loading...

Semalam rasanya seperti mimpi, aku tidak menyangkah kalau semalam aku telah meniduri Kakak Iparku, gak terbayang apa yang akan di lakukan Mas Jaka, kalau dia tau Istrinya telah kunodai.

Tapi di sisi lain aku merasa benar-benar sangat beruntung memiliki Kakak ipar secantik dan sebaik Kak Nadia, selain cantik dan baik, dia juga bisa kupakai kapanpun aku mau, dan hebatnya lagi dia memintaku untuk menghamilinya, menggantikan tugas Mas Jaka.

Ciumanku perlahan beralih kepipinya, lalu turun keleher jenjangnya, sementara tangan kananku yang tadinya hanya membelai, kini meremas nakal payudarahnya, sambil kujepit putting susunya dengan kedua jariku hingga puttingnya membesar.

“Eeiiisstt… Dek!” Kak Nadia melenguh pelan.

“Kebangun ya Kak.” Tanyaku memasang wajah polosku.

“Iyalah kebangun, di mesumin kayak gini masak gak kebangun sayang, kamu tuh nakal banget si sama Kakak, masi sepagi ini udah di jahilin aja.” Sungut Kak Nadia, membuatku semakin gemes.

“Habis Kakak nafsuin!” Jawabku sambil menyusu di payudarah kirinya.

Kuhisap lembut putingnya, sambil kuremas kasar payudarah satunya.

“Aahkk… kamu beda banget sama Masmu, kalau Masmu gak perna senakal ini.”

Sluuupsss… Sslluupppss…. Sluuppss… Sluuppss… Aku menghisap putting Kak Nadia kuat-kuat sambil mendengarkan perkataannya.

“Taphii… Kakak suka kan?”

“Uuhhkk… iya sayang, Aahkk… Kakak suka kamu nakalin sepagi ini hihihi… Aaahkk… pelan-pelan dek.”

Aku berpindah menghisap payudarah satunya, sementara tanganku yang tadi meremas payudarahnya, beralih kebawah membelai bibir vaginanya yang ternyata sudah sangat basah dan licin, sehingga aku tidak kesulitan saat menusuk vaginanya dengan dua jari sekaligus.

PLOOOOPPP…. PLOOOOPPP…. PLOOOOPP…. PLOOOOOKKKK….. PLOOOOPPPP…. PLOOOKK…. PLOOOOPPP… PLOOOPP….

Kedua jariku bergerak liar keluar masuk kedalam vagjnanya, membuat Kak Nadia mengerang semakin keras menikmati tusukan jariku kedalam vaginanya.

Puas mengulum payudarahnya, aku beralih kevagina Kak Nadia, kedua kakinya kubuka lebar, dan tubuhku masuk diantara kedua kakinya, kuposisikan penisku tepat di lipatan bibir vaginanya, bersiap kembali menodai Istri dari Saudara kandungku.

“Aku masukin sekarang ya Kak, udah jam enam Kak takut gak ada waktu lagi.” Kataku meminta izin.

“Dasar kutu buku, mau nidurin Kakak iparnya aja masih sempet-sempetnya mikirin sekolah, dasar kamu ini.” Ujar Kak Nadia, aku hanya cengengesan.

Perlahan kugesek-gesekkan penisku di belahan bibir vaginanya yang berlendir menggoda.

Kupandangi wajah cantik Kak Nadia yang merem melek menikmati sensasi gesekan penisku yang terkadang menyentuh clitorisnya, dan secara diam-diam, tepat ketika kepala penisku berada di lobang vaginanya, aku memusatkan tenagaku di pinggulku, dan kemudian mnedorong punggulku dengan keras, hingga penisku amblas kedalam bibir vagina Kak Nadia.

“Aaaaaaaauuuuuwwww….” Kak Nadia terpekik.

“Uupss… kekerasan ya Kak?” Tanyaku segera mencabut kembali penisku.

“Duh… pelan-pelan dong Dek, sakit tau…!”

“Hehehe… iya Kak Maaf!” Kataku sambil menggaruk kepala bagian belakangku.

“Ya sudah ayo masukin lagi, tapi pelan-pelan ya?”

“Iya Kak, ini pelan-pelan kok.” Jawabku, lalu kuangkat kedua kakinya dan kuletakan diatas pundakku. Perlahan kumasukan kembali penisku kedalam vagina Kak Nadia.

Kudorong pelan penisku memenuhi liang senggamanya, lalu ketarik kembali dengan gerakan yang juga tak kala pelan. Kak Nadia mulai meracau tak jelas menikmati sodokanku yang bergerak dengan ritme yang pelan keluar masuk kedalam vaginanya.

“Iyaaa… Aaah… gituuu sayaaang… Aaahk… nikmat banget kontol kamu sayaaang!” Ceracaunya gak jelas di iringi desahan-desahan erotis, membuatku semakin bersemangat menggenjot vaginanya.

PPLOOOOKKK…. PLOOOOOKKK…. PLOOKKK…. Terdengar suara benturan antara kulit selangkanganku dengan selangkangannya.

Semakin lama aku semakin cepat menggenjot vagina Kak Nadia. Dan kembali aku menciumi sekujur wajahnya, sambil meremas-remas kasar payudarahnya yang menggemaskan, tak lupa aku menjepit puttingnya dengan kedua jariku, lalu kutarik-tarik pelan.

“Aaaaaa…. enaaak Deek… Aaahkk… genjotan kamu enak bangeeet Dek….! Aaahkk… Aahkk…!”

“Memek Kakak kerasa ngejepiiit banger Kak!”

“Aaaaaaaahhkkk…. kamu bisa aja Dek, Uuhhkk… kontol Adek yang kedeaan, memek Kakak rasanya penuh banget di isi kontol kamu sayang.” Rengek Kak Nadia, sambil merangkul erat leherku.

PLOOOOOOKKKK….. PLOOOOOOKKK…. PLOOOKK…. PLOOOKKK…. PLOOOKKK…. PLOOOKK…. PLOOOOKKK…. PLOOOOKKKKK….. PLOOOKKK….

Tak terasa aku sudah menggenjot vagina Kak Nadia hampir lima belas menit lamanya, tapi belum ada tanda-tanda kalau Kak Nadia akan segera mencapai puncaknya, padahal aku sudah sangat kelelahan, badanku sudah bermandikan keringat, sama seperti Kak Nadia yang juga basah bermandikan keringat.

Kembali kurangsang payudarahnya, kupelintir kedua puttingnua membuat Kak Nadia mengerang panjang, dan jepitan vaginanya semakin terasa.

“Kakaaaaak dapeeeeeet….!” Dia memekik.

Aku semakin cepat, hingga pinggulku terasa sangat pegel tapi rasa nikmat yang menjalar keseluruh tubuhku, membuatku lupa akan rasa pegal di pinggangku.

“Adeeek juga Kak.”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…..” Kami berteriak berbarengan.

Crrrrooooootttt…. Crrroooott…. Seeeeeerrr…. Seeeerrrr….

Secara bersamaan kami mencapai puncak kenikmatan yang kami rasakan.

Tubuhku ambruk kesamping tubuh Kak Nadia, sementara Kak Nadia masi dalam posisinya mengangkang dengan nafas yang memburu, dia menatapku seraya tersenyum puas dengan permainan kami pagi ini.

“Adeeeekkk hebat bangeet, rahim Kakak rasanya penuh sama sperma Adek.” Katanya terputus-putus.

“Siapa dulu dong Kak? Raditya gitu loh…” Kataku memanggakan diriku sendiri, Kak Nadia langsung menjawabnya dengan mencubit penisku. “Aaww… sakit Kak, kok di cubit.” Keluhku sambil membalas meremas vaginanya yang basah bercampur spermaku.

“Habiiss…  ok banget.”

“Hahahaha…..”

“Ya sudah katanya mau mandi? Nanti telat loh kesekolahnya.” Katanya sambil mendorongku.

“Mandiin dong…”

“Iihh… Adek manja! Sana mandi sendiri, Kakak mau istirahat dulu capek.”

“Ya udah de, aku mandi dulu ya Kak, nanti nyusul ya…”

“Iya sayang…”

Aku segera beranjak dari tempat tidurku, lalu masi dalam keadaan telanjang bulat aku kembali kekamar mengambil handuk, dan setelah itu aku langsung menuju kamar mandi tanpa mengunci pintunya.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan kulihat Kak Nadia yang telanjang bulat langsung masuk kedalam kamar mandi.

 

——————-

Selama di sekolah aku lebi banyak melamun dari pada memperhatikan pelajaran, bahkan ketika Ustadza Irma mengakhiri pelajarannya aku sama sekali tidak sadar, hingga pundakku di tepuk oleh sahabatku.

“Woi… mau ngantin gak?”

“Setan lu, ngagetin aja…” Kataku rewel.

“Udah yuk ngantin, laper ni gue… jangan ngelamun terus nanti kesambet lo…!” Paksanya sambil menarik tanganku, hingga dengan terpaksa aku mengikutinya.

Padahal hari ini aku merasa males sekali kekantin, hari ini aku lebih suka menyendiri ketimbang harus kekantin bareng sahabat-sahabatku.

Bayangan Kak Nadia rasanya tidak mau hilang dari benakku, erangannya dan goyangan erotisnya silih berganti memenuhi otakku, mau tidak mau penisku mulai mengeras di balik celana panjangku.

“Ini pesanannya Mas.” katanya membuyarkan lamunanku.

“Eh iya, terimakasi…” Jawabku buru-buru. Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan kami.

“Kenapa lu Dit, lagi ada masalahnya?” Tanya Yogi kepadaku, aku membalasnya dengan menggeleng lemah kepadanya.

“Dari tadi kerjaan ngelamun doang, emang lu lagi mikirin apa si Dit? Beda banget dari biasanya.” Timpal Arman, aku males nanggepin omongan dia, bisa runyem kalau harus ku jawab.

“Kalau ada masalah cerita aja bro? Siapa tau kita bisa bantu.” Sambung Mulya sambil menepuk pelan pundakku.

Diantara kami berempat memang Mulya yang lebih dewasa, biasanya kalau ada masalah kami sering curhat dengannya, dan seperti biasanya, ia akan mengeluarkan kata-kata bijaknya yang ampuh, yang mampu membuat kami merasa legah.

Tapi untuk urusan Kak Nadia, aku tidak akan cerita kepada siapapun, walaupun ada rasa ingin berbagi dengan mereka bertiga.

“Beneran gak ada masalah.” Tegasku.

“Paling tentang Clara.” Tembak Arman, aku hanya tersenyum kecut mendengar nama Clara di sebut-sebut.

Sudah cukup lama aku tidak lagi mendengar kabar Clara, hubungan kami menggantung begitu saja tanpa ada kejelasan darinya, tapi untunglah sekarang ada Kak Nadia yang mau menutupi kekosongan yang di tinggalkan Clara.

Tapi ngomong-ngomong soal Kak Nadia, entah kenapa perasaanku menjadi tak tenang, aku tak habis pikir dengan diriku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati Mas Jaka, saudara kandungku sendiri. Padahal selama ini dia sangat baik kepadaku, tapi aku malah membalasnya dengan menyetubuhi Istrinya. Bahkan bisa jadi aku akan menghamili Istrinya.

“Ya… dia bengong lagi.” Ujar Arman.

“Apaan si gak jelas.” Kataku mulai kesal. Tanpa memperdulikan mereka, aku mulai menyantap makananku.

“Eh… ngomong-ngomong tar malam kita ngintip lagi yuk.”

“Ngintip apaan?” Tanyaku pada Arman. “Mau ngintipin Santri wati mandi lagi? Gak takut nanti ketahuan lagi.” Kataku dengan nada sinis.

“Kalau ini beda bro, eksklusif!” Jawab Yogi.

“Bener Dit, lu mau ikut gak? Kita ngintipin skandal Ustad di sekolah kita.” Timpal Yogi, kali ini aku sedikit tertarik mendengar kata skandal dari Yogi.

“Dia mana mau, percuma di ceritain juga.” Potong Arman sambil meminum minumannya.

“Skandal apaan ni?”

“Ini tentang Ustad Reza bro, minggu kemarin kita di ajakin Arman ngintip rumahnya Ustad Reza.” Jawab Yogi menjelaskan pertanyaanku.

“Wah… gila kalian, berani banget ngintipin rumah Ustad Reza, nanti di kira maling baru tau rasa kalian.”

“Ni ye gue kasi tau, tuh Ustad cabul sering ngadain pesta sex seminggu sekali, dan lu tau siapa artisnya? Ustadzah Karima bro… lu gak bakalan nyesal kalau melihat pesta seks mereka, soalnya selain Ustadza Karima ada juga beberapa Santri wati lainnya.” Terang Arman, aku nyaris tidak percaya mendengar ucapan Arman, tapi melihat Mulya yang mengangguk serius membuatku mau tidak mau harus percaya.

“Tar malam lu ikut aja.” Kata Mulya.

“Oke deh… tar malam gue ikut, jam berapa ni?”

“Jam 11 malam Dit, kita tunggu lu di asrama ya.” Jawab Yogi antusias.

“Oh iya… tar malam lu nginep di asrama apa balik kerumah Kakak lu.” Tanya Arman, aku tau dia ingin menggodaku.

“Gue balik bentar kerumah.” Jawabku.

Setelah itu kami mengobrol santai tentang rencana nanti malam, dan aku masih merasa tidak percaya dengan apa yang kudengar dari mereka.

 

————

Sepulang sekolah Aldi berjalan gontai pulang kerumahnya, dan seperti biasanya tanpa mengucap salam, Aldi nyelonong masuk kedalam rumah.

Dia hendak kekamarnya, tapi langkahnya terhenti ketika melewati kamar Kakaknya, dia melihat pintu kamar Kakaknya tidak tertutup rapat, dan dari cela pintu tersebut ia melihat bayangan Kakak kandungnya masih mengenakan seragam sekolah.

Rasa iseng tiba-tiba saja timbul di benaknya, bayangan Kak Popi yang sedang mengganti pakaian, membuat Aldi nekad ingin mengintip Kakaknya.

Dia berjalan mengendap-endap lalu dengan sedikit membungkuk ia melihat dari cela pintu yang terbuka, Kakaknya sedang membuka satu-satu persatu kancing seragam putihnya. Setelah membuka seragamnya, Kak Popi melempar bajunya.

Dan saat Popi melempar bajunya keatas tempat tidurnya, tiba-tiba Popi melihat bayangan Adiknya yang sedang mengintip dari balik cela pintu kamarnya.

Ngapain Aldi di situ? Dia lagi ngantipp… Astagaaa… kok bisa Adek kayak gitu… Gumam Popi tidak percaya, melihat Adiknya nekad mengintip dirinya yang sedang berganti pakaian.

Rasanya dia ingin langsung melabrak Adiknya, memarahinya habis-habisan, apa lagi selama ini dia memang sudah lama sekali membenci adiknya, semenjak Adiknya lahir, kasih sayang kedua orang tuanya lebi ke Adiknya dari pada kedirinya.

Tapi setela ia pikir, rasanya kurang seru kalau harus melabraknya sekarang, sehingga ia memutuskan untuk membiarkan Adiknya melihat lebih jauh lagi.

Saat dia menarik kaos dalamnya hingga sebatas perutnya, tiba-tiba ada sedikit keraguan di dalam hatinya untuk meneruskannya, hingga akhirnya ia mengurungkan niat melepas kaosnya dan memilih melepas rok panjangnya terlebih dahulu.

Setelah melepas rok panjangnya dan menyisakan kaos dalam dan celana legging berwarna hitam, dia berdiam diri sejenak sambil mengamati Adiknya.

“Kurang ajar, dia malah onani!” Umpat Popi kesal.

Karena merasa kepalang tanggung, Popi melanjutkan menelanjangi dirinya.

Dia membuka kaos dalamnya, membiarkan perutnya terbuka hingga memperlihatkan punggungnya yang putih mulus berikut dengan tali branya yang berwarna cream, setelah melepas behanya, dia meletakan kedua jari jempolnya di sisi celana legingnya, kemudian dia menarik turun celana leggingnya.

Mata Aldi tak berkedip memandangi bongkahan pantat Kakak kandungnya yang di balut kain segitiga berwarna cream. Bahkan sankin bernafsunya, Aldi menarik turun celananya, dan pada saat itulah….

“Adeeeeeekkk…..!”

 

——————-

Hari ini aku bertekad ingin bertemu dengan Clara, aku bertekad ingin menyelesaikan masalahku dengannya.

Tak lama kemudian aku melihat Clara keluar kelas, pada saat itulah dengan cepat aku berlari menghampirinya, saat aku berlari menghampirinya, beberapa pasang mata tampak mengawasiku, mungkin di benak mereka agak aneh melihat aku seorang Santri nekad masuk kewilayah Santri wati. Tapi persyetan dengan mereka.

“Radit, kamu ngapain kesini?” Tanya Clara kaget.

“Aku mau ngomong sesatu sama kamu, tapi tidak di sini.” Kataku tersengal-sengal sembari mengatur nafasku yang terasa berat. “Aku tunggu kamu besok malam di tempat biasa, aku harap kamu datang.” Kataku sembari menatap matanya dengan serius.

“Kamu nekad banget si Dit.”

“Sudalah, pokoknya kamu harus datang ya…”

“Iya… aku usahain Dit.” Jawabnya buru-buru, lalu dia segera berjalan hendak meninggalkanku.

Tapi begitu aku hendak berbalik, tiba-tiba seseorang seperti memanggilku. “Hei… KAMU!” Dari suaranya dia adalah seorang wanita.

Aku menoleh kebelakang dan ternyata dia adalah seorang Ustadza. Mati aku…..

“A… aku Umi?”

“Iya siapa lagi.” Katanya, sambil melambaikan tangannya.

Aku berjalan mendekatinya dengan wajah tertunduk, yang kutakutkan akhirnya terjadi juga.

“A…Ada apa Umi?” Tanyaku takut-takut.

“Ada apa? Seharusnya Umi yang nanya bukan kamu.” Katanya dengan nada galak. “Kamu ngapain kesini, kamu taukan batasan-batasan Santri sama Santriwati.” Bentaknya keras.

“Maaf Umi… aku!”

“Umi gak mau denger penjelasan dari kamu, sekarang kamu ikut Umi kekantor sekarang juga.” Katanya dengan nada marah.

Aku terdiam ingin menyampaikan pembelaan, tapi sepertinya dia tidak perduli, dan tetap memaksaku untuk mengikutinya dari belakang.

Dengan amat terpaksa aku mengikutinya dari pada nanti aku mendapatkan masalah yang lebih besar.

Kupikir dia akan mengajakku kekantor akademik, dan melaporkan kenekatanku, tapi ternyata aku salah, dia malah mengajakku ke kantor madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) yang tampak sepi, karena semua guru sudah pulang kerumah mereka masing-masing. Dia memintaku untuk masuk, lalu kami menuju kesalah satu ruangan, yang kupikir itu adalah ruangannya.

Sesampai di dalam ruangan, dia memintaku duduk, sementara ia duduk di kursinya…

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo