loading...

Aku berencana makan tengah malam di saat Kak Nadia sudah terlelap dengan mimpi indahnya, dengan begitu aku tidak perlu bertemu dengannya hingga esok pagi.

Kulihat jam di dinding kamarku sudah menunjukan jam 11 malam, dan sudah 1 jam lamanya aku tidak mendengar suara tv yang menyalah. Kupikir sudah saatnya aku mengisi perutku yang sedari tadi sudah meminta untuk segera di isi.

Dengan perlahan aku keluar kamar, dan benar saja, suasana tampak hening, bahkan lampu di ruang tengah sudah di matikan.

Aku berjalan berjinjit menuju dapur, saat aku membuka lemari aku dapat bernafas lega karena masi tersisa lauk pauk malam ini, sepertinya Kak Nadia menyisakan lauk pauk untukku beserta nasinya.

Setelah mengambil makan malamku, aku segera duduk manis di meja makan dan mulai melahap makan malamku.

Cleeek…

Tiba-tiba lampu dapur menyala terang benderang, kulihat tak jauh dari meja makan Kak Nadia berdiri sambil berkacak pinggang, dia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah seperti baru saja memergoki kucing nakal yang sedang mencuri makanan.

“Laper ya? Kakak kira kamu gak laper?”

“Eh Kak Nadia, hehehe… Kakak kok tumben belom tidur?” Tanyaku mengalihkan rasa gugupku.

Kulihat malam ini Kak Nadia terlihat begitu cantik nan seksi dengan gaun tidur berwarna hitam yang menerawang dan kerudung jenis rumahan yang juga berwarna hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.

Kak Nadia berjalan melewatiku, dia membuka lemari es, dan mengambil sebotol air mineral dan membawanya kearahku.

Dia mengambil gelas dan menuangkan air kedalam gelasku dengan posisi merunduk sehingga aku dapat melihat belahan payudarahnya yang malu-malu mengintip dari sela-sela lehernya, karena kebetulan kerudung rumahan yang di kenakan Kak Nadia tak begitu lebar.

“Habis makan temuin Kakak di kamar, jangan coba-coba ngelak ya…!”

Lalu tanpa berkata lagi dia melangkah pergi sambil menggoyangkan pinggulnya kiri kanan, dan kemudian menghilang dari balik tembok dapur.

 

———–

Selesai menghabiskan makan malamku, aku segera menysul kekamar Kakakku, agak ragu sebenarnya, tapi kupikir sebaiknya aku segera menyelesaikan masalahku dengannya agar tak lagi berlarut-larut.

Aku menarik nafas panjang, dengan perlahan mengetuk pintu kamarnya.

“Masuk Dek, gak Kakak kunci kok.”

Perlahan aku membuka pintu kamarnya, kulihat Kak Nadia sedang duduk di tepian tempat tidurnya, dia tersenyum manis kearahku, melambaikan tanganku agar aku segera masuk kedalam kamarnya.

Aku segera masuk kedalam kamarnya, kemudian berdiri di depannya sambil memandangnya yang tersenyum cantik.

Entah kenapa aku mendadak grogi, apa lagi malam ini aku melihat Kak Nadia tampil begitu seksi dengan gaun yang indah membalut tubuhnya yang sempurna.

“Duduk sini dong Dek.” Dia menarik tanganku, dan memaksaku duduk di sampingnya. “Kayak sama orang lain aja si.” Omelnya, aku hanya menuruti keinginannya.

“Ada apa Kak?”

“Kita harus menyelesaikan masalah kita Dek, Kakak gak mau kita kayak gini terus.” Jelasnya, dan itu juga yang aku inginkan.

“Iya Kak, eehmm… aku benar-benar minta maaf atas kejadian waktu itu, saat itu aku benar-benar khilaf, aku minta hhmpp…” Tiba-tiba Kak Nadia menutup mulutku dengan jari telunjuknya, membuatku terdiam.

Kami saling pandang, kemudian kulihat Kak Nadia mulai menangis, membuatku semakin merasa bersalah karena dulu perna melecehkannya, padahal selama ini dia sangat peduli dan sayang kepadaku, tapi aku malah membuatnya menangis.

Aku mengambil inisiatif menghapus air matanya, tapi kemudian tiba-tiba dia memelukku dan menangis.

“Kakak capeek!”

Perlahan aku melingkarkan tanganku di pundaknya, membalas pelukannya.

“Maafin aku Kak.”

“Kamu tidak salah Dek, ini salah Kakak yang plin-plan, sebenarnya sudah lama Kakak menyukaimu, dan rasa itu semakin lama semakin besar, Kakak sudah tidak sanggup lagi menahan perasaan ini.” Aku sangat kaget mendengar pengakuan, dan hendak melepaskan pelukannya, tapi dia malah memelukku semakin erat.

“Maaf Kak, tapii…”

“Kakak tau ini gila, tapi aku sudah benar-benar tidak kuat, apa lagi sekarang kamu mulai menghindar dari Kakak. 1 bulan kamu di asrama bikin kakak hampir gila tauk.”

“Aku hanya tidak ingin terjadi kesalah pahaman di antara kita.” Jawabku pelan, sebenarnya aku juga sangat menyukainya.

“Aku tidak perduli, semuanya sudah terlanjur Dek, Masmu… kaka tahu dia punya wanita simpanan di kota lain, makanya dia jarang pulang, jadi gak ada lagi yang perlu Kakak pertahankan, dan kamu tidak perlu merasa bersalah, karena Kakak yang meminta kamu untuk meniduri Kakak.” Jelasnya panjang lebar, sementara aku sangat kaget mendengar penjelasannya, rasanya sulit di percaya kalau Mas Jaka bisa berbuat setega itu kepada Istrinya.

Dan yang lebih mengagetkan lagi, dia memintaku untuk menidurinya. Oh tidak… aku pasti salah dengar.

“Mana mungkin Kak.”

“Terserah kamu mau percaya atau tidak.” Jawabnya, kemudian dia melepas pelukannya dariku.

Aku semakin di buatnya tercengang, ketika ia mulai membuka kerudungnya, membiarkan ramburnya tergerai, dan di lanjutkan dengan melucuti pakaian tidurnya, hanya menyisakan pakaian dalam serba hitam yang melekat di tubuhnya.

Belum sempat aku berkomentar, Kak Nadia langsung menerkam tubuhku, hingga aku terlentang berada di bawah tubuhnya.

Dengan sisa-sisa kesadaranku, aku berusaha menolak, tapi lama-kelamaan aku tidak tahan juga tatkalah ia memaksaku mencium bibirku dengan penuh gairah,.

“Eeehmmmppp… Kak!” Aku mengerang sambil memeluk tubuhnya yang ramping.

“Jangan ragu, nikmatin tubuh Kakak!” Bisiknya sembari melepaskan ciumannya dan membuka kaitan branya.

Kini sepasang gunung kembar nan indah dan putih bulat terpampang di hadapanku dengan putting yang menggairahkan berwarna coklat muda. Aku sudah tidak tahan lagi, kedua tanganku langsung meraih payudaranya dan meremasnya pelan, menikmati tekstur lembut payudaranya yang menggoda.

Dia kembali melumat bibirku, kami berciuman dengan amat panas hingga beberapa menit lamanya. Kemudian aku memutar tubuhnya hingga kini aku berada di atasnya.

“Kakak yakin ingin melakukan ini?” Tanyaku, sebelum aku melangkah terlanjur jauh, walaupun sebenarnya aku juga sudah sangat terangsang dan ingin segera merasakan kehangatan tubuh Kakak Iparku.

“Kakak milikmu sekarang.” Jawabnya.

Kurendakan tubuhku untuk kelumat sebentar bibirnya, lalu ciumanku turun kelehernya, menjilati lehernya yang jenjang hingga membuat Kak Nadia merintih lemah sambil mendekap kepalaku.

Sapuan lidahku kembali turun menuju payudara, kekecup lembut puttingnya, sesekali kuhisap, membuat Kak Nadia melenguh panjang, dia tampak sangat menikmati permainan lidahku diatas kedua payudarahnya yang menggoda.

Kuhisap payudaranya secara bergantian, kumainkan puttingnya, sementara jari jemariku menggelitik perutnya.

“Aauww… Adeeekk… geliii… Aahk… Ahkk…”

Sluuupss… ssluuppss…

Tangan kananku kuarahkan keselangannya, kebelai vaginanya dari luar celana dalamnya, kegesek-gesekkan jari telunjukku diantara lipatan bibir vagina Kak Nadia yang sudah bermandikan lendir birahinya.

Kedua tanganku beralih ke kedua sisi celana dalam Kak Nadia, dengan perlahan aku menarik turun celana dalamnya.

“Indah sekali Kak!” Aku bergumam pelan.

“Jangan Dek, Kakak malu ah…”

Dia barusaha menutupi selangkangannya dengan kedua telapak tangannya, tapi dengan perlahan aku menyingkirkan kedua tangannya, sehingga aku dapat melihat keindahan bentuk vagina Kakak Iparku yang tembem, di hiasi dengan rambut yang lebat tapi tertata dengan sangat rapi, berbeda dengan yang kulihat beberapa bulan yang lalu yang tidak terlalu lebat.

Kuciumi pangkal pahanya, sementara jari jempolku menekan clitorisnya.

“Uuhkk… Dek jangaaan, Aaahk… jorok Dek!” Kak Nadia mulai tidak tenang, pinggulnya bergera kekiri dan kekanan.

Ciumanku kini tiba di bibir vagina Kak Nadia, kujulurkan lidahku menyapu bibir vaginanya, kusodok lubang vaginanya dengan lidahku membuat vaginanya semakin licin dan basah karena tercampur dengan air liurku.

Kuhisap lembut clitorisnya, dan kedua jariku berenang bersama-sama kedalam lautan vagina Kak Nadia.

Dengan gerakan perlahan aku mengocok vaginanya, sambil menghisap dan memainkan clitorisnya yang memerah malu-malu menerima setiap serangan dariku.

“Kak boleh aku masukin sekarang?” Tanyaku, sambil menatap matanya yang senduh.

“Boleh sayang, sekarang Kakak udah jadi milik kamu, ayo di masukan sekarang, Kakak juga udah gak tagan Dek.” Jawabnya, dia melebarkan kakinya semakin lebar.

Segera kubuka baju kaosku, lalu si susul dengan celanaku, hingga aku telanjang bulat sama seperti Kak Nadia.

Aku segera memposisikan diriku diatasnya, kegenggam penisku lalu kuarahkan kedepan mulut vagina Kak Nadia, kugesek perlahan bibir vaginanya yang berlendir, terasa hangat dan nyaman di kepala penisku.

“Kakak yakin?” Tanyaku untuk kembali mengingatkannya sebelum terlambat.

“Sangat yakin sayang, kamu sendiri bagaimana? Kamu yakin ingin menodai Istri Saudara kandungmu.” Balasnya, dia membelai wajahku. Aku tersenyum lalu kujawab dengan menekan pinggulku.

Tidak kusangkah ternyata vagina Kak Nadia jauh lebi sempit ketimbang milik Clara, penisku rasanya di jepit sangat erat sekali, sehingga sangat sulit untukku menembus liang syurga milik Kak Nadia. Kuturunkan lagi tubuhku hingga perutku menyentuh perutnya, lalu dengan sekuat tenaga menekan kembali penisku kedalam vaginanya.

Kak Nadia meringis, dia menggoyangkan pinggulnya kekanan seperti mencari posisi yang membuatnya lebih nyaman.

Kukecup keningnya tatkalah penisku makin dalam menusuknya, hingga menyentuh rahimnya, dan lagi kurasakan sensasi yang luar biasa menjalar keseluruh tubuhku.

“Aaaahkk… kontol kamu besar banger Dek.”

“Iya Kak aku tau, kontol Mas Jaka pasti tak sebesar punyakukan Kak?” Tanyaku sembari mengecup bibirnya.

Dia melingkarkan tangannya di leherku sambil berujar. “Iya sayang, punya masmu tidak perna terasa penuh seperti ini. Kamu hebat sayang, Kakak semakin yakin kalau kamu pasti bisa membuat Kakak bahagia.”

“Aku akan melakukan apapun untukmu Kakakku tersayang.”

“Aaahkk… aku cinta kamu Dek.”

“Aku juga Kak, Ooohk… memek Kakak enak sekali, sempiiit banget Kak.” Kugoyang perlahan pinggulku keluar masuk liang senggamanya yang hangat.

Kubelai rambut Kak Nadia, sambil kupompa vaginanya. Aku benar-benar tidak menyangkah bisa meniduri Istri Saudaraku yang alim dan sangat setia terhadap Suaminya. Tapi kini dia sedang menikmati penisku yang sedang mengaduk-aduk vaginanya yang hangat.

“Adeeek… Kakak, mau nyampe!”

Plookk… ploookk… ploook…

Aku semakin cepat mengaduk-aduk liang vaginanya, sembari meremasi payudarahnya, hingga akhirnya tubuhnya mengejang sebentar, dan dinding vaginanya terasa menjepit penisku semakin erat, tatkala dengan perlahan kurasakan cairan hangat menyembur keluar dari dalam vaginanya.

Kucabut penisku dengan perlahan, membiarkan Kak Nadia menikmati orgasme pertamanya dariku.

“Aaah… aaah… aaaah… capeek Dek, kamu belom dapet ya sayang?”

“Kalau aku santai aja Kak, kalau Kakak capek kita lanjut lain kali aja gak apa-apa kok Kak.” Jawabku, sembari mengusap dan mengecup lembut keningnya yang berkeringat.

“Gak adil dong sayang.”

“Beneran gak apa-apa kok Kak.”

“Sini… Kakak kulumin aja dulu kontol kamu ya, sambil Kakak beristirahat sebentar.” Dia segera duduk dan aku di mintanya terlentang.

Tangan lembut Kak Nadia mulai membelai penisku, sesekali dia mengecup lembut kepala penisku, dan menjilati batang kemaluanku dengan perlahan, membuatku mengeluh pelan.

Kubalas perlakuannya dengan meremasi payudaranya yang bergelantungan di depan mataku, membuatnya semakin bersemangat mengoral penisku, bahkan kini ia memasukan penisku kedalam mulutnya, kepalanya bergerak liar turun naik diatas penisku sambil membelai pahaku

Uuhh… rasanya ngilu, apa lagi ketika gigi Kak Nadia menyentuh penisku, rasanya kurang nyaman. Kurasa Kak Nadia belum berpengalaman oral seks.

“Kak… udahan dulu, ngilu.” Kataku memintanya untuk berhenti.

“Kenapa Dek, gak enak ya?”

“Enak kok Kak, tapi aku gak mau keluar sekarang, aku masi ingin menikmati memek Kakak yang sempit itu.” Jelasku berbohong dan sedikit menggodanya.

Kak Nadia tersenyum, lalu dia melangkahiku dan berjongkok diatas selangkanganku.

“Dasar nakal.” Komentarnya, aku hanya terkekeh pelan sambil membelai wajah cantiknya yang sedang tersenyum.

Perlahan ia menggenggam penisku, dan mengarahkannya ke bibir vaginanya. Perlahan ia mulai menduduki penisku, kurasakan kembali hangatnya dan jepitan bibir vagina Kak Nadia ketika menelan habis penisku kedalam rahimnya.

Lalu tanpa memberi jedah, dia menarik dan menghentakan pinggulnya kebawah dengan keras tapi sangat teratur.

“Memek Kakak sedap bangeet, rasanya di gigit gitu Kak, Oooo… enaaaak bangeeet Kak.” Erangku, sambil mencengkram kedua paha mulusnya yang halus.

Kak Nadia menjatuhkan tubuhnya, kemudian dia memanggut bibirku.

Kepeluk erat pinggangnya yang ramping, tatkala pinggulnya bergoyang liar diatas selangkanganku, mencengkram erat penisku seoalah ia tidak ingin melepaskannya.

“Dek… Kakak mau dapet lagi?”

“Yang bener Kak, baru aja tadi dapet, sekarang mau keluar lagi?” Tanyaku tak percaya, biasanya butuh waktu lama untuk kembali mendapatkan orgasm selanjutnya.

“Habiiis kontol kamu enak banget Dek.”

“Kontol aku yang enak apa Kakak yang nafsuaan? Dasar Kakak nakal.” Kataku sambil mentoel hidungnya.

Tak lama kemudian kembali kurasakan semburan lendir cintanya, dan tubuhnya kembali ambruk menindih tubuhku, menekan dadaku sangat kuat. Kubelai kepalanya, sembari kucium keningnya.

Kemudian dengan perlahan aku menggeser tubuhnya, kuminta dia menungging, mengangkat sedikit pantatnya.

Dari belakang aku dapat melihat bibir vagina Kak Nadia yang memerah tampak begitu licin karena basah oleh cairan cintanya. Perlahan kembali kuarahkan penisku di depan bibir vaginanya, kugesek-gesek pelan penisku di belahan bibir vaginanya.

“Lanjut ya Kak, tanggung.” Kataku meminta izin kepadanya.

“Iya sayang, masukin pelan-pelan.”

“Iya Kak.” Jawabku, lalu kuselipkan penisku kedalam lobang vagina Kak Nadia, dengan perlahan kudorong penisku hingga amblas kedalam vagina Kak Nadia.

Dengan gerakan perlahan aku kembali menyodok vagina Kak Nadia, kali ini terasa lebi nikmat dan lebih menggigit, ketika penisku kembali di makan vagina Kak Nadia yang terasa hangat dan nyaman.

Kecengkram pinggulnya, dan penisku kembali bergerak liar bahkan lebih cepat dari sebelumnya.

“Aduuuuh… Aaahkk…. Aaahkkk….”

Plaaak…. Plaaakk…. Plaaak…. Plaaaak… Plaaak…. Plaaak…. Plaaaakkk…. Plaaak…. Plaaakk…. Plaaakk…. Plaakk…. Plaakkk…

“Enaaak bangeeet Kak.”

Pplaaak…. plaaak… pkaaak… plaaak…. plaaakk… plaaaakk…. plaaakk….

“Sayaaang, Uhhkk… kamu nafsu banget si, memek Kakak ngilu bangeeet rasanyaa… Aahkk… tapi enaaak Dek, kamu hebaaat bangeet ngeentotnyaa…”

“Habis aku sudah lama ingin sekali ngentotin Kakak, tapi baru kali ini kesampean.”

“Hihihi…. dasar Adek! Aaahkk… ya udah sekarang puasin entotin Kakak, jangan lupa hamilin Kakak juga ya sayang.” Ujarnya sembari ikut menggoyangkan pantatnya, menyambut sodokanku.

Plaaaakkk… Plaaaak… Plaaaakk… Plaaakk…. Plaaaakk… Plaaakk….

“Kakak serius?” Tanyaku.

“Iya sayang, tolong hamilin Kakak…”

Tak butuh waktu lama, kali ini aku merasa sudah di abang batas kemampuanku, penisku berkedut-kedut, darahkupun terasa memanas, menandakan kalau sebentar lagi aku akan mencapai puncaknya, menyemburkan jutaan sel sperma kedalam rahim Kakak iparku.

Kuhentakan kuat-kuat pinggulku, hingga di hentakan terakhir, aku memuntahkan semua isi didalam kantung penisku kedalam rahim Kakak iparku. Aku tidak tau apakah spermaku bisa menghamilinya atau tidak. ah persetan…

Crroooottss…. cccrroooott…. cccrroooott….

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo