Sore, jam 17:30, di Binus gedung D, tempat perkuliahan fakultas arsitektur, kuliah terakhir selesai sejam yang lalu, tempat itu sudah 90 persen kosong karena sebagian besar dosen dan mahasiswanya sudah pulang. Imron baru saja selesai menyapu di lantai tiga, dia berjalan membawa sapu dan ceruk hendak turun dan beristirahat di ruangnya. Ketika melewati ruang jurusan dia mendengar suara desahan disertai rintihan kecil, semakin mendekati ruangan itu, semakin jelas pula suara-suara itu terdengar.

loading...

Si gadis juga menggerakkan kakinya membantu celana dalam itu lolos. Setelah celana dalam itu jatuh ke lantai, Pak Dahlan melumat bibir mungil gadis itu, mereka saling kecup, lidahnya pun saling sedot, tangan Pak Dahlan meremasi payudara montok gadis itu, sedangkan tangan gadis itu melingkari punggung Pak Dahlan. Mereka demikian hanyut dalam birahi sampai tidak tahu sepasang mata sedang menintip mereka bahkan memotret mereka dengan handphone.

Sungguh kontras perbedaan keduanya, si gadis berparas cantik dan bertubuh putih langsing, sementara Pak Dahlan bertubuh tambun dan berkulit sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir tebalnya. Dari segi usianya, Pak Dahlan adalah duda berumur limapuluhan, sebaya dengan Imron, seusia dengan ayah si gadis itu.

Ternyata benar yang dikatakan kabar burung selama ini bahwa Pak Dahlan, bandot tua itu, memang bisa disogok dengan ‘daging mentah’ untuk mengkatrol nilai, dan hal ini berlaku bagi mahasiswi yang punya modal kecantikan. Akal bulus Imron bekerja, kalau saja dia bisa mendekati bandot tua itu, tentunya dia mempunyai koneksi dari kalangan atas yang bisa melindunginya kalau sampai terjadi apa-apa, dengan kata lain ada backing, selain itu juga dia mungkin dapat ikut menikmati korban si bandot tua ini sekaligus memuluskan aksi gilanya.

Sungguh rencana jangka panjang yang cemerlang, pengalaman masa mudanya di dunia hitam membentuk dirinya untuk berpikir cepat dan jitu. Dia pun turun dari bangku dan mengetuk pintu. Imron menunggu beberapa saat sebelum pintu terbuka, pastilah yang di dalam sana sedang kelabakan menutupi kejadiannya. Pak Dahlan nongol dari pintu sambil tersenyum menutupi kegugupannya.

“Eh, Pak Imron, ada apa nih, maaf ya tadi ada kerjaan yang tanggung, jadi nunggu lama nih !” katanya sambil keluar dan menutup pintu.

“Ooo…ga papa kok Pak Dahlan, harusnya kan saya yang maaf karena udah ngeganggu kalian”

Kata terakhir itulah yang membuat raut wajah Pak Dahlan berubah tak bisa lagi menyembunyikan rasa bersalahnya. ‘Kalian’ ini berarti penjaga kampus itu telah mengetahui bukan cuma dia sendiri di dalam kantornya, ditambah dia juga melihat bangku tinggi ketika menoleh ke samping.

“Ahaha…Pak Imron ini, anda…!” katanya masih berusaha berkelit

“Tenang aja Pak Dahlan kita ini kan sama-sama laki-laki, saya ga akan mempersulit atau memeras anda kok, malah saya ada penawaran menarik buat anda !” Imron memotong kata-kata Pak Dahlan dan meletakkan tangannya di pundak pria tambun itu.

“Maksud anda ?” tanyanya lagi.

Imron merangkul pundak Pak Dahlan dan menjelaskan tentang kerjasama yang ditawarkan, dengan kelicikannya dirinya dapat menjebak dan menarik wanita yang dia inginkan untuk menjadi budak seksnya, dan dengan kuasanya Pak Dahlan dapat membacking dirinya seandainya satu hari nanti ada situasi darurat, dan juga memberi bantuan informasi mengenai profil korbannya seperti korban dan nomor yang dihubungi.

Senyum kembali mengembang dari wajah Pak Dahlan, ini namanya simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan namanya, begitu pikir Pak Dahlan, berarti dia dapat mencicipi gadis-gadis lain di luar fakultas arsitektur juga, menyediakan informasi dan melindungi baginya masalah kecil mengingat posisinya cukup terpandang di kampus itu.

“Pak Imron hehehe…tau gini kenapa ga cari saya dari dulu hehehe !”

Mereka tertawa-tawa dan berjabat tangan tanda terjalinnya suatu persekongkolan jahat yang akan menghantui setiap gadis-gadis cantik di kampus itu.

“Pak, sekarang itu cewek di dalam gimana, kasian tuh nunggu lama dia !” kata Imron

“Ok deh, biar saya omong ke dia biar kita nikmati bersama, tapi janji yah, besok kasih saya nyicipin hasil anda !” ujar Pak Dahlan dengan antusias.

“Beres deh Pak, pokoknya saya jamin Bapak juga seneng kok !”

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
(Part 5) Konspirasi Imron dan Ketua Jurusan untuk Menikmati Tubuh Mahasiswi² Cantik nan Sexy!
Article Name
(Part 5) Konspirasi Imron dan Ketua Jurusan untuk Menikmati Tubuh Mahasiswi² Cantik nan Sexy!
Description
awalnya menjebak, lalu memaksa berhubungan intim dan sekarang Imron merancang pesta seks dengan sesama penjahat kelamin di kampus! Cerita Dewasa Pemerkosaan ini panjang dan berseri!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo