loading...

Selesai mandi, Erlina segera mengeringkan tubuh putranya dengan handuk.

“Umi aku ganti baju sendiri ya?” Pinta Aldi.

“Eehmm… kenapa?” Erlina merinyitkan dahinya, mendengar permintaan Putranya.

“Aldi kan uda besar Umi, masak sudah SMP Aldi masi di mandiin, di gantiin baju, kan malu Umi… ” Jelas Aldi, Erlina seperti tidak perduli.

Dia melepas handuk putranya, lalu mengambil seragam putranya di dalam lemari.

Sebenarnya Erlina mengerti saat ini Aldi bukan lagi anak-anak ia sudah tumbuh menjadi anak remaja, terbukti akhir-akhir ini setiap kali memandikan anaknya, burung kecil anaknya selalu berdiri, dan kedua bola mata anaknya selalu menatap dirinya dengan tatapan nanar, seolah ingin menerkam dirinya.

Tapi entah kenapa ia tidak ingin mengakui kalau anaknya suda remaja, baginya Aldi tetaplah Aldi yang dulu, dia masi anak-anak, sehingga ia tidak perlu membatasi diri ketika bersama putranya.

“Siapa bilang kamu sudah besar sayang?”

“Aldi sudah kelas 1 SMP Umi.” Jawab Aldi yakin.

“Walaupun kamu sudah SMP, tapi kamu masih tetap anak-anak sayang, buktinya titit kamu ini, masih kecil sama seperti dulu, belum ada rambutnya juga seperti punya Umi atau punya Kakak kamu.” Jelas Erlina sambil mengamati dan memegang burung putranya yang berukuran jari telunjuk.

“Tapi Umi… ”

“Udah gak tapi-tapian, angkat kaki sayang.” Aldi menurut, ia mengkat kakiknya ketika Ibunya ingin mengenakan celana dalamnya.

Selesai mengganti pakaian, Erlina mengambil handuk besar yang ia bawa tadi dan mengenakan handuknya, melilitkan ketubuhnya. Sementara Aldi hanya diam sambil memandangi Ibu kandungnya.

“Umi mandi dulu ya sayang, cup.. cup… cup…” Erlina mencium sekujur wajah putranya, lalu ia keluar dari kamar putranya.

 

———————

“Buruan Shifa, nanti kita telat lagi…!” Teriak Ria saat melihat sahabatnya yang masi sibuk mandi, dan belum ada tanda-tanda kalau ia akan segera selesai.

“Ayo dong Shifa, yang lain udah selesai semua.” Timpal Lathifa yang juga merasa khawatir.

“Kalian duluan aja!”

“Lo mau di hukum lagj ?” Kesal Lathifa.

“Ya gaklah, kaliankan tau kalau gue sama Umi Andini itu deket, jadi kalian gak perlu khawatirin gue, udah sana kalian duluan aja.” Terang Asyfa mengusir kedua sahabatnya.

“Udalah yuk, kita duluan.” Ajak Ria sambil mengamit tangan sahabatnya Lathifa.

“Yuk… ”

“Da… ” Ashifa melambaikan tangannya, lalu kembali mengguyur tubuhnya dengan air.

Tak lama kemudian, ketika suasana benar-benar sepi, seorang wanita masuk kedalam pemandian umum, ia tersenyum melihat seorang gadis yang sedang berdiri sambil menyiram tubuhnya. Ia berjalan santai dengan kedua tangan ia lipat didadanya.

“Ck… ck… ck… lagi-lagi kamu.” Tegur wanita tersebut.

“Eh… Umi, bentar lagi ya Umi.” Pinta Ashifa cuek sambil tetap mengguyur tubuhnya dengan air.

“Udah mandinya, nanti kamu terlambat kesekolah loh, atau mau Umi hukum?” Katanya mengancam, tapi terdengar seperti bukan ancaman.

“Bentar lagi Umi.”

“Eehmmm uda berani ngebantah ya sekarang.” Ujar Andini sambil nendekari muridnya yang pura-pura cuek sambil menyiram tubuhnya dengan air.

Ashifa cemberut, tapi dia menurut ketika Andini menariknya dan membawanya keruang ganti.

Andini segera mengunci pintu kamar ganti, lalu ketika ia berbalik, Ashifa sudah berdiri telanjang bulat, menampakan payudarahnya yang ranum dan lipatan bibir vaginanya yang tampak begitu menggoda.

Tanpa banyak bicara, Andini langsung memeluk tubuh muridnya, ia memanggut bibir Ashifa, sementara kedua tangannya meremas gemas bongkahan pantat Ashifa.Sementara Ashifa sendiri juga tidak mau diam, dia membalas memanggut bibir gurunya, sambil mempreteli jubah gurunya dan menjatuhkannya kelantai.

Andini melepas pagutannya, sembari tersenyum ia menatap dalam-dalam mata muridnya. “Kamu nakal sekali sayang.” Gumam Andini nyaris tidak terdengar.

Kemudian Andini melepas bra, hingga payudaranya menggantung bebas, menyisakan celana dalamnya yang terikat oleh dildo besar di depan celana dalamnya, bersiap untuk menghukum muridnya.

“Kita tidak punya waktu banyak Umi.”

“Iya sayang, Umi mengerti.” Bisik Andini, lalu ia mengangkat satu kaki Ashifa, sementara tangan satunya mengarahkan dildo tersebut kecela-cela bibir vagina muridnya, lalu dengan perlahan dildo itu melesat masuk kedalam vagina Ashifa.

“Aaaahkk…!”

“Mengeranglah sayang, Umi senang melihat kamu menikmati setiap tusukan yang Umi berikan.” Ujar Andini, kemudian ia mengulum payudarah Ashifa.

Ashifa melingkarkan kedua tangannya di leher Andini, sambil mengerang ia ikut menggoyangkan pinggulnya, menyambut dildo besar milik Andini yang sedang menghujami vaginanya.

Kemudian Andini meminta muridnya untuk membelakanginya, menghadap tembok, dan tanpa protes sedikitpun Ashifa mengikuti keinginan gurunya, dia sedikit menunggingkan pantatnya yang bulat, lalu dari belakang Andini kembali menghujani vagina muridnya dari belakang. Tanpa di sadari Andini, Ashifa mencapai klimaksnya untuk kedua kalinya.

“Aaahkk… Umi, Aaahkk… aahkk… !”

“Kamu sukakan sayang, memek kamu Umi sodok seperti ini, tetek kamu Umi peres-peres.” Bisik Andini di telinga muridnya yang sedang mengerang nikmat.

“Eehmm… Ashifa mau di hukum setiap hari kalau kayak gini cara menghukumnya.”

“Dasaar anak nakal.” Ujar Andini.

Tak lama kemudian tubuh Ashifa kembali bergetar, kedua kaki Ashifa tak lagi bisa menopang tubuhnya, sehingga ketika orgasme itu datang, tubuh Ashifa melorot mau jatuh kelantai, tapi Andini dengan cepat menahan tubuh murid kesayangannya.

Plopp…

Dengan perlahan Andini mencabut penis mainannya dari dalam vagina Ashifa.

“Terimakasi ya sayang.”

“Iya sama-sama Umi, cup… ” Ashifa mengecup pipi Andini.

“Ya udah kamu keluar duluan ya, nanti Umi nyusul, kalau kita barengan nanti ada yg melihat.” Jelas Andini sambil menyerahkan kain dan kerudung muridnya.

Ashifa segera melilitkan kainnya, lalu memasang kerudungnya. “Umi, aku duluan ya.” pamit Ashifa.

‘Iya sayang, hati-hati.” Jawab Andini.

Andini tersenyum melepas kepergian muridnya, lalu setelah muridnya menghilang dari pandangannya, ia melepas ikat pinggang dildonya berikut dengan celana dalamnya. Perlahan ia memasukan benda tumpul itu kedalam liang vaginanya.

Perlahan ia memompa vaginanya, menikmati setiap gesekan dildo tersebut dengan dinding rahimnya. “Aaaa… Eeehmm… Shifaa… Aaaa… ” Ia mengerang, menikmati masturbasinya.

Dan tanpa ia sadari, sedari tadi sepasang mata sedang mengamatinya, dia merekam adegan panas antara seorang guru dan murid di dalam ruang ganti melalui kamera hpnya. Pria itu tersenyum, lalu ia menyimpan kembali hpnya kedalam saku celananya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo