loading...

Tapi sebenarnya ada perasaan bersalah dan takut kalau harus bertemu dengan Mas Jaka, aku merasa bersalah karena beberapa hari ini, terutama kejadian seminggu yang lalu saat aku menggerayangi tubuh Kak Nadia, kalau seandainya Mas Jaka tau, mungkin dia akan sangat membenciku, bahkan kemungkinan terburuk dia akan membunuhku.

Hufff¬Ö Aku menarik nafas dalam, saat tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di rumah.

“Assalamualaikum…!”

“Waalaikumsalam…” Kudengar jawaban Kak Nadia dari dalam rumah.

Aku memberanikan diri memasuki rumahku, bersiap menerima kemungkinan terburuk dari Mas Jaka, kalau seandainya Kak Nadia sampai menceritakan perbuatanku kepadanya di saat Mas Jaka tidak sedang berada di rumah.

Aku menghampiri Kak Nadia di ruang makan dan menyalaminya, ia diam tanpa ekspresi.

“Mas Jaka mana Kak?” Tanyaku agak ragu.

“Ada di dalam kamar Dit, oh iya… kamu beberapa malam ini kemana? Kok gak pulang kerumah?” Tanya Kak Nadia, kali ini ekspresi wajahnya beruba menjadi tampak khawatir kepadaku.

“Aku nginap di asrama Kak.” Jawabku.

Aku menarik kursi makan, lalu duduk tenang di sana dengan perasaan campur aduk, antara takut dan merasa bersalah yang amat besar kurasakan.

Kak Nadia menarik satu kursi di sampingku, lalu duduk sambil menatapku dalam. Aku memberanikan diri membalas memandangnya, dan astaga Kak Nadia sangat cantik sekali, apa lagi ketika ia sedang tersenyum, ia sangat mengagumkan.

“Kamu membuat Kakak khawatir beberapa hari ini.”

“Eh… ” Kupikir dia senang karena aku tidak ada di rumah. “Maaf Kak, soalnya aku merasa…” Psstt… ia menutup bibirku dengan jari telunjuknya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya memintaku untuk tidak meneruskan ucapanku.

“Jangan di bahas, di rumah ada Masmu.”

“Maafin aku Kak.” Kataku sembari kembali menunduk.

“Ya sudah kamu makan dulu, kamu pati laperkan? Apa lagi kamu sudah lama gak makan masakan Kakak, ini Kakak sengaja memasak makanan kesukaan kamu, ayo makan dulu.” Katanya penuh semangat, benar-benar di luar dugaanku.

Tanpa berkata lagi aku langsung melahap makanan yang di sajikan Kakak iparku, dan harus kuakui masakannya memang tidak ada duanya, sangat lezat sekali, di bandingkan masakan yang lainnya.

Selesai makan aku segera kekamarku untuk berganti pakaian dan beristirahat.

Ping…

Hpku bergetar, kulihat ada bbm yang masuk, setelah kubaca ternyata bbm dari Clara. Ya… gara-gara kejadian kemarin, hubunganku dengan Clara semakin akrab.

Clara : Lgi apa?

Aku : Lagi tidur-tiduran aja, kamu lagi apa Ra?

Clara : Sama ni, btw bsok malam kmu ada acara gak?

Aku : Gak ada knapa?

Clara : Ktemuan yuk, di villa kmrin

Aku : Serius?

Clara : Iya aku serius

Aku : Boleh, dengan senang hati ūüôā

Aaaaarrr…. sumpah demi apapun, aku gak nyangka kalau Clara mengajakku keluar bareng, pasti sangat menyenangkan bisa menghabiskan malam minggu bersama di villa, sambil memandangi danau.

Ternyata benar apa kata orang, di balik kesusahan pasti ada kesenangan.

Aku kembali mengirim pesan kepadanya, hanya sekejar mengobrol basa-basi, mengakrabkan diri dengannya, dan besok malam adalah momen yang tepat bagiku untuk menyatakan perasaanku kepadanya, rasanya sudah lama sekali aku tidak pacaran, sementara mantanku dulu sewaktu SMP sudah lama putus.

Tapi kira-kira nanti aku di terima gak ya? Ah… persyetan, yang penting di coba dulu, masalah keterima apa gaknya, itu urusan belakangan.

 

————-

Di tempat yang berbeda, seorang gadis berteriak girang di hadapan kedua sahabatnya yang tampak mayun. Dia baru saja berkirim pesan, dan malam besok dia berjanji akan bertemu di villa. Sebuah pertemuan yang akan menjadi penentu kemenangannya.

“Ingat ya janji kalian, kalau gue bisa jadi sama adiknya Ustad Jaka, kalian harus teraktir gue selama sebulan penuh… Hahaha… !” Dia tertawa puas.

“Jangan senang dulu, kan belom jadian.” Ujar Vera

“Iya ni Clara, pede banget si bakalan di tembak malam besok, kayak adiknya Ustad Jaka mau aja sama lu.” Kesal Yuli sambil memanyunkan bibirnya.

“Eeitts… kita liat aja tar malam.” Balas Clara sambil mengdipkan matanya.

“Ingat ya kalau lu sampe kalah, lu harus cium Mang Rozak… ingat itu.” Ujar Yuli sambil mencolek dagu clara dengan jari telunjuknya.

“Tenang gue pasti menang kok.”

“Yakin banget lu, jadi gak sabar nunggu besok.” Timpal Vera sambil senyum-senyum sendiri, padahal di dalam hatinya ia mulai was-was, takut kalau nanti Clara benar-benar memenangkan taruhan.

Sebulan yang lalu, mereka bertiga sepakat untuk taruhan, kalau seandainya Clara bisa dekat dan pacaran dengan adiknya Ustad Jaka, Raditya. Maka mereka akan mentraktir Clara sebulan penuh, tapi sebaliknya, kalau seandainya Clara gagal, maka ia harus mencium bibir Pak Rozak satpam di sekolah mereka.

Clara yang memang di kenal sebagai play girl tentu saja menerima tantangan kedua sahabatmya, apa lagi Raditya di kenal sebagai cowok yang dingin terhadap lawan jenis, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Clara yang sudah beberapa kali menaklukan santri lainnya.

 

——————-

Hari ini Nadia merasa sangat senang sekali, bukan… bukan karena Suaminya, Jaka pulang, melainkan karena Adik iparnya yang sekarang ada di rumah. Beberapa hari terakhir ia merasa sangat kesepian tatkala Adik iparnya yg tampan itu sedang tidak berada di rumah. Tapi sekarang ia sudah berkumpul kembali seperti saat ini.

Mereka baru saja menghabiskan makan malam bersama, dan sekarang mereka sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton sinetron.

Beberapa kali tanpa sepengetahuan Suaminya, Nadia mencuri pandang kearah Adik iparnya, dia benar-benar terpesona dengan kharisma Adik iparnya, yang tidak di miliki oleh Suaminya Jaka.

“Mas, aku mau ngomong sesuatu.” Ujar Raditya tiba-tiba, dia menghadap kearah Jaka.

“Mau ngomong apa? Kayaknya penting banget.”

“Eehmm… aku mau tinggal di asrama aja Mas.” Jelas Raditya agak ragu, dan permintaan Raditya cukup membuat Nadia kaget, dan mengalihkan fokusnya 100% ke arah Raditya.

Nadia tidak menyangkah kalau kejadian kemarin membuat Raditya benar-benar berfikir ingin meninggalkan rumahnya, dan memilih tinggal di asrama, tentu saja keputusan Raditya sangat memukul dirinya, karena ia saat ini benar-benar merasa nyaman di dekat Raditya ketika Suaminya sedang tidak ada.

“Loh… emangnya kenapa kamu mau tinggal di asrama, bukannya di sini kamu punya rumah.” Jelas Jaka, dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Adiknya.

“Cuman mau fokus belajar aja Mas, soalnyakan bentar lagi aku mau ujian.”

“Kamu kan bisa belajar di sini.” Ujar Jaka.

“Bedalah Mas, kalau di asramakan aku punya teman buat belajar bersama, apa lagi di asrama ada Ustad yang membimbing.” Jelas Raditya, dia sangat berharap Jaka mau mengizinkan ia tinggal di asrama.

Karena menurut Raditya, dengan tinggal di asrama ia bisa terhindar dari keselahan-kesalahan sebelumnya, dia tidak yakin bisa menahan diri kalau masi tinggal di rumah saudaranya, apa lagi Jaka sering tidak ada di rumah, dia takut apa yang tidak ia inginkan terjadi.

“Aku tidak setuju Mas.” Celetuk Nadia. “Maskan jarang di rumah, kalau Raditya tinggal di asrama, berarti aku tinggal sendirian di rumah, aku takut Mas.” Terang Nadia, tapi alasan yang sesungguhnya dia tidak ingin jauh dari Adik iparnya, tapi bukan berarti ia ingin mengkhianati Suaminya.

Bagaimanapun juga ia sangat mencintai Suaminya, tapi kehadiran Raditya membuat hidupnya lebi berwarna, dia merasa nyaman berada di dekat Adik iparnya.

“Benar apa kata Kakakmu Dit.” Bela Jaka.

Raditya menarik nafas dalam, bagaimanapun caranya ia harus meninggalkan rumah ini.

“Tapi Mas, aku benar-benar ingin tinggal di asrama, Kak Nadia bisa saja meminta salah satu muridnya untuk tinggal di rumah kita, untuk menemaninya.” Kata Raditya ngotot, membuat Nadia sangat kecewa.

“Ya sudah kalau itu maunya kamu, Mas ijinkan kamu tinggal di asrama.” Ujar Jaka mengalah, tapi apa yang di katakan Adiknya memang benar, kalau tinggal di asrama Raditya bisa lebi fokus belajar.

“Terimakasi ya Mas.” Kata Raditya girang.

Sementara itu Nadia merasa sangat kecewa dengan Adik iparnya, kenapa Raditya harus meninggalkan rumah hanya untuk menghindari dirinya, padahal ia sama sekali tidak mempermasalahkan kejadian beberapa hari yang lalu, karena ia sadar Raditya tidak salah, yang salah adalah dirinya.

Tanpa di sadari keduanya, mata Nadia berkaca-kaca, ia sangat marah, tapi tidak tau harus marah dengan siapa, karena tidak ada yang salah dengan keputusan Adik iparnya yang ingin tinggal di asrama.

“Aku kekamar dulu ya Mas.” Lalu tanpa menunggu jawaban Suaminya, Nadia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

Jaka yang tidak mengerti apapun, terlihat biasa saja, berbeda dengan Raditya, ia tampak sedih melihat Kakak iparnya yang marah karena keputusannya untuk meninggalkan rumah demi kebaikan bersama.

Maafin aku Kak, aku tidak ingin menyakitimu, karena aku menyayangimu, dan aku tidak ingin berada diantara kalian berdua walaupun aku sangat menginginkanmu, maafin aku karena membuatmu kecewa….

—-

Nadia tidak masuk kedalam kamarnya, melainkan ia berlari kekamar mandi, dia menutup dan mengunci kamar mandinya, dan tak lupa ia menghidupkan shower untuk meredam suara tangisannya.

Oh Tuhan… apa yang terjadi kepadaku, kenapa dadaku sesek banget denger dia mau meninggalkan rumah ini, aku tau ini salah, aku tau ini dosa besar, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, rasa ini hadir begitu saja, rasa ini tak dapat aku pungkuri lagi, kalau aku mencintainya, menyukai Adik dari Suamiku.

Aku mohon, jangan tinggalin aku Radit, aku mau melakukan apa saja, asal kamu tidak pergi dari sini, bahkan kalau memang harus, aku rela menyerahkan tubuhku ini untukmu, karena aku sangat-sangat menyukaimu, aku tidak ingin jauh darimu.

Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang

loading...
¬†Klik “‚Üí” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo