Tangan Johan memegang pinggang Hanifah dan mulai menarik maju mundur badan wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur.

***

loading...

Hanifah adalah seorang wanita yang taat beragama. Wajahnya yang putih dan luar biasa cantik sungguh mengundang birahi banyak pria, jikalau ia tidak menjaganya. Karena itu, jilbab lebar selalu ia pakai. Tubuhnya yang bahenol dan sangat montok juga ia tutupi dengan jubah longgar. Walaupun begitu, tetap saja wajah yang cantik putih dan tubuh bahenolnya tidak bisa 100% disembunyikan, dan masih membayang pada jubah longgarnya.

Banyak pria yang merasa terangsang saat melihat Hanifah melintas. Apalagi jika angin menerpa jubah longgarnya, membuat tubuhnya semakin terlihat jelas membayang dari luar jubahnya yang tertiup angin. Namun mereka hanya bisa memendamnya dalam hati, atau paling jauh onani sambil mambayangkan bersetubuh dengannya, wanita alim yang bahenol.  Kepopulerannya membuat para pria itu merasa takut mengganggunya.

Namun ternyata ada saja orang yang memang benar-benar menginginkannya. Mereka adalah Arman dan rekan-rekannya, para pemburu yang suka keluar masuk hutan. Tabiat mereka yang kasar dan berangasan membuat mereka tidak peduli. Mereka sungguh ingin merasakan tubuh seorang ibu muda cantik bahenol yang berjilbab, yang menyembunyikan tubuh indahnya di dalam jubah longgar. Justru jubah longgar dan jilbab lebar itu membuat mereka semakin penasaran dan terangsang.

Pada suatu hari, Farid, suami Hanifah, dipanggil ke kota untuk mengikuti pembekalan guru tingkat lanjut. Tiga hari ia harus pergi, dan karena ada masjid yang harus dikelola, Hanifah tidak ikut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Arman dan rekan-rekannya untuk menuntaskan nafsunya pada ibu muda alim yang molek itu.

Saat malam tiba, setelah sholat Isya’, Hanifah pulang menyusuri jalanan desa yang sangat gelap, melintasi pinggiran hutan. Tiba-tiba ia disergap dan dipukul pada bagian tengkuk, yang membuat ibu muda berjilbab cantik itu pingsan. Ternyata sang penyerang adalah Arman. Ibu muda itu dibawa ke tengah hutan. Diperjalanan, ia mulai tersadar, dan meronta-ronta. Segera Arman menjatuhkannya dan langsung mengancamnya.

“Diam kamu!! Mau kubunuh, hah?!!” katanya sambil mengacungkan senjata pembunuh babi ke arah Hanifah. Wanita itu kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Akhirnya, di bawah todongan senjata, dengan pasrah wanita berjilbab itu digiring masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya bingung kalau mencoba melarikan diri.

Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut, ditambah haus dan lapar membuat Hanifah makin tersiksa, apalagi di sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para pemburu itu juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuhnya yang masih tertutup jilbab dan jubah lebar. Jilbabnya disampirkan kepundaknya, sehingga membuat para pemburu itu leluasa meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu yang luar biasa montok. Pantat Hanifah yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para pemburu itu. Diperlakukan demikian, Hanifah hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Hanifah masuk ke dalam pondok kayu itu, tapi hanya di luarnya. Wanita montok berjilbab itu berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya, perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

“Nah, Ibu yang cantik, sekarang waktunya kamu harus menerima hukuman dari kami karena sudah membuat penunggu hutan ini resah.” ujar Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh Hanifah yang tertutup jilbab yang tersingkap dan jubah yang sudah terbuka dua buah kancing atasnya.

Hanifah bingung. “A-apa salah saya, pak?” tanyanya.

“Diam!! Tubuhmu yang montok itu sudah bikin penghuni hutan ini resah tahu!! Kamu harus mempersembahkan tubuhmu itu kepada mereka!!” bentak Arman lagi.

Rofi’ah semakin panik. Ia sadar, ia akan diperkosa. Ia terus berusaha berontak, namun dua orang rekan Arman yang semuanya bertubuh tinggi besar tidak bisa ia kalahkan. Segera ia menyerah kalah, sambil menangis tersedu-sedu.

“Hmm, hukumannya apa ya?” Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Ah iya, mbak Hanifah, hukuman buat Mbak yang pertama adalah menari buat kami. Tapi dengan catatan, sambil menari, Mbak harus buka jubah, kutang sama celana dalam Mbak. Jilbabnya biarin saja. Sampirkan aja di pundak.” lanjut laki-laki itu datar, nyaris tanpa emosi. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, saat memperkosa seorang gadis alim yang sedang KKN di desa sebelah. Memek mereka benar-benar seret dan legit.

Hanifah yang mendengarnya tersentak kaget, seketika tubuh wanita bahenol berjilbab itu gemetar. Dia terkesiap, tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, Hanifah hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang semakin kencang.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Article Name
Pria² Bejat itu Memperkosa Wanita Cantik Berjilbab yg Taat Beragama...
Description
wanita alim berhijab yg juga istri orang itu tampak pasrah ketika diperkosa berulang-ulang oleh segerombolan pria bejat...
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo