Di Kamar kostnya Faiz berbaring sambil ngelamun. Diluar gerimis yang turun sejak sore belum juga usai sehingga menambah dinginnya udara malam, dikota Bogor yang memang berhawa sejuk. Malam minggu tanpa pacar dan hujan pula membuat Faiz suntuk. Dicobanya memejamkan matanya membayangkan sesuatu. Yang muncul adalah seraut wajah cantik berkerudung: Teh Yuni, ibu kostnya.

loading...

Blarrrr! Suara guntur membuyarkan lamunannya. Faiz bangkit berdiri sambil menggaruk batang kejantanan di selangkangnnya yang mulai tegang dan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat teh panas. Setelah membuat teh kemudian keruang duduk untuk nimbrung nonton TV bersama keluarga tempat ia kost. Baru sekitar satu bulan ia kost dirumah keluarga Pak Herman setelah dia pindah dari tempat kostnya yang lama. Herman telah beristri dengan anak satu berumur tujuh tahun.

Ternyata ruang duduk itu sepi, TV nya juga mati. Mungkin Teh Yuni sudah tidur bersama anaknya karena Pak Herman sedang ke Bandung menemani ibunya yang akan dioperasi. Akhirnya Faiz duduk sendiri dan mulai meghidupkan TV. Ternyata hampir semua saluran TV yang ada gambarnya kurang bagus. Faiz mencoba semua saluran dan cuma Indosiar saja yang agak terlihat gambarnya meski agak berbintik. Mungkin antenanya kena angin, pikirnya. Dengan setengah terpaksa dinikmati sinetron yang entah judulnya apa

Baca juga: Kubangkitkan Nafsu Binal Fitria Eka Safitri, Hijaber Alim Bini Orang (klik di gambar)

Tiba-tiba Faiz mendengar pintu kamar dibuka. Dan dari kamar keluarlah perempuan yang biasa dipanggil Teh Yuni. Faiz kaget melihat kehadiran perempuan itu yang tiba-tiba.

“Eh, Teteh belum tidur? berisik ya?” tanya Faiz tergagap

“Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur kok” jawab perempuan itu dengan logat Sunda yang kental.

Yang membuat Faiz kaget sebenarnya bukan kedatangan perempuan itu, tapi penampilannya yang diluar dari kebiasaanya. Sehari-hari Yuni, seperti kebanyakan ibu rumah tangga di kota ini, selalu berkerudung rapat. Sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Dan itulah yang pada awalnya membuatnya tertarik kost dirumah ini ketika bertamu pertama kali dan bertemu dengan Yuni.

Dengan berkerudung justru semakin menonjolkan kecantikan wajah yang dimilikinya. Dengan alismatanya yang tebal terpadu dengan matanya yang bening indah, hidungnya mancung bangir dan bibirnya yang merah merekah. Dengan postur tubuh dibalik bajunya terlihat tinggi serasi. Entah mengapa Faiz selalu tertarik dengan perempuan cantik berkerudung.

Pikiran nakalnya adalah apa yang ada dibalik baju yang tertutup itu. Dan pada saat itupun pikiran kotornya sempat melintas mencoba membayangkan Yuni tanpa busana. Tapi pikiran itu dibuangnya ketika bertemu dengan suaminya yang terlihat berwibawa dan berusia agak lebih tua dari Yuni yang masih dibawah tigapuluh tahun.

Akhirnya jadilah ia kost di paviliun disamping rumah tersebut dan pikiran kotornya segera dibuang jauh, karena ia segan pada Pak Herman. Tapi secara sembunyi ia kadang mencuri pandang memperhatikan kecantikan Yuni dibalik kerudungnya dan kadang sambil membayangkan ketelanjangan perempuan itu dibalik bajunya yang tertutup, seperti tadi.

Tapi malam ini Yuni berpenampilan lain, tanpa jilbab/kerudung! Rambutnya yang tak pernah terlihat, dibiarkan terurai. Demikian juga dengan bajunya, Yuni memakai daster diatas lutut yang sekilas cukup menerawang dan hanya dilapisi oleh kimono panjang yang tidak dikancing. Sehingga dimata Faiz, Yuni seperti bidadari yang turun dari khayangan. Cantik dan mempesona. Mungkin begitulah pakaiannya kalau tidur.

“Gambar tivinya jelek ya?” tanya Yuni mengagetkan Faiz.

“Eh, iya. Antenenya kali” jawab Faiz sambil menunduk.

Faiz semakin berdebar ketika perempuan itu duduk disebelahnya sambil meraih remote control. Tercium bau harum dari tubuhnya membuat hidung Faiz kembang kempis. Lutut dan sebagian pahanya yang putih terlihat jelas menyembul dari balik dasternya. Faiz menelan ludah.

” Semuanya jelek, ” kata Yuni ” Nonton DVD saja ya?”

“Terserah Teteh” kata Faiz masih berdebar menghadapi situasi itu.

“Tapi adanya film unyil, nggak apa?” kata Yuni sambil tersenyum menggoda.

Faiz faham maksud Yuni tapi tidak yakin film yang dimaksud adalah film porno.

“Ya terserah Teteh saja” jawab Faiz. Yuni kemudian bangkit dan menuju kamar anaknya.

Faiz semakin berdebar, dirapikan kain sarungnya dan disadari dibalik sarung itu ia cuma pakai celana dalam. Diteguknya air digelas. Agak lama Yuni keluar dari kamar dengan membawa kantung plastik hitam.

“Mau nonton yang mana?” tanyanya menyodorkan beberapa keping DVD sambil duduk kembali di samping Faiz. Faiz menerimanya dan benar dugaannya itu DVD porno.

loading...
 Klik “→” untuk melanjutkan cerita

Summary
Gairah Teh Yuni, Ibu Kost Berhijab yg menginginkan tubuhku...
Article Name
Gairah Teh Yuni, Ibu Kost Berhijab yg menginginkan tubuhku...
Description
bisa menikmati tubuh wanita berjilbab apalagi yg statusnya istri orang itu sungguh luar biasa. sensasinya tiada duanya! kali ini kami suguhkan cerita tentang ibu kost berhijab yg cantik!
Author
Publisher Name
Cerita Hijaber
Publisher Logo