Sejak kecelakaan enam tahun yang lalu, suamiku sudah tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Kasihan sekali dia, walau tubuhnya sehat dan gagah tapi kejantanannya tidak berfungsi. Dia impoten.

loading...

Suamiku pernah menyarankan aku untuk bercerai dan menikah lagi. Aku tidak setuju. Bagiku Making love bukan yang paling utama dalam sebuah pernikahan. Apalagi usiaku dan suami sudah tidak muda lagi dan sudah tidak meletup-letup lagi seperti saat pengantin baru dulu. Aku bisa mengatasinya bila keinginan itu muncul dalam diriku, aku berusaha mengalihkan perhatianku dengan menyibukkan diri di kantor atau pergi bersama anak-anak. Tapi aku juga tak dapat memungkiri bahwa ML merupakan bumbu dalam pernikahan

Baca juga: Akhirnya Kunikmati Tubuh Lelaki yg Bukan Suamiku… (klik di gambar ini)

Pagi yang cerah, burung-burung pun berkicau menyambut datangnya sang mentari. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilku. Pagi ini aku masak sayur asem-asem, tahu tempe bacem  dan sambal terasi. Aku pun segera berdandan di kamarku untuk bersiap-siap pergi ke kantor.

Aku merasa Mas Irwan mengawasi diriku yang sedang berdandan, secara reflek aku menoleh kepadanya yang baru saja bangun tidur. Aku tersenyum menatapnya. Aku beranjak dari tempatku berdiri di depan meja rias, kemudian aku menghampiri dirinya.

“Selamat pagi, sayangku! I love you” ucapku mesra seraya mengecup pipinya. Mas Irwan tersenyum sambil melipat selimutnya dan membalas ciumanku.

“Hmm…..bau naga, sana gosok gigi dulu!” ujarku bercanda seraya kembali ke depan meja rias lagi untuk berdandan. Mas Irwan mendekatiku, dia berdiri dibelakangku sambil mendekapku dari belakang.

“Rin, kau masih muda dan cantik! Aku tahu, kau pasti menderita. Aku kasihan dirimu, Sayangku!” ujar suamiku masih tetap mendekapku sehingga aku kesulitan untuk berdandan.

Aku tidak menjawab. Aku menggeliat berusaha melepaskan dekapannya karena aku kesulitan untuk bergerak, Mas Irwan melepaskan dekapannya. Kupoleskan bedak pada wajahku dan aku bubuhkan lipstik warna orange pada bibirku yang tipis dan sensual.

“Kalau kau tak mau menceraikan aku, bagaimana kalau kau kucarikan seorang kekasih yang bisa memenuhi kebutuhanmu di tempat tidur” ujarnya kemudian.

Pyaaar! Bedak padatku jatuh terlepas dari tanganku. Aku kaget dengan sarannya, aku membalikkan badan dan kini berhadap-hadapan dengannya.

“Aku tidak setuju! Kau sudah gila!” ujarku ketus. Aku meninggalkannya untuk mengambil seragam dan memakainya. Mas Irwan mengawasiku dengan tajam menatapku ganti pakaian, dia menelusuri lekuk-lekuk tubuhku yang masih langsing meski telah mempunyai anak dua.

“Aku kasihan kamu, pasti dirimu merasa tersiksa, aku tak dapat memuaskan……….”

“Stop! Tidak usah dibahas” aku memotong pembicaraannya yang mulai nglantur.

“Coba dengarkan dulu penjelasanku! Begini lo, aku akan mengenalkanmu pada seseorang, dia dulu sahabatku, masih bujangan, karena patah hati dia tidak mau menikah. Dia sudah setuju. Tapi syaratnya kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya” ujar Mas Irwan tenang. Ada nada terluka saat dia berkata seperti itu.

“Kau gila, Mas! Aku bukan pelacur, aku perempuan baik-baik” ujarku tersinggung kemudian aku menyambar tas kerjaku dan meninggalkannya yang masih berdiri di depan meja rias.

Di kantor aku tak bisa konsentrasi bekerja, apa yang kukerjakan selalu salah. Mau tidak mau aku jadi kepikiran dengan ide gilanya itu. Aku benar-benar tersinggung dan marah. Dia telah meremehkan aku.

Dikiranya aku wanita yang tipis iman sampai mau menyerahkan tubuhku untuk kepuasan sesaat. Hampir maghrib aku masih di kantor. Rasanya enggan pulang. Jiwaku letih, bertahun-tahun aku bisa mempertahankannya, aku berusaha membunuh segala keinginan yang selalu bergelora dalam tubuhku.

Kuakui sulit sebenarnya, aku masih muda baru 32 tahun. Usia segitu sedang gairah-gairahnya untuk memadu kasih.

Reeeeet…..reeet………..hpku bergetar, layar LCD nya menyala. Kulihat siapa yang memanggil, ternyata Mas Irwan, aku enggan menerimanya, ku biarkan saja panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Mas Irwan masih tak putus asa, dia mengirimku sms

“Rin, kamu masih marah ya? Pulang Rin, aku dan anak-anak merindukanmu”. Sms-nya pun kuabaikan. Teringat kedua belah hatiku yang menunggu di rumah, aku pun beranjak dari tempat dudukku.

Dengan langkah gontai aku pulang ke rumah. Baru kali ini ada rasa enggan untuk pulang ke rumah untuk bertemu dengan Mas Irwan, padahal biasanya, setiap hari selalu ada kerinduan yang tersirat untuk ingin bertemu dengan Mas Irwan dan juga dengan anak-anak, Dani dan Riva.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Lelaki Pilihan Suamiku...
Article Name
Lelaki Pilihan Suamiku...
Description
cerita dewasa karya Diahningtias Windayani (Kompasianer). singkat, ringan dan memukau dengan twist ending!
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo