Kamar Hendra

“Jadi menurut lu gimana?” tanya Hendra saat sambil bermain PS.

loading...

“Dia manis, imut-imut, polos, ramah, tapi….?” kata Hendra terhenti, lalu memandang Sarif.

“Kenapa kamu naksir ma dia?

Hendra hanya tersenyum simpul sedangkan Sarif melotot karenanya. ”Lu yang naksir kali, dia kan budak Imron, ga nyangka kan cewek baik-baik gitu juga ternyata…”

“Yah, eh, bukan gitu. Tapi dia emang bedakan ama yang laen, Ivana itu baik banget sama semua orang”

“Terutama sama Imron gitu, maksud kamu? sama aja Rif, hehehe?” sambil cengengesan.

“Selama ini semuanya nggak peduli sama kita Rif, gak ada yang menganggap kita ada kecuali waku dibutuhin doang” kata Hendra lagi.

“kalo aku sih setuju aja Hen, oke….oke, ini memang waktu kita buat balas dendam…hahahaha”

“Tapi…Ivana emang beda, dia ga kaya yang lain, lu inget waktu dia nawarin kita nyicipin sample kue waktu dia jaga stand itu?” kata Hendra mengingat-ingat beberapa bulan lalu ketika bazar gadis itu menawarinya potongan brownies buatannya dan teman-temannya untuk dicoba, “gua tau dia itu tulus, keliatan dari senyumnya sama tatapan matanya, kalau cewek lain waktu itu mungkin ngelirik kita juga ngga”

“Ah…sok romantis lu Hen, kalau ada kesempatan ngentot sama dia pasti ga akan lu lewatin kan!?” kata Sarif sambil mengeplak kepala belakang Hendra.

Keduanya pun tertawa terbahak-bahak dalam obrolan mesum mereka.

*****************************

Kampus Universitas Bina Nusantara

“Diem dulu ah!” sahut Hendra ketika lamunannya buyar oleh Sarif, sementara Sarif terkekeh di sampingnya.

“Kenapa Hen dengan bu Rania? kok ampe segitunya, ampe ngelotot lagi?” tanya Sarif masih terkekeh.

“Dia asyik Rif, sayang gua bukan anak ekonomi, dapet kuliah sama dosen kaya gitu dijamin ga akan ngantuk di kelas deh gua!” kata Hendra, “aku suka banget, orangnya juga lembut dan ramah”

“Gak kayak Bu Mintje? gitu maksudnya?” balas Sarif merujuk ke salah satu dosen mereka yang gendut dan terkenal killer gitu

“Bujubuneng, kok dibandinginnya sama si kuda nil itu sih? Ga level banget kali bandingannya” Hendra malah tertawa geli.

Tak lama kemudian, Vina (baca: Part 15 Vina yg Malang) muncul dari balik gedung dengan menggunakan pakaian yang minim yang sangat indah tuk di lihat dan sekalian buat cuci mata, setidaknya itu yang dipikirkan Hendra ma Sarif.

“Wowww…Vina, alamak cantiknya” kata Sarif membuat Hendra mencatok kepalanya, lalu Hendra melambaikan aba-aba untuk Vina mengetahui mereka berdua berada.

“Asli cakep benget cuy…bening” kata Sarif lagi

“iya dah tau kok”? jawab Hendra sambil tersenyum dengan kedatangan gadis itu.

“Hay Hen, sapa dia?” tanya Vina sedikit berbasa-basi

“dia sobatku gak apa-apa kok” jawab Hendra

“Oke deh…to the point aja ya, aku dengar nanti sore sekitar jam 4 Imron bakalan kencan dengan salah satu budaknya di laboratorim” jelas Vina

“oke, aku percaya sama kamu, tapi awas jika informasinya salah” gertak Hendra

Tiba-tiba Sarif meremas pantat Vina dari samping namun tangannya tertangkap Hendra, setelah pembicaraan singkat itu Vina meninggalkan pergi entah kemana.

“gak sabaran amat sih lu Rif, ini salah satu cara buat kepuasan lebih” kata Hendra kesal

“abisnya nafsuin banget sich Hen, bening jadi ngaceng nih”  jawabnya cemberut

“ya udah kita telpon aja si Selvy, gimana?” saran Hendra yang di sambut dengan senang oleh Sarif

******************************

Rania (baca: Part 4 Rania Dosen Muda nan Sexy) melangkahkan kakinya dengan gontai menuju laboratorium.  Ia melirik seorang petugas kebersihan yang sedang membereskan sesuatu, sepertinya baru selesai mengepel.

“Ngapain lagi laki-laki brengsek itu di sana? Benar-benar keterlaluan, ini sudah kelewatan” marahnya dalam hati.

Rania berdengus miris ketika memasuki Lab dengan gontai. Ia mendapati isinya sudah dalam keadaan bersih. Dengan dahi mengernyit saking marahnya pada diri sendiri.

“Kenapa malah aku sendiri yang datang, apakah aku sudah terbiasa dengan ini semua?” itulah pikiran yang selama ini selalu hadir dalam pikirannya.

Sudah bertahun-tahun dia menjalani kehidupan dengan baik. Setiap saat penuh kegembiraan. Sebagai seorang dosen yang sudah sangat dipercaya tapi sekarang semua itu berubah menjadi mimpi buruk buatnya.

Ia telah menjadi budak seks sejak Imron menjebaknya di kelas dulu, ditambah lagi Pak Dahlan (baca: Part 5 Konspirasi Ketua Jurusan), si dosen amoral itu, tapi disadari atau tidak, nampaknya ia mulai terbiasa dengan semua itu, bahkan menikmati tugasnya sebagai budak seks mereka. Ia melangkah lebih jauh memasuki sebuah ruangan yang ada di di dalam LAB itu.

Memang sekitar seperempat jam sebelumnya, dari jendela ruang dosen ekonomi di seberang lab, ia melihat Imron masuk dan tak lama kemudian disusul seorang gadis cantik, hingga kini mereka belum keluar dari sana. Rasa ingin tahunya menggiringnya berniat untuk masuk ke ruangan itu. Mendadak didengarnya suara aneh, seperti desahan seseorang.

Dosen cantik itu memasang telinga baik-baik, ternyata suara itu memang berasal dari dalam ruangan itu. Dengan jantung berdebar-debar, Rania semakin mendekat pelan-pelan,  darahnya berdesir, ketika ternyata itu suara orang yang sedang bercumbu, sebuah pemandangan yang mengundang gairah.

“Oh…Non Ivana….kamu tambah pinter aja deh!” Imron menceracau sambil meremasi payudara Ivana.

Ivana menatap Imron dan tersenyum, ya…senyum mungkin bisa dibilang sangat terpaksa.

“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu mulus dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin bapak gregetan aja non!”

Tangan kasar Imron terus menggerayangi lekuk-lekuk tubuh gadis itu yang indah. Ivana terus saja menatapnya dan kini bergantian, dan benar saja…setelah beberapa saat, Imron menelan ludah karena reaksi Ivana, ia menurunkan sendiri cup BH sebelah kirinya, lalu tangannya itu meraih penis Imron.

Astagaaa!!! Puting itu begitu menggoda dan merah sekali…tegak mengacung, lebih menggairahkan dari pada dulu ketika pertama direnggut keperawanannya di ruang UKS. Bagaikan Jeckyl dan Hyde, gadis alim itu mulai berubah binal, mungkin itu semua berkat bantuan Imron cs yang secara sabar membimbing dan menggali sisi liarnya sehingga ia mahir memuaskan pria.

“Sssshh….oofff….hhhhhh..:” terdengar suara gadis itu mendesis seolah menahan kenikmatan ketika Imron menundukkan kepala melumat payudaranya yang terbuka itu, lidah panas pria itu menyentil-nyentil putingnya memicu libidonya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
(Part 17) Sempurna namun Cacat, Suci namun Ternoda...
Article Name
(Part 17) Sempurna namun Cacat, Suci namun Ternoda...
Description
Hendra dan Sarif sekarang mengikuti jejak Imron. Mereka meniru persis modus operandi Imron dalam memeras dan memperkosa wanita-wanita cantik di kampus!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo