Namaku Indrisantika Kurniasari (Indri), sudah hampir satu tahun aku menemani suamiku pindah ke tugas ke Marseille, sebuah kota lumayan besar di Perancis, sekitar beberapa jam perjalanan menggunakan kereta dari ibukota Paris. Suamiku adalah seorang konsulat bagi kedubes Indonesia di Prancis.

loading...

Baca juga:  Demi Kebebasan Suaminya, Wanita Alim itu Rela Melakukan Apa Saja! (Cerita Dewasa Istri Berjilbab)

Meski bekerja di kedutaan, kami tak diberi rumah dinas layaknya duta besar dan wakilnya. Maklum, jabatan suamiku tergolong belum terlalu tinggi. Namun kami diberi tempat tinggal di sebuah apartemen tak jauh dari kedutaan. Meski disebut apartemen, gedung berlantai enam tersebut lebih layak disebut rumah susun. Namun kondisinya jauh lebih baik dari rumah susun di Jakarta.

Rata-rata penghuninya adalah orang-orang multi etnis, seperti dari Maroko, Aljazair, dan Turki yang mencoba mengadu nasib di Perancis. Hanya beberapa lansia orang Perancis asli yang tinggal di sana.

Persis seperti layaknya rumah susun, keadaan apartemen selalu ramai dengan teriakan-teriakan bahasa asing yang tak kukenal dari ibu-ibu rumah tangga, tangisan atau tawa anak-anak kecil yang berlari-larian di sepanjang koridor, bau harum masakan rempah-rempah masakan timur tengah, bunyi televisi yang gaduh, dll.

Namun semua penghuni di lantaiku sangat ramah, baik Madame Alfarouq – penghuni di sebelah kamarku yang berasal dari Aljazair, maupun Madamme Emolet – penghuni kamar sebelah kananku yang seorang lansia dan memiliki gangguan pendengaran karena umurnya yang sudah sangat tua. Keadaan apartemen yang selalu ramai mampu mengusir kesepianku yang kerap ditinggal suami bekerja hingga larut malam.

Hari ini kuputuskan untuk berbelanja. Kurapihkan jilbabku sambil bercermin di depan kaca. Kukenakan cardigan untuk melapisi bajuku yang berwarna hitam dan bermotif polkadot putih. Setelah lengkap memakai stocking hitam tipis dan sepatu boot rendah, aku pun berjalan santai keluar menuju pasar terdekat.

“Selamat pagi, nyonya!” terdengar sapaan ramah yang sangat kukenal.

“Selamat pagi, Youssef.” balasku dengan tak kalah ramah.

Youssef adalah seorang pria Muslim berkebangsaan Maroko berkulit hitam yang bermigrasi ke Paris sekitar 5 tahun yang lalu. Ia bertugas membantu induk semangku yang sudah tua sebagai asistennya. Youssef sangat cakap dalam membantu para penghuni apartemen, mulai dari membetulkan keran bocor, jendela yang rusak, dan pekerjaan lainnya. Meskipun berbadan tinggi dan besar, ia sangat ramah kepada para penghuni apartemen. Pada mulanya aku sedikit segan kepadanya, dibandingkan dengannya mungkin aku hanya setinggi dadanya. Namun ia rajin menegurku bahkan membantu membawakan belanjaan ketika aku pulang dari pasar.

Sore itu selepas aku pulang dari pasar, kuputuskan untuk mencuci piring. Namun ternyata lampu dapur tidak berfungsi, sepertinya bohlamnya putus. Aku hanya bisa menghela napas, akan susah bagiku untuk menggantinya sendiri. Langit-langit dapur lumayan tinggi, dan aku tidak memiliki tangga untuk menggantinya.

Setelah lama memutar otak akhirnya aku menemukan ide. Kukenakan lagi cardigan dan aku pun berjalan turun ke lobby.

“Selamat sore, Youssef,” tegurku ramah dari balik pintu. Terlihat Youssef tengah sibuk membetulkan sebuah radio yang tampaknya milik salah satu penghuni apartemen ini.

“Oh, selamat sore, nyonya Indri. Ada apakah gerangan?” tanyanya dengan bahasa Inggris namun masih tetap kental dengan aksen Maroko.

“Apakah kamu bisa membantuku? Lampu di dapurku putus dan aku kesulitan menggantinya. Apa kamu ada waktu?” tanyaku lagi.

“Tentu! Tentu saja, nyonya. Mari sekarang saya bantu.” ujar Youssef dengan senyum ramah seraya menggotong tangga dan mengikutiku dari belakang.

Sesampainya di kamar, kupersilahkan Youssef menuju dapur. “Maaf kalau agak berantakan.” ujarku berbasa-basi sambil tersenyum.

“Tidak sama sekali, nyonya! Rumah anda sangat indah.” jawabnya sambil tersenyum.

Sembari ia mengganti bohlam, kami mengobrol ringan di dapur. Kuputuskan untuk membuatkannya kopi sekedar sebagai tanda terima kasih untuknya.

“Sudah, nyonya, lampu anda kini sudah bekerja lagi.” ujarnya sambil merapikan tangga.

“Terima kasih, Youssef. Eh, ini silahkan diminum dulu.” Kubawa nampan berisi kopi dan teh ke ruang depan.

Youssef nampak ragu namun akhirnya ia seperti tak enak juga menolak tawaranku, apalagi setelah kopinya telah tersaji. Ia pun duduk santai di sofa sambil menyeruput kopi bersama denganku. Kami mengobrol lumayan banyak, ia tampak terbuka menceritakan tentang kehidupannya. Ia bercerita tentang keluarganya di Maroko, dan pekerjaannya yang dahulu sebelum akhirnya memutuskan mengadu nasib di Perancis.

Ternyata dulu ia sempat belajar untuk menjadi Professional Masseus (tukang pijat di spa) dan berharap bisa mendapat pekerjaan di spa-spa ternama di Perancis. Namun setelah bermigrasi, ia menemui banyak kesulitan dan akhirnya bekerja sebagai penjaga bangunan apartemen ini. Aku pun jadi tergerak mendengar kisah hidupnya, dan terbesit ide untuk memberinya sedikit uang sekedar untuk membantu.

Namun ia pasti menolak apabila tiba-tiba kuberi uang dengan cuma-cuma, dan aku juga takut menyinggung perasaannya apabila kuberi uang begitu saja seperti itu. Akhirnya aku iseng memintanya untuk mendemonstrasikan keahilannya sebagai pemijat profesional, dan nanti setelah selesai aku dapat memberikannya uang sebagai balas jasa.

Dengan begitu Youssef mudah-mudahan tidak tersinggung, pikirku.

“Benarkah, nyonya? Wah, saya tidak tahu harus menjawab apa,” ujar Youssef girang setelah kuutarakan pikiranku.

“Tidak, apa-apa. Aku jadi penasaran setelah mendengar ceritamu tadi. Kebetulan aku pegal-pegal beberapa hari ini.” kilahku.

“Kalau begitu, baiklah. Semoga nyonya menyukai pijatan saya.” ujarnya berbinar-binar.

Aku pun merasa bangga mampu membantu Youssef seperti ini. Berikutnya Youssef memintaku dengan sopan untuk berbaring telungkup di atas sofa. Setelah aku berbaring, Dia mulai memijiti kakiku. Dengan pelan Youssef mulai menekan kakiku yang berlapis stocking hitam tipis, mulai dari pergelangan hingga ke betis. Aku memejamkan mata menikmati pijatannya. Tangannya yang besar membuat rasa pijatannya semakin mantap meski tak menggunakan lotion.

Youssef kemudian mulai memijati punggungku. Aku pun mulai agak mengantuk menikmati pijatannya yang kuakui memang enak. Lama memijat, Youssef menjadi lebih banyak diam dan berkonsentrasi. Hanya terdengar suara napasku yang pelan dan suara napas Youssef yang entah kenapa terdengar semakin berat.

Aku nyaris saja terlelap ketika tiba-tiba kurasakan tangan besar Youssef meremas gemas bongkahan pantatku. Aku segera tersadar dan membalik badan. Perasaanku tak karuan, antara marah dan tak percaya. Kupandangi Youssef dengan tatapan bingung dan marah. Youssef terlihat kaget juga, mungkin ia tak menyangka aku bakal menyadari kekurang-ajarannya itu.

“Youssef.. aku harap hal barusan itu tidak disengaja,” ujarku dengan nada serius.

Youssef terdiam agak lama. “Maaf, nyonya, sejujurnya saya tidak bisa menahan diri. Hal tadi memang saya sengaja.” jawabnya dengan nada menyesal.

Aku tak lagi mampu berkata-kata, rasanya aku ingin marah besar. Hampir saja aku berteriak dan mengeluarkan sumpah serapah, namun aku masih bisa menahan diri. “Silahkan keluar.” ujarku tegas dengan nada datar.

Youssef masih terdiam, dan akhirnya berkata pelan, “Maaf, nyonya.”

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Di Negeri Orang, Aku diperkosa dan Menikmatinya! Kisah Jilbaber Kesepian
Article Name
Di Negeri Orang, Aku diperkosa dan Menikmatinya! Kisah Jilbaber Kesepian
Description
seorang wanita berjilbab dari Indonesia dan istri pegawai kedubes tidak tahan dengan rasa kesepian. baca kisah seru petualangannya dengan lelaki Maroko yg perkasa!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo