loading...

“Kenapa Mas ?” Katanya lirih.

“Karena kamu wanita hebat, kamu bisa melayani 4 orang sekaligus, kamu sangat luar biasa, pelacur sekalipun tidak akan sanggup melayani 4 orang sekaligus, tapi kamu bisa melakukannya dengan baik.” Jelas Reza dengan nada yang tampak begitu bangga.

“Ini semua gara-gara kamu.” Umpat Irma, entah dia harus marah atau senang dengan perubahan yang terjadi kepada dirinya.

“Tapi kamu menyukainyakan ?” Goda Reza, tangan kirinya turun membelai paha mulus Irma, lalu menuju keselangkangan Irma. Ia membelai pelan bibir vagina Irma, membuat wanita baik-baik itu menggigit bibirnya menahan rasa geli yang amat sangat.

“Cukup Mas.” Rintih Irma.

“Oke… oke… kamu pasti capek.” Reza menghentikan aksinya, lalu ia berdiri dan mengenakan kembali pakaiannya. “Malam ini cukup sampai di sini, tapi lain kali, aku akan meminta lebih. Ingat jangan coba-coba lari, kecuali kamu mau video ini sampai ketangan Suami kamu.” Sambung Reza sembari tersenyum licik.

“Bajingan kamu Mas.” Umpat Irma.

Tapi Reza tidak memperdulikannya, setelah mengenakan pakaiannya, ia berjalan gontai meninggalkan Irma sendirian di dalam kamarnya sambil menangis.

 

————-

Nadia sangat terkejut, ketika sadar seseorang pria ada di dekatnya, parahnya lagi ia tertidur di dalam pelukan pria tersebut. Dengan perlahan ia melepas pelukannya, tapi tak ada reaksi dari pemuda tersebut.

Ternyata Raditya juga tertidur sambil memeluknya raut wajahnya yang tampan mengisyaratkan kelelahan.

Dengan sangat hati-hati dia mengembalikan lengan Raditya dari pundaknya kesamping tubuh Raditya, tapi ternyata gerakan tersebut malah membuat Raditya terbangun dari tidurnya.

“Eh… maaf Kak.” Ujar Raditya buru-buru menyingkir dari samping Kakak iparnya.

“Gak apa-apa kok Dit, seharusnya Kakak yang minta maaf karena tadi sempat memelukmu.” Kata Nadia bersemu malu mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

“Eh… iya!” Jawab Raditya.

Lalu suasana mendadak hening, mereka hanya saling menatap malu, ada keinginan untuk saling menghangatkan, memeluk dan di peluk, tapi batasan-batasan yang mereka yakini membuat mereka bertahan di posisi mereka masing-masing.

Tiba-tiba saja tangannya Nadia di genggam Raditya, membuat Nadia menjadi salah tingkah.

“Kakak kenapa nangis?” Tanya Raditya.

“Eehmm… gak apa-apa kok Dit, Kakak cuman lagi ada sedikit masalah.” Jawab Nadia, sambil hendak berusaha menarik tangannya, tapi Raditya malah mengenggamnya semakin erat.

“Masalah apa Kak? Siapa tau aku bisa bantu, setidaknya bisa meringankan beban Kakak.” Ujar Raditya, ia menggeser posisi duduknya sehingga tubuh mereka kembali berdekatan.

“Gak apa-apa kok Dek, beneran.”

“Kak… ”

“Ini masalah Masmu Dek.” Jawab Nadia yang akhirnya menyerah.

“Kenapa dengan Mas Jaka Kak ?” Tanya Raditya semakin penasaran.

“Kamu taukan kalau sampai saat ini Kakak belum juga hamil, dan semua orang menyalahkan Kakak, termasuk Mama kamu. Tapi yang sebenarnya patut di salahkan adalah Masmu, karena dia tidak mampu menghamili Kakak, tapi kenapa Kakak yang harus menanggung semuanya.” Jelas Nadia, dia kembali terisak membuat Raditya kasihan kepadanya.

Raditya tau betul apa yang di rasakan Kak Nadia, kebanyakan orang bertanya dan menyalahkan Kak Nadia karena belum memilik keturunan, termasuk dirinya yang mengira Kakak Iparnya mandul.

Raditya sedikit merasa bersalah karena dulu ia juga perna memojokkannya.

Tanpa sadar Raditya kembali memeluk Kakak iparnya sebagai bentuk perhatiannya terhadap masalah yang di alami Nadia, tapi Nadia salah mengartikan pelukan Raditya, ia merasa Raditya menyukainya, karena pelukan yang di lakukan Raditya terasa hangat dan nyaman, sangat berbeda ketika Suaminya yang memeluk dirinya.

Maafkan aku Mas, tapi saat ini aku sangat membutuhkan sandaran.

Nadia dengan sadar membalas memeluk pinggang Raditya, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Adik iparnya.

“Maaf ya Dek.”

“Iya gak apa-apa kok Kak, Kakak yang sabar ya, kalau butuh sesuatu kasi tau aku, sebisa mungkin aku akan membantu Kakak.” Ucap Raditya, dia memberanikan diri mengecup kening Kakak iparnya.

“Terimakasi Dek!”

 

———–

Keesokan harinya di tempat yang berbeda.

“Bangun sayang ini sudah jam berapa.” Panggil seorang wanita yang baru saja masuk kedalam kamar anaknya, dia duduk di tepian tempat tidur anaknya, sambil membelai sayang kepala anaknya.

Sang anak yang bernama Aldi, tampak menggeliat pelan, ia membuka matanya perlahan, melihat memandang Ibunya yang sedang membangunkannya.

Aldi mengangkat kepalanya, lalu menaruhnya kembali di atas pangkuan Ibunya, sementara Erlina sendiri tanpak tidak keberatan dengan sikap manja anaknya, karena memang ia yang selalu memanjakan anaknya, menganggap putranya masi anak-anak walaupun saat ini Aldi sudah beranjak remaja.

Ilustrasi Erlina

Satu persatu Erlina membuka kancing piyama anaknya, hingga Aldi bertelanjang dada.

“Mandi yuk sayang, nanti kamu telat loh !” Bujuk Erlina.

“Iya Umi.” Jawab Aldi, masi dalam keadaan mengantuk, Erlina mengajak putranya kekamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Erlina segera membuka pakaiannya, dari kerudung pinknya hingga gaun panjangnya, dan hanya menyisakan pakaian dalam yang berwarna serba kuning krem yang menutupi bagian intim tubuhnya.

Erlina memang sudah terbiasa telanjang di depan putranya, baginya bukan hal yang baru berada di satu ruangan dengan putranya dalam keadaan telanjang, walaupun akhir-akhir ini ia lebih sering mengenakan pakaian dalam ketika sedang memandikan putranya.

Berbeda dengan apa yang di rasakan Aldi, bagi anak remaja itu, melihat Ibu kandungnya telanjang, atau nyaris telanjang selalu memberikan sensasi yang berbeda, dia selalu terangsang setiap kali melihat kemolekan bentuk tubuh Ibu kandungnya. Apa lagi ketika berada di luar, Ibunya selalu menakan pakaian tertutup, dan itu membuat sensasi yang ia rasakan semakin bertambah.

Erlina menarik turun celana piyama putranya, hingga burung kecilnya yang sedang berdiri langsung mencuat keluar malu-malu.

Erlina mulai menyirami tubuh putranya, menggosok seluruh tubuh putranya dengan tangan telanjang, lalu usapan tangan Erlina turun menuju burung anaknya, menggosok pelan, membuat Aldi diam-diam mendesah nikmat, sambil memandangi belahan dada Ibunya yang besar itu bergoyang-goyang.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Article Name
Ada Gairah yg Binal di Madrasah!
Description
sebuah cerita bersambung dewasa dari Rayhan93 dari Forum Semprot (diposting pertama kali dengan judul Penikmat Dosa). kami kompilasi menjadi satu cerita yg panjang. berfokus pada kehidupan seks di Madrasah Aliyah. panas dan menggairahkan!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo