loading...

Sementara Irma sendiri seperti biasanya tak berdaya berada di dalam pelukan Reza, seorang predator pemangsa wanita.

Sambil berciuman Reza mengangkat sebela kaki Irma, kemudian dia melesatkan penisnya kedalam liang senggama Irma, dia mengocok dengan ritme yang perlahan sementara ciumannya perlahan turun menghisap leher Irma.

Tubuh Irma menggelinjang di dalam dekapan pria lain yang bukan Suaminya, dia mendesah semakin kencang tatkalah kocokan penis Reza semakin berutal menghujami vaginanya.

“AAAAAHHKKK…. PELAAAN-PELAAAAN… AAAAAHKK… AAAHKK…. AAAAHKK…. OOOOHHK….”

PLOOOOKKK…. PLOOOOKKK….. PLLLLLLOOOOKKKK….. PLOOOOOOKKKKK…. PLOOOKKK… PLOOOOKKK….

“Anjiiiiiiiing…..”

 

—————-

Seperti yang sudah kami sepakati bersama, aku bersama ketiga sahabatku berkumpul di asrama, tepat jam sebelas malam, setelah kami menentukan jalan yang akan kami tempuh yang memakan waktu lebi lama, kurang lebih setengah jam lamanya.

Kami sengaja memilih jalur memutar karena kalau melewati jalur biasanya, kami takut nanti akan di lihat oleh Ustad atau Santri lain, bisa-bisa rencana kami malam ini akan gagal total.

Selama di perjalanan ketiga sahabatku tanpak asyik mengobrol, menilai apa yang akan mereka lihat nanti, dan tampaknya, mereka sudah tidak sabar menaton live show yang akan kami lihat nanti. Dan sementara aku lebih banyak diam memikirkan Kak Nadia yang tadi siang sempat marah kepadaku.

Pulang dari sini, aku harus bisa membujuk Kak Nadia agar ia tak marah lagi kepadaku.

Setibanya di rumah Ustad Reza, kami langsung mengambil posisi. Arman segera mengambil dua buah bangku yang menganggur tidak jauh dari tempat kami berdiri, dan rencananya bangku itu akan menjadi pijakan kaki kami, agar bisa mengintip dari pentilasi rumah Ustad Reza yang memang cukup tinggi. Kami secara teratur segera menaiki bangku tersebut.

Dan benar saja, aku yang sebelumnya tidak percaya kini sangat yakin kalau Ustad Reza mengadakan pesta sex di rumahnya bersama beberapa pegawai Madrasah, seorang santriwati yang kutahu dia adalah anak yang paling berprestasi di sekolahku, bersama Ustadza Irma yang tak lain sahabat dari Kakak Iparku, dan salah satu staf pengajar di madrasyah. Sungguh sangat sulit untuk dapat kupercaya.

Kulihat Ustadza Irma sedang berdiri bersandar di tembok, sementara Ustad Reza menghimpit tubuhnya sambil menggoyangkan pinggulnya.

“Walaupun sudah di sodok setiap hari, tapi memek kamu rasanya tetap sama saja.” Ujar Ustad Reza, dia meremasi payudara Usradza Irma.

“Aauuuwww… aaaahkk… Mas enaaaak… sodok lebih dalam lagi Mas.”

“Tentu sayaaaang… HAHAHAHA…”

PLOOOOOOKKKK…. PPPPLLOOOOOKKK…. PLOOOKKK…. PLOOOOOKK…. PLOOOOKK…. PLOOOKKK…

Tanpa ampun Ustad Reza menyodok habis memek Ustadza Irma, hingga terdengar suara benturan antar kelamin yang amat nyaring di telingaku.

Kulihat ketiga sahabat mulai beraksi, salah satu tangan mereka kini menghilang, bersembunyi di balik celana mereka masing-masing. Aku juga tidak mau kalah, bagaimanapun juga pemandangan yang ada di hadapanku saat ini sangat menggairahkan.

Kedua guruku itu kemudia berpagutan sangat mesrah, sementara di bawah sana selangkangan mereka saling beradu dengan irama yang menggoda.

“Nungging sayang…” Kata Ustad Reza.

Ustadza Irma segera memutar tubuhnya menghadap tembok, lalu dari belakang Ustad Reza kembali menyetubuhi Ustadza Irma, sambil menarik kerudung yang di kenakan Ustadza Irma, hingga wajahnya yant cantik bermandikan keringat mengadah keatas.

Pandanganku beralih ke Lathifa, seorang santri wati yang sangat terkenal prestasinya, dan sudah beberapa kali ia mengharumkan nama Madrasah dengan memenangkan beberapa perlombaan bergengsi.

Berbeda dengan Ustadza Irma, pakaian Lathifa masih utuh, dia mengenakan kerudung biru langit bereserta gamis yang sewarna, ia di kelilingi 3 pria sekaligus.

“Neng sudah siapkan melayani kita-kita?”

Lathifa mengangguk, dia berjongkok di hadapan ketiga pria yang sedang berdiri dalam keadaan telanjang bulat. Kedua tangannya ia gunakan mengocok dua penis sekaligus dan mulutnya ia gunakan untuk mengulum penis Pak Rozak, kepala satpam Madrasya. Sungguh aku tidak menyangkah orang yang selama terlihat baik, ternyata memiliki hati yang busuk.

Tangan-tangan kotor mereka mulai bergerilya, secara bergantian mereka membelai kepala Lathifa, meremasi payudara Latifha.

Kulihat ekspresi yang di berikan Lathifa tampak murung, matanya menatap sayu, dengan sedikit linangan air mata. Apakah dia melakukannya karena terpaksa? Entahla… tapi kalau di perhatikan lagi dengan seksama, walaupun dia melayani mereka dengan baik, tapi ia sangat tertekan dan sangat depresi.

Secara bergantian Lathifa mengocok dan mengelum penis mereka bertiga.

Mulutnya yang mungil itu menghisap penis mereka satu persatu, membuat ketiga pria beruntung itu mendesah nikmat, meresapi nikmatnya di kulum oleh gadis muda seperti Lathifa.

“Cukup Neng, kita langsung aja kemenu utama.” Ujar Dewa, dia membantu Lathifa berdiri, kemudian dia meminta Lathifa tiduran diatas meja.

Kulihat mereka bertiga kembali mengelilingi Lathifa yang sedang berbaring, lalu satu-persatu pakaian Lathifa di lepas dan hanya menyisakan kerudungnya saja. Sungguh Lathifa sangat menggairahkan dalam kondisi telanjang seperti itu.

“Ni cewek bener-bener dah keterlaluan badannya.”

“Gue gak perna bosan buat ngentotin lu Neng, tapi sebelum itu, memeknya gue jilat dulu ya Neng.” Ujar Dewa, kemudian dia berlutut di hadapan kedua kaki Lathifa yang terbuka lebar, tapi sayang aku tak dapat melihat bibir vaginanya.

“Kulumin dulu neng.” Budi menyodorkan penisnya dan langsung di kulum oleh Lathifa.

Sementara Pak Rozak mengulum payudara ranum Lathifa yang sangat menggairahkan dan masi amat muda.

Di keroyok tiga orang sekaligus, reaksi Lathifa tetap sama, tatapannya datar, walaupun sesekali aku mendengar desahannya, tapi aku yakin dia tidak dapat menikmatinya di perlakukan kasar oleh mereka bertiga. Entah kenapa melihat kelakukaan mereka bertiga mengingatkanku dengan Kak Nadia.

Sementara itu, kulihat Ustadza Irma sedang menungging di lantai dan sepertinya ia sedang di sodomi dari belakang oleh Ustad Reza. Tidak kusangkah, wanita sealim Ustadza Irma mau di sodomi seperti itu.

“Teruuuuusss Maaass…..! Sodokkkk pantat aku Massss, lebi cepaaat lagi… Aaaaahkkk…. Aaahkk….”

Plaaakkk… Plaaaakkk…. Plaaaakk…. Ustad Reza tak segan-segan menampar pantat Ustadza Irma. “Bool kamu enak banget Ma, Aaahkkk… kamu belum pernakan di sodomi sama Suami kamu?” Ujar Ustad Reza sambil menarik kerudung Irma.

“Beluuummm… Aaaaahkk… cuman kalian yang sering menggilir pantat saya.”

“Baguus… pantat kamu cuman hanya milik kami, Suamimu yang bodoh itu tidak pantas mendapatkan pantat kamu sayang. Hahahahaha….” Tawanya pecah, dia amat senang sekali.

Kembali pandanganku beralih kearah Lathifa, gadis muda itu tampak sangat tersiksa ketika Dewa menyetubuhinya, sementara mulutnya di sumpal oleh penis Budi. Entah kenapa aku yang tadi sempat terangsang, berubah menjadi amat jijik melihat cara mereka yang bermain sangat kasar terhadap Lathifa.

“Bajingaaan!” Tidak sadar, aku mengeram kesal.

Ingin rasanya aku mendobrak pintu rumah Ustad Reza dan menghajar mereka semua, tapi ini bukanlah sebuah pemerkosaan, sehingga aku merasa tidak perlu ikut campur, toh aku juga sama seperti mereka, bahkan aku menyetubuhi Kakak iparku sendiri.

Aku sudah tidak tahan lagi, kuputuskan untuk mengakhiri acara mengintip ini.

“Ustad gantian dong, gue da bosen ama pecun ini.”

“Siaaal lu, udah nikmatin memek gue, pake acara bilang bosen lagi.” Jawab seorang perempuan, entah kenapa aku merasa mengenal suara perempuan tersebut.

Setelah kucari sumber suaranya, aku sangat terkejur melihat Chakra yang baru keluar dari dalam ruangan yang sepertinya kamar tidur milik Ustad Reza, sambil menggendong seorang wanita yang amat sangat kukenal, karena dia adalah wanita idamanku.

Claraaaa….!

“Hahahaha…. sebentar ya saya belum selesai.”

“Jangan lama-lama ya Ustad.” Ujar Reza, lalu dia menidurkan Clara dilantai, dan kembali menyetubuhi Clara dengan sangat brutal.

Siaaaaal….

Aku langsung melompat turun dari atas bangku, aku merasa sangat marah melihat Clara yang merintih, mengerang di setubuhi Reza teman kelasku.

Dasar wanita murahan, aku tidak menyangkah kalau Clara begitu murahnya sehingga mengobral tubuhnya dengan pria manapun.

Aku sudah tak mau lagi melihat apa yang sedang terjadi di dalam, mendengar suara erangan mereka saja sudah membuatku merasa jijik. Aku memilih diam sambil memikirkan apa yang akan kulakukan untuk Clara yang tega mengkhianatiku.

 

———————–

Sementara di dalam rumah pesta sex terus berlanjut, Irma kini sedang melayani murid kesayangannya, ia duduk di pangkuan Chakra sambil menggoyang pinggulnya naik turun mengikuti irma.

Sementara Reza sedang menyodomi muridnya Clara, dan yang lebih tragisnya lagi adalah Latifha.

Gadis muda itu sedang di himpit oleh dua pria sekaligus, Rozak di bawah menggenjok memeknya, sementara Budi sedang menganalnya dari belakang, tanpa ada belas kasihan mereka secara bersama-sama menggenjot tubuh Lathifa tanpa ampun.

“Aauuuwwe…. Aaaaahkk…. tolooong pelan-pelan Pak… Aaahkk….. Sakiiiiitt…..” Erang Lathifa, di meringis kesakitan.

“Maaf Neng, gak bisa pelan…” Jawab Budi.

“Aduuuuh… Pak sakit bangeeet! Berenti dulu.” Pinta Lathifa, dia tampak sangat tersika dengan permainan mereka berdua.

PLLLOOOKKKSS….. PLOOOOOOOKKKK…. PLOOOKSS…. PPPLLLLOOOOKKKKSS…….. PLOOOOOOKKKKKSS…….

PLOOOOKK…. PLOOOOKKK…. PLOOOKK…..

Lathifa merasa matanya mulai berkunang-kunang, ia sudah tidak tahan lagi dan merasa sebentar lagi kesadarannya akan menghilang kalau kedua pria itu tetap memaksanya melayani mereka, terus-terusan menyodok vagina dan anusnya dengan sangat kasar.

Tapi seperti yang sudah-sudah, mereka terus saja menyetubuhi Lathifa, bahkan ketika kesadaran gadis itu benar-benar menghilang mereka tetap menyetubuhinya. Lathifa yang jatuh pingsan, tak bisa berbuat apa-apa terhadap tubuhnya yang tetap menjadi tempat pelampiasan mereka.

Sementara itu di atas lantai, Irma sedang duduk membelakangi Reza, pinggulnya naik turun menghentak selangkangan Reza, sementara mulutnya sibuk mengoral penisnya Dewa, dia mengulum dan terkadang menjilati batang penis Dewa.

“Satu uda kalah, sekarang giliran siapa ni? Hahaha…” Tanya Pak Roza, sambil melepaskan penisnya dari tubuh Lathifa yang sudah tidak sadarkan diri.

“Sini Pak, kita hajar Clara saja, saya sudah capek.” Ajak Ustad Reza, dia mencabut penisnya dari pantat Clara.

Rozak dan Budi langsung menghampiri Clara, dia mengajak Clara berdiri lalu memeluk tubuh sintal Clara sambil melumat bibir Clara, Pak Roza mengangkat kaki Clara satu-persatu, dan melilitkannya di pinggangnya yang kekar.

Clara segera merahi kejantangan Pak Rozak, kemudian dia mengarahkannya kelobang vaginanya.

“Aaaaaaa… enaaak banget Pak!” Erang Clara.

“Hehehe… ini belum selesai Non Clara, kamu sudah siapkan sayang?” Jawab Pak Rozak, lalu dia membuka lipatan pantat Clara, dan tiba-tiba dari belakang Budi menghimpit tubuh Clara dan memasukan penisnya kedalam anus Clara.

Gadis muda itu memejamkan matanya, walaupun sudah sering di sodomi bahkan di sandwitd seperti saat ini, tapi tetap saja, dia selalu merasa deg-degkan ketika kedua lobangnya di isi penuh oleh kedua penis mereka.

Perlahan, inci demi inci, ia rasakan penis Budi menyeruak masuk kedalam anusnya.

Tubuh Clara mengeras, dia mengeram perlahan, punggungnya melengkung kebelakang, langsung di sambut Budi dengan memeluknya, sambil mencengkram kedua payudarah Clara, membuat rangsangan terhadap.Clara bertamba.

“Aaaaarrrtttt….” Clara mengerang sambil menjulurkan lidahnya.

Kedua pria itu secara bersamaan menggenjot tubuh Clara, menikmati setiap lobang Clara yang memberikan sekuta kenikmatan.

“Paaaaak… Aaaaahkk…. Aaaaaaaahhkkk….”

“Hebaaat kamu manis, Hahaha…”

“Coba kita lihat Pak, seberapa lama dia bisa bertahan.” Ujar Budi sambil menggerkan penisnya naik turun, menyodok anus Clara.

“Aauuuww… enaaak Pak! Aku pasti bisa memuaskan kaliaan semuaa… Uuuhkk… sodok lebi keras Pak” Erang Clara, dia sangat menikmati sodokan kasar dari mereka berdua.

“Hahaha…!” Tawa mereka bersamaan.

Nasib Irma tak jauh berbeda dengan muridnya Clara, dia sedang terlentang di tindih oleh Dewa, yang sedang menyetubuhinya, mengaduk-ngaduk liangnya yang tiada henti mengeluarkan cairan cintanya.

Mata Irma tak betkedip melihat Clara yang sedang di sandwich oleh mereka berdua, dia benar-benar tidak menyangkah kalau Clara bisa seliar itu, tapi dia malah merasa senang melihat keliaran muridnya, dan sebaliknya ia merasa amat sedih dan merasa sangat berdosa melihat murid kesayangannya Lathifa yang tergolek tak berdaya setelah di garap habis-habisan.

“Ooooo sayaaaa keluaaaar.” Pekik Dewa.

Crrrooooottt…. cccrrroooott… ccrroottt…

Untuk kesekian kalinya, rahimnya menampung sperma mereka yang bukan Suaminya.

Chakra kembali mendekati Irma setelah tenaganya kembali pulih. Dia duduk bersandar di dinding, dan meminta Irma untuk duduk di pangkuannya, dengan sisa-sisa tenaganya, Irma merangkak dan duduk di pangkuan muridnya.

Ia meraih penis Chakra kedepan bibit vagina, lalu dengan perlahan dia menekan pinggulnya kebawah, dan memasukan penis Chakra kedalam rahimnya.

“Aaaahhkk… Tuaaan!” Erang Irma tertahan.

“Cuman memeknya Umi yang buat aku tidak perna bosan ngentotinnya.” Bisik Chakra, sambil membelai punggung Irma yang bermandikan keringat.

“Aaaahkk… Tuaaaaan… Aaaagkk…. nikmatin memek Umi Tuaaan… Aaaaahkkk….”

“Umi….”

“Aaaaahkk…. Aaaahkkk….”

Reza yang sedang duduk di sofa kosong tampak tersenyum puas melihat mereka semua, Reza merasa sangat puas bisa memperbudak mereka, dan dia merencanakan akan menambah lebi banyak lagi anggota, terutama kaum perempuannya.

“Diaaa… iya, aku harus dapatkan dia, Hahaha…” Tawa Reza di dalam hatinya.

Pesta sex itu terus berlanjut hingga menjelang pagi, sementara Raditya dan kawan-kawan sudah lama meninggalkan tempat tersebut jauh sebelum pesta sex itu berakhir. Walaupun mereka masi ingin menikmati live show yang mereka lihat saat ini, tapi mereka sadar, saat ini bukanlah saat yang tepat, karena mereka sadar apa yang di rasakan Raditya setelah melihat Clara yang ternyata bagian dari kelompok Reza.

Sesampainya di asrama, Raditya langsung berpamitan pulang kerumahnya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo