu maukan bantuin sahabat Kakak.” Ujar Kak Nadia, aku mengangguk setuju.

“Terimakasi ya Dek.”

Lalu bibir kami kembali bertautan, sementara tanganku meremas kedua payudaranya.

Kupinta Kak Nadia untuk menungging, dan dari belakang kusiapkan terpedoku untuk kembali menyodok memek Kak Nadia dari belakang.

Kucengkram erat pantatnya yg putih bulat itu, kemudian ‘bleeas…’ dengan satu kali hentakan penisku amblas kedalam memek Kak Nadia, dengan perlahan aku mulai memompa memek Kak Nadia sambil membelai dan meremas pantat bulat Kak Nadia, aku semakin cepat menyodok memeknya.

Dan seperti biasanya, Kak Nadia mengerang, dan aku mendesah, menikmati persetubuhan terlarang kami hingga menjelang adzan subuh.

== BELUM TAMAT —

Mari berlangganan Cerita Dewasa!!

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

cara membesarkan penis

5 Cerita Dewasa Terakhir

loading...
 Klik “<–” untuk kembali

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo