loading...

Remaja tanggung itu adalah Aldi, anak kedua dari Ustadza Erlina. Dia sedang menonton film 17+ sambil bermasturbasi menciumi dan menjilat celana dalam Uminya sendiri. Sementara Erlina yang melihat anaknya begitu terobsesi terhadap dirinya hanya bisa diam sambil menatap sendu.

Kalau seorang Ibu pada umumnya, mereka pasti akan sangat marah terhadap putranya kalau melihat apa yang di lakukan anaknya, tapi tidak dengan Erlina, Ibu muda itu cukup sadar diri, karena dialah penyebab kenapa anak kandungnya bisa begitu terobsesi terhadap dirinya, seandainya saja dia tidak selalu menganganggap dan memperlakukan putranya seperti anak balita, mungkin anaknya sekarang tidak akan seperti ini.

“Umiiiii…” Creooott…. crroottss…

Sambil menutup mulutnya, Erlina segera pergi dari kamar anaknya, ia takut kalau nanti putranya menyadari kehadirannya. Dan tidak jauh dari Erlina berdiri barusan, seorang wanita yang usianya tidak jauh dari Erlina sedang tersenyum melihat Erlina yang pergi meninggalkan kamar anaknya.

 

—————

Dua hari kemudian….

Mata Aldi tak berkedip memandang seorang wanita paruh baya, usainya berkisaran 40 tahun. Tapi di usianya yang sudah berkepala empat, wanita tersebut masih terlihat cantik dan bentuk tubuhnya masih terlihat kencang, tidak heran kalau Aldi sangat betah berada di dekatnya.

Nama wanita itu Marni, biasa di panggil Tante Marni, dia adalah saudara kandung Umi Erlina.

Semenjak bercerai dengan Suaminya terdahulu, Marni tinggal di rumah Erlina untuk sementara waktu, pekerjaannya sehari-hari membantu pekerjaan Erlina, seperti memasak dan mencuci pakaian seperti yang sedang ia kerjakan saat ini.

Marni sedang membilas pakaian di belakang di dekat kamar mandi, ia duduk di kursi plastik di temani Aldi yang hanya menonton dirinya. Marni tersenyum sembari membuka kedua kakinya semakin lebar sehingga keponakannya semakin leluasa memandangi paha mulusnya berikut celana dalam yang ia kenakan saat ini.

Dia tau percis kalau keponakan ini paling suka mengintip, bukan hanya kepadanya saja tapi juga kepada Ibunya Elina dan Kakaknya Popi.

Terakhir ia memergoki Aldi yang sedang bermasturbasi sambil menciumi celana dalam Ibu kandungnya. Saat itu Marni tidak mengatakan apapun, dia langsung menampar Aldi dan merebut celana dalam Erlina.

“Hayooo ngeliatin apa?” Goda Marni.

“Gak… ngeliatin apa-apa kok Tan, cuman mau nemenin Tante aja.” Elak Aldi, dia menunduk malu tatkala ia melihat Marni memandangnya sinis.

“Kamu itu, udah ketahuan masi aja bohong.”

“Tan… soal kemarin jangan kasih tau Umi ya Tan.” Kata Aldi gugup, dia memberanikan diri melihat kemata Marni yang memandangnya dengan tatapan menusuk.

“Beri Tante alasan, kenapa Tante gak boleh kasi tau Umi kamu soal kebiasaan kamu yang suka menciumi celana dalamnya yang kotor.” Ejek Marni, dia paling suka melihat wajah polos keponakannya yang menggemaskan.

“Jangan ya Tan, aku takut nanti Umi marah! Aku janji gak akan kayak gitu lagi.”

“Kayak gitu gimana, ngomong yang jelas dong Al, biar Tante kamu ini ngerti.” Ujar Marni, dia membuka kakinya semakin lebar memperlihatkan bagian dalam paha mulusnya.

“Soal kebiasaan nyiumin celana dalamnya Umi.”

“Jadi kamu gak mau lagi nyiumin celana dalamnya Umi? Kalau Tante yang suruh gimana?”

“Maksud Tante?” Tanya Aldi kebingungan.

Marni tak langsung menjawab, dia mengambil sesuatu di balik baskom, kemudian beranjak dan duduk di samping keponakan yang polos. Dia merangkul pundak Aldi dan memberikan kain segitiga yang barusan ia ambil, dan menyerahkannya kepada Aldi, keponakannya. Walaupun dia tidak mengerti, Aldi tetap mengambil celana dalam itu.

“Kamu tau gak ini punya siapa?” Tanya Marni.

“Eehnm… punya Umi.” Jawab Aldi ragu-ragu, tapi dia sangat yakin kalau celana dalam itu punya Uminya.

“Sampe hafal, hahaha… pasti kamu sering liat ya, dasar anak mesum kamu.” Ejek Marni sambil mengucek-ngucek rambut Aldi hingga acak-acakan.

“Iih… Tante!”

“Mau Tante bantuin gak?”

“Bantu apa?” Tanya Aldi bingung.

Marni tak menjawab, kemudian dia meraih burung Aldi dari luar celana, Aldi sempat kaget, tapi hanya diam ketika tangan Marni meremas-remas penisnya dari luar. Tidak sampai di situ saja, Marni semakin iseng mengerjai keponakannya, dia mengambil kembali celana dalam tersebut, kemudian mengusapkan celana dalam itu kewajah Aldi.

Dalam keadaan bingung, Aldi hanya pasrah bahkan menikmati menghirup aroma celana dalam Ibunya.

“Enaak ya?”

“Eehmmpp… enak banget Tan.” Jawab Aldi polos.

“Hihihi… kamu suka banget ya sama Umi kamu?” Tanya Marni sambil membuka celana Aldi, sehingga ia bisa mengurut penis Aldi secara langsung.

Tubuh mungil Aldi berdesir nikmat merasakan belaian di penisnya, dia tidak menyangkah kalau Tantenya akan memperlakukannya seperti ini, dan dia baru tau ternyata jauh lebih nikmat di kocokin oleh Tantenya di bandingkan ia mengocok sendiri apa lagi sambil menghirup aroma celana salam Ibu kandungnya sendiri.

Dia mulai membayangkan kalau saat ini sedang bersama Ibunya, dan melakukan hal yang tabu dengan Ibu kandungnya sendiri, yang seharusnya tidak ia lakukan.

“Aaahkk… iya Tan, aku suka Umi… !” Erang Aldi sambil menjawab pertanyaan Tantenya.

“Apa yang kamu suka dari Umi?”

“Uhhkk… Umiii cantik Tan, tubuhnya bagus, teteknya besar dan memeknyaa… Aaahkk… pokoknya aku suka semua yang ada di diri Umi.”

“Kamu sayang sama Umi?” Tanya Marni lagi.

Aldi mengangguk sambil berujar. “Sayang banget Tan, Aldi mau melakukan apapun demi Umi Tan.” Kata Aldi matanya memandang Marni dengan tatapan sayu.

“Berarti kamu gak marahkan kalau Umi kamu di entotin orang lain selain Abi kamu.” Aldi terdiam, dia kaget mendengar pertanyaan Marni, tentu saja dia merasa tidak rela, tapi melihat senyuman Marni, entah kenapa hatinya merasa luluh.

“Tapi Tan…!”

“Katanya kamu sayang sama Umi, kalau begitu kamu gak boleh marah kalau Umi senang di entotin orang lain.” Jelas Marni, dia semakin erat mendekap tubuh Aldi.

Diam-diam Aldi mulai membayangkan melihat Ibu kandungnya sedang di setubuhi orang lain, dan anehnya ia merasa semakin sangat terangsang. Tapi walaupun begitu, dia juga merasa sangat cemburu walaupun hanya baru membayangkannya saja.

Tapi sebelum Aldi menjawab, tiba-tiba darahnya terasa mendidih, urat-urat penisnya mengejang, dan tubuhnya bergetar hebat, beberpa detik kemudian, dia memuntahkan spermanya cukup banyak kelantai. Marni buru-buru membersihkan penis Aldi dengan celana dalam yang ia pegang.

“Gak perlu di jawab, Tante uda tau jawabbannya.” Ujar Marni, lalu dia bangkit. “Ya udah kamu mandi dulu, bauuk… Oh iya jangan cerita sama siapapun, kamu mengerti?” Sambung Marni, sambil membenarkan letak lipatan kainnya.

“Iya Tan…”

 

————–

“Assalamualaikum.”

Tok… tok… tok…

Beberapa kali aku mengetuk dan mengucapkan salam, tapi tetap tak ada jawaban dari Kakak Iparku, mungkin dia sedang keluar, kuputuskan untuk segera masuk karena pintu rumah tidak dalam keadaan terkunci.

Sudah satu bulan lebih aku tidak pulang kerumah, bahkan setelah ujian berakhir aku tetap memilih tinggal di asrama, kuhabiskan waktuku di asrama dengan belajar dan belajar, berharap aku bisa melupakan semuanya. Tapi ternyata aku tidak bisa, terutama setelah tak lagi mendapat kabar dari Clara.

Iya hubunganku dengan Clara saat ini ngenggantung, setelah percumbuan kami kemarin, aku sudah tidak perna lagi bertemu dengannya, bahkan terkahir kami berbalas pesan satu minggu yang lalu dan semenjak itu kami tak lagi berkirim pesan karena hpnya tak lagi aktif.

Creaaak…

Dengan perlahan aku mendorong pintu kamarku yang sudah aku tinggal cukup lama.

“MALIIING, TOLOOOOONG ADA MALIIIIING…. SANA KELUAAARRR…!”

Aku sangat terkejut ketika aku membuka pintu kamarku, kulihat ada seorang anak gadis berada di dalam kamarku, sepertinya ia sedang ingin berganti pakaian. Karena ia hanya mengenakan pakaian dalam.

Aku sempat terpesona dengan pemandangan yang ada di hadapanku saat ini. Tapi karena panik mendengar teriakannya aku buru-buru menyekapnya, kututup mulutnya dengan tanganku agar dia tidak bisa berteriak, bisa bahaya kalau sampai ada orang lain yang mendengar teriakannya, bisa-bisa aku di pukuli dan di kira ingin mencuri, bahkan lebih parahnya lagi aku bisa di tuduh ingin memperkosa dirinya.

Dia terus merontah, tapi aku mendekapnya sangat erat sambil menjatuhkan tubuhnya diatas kasurku dan menindihnya agar ia tidak bisa bergerak.

“Lepasiiiinmmm… eehmmpp…!”

“Ssstt… diam gue bukan maling.” Kataku berusaha menenangkannya yang ketakutan.

“Ada apa ini? Radit? Ria?”

“Kakak….??”

 

———————–

Aku hanya bisa tertunduk malu-malu, sesekali aku memandangi Kak Nadia yang sedang tersenyum dan seseorang gadis remaja seusiaku yang juga sedang tertunduk malu, mukanya tampak memerah, mungkin saja ia juga sangat marah.

“Ya udah sana baikan, cuman salah paham.” Ujar Kak Nadia santai, seolah tak perna terjadi sesuatu hal yang besar yang perlu di besar-besarkan.

Aku menyodorkan tanganku hendak meminta maaf. “Maafin gue ya, tadi gue gak sengaja.” Kataku, tapi tak ada reaksi darinya, bahkan ia memandangku seolah ia ingin membunuhku. Aku merenyitkan dahiku.

“Kenapa?” Dia membentak. “Dasar otak mesum, dari dulu kamu tuh gak perna beruba.” Katanya melotot, tapi tunggu dulu, apa maksudnya dari dulu.

Lama aku memandang dirinya, sepertinya aku sudah mengenalnya cukup lama, tapi dimana? Dan dia siapa?.

“Emang kita udah saling kenal ya?” Tanyaku bingung.

“Aku benci sama kamu, berani-beraninya kamu ngintip terus habis itu sengaja banget nyari kesempatan buat meluk aku barusan, ingat kita ini bukan muhrim.”

“Kan udah di bilang gak sengaja, lu juga yang salah, ngapain di kamar gue.” Kataku tak kalah sinis.

“Eeitt… kamu gak boleh nyalahin Ria, Kakak yang nyuruh dia tinggal di kamar kamu, bukannya kemarin kamu bilang gak mau pulang lagi, kenapa sekarang kanu tiba-tiba pulang, malah bikin onar.” Celah Kak Nadia, aku tak berani membantahnya.

“Maaf Kak.”

“Marahin aja Umi, emang dari dulu dia itu mesum kok, bilang aja emang sengaja mau lihat aku telanjang, pake bilang-bilang gak sengaja segala.” Omel Ria, duh… rasanya mau kupelintir mulutnya itu, yang seenaknya saja bicara.

“Apaan si lo, sok kenal banget!”

“Udah… udah… gak usah berantem lagi.” Lerai Kak Nadia. “Oh iya malam ini kamu mau nginap di rumah Umi, apa mau pulang keasrama, Ria?” Tanya Kak Nadia kepadanya, sementara aku hanya membuang muka jauh-jauh.

“Aku balik keasrama aja Umi, males juga ketemu dia.”

“Siapa juga yang mau.” Kataku sengit.

“Duh… kamu ini Dit, sana kamu mandi dulu gih, bauk… Malam ini kamu nginap ya, soalnya Kakak sendirian.” Jelas Kak Nadia, aku mendengus kesal.

Padahal rencanya aku hanya ingin singgah sebentar, tapi gara-gara dia aku terpaksa menginap malam ini.

“Iya Kak.” Jawabku males-malesan.

Aku segera pergi kekamarku sehingga aku tak lagi mendengar obrolan mereka, aku mengambil handukku, dan ketika ingin kekamar mandi, aku kembali melihat kearahnya, entah kenapa nama dan wajahnya seperti sudah sangat familiar untukku. Tapi di mana aku mengenalnya? Sudalah…

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo