loading...

Kata-kata pak Bram membuatku melayang. Dia tau aku senang di puji. Aku memajukan bibirku tanda cemberut. Pak Bram menarikku berdiri. Kemudian beliau mendekapku dari belakang dan mencium pipiku. Kedua tangannya meremas kedua payudaraku. Aku memejamkan mataku menikmati setiap sentuhan pak Bram. Nafsu ku bangkit lagi. Tangan pak Bram menelusuri perutku hingga ke bawah dan sampailah tangan itu diatas rahimku. Dielus nya rahim ku dari luar baju. Lama pak Bram mengelus rahimku. Kemudian tangan pak Bram membuka resleting rok yang aku kenakan sehingga rok ku jatuh ke bawah dan aku pun setengah bugil. Didorongnya tubuhku ke depan sehingga posisiku saat ini menungging dan belahan vagina ku terlihat jelas dari belakang.

Tak lama kemudian terdengar suara tepukan dan teriakan-teriakan dari para pemuda di sana yang sedari tadi melihat tubuhku. Wajahku merona. Reflek aku tarik rok ku dan memakainya kembali, kemudian aku berlari masuk ke mobil. Sandi dan pak Bram menyusulku. Aku hanya diam saja ketika pak Bram masuk ke dalam mobil. Kemudian pak Bram memberi kode pada Sandi untuk kembali ke hotel.

Sesampainya di hotel, aku langsung turun dari mobil dan menuju kamar, diikuti oleh pak Bram dan Sandi yang membawa belanjaan kami, karena tadi kami sempat belanja makanan ringan di A*lfa MA*t. Sambil berjalan, aku melepaskan pengait bra ku dan melepaskan bra ku. Kulihat pak Bram dan Sandi hanya terdiam memandang ku. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan mundur sambil aku meremas-remas payudara ku yang masih tertutup baju.

Sampai dikamar, aku langsung membuka gorden kamar sehingga suasana kamar tampak jelas dari luar. Aku langsung melepaskan baju dan jilbabku. Kulihat keluar jendela banyak anak-anak muda yang sedang nongkrong, mereka melihat ku dengan tatapan tak percaya. Aku menyibak kan rambutku dan membuat payudara ku bergoyang. Kudengar teriakan para pemuda itu. Kemudian kututup kembali gorden nya. Kudengar teriakan kecewa mereka. Aku hanya senyum-senyum saja mendengar nya. Pak Bram yang dari tadi hanya melihat, tiba-tiba langsung bergegas kearah ku dan meremas payudara ku dengan kuat.

“Aaauuuu…” teriak ku. Sandi hanya melongo saja melihat kami. Entah setan apa yang sudah merasuki ku, tanpa sadar aku memanggill Sandi untuk mendekat.

“Sandi, sini..” panggil ku.

Aku melepaskan tangan pak Bram dari payudara ku dan berjalan kearah Sandi. Seketika aku langsung membuka resleting celana Sandi dan menarik nya turun kebawah bersama dengan CD nya. Kemudian aku keluarkan penis nya dan mengoral nya. Sandi pun terpejam menikmati kocokan mulutku pada penisnya.

Selang beberapa menit, tubuh Sandi menegang dan ditekannya kepalaku mendekati dirinya sehingga penisnya masuk secara utuh kedalam mulut ku dan kurasakan sperma nya tumpah mengalir melalui kerongkongan ku dan masuk kedalam perutku. Lama ditekannya kepalaku, hampir saja aku terbatuk. Sandi terduduk lemas.

“Wah mbak, mulut mbak enak sekali. Aku ketagihan mbak.” Katanya disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal setelah orgasme. Aku hanya tersenyum.

Aku menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Saat aku keluar kamar mandi, ternyata Sandi sudah tidak ada, hanya ada pak Bram yang sedang berbaring di ranjang.

“Nis, kemari.” Kata pak Bram menyuruhku mendekat pada nya.

“Iya pak.” Jawabku

“Gimana kalau kamu jangan panggil saya bapak, panggil saja mas” kata pak Bram kemudian.

“hmmm iya mas.” Kataku lagi.

Aku duduk disampingnya. Lama pak Bram memandangi ku. Aku masih mengenakan rok tanpa CD dan atasannya masih dalam keadaan bugil. Kemudian pak Bram mengelus payudara ku.

“Makin lama mas liat, tubuh kamu makin seksi Nis.” Kata pak Bram dengan tangan yang masih mengelus payudara ku.

“Mmm terimakasih mas.” Kataku sambil tersenyum.

Malam itu, Pak Bram mengajakku untuk tidur. hanya tidur berpelukan saja. Aku merasakan sedikit kecewa. Ku kira pak Bram akan mengajakku untuk berhubungan intim. Tapi aku menurut saja apa kata pak Bram, dan kami pun tertidur.

Kamis pagi, aku terbangun dari tidurku. Kulihat sekeliling ku, Pak Bram sudah tidak ada. Aku pun ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Saat kulihat payudara ku, banyak tanda merah bekas kecupan. Seperti nya pak Bram semalam mengeksploitasi tubuhku. Aku memandangi tubuhku dari cermin kamar mandi. Ada perasaan bersalah menyelimuti hatiku. Tapi tidak bisa aku pungkiri bahwa aku menyukai hal ini. Ada kenikmatan lain yang kurasakan ketika orang lain bernafsu melihat ku.

Cepat-cepat kuselesaikan mandiku. Ketika aku akan mengenakan baju, pak Bram masuk.

“Sudah bangun Nis.” Sapa pak Bram.

“Iya mas.” Jawabku.

“Kamu sudah mandi ya. Ini aku belikan baju untuk mu.” Kata pak Bram sambil memberikan bungkusan plastik.

Aku lihat ada kaos lengan pendek warna putih dan kardigan abu-abu.

“Mas, Nisa pake ini?” tanya ku.

“Iya Nis, dan jangan pake bra ya.” Kata pak Bram sambil tersenyum.

“Jangan mas, Nisa malu.” Kataku lagi.

“Gak usah malu Nis, kan gak ada yang kenal juga. Lagian kamu semalam lebih seksi melakukan nya. Mas Cuma pengen nunjukin ke orang-orang kalo Nisa itu cantik dan seksi.” Kata pak Bram lagi.

Pikiranku langsung membayangkan bagaimana semua mata laki-laki tertuju padaku. Fantasiku semakin liar.

“Baik mas, akan Nisa pake.” Kataku lagi

Akhirnya aku mengenakan baju kaos putih tanpa bra, ditutup dengan kardigan abu-abu dan jilbab biru. Bawahanku tetap mengenakan rok tanpa CD.

Tak menunggu lama, Sandi pun mengetuk pintu kamar dan mengatakan mobil sudah siap. Kami pun bergegas keluar untuk jalan-jalan menikmati suasana Bengkulu.

“Wah, mbak cantik sekali.” Kata sandi memujiku.

“Ah biasa aja.” Kataku.

“Beneran mbak, mbak cantik banget. Apalagi kalo kayak kemarin, lebih cantik lagi mbak.” Kata sandi sambil nyengir.

Dadaku bergetar mendengar nya. Fantasi-fantasi liarku muncul.

Kami menaiki mobil. Diajaknya kami berkeliling oleh Sandi. Siang itu kami makan di sekitaran UNIB, banyak tempat-tempat makan untuk mahasiswa. Setelah lama mencari, akhirnya kami memutuskan untuk makan di tempat yang ada lesehan nya. Sembari menunggu pesanan datang, pak Bram memulai aksinya. Dia merangkul ku dan tangannya meremas payudara ku, Sandi hanya senyum-senyum saja.

Didepan kami, para mahasiswa dan mahasiswi melihat apa yang dilakukan pak Bram. Mereka bengong, seperti tak menduga bahwa wanita berhijab sepertiku diperlakukan tak senonoh oleh pak Bram. Aku merasakan sensasi yang luar biasa ketika para mahasiswa itu melihatku di pegang-pegang oleh pak Bram. Aku mulai terangsang. Kurasakan cairan vagina ku membasahi rok yang aku kenakan. Pak Bram menghentikan kegiatannya ketika pelayan datang membawa pesanan kami.

Usai makan kami pun pergi. Aku menoleh kebelakang melihat para mahasiswa tadi memandangi ku, sepertinya mereka tau kalau aku tidak mengenakan CD. Kemudian aku mengedipkan mata pada mereka sambil ku julurkan lidah. Mereka hanya bengong saja melihatku. Aku langsung masuk ke mobil. Pak Bram hanya tersenyum melihat kelakuan ku. Kami pergi ke pantai panjang dan mencari tempat yang sepi. Dibawah pepohonan dekat pantai, Sandi menggelar tikar yang sudah pak Bram siapkan.

Kami duduk-duduk santai menikmati pemandangan laut dan angin sepoi-sepoi. Kemudian pak Bram mengajakku untuk bermain air, aku mengikutinya. Tiba-tiba pak Bram menyiramkan air ke bajuku sehingga payudara dan puting ku terlihat jelas dibalik kaos yang aku kenakan.

“Duh mas, basah kan.” Kataku sambil merengut.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Tak Pernah Kusesali Nikmatnya Kejantanan² yg bukan milik Suamiku (kisah Jilbaber Wanita Karir yg Binal)
Article Name
Tak Pernah Kusesali Nikmatnya Kejantanan² yg bukan milik Suamiku (kisah Jilbaber Wanita Karir yg Binal)
Description
seorang wanita karir berhijab, ibu dari 2 orang anak dan istri yg setia ternyata menjadi amat binal di dalam dekapan lelaki-lelaki lain dan menikmati kepuasan terlarang dari perselingkuhan yg HOT
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo