Indra duduk tegak di kursi kayu berukir jepara. Ukiran yang menghadirkan nuansa eksotis pada tiap guratannya menjadikan lobby hotel itu sanggup membekukan waktu dari hiruk pikuk keseharian. Sebotol bir, diam menunggu dalam dingin, hanya semilir angin yang keluar masuk pada lubang botol, tak juga menyentuh bibir lelaki itu. Dahaga sejenak terlupa. Kerongkongan yang mau basah tak dihiraukan. Oleh keringnya jiwa yang sekian lama tenggelam dalam penantian. Bungkam. Redam.

loading...

Dia menyilangkan kaki, posisi duduk yang sempurna untuk menyaksikan sebuah kedatangan yang ditunggu. Sekilas ia melirik jam tangan di pergelangan. Urat-urat waktu mulai bermunculan menandakan pemilik tangan itu tak henti mengukir takdir. Waktunya belum tiba. Ia lalu merapikan dasi Calvin Klein yang menarik perhatiannya pada sebuah toko di Singapore, khusus untuk perjumpaan ini. Singapore atau Jakarta? Entah metropolitan mana, tiba-tiba dia tak mampu menemukan ingatannya. Banyak hal-hal yang tak kuasa diingatnya lagi sekarang. Karena usia-kah? Dia tahu usianya belum terlalu tua, baru 40 tahun. Beberapa helai warna perak sekarang menghiasi rambutnya yang tertata rapi. Justru membuatnya kelihatan lebih tampan dan berwibawa.

Sekali lagi ia melirik waktu bermerek Rolex di pergelangan tanggan. Pukul 6 kurang 7 menit. Masih 7 menit lagi. Ia menyapukan pandangan keluar. Menembus dinding kaca setengah buram. Memantulkan buram hatinya. Senja mulai turun. Sang Pencipta mulai memainkan kuasnya menghiasi langit dengan nuansa lembayung dan jingga. Indah. Dari pintu yang terbuka ia melihat seorang lelaki berseragam pegawai hotel, sedang mengepel lantai depan loby yang basah oleh hujan yang turun sesorean tadi.

Baca juga: Gadis dari Masa Lalu itu Menghantui Kenanganku… (klik pada gambar)

Hari ini memang sejuk, tapi entah mengapa Indra merasakan panas hingga bulir bulir keringat di punggungnya berhamburan, juga di kening. Ah, sikap antisipasi membuatnya benar-benar gelisah. Padahal ia sudah berjanji pada diri sendiri, tak akan gugup ketika menemui perempuan yang selama ini memenuhi mimpi dan gairahnya.Perempuan itu, yang berhasil membuatnya tersenyum dan menangis dalam waktu bersamaan.

Benar, dia ingin tampil tenang dan berwibawa. Ia ingin tampil sebagai lelaki yang penuh percaya diri ketika perempuan itu melangkah di hadapannya, menunjukkan padanya bahwa dia adalah seorang yang telah berhasil mengendalikan kehidupan ini. Menaklukkan kesalahan, kegagalan dan kekecawaan. Muncul sebagai sosok pemenang. Jauh berbeda dengan lelaki muda tujuh belas tahun yang lalu. Dia yang sekarang adalah seorang yang berhasil baik dalam karir dan juga dalam petualangannya dengan wanita. Tapi, kegelisahannya ini adalah tanda kejujuran, bahwa yang ditunggunya ini adalah perempuan yang selama tujuhbelas tahun tak sanggup dilupakannya.

Sejak saat pertama ia jatuh cinta padanya, ketika mereka pertama bertemu di kampus biru itu, perempuan itu tak pernah meninggalkan pikirannya. Kemanapun kakinya melangkah, kemanapun aliran hidup membawanya, ingatannya selalu akan kembali ke kota tua di kaki Merapi itu, ke alur panjang pantai Parangtritis berpasir hitam, ke loronng lorong kampus tua di Bulak Sumur. Kepadanya

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Parangtritis Jingga
Article Name
Parangtritis Jingga
Description
Romansa bersemi dan berakhir di Parangtritis. Sebuah cerita dewasa yg mengharu biru... (by Aditya Silvana)
Author
Publisher Name
Ceritahijaber.com
Publisher Logo