Tak ada seorangpun yang menginginkan kekurangan dalam dirinya, meski kesempurnaan juga mustahil dimiliki seutuhnya. Ada saja yang kurang, membuat kesempurnaan itu hanyalah angan. Hendra, cowok berotak cerdas dan bebas menggunakan kekayaan orang tuanya seperti mobil. motor atau pun benda-benda mewah lainnya bukanlah barang langka baginya.

loading...

Sarif, anak panti asuhan yang dibangun orang tua Hendra, tingginya sekitar 166 cm berat 55 kg gak beda jauh dengan Hendra. Ia bergegas mengambil kunci mobilnya dan meluncur ke kampus tempatnya kuliah, namun dia tadi lebih awal pulangnya dan ke sana untuk menjemput Sarif.

Setibanya di depan kampus, Hendra menelpon Sarif namun jaringan lagi ada gangguan, terpaksa dia masuk ke dalam mencari sahabat karibnya itu. Ketika menuju tempat biasa Sarif nongkrong, Hendra mendengar suara percakapan seseorang di dalam sebuah gudang. Ia mengendap-endap ke celah jendela yang sedikit terbuka dan mengintip siapa yang sedang berbicara itu. Mata Hendra terbelakak dan mulutnya melongo menyaksikan kebejatan yang terjadi di dalam ruangan itu.

===

Vina

“Ah, sudah bangun  kau?” secara serempak dua pria itu menyapa Vina, salah satu mahasiswi cantik di kampus. Sebuah suara yang ngobrol tadi dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu. Tampak seorang pria kekar datang menghampiri Vina. Vina mengenalinya kedua orang itu, seorang penjaga kampus dan penjaga kolam. Tak lain adalah Imron dan Abdul, mereka menyeringai mesum namun sangat menakutkan,

“Hahaha…”, kedua pria bejat itu tertawa terbahak-bahak melihat mangsanya sudah tak berdaya.

Vina berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak.

“Tenang saja non, nggak usah banyak gerak, sore ini kamu di sini dulu.” Kata Imron sambil cengengesan.

Tidak sengaja Vina melihat ke dinding gudang ada sebuah cermin yang terpampang besar di sebelahnya, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut meja yang disusun rapi, seperti huruf Y terbalik. Seluruh tubuhnya tertutup koran dan kardus, namun ujung koran yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Ia saat itu menggunakan baju tshirt warna pink dan rok yang cuma bisa menutupi 5 cm di atas lutut bewarna abu-abu.

“Pak, Vina dimana? Kenapa saya begini?” tanya gadis itu dengan panik dan takut.

Ia mulai teringat saat berlari ke kantin untuk membeli minuman tadi, seseorang telah menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.

”Tenang non Vina yang semok, non akan baik-baik saja. Hari ini kita bakalan akan menikmatinya bersama,hahahaha” kata Abdul cengengesan, “Udah dua minggu aku dan pak Imron menunggu kesempatan ini,  sekarang kita akan nikmati hari yang menyenangkan ini, bener ga pak Imron?” kata Abdul dengan bangganya” kata Abdul sambil menyeringai.

“Sip dah!” timpal Imron.

“Enggak! Enggak! Saya akan melaporkan bapak ke polisi! Vina nggak mau!” gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.

Sambil tertawa terkekeh, Abdul perlahan menarik koran dan kardus yang menutupi tubuh gadis itu, membuatnya terpekik karena penutup tubuhnya perlahan dibuka tanpa menghiraukan ancamannya.

“Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak, jangan Pak! Tolong..!” dengan sigap Abdul  melepas semua pakaian Vina dan sekarang terserak dibawah meja, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.

“Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini majikanmu, tahu! Panggil aku tuan!” seru Abdul sambil menampar pipi Vina sampai gadis itu memekik kesakitan.

Abdul semakin beringas melihat tubuh Vina yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya. “Diam Sayang! Hari ini aku akan membalas semua sakit hatiku pada ayahmu yang sok alim itu karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!”

“Dul lu duluan gih, gua yang rekamin adegannya!”

“Ok bos!” Kata Abdul langsung melanjutkan aksinya..

Tanpa basa basi Abdul segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas meja. Vina dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Abdul menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar. Pekikannya tertahan sumpalan celana dalam saat Abdul meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Abdul kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Vina.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
(Part 15) Vina yg Malang...
Article Name
(Part 15) Vina yg Malang...
Description
Kebejatan Imron tidak mengenal batas-batas normal. baca kisahnya memperkosa gadis keturunan tionghoa yg tak berdaya...
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo