Suatu pagi jam setengah tujuh di kampus Binus ketika segala kehidupan di kampus baru mulai menggeliat, Imron sedang berjalan di koridor lantai bawah sebuah fakultas, tangannya memegang gagang pel yang masih dan sebuah ember yang didalamnya berisi botol karbol, ia hendak menuju ke toilet terdekat untuk mengisi ember itu dengan air dan memulai tugasnya hari itu seperti biasa.

loading...

“Oohh… great! Thank God. Terima kasih, Pak, itu milik saya.” Kata gadis bule itu sambil menghampiri Imron dengan nafas terengah engah. Bahasa Indonesia gadis ini terdengar sedikit kaku karena aksen dan gaya bicaranya yang khas logat asing.

Imron merapikan kembali kertas-kertas yang telah dipungutnya itu lalu memasukkannya kembali ke dalam loose leaf tersebut sebelum menyerahkan pada pemiliknya.

“Ma-maaf… sudah merepotkan. Terima kasih sekali, tadi saya sangat eemm… ceroboh sekali.” ucapnya dengan agak terpatah-patah karena masih mengatur nafasnya.

“Nggak apa-apa Non, hati-hati aja lain kali” jawab Imron seraya menyerahkan loose leaf itu.

Gadis bule itu tersenyum ramah padanya sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum akhirnya membalikkan badan hendak pergi.

“Eehhh…tunggu Non sebentar, apa ini juga punya Non ?” panggil Imron sambil membungkuk memungut sebatang ballpoint rapido yang tidak jauh dari kakinya.

Gadis itu kembali menengokkan kepala dan berbalik menghampirinya. Melihat rapido di tangan Imron, gadis itu dengan spontan melirik ke dalam loose leaf. Matanya berputar dengan jenaka ke atas sementara tangannya menepuk kening. “Ouch… yeah, that’s mine too! Itu juga milik saya! Terima kasih lagi, Pak.” katanya kali ini sambil menjulurkan tangan hendak menjabat tangan Imron. “You really save my day. Anda benar-benar seorang penyelamat.”

Imron terkesan bukan saja oleh keramahan gadis itu, tapi juga oleh pesona kecantikannya. Hatinya deg-degan sekali ketika menjabat tangannya yang halus, pandangan matanya sempat tertumbuk ke belahan dada gadis itu yang memakai kaos merah berlengan pendek dengan potongan leher yang rendah. Bahkan setelah gadis itu meninggalkannya pun ia melongo mengagumi sosoknya dari belakang, sepasang pahanya yang ramping itu nampak begitu indah dibungkus celana panjang jeans juga lekukan pinggulnya begitu mempesona.

Megan

Gadis itu bernama Megan McCarthy (20 th), mahasiswi asal Amerika Serikat yang sedang studi di kampus itu dengan beasiswa selama dua semester, tepatnya di fakultas seni dan desain. Megan, yang dalam tubuhnya mengalir darah Irlandia dari ayahnya dan Spanyol-Jerman dari ibu, memiliki kecantikan ala barat yang memukau setiap pria yang memandang.

Rambutnya sedada berwarna pirang alami dan sedikit bergelombang, kulitnya putih mulus, namun tidak sampai pucat dan berbintik-bintik, ia juga dikaruniai sepasang mata hijau yang indah dan bibir tipis yang merekah basah sehingga tanpa make up pun ia sudah cantik. Bila dibandingkan dengan para mahasiswi lokal di kampus itu, tubuh Megan termasuk tinggi (175 cm).

Buah dadanya yang berukuran 34C juga menjadi salah satu daya tariknya, bentuknya padat dan membusung indah, ukurannya pas dengan tubuhnya, tidak gembyor kedodoran yg kadang membuat orang eneg

Megan mengambil kuliah di Indonesia untuk menyiapkan bahan skripsinya tentang seni rupa Asia. Untuk tempat tinggalnya ia menyewa sebuah kamar di apartemen mewah yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Kegiatan Megan diluar jam kuliah adalah mengajar part time di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris, dia juga rajin fitness dan berenang sehingga tidak heran ia memiliki lekuk tubuh yang indah. Ketika pertama kali bertemu Imron itu dia baru melewati bulan pertamanya tinggal di Indonesia, waktu itu iblis dalam diri Imron masih tertidur sehingga ia tidak pernah berpikiran kotor terhadap gadis bule itu.

Megan adalah seorang gadis periang yang sangat ramah dan gemar bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu, dia tidak pernah sombong walaupun memiliki kecantikan bak seorang model, bahkan terhadap penjaga kampus seperti Imron sekalipun. Seperti layaknya seorang gadis muda yang berasal dari Amerika Serikat, Megan sangat easy going dan tidak memandang rendah siapapun juga, dia tidak peduli orang itu tampan atau jelek, miskin atau kaya, Megan berteman dengan mereka semua.

Walaupun begitu, meski dia adalah seorang warga negara asing namun Megan amat menyanjung tinggi adat istiadat Indonesia, nilai-nilai budaya timur yang amat kental di negeri ini begitu mempesonanya sehingga Megan ikut menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam cara berpakaian, ia berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi Indonesia dengan tidak berpakaian terlalu terbuka seperti di negaranya ketika musim panas.

Setiap kali berpapasan dengan Imron, Megan selalu menyapa atau setidaknya tersenyum. Kehangatan sikapnya membuat Imron merasa terhibur di tengah suasana kampus yang penghuninya biasanya cuek atau bahkan beberapa memandang rendah padanya, ternyata masih ada gadis secantik Megan yang mau menyapanya, biasanya yang bersikap ramah pada Imron paling cuma dosen-dosen kolot atau sebagian kecil mahasiswa/i saja.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
(Part 11) Megan si Mahasiswi Bule itu sukarela digarap Imron, tak disangka ia hanya dijebak dan dipermainkan belaka!
Article Name
(Part 11) Megan si Mahasiswi Bule itu sukarela digarap Imron, tak disangka ia hanya dijebak dan dipermainkan belaka!
Description
Megan si Mahasiswi Bule itu tak menyangka, Imron yg pernah menyelamatkan dirinya dari perampokan hanya bersandiwara belaka untuk menikmati tubuhnya...
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo