loading...

Seperti yang di sarankan Raditya, Nadia meminta salah satu murid kesayangannya Ria untuk menemaninya di rumah, ketika Suaminya sedang tidak berada di rumah.

Baca juga: Aku Istri yg Setia & Berjilbab, Namun Tak Kuasa Menahan Nafsu Birahi…. (klik di gambar)

Setidaknya dengan kehadiran Ria, dia sedikit bisa mengalihkan perhatiannya kepada Ria, dan sedikit bisa mengurangi rasa kangennya terhadap Raditya, walaupun jauh di dalam hatinya, ia masih menyimpan nama Raditya, dan berharap pemuda itu tak lagi berusaha untuk menghindari dirinya.

“Eehmm…!” Nadia mengalihkan pandangannya kearah muridnya yang sedang duduk disampingnya.

“Kamu kenapa?” Tanya Nadia.

“Gak apa-apa kok Mi, dari tadi Ria perhatiin Umi ngelamun terus, kenapa Umi?” Ujar Ria balik bertanya, ia merasa bingung dengan keadaan Ustadza Nadia, yang lebi sering ngelamun sedih.

“Cuman perasaan kamu doang, Umi bukannya lagi ngelamun, tapi lagi serius nonton.” Elak Nadia sembari tersenyum palsu.

“Umi pasti lagi kangen sama Ustad ya?” Tembak Ria.

“Apaan kamu, masih kecil sok tau.” Ujar Nadia sambil mencubit pipi tembem Ria.

“Tuhkan bener…. Hahaha!”

“Awas kamu ya, berani ngeledekin Umi.” Nadia segera menggelitikki pinggang Ria. “Ini hukuman anak nakal.” Sambung Nadia tanpa ampun menggelitiki pinggang Ria yang berusaha melarikan diri.

“Ampuuuuun Umi, aaaww…. awwww….!”

 

—————

“Abi aku pergi dulu ya.” Irma mengamit tangan Suaminya.

“Iya sayang, pulangnya jangan terlalu malam.”

“Iya Bi.”

Dengan langkah gontai Irma meninggalkan rumahnya, dia berjalan mengikuti trotoar sambil sesekali kepalanya celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya seolah ingin memastikan kalau tidak ada yang sedang mengikutinya Langkahnya terasa semakin berat, tatkalah ia melihat sebuah rumah yang sederhana yang berdiri diantara pepohonan.

Rumah Reza memang di bangun di bagian paling belakang, diantara pepohonan besar yang tumbuh di sekitar rumahnya.

Irma menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah tersebut, tak lama kemudian seseorang membukakan pintu, Irma segera menundukan wajahnya, ia merasa amat malu dan terhina berada di hadapan pria tersebut.

Tadi sore Irma di temui Reza di kantor madrasah, pria itu memintanya untuk datang kerumahnya, karena ia ingin mengadakan pesta kecil-kecilan dirumahnya.

Tentu saja Irma tak bisa menolak kecuali ia ingin rumah tangganya hancur berantakan. Karena berada di bawah ancaman, mau tidak mau ia menuruti kemauan Reza yang memintanya untuk datang.

“Kukira kamu tidak datang.” Ujar Reza sambil membelai wajah Irma.

“Bajingan kamu Reza.” Umpat Irma pelan.

“Hahaha… aku menyukai kamu yang seperti ini sayang.” Bisik Reza, lalu ia memeluk Irma dan melumat bibirnya dengan perlahan.

Irma tak melakukan perlawanan apapun, ia membiarkan bibir dan lidah Reza mempermaikan mulutnya bahkan dia hanya bisa mengerang tatkalah Reza meremas bongkahan pantatnya yang sekal. Bahkan Irma sedikit kecewa ketika Reza berhenti melumat bibirnya.

“Kamu selalu membuatku bergairah.” Bisik Reza. “Ayo kita masuk pestanya sudah mau di mulai, tapi sebelum itu kamu tanggalkan dulu pakaianmu itu.” Lanjut Reza menyeringai mesum.

Dengan perlahan ia menanggalkan baju gamisnya, meninggalkan kerudung dan bra mini yang hanya menutupi puttingnya, lalu celana dalam G-string yang hanya berbentuk tali. Dia terlihat sangat seksi sekali dengan penampilannya saat ini.

“Waaaw… kamu sangat menggairahkan Irma, Suamimu sangat beruntung sekali.” Reza berdecak kagum melihat penampilan Irma yang sangat seksi.

“Cukup, kamu memuakan! Aku akan….”

“Ssttt… jangan merusak suasana malam ini sayang, ayo lebih baik kita masuk, kasihan yang lain sudah menunggu kita dari tadi.” Potong Reza, lalu dia merangkul pinggang Irma, mengajaknya masuk kedalam rumah.

Di ruang tamu itu sudah ada lima orang yang menunggu mereka, dalam keadaan setengah telanjang, Rozak, Dewa, Budi. Dan ada dua orang yang cukup membuat Irma sangat terkejut melihatnya, dia adalah Chakra dan Lathifa. Salah satu siswa berprestasi di sekolahnya.

Tidak hanya Irma yang kaget, Lathifa lebih kaget lagi saat melihat kedatangan Irma yang sedang di rangkul oleh Reza, dia tidak menyangkah wanita sealim Irma bisa berada di dalam pelukan Ustad Reza dalam keadaan setenga telanjang.

Sama halnya dengan keadaan Lathifa yang hampir sama dengannya, hanya mengenakan bikini dan kerudung coklat yang masih melekat di kepalanya.

“Kamu…!”

“Umi”

Plok… plok… plok… “Wah… wah… wah… pertemuan yang sangat mengharuhkan.” Ujar Reza sambil bertepuk tangan melihat kedekatan antara guru dan murid.

“IBLIS KAMU REZA, dia anak baik-baik kenapa kamu tega melakukannya? Kamu memang tidak tau diri, ingat Reza suatu hari nanti kamu akan kena KARMA dari perbuatan kamu hari ini.” Irma memandang lekat kearah Reza, ia sangat marah ketika melihat Lathifa murid kesayangannya juga menjadi korban atas kebiadaban Reza sahabat Suaminya.

“Dia sama sepertimu, awalnya malu-malu, dan sekarang dia sangat liar.” Bisik Reza, kemudian dia meremas pantat Irma membuatnya terpekik.

“ANJING KAMU REZA, LEPASIN DIA SEKARANG.”

“Jangan emosi gitu dong sayang.” Ujar Reza, lalu dia meraih wajah Irma dan melumat bibirnya sebentar. “Budi, tolong perlihatkan, senakal apa anak didiknya.” Lanjut Reza sembari meremas payudara Irma.

Budi yang di beri perintah langsung melorotkan celana dalamnya, dan mengarahkan penisnya kearah Lathifa. Irma melongok saat melihat muridnya dengan suka rela meraih penis Budi, lalu menjilati penis tersebut dengan suka cita, seperti sedang menikmati permen lolipop.

Tidak sampai di situ saja, pertunjukanpun berlanjut ketika Dewa duduk di samping Lathifa, pria buruk rupa itu meraih payudara Lathifa, menyingkap bra mini itu, kemudian mengulumnya dengan rakus.

Wajah Lathifa memerah, ia sepertinya sangat menikmati kuluman Dewa di atas payudaranya.

“Bagaimana sayang hehehe!” Tawa Reza menyeringai mesum.

“BANGSAT KAMU REZA!”

“Upss… na sekarang tugas kamu puasin anak didik kamu yang satunya lagi, Chakra, sepertinya dari tadi dia sudah mupeng pengen dapat jatah dari kamu, iyakan Chakra?” Tanya Reza kepada Chakra.

Chakra mengangguk sembari tersenyum. “Ayuk Umi, kita main di kamar aja.” Ajak Chakra.

“KAMU… APA-APAAN INI, LEPASIN SAYA ATAU KAMU MAU SAYA KELUARKAN DARI SEKOLAH INI?” Ancam Irma, rapi Chakra sepertinya tak perduli.

Dia menarik tangan Irma lalu menbawanya kedalam kamar, kemudian ia menutup pintu kamar tersebut dan mengunci pintu kamarnya.

“Jangaaan… ingat Chakra aku gurumu.” Ujar Irma berusaha melunak.

“Iya aku tau Umi, dan aku juga tau kalau Umi selain pintar mengajar pelajaran sekolah, Umi juga sangat pintar memuaskan nafsu kami.” Jawab Chakra sambil membuka celana dalamnya.

Irma menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi dia tak berdaya ketika Chakra mencengkram lengannya dan menjatuhkannya keatas kasur.

Lalu Chakra menindih tubuhnya sambil berusaha mencium bibir Irma. Ustadza itu berusaha memberontak, baginya saat ini cukup hanya Reza dan kawan-kawannya yang menikmati tubuhnya, ia tidak ingin ada lagi pria lain yang menikmati tubuhnya, sudah cukup ia mengkhianati cintanya.

Tapi apa daya Chakra sama halnya dengan Reza, pemuda itu sangat kuat sehingga dia hanya bisa pasrah ketika bibirnya di kulum dan payudarahnya di gerayangi oleh Chakra, membuat puttingnya terasa mengeras karena mulai terangsang kembali.

Ciuman Reza turun kelehernya, lalu kepuncak payudarahnya. Reza menarik puttus branya, dan membuangnya.

Kini kedua payudaranya dengan bebas di jelajahi Chakra dengan lidanya, memainkan puttingnya dan sesekali menghisapnya. Sementara Irma hanya mendesah panjang, dia sangat menikmati cara Chakra merangsang dirinya, apa lagi ketika payudarahnya di remas kuat.

“Uuuhhkk… Chakraaa! Aaahkk… tetek Umi kamu apain?”

“Teteknya aku kulumin Umi, puttingnya aku hisap-hisap terus teteknya aku remas kuat-kuat.” Jawab Reza sembari menikmati sepasang payudarah Irma.

“Aampuuun Chakra, jangan perkosa Umi.” Erang Irma.

Lalu ciuman Chakra berpindah keperutnya dan kemudian dia membuka kedua kaki Irma dan mulai menjilati paha mulus Irma, sementara tangannya masih meremas-remas payudara Irma.

Otomatis apa yang di lakukan Chakra membuat Irma sangat terangsang, dan dengan perlahan kesadarannya mulai hilang dan di ambil alih oleh birahi nafsunya, bahkan dia tak segan menjambak rambut Chakra agar mau menjilati memeknya, tapi Chakra sengaja mempermainkan nafsu birahi Irma.

“CHAKRAAAA! AAAAHKKKK…. AYOOO JILATI MEMEK UMI, BUKANNYA TADI KAMU YANG MAU.” Erang Irma dia sudah benar-benar tidak tahan lagi.

“Hehehe… jadi Umi mau aku jilatin memeknya?” Tanya Chakra sambil mengangkat kepalanya.

“Tidaak… aah… iyaaa… aku mohon!” Pinta Irma.

“Dengan senang hati Umi, tapi aku gak tau gimana caranya ngejilat memek. Apa Umi mau ngajarin aku cara ngejilat memek Umi? dan satu lagi, mulai sekarang panggil aku dengan panggilan Tuan.” Tanya Chakra menggoda Irma yang sudah di ambang batas kesadarannya.

“Iya, nanti Umi ajarkan Tuan.” Jawab Irma.

Kemudian Chakra menarik lepas g-string yang di kenakan Irma, lalu dia mendekatkan wajahnya, mengendus-endus seperti anjing, menikmati aroma vagina Irma yang sangat menyengat, lalu dengan perlahan dari ujung lidanya ia menjilati bibir vagina Irma.

“Iya Tuan begitu, aaawww…. kamu cari clitoris Umi sayang, yang bentuknya kayak kacang diantara lipatan bagian atas.” Ujar Irma mengarahkan Chakra apa yang harus ia lakukan kepadanya.

Chakra mengikuti arahan Ustadzanya, walaupun sebenarnya ia tau apa yang harus ia lakukan, tapi Chakra memilih untuk melanjutkan permainannya.

Setelah mendapatkan clitorisnya, Chakra mengisap, menyedot clitoris Irma yang sebesar biji kacang, sementara tangannya mencengkram erat kedua paha bagian dalam milik Irma.

Irma merintih semakin kencang, dia sangat menikmati ketika clitorinya di hisap cukup kuat, walaupun ia sedikit kesakitan, tapi rasa perih itu malah mengantarkannya ke orgasme pertamanya, dia mengerang hebat, kedua kaki mengejang-ejang tak terkontrol, kemudian dari sela lipatan bibir vaginanya, nampak cairan bening muncrat kemana-mana sanking banyaknya.

“AAAANJIIIIINGGG….!”

 

——————

Nasib Lathifa tak jauh beda dengan Irma, bahkan ia di keroyok empat orang sekaligus.

Saat ini ia sedang tiduran diatas tubuh satpam sekolahnya Pak Rozak sambil menggoyang pinggulnya menyambut setiap sodokan penis Pak Rozak, sementara mulutnya sibuk mengulum penis Reza dan kedua tangannya mengocok penis Dewa dan Budi.

Ini untuk kali kedua bagi dirinya melayani empat orang sekaligus, sehingga ia tidak begitu kaget, walaupun harus di akuinya melayani empat orang sekaligus tidaklah muda, apa lagi keempatnya memiliki nafsu yang sangat besar sekali.

“Oooo… aku mau keluar!” Erang Rozak.

Tak lama kemudian Lathifa merasakan ribuan sel sperma memenuhi rahimnya.

Tubuhnya yang lemah tak berdaya hanya bisa pasrah ketika Dewa memintanya menungging, dan dari belakang vaginanya kembali di jejalkan benda tumpul nan keras mengaduk-aduk liang senggamanya.

“Gilaaa… ini memek enak banget, masih sempit lagi.” Ceracau Dewa sambil mencengkram erat bongkagan pantat Lathifa.

Reza kembali menyodorkan penisnya, Lathifa sudah tau apa yang harus ia lakukan, gadis muda itu segera mengulum penis Reza. Baru beberapa kali isapan, tiba-tiba Reza menembakan spermanya kedalam mulutnya, dan dengan penuh kesadaran Lathifa menelan sperma Reza.

Kini giliran Budi yang mendekat, dia mengarahkan penisnya di hadapan wajah Lathifa sambil mengocok penisnya dan tak lama kemudian Budi menumpahkan spernanya di wajah cantik Lathifa.

Dewa menarik tubuh Lathifa, dia menelentangkan tubuh Lathifa, kemudian dia kembali memompa vagina Lathifa dengan gaya konvensional.

“Aku mauuuuu keluar lagi Pak.” Erang Lathifa.

“Kali ini kita bareng ya Neng.” Ujar Dewa semakin cepat mengocok penisnya di dalam vagina Lathifa, lalu semenit kemudian ia mendesah panjang sambil membenamkan benihnya kedalam rahim Lathifa.

Dewa segera mencabut penisnya dan duduk santai di lantai sambil mengatur nafasnya yang berat.

Sementara Lathifa memanfaatkan waktunya untuk beristirahat sebelum masuk ronde kedua, dia memandang keempat pejantannya, lalu lirikannya berpindah kearah pintu kamar yang di dalamnya terdapat Irma dan kekasihnya Chakra.

Kreaaaak…

Pintu kamar terbuka, dua sosok berlainan jenis keluar sambil berpelukan.

Irma melingkarkan kedua tangannya di leher Chakra, sementara kedua kakinya melingkar di pinggangnya sembari di setubuhi. Dia mengerang nikmat setiap kali penis Chakra menusuk vaginanya dari bawah, dan rangsangan itu semakin bertambah ketika murid kesayangannya dan Reza dkk sedang memandangnya dengan takjub.

“Gilaaaa… ini cewek nafsunya gede banget.” Ujar Rozak melihat semangat Irma yang seolah tidak perna padam menyambut sodokan kasar dari muridnya.

“Hahaha…. gimana Chakra? apa penilaianmu terhadap gurumu ini.” Sambung Reza sembari mendekati Reza yang sedang berdiri sambil menyodok-nyodok memek Irma dari bawah.

“Dia pelacur murahan! Lebih murahan dari muridnya Lathifa, iyakan sayang?” Bisik Chakra sambil menjilati daun telinganya Irma.

“Uugghkkk… AANJIIIIINGGG…. SAYA DAPEEEET LAGI TUAAANNNN….” Jawab Irma yang membuat semua orang tertawa kecuali Lathifa yang merasa miris melihat keadaan gurunya.

Chakra menurunkan tubuh Irma, kemudian ia duduk di sofa dan meminta Irma menduduki penisnya yang masih berdiri dengan kokohnya.

Tanpa ada bantahan, Irma segera merayap naik keatas pangkuan Chakra, kemudian dia mengarahkan penis muridnya untuk kembali menjelajahi liang senggamanya yang amat terasa gatal. Dengan perlahan penis itu kembali memasuki tubuhnya.

“Ayo guruku sayang, goyang yang lebih binal lagi, tunjukan kepada mereka kalau kamu seorang pelacur murahan yang lebih memilih di entot oleh kontol besar kami di bandingkan kontol Suamimu yang gak ada artinya itu, yang gak perna bisa memuaskan memek kamu.” Terang Chakra panjang lebar sambil mencengkram erat kedua pipi pantat Irma.

“Aauuww….” Rintih Irma menikmati persenggamahan terlarangnya dengan muridnya sendiri.

“Mari kita berbagi dengan yang lain.” Bisik Chakra sambil membuka lebar kedua pipi pantat Irma hingga anusnya terlihat jelas dari arah belakang.

Reza diam-diam mendekat dan kemudian dia mengarahkan penisnya kedepan lobang dubur Irma yang tampak sangat menggodanya, sudah lama sekali ia ingin memperawani dubur Irma tapi kesempatan itu baru hadir malam ini, ketika Irma dalam keadaan setenga sadar.

Dia menoleh kebelakang, melihat Reza yang hendak memperawani anusnya membuatnya Irma agak panik, tapi beruntung Chakra berhasil menenangkannya.

“Jangan takut Umi, percaya sama saya, Umi pasti menyukainya di saat kedua lobang berharga Umi di jejali dua kontol besar sekaligus. Lathifa kemarin juga tidak mau, tapi lihatlah dia sekarang sangat ketagihan.” Jelas Chakra kepada Irma.

Irma mengalihkan pandangannya kearah Lathifa yang sedang di garap depan belakang oleh Pak Rozak dan Budi, sementara Dewa menerima service mulutnya.

Dia merasakan dekapan di pinggangnya terasa semakin erat, membuatnya sulit bergerak, dan kemudian Reza dari belakang mulai mendorong penisnya, memaksa dubur Irma membuka lebih lebar.

“Sakiiiiiittt… please aku mohon pelan-pelan Mas.” Pinta Irma, dia merasa sangat tersiksa.

“Hahaha…. kamu pasti akan menyukainya.” Jawab Reza, sembari menekan pinggulnya hingga akhirnya ia berhasil memperawani anus Irma.

“Ooohhh…. aaahkk…. aaahkkk….”

“Memek sama pantat gak ada bedanya, kalian juga nanti harus coba pantatnya.” Ujar Reza memprovokasi teman-temannya yang lain.

Dengan gerakan yang hampir sama mereka berdua menyodok, menusuk kedua lobang berharga milik Irma, membuat Irma mengerang kesakitan sekaligus keenakan karena kedua lobangnya di garuk-garuk oleh penis dengan ukuran yang cukup besar.

Lama-kelamaan Irma mulai terbiasa menerima sodokan di anusnya, bahkan dia sangat menikmati dirinya di apit oleh dua orang pria sekaligus.

Kemudian Budi mendekati mereka dan menyodorkan penisnya kearah Irma.

“Ini dari pantatnya Lathifa, murid kesayangan anda.” Ujar Budi sambil menampar-namparkan penisnya kewajah Irma yang tampak kaget.

“Ayo dong Umi di coba dulu.” Bujuk Chakra.

“Aaa…. jangaan, aku gak mauuu Tuan, itu jorooook!” Erang Irma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tapi apa daya dengan sedikit paksaan, Irma membuka mulutnya, menyambut penis Budi yang sebelumnya di gunakan untuk mengobok-obok dubur murid kesayangannya.

Dan ternyata rasanya tidak seberuk yang di pikirkan Irma, bahkan sepertinya ia cukup menyukainya, terbukti ia tak lagi berusaha menghindar, dan lebi memilih untuk menikmati penis Budi yang terasa asin tapi sensasinya luar biasa, apa lagi saat ini ia sedang di setubuhi oleh dua orang pria yang sangat ia kenal.

Tak lama kemudian, Budi memuntahkan lahar panasnya kedalam mulut Irma, lalu di susul Reza yang menyiram duburnya dengan sperma.

 

————–

Semakin malam pesta seks semakin memanas, sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak mereka berdua menelan sperma, menampung sperma mereka di dalam rahim maupun anus mereka.

Kini Irma juga tak lagi jaim, ia sangat menikmati ketika tubuhnya di jadikan obyek nafsu kelima pejantannya. Bahkan Irma mengambil inisiatif sendiri memanggil mereka berlima dengan panggilan Tuan, karena ia merasa semakin dirinya di hina ia semakin sangat terangsang.

Begitu juga dengan Lathifa, dia semakin liar bahkan terkesan menuntut untuk selalu di puaskan.

Saat ini Irma sedang menungging sambil di sodomi Dewa, sementara lidahnya sedang menjilati anus dan vagina Lathifa yang sedang mengulum penis Rozak. Sementara Reza, Chakra, dan Budi sedang menonton mereka berempat sembari beristirahat.

 

——————-

Jam dinding di ruang tamu itu menunjukan pukul 3 pagi ketika pesta seks itu selesai, Irma dan Lathifa terkapar tak bertenaga saking lelahnya, bahkan keduanya bisa saja pingsan keenakan kalau pesta seks ini di teruskan oleh mereka. Sementara Reza dan kawan-kawan tampak begitu puas malam ini.

Reza berdiri dengan sisa tenaganya, kemudian ia masuk kedalam kamar, dan tak lama kemudian Reza keluar dan menghampiri Lathifa.

“Ini kamu minum dulu pilnya.”

“Itu pil apa Ustad?” Tanya Lathifa ragu-ragu.

“Ini obat agar kamu gak hamil, kamu pasti gak mau hamilkan setelah rahim kamu menampung sperma kami berlima?” Jelas Reza sambil membelai wajah cantik murid kesayangannya.

“I… iya Ustad saya gak mau.”

“Ya udah kalau gitu kamu minum pil ini biar gak hamil.” Kata Reza sambil menyerahkan pil anti hamil tersebut kepada Lathifa.

“Untuk saya mana Mas?” Tanya Irma, dia juga berharap Reza mau memberikan juga obat anti hamil tersebut kepada dirinya.

“Kalau untuk kamu gak ada sayang.” Jawab Reza.

“Kok gitu Mas, nanti kalau aku hamil gimana Mas? Tolong Mas, aku juga mau.” Pinta Irma memelas.

“Umi gak perlu obat itu.” Timpal Chakra, ia mendekati Irma lalu memeluk tubuhnya. “Karena aku mau lonteku ini hamil bukan karena Suaminya tapi hamil dari pria lain.” Jelas Chakra, lalu dia mengecup pipi Irma.

“Ta… tapi!”

“Udah gak ada tapi-tapian, sekarang kalian berdua boleh pergi, nanti kami hubungi lagi kalau kami lagi butuh kalian berdua.” Potong Reza.

Irma hanya tertunduk lemas, kemudian ia mengenakan kembali pakaiannya, begitupun dengan Lathifa. Mereka berdua keluar beriringan dari rumah Reza, tanpa ada sepata katapun yang keluar dari bibir mereka.

Tapi jauh di dalam hati mereka, mereka berdua menangis meratapi nasib mereka kini.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo