loading...

Tangan kanannya tidak perna berhenti mengocok penisnya, bergerak dengan teratur turun naik tanpa jedah sedetikpun sambil menonton video lesby yang ada di hpnya, apa lagi artis yang ada di dalam video itu adalah orang yang ia kenal.

Ashifa, sahabat pacarnya Lathifa dan lawan mainnya adalah seorang guru yang selama ini ia pikir adalah wanita alim, dan baik.

Pagi tadi tanpa di sengaja, ketika ia hendak ingin mengendap-endap ke asrama putri agar bisa bertemu dengan pacarnya, ia tidak sengaja mendengar suara yang aneh, karena penasaran ia memanjat tembok dan mengintip kearah sumber suara yang ia dengar.

Dan siapa yang menyangkah, ia melihat seorang Ustadza sedang bersetubuh dengan muridnya.

“Aku keluaaaaar Umii… ” Pekiknya tertahan.

 

————

Lama aku berdiri mematung didepan pintu kamar mandi, melihat, memandangi seorang wanita lengkap dengan kerudung segi empat berwarna hijau dan kemeja hijau, sedang duduk di atas closet tanpa mengenakan rok panjang yang biasa ia kenakan, dan celana dalam yang menyangkut diantara kedua betisnya.

Entah ini mimpi buruk, atau hari keberuntunganku karena akhir-akhir ini aku sering di suguhi pemandangan erotis dari Kakak Iparku.

Seeeerrrr…. Ssseeerr…. Seeeeerr….

Sambil memalingkan wajahnya dari tatapanku, ia menumpahkan semua yang ada di dalam kantung kemihnya kedalam kloset tanpa ia bisa tahan lagi di depan mataku.

Aku tidak boleh di sini dan melihatnya, tapi tubuhku telah mengkhinatiku, sekeras apapun hatiku menolak, tubuhku tetap berdiri mematung, mataku tetap terbuka lebar memandangi tubuh mulus Kak Nadia.

Selesai buang air kecil, ia buru-buru berdiri mengenakan celana dalamnya kembali, saat dia menarik celana dalamnya keatas, aku dapat melihat jelas belahan vagina Kak Nadia yang mulus tanpa ada rambut hitam yang menutupinya.

Kak Nadia segera mengenakan kembali rok panjangnya, dan bergegas melewatiku tanpa sepata kata apapun.

Siaaal…! Kak Nadia kali ini ia pasti sangat marah kepadaku, karena kecerobohanku, lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin, bedanya kalau kemarin aku melihat ia sedang mandi dan memergokinya sedang bermasturbasi, dan pagi ini aku melihat ia sedang buang air kecil.

Aku bergegas menyusulnya kekamar, aku harus minta maaf sekarang, kalau tidak ingin hubunganku dengan Kak Nadia semakin buruk.

Tok… tok… tok…

Aku mengetuk pintu kamarnya dengan perasaan tidak menentu, ada rasa cemas kalau nanti ia akan membentak dan memarahiku.

“Eeh… kamu belom mandi.” Kepalanya keluar dari balik daun pintu kamarnya.

“Hehehe… belom Kak.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Kenapa?” Dia meringis menatapku dalam.

“Aku mau minta maaf Kak.” Kataku memberanikan diri mengakui kesalahanku beberapa hari ini, ketika saudaraku sedang tidak ada di rumah.

“Ya udah masuk aja dulu.”

Dia membuka lebar kamarnya, aku segera masuk kedalam kamarnya, lalu duduk di kursi kerja tempat biasa saudara kandungku duduk. Sementara Kak Nadia duduk si tepian tempat tidurnya.

“Mau ngomong apa tadi?” Tanyanya.

Aku menarik nafas dalam, menghilangkan rasa gugup yang aku rasakan saat ini.

“Soal barusan, aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar kepada Kakak. Tadi itu benar-benar tidak sengaja. Tapi aku janji Kak, kejadian hari ini tidak akan terulang lagi.”

“Kalau masalah itu gak perlu di bahas ya Dek, jujur Kakak malu kalau ngebahas masalah itu.” Ujarnya sembari menunduk.

Aku tau perasaan Kak Nadia, sebagai seorang wanita dan Istri yang baik, tentu saja suatu musibah yang besar bagi dirinya di lihat oleh orang lain yang bukan muhrimnya dalam keadaan telanjang. Apa lagi tadi dia dalam kondisi yang sangat memalukan.

Sebenarnya aku ragu melakukan ini, tapi aku coba untuk memberanikan diri.

Aku beranjak dari kursiku, lalu duduk di sampingnya. Dengan perlahan aku meraih tangannya, menggenggamnya dengan perlahan, awalnya ia tampak kaget, tapi setelah mata kami berdua beradu ia mengurungkan niatnya melepas genggamanku.

“Soal tadi, ataupun kemarin aku benar-benar minta maaf.” Kataku sambil meletakan tangannya diatas pahaku. “Aku mengerti perasaan Kakak, tapi jujur Kak, Kakak memang wanita yang sempurna, aku tau kalau ini salah, tapi aku menyukaimu Kak.” Deg… aku tidak menyangkah kalau aku akan mengatakan kalimat ini kepadanya.

Wajahnya memerah, lalu ia hendak menarik tangannya tapi aku menahannya agar tidak terlepas.

“Jangan sembarangan bicara Dit.”

“Aku tau Kak, memang ini sudah gila, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, setiap kali di dekat Kakak aku merasa sangat nyaman, dan waktu aku melihat Kakak menangis, dadaku terasa sesak.” Jelasku, aku semakin mendekatkan diriku.

Ia menatap mataku, kulihat butiran air matanya mengalir dari kelopak matanya yang indah. Segera dengan jemari kiriku, aku menghapus air matanya, aku tidak ingin melihat ia menangis seperti kemarin karena aku menyukainya, walaupun aku sendiri tidak tau apakah rasa suka ini hanya sebatas mengagumi, atau karena aku memang mencintai Kakak iparku.

Perlahan tanpa di komando, wajah kami semakin dekat, hanya tinggal satu centi lagi bibir kami bertemu.

Kurangkul lehernya, denga sedikit memiringkan kepalaku aku mengecup.lembut bibirnya. Hanya sebuah kecupan lembut, dan perlahan berganti dengan lumatan.

Tubuh kami semakin merapat, dan perlahan tanpa sadar kami berpelukan, aku dapat merasakan dadanya yang menempel di dadaku, terasa empuk dan nyaman, membuatku semakin erat memelukku.

“Eehnmpp… ”

Aku menjulurkan lidahku kedalam mulutnya, lalu ia membalasnya dengan membelit lidahku, sehingga beberapa kali aku menelan air liurnya, sementara tangan kiriku turun membelai punggungnya, dan tangan kananku bergerak menuju kedepan dadanya, meremasnya pelan penuh perasaan.

Kak Nadia mendorongku, sehingga aku tiduran sementara ia menindiku, sambil berciuman kami berpelukan saling merabah satu sama lain.

“Astagaaa…!” Aku terkejut ketika ia melepas pagutannya. “A… apa yang kita lakukan, kita tidak boleh melakukannya Radit, ingat ini dosa besar.” Dia buru-buru hendak pergi meninggalkanku.

“Kak… ” Aku menarik tangannya. “Maaf Kak!” Dia tidak mengubris panggilanku, dengan sedikit hentakan dia melepas tanganku dan pergi meninggalkanku

Siaaal… sial… sial… Apa yang terjadi denganku, kenapa aku bisa berbuat sebodoh ini, seharusnya aku memperbaiki hubungan kami, bukan malah semakin memperburuk keadaan.

Sekaang apa yang kulakukan? Mungkin kali ini dia akan mengadukan perbuatanku kepada Mas Jaka.

 

————-

Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangis, mengutuk dirinya sendiri yang semakin lama semakin tidak bisa mengontrol dirinya, yang semakin terbuai oleh nafsunya sendiri.

Bayangan adik iparnya seakan tak perna mau pergi, bahkan beberapa saat sebelumnya, ia masi sempat bermasturbasi, mengingat dan membayangkan kelajutan yang ia lakukan tadi pagi bersama Adik iparmya, sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Perlahan tangan kanannya kembali turun membelai bibir vaginanya, bayangan Raditya kembali menghantuinya, membuat dirinya tidak tenang.

“Eeehnggk… Radit, Aaahkk…!” Ia merintih perlahan.

Ia membayangkan saat ini Adik iparnya sedang menindih dirinya, menusukan terpedonya kedalam vaginanya, keluar masuk seiring dengan jarinya yang bergerak cepat keluar masuk mengikuti khayalannya.

Dia mendesah semakin keras, walaupun ia sudah berusaha setengah mati untuk melupakan bayangan Adik iparnya dan menggantikannya dengan Suaminya, tapi tetap saja ia tidak mampu, bayangan Adik iparnya terlalu dominan akhir-akhirnya.

Tubuh Nadia menggeliat, ia sudah tidak tahan lagi, menumpahkan perasaannya.

“Radiiiiittt… ” Ia memekik seiring cairan cintanya yang keluar cukup banyak. Perlahan ia memejamkan matanya, kembali mengingat dosa yang ia lakukan hari ini.

 

————-

Waktu jam pulang sudah lama berlalu, tapi aku memutuskan untuk tidak segera pulang, aku takut kalau nanti bertemu dengan Kakak Iparku, apa yang harus kukatakan nanti, bisa jadi kalau ia melihatku, ia akan mengusirku, dan hubunganku dengannya akan semakin memburuk lagi.

Kuputuskan untuk main ke villa belakang, yang terletak di pinggiran sungai.

Aku duduk santai sambil menikmati angin yang menerpa wajahku, udara di sini memang sangat segar di bandingkan di kota tempat asalku, udaranya sudah tercemar oleh polusi.

“Radit.”

Aku menoleh kebelakang. “Loh… kok ada di sini Ra?” Tanyaku bingung, karena tiba-tiba saja ia sudah ada di belakangku.

“Lagi bosen di asrama, jadinya keliling aja.”

“Eehmm… tapi inikan wilayah cowok, nanti kalau ketahuan di sini, kamu bisa di hukum loh.” Jelasku, mengingatkan ia tentang peraturan dan batas-batasan wilayah sekolahku.

“Hahaha… itukan kalau ketahuan.” Ledeknya… “Emang kamu mau ngaduin aku ke bagian keamanan?” Katanya, sembari tersenyum.

Aku menggelengkan kepalaku, lalu kembali membuang wajahku kearah danau, menatap indahnya danau seindah wajahnya Clara, wanita pertama yang ku sukai saat pertama kali menginjakan kakiku di sini. Seseorang yang selalu membuatku tidak bisa memejamkan mataku.

Dia berdiri di sampingku, kulihat dia juga tampak menikmati pemandangan indah yang ada di hadapan kami saat ini.

“Bagus ya.” Gumamku pelan.

“Eheem… Aku sering main kesini kalau lagi merasa jenuh, soalnya aku suka pemandangannya.”

“Yup, aku juga menyukainya.”

Lalu kami saling melempar senyum, dan lagi-lagi aku terpesona dengan kecantikannya yang mendekati sempurna, bibir tipisnya tampak bergumam tapi aku tak dapat mendengarnya dengan cukup jelas, hingga akhirnya kami mendengar suara orang yang memanggil kami berdua.

Semakin lama suara itu terasa semakin dekat, dan saat kami memalingkan wajah, aku melihat Pak Rojak, satpam sekolahku sedang berjalan kearah kami.

“Gawat… ayo kabur.” Pekiknya, lalu ia menarik tanganku untuk segera menjauh.

“Eeh… ”

Aku hanya mengikuti setiap langkahnya untuk segera menjauh dari villa tempat kami bersantai, sementara Pak Rojak yang melihat berlarian, mencoba mengejar dan berteriak memanggil kami, meminta kami untuk segera berhenti berlari.

Karena jarak antara kami dan Pak Rojak yang terlalu jauh, membuat Pak Rojak dengan mudanya kehilangan jejak kami berdua.

Aku tidak dapat membayangkan kalau seandainya saja Pak Rajak berhasil menangkap kami berdua, bisa-bisa kami akan dikenakan pelanggaran berat, karena berdua-duaan di tempat.sepi.

Hosss… hoss… hoss… Ternyata larinya Clara cukup cepat, sehingga aku nyaris tak bisa mengejarnya. Kami kembali berpandangan, dan kemudian tawa kami berduapun meledak.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo