Hari itu jam sebelas kurang di gedung administrasi pusat Universitas Binus. Nampak beberapa orang sedang berdiri di depan pintu lift. Tak lama kemudian pintu lift sebelah kiri yang menuju ke atas membuka, lima orang masuk sedangkan sisanya menunggu lift berikut karena berlawanan jurusan.

loading...

Rania

“Emmm…Bu Rania yah !” sapa pria tambun itu sehingga si wanita menoleh ke belakang dan agak kaget bagimana pria ini mengenal dirinya.

Rania memang mengenal pria ini sebagai Pak Dahlan, kepala fakultas arsitektur, tapi hanya sekedar tahu saja karena mereka tidak pernah berhubungan karena jurusan berbeda dan Rania juga hanya dosen muda dan hubungannya dengan dosen fakultas lain tidak terlalu luas. Sekarang ini dirinya sedang hendak mewakili kepala jurusaannya yang berhalangan hadir untuk mengikuti rapat umum di ruang rapat lantai 12.

“Mau rapat Bu ?” tanya pria itu.

“Eengg…iya…iya Pak” Rania tersenyum kecil menjawabnya lalu berbalik lagi menatap indikator lift.

Walaupun bersikap sopan, namun Rania merasa tidak nyaman berada satu lift dengan pria ini, entah mengapa instingnya mengatakan demikian, dia merasa lift berjalan lambat sekali. Firasat tidak baik itu terbukti ketika tiba-tiba ada tangan dari belakang menepuk pantatnya dan meremasnya. Spontan Rania pun kaget dan membalikkan badan.

“Kurang ajar ! apa-apaan sih Pak !” bentaknya dengan marah.

“Hehehe…memangnya kenapa Bu, Pak Imron aja boleh kan ?” ujar Pak Dahlan enteng. baca kisah ( Part 4) Imron Merajalela menikmati Tubuh Rania, Dosen Muda nan Seksi! )

Rania tertegun seperti disambar petir mendengar perkataaan pria itu.

“A-apa, apa…Bapak ngomong apa ?” suaranya terasa berat karena terkejut.

“Nah kan bener, dari reaksinya aja saya tau tuh”

“Gimana mungkin dia tau ?” Rania bertanya dalam hati dan menyesal karena tidak bisa menahan rasa nervousnya.

“Maksud Bapak apa…saya peringatkan jangan macam-macam Pak !” gertaknya menutupi rasa gugup.

“Ah, Ibu ini masa gak ngerti sih maksud saya apa ? kita kan sudah sama-sama dewasa Bu” katanya sambil mendekat dan meraih lengan Rania “saya sudah tau semua Bu, masa sih ada dosen main lesbian sama mahasiswinya hehehe…!”

“Bapak mengancam saya ya !” bentak Rania sambil menyentak tangannya.

‘Ting !’ lift sampai ke lantai 12 yang dituju sehingga keduanya menjaga sikap agar tidak terlihat mencurigakan.

“Pikirkan lagi yah Bu, saya dengar keputusannya setelah rapat” katanya pelan sambil berjalan keluar dari lift dan sempat mencolek pantat Rania.

“Huh…bangsat nih orang !” makinya dalam hati.

Disana sudah cukup banyak orang berkumpul, sebagian sudah menempati kursinya di ruang rapat, sebagian lainnya masih di luar ngobrol-ngobrol dengan rekannya atau merokok. Walau hatinya galau, Rania berusaha agar dapat tersenyum dan berbasa-basi bila ada orang menyapanya. Rapat pun akhirnya dimulai, Rania tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada hal yang dibahas karena terganggu oleh yang satu itu. Dia membalas senyum Pak Dahlan yang duduk berseberangan dengannya itu dengan pandangan tajam, rasanya ingin melempar botol air mineral mejanya ke wajah pria itu kalau saja emosinya meledak. Hatinya makin membara ketika Pak Dahlan angkat bicara, pria itu jelas sedang menyindirnya di depan dosen-dosen lain dengan berlagak sok bermoral.

“Hhh…saya rasa kampus kita ini perlu merevisi tata-tertib agar lebih ketat, soalnya belakangan ini saya dengar mahasiswa-mahasiswa kita ini makin nggak karuan tingkah lakunya, mau jadi apa bangsa kita kalau moralnya begini…yang lebih gila saya pernah dengar…ini nggak tau benar atau nggak ya…dosen juga ada yang kebawa-bawa”

Rania menjaga sikapnya senormal mungkin agar para peserta rapat tidak curiga, padahal dalam hatinya ia benar-benar marah pada pria itu, atas sikapnya yang kurang ajar dan kemunafikannya yang memuakkan.

Jam 12.15 rapat dihentikan sementara untuk jam makan siang dan akan dilanjutkan jam 1.00. Rania buru-buru keluar dari ruang itu bersama dua dosen wanita lainnya yang mengajaknya makan siang bersama. Dia berharap dengan begitu dapat terhindar dari Pak Dahlan sementara pria itu juga masih berbincang-bincang dengan seorang dosen lain di ruang rapat.

“Aduh lama banget sih ! cepetan dong !” serunya dalam hati karena merasa cemas pria itu akan menyusulnya.

Lift makin naik, namun ketika baru menunjukkan tiba di lantai 10, tiba-tiba terdengar dari belakang namanya dipanggil, suara itu dikenalnya dan tidak diharapkannya.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
(Part 14) Birahi dan Jijik Rania bercampur jadi Satu!
Article Name
(Part 14) Birahi dan Jijik Rania bercampur jadi Satu!
Description
masih ingat dengan Rania, dosen muda bispak yg cantik nan seksi dari part 4? ini adalah kisah lanjutannya!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo