loading...

“Nama kamu Raditya kan? Kamu adik iparnya Ustadza Nadia?” Tanyanya, aku mengangguk, tidak aneh bagiku kalau banyak orang yang mengenalku walaupun Ustadza yang satu ini tidak mengajar di kelasku.

“Oh iya, nama saya Umi Erlina…!” Ujarnya sambil menyodorkan tangannya.

Aku ragu menyambut uluran tangannya, jadi kuputuskan untuk menungkup kedua tanganku di depan dada, mengingat dia seorang perempuan yang yang harus aku hormati.

“Gak perlu sok alim gitu.” Katanya cukup pedas.

Aku memberanikan diri menyaliminya, bahkan aku mencium punggung tangannya, aromanya jemarinya terasa wangi dan sangat halus, ciri khas seorang wanita jilbaber pada umumnya, yang memang kulitnya sangat terjaga. Jangankan terkena matahari, bersentuhan dengan lawan jenis saja sangat jarang mereka lakukan.

Ustadza Erlina duduk diatas mejanya, membuatku cukup kaget melihat caranya yang agak tidak sopan, mengingat statusnya sebagai Ustadza.

“Tadi kamu ngapain ke wilayahnya Santri wati?”

“Aku mau nyari Ustadza Nadia, Umi.” Jawabku berbohong.

“Jangan berbohong, tadi Umi lihat kamu menemui Clara, bahkan kalian sempat berbicara, apa kalian pacaran?” Tanya Ustadza Erlina, duh… pertanyaan ini membuatku bingung antara ingin berkata jujur atau tidak.

Aku menggeleng pelan. “Tadi aku cuman bertanya soal keberadaan Ustadza Nadia.” Jawabku gugup, semoga saja Umi Erlina percaya padaku.

“Kan sudah Umi bilang, Umi gak suka kalau kamu berbohong. Atau kamu mau masalah ini Umi aduhin ke akademik? Kamu bisa di keluarkan dari sekolah ini, kamu pasti masih ingin sekolah di sinikan? Jawab dengan jujur.” Katanya dengan suara yang pelan, tapi sangat dalam dan menusuk.

Aku tertunduk sesaat, sebenarnya aku ingin mempertahankan kebohonganku tapi entah kenapa, aku merasa Ustadza Erlina tidak dapat kubohongi. Rasanya.percuma kalau aku terus berbohong, bisa-bisa dia akan mengaduhkan masalahku keakademik.

Kuangkat kepalaku sehingga aku dapat melihat wajahnya, kemudian ia tersenyum, dan senyuman itu entah kenapa membuatku tersihir.

“Maaf Umi, iya aku pacaran dengan Clara!”

“Na gitu dong jujur! Umi juga perna muda kok, jadi wajar kalau di usia kamu ini mulai suka dengan perempuan.” Jelasnya, membuatku semakin yakin kalau Ustadza Erlina berbeda dengan guru-guru lainnya.

“Terimakasih Umi.”

“Tapi cara nekad kamu itu salah, coba kalau ada Ustad atau Ustadza lain yang melihat, bisa saja kamu di hukum sangat berat, kemungkinan besar kamu di keluarkan. Yang malu nanti bukan hanya kamu atau kedua orang tua kamu, tapi juga menyangkut nama baik Ustad Jaka dan teman Umi Ustadza Nadia. Seharusnya kamu sudah tau itu.” Jelasnya panjang lebar, aku hanya mengangguk mendengarkan nasehatnya, lebi baik di ceramahi dari pada di aduin ke akademik.

“Iya Umi maaf.”

“Pacaran juga ada batasnya loh.” Lanjutnya.

“Iya Umi, aku akan jaga batasannya agar tidak melakukan hal yang tidak di inginkan.” Jawabku, yang kini bisa tersenyum.

“Yakin? Umi gak percaya, kalau di lihat dari muka kamu, pasti sudah biasa pacaran. Ayo jujur perna ngapain aja sama Clara selama pacaran sama dia?” Katanya, aku nyengir kuda mendengar pertanyaannnya.

“Cuman pegang tangan aja sama cium tangan doang kok Umi.” Jawabku malu-malu.

“Iya udah, tapi ingat ya jangan sampe berbuat zina, ketemuannya juga di kurangin.”

“Siap Umi…”

“Semoga kalian habis ini baikan ya, jangan marahan lagi.”

“Eh…” Kataku bengong.

“Sudah sana keluar…” Usirnya.

Aku segera balik badan, ternyata Ustadza Erlina memang baik, mungkin karena ia mengenal Kak Nadia. Mending pulang nanti aku cerita dengan Kak Nadia soal Ustadza Erlina.

 

———–

“Adeeeeek…!”

Aldi mati kutu, ia tidak bisa lari lagi ketika Kak Popi tiba-tiba menghampirinya membuka pintu kamarnya selebar mungkin, kemudian di membuka kamarnya dan menarik Aldi masuk kedalam kamarnya.

Popi mengambil selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut, sementara Aldi masih berdiri di depan Kakaknya.

“Benerin tuh celana kamu.” Kata Popi.

“Iya Kak.” Buru-buru Aldi merapikan kembali celananya, dia lebih merasa sangat malu ketimbang rasa takutnya.

“Semenjak kapan kamu suka ngintipin Kakak.”

“Ba… baru ini kok Kak, itu juga gak sengaja Kak, tadi kamar Kakak terbuka, niatnya tadi mau ngagetin Kakak, eh gak taunya Kakak lagi ganti pakaian.” Jelas Aldi berbohong, mukanya merah padam menahan rasa malunya.

“Terus… karena liat Kakak ganti pakaian, kamu jadi ngintipin Kakak sambil coli gitu?”

“Maaf Kak.”

“Sudah sana keluar, Kakak gak nyangkah kamu bisa seperti ini terhadap Kakak, padahal kamu itu Adik kandung Kakak, jangankan mau ngelindungin Kakak, ini kamu malah sengaja mau ngejahatin Kakak.” Mendengar ucapan Popi, Aldi menjadi semakin merasa sangat bersalah.

Tapi mau bagaimana lagi, Kak Popi memang sangat cantik dan menggoda, seperti saat ini, walaupun hati Aldi menolak, tapi matanya tak mau lepas menatap paha mulus Kakaknya yang terekspose, karena selimut yang di kenakan Popi tak mampu menutupi paha mulusnya.

Bagaimana dengan Popi? Tentu Popi juga sadar kalau sedari tadi Adiknya sering kali melirik kearah paha mulusnya.

Bukannya marah Popi malah terangsang, apa lagi beberapa hari yang lalu, sahabatnya Ashifa perna bercerita kalau ia perna menggoda Santri yang sedang mengintipnya ketika ia sedang mandi, bukannya marah, Ashifa malah sengaja menggoda pengintip tersebut dengan membiarkan orang itu terus melihat ia mandi hingga selesai.

Dan sekarang entah kenapa, ia ingin membiarkan Adiknya menikmati keindahan tubuhnya, tentu dengan cara berpura-pura tidak tau, dan tetap menjaga wibawanya sebagai seorang wanita yang punya harga diri.

“Tolong maafin Adek, Kak.”

“Kamu minta maafnya kayak gak ihklas gitu.” Ujar Popi dengan suara gemetar menahan birahinya.

“Terus Adek harus gimana dong Kak?”

“Sungkem kek, tunjukin dong kalau Adek emang bener-bener ngerasa bersalah, jangan cuman di mulut aja, tapi ada usahanya juga.” Kata Popi dengan nada tinggi.

Tanpa di minta dua kali, Aldi langsung berlutut di hadapan Kak Popi, dengan harapan bisa di maafkan.

“Ci… ciuuum Kaki Kakak.” Perintah Popi.

Aldi segera mengangkat kepalanya, dia sangat kaget mendengar permintaan Kakaknya. “Gak mau Kak, jorok banget si…” Kesal Aldi sambil membuang muka.

Bagi Aldi permintaan Kakaknya sudah terlalu kelewatan, dia mau meminta maaf sambil bersujut, tapi dia tidak mau kalau harus mencium kaki Kakaknya, apa lagi dia tidak tau seberapa bersih kaki Kakak kandungnya.

“Ya sudah, kalau kamu gak mau… sekarang mending kamu keluar aja dari kamar Kakak.” Ujar Popi kali ini dia benar-benar sangat marah, karena penolakan Aldi membuat harga dirinya berasa di injak-injak oleh Adiknya.

“Ya uda aku keluar.” Kesal Aldi, kemudian dia segera berdiri dan pergi meninggalkan Kakaknya.

“Mulai sekarang jangan perna lagi ngomong sama Kakak, dasaaar Adek gak tau….” Braaaak…. terdengar suara pintu yang di banting keras oleh Aldi.

“Adeeeeeeekkk….!”

 

————————————-

Setibanya di rumah aku berusaha mencari Kak Nadia, di mulai dari kamarnya, terus kedapur, hingga kebelakang rumah, tapi aku tetap tidak menemukannya. Kemana perginya Kak Nadia? Jangan-jangan dia memang belum pulang.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali kekamarku dan berganti pakaianya. Selesai berganti pakaian aku mendengar suara pintu terbuka, kupikir itu pasti Kak Nadia. Segera aku keluar kamar, aku berjalan mengendap-endap menuju kamar Kak Nadia dan hendak mengagetkannya, perlahan kudorong pintu kamarnya.

“Kaaaaaa….”

Buuuuukkk… sebuah boneka mendarat tepat di wajahku tanpa bisa aku hindari.

“Radiiiiiiittttt…..”

Siaaaaaaaalll….

Aku segera menutup kembali pintu kamar Kak Nadia, saat mengetahui siapa yang ada di dalam kamar Kak Nadia.

Sesampai di kamarku, aku langsung menutup dan mengunci pintu kamarku. Entah kenapa aku selalu saja ketiban sial setiap kali membuka pintu, baik itu pintu kamar tidur, ataupun pintu kamar mandi. Tapi ngomong-ngomong, ngapain lagi dia kesini, padahal dia sudah tidak di butuhkan lagi.

 

———————

Radiiiittt jahaaaat…. Radiiiit Nakaaal…. Radiiiit mesuuum… Ria benci Radit, kenapa dia selalu ceroboh langsung membuka pintu gitu aja, bukannya mengetuk terlebih dahulu.

Ria mendumel kesal sambil membenamkan wajahnya diatas bantal milik Ustadza Nadia.

Dia marah, kesal, tapi juga malu, karena untuk kedua kalinya Raditya melihatnya dalam keadaan setenga telanjang, hanya mengenakan pakaian dalam saja. Padahal Raditya yang dulu ia kenal tidak semesum ini, tapi kenapa sekarang Raditya bisa jadi semesum ini kepadanya.

“Awas aja, nanti aku bakalan aduhin sama Umi Nadia.” Katanya berujar sambil memajukan bibir imutnya, membuatnya terlihat begitu lucu dan menggemaskan.

Kreeaaaak…. (Pintu di buka)

“Ria…”

Gadis itu langsung beranjak duduk saat mendengar suara Ustadza Nadia yang baru saja pulang.

“Baru pulang Umi?” Tanya Ria.

“Iya sayang, tadi Umi ada rapat sebentar.” Jelas Nadia, kemudian dia mengambil pakaian di dalam lemari.

“Kalau begitu Ria keluar sebentar ya Umi.”

“Loh, mau kemana?” Tanya Nadia.

“Umi mau ganti pakaiankan? Ria mending keluar aja dulu Umi.” Jelas Ria, Ustadza Nadia hanya tersenyum menanggapi kepolosan murid kesayangannya itu.

“Gak perlu keluar, di sini aja, kitakan sesama wanita kebapa harus malu, apa lagi kamu sudah Umi anggap seperti Adik sendiri.” Jawab Nadia melarang Ria untuk pergi, keluar dari kamarnya karena ia merasa tidak masalah kalau harus berganti pakaian di depan Murid kesayangannya.

Ria mengurungkan niatnya, kini perhatiannya fokus kearah Ustadza Nadia yang mulai membuka pakaiannya satu persatu. Di mulai dari kerudung, hingga pakaian kerjanya dan menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuh Ustadzanya.

Walaupun Ria seorang wanita, tapi ia sangat takjub melihat kemolekan tubuh Ustadzanya itu, kulitnya putih dan payudarahnya sangat kencang bersembunyi di balik branya yang berwarna merah mudah. Belum lagi paha Umi yang putih mulus dan masih sangat kencang.

Karena merasa risih melihat tatapan Ria, Nadia secepat mungkin mengenakan daster panjangnya dan kerudung santai berwarna putih. Walauapun pakaian yang di kenakan Nadia sangat sederhana, tapi ia terlihat seperti wanita berkelas.

“Umi, malam ini kayaknya Ria gak perlu nginep ya?” Ujar Ria memecah kesunyian.

“Kenapa?”

“Aku risih ada Radit.” Jawab Ria, dia kembali teringat bagaimana di kedua pertemuan terakhir mereka selalu terjadi kejadian yang sangat memalukan.

“Kok bisa? Bukannya dulu kamu perna cerita kalau sebenarnya kalian sudah saling kenal. Bahkan dulu kalian sangat dekat sekali”

“Iya itu udah lama banget Umi, waktu kami masih sd, Radit aja kayaknya uda lupa.” Jelas Ria, dia merasa sangat kecewa dengan sikap Radit yang dengan mudanya melupakan dirinya.

“Nanti Umi bilangin ke Radit biar dia ingat.”

“Kok di kasi tau Umi, biarin aja Umi nanti dia juga tau sendiri.”

“Hahahaha… kamu malu ya? Ya udah Umi akan tutup mulut soal masa lalu kalian, jadi kenapa kamu bisa merasa risih dengan adanya Radit di rumah.” Tanya Nadia, dia duduk di samping Ria yang sedang memeluk bantal dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya.

Ria mulai bercerita tentang kejadian tadi siang saat Raditya tiba-tiba masuk kedalam kamar, padahal saat itu ia sedang berganti pakaian sama

Entah kenapa mendengar cara Ria bercerita tentang kejadian tadi siang, membuat Nadia malah tertawa, apa lagi melihat raut wajah Ria yang manyun, dia terlihat sangat lucu sekali, dan Nadia sangat paham sikap malu-malu kucing Ria menandakan kalau gadis ini menaruh hati terhadap Adik iparnya.

 

————————–

Tok… Tok… Tok…

“Dek…!”

Aku segera bangun dan membuka pintu kamarku, kulihat Kak Nadia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, aku tersenyum kecut.

“Rianya masi ada Kak?” Tanyaku.

“Kenapa kamu tanya Ria? suka ya?”

Aku mendengus kesal.

Kak Nadia masuk kedalam kamarku, lalu dia duduk di tepian tempat tidurku. Aku menarik kursi belajarku, dan duduk di depannya. Kalau di lihat-lihat Kak Nadia memang sangat sempurna, mata sipitnya yang indah dan bibirnya yang seksi membuatku tak ingin berpaling darinya.

“Aku lebi suka Kakak.” Jawabku.

“Dasar gombal.”Katanya sembari tertawa renyah.

Aku bangkit dari tempat dudukku, lalu duduk di sampingnya, kelingkarkan tangan kananku di pinggangnya yang ramping, tidak ada penolakan sama sekali dari Kak Nadia, bahkan ia menyandarkan kepalanya di dadaku.

Kubelai kepalanya, lalu kukecup lembut kepalanya penuh rasa kasi sayangku kepadanya.

“Tapi Kakak sangat mendukung kalau kamu pacaran sama Ria, dia itu gadis yang baik, Kakak pikir dia cocok denganmu.” Jelas Kak Nadia, aku hanya tersenyum mendengarnya, aku tidak ingin berdebat dengannya.

Entah siapa yang memulai lebih dulu, tiba-tiba bibit kami berdua sudah saling menyatu, saling melumat dan membelit lidah satu sama yang lainnya. Tangan kananku kuletakan diatas payudarahnya, kemudian aku meremasnya perlahan tapi sangat kuat, membuat Kak Nadia mendesah lirih.

Tak mau kalah dariku, dia membuka resliting celanaku, lalu menyusupkan tangannya kedalam celanaku, dia menggenggam penisku, mengocoknya perlahan membuatku merasa kegelian bercampur rasa nikmat.

Harus kuakui belaian tangannya, sangat memanjakan juniorku yang sudah berdiri tegak.

Kulepas bibirku, lalu kusingkap kerudungnya dan aku mulai menjelajahi lehernya yang jenjang, sementara tanganku berusaha menarik keatas dasternya. Tak begitu sulit bagiku melepaskan dasternya, hingga kini di hadapanku, Kak Nadia hanya mengenakan pakaian dalam berwarna merah muda.

“Ssssttt…. Adeeek!” Kak Nadia mendesis, ketika tanganku menyusuk kebali cup branya, kembali kuremas-remas payudarahnya yang kenyal.

Mungkin karena sudah tidak tahan lagi, Kak Nadia melepas branya hingga kini payudarahnya terbebas dan aku semakin leluasa bergerilya diatas payudarahnya.

Ciumanku di lehernya berpindah kebawah, kini sasarannya adalah payudarahnya, kuhisap kasar payudaranya, sambil sesekali aku menyentil puttingnya dengan ujung lidahku, sementara tanganku memelintir putting yang satunya lagi, bahkan aku menarik-nariknya pelan.

“Aaaauuww…. Aaaaa…. Aaaaahkk….”

Tangan kiriku bergerak kebawah, kubelai paha mulusnya, lalu kugesek pelan bibir vagina Kak Nadia dengan jari telunjukku di luar celana dalamnya.

Kurasakan celana dalam Kak Nadia sudah amat basah, sepertinya dia sangat menikmati permainanku.

“Aaaaaadeeeek…. Aaaahkk…. eeenak bangeeet Dek… Ooooo…. Ooooo…. Kakak gak kuat Dek.” Ceracaunya semakin tidak jelas dan membuatku semakin bersemangat.

Kuhentikan semua aktivktasku, aku berlutut di hadapannya, kemudian kutarik lepas celana dalamnya. Dan astaga… ternyata Kak Nadia telah mencukur rambut kemaluannya hingga botak, dan aku dapat melihat jelas belahan bibir vagina Kak Nadia yang sangat menawan tanpak begitu licin.

“Kamu sukakan Dek?”

“Eh… iya Kak, memek Kakak jadi makin menggemaskan sekali, bersih… indah sekali.” Pujiku jujur, mengakui keindahan vagina Kak Nadia.

“Kalau begitu ayo di mulai, jangan di liatin terus.”

Aku mengangguk, lalu Kak Nadia mengangkat kedua kakinya, menekuk dan meletakan kedua kakinya diatas tempat tidurku dengan posisi mengangkang, sehingga belahannya merekah memperlihatkan lubang vaginanya dan clitorisnya yang sebesar biji kacang tampak malu-malu mengintip diantara lipatan bibir vagina bagian atas.

Aku langsung menciumi bibir vaginanya, menjulurkan lidaku menggesek-gesek clitotisnya, dan kemudian clitorisnya kuhisap dan kugigit dengan bibirku.

Jariku juga tidak mau diam, kubelai bibir vagina Kak Nadia, lalu dengan kedua jariku, aku memasukan jariku kedalam liang vaginanya, lalu kutusuk masuk keluar dengan tempo perlahan sambil menghisap clitorisnya.

“Aaampuuuun Deek… Uuhkk… Aaahkk… Aahkk…” Erang Kak Nadia, dia menjambak rambutku, mungkin dia sangat tersiksa dengan permainanku.

Tak lama kemudian, kedua paha Kak Nadia semakin erat menjepit kepalaku, dan kurasakan semburan hangat dari dalam vaginanya, menandakan kalau ia baru saja mendapatkan klimaksnya. Perlahan kedua paha Kak Nadia kembali merenggang, dengan nafas yang memburu.

“Kamu… aaahk… hebat banget sayang!”

“Ini belum seberapa Kak, nanti aku akan kasi yang jauh lebi nikmat dari ini.” Kataku, berbisik di dekat telinganya, lalu kepeluk ia untuk meredahkan sisa-sisa orgasmenya

“Terimakasi sayang, sekarang giliran Kakak ya.”

Kini giliran dia yang berjongkok, sementara aku duduk di tempat ia duduk barusan. Kak Nadia memantuku melepas celanaku, sementara aku membuka bajuku, memperlihatkan dada bidangku dan penisku yang kokoh.

“Jangan di buka Kak.” Aku melarangnya ketika Kak Nadia hendak ingin membuka kerudungnya.

“Kenapa?”

“Gak apa-apa, aku lebih suka Kakak pake kerudung.”

“Huh dasar kamu ini aneh… Ada-ada aja permintaannya.” Ujar Kak Nadia, lalu dia meraih penisku menggenggamnya dan kemudian mengocoknya peahan.

“Uhkk… enak banget Kak.”

Mula-mula Kak Nadia hanya mengocok penisku, tak lama kemudian ia menjulutkan lidahnya, menyapu kepala penisku dengan lidahnya yang hangat, sementara kocokannya semakin cepat dan nikmat.

Aku mulai tak tenang, nafasku mulai tak beraturan, apa lagi ketika seluruh penisku masuk kedalam mulutnya.

“Kakak… enaaak banget Kak, Aaahkk… hisap lebi dalam Kak.” Erangku sambil membelai kepalanya yang masi tertutup kerudung santainya.

Di kulum oleh wanita berkerudung seperti Kak Nadia rasanya begitu nikmat sekali, apa lagi sesekali aku dapat melihat senyumnya yang nakal, membuatku tanpa sadar malah ikut menekan kepalanya.

Semakin lama, aku semakin lepas kendali, kini aku yang menggerakan kepalanya maju mundur, membuat beberapa kali Kak Nadia tersedak ketika penisku menabrak tenggorokannya, tapi entah kenapa aku mendadak tidak perduli, aku terus menggerakan pinggulku maju mundur.

“Aaaa… enak bangeet Kak.”

Kak Nadia menggapai tanganku yang sedang memegangi kepalannya, tapi dia tak mampu melepaskan tanganku yang terus menekan kepalanya, menggerakan kepalanya maju mundur, melesatkan penisku jauh kedalam tenggorokannya.

“gue mau keluaar.”

PLOOOPPPP…. PLOOOPP… PLOOOPPP…

Aku memompa penisku semakin cepat di dalam mulutnya, aku sangat terangsang merasakan mulutnya yang nikmat.

Dan dalam hitungan dua menit, aku memuntahkan lahar panasku kedalam mulutnya. Kak Nadia langsung memberontak, dan melepaskan diri dariku. Dia terduduk di lantai dengan muka memerah, dapat kulihat sisa-sisa spermaku di sela bibirnya.Beberapa kali ia terbatuk karena tersedak spermaku yang tadi aku tumpahkan kedalam mulutnya.

Aku baru tersadar ketika orgasmeku benar-benar meredah. Segera aku menghampiri Kak Nadia.

“Maaf Kak.” Kataku sambil merangkulnya.

“Kamu mau membunuh Kakak ya.” Bentaknya marah, aku tertunduk lesu. “Kakak gak suka kamu kasar kayak gini.” Sambungnya sambil berusaha melepaskan pelukanku.

Lalu dia berdiri memandangku marah, bahkan saat aku ingin menyentuhnya, Kak Nadia menepis tanganku.

“Maaf Kak Tadi aku…” Dia berbalik membuka pintu kamarku.

Braaak…. Kak Nadia membanting pintu kamarku, dia pergi begitu saja dari dalam kamarku, bahkan dia tidak sempat mengambil kembali pakaiannya.

Aku tertunduk lesu, sial… gara-gara aku tidak bisa mengontrol nafsuku, sekarang Kak Nadia sangat marah kepadaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aaaaaarrrrttt… Siaaaal!

Kuhempaskan tubuhku diatas tempat tidurku, mengutuk kebodohanku yang membuat hubunganku dengan Kak Nadia berantakan, sekarang aku tidak tau apakah Kak Nadia akan memaafkan atas perbuatanku.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo