loading...

Setelah beberapa lama kami bersetubuh, akhirnya kami pun mencapai orgasme bersama-sama. Tapi tentunya aku orgasme untuk yang kesekian kalinya, karena pak Bram sangat hebat dalam urusan ini. Aku pun merapikan pakaianku dan bergegas meninggalkan ruangan pak Bram. Sebelum aku keluar ruangan, tangan nakal pak Bram menggenggam pantat ku dan meremas nya. Aku menoleh sambil tersenyum genit. Seperti itulah hari-hari kami dikantor. Kami sering melakukan hubungan intim tanpa sepengetahuan karyawan lain, dan tentu saja suamiku dan istri pak Bram pun tidak mengetahui hubungan kami.

Satu Minggu berlalu, dan aku baru memberi tau suamiku kalau aku positif hamil. Dia sangat senang sekali. Tetapi ada perasaan bersalah yang menyelimuti hatiku. Suamiku tidak tau kalau itu bukan darah dagingnya.

Kehamilanku masuk bulan ke 7, dan selama itu pula aku sering berhubungan dengan pak Bram. Pernah suatu hari beliau mengajakku untuk rapat diluar kantor, tapi ternyata mengajakku ke Hotel Aston. Beliau ingin menikmati berduaan dengan ku.

“Loh mas, kita gak jadi rapat?” tanyaku pada pak Bram

“Itu alasan saja Nis, mas ingin berduaan saja denganmu. Mas gak tahan melihat kamu, makin hari makin cantik.” Jawab pak Bram sambil tersenyum.

“mmmm mas bisa saja.” Kataku sambil mencubit pinggangnya.

“Nis, mas boleh minta foto-fotomu ya, untuk melepas kangen saja. Kalau malam mas selalu susah tidur mikirin kamu.” Kata pak Bram lagi.

“Boleh mas.” Kataku sambil tersenyum

“O ya nanti kirimin via WA juga ya foto-foto kamu.” Pinta pak Bram lagi.

“Iya mas sayaang.” Kataku sembari mencium bibirnya.

Pak Bram menahan kepalaku sehingga lama kami berciuman. Tangan nya mulai mengelus pantatku. Kemudian tangan pak Bram bermain di payudara ku. Kuat pak Bram meremas payudara ku sehingga aku mendesah kenikmatan.

“Aaahkkkhhh..enak mas.” Racauku

Kemudian kancing bajuku dibuka satu persatu sehingga kini payudara ku hanya tertutup bra yang aku kenakan. Tangan pak Bram mengelus perutku, menggelitik pusarku, dan kurasakan ada gerakan dari dalam rahimku. Sepertinya dedek bayi di dalam ikut merasakan sentuhan pak Bram. Tangan pak Bram terus bermain kebawah hingga pengait rok yang aku kenakan dilepasnya dan sekarang aku hanya mengenakan bra, celana dalam serta jilbab.

Aku mulai tak tahan. Kubuka resleting celana pak Bram dan ku lepas celananya. Kukeluarkan penis pak Bram dari sangkarnya. Ku kocok perlahan hingga pak Bram mendesah kenikmatan.

“Ohhhh terus Nis, enak banget.” Kata pak Bram

Kemudian aku jongkok dan kumasukkan penis pak Bram kedalam mulutku. Ku oral penis pak Bram sampai mengeluarkan cairan bening. Pak Bram menarik ku keatas, dan menggendong ku ke kasur. Dibukanya bra dan CD ku. Di oral nya vagina ku hingga aku merasakan sensasi yang luar biasa.

“Aaahhkkk mas terus mas.. Aaahhhkkk.” Racauku

“kamu suka begini sayang?” tanya pak Bram. Aku hanya mengangguk pelan.

Kemudian pak Bram memasukkan jari-jarinya kedalam vagina ku. Di kocok nya pelan.

“auuhh aahhh.” Desahku.

Semakin lama kocokan pak Bram semakin cepat. Aku merasakan getaran diseluruh tubuhku. Tiba-tiba tubuhku mengejang dan…..”Ssssrrrrrrrrttttt” kurasakan cairan cintaku mengalir deras. Pak Bram menjilat semua cairan cintaku. Setelah orgasme, vaginaku menjadi sangat sensitive. Sentuhan lidah pak Bram membuat ku kegelian.

“Mas, tahan dulu. Geli mas…” pintaku pada pak Bram. Pak Bram pun menghentikan kegiatannya.

Selang beberapa menit, pak Bram memulai kembali aktivitasnya. Dia mencium bibirku, mengecup putingku, dan menjilat pusarku. Perutku bergerak, dedek yang didalam perut menendang-nendang. Pak Bram tersenyum dan semakin lama menjilati pusarku. Lama pak Bram bermain di perutku.

Kemudian pak Bram membuka kaki ku. Diarahkan penis nya ke bibir vaginaku yang masih basah dan “Sluup” masuklah penis besar pak Bram ke dalam rahimku.

Pak Bram mulai memompa penisnya. Penisnya keluar masuk vagina ku dengan ritme sedang. Setelah beberapa menit, pak Bram membalikkan tubuhku hingga posisiku menungging. Dari belakang pak Bram memposisikan kepala penisnya tepat di lubang vagina ku. Pelan-pelan penis pak Bram masuk kembali. “hmmhhh… aaahhhh…” Aku kembali mendesah ketika penis pak Bram masuk.

Pak Bram memeluk pinggangku dan membimbingku naik. Tangan ku bertumpu pada kasur. Pak Bram menggerakkan penisnya maju mundur sembari memegang erat pinggang ku. “Uuuuuh…. Ahhh….. “ kembali aku mengerang kenikmatan. Aku terus mengerang seiring penis pak Bram yang keluar masuk di vaginaku. Entah berapa lama kami melakukannya.

“Mas…. aku… Aaaarrggghhhhhh…” aku mengerang panjang seiring dengan orgasme yang ku dapatkan. Pak Bram semakin mempercepat gerakannya. Tak lama kemudian, pak Bram pun mengerang dan menyemburkan sperma nya ke dalam rahim ku. Kurasakan cairan hangat memenuhi rahim ku. Dedek di dalam perut pun ikut menendang-nendang perut ku.

“AAAARRRRRRGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHH…” erang pak Bram keras.

Pak Bram mencabut penis nya dari vagina ku. Kami berbaring sambil pak Bram memeluk tubuh ku.

“Nis, trimakasih ya kamu sudah memberikan kepercayaan pada mas atas tubuh mu” kata pak Bram sambil mengusap kepala ku yang masih mengenakan hijab.

“iya mas, sama-sama. Nisa senang bisa memberikan tubuh ini seutuhnya untuk mas.” Jawabku sambil tersenyum.

Sore itu, pak Bram mengantarkan aku pulang ke rumah. Sebelum aku keluar mobil, pak Bram mengecup kening ku mesra. Aku pun buru-buru keluar mobil setelah ku lihat suamiku keluar rumah. Pak Bram menyapa suamiku dan beliau pun pamit. Aku menggandeng tangan suami ku dan menariknya masuk ke dalam rumah.

Kehamilanku memasuki bulan ke sembilan. Aku pun diberi cuti melahirkan selama dua bulan. Pada hari kelahiran, pak Bram beserta istrinya datang menjenguk ku di RS Siloam. Mereka memberikan semangat dan motivasi padaku. Aku dan suamiku sekarang cukup akrab dengan keluarga pak Bram. Setelah lahiran, pak Bram ingin sekali menggendong bayi kami. Suamiku dan Bu Tina (istri pak Bram) tidak menaruh curiga pada kami. Semua mengalir seperti biasa, malah terjalin hubungan harmonis antar dua keluarga.

Selang seminggu setelah proses lahiran ku, akupun sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Keluarga besar kami datang menjenguk. Kemudian kami mengadakan akikah Putri ketiga kami, tak lupa kami pun mengundang pak Bram beserta istrinya. Pak Bram sangat sayang sekali dengan anak ketiga ku, karena dia tau kalau itu adalah darah dagingnya.

Selama masa cuti, kedua anak ku yang lain kutitipkan kerumah orang tua ku. Jadi aku hanya mengurus anak ketiga ku saja. Hari itu, ketika suamiku berangkat kerja, sekitar pukul sepuluh pagi pak Bram datang kerumah sendirian. Ku persilahkan beliau masuk dan menjenguk anaknya.

“Mmm nis, mirip kamu ya, cantik..” kata pak Bram tersenyum.

“Iihh mas bisa aja.” Jawabku sambil mencubit pinggangnya.

Kami saling berpandangan. Aku tau apa yang diinginkan pak Bram, karena memang sudah lama kami tidak berhubungan. Aku pun langsung mencium bibir pak Bram. Ku lumat bibirnya dan kumainkan lidahku didalam mulutnya. Lidah kami saling beradu. Tangan pak Bram mulai menggerayangi tubuhku, meremas-remas payudara ku. Aku terlalu bernafsu jika bersama pak Bram. Tidak tau kenapa jika didekat pak Bram, nafsu ku tidak bisa kutahan.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Tak Pernah Kusesali Nikmatnya Kejantanan² yg bukan milik Suamiku (kisah Jilbaber Wanita Karir yg Binal)
Article Name
Tak Pernah Kusesali Nikmatnya Kejantanan² yg bukan milik Suamiku (kisah Jilbaber Wanita Karir yg Binal)
Description
seorang wanita karir berhijab, ibu dari 2 orang anak dan istri yg setia ternyata menjadi amat binal di dalam dekapan lelaki-lelaki lain dan menikmati kepuasan terlarang dari perselingkuhan yg HOT
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo