loading...

“Pak, mungkin bapak hanya sebatas mengagumiku saja pak tidak lebih” kataku

“Dan kita juga sama tahu pak kalau bapak sudah berkeluarga, nisa pun demikian” kataku lagi

“Iya nisa, awalnya bapak berfikir demikian. Tapi setelah sekian lama bekerja sama denganmu, rasa ini muncul dengan sendirinya.”

“Maafkan bapak Nisa” lanjut pak Bram.

“Bapak tidak perlu minta maaf pak, nisa yang harusnya minta maaf karena tidak bisa membalas kebaikan bapak selama ini”

“Tapi kalau boleh, bapak ingin meminta satuhal dari nisa” kata pak Bram dengan suara berat.

“Apa itu pak?” jawabku.

“Boleh bapak pegang tangan nisa?” dengan hati-hati pak bram menyampaikan maksudnya.

Aku terkejut. Selama ini belum ada laki-laki lain yang menyentuhku selain suamiku. Aku bingung, disisi lain pak bram sudah sangat baik sekali padaku dan disisi lain aku teringat akan nasehat suamiku untuk selalu menjaga diri. Setelah sekian lama pikiran ini berkecamuk, tanpa sadar aku pun memberikan tanganku kepada pak Bram. Pak bram tersenyum. Akupun memejamkan mataku.

Dipegangnya tanganku oleh pak Bram dan dielus-elusnya sampai bulu kudukku merinding.

“Halus sekali tanganmu nisa”

Aku tidak menjawab. Aku masih memejamkan mata dan tanpa sadar air mata memenuhi sudut mataku.

“Kenapa kamu menangis nisa?” Tanya pak Bram sembari mengusap air mataku.

“gak papa pak.” Jawabku

Lama pak Bram mengusap tanganku, kemudian sebuah kecupan mendarat dipunggung tanganku. Reflek akupun menarik tanganku. Pak bram terkejut.

“Maafkan bapak Nisa.” Kata pak Bram

“Bapak tidak salah, maafkan nisa pak.” Kataku

Kuberikan lagi tanganku pada pak Bram. Lama beliau mengelus tanganku, perasaanku mulai tidak keruan. Aku merasakan rangsangan yang hebat. Kurasakan bagian bawahku basah.

Baca juga: Kisah Wanita Berhijab yg Mendapatkan Kenikmatan dari Daun Muda… (klik pada gambar)

“Nis, boleh bapak belai rambutmu?” Tanya pak bram lagi

Aku hanya terdiam. Sejurus kemudian tangan pak bram sudah menyingkap hijab yang ku kenakan. Baru kali ini ada pria lain yang menyentuh dan melihat rambutku. Aku merasa telah menghianati suamiku. Air mataku semakin deras.

Kemudian aku merasakan sebuah sentuhan pada payudaraku. Tangan pak bram sudah menggenggam payudaraku dari luar bajuku. Tubuhku lemas, aku tidak berdaya oleh rangsangan yang diberikan pak Bram. Melihatku tak bereaksi, pak Bram mulai meremas-remas payudaraku. Sungguh nikmat kurasakan. Akupun melenguh kecil. Kemudian pak bram mencium bibirku, akupun membalas kecupannya. Lama kami berciuman, saling bertukar lendir.

Pak bram pun mulai berani dengan mengangkat baju piyama yang ku kenakan. Aku pun menahan tangannya.

“Pak, sudah cukup.” Kataku.

Pak Bram menghentikan kegiatannya.

“maafkan bapak ya nis,”

Aku hanya menganggukan kepala.

“ya udah, kita tidur. Besok masih ada pekerjaan yang menunggu kita.” Kata pak Bram lagi.

Beliau turun dari ranjang dan akan pindah ke sofa.

“bapak mau kemana?” kataku

“tidur di sofa.” Jawab pak Bram

“Tidur disini saja pak sama nisa.” Kataku spontan

Pak bram sedikit terkejut, kemudian beliau langsung naik ke ranjang. Akhirnya kami pun tidur satu ranjang malam itu.

*****

Paginya aku terkejut karena ada pria lain seranjang denganku. Tapi setelah aku ingat-ingat, memang aku yang menyuruh pak Bram untuk tidur dikasur bersamaku. Aku bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap. Setelah itu aku membangunkan pak Bram.

Selagi pak bram mandi, aku memberi kabar kepada suamiku. Aku merasa sangat bersalah. Tetapi kejadian tadi malam tidak aku ceritakan pada suamiku.

Setelah siap pak Bram mengajakku sarapan.

“Ayo Nis kita sarapan dulu”

“Sebentar pak, ada yang perlu nisa siapin buat meeting nanti.” Jawabku

“Ok, bapak tunggu di lobi ya.” Kata pak Bram lagi.

Usai sarapan kami pun berangkat ke lokasi meeting. Selama meeting, kuperhatikan pandangan pak Bram sedikit berubah kepadaku. Beliau lebih memperhatikanku. Bahkan ketika makan siangpun pak Bram berani menggandeng tanganku, namun kutepis secara halus.

Setelah kegiatan hari ini selesai, kami kembali ke hotel. Setibanya dikamar, aku langsung rebahan di kasur karena kecapaian. Tiba-tiba pak Bram sudah rebahan juga disampingku. Lama kami sama-sama terdiam. Kemudian pak Bram memberanikan diri untuk menarikku sehingga kami saling berhadapan.

“Nis, kamu cantik sekali.” Kata pak Bram sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum mendengar pujiannya.

“Boleh bapak mencium kening kamu Nisa??” Tanya pak Bram.

Aku hanya mengangguk pelan, memberi syarat pada pak Bram. Dengan perlahan pak Bram mendekatkan wajahnya dan menatapku dalam-dalam. “Cup” akupun merasakan kecupan hangat di keningku. Kemudian kecupannya beralih ke bibirku.

“Terima kasih Nis.”

Aku memberikan senyuman termanis ku pada pak Bram. Tanpa sadar aku menarik tangan pak Bram dan menaruhnya ke dadaku.

“Apa bapak merasakan detak jantungku?’’ tanyaku pada pak Bram.

“Kalau mau, bapak boleh menyentuhku.” Kata-kata itu meluncur dengan sendirinya.

Tanpa pikir panjang pak Bram mulai meremas payudaraku yang masih tertutup baju dan bra. Aku menikmati remasan tangan pak Bram. Pak Bram mencium bibirku dengan lembut. Perlahan pak Bram mulai membuka kancing baju yang ku kenakan sehingga hanya tinggal bra saja yang menutupi payudaraku.

“Tubuhmu putih dan mulus Nisa” kata pak Bram.

Aku tak menghiraukan perkataannya. Aku sudah terhanyut dengan rangsangan-rangsangan yang pak Bram berikan padaku. Kurasakan tangan pak bram melingkar ke belakang dan melepas bra ku. Kini tubuh ku sudah tanpa penutup kecuali hijab dan rok yang aku kenakan.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Tak Pernah Kusesali Nikmatnya Kejantanan² yg bukan milik Suamiku (kisah Jilbaber Wanita Karir yg Binal)
Article Name
Tak Pernah Kusesali Nikmatnya Kejantanan² yg bukan milik Suamiku (kisah Jilbaber Wanita Karir yg Binal)
Description
seorang wanita karir berhijab, ibu dari 2 orang anak dan istri yg setia ternyata menjadi amat binal di dalam dekapan lelaki-lelaki lain dan menikmati kepuasan terlarang dari perselingkuhan yg HOT
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo